Jurnal Terbit Vol. 01 No. 01, 30 September 2023 STUDI EKSPLORATIF PERKEMBANGAN MORAL SISWA SEKOLAH DASAR PERSPEKTIF LAWRENCE KOHLBERG (MI SHOLBIYAH BOJONEGORO) Ummidlatus Salamah1. Nurul Ngainin2 & Fashi Hatul Lisaniyah3 1,2,3 Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama Tuban Email: umidlatus@iainutuban. id, 2nurulngainin@gmail. com, 3lisaniyah1@gmail. Diterima 02 Juli 2023 Info Artikel Disetujui 29 September 2023 Terbit 30 September 2023 Keywords: Moral Development Elemantary School Lawrance Kohlberg ABSTRACT The purpose of this research is to discuss the moral development of elementary school students in terms of Lawrence Kohlberg's theory. The type of research used is field research, namely research in which data and information are obtained from research work activities. The results of this study indicate that in elementary school students moral development is still at the lowest stage, namely preconventional. Lawrence Kohlberg's theory states that there are three levels of moral development and at each level there are two stages. The environment greatly influences the moral development of children because they find moral standards from the family and the surrounding environment. Parents become one of the most important and influential people in the stage of moral development when children are young. Kata Kunci: Perkembangan Moral Sekolah Dasar Lawrance Kohlberg ABSTRAK Tujuan penelitian ini adalah untuk membahas tentang perkembangan moral siswa sekolah dasar perspektif Teori Lawrence Kohlberg. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan . ield researc. yaitu penelitian yang data dan informasinya diperoleh dari kegiatan lapangan kerja penelitian. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pada siswa sekolah dasar perkembangan moral masih pada tahap paling bawah yaitu prakonvensional. Teori Lawrence Kohlberg menyatakan ada tiga tingkat perkembangan moral dan pada setiap tingkatnya mempunyai dua tahap. Lingkungan sangat mempengaruhi perkembangan moral anak karena mereka menemukan standart moral itu dari keluarga dan sekitarnya. Orangtua menjadi salah satu yang paling penting dan berpengaruh dalam tahap perkembangan moral saat anak kecil. Copyright and License: Authors retain copyright and grant the journal right of first publication with the work simultaneously licensed under a Creative Commons Attribution 4. 0 International License that allows others to share the work with an acknowledgment of the work's authorship and initial publication in this journal. At Taksis: Jurnal Pendidikan Dasar Web OJS: https://jurnal. id/index. php/AT-Taksis/about 11 Ummidlatus Salamah. Nurul Ngainin & Fashi Hatul Lisaniyah PENDAHULUAN Pendidikan akan menciptakan keterampilan dan pengetahuan, serta mampu menanamkan nilai-nilai, mengarahkan siswa pada sikap yang tepat dan membangun kebiasaan positif generasi Pendidikan merupakan proses penanaman karakter. Para ahli kemudian menyimpulkan bahwa hal pokok yang harus ada pada pendidikan karakter dan pembentukan karakter adalah menjelaskan dan menganalisis tentang konsep moral. Moral secara bahasa berasal dari kata AumoresAy yang merupakan jamak dari kata AumosAy yaitu adat istiadat . Secara Istilah moral ialah penetapan bagus tidaknya perbuatan yang dilakukan oleh seseorang. 1 Moralitas selalu membicarakan tentang nilai yang menjadi standar dalam mengatur kehidupan manusia. Moralitas merupakan sebuah kesepakatan antara individu dengan masyarakat tentang baik atau buruknya sesuatu, sehingga akan menentukan apakah suatu itu layak atau tidak layak untuk dilakukan oleh individu atau masyarakat. Hal itu harus didasari pada pertimbangan moral. Oleh karena itu pembentukan moral anak dijadikan sebagai salah satu tujuan dasar dari pendidikan formal. Masyarakat juga semakin sadar bahwa lingkungan dan masyarakat berperan penting dalam melatih anak tentang norma-norma moral dan sosial yang mengatur kehidupan manusia. Fakta memang mengatakan pembentukan moral anak dijadikan sebagai salah satu tujuan dasar dari pendidikan formal, namun masih banyak tenaga pendidik di indonesia yang belum memahami perkembangan moral pada peserta didik. Padahal sangat penting untuk memahami perkembangan moral siswa, karena kembali kepada tujuan utama pendidikan yang membentuk pribadi yang berkarakter dan bermoral baik. Selain itu, tujuan pentingnya memahami perkembangan moral peserta didik yaitu untuk membantu tenaga pendidik dalam merancang pembelajaran yang berorientasi pada tercapainya tujuan pembelajaran. Kurangnya pemahaman tenaga pendidik terkait perkembangan moral juga menjadikan peserta didik sering mendapatkan pembelajaran moral dengan metode yang kurang efektif, sehingga pendidikan moral atau akhlak tidak membekas pada diri siswa. Santrock mengatakan perkembangan moral adalah perkembangan yang berkaitan dengan aturan mengenai apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia dalam interaksinya dengan orang Santrock juga menjelaskan bahwa dalam perkembangan moral terdapat di dalamnya hal-hal terkait perkembangan proses dalam berfikir dan berperilaku yang sesuai dengan aturan. Seka Andrean and Maemunah Maemunah. AuAnalisis Perkembangan Moral Anak Melalui Pembelajaran Aqidah Akhlak Di MI MAAoARIF Candran,Ay MADROSATUNA : Jurnal Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah 3, no. : 54Ae67, https://doi. org/10. 47971/mjpgmi. Miftakhul Rizal Mubaidilla. AuINTERNALISASI PELAJARAN DALAM KEHIDUPAN: ANALISIS EMPERIS PADA MATA PELAJARAN SEJARAH KEBUDAYAAN ISLAM TINGKAT DASAR,Ay El-Fata : Jurnal Ilmu Tarbiyah 03, no. : 54Ae61, http://ejournal. id/index. php/elfata/article/view/225/211. Fatma Laili Khoirun Nida. AuIntervensi Teori Perkembangan Moral Lawrence Kohlberg Dalam Dinamika Pendidikan Karakter,Ay Edukasia : Jurnal Penelitian Pendidikan Islam . 271Ae90, https://doi. org/10. 21043/edukasia. Studi Eksploratif Perkembangan Moral Siswa Sekolah Dasar Perspektif Lawrence Kohlberg Ummidlatus Salamah. Nurul Ngainin & Fashi Hatul Lisaniyah Adapun perkembangan moral menurut teori Lawrance Kohlberg terdapat tiga tingkat yaitu pertama tingkat prakonvensional. Ini adalah tingkat paling rendah dari tingkatan moral berdasarkan teori Kohlberg. Baik dan buruk moral pada tingkat ini digambarkan melalui pujian atau hadiah dan sanksi atau hukuman. Pada tingkat ini mempunyai dua tahap. Tahap satu, moralitas hetronom merupakan tahap pertama. Pada tahap ini berhubungan dengan sanksi. Misalnya, anak taat kepada suatu aturan tertentu karena dia takut terkena sanksi sebagai akibat dari pelanggaran yang dilakukannya. Tahap dua, mementingkan diri sendiri. Pada tahap ini, seseorang memprioritaskan egosentris sebagai hal yang sesuai dengan kebenaran serta pemikiran ini juga berlaku dengan orang lain. Sehingga mereka menganggap apa yang benar ialah keputusan yang melibatkan transaksi yang adil. Mereka menganggap jika mereka baik terhadap orang maka orang tersebut juga akan melakukan hal yang sama. Kedua, tingkat konvensional merupakan pertengahan atau tingkat pada penjelasan tentang perkembangan oleh Kohlberg. Pada tingkat ini pribadi akan menetapkan suatu aturan yang diciptakan oleh orang lain, contohnya orangtua atau badan tertentu. Tingkatan ini mempunyai dua tahap. Tahap tiga, ekspektasi interpersonal mutual, interaksi dengan orang lain, dan kesesuaian pribadi dengan orang sekitar adalah tahap ketiga pada teori ini. tahap ini ditandai dengan pribadi yang mengindahkan keyakinan dan loyalitas pada orang lain sebagai alasan pertimbangan moral. Pada tahap ini anak dan remaja kerap mengikuti standart pertimbangan moral orangtua supaya diakui sebagai pribadi yang baik. Tahap empat, moralitas sistem sosial ditandai dengan penilaian moral yang didasarkan tentang pengertian mengenai keharmonisan dalam hal yang harus dilakukan, sanksi, perlakuan adil dan masyarakat. Misalnya, pribadi remaja kemungkinan memiliki pemikiran agar sebuah himpunan atau kelompok masyarakat melakukan kegiatan dengan efektif maka harus diberlakukan suatu peraturan atau hukum pada setiap anggota. Ketiga, tingkat pasca konvensional merupakan tingkat yang paling tinggi. Pada tingkat ini, pribadi memiliki kesadaran tentang kehadiran alur moral alternative, menggali kemungkinan dalam pilihan ini, kemudian mempertimbangkan dengan dasar sistem moral individu. Tingkatan ini mempunyai dua tahap, tahap lima yaitu manfaat sosial dan hak personal. Dalam tahap ini pribadi berpikir bahwa nilai dan prinsip menjadi fokus utama dari pada sanksi. Individu menilai kesahihan norma hukum dan sistem sosial dengan didasarkan kepada taraf sampai seperti apa hal ini mampu menanggung keselamatan dan menjaga hak asasi manusia. Tahap enam yaitu prinsip etis universal merupakan tahap tertinggi dalam teori ini. Pada tahap ini, seorang individu sudah Santrock. Perkembangan Anak, 11th ed. (Jakarta: Erlangga, 2. Santrock. At Taksis: Jurnal Pendidikan Dasar Web OJS: https://jurnal. id/index. php/AT-Taksis/about 13 Ummidlatus Salamah. Nurul Ngainin & Fashi Hatul Lisaniyah meningkatkan ketentuan moral dengan dasar Hak Asasi Manusia secara umum. Saat berada pada situasi yang berlawanan untuk memprioritaskan antara norma hukum dan hati nurani, seorang individu akan lebih memilih hati nurani meskipun akan memberikan risiko. Perkembangan moral siswa sekolah dasar berbeda dengan anak sekolah tingkat menegah dan seterusnya. Hal ini penulis jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Di beberapa kejadian ada perbedaan sangat signifikan dalam hal melaksanakan kewajiban. Penulis menjumpai seorang tetangga yang memiliki anak kelas dua sekolah dasar berusia delapan tahun. Anak tetangga yang usia delapan tahun ini ketika disuruh untuk belajar sangat sulit, akan tetapi ketika sang ibu berjanji akan membelikannya mainan barulah sang anak mau belajar. Ketika penulis menanyakan kepada anak tersebut dengan pertanyaan sama yaitu Aukenapa kamu belajar?Ay Anak tetangga yang berusia delapan tahun menjawab Ausoalnya kalau aku mau belajar nanti aku dibelikan mainan sama ibuAy. Perkembangan moral dipengaruhi oleh banyak hal. Menurut Jahya dalam bukunya psikologi perkembangan, hal-hal yang dapat mempengaruhi perkembangan moral antara lain Kekonsistenan dalam mendidik anak. Sikap orang tua dalam keluarga. Penghayatan dan pengalaman keagamaan. Sikap orang tua dalam menerapkan norma. Berdasarkan pemaparan diatas, maka tujuan dalam penelitian ini adalah mendeskripsikan perkembangan moral di MI Sholbiyah Bojonegoro dan mendeskripsikan apa saja faktor yang dapat membantu perkembangan moral MI Sholbiyah Bojonegoro. Berlatar belakang permasalahan tersebut, maka dalam penelitian ini penulis akan meneliti tentang perbandingan perkembangan moral antara siswa sekolah dasar perspektif teori Kohlberg yang peneliti lakukan pada subjek penelitian yaitu siswa MI Sholbiyah Bojonegoro. METODE Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Metode deskriptif adalah metode penelitian untuk membuat gambaran mengenai situasi dan kejadian sehingga metode ini berkehendak mengadakan akumulasi data dasar belaka. Tetapi dalam pengertian metode penelitian yang lebih luas, penelitian deskriptif mencakup metode penelitian yang lebih luas di luar metode sejarah dan eksperimental, dan secara lebih umum sering diberi nama metode survei. Kerja peneliti bukan saja memberikan gambaran terhadap fenomena-fenomena, tetapi juga menerangkan hubungan, menguji hipotesa, membuat prediksi serta mendapatkan makna dan implikasi dari suatu masalah yang ingin dipecahkan. Santrock. Yudrik Jahja. Psikologi Perkembangan (Jakarta: Kencana, 2. Moh. Nazir. Metode Penelitian. Jakarta, 1988. Studi Eksploratif Perkembangan Moral Siswa Sekolah Dasar Perspektif Lawrence Kohlberg Ummidlatus Salamah. Nurul Ngainin & Fashi Hatul Lisaniyah Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan . ield researc. yaitu penelitian yang data dan informasinya diperoleh dari kegiatan lapangan kerja penelitian. 9 Dalam penelitian ini, penulis melakukan penelitian langsung ke lapangan yaitu di MI Sholbiyah Bojoneoro untuk mendapatkan data yang konkret mengenai perkembangan moral, rumusan masalah, tujuan, dan manfaat penelitian, serta menghasilkan karya ilmiah yang berbobot dan sesuai dengan kriteria karya ilmiah, maka dalam penelitian ini penulis menggunakan metode kualitatif. Adapun sumber data dalam penelitian ini terbagi menjadi dua yaitu sumber data primer dan sekunder. Sumber data primer diperoleh langsung dari tempat penelitian. Informan dalam penelitian ini adalah Guru dan siswa MI Sholbiyah Bojonegoro. Sedangkan Adapun sumber data sekunder dalam penelitian ini diperoleh dari studi kepustakaan, artikel, dan data lain yang berkaitan dengan penelitian. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, dokumentasi, dan observasi. Analisis data dilakukan dengan tiga tahapan yaitu data reduction, data display, dan conclusion drawing / verification. HASIL DAN PEMBAHASAN Adapun hasil dan pembahasan dari penelitian yang berjudul studi ekisploratif perkembangan moral siswa sekolah dasar perspektif teori lawrence kohlberg (MI sholbiyah Bojonegor. ini adalah sebagai berikut: Hasil penelitian yang telah dilakukan di MI sholbiyah Bojonegoro menunjukkan bahwa perkembangan moral di MI sholbiyah Bojonegoro kelas dua masih terkategori tingkat rendah, hal tersebut terlihat berdasarkan hasil observasi dan wawancara pada 7 siswa yang terdiri dari 4 siswa laki-laki dan 3 siswa perempuan. Berdasarkan hasil observasi aspek perkembangan moral di MI sholbiyah Bojonegoro pada kelas dua terlihat masih terbilang kurang dan perlu ditingkatkan. Adapun 7 peserta didik yang pengembangan moralnya masih kurang, berinisial AM. SM. JR. MR. AI. PA, dan KF. Pengembangan nilai moral AM dan SM ditunjukkan dengan perilaku anak yang suka berbicara kasar, berteriak pada temannya, dan tidak sopan pada saat berbicara dengan gurunya. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perkembangan moral yang belum tercapai pada anak kelas dua, karena pada usia delapan tahun anak seharusnya dapat menunjukkan perilaku sopan kepada teman seusianya dan hormat terhadap orang yang lebih tua darinya, seperti pada guru di sekolah. Supardi. Metodologi Penelitian Ekonomi Dan Bisnis (Jakarta: UII Press, 2. At Taksis: Jurnal Pendidikan Dasar Web OJS: https://jurnal. id/index. php/AT-Taksis/about 15 Ummidlatus Salamah. Nurul Ngainin & Fashi Hatul Lisaniyah Perkembangan moral yang kurang optimal juga ditunjukkan pada peserta didik yang berinisial JR dan MR yang ditunjukkan saat mereka mengambil barang milik temannya tanpa izin terlebih dahulu. Perilaku anak yang sering mengambil barang orang lain tanpa seizin pemiliknya merupakan indikator kurangnya tanggung jawab dalam diri anak sedangkan karakter tanggung jawab merupakan dasar nilai moral seseorang. Hal tersebut tidak boleh dibiarkan karena akan merugikan orang lain dan akan berdampak pada perilakunya jika telah dewasa kelak. Berdasarkan hasil penelitian Novitasari menyatakan bahwa pembelajaran moral yang utama mengajarkan tentang sikap hormat dan bertanggung jawab. Anak yang memiliki sikap tanggung jawab yang baik akan mampu menjaga barang milik sendiri dan barang milik orang lain, sehingga anak tidak akan menggunakan barang orang lain tanpa seizin pemiliknya. Hasil observasi terhadap Peserta didik yang berinisial AI dan PA menunjukkan perkembangan moral yang masih kurang. Perkembangan moral yang ditunjukkan oleh anak yang mengucapkan kata-kata yang seharusnya tidak pantas mereka ucapkan. Anak sering mengikuti bahasa-bahasa tidak sopan yang sering mereka dengar langsung di lingkungan sekitar. Adapun peserta didik yang berinisial KF dimana kurangnya perkembangan moral terlihat saat guru meminta tolong kepada mereka, akan tetapi mereka menunjukkan sikap tidak peduli, enggan dalam membantu. Adapun hal lain yang ditemukan dalam penelitian ini adalah beberapa perilaku guru yang masih kurang tepat dalam memberikan contoh pengembangan moral yang baik kepada peserta didik, misalnya guru dengan tidak sengaja mengucapkan kata-kata yang mungkin bisa menjadi contoh yang akan dilakukan peserta didik. Ketidaksengajaan guru menunjukkan perilaku yang tidak tepat di hadapan peserta didik akan mempengaruhi pembentukan karakter moral anak di sekolah sebab guru merupakan figur teladan dalam lingkungan pendidikan. Sutisna menyatakan bahwa keberhasilan pendidikan karakter disekolah bergantung dari sejauh mana guru tersebut bisa menjadi teladan siswa-siswinya sehingga untuk mewujudkan siswa yang berkarakter diperlukan guru yang berkarakter pula. 11 Sapendi mengemukakan bahwa guru merupakan suri teladan dalam kegiatan belajar mengajar yang harus mampu melakukan komunikasi dua arah dengan anak. Pendidikan moral pada anak tidak bisa dilaksanakan melalui proses pendidikan dan pembelajaran hanya melalui penggunaan metode ceramah. Guru dapat menjadi model yang akan dilihat, diidolakan, dan ditiru tutur kata, sikap, dan perilakunya. Guru memberikan contoh berperilaku dan bertutur kata sesuai dengan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat, sehingga pantas menjadi model moral bagi anak. 12 Guru dan orang tua Yesi Novitasari. AuAnalisis Permasalahan "Perkembangan Kognitif Anak Usia DiniAy,Ay PAUD Lectura: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini 2, no. : 82Ae90, https://doi. org/10. 31849/paudlectura. Deni Sutisna. Dyah Indraswati, and Muhammad Sobri. AuKeteladanan Guru Sebagai Sarana Penerapan Pendidikan Karakter Siswa,Ay JPDI (Jurnal Pendidikan Dasar Indonesi. 4, no. : 29, https://doi. org/10. 26737/jpdi. Mulianah Khaironi. AuPendidikan Karakter Anak Usia Dini,Ay Jurnal Golden Age 1, no. : 82, https://doi. org/10. 29408/goldenage. Studi Eksploratif Perkembangan Moral Siswa Sekolah Dasar Perspektif Lawrence Kohlberg Ummidlatus Salamah. Nurul Ngainin & Fashi Hatul Lisaniyah bertanggungjawab terhadap kesejahteraan jiwa anak. Keduanya saling melengkapi dalam pembinaan anak dan diharapkan ada saling pengertian dan kerja sama yang erat antara keduanya dalam usaha mencapai tujuan bersama yaitu kesejahteraan jiwa agama anak untuk pengembangan nilai-nilai moral. Urgensi keterlibatan guru dalam pengembangan nilai-nilai moral juga didukung oleh hasil penelitian Wahyuni & Nuraini menyatakan bahwa untuk mengembangkan moral anak di sekolah, guru harus memberikan contoh dari konsekuensi yang akan anak peroleh ketika anak melakukan perilaku misbehave atau perilaku yang tidak tepat di sekolah. Kesepakatan yang dibuat oleh guru tersebut diterapkan di lingkungan sekolah dan harapannya dilanjutkan saat berada di luar sekolah dengan kerjasama guru dan orangtua di rumah. Guru juga sangat berperan penting karena apa yang dilakukan guru akan menjadi contoh untuk peserta didik. 13 Diperlukan pengembangan nilai moral pada MI sholbiyah Bojonegoro yang kuat agar peserta didik dapat membedakan mana hal baik dan mana hal yang buruk. Berdasarkan hasil penelitian Maharani bahwa untuk menstimulasi perkembangan moral anak bukan hanya melalui pengajaran nilai-nilai pentingnya berbuat baik dan bermoral, tetapi harus didukung dengan proses pendidikan dan pembelajaran moral secara terintegrasi melalui pemberian teladan baik oleh orangtua dan pihak sekolah melalui keteraturan hidup, berlatih disiplin melalui pembiasaan dan kegiatan lainnya. 14 Hal ini sependapat dengan hasil penelitian Juhriati & Rahmi yang menyatakan bahwa pembinaan moral anak dapat dilakukan melalui pembinaan perilaku. Pembentukan moral anak tidak cukup hanya dengan nasehat tetapi harus didukung dengan pembinaan perilaku. Pemberian tindakan ini membuat anak mengenal Tuhan, termotivasi untuk beribadah dan mencontoh akhlak yang baik. Perkembangan moral anak dibentuk oleh beragam faktor diantaranya factor dari dalam diri anak yang secara alami terbentuk dan faktor yang distimulasi dari luar diri anak seperti lingkungan tempat bermain. Kedua faktor tersebut memiliki dampak yang sama besarnya dalam menstimulasi moralitas anak. Faktor-faktor tersebut saling berkelindan, oleh karenanya penting untuk bisa mengontrol dengan baik perkembangan moral anak agar dapat Sri Wahyuni and Nuraini. AuPeran Guru PAUD Dalam Meningkatkan Perkembangan Moral Anak Usia 5-6 Tahun Di Kecamatan Tenayan Raya Kota Pekanbaru,Ay PAUD Lectura: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini 3, no. : 78Ae87, https://doi. org/10. 31849/paud-lectura. Laila Maharani. AuPerkembangan Moral Pada Anak,Ay KONSELI : Jurnal Bimbingan Dan Konseling (E-Journa. 1, no. : 93Ae98, https://doi. org/10. 24042/kons. Ika Juhriati and Azimatur Rahmi. AuImplementasi Nilai Agama Dan Moral Melalui Metode Esensi Pembinaan Perilaku Pada Anak Usia Dini,Ay Jurnal Obsesi : Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini 6, no. : 1070Ae76, https://doi. org/10. 31004/obsesi. At Taksis: Jurnal Pendidikan Dasar Web OJS: https://jurnal. id/index. php/AT-Taksis/about 17 Ummidlatus Salamah. Nurul Ngainin & Fashi Hatul Lisaniyah berkembang secara optimal. 16 Selain pemberian teladan dan pembinaan perilaku, pengembangan moral anak dapat dilakukan melalui kegiatan mendongeng. Mendongeng dapat dilakukan secara sederhana baik oleh orangtua atau guru disekolah. Berdasarkan hasil penelitian Gusmayanti & Dimyati menyatakan bahwa dongeng yang dapat berdampak pada perkembangan moral diantaranya kisah yang menghibur dan menyenangkan, terdapat pesan moral yang mendidik anak, menstimulasi anak agar terlibat aktif, memantik rasa ingin tahu anak, serta memiliki variasi tema. Melalui kegiatan mendongeng, anak akan mengenal sifat sabar, santun, jujur, mandiri, bertanggung jawab, percaya diri dan peduli sesama. Berdasarkan pemaparan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam membentuk perkembangan moral anak dibutuhkan pengawasan dari orang-orang di sekelilingnya. Saat berada dirumah semua anggota keluarga berpengaruh dalam membentuk moral anak dan jika berada di sekolah guru yang bertanggung jawab sepenuhnya dari masuk kelas hingga selesai. Perkembangan moral terbentuk jika memberikan pembelajaran yang berkaitan dengan moral anak. Dengan memberikan contoh kecil menghargai orang lain. Jika dengan bisa menghargai orang lain maka karakter anak dapat terbentuk dengan baik. Karena anak adalah peniru. Ada banyak cara dalam membentuk moral anak karena setiap anak mempunyai karakter yang berbeda sehingga semuanya tergantung bagaimana pendidik memberikan metode pembelajaran yang lebih mendidik. Penerapan salah satu metode untuk pengembangan moral yang dipilih harus disesuaikan dengan kondisi sekolah dan kemampuan seorang guru dalam menerapkannya. Salah satu hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan moral anak dapat lebih optimal dengan menerapkan metode bermain peran jika dibandingkan dengan metode ceramah. Melalui bermain peran, akan terbangun kesadarannya melalui peran yang anak lakoni. Berdasarkan hal tersebut, maka diharapkan anak akan lebih bijak dalam bersikap, terbangun kemampuan untuk saling membantu, tolong menolong dan berkomunikasi dengan bahasa dan etika yang baik. Dari hasil observasi dan wawancara yang dilakukan penulis ditemukan hasil bahwa perkembangan moral siswa sekolah dasar di MI Sholbiyah Bojonegoro belum berkembang optimal yang nampak dari perilaku anak yang kurang sopan, tidak mau menolong, berkata kasar. Dari hasil penelitian yang dilakukan di MI Sholbiyah. Perkembangan moral pada siswa sekolah dasar masih pada tahap prakonvensional. Tahap ini merupakan tingkan terbawah dari tingkatan moral berdasarkan teori Kohlberg. Baik dan buruk moral pada tingkat ini digambarkan melalui pujian atau hadiah dan sanksi. Mardi Fitri and NaAoimah NaAoimah. AuFaktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Moral Pada Anak Usia Dini,Ay AlAthfaal: Jurnal Ilmiah Pendidikan Anak Usia Dini 3, no. : 1Ae15, https://doi. org/10. 24042/ajipaud. Elsy Gusmayanti. AuAnalisis Kegiatan Mendongeng Dalam Meningkatkan Perkembangan Nilai Moral Anak Usia DiniAy 6, 2 . : 903Ae17, https://doi. org/10. 31004/obsesi. Studi Eksploratif Perkembangan Moral Siswa Sekolah Dasar Perspektif Lawrence Kohlberg Ummidlatus Salamah. Nurul Ngainin & Fashi Hatul Lisaniyah KESIMPULAN Dari paparan penelitian diatas dapat disimpulkan bahwa perkembangan moral bahwa pada siswa sekolah dasar perkembangan moral masih pada tahap paling bawah yaitu prakonvensional. Teori Lawrence Kohlberg menyatakan ada tiga tingkat perkembangan moral dan pada setiap tingkatnya mempunyai dua tahap. Lingkungan sangat mempengaruhi perkembangan moral anak karena mereka menemukan standart moral itu dari keluarga dan sekitarnya. Orangtua menjadi salah satu yang paling penting dan berpengaruh dalam tahap perkembangan moral saat anak kecil. REFERENCES