Jurnal An-Nahdla. Volume . Nomor . Edisi . Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . : . MANAJEMEN KURIKULUM MUATAN LOKAL TAHFIDZUL QURAoAN DI MI AL FATAH PARAKANCANGGAH BANJARNEGARA Afid Hanafi 1. Andri Sungkowo 2. Jatun 3 1,2,3 STIT Tunas Bangsa Banjarnegara e-mail : andrisungkowo@gmail. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan manajemen kurikulum muatan lokal Tahfidzul QurAoan di MI Al-Fatah Parakancanggah Banjarnegara Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Sumber dalam data ini adalah Kepala Madrasah. Wakil Kepala urusan Kurikulum, penanggung jawab Tahfidzul QurAoan dan guru Tahfidzul QurAoan. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu. wawancara, observasi dan dokumentasi. Adapun uji keabsahan data yang digunakan adalah Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa manajemen kurikulum muatan lokal Tahfidzul QurAoan di MI Al-Fatah dalam aspek perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan evaluasi sudah berjalan sesuai dengan prosedur, meskipun masih ada kendala yang perlu dibenahi. Faktor pendukung dalam program ini yaitu minat menghafal siswa yang kuat serta pengaturan waktu hafalan yang tepat. Sedangkan faktor penghambatnya adalah kurangnya niat menghafal, kurangnya minat serta kurangnya motivasi baik dari diri sendiri maupun orang tua. Kata Kunci: Manajemen. Kurikulum. Muatan Lokal Tahfidzul QurAoan. Abstract This study aims to determine implementation of local content curriculum management of Tahfidzul QurAoan at MI Al-Fatah Parakancangah Banjarnegara. This study uses a qualitative method. The sources in this data are the Head of Madrasah. Deputy Head of Curriculum Affairs. Person in Charge of Tahfidzul Qur'an and Tahfidzul Qur'an teacher. Data collection techniques used are. observation and documentation. The data validity test used is triangulation. The results of this study indicate that the management of the local content curriculum for Tahfidzul Qur'an at MI Al-Fatah in the aspects of planning, organizing, implementing and evaluating has been running according to procedures, although there are still obstacles that need to be addressed. The supporting factors in this program are the students' strong interest in memorizing and the correct timing of memorization. While the inhibiting factors are the lack of intention to memorize, lack of interest and lack of motivation from both oneself and parents Keywords: Management. Curriculum. Local Content of Tahfidzul Qur'an. PENDAHULUAN Kurikulum adalah bagian terpenting dalam sebuah pendidikan. Kurikulum merupakan sebuah sistem yang mengatur jalannya lembaga pendidikan. Kurikulum dapat memperkirakan hasil pendidikan atau pengajaran yang diharapkan karena kurikulum menunjukkan apa yang harus dipelajari oleh peserta didik. AuDalam UU No 20 tahun 2013. Kurikulum ialah suatu perencanaan aturan yang kaitannya dengan tujuan, isi, bahan pembelajaran, dan cara yang diterapkan sebagai pedoman pelaksanaan kegiatan pembelajaran untuk mencapati tujuan. Kurikulum adalah seperangkat rencana pendidikan yang memberikan petunjuk mengenai jenis, cakupan, susunan materi, dan proses Jurnal An-Nahdla. Volume . Nomor . Edisi . Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . : . pendidikan (Haudi, 2021:. Ay Kurikulum yang dikembangkan di Indonesia berdasarkan kesepakatan dari berbagai pihak Kemendikbud dan sampai tenaga pengajar atau yang disebut dengan kurikulum nasional telah mengalami banyak perubahan kurikulum. Berikut adalah perkembangan kurikulum . Kurikulum Rencana Pelajaran 1947, . Rencana pelajaran terurai 1952, . Kurikulum 1968, . Kurikulum 1975, . Kurikulum 1984, . Kurikulum 1994, . Suplemen kurikulum 1999, . Kurikulum berbasis kompetensi 2004, . Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) 2006, . Kurikulum 2013, . Kurikulum 2013 revisi, . Kurikulum prototipe 2022. AuMenurut Hamalik kurikulum dibuat untuk menghadapi perkembangan zaman serta TIK agar mencapai tujuan pendidikan dangen mempertimbangkan tahapan perkembangan siswa disesuaikan dngan lingkungan, kebutuhan pembangunan manusia seutuhnya (Syafruddin, 2018:. Ay Salah satu pengembangan kurikulum pendidikan yaitu dengan dimasukkannya muatan lokal. Ini didasarkan dengan beraneka ragamnya kebudayaan, adat istiadat, kesenian, tata krama, bahasa, dan pola kehidupan yang diturunkan oleh nenek moyang 2 Indonesia. Hal ini tentu perlu dilestarikan dan dikembangkan supaya suatu daerah tidak kehilangan jati dirinya. Dalam pelaksanaannya terdapat berbagai tahapan yang harus dilalui, baik pada tahap persiapan maupun tahap pelaksanaan. Substansi mata pelajaran muatan lokal dapat ditentukan oleh satuan pendidikan dan tidak terbatas pada mata pelajaran dan keterampilan. Wujud kurikulum muatan lokal tidak hanya berbentuk keterampilan peternakan, pertanian, industri, tetapi juga berkaitan dengan mata pelajaran yang bisa meningkatkan perilaku, keterampilan keagamaan sepertitilawah, dan daya ingat sepertiTahfidzul QurAoan. AuMenurut Arifin . , dengan adanya kurikulum setiap sekolah baik formal maupun non formal dapat menampilkan wajah baru atau cirikhas yang dapat menjadi icon sekolah. Dilingkungan sekolah yang berada di area pondok pesantren, peran kurikulum sangatlah penting. Pesantren akan memberikan pengalaman lebih kepada siswa seperti memasukkan pengembangan kurikulum muatan lokal Tahfidzul QurAoan, kitab kuning dan masih banyak lagiAy. Madrasah Ibtidaiyah Al Fatah merupakan sekolah berbasis pondok pesantren yang mengembangkan kurikulum muatan lokal Tahfidzul QurAoan. Muatan lokal Tahfidzul QurAoan dipilih Madrasah Ibtidaiyah Al Fatah sebagai muatan lokal wajib yang harus dilaksakan oleh seluruh peserta Berdasarkan observasi yang penulis lakukan. Madrasah Ibtidaiyah Al Fatah sampai saat ini berhasil menjaga tradisi keislaman sebagai mana pesantren yang mendidik siswanya agar selalu diterapkan dalam kesehariannya. Dalam pelaksanaan muatan lokal ada beberapa tahapan yang harus dilalui oleh guru, sekolah dan tenaga pendidik lain di sekolah. Tahapan yang harus dilalui yaitu. persiapan, tahap pelaksanaan pembelajaran dan tindak lanjut. Tahapan ini harus dilalui secara runtut supaya arah dari pembelajaran muatan lokal berjalan dengan baik. (Mulyasa, 2010:279-. Tahapan pertama adalah persiapan. Beberapa hal yang harus dilakukan pada tahap persiapan adalah pengelompokan siswa, menentukan guru dan sumber belajar. 3 Pengelompokan siswa ini sangatlah penting karena dapat mempengarui proses pembelajaran muatan lokal. Siswa harus dikelompokkan berdasarkan kemampuan, cara ini digunakan agar penyampaian materi dapat merata dan tidak terjadi ketertinggalan materi. (Mulyasa, 2010: 279-. Menurut wawancara peneliti di MI Al-Fatah tahap ini kurang diperhatikan dalam pembelajaran muatan lokal Tahfidzul. Pengelompokan siswa yang kurang sesuai ini menyebabkan beberapa siswa mengalami ketertinggalan dalam hafalannya. Tahap selanjutnya yang harus dilakukan adalah pelaksanaan pembelajaran. Pelaksanaan pembelajaran muatan lokal hampir sama dengan mata pelajaran lain. Adapun yang harus dilaksanakan dalam tahap ini yaitu. mengkaji silabus, membuat Rencana Pelaksanaan Jurnal An-Nahdla. Volume . Nomor . Edisi . Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . : . Pembelajaran (RPP) dan mempersiapkan penilaian. (Mulyasa, 2010: . Dalam silabus terdapat beberapa komponen penting yaitu. standar kompetensi, kompetensi dasar, hasil belajar, indikator hasil belajara, materi pokok, kegiatan pembelajaran, alokasi waktu, penilaian, serta sarana dan sumber Selanjutnya adalah pembuatan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), manfaat penyusunan RPP yaitu agar pembelajaran menjadi lebih tertata. Berdasarkan observasi penulis di MI AlFatah penulisan RPP tidak diterapkan pada pembelajaran Tahfidzul QurAoan, ini dapat dilihat saat pembelajaran terdapat beberapa guru yang langsung memberikan materi hafalan tanpa melalui proses pembuka seperti pengulangan hafalan yang sudah didapat. Yang terakhir adalah mempersiapkan penilaian, penialian yang dimaksud adalah Penilaian Tengah Semester (PTS) dan Penilaian Akhir Semester (PAS). Sekolah juga harus memiliki standar nilai kelulusan pada pembelajaran muatan lokal agar mempunyai lulusan yang berkompeten. Tetapi pada pelaksanannya. MI Al Fatah kurang 4 memperhatikan standar nilai kelulusan pada pembelajaran Tahfidzul QurAoan yang membuat lulusan memiliki kemampuan berbeda-beda. Tahapan terakhir yang perlu dilalui pada pelaksanaan pembelajaran muatan lokal adalah tahap tindak lanjut. Tindak lanjut merupakan langkah yang harus diambil setelah proses pembelajaran muatan lokal Tindak lanjut ini erat kaitannya dengan hasil penilaian terhadap pelaksanaan Bentuk tindak lanjut bisa berupa perbaikan proses pembelajaran, pengembangan hasil pembelajaran, pemberian penghargaan terhadap hasil pembelajaran dan pementasan capaian pembelajaran sebagai upaya menarik perhatian konsumen. (Mulyasa, 2010: . Berdasarkan Observasi dan hasil domentasi yang penulis dapat, tahapan ini sudah dilaksanakan pada pembelajaran Tahfidzul QurAoan di MI Al Fatah dengan baik, hal ini bisa dilihat dengan adanya kegiatan Khotmil QurAoan bagi siswa yang sudah mencapai hafalan tertentu dan pemberian syahadah sebagai bentuk penghargaan atas capaian pembelajaran. Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik meneliti lebih dalam tentang pengelolaan muatan lokal Tahfidzul QurAoan melalui penelitian yang berjudul AuManajemen Kurikulum Muatan Lokal Tahfidzul QurAoan di MI Al Fatah BanjarnegaraAy. Tujuan penelitian ini diharapkan menjadi kontribusi keilmuan, khususnya wawasan terkait manajemen kurikulum muatan lokal bagi lembaga tersebut. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif karena lebih menekankan kedalaman Hasil dari penelitian kualitatif biasanya dapat diterapkan di tempat lain ketika kondisi tempat tersebut tidak jauh berbeda dengan tempat penelitian. Disebut sebagai metode kualitatif, karena data yang terkumpul dan analisisnya lebih bersifat kualitatif (Sugiyono,2016:. Penelitian kualitatif ditujukan untuk memahami fenomena-fenomena sosial dari sudut atau perspektif partisipan. Partisipan adalah orang-orang yang diajak berwawancara, diobservasi, diminta memberikan data, pendapat pemikiran, persepsinya (Sukmadinata, 2020: . Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan diatas dapat disimpulkan bahwa penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif karena penelitian dilakukan pada kondisi yang nyata, semua data yang diperoleh dalam bentuk hasil wawancara dan observasilitian. Tempat dan Waktu Penelitian Penilitian ini dilaksanakan di MI Al Fatah Banjarnegara yang terletak di jalan S. Parman. Parakancanggah. Kabupaten Banjarnegara. Provinsi Jawa Tengah. Penilitian akan dilaksanakan pada 1 September Ae 12 September 2022. Subjek Penelitian Subjek utama dari penilitian ini adalah Kepala Madrasah,Wakil Kepala Madrasah Urusan Kurikulum, dan Guru muatan lokal Tahfidzul QurAoan MI Al Fatah Banjarnegara. Jurnal An-Nahdla. Volume . Nomor . Edisi . Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . : . Menurut Lofland dan lofland . sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata, dan tindakan, selebihnya adalah data tamban seperti dokumen dan lain-lain. Berkaitan dengan hal itu pada bagian ini jenis datanya dibagi ke dalam kata-kata dan tindakan, sumber data tertuli, foto, dan statistik (Moleong, 2019: . Data Primer dalam penelitian ini yakni . Kepala Sekolah MI Al Fatah Bajarnegara, . Wakil Kepala Sekolah Urusan (Wak. Kurikulum MI Al fatah Banjarnegara. Guru Tahfidzul QurAoan MI Al Fatah Banjarnegara. Data Sekunder Data sekunder diperoleh dari data tidak langsung yang biasanya berupa data dokumentasi dan arsip-arip atau data yang diperoleh peneliti dari sumber yang sudah ada yakni . Dokumentasi kegiatan muatan lokal Tahfidzul QurAoan. Berkas kurikulum muatan lokal Tahfidzul QurAoan. Pengumpulan data merupakan langkah utama dalam penelitian, karena merupakan tujuan utama dari penelitian. Penelitian ini meggunakan tiga tehnik pengumpulan data, yaitu, wawancara, diaman subjek wawancara dalam penelitian ini adalah Kepala sekolah. Waka Kurikulum dan Guru Tahfidzul QurAoan. Instrumen ini digunakan untuk mendapatkan informasi akurat mengenai profil madrasah serta hal-hal lain yang berkaitan dengan manajemen kurikulum muatan lokal Tahfidzul QurAoan di MI Al Fatah. Observasi digunakan untuk mengamati suasana, ditujukan kepada hubungan fungsional dan sosial. Observasi penulis gunakan untuk mengamati, mencatat, menganalisis tentang Kepala sekolah. Waka Kurikulum dan Guru muatan lokal Tahfidzul QurAoan dalam melaksanakan fungsi manajemen serta implementasi kurikulum muatan lokal Tahfidzul QurAoan di MI Al Fatah Banjarnegara. Dokumentasi digunakan untuk memperoleh data tertulis seperti buku absensi muatan lokal Tahfidzul QurAoan dan buku kurikulum pengembangan muatan lokal MI Al Fatah Banjarnegara. Dokumentasi yang peneliti telusuri adalah berbagai foto, dan data penting yang berkaitan dengan kegiatan muatan lokal Tahfidzul QurAoan. Keabsahan data dilakukan dengan menggunakan trianggulasi data. Triangulasi digunakan peneliti untuk menyelaraskan kata-kata yang keliru antara yang dibicarakan dan Pengecekan data dilakukan dari berbagai sumber dengan informan. Menurut Sugiyono . 6: 273-. Triangulasi dalam pengujian kreadibilitas ini diartikan sebagai pengecekan data dari berbagai sumber dengan berbagai cara, dan berbagai waktu. Dengan demikian terdapat triangulasi sumber, triangulasi teknik pengumpulan data, dan waktu. Analisis data merupakan suatu usaha peneliti yang dilakukan untuk mengurai suatu data agar mendapatkan makna yang terkandung dalam sebuah data. Boldan & Biklen . mengemukakan bahwa analisis data adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilahmilahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskanya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain (Moleong, 2019: . Teknik analisis data menggunakan teknik dari Miles & Huberman. Menurut Miles & Huberman . 2: . bahwa analisis terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan yaitu: reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan/verifikasi. Dari tiga alur analisis yang disebutkan di atas, dijelaskan sebagai berikut. Reduksi Data Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan, dan transformasi data kasar yang muncul dari catatancatatan tertulis di lapangan. Penyajian Data berarti bentuk penyajian sebagai sekumpulan informasi tersusunyang memberi kemungkinan adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan Dan terakhir adalah menarik kesimpulan. Jurnal An-Nahdla. Volume . Nomor . Edisi . Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . : . HASIL DAN PEMBAHASAN Tahap pertama dalam penyusunan kurikulum adalah perencanaan, dalam perencanaan terdapat proses yang harus dilakukan. Seperti yang disampaikan oleh kepala madrasah dalam wawancara: Dalam tahap awal atau tahap perencanaan kita juga tidak hanya menentukan perangkat pembelajaran, namun juga menentukan siapa yang akan mengajarkan muatan lokal ini karena muatan lokal Tahfidzul QurAoan nantinya akan menjadi program unggulan. Oleh karenanya tidak boleh diajarkan oleh sembarang orang, apalagi ini adalah Al-Quran yang wajib hukumnya memiliki sanad dalam megajar. Oktober 2. Dapat diketahui bahwa dalam tahap perencanaan ada beberapa proses, yaitu: menentukan tujuan, menentukan program, merumuskan isi pembelajaran, menentukan strategi pembelajaran dan menentukan evaluasi. Berikut penjelasan rinci mengenai perencanaan manajemen kurikulum muatan lokal Tahfidzul QurAoan di MI Al-Fatah Banjarnegara: Menentukan Tujuan, tujuan merupakan prinsip yang harus dipertahankan. Adapun tujuan dari pembelajaran Tahfidzul QurAoan di MI Al Fatah adalah mencetak generasi berakhlak QurAoani. Dari tujuan tersebut diharapkan dapat menciptakan generasi yang memiliki akhlak QurAoani dan tidak goyah dengan perkembangan zaman. Tahap selanjutnya adalah menentukan program yang nantinya akan dijalankan pada MI Al-Fatah. Pada pembelajaran muatan lokal Tahfidzul QurAoan di MI Al-Fatah memiliki beberapa program mulai dari program jangka pendek dan jangka panjang. Target jangka pendeknya dengan mengenalkan kepada anak tentang hafalan Al-QurAoan dan tatacara membaca Al-QurAoan dengan benar, karena banyak siswa yang masuk ke MI Al-Fatah ini belum mengenal bacaan Al-QurAoan sama sekali. Kemudian setelah siswa mulai bisa membaca Al-QurAoan dengan baik dan benar maka siswa diwajibkan menghafalkan Juz 30 dilanjutkan surah pilihan yaitu surah Yasin. Al-Mulk. AlWaqiAoah. Ar-Rahman dan diteruskan dengan menghafal juz 1. Dengan alur yang demikian, diharapkan para lulusan dari MI Al-Fatah dapat menghafal minimal 5 juz. Target jangka panjang program Tahfidzul QurAoan di MI Al-Fatah adalah sebagai berikut: untuk siswa kelas 1 hafal surah An-Naba sampai Al-Muthofifin, kelas 2 hafal surah Al-Insyiqaq sampai AlLail, kelas 3 hafal surah Adh-Dhuha sampai An-Nas, kelas 4 hafal surah pilihan, kelas 5 hafal juz 1 sampai juz 2, dan kelas 6 hafal juz 3 sampai dengan juz 6. Perumusan Isi atau Bahan Ajar. Dalam menentukan isi hendaknya mempertimbangkan berbagai hal yaitu tingkat kematangan siswa, tingkat pengalaman anak dan taraf kesulitan materi. Cara pembelajaran kelas 1 sampai kelas 6 berbeda. Untuk siswa kelas 1 sampai 3 dalam menghafal masih menirukan bacaan guru, sedangkan kelas 4 sampai kelas 6 sudah bisa menghafal sendiri dan guru hanya menerima serta mengevaluasi hafalan siswa. Menentukan Strategi Pembelajaran. Strategi pembelajaran muatan lokal Tahfidzul QurAoan di MI Al-Fatah dibuat sesuai dengan kemampuan siswa. Dalam memilih strategi pembelajaran Tahfidzul QurAoan siswa dibagi menjadi dua, yaitu siswa yang belum bisa membaca dan sudah bisa membaca. Startegi yang digunakan untuk siswa yang belum bisa membaca adalah metode Talqin dan TasmiAo. Sedangkan strategi pembelajaran untuk siswa yang sudah bisa membacar yaitu dengan metode Tikrar. Menentukan evaluasi kurikulum. Dalam menentukan evaluasi kurikulum di MI Al-Fatah ini meliputi penentuan jadwal dilaksanakannya evaluasi, menentukan jenis evaluasi dan menentukan teknik evaluasi. Untuk evaluasi pembelajaran dibagi menjadi dua yaitu evaluasi proses dan Jurnal An-Nahdla. Volume . Nomor . Edisi . Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . : . evaluasi akhir. Evaluasi proses ini dilakukan setiap hari setelah pembelajaran, sedangkan evaluasi akhir dilaksanakan setiap akhir semester dengan jadwal yang disesuakan dengan jadwal penilaian akhir semester madrasah. Tahap kedua dalam manajemen kurikulum adalah pengorganisasian. Pengorganisasian kurikulum merupakan tahap dimana lembaga berusaha mengorganisasikan semua sumber yang ada untuk bekerjasama dalam menunjang mutu pendidikan. Melalui pengorganiasian kurikulum ini, guru dan pengelola pendidikan akan memiliki gambaran yang jelas tentang tujuan program pendidikan, bahan ajar, tata urut dan cakupan materi, penyajian materi, serta peran guru dan murid dalam rangkaian pembelajaran. Berikut penjelasan rinci mengenai pengorganisasian kurikulum Tahfidzul QurAoan di MI Al-Fatah Banjarnegara: Menyusun Strutur Kurikulum. Muatan lokal Tahfidzul QurAoan di MI Al-Fatah merupakan muatan lokal yang diwajibkan untuk semua siswa, karena merupakan program unggulan. Dalam struktur kurikulum. MI Al-Fatah belum memiliki struktur yang utuh atau sering berubah-ubah. Menentukan Kalender Akademik Kalender akademik disusun berdasarkan rencana program kegiatan yang akan berlangsung di MI Al-Fatah Banjarnegara dalam satu tahun kedepan. Kalender pendidikan di MI Al-Fatah disusun sederhana berdasarkan kalender pendidikan yang ditetapkan oleh Kementrian Agama dan disesuaikan dengan kebutuhan, seluruh kegiatan yang akan berlangsung selama satu tahun kedepan baik menentukan awal masuk pembelajaran, kegiatan pembelajaran, memperkirakan evaluasi ujian Tahfidzul QurAoanbaik ujian mid semester maupun ujian akhir semester, serta menentukan tanggal wisuda khotmil qurAoan juga terencana dalam kalender akademik. Menentukan Alokasi Waktu. Pelaksanakaan pembelajaran Tahfidzul QurAoan di MI Al-Fatah di laksanakan setiap hari senin pukul 08. 30 sampai 09. 30, serta hari selasa sampai kamis dari pukul 30 sampai 08. Sebelum siswa melaksanakan pembelajaran, siswa diwajibkan mengikuti kegiatan murojaAoah bersama. Menyusun Jadwal Pelajaran Setelah menyusun kalender akademik dan menentukan alokasi waktu yang dibutuhkan, proses pengorganisasian di MI Al-Fatah Banjarnegara adalah membuat jadwal Ibu Umi Setianingsih. Pd. I mengatakan, jadwal pembelajaran di MI Al-Fatah ini disusun berdasarkan musyawarah para guru dan sudah disepakati secara bersama. Untuk jadwal pelajaran Tahfidzul QurAoan hanya di hari senin sampai kamis dari jam 07. 30, tetapi memang ada beberapa kelas yang mengubah jadwal tersebut baik hari maupun waktu sesuai kesepakatan dari koordinator tahfidz dengan guru tahfidz. Oktober 2. 65 Dari pernyataan di atas dapat diketahui, bahwa jadwal pembelajaran tahfidz di MI Al-Fatah disusun berdasarkan kesepakatan Jadwal ini dapat berubah sesuai kesepakatan koordinator dengan guru tahfidz. Pembagian kelas Tahfidzul QurAoan. Pembagian kelas tahfidz di MI Al-Fatah tidak berdasarkan jenjang kelas, melainkan disesuaikan dengan kemampuan siswa. Hal ini dilakukan karena lingkungan menghafal siswa akan mempengaruhi pertumbuhan hafalannya. Berikut penjelasan mengenai kegiatan pelaksanaan kurikulum muatan lokal Tahfidzul QurAoan di MI Al-Fatah Banajarnegara: Guru tahfidz di MI Al-Fatah adalah 28 pengajar yang kebanyakan diambil dari pesantren. Dari 28 pengajar ini memiliki tugas yang berbeda-beda, 6 guru tahfidz untuk anak yang baru belajar menghafal, 14 guru tahfidz juz 30 lanjutan, 5 guru tahfidz bin nadzar, dan 3 guru tahfidz mengajar 30 juz. Jurnal An-Nahdla. Volume . Nomor . Edisi . Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . : . Pelaksanaan Pembelajaran Tahfidzul QurAoan di MI Al-Fatah dilaksanakan setiap hari senin sampai dengan hari kamis dari jam 07. 30 sampai 08. sebelum pembelajaran tahfidz ini dimulai, semua siswa berkumpul dihalaman sekolah untuk berdoa dan murojaah bersama setelah itu dilanjutkan tahfidz di kelas. Pembelajaran ini diawali dengan murojaah bersama di halaman dilanjutkan dengan hafalan Al-QurAoan di kelas, lalu diakhiri pembelajaran QiroAoati. Berikut penjelasan rinci mengenai evaluasi pembelajaran Tahfidzul QurAoan di MI Al Fatah: Evaluasi Harian Evaluasi harian ini berfungsi untuk mengukur perkembangan hafalan harian Pada evaluasi ini, siswa yang akan berganti surah wajib menyetorkan hafalan surah sebelumnya secara utuh dan lancar. Ujian Mid Semester dan Akhir Semester dalam pembelajaran Tahfidzul QurAoan selalu dilaksanakan ujian mid dan akhir semester. Ujian ini dilaksanakan secara lisan guna mengetahui kemampuan para siswa. Hasil ujian nantinya akan dimasukkan raport dan diberikan kepada orang Ujian Khotmil QurAoan Acara ini diwajibkan bagi siswa yang sudah menghatamkan juz 30nya. Adapun yang di ujikan ada tebak surah, melanjutkan potongan ayat, bacaan dan tajwid, serta ujian lisan juz 30 dari awal sampai akhir. Ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh ibu kepala madrasah pada saat wawancara. Untuk para siswa yang sudah menghatamkan juz 30 diwajibkan mengikuti ujian Khotmil QurAoan. Perencanaan manajemen kurikulum merupakan rancangan awal dari sebuah manajemen, rancangan ini nantinya akan menentukan arah dari kurikulum tersebut. Tahapan awal dari perencanaan kurikulum adalah menentukan tujuan. Adapun tujuan dari pembelajaran Tahfidzul QurAoan di MI Al-Fatah adalah mencetak generasi berakhlak QurAoani. Pernyataan ini sesuai dengan kajian yang bersumber dari Wina . mengatakan bahwa perumusan tujuan dalam kurikulum diibaratkan sebagai fondasi awal dalam membangun sebuah bangunan. Kesalahan menentukan fondasi kurikulum berarti kesalahan dalam menentukan kebijakan dan implementasi pendidikan. Menentukan Program Setelah tujuan dari kurikulum ditentukan, maka tahapan berikutnya adalah menentukan program yang akan dilaksanakan pada pembelajaran Tahfidzul QurAoan di MI AlFatah. Berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan di MI Al-Fatah, tahapan ini merupakan proses mentukan program yang akan dijalankan di MI Al-Fatah. Pogram tersebut merupakan program jangka pendek dan jangka panjang. Tidak hanya itu, dalam tahap ini juga menentukan target materi yang harus dicapai dalam pembelajaran Tahfidzul QurAoan. Hal ini sesuai dengan pendapat dari Rusman . 9:26-. menetapkan isi kurikulum hendaknya mempertimbangkan tingkat kematangan siswa, tingkat pengalaman dan taraf kesulitan materi. Seperti penentuan target materi Tahfidzul QurAoan di MI Al-Fatah yang disesuaikan dengan mempertimbangkan tingkat kemampuan siswa dalam menghafal. Perumusan Isi Atau Bahan Ajar Hal terpenting dalam perencanaan kurikulum adalah menentukan isi atau bahan ajar. Dalam menentukan isi atau bahan ajar tentunya melalui berbagai pertimbangan berbagai hal. Menurut hasil penelitian yang penulis lakukan di MI Al-Fatah bahwa dalam perumusan isi atau bahan ajar di MI Al-Fatah disesuaikan dengan jenjang kelas. Pengajaran bagi siswa kelas 1 sampai dengan kelas 3 adalah menirukan guru, sedangkan untuk kelas 4 sampai dengan kelas 6 adalah mengahafalkan sendiri dan guru hanya menerima serta mengevaluasi. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rusman . 9:26-. yang mengatakan bahwa penetapan isi kurikulum harus disesuaikan dengan tingkat kematangan siswa, tingkat pengalaman siswa dan Jurnal An-Nahdla. Volume . Nomor . Edisi . Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . : . taraf kesulitan materi. Menentukan Strategi Pembelajaran Menentukan strategi pembelajaran merupakan penentuan strategi dalam mengajar yang disesuaikan dengan kemampuan siswa. Strategi pembelajaran Tahfidzul QurAoan di MI Al-Fatah ada dua, yaitu. Talqin dan TasmiAo sertaTikrar. Ini sesuai dengan pernyataa dari Sukmadinata . yang mengatakan bahwa strategi pembelajaran adalah metode yang digunakan oleh pengajar untuk memberikan kemudahan bagi peserta didik melakukan kegiatan belajar secara aktif dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Menentukan Evaluasi Kurikulum Evaluasi yaitu kegiatan terencana untuk mengukur dan menilai suatu program. Berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan di MI Al-Fatah, pada proses penentuan evaluasi kurikulum Tahfidzul QurAoan ini meliputi penentuan jadwal evaluasi, jenis evaluasi dan teknik evaluasi. Adapun evaluasi yang ada dalam pembelajaran 71 Tahfidzul QurAoan adalah evaluasi proses yang dilakukan setiap hari dan evaluasi akhir yang dilakukan setiap akhir Hal ini sesuai dalam kutipan yang bersumber dari Hamalik . 8:194-. bahwa evaluasi merupakan bagian integral dari kurikulum yang bertujuan untuk mengetahui tingkat keberhasilan yang telah dicapai. Pengorganisasian Manajeman Kurikulum Muatan Lokal Tahfidzul QurAoan di MI Al-Fatah Menyusun Struktur Kurikulum Pengorganisasian manajemen kurikulum merupakan proses menyusun struktur hubungan kerja anggota organisasi sehingga dapat berinteraksi dan bekerja sama dengan baik sesuai dengan pembagian pembagian tugas yang telah di tetapkan. Dengan tugas pekerjaan yang mereka lakukan dapat memberikan kewenangan dan tanggung jawab penuh terhadap individu dan kelompok yang berbeda. Berdasarkan hasil penilitian yang penulis lakukan di MI Al-Fatah bahwa dalam setiap tahun ajaran baru Ibu Kepala Madrasah selalu membimbing para guru Tahfidzul QurAoan supaya berjalan dengan terarah. Sesuai dengan pernyataan Rusman . mengatakan bahwa pengorganisasian kurikulum berfungsi mempermudah kegiatan belajar sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan efektif. Menentukan Kalender Akademik Menentukan kalender akademik memiliki fungsi untuk mendorong efisiensi dan efektivitas proses pembelajaran di sekolah. kalender akademik juga berfungsi sebagai acuan yang berguna untuk menyelaraskan mengenai hari efektif dan hari libur. Berdasarkan pernyataan dari Ibu Durrotun Nafisah Alh. Pd. I, kalender akademik pelajaran Tahfidzul QurAoan disusun berdasarkan rencana program kegiatan yang akan berlangsung di MI Al-Fatah. Kalender akademik ini disusun berdasarkan kalender pendidikan yang ditetapkan Kementrian Agama dan di sesuaikan dengan kebutuhan. Kalender akademik ini disusun untuk mempermudah madrasah dalam melaksanakan kegiatannya. Sesuai dengan pernyataan Rusman . bahwa pengorganisasian kurikulum dilakukan untuk mempermudah proses kegiatan menjadi terarah dan menjadikan kegiatan belajar mengajar dapat berlangsung secara efektif dan Menentukan Alokasi Waktu Pembelajaran Tahap selanjutnya dalam pengorganisasian kurikulum yaitu menentukan alokasi waktu pembelajaran. Dari hasil penelitian yang penulis lakukan di MI Al-Fatah dapat diketahui bahwa pembelajaran Tahfidzul QurAoan dilaksanakan sebanyak 4 kali pertemuan dalam seminggu. Adapun waktu dalam setiap pertemuan yaitu 2 jam pelajaran, untuk 1 jam pelajaran sama dengan 30 menit. Ini sesuai dengan pernyataan Mulyasa . yang mengatakan bahwa alokasi waktu mata pelajaran muatan lokal jenjang SD/MI/SDLB maksimal adalah 2 jam pelajaran, untuk satu jam pelajaran yaitu 35 menit. Pembagian Kelas Tahfidzul Jurnal An-Nahdla. Volume . Nomor . Edisi . Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . : . QurAoan Berdasarkan hasil wawancara penulis dengan Ibu Tikfi Maghfiroh, bahwa pengelompokan kelas Tahfidzul QurAoan di MI Al-Fatah disesuaikan berdasarkan kemampuan siswa. Ini dikarenakan pengelompokan kelas akan mempengaruhi pertumbuhan hafalan siswa. Siswa dengan kemampuan kurang akan di berikan materi sesuai porsinya, begitu juga bagi siswa dengan kemampuan yang lebih. Pernyataan di atas sesuai dengan pernyataan dari Rusman tentang keseimbangan bahan pelajaran. Aspek yang harus diperhatikan dalam keseimbangan yaitu. keseimbangan terhadap subtansi bahan atau isi kurikulum dan keseimbangan yang berkaitan dengan cara atau proses belajar. Keseimbangan kurikulum ini harus dilihat secara komperhensif demi kepentingan siswa itu sendiri. Pelaksanaan Manajemen Kurikulum Muatan Lokal Tahfidzul QurAoan di MI AlFatah Pelaksanaan manajemen kurikulum merupakan bagian integral dari keseluruhan manajemen pendidikan dalam semua jenjang. Pelaksanaan manajemen ini menentukan keberhasilan dari suatu Berdasarkan hasil penelitian mengenai pelaksanaan manajemen kurikulum muatan lokal Tahfidzul QurAoan di MI Al-Fatah, penulis dapat mengetahui bahwa tenaga pengajar muatan lokal tersebut adalah 28 pengajar. Mayoritas dari pengajar tersebut adalah lulusan pesantren. Selanjutnya para pengajar tersebut diberikan tugas yang berbeda-beda sesuai dengan keahliannya. Adapun rincian tugasnya yaitu. 6 guru tahfidz untuk anak yang baru belajar menghafal, 14 guru tahfidz juz 30 lanjutan, 5 guru tahfidz bin nadzar, dan 3 guru tahfidz mengajar 30 juz. Tidak hanya itu, setiap guru tahfidz memiliki satu guru koordinator kelas. Guru koordinator ini bertugas mengawasi anak dalam pembelajaran Tahfidzul QurAoan. Menurut pendapat Hamalik . mengatakan bahwa pembagian tugas guru harus diatur secara administrasi untuk menjamin kelancaran pelaksanaan kurikulum di lingkungan kelas. Pembagian tersebut meliputi tiga jenis kegiatan administrasi, yaitu. pembagian tugas mengajar, pembagian tugas pembinaan ekstrakurikuler dan pembagian tugas bimbingan belajar. Jadi dapat disimpulkan bahwa dalam pelaksanaan manajemen kurikulum muatan lokal Tahfidzul QurAoan di MI Al-Fatah sudah sesuai dengan kajian yang penulis ambil dari Hamalik. Evaluasi Manajemen Kurikulum Muatan Lokal Tahfidzul QurAoan di MI Al Fatah Tahap akhir dari pelaksanaan manajemen kurikulum adalah evaluasi. Evaluasi yang dilakukan di MI Al-Fatah pada pembelajaran Tahfidzul QurAoan ada 3, yaitu. evaluasi 74 harian, ujian mid semester dan akhir semester dan ujian khotmil qurAoan. Evaluasi harian merupakan evaluasi yang dilaksanakan pada saat muatan lokal dilaksanakan. Menurut pendapat yang dikemukakan oleh Ustadz Haqulloh Mubin, evaluasi harian digunakan untuk mengukur perkembangan hafalan siswa setiap hari. Selanjutnya adalah ujian mid semester dan akhir semester. Ujian ini dilaksanakan pada saat muatan lokal sudah dilaksanakan secara menyeluruh, metode dalam pengujiannya adalah tes lisan. Yang terakhir yaitu ujian Khotmil QurAoan. Ujian Khotmil QurAoan merupakan evaluasi lanjutan setelah siswa mengkhatam-kanjuz 30. Berdasarkan analisis penulis tentang tahap evaluasi manajemen kurikulum muatan lokal Tahfidzul QurAoan di MI Al-Fatah ini sesuai dengan kajian penulis yang bersumber dari Dakir . 4:125-. bahwa evaluasi program muatan lokal dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu. evaluasi relatif . ilakukan sebelum dilaksanakannya muatan loka. , evaluasi formatif . ilakukan pada saat muatan lokal dilaksanaka. , dan evaluasi sumatif, . ilakukan pada saat muatan lokal telah selesai dilaksanakan secara menyeluruh. Jurnal An-Nahdla. Volume. Nomor. Edisi. Nama Penulis. Judul Artikel ISSN . SIMPULAN Perencanaan pada manajemen kurikulum muatan lokal Tahfidzul QurAoan di MI AlFatah memiliki lima tahapan, yaitu: . menentukan tujuan, . menentukan program, jangka pendek dan jangka panjang, . perumusan isi atau bahan ajar, . menentukan strategi pembelajaran, yaitu Talqin. TasmiAo, serta Tikrar, . menentukan evaluasi kurikulum, evaluasi yang ada di MI Al-Fatah ada dua, yaitu. evaluasi proses dan evaluasi akhir. Tahap pengorganisasian manajemen kurikulum muatan lokal Tahfidzul QurAoan di MI Al-Fatah meliputi penyusunan struktur kurikulum tahfidz, menentukan kalender akademik, penentuan alokasi waktu pembelajaran, serta menyusun jadwal pembelajaran tahfidz serta pembagian kelas Tahfidzul QurAoan. Dalam pelaksanaan manajemen kurikulum muatan lokal Tahfidzul QurAoan di MI AlFatah terdapat pembagian tugas mengajar dan pelaksanaan pembelajaran. Pembagian tugas mengajar disesuaikan dengan kemampuan masing-masing guru. Pelaksanaan pembelajaran Tahfidzul QurAoan yaitu setiap hari senin sampai kamis dari pukul 30 sampai dengan 08. Terdapat tiga evaluasi manajemen kurikulum Tahfidzul QurAoan di MI Al-Fatah, yaitu. Evaluasi harian, . Ujian mid semester dan akhir semester, . Ujian khotmil qurAoan. Pembelajaran Tahfidzul QurAoan di MI Al-Fatah memiliki beberapa faktor pendukung, yaitu. minat menghafal serta perngaturan waktu hafalan yang tepat. Sedangkan faktor penghambat pembelajaran Tahfidzul QurAoan di MI Al-Fatah yaitu. kurangnya niat dalam menghafal, kurangnya minat serta kurangnya motivasi dari diri sendiri maupun orang tua. DAFTAR PUSTAKA