Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 11 No. Hal. 36-48, 2025 DOI: https://doi. org /10. 51352/jim. PERESEPAN BERPOTENSI TIDAK TEPAT. LUARAN KLINIS DAN EFEK SAMPING OBAT PADA PASIEN GERIATRI DENGAN TERAPI ANTIHIPERTENSI Submitted : 28 Desember 2024 Edited : 4 Mei 2025 Accepted : 28 Mei 2025 Muh. Irham Bakhtiar1. Dinny Seppraudiva2 Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur. Fakultas Farmasi Email: mib705@umkt. ABSTRAK Hipertensi pada pasien geriatri merupakan tantangan klinis karena perubahan fisiologis terkait usia meningkatkan risiko penggunaan obat yang tidak tepat atau Potentially Inappropriate Medication (PIM), efek samping obat (ESO), serta kesulitan mencapai target tekanan darah. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi peresepan antihipertensi yang berpotensi tidak tepat menggunakan kriteria STOPP versi Indonesia, pencapaian target tekanan darah berdasarkan pedoman NICE 2019. JNC 8, dan ACC/AHA 2017, serta kejadian ESO yang dinilai dengan algoritma Naranjo. Penelitian dilakukan secara observasional deskriptif dengan pendekatan prospektif melalui telaah rekam medis dan wawancara pada pasien geriatri rawat inap di Rumah Sakit X Samarinda. Hasil menunjukkan prevalensi PIM sebesar 23,08% yaitu penggunaan furosemid tanpa indikasi jelas, clonidine sebagai antihipertensi, dan kombinasi diuretik berisiko tinggi. Ketidaktercapaian target tekanan darah tercatat sebesar 35,71% (NICE 2. , 28,57% (JNC 8 tahun 2. , dan 78,57% (ACC/AHA tahun 2. , menunjukkan bahwa semakin ketat target yang ditetapkan, semakin sulit dicapai pada populasi lanjut usia. Terdapat tiga kejadian ESO . ,43%), yaitu dua kasus disfungsi ginjal terkait Candesartan dan satu kasus nyeri perut akibat Furosemide. Penilaian kausalitas dilakukan menggunakan algoritma Naranjo dan divalidasi oleh apoteker klinis dengan acuan Drug Information Handbook edisi 30 tahun 2021. Penelitian ini menekankan pentingnya evaluasi terapi antihipertensi secara individual pada pasien geriatri untuk menghindari PIM, mengoptimalkan luaran klinis, dan mencegah efek samping. Diperlukan keterlibatan aktif apoteker klinis serta dukungan sistem pengambilan keputusan berbasis data untuk meningkatkan keamanan dan efektivitas pengobatan pada Kata Kunci : Kriteria STOPP Versi Indonesia. Luaran Klinis. Efek Samping Obat ABSTRACT Hypertension in geriatric patients poses a clinical challenge due to age-related physiological changes that increase the risk of Potentially Inappropriate Medications (PIM), adverse drug events (ADE), and difficulty in achieving target blood pressure. This study aimed to evaluate potentially inappropriate antihypertensive prescribing using the Indonesian version of the STOPP criteria, assess blood pressure target achievement based on three guidelines (NICE 2019. JNC 8, and ACC/AHA 2. , and identify ADEs assessed using the Naranjo algorithm. This was a descriptive observational study with a prospective approach conducted through medical record review and interviews with hospitalized geriatric patients at Hospital X in Samarinda. The results showed a 23. 08% prevalence of PIM, including the use of furosemide without clear indication, clonidine as an antihypertensive, and high-risk diuretic combinations. Failure to achieve blood pressure targets was found in 35. 71% (NICE 2. , 28. 57% (JNC 8, 2. , and 78. (ACC/AHA, 2. , indicating that stricter targets are more difficult to achieve in older adults. There were three ADE cases . 43%), consisting of two cases of renal dysfunction associated with candesartan and one case of abdominal pain due to furosemide. Causality was assessed using the Naranjo algorithm and validated by clinical pharmacists using the 30th edition of the Drug Information Handbook . This study highlights the importance of individualized antihypertensive therapy evaluation in elderly patients to prevent PIM, improve clinical outcomes, and reduce adverse events. Active involvement of clinical pharmacists and data-driven clinical decision support systems are essential to enhance medication safety and therapeutic effectiveness in the geriatric population. Keywords: Indonesian STOPP Criteria. Clinical Outcomes. Adverse Drug Events This open access article is distributed under a Creative Commons Attribution (CC-BY-NC-SA) 4. 0 International license. Copyright . 2025 Jurnal Ilmiah Manuntung How to Cite . SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN SAMARINDA Bakhtiar MI. Seppraudiva D. PERESEPAN BERPOTENSI TIDAK TEPAT. LUARAN KLINIS DAN EFEK SAMPING OBAT PADA PASIEN GERIATRI DENGAN TERAPI ANTIHIPERTENSI. Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan. : 36Ae48. Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 11 No. Hal. 36-48, 2025 PENDAHULUAN Hipertensi disebut sebagai the silent killer karena sering tidak menunjukkan gejala yang jelas sampai terjadi kerusakan serius pada organ vital dengan mekanisme antara lain tekanan darah yang terus-menerus tinggi memberikan tekanan berlebih pada dinding arteri menjadi kaku dan sempit atau aterosklerosis dan jantung harus bekerja lebih keras untuk memompa darah. Tekanan darah tinggi perlahan merusak organ penting, seperti otak yaitu dengan meningkatkan risiko stroke dan demensia vaskular serta menyebabkan pembesaran pada jantung . , gagal jantung dan serangan jantung. Hipertensi dapat merusak ginjal sampai gagal ginjal dan kerusakan retina mata bahkan kebutaan tanpa gejala jelas hingga terjadi komplikasi berat, sehingga disebut AusilentAy. Beberapa sistem tubuh yang ikut berperan dalam mekanisme ini adalah Renin-Angiotensin-Aldosterone System (RAAS) dengan meningkatkan retensi garam dan air, menyempitkan pembuluh darah, sistem saraf simpatik dengan meningkatkan denyut jantung dan merusak tekanan pembuluh darah dan endotel serta menyebabkan disregulasi aliran darah. Geriatri sebagai individu berusia Ou60 tahun oleh Joint National Committee 8 (JNC . tahun 2014 namun pedoman terbaru seperti American College of Cardiology/American Heart Association (ACC/AHA) tahun 2017 dan European Society of Cardiology/European Society of Hypertension (ESH/ISH) tahun 2018 mendefinisikan batas Ou65 tahun dalam hipertensi. Banyak hipertensi bisa dilihat dari perubahan fisiologis akibat proses penuaan dan faktor lainnya dimana arteri menjadi lebih kaku atau kurang elastis, lebih aktifnya sistem ReninAngiotensin-Aldosterone (RAAS) pada lansia yang menyebabkan retensi natrium dan air, konsumsi garam berlebih, kurang aktivitas fisik, dan adanya komorbiditas serta obat-obatan tertentu. Fungsi baroreseptor sebagai sensor tekanan darah di arteri pada usia tua, fungsinya menurun dan membuat tubuh lebih lambat merespons perubahan tekanan darah sehingga menyebabkan fluktuasi dan peningkatan tekanan darah serta hipertensi menjadi penyakit kardiovaskular yang paling banyak ditemukan di Indonesia dan terus meningkat dari tahun ke tahun. Pasien geriatri memang memiliki hubungan erat dengan peningkatan potensi efek samping obat (ESO), terutama dalam penggunaan obat antihipertensi karena terjadi perubahan farmakokinetik. Adanya teori penurunan fungsi ginjal dan hati sehingga memperlambat metabolisme dan ekskresi obat serta obat bisa menumpuk dalam tubuh dan meningkatkan risiko toksisitas. Adanya perubahan farmakodinamik berupa respons tubuh terhadap obat berubah dimana lansia bisa menjadi lebih sensitif terhadap efek tertentu seperti penurunan tekanan darah dan gangguan elektrolit. Faktor lain seperti polifarmasi dan potensi interaksi antar obat yang tinggi. Prevalensi peresepan berpotensi tidak tepat atau potentially inappropriate medication (PIM) pada populasi ini dapat berkisar antara mulai 28% hingga 73%. PIM adalah obatobatan yang berisiko memberikan dampak negatif lebih besar pada pasien geriatri dibanding manfaatnya sehingga identifikasi PIM sangat penting dalam praktek klinis untuk menghindari efek samping yang berbahaya dan meningkatkan kualitas hidup pasien lansia. Kriteria Screening Tool of Older PersonAos Prescriptions (STOPP) versi Indonesia sangat berguna untuk membantu dokter dan apoteker maupun farmasi dalam mengidentifikasi obat diantaranya antihipertensi yang tidak tepat atau berpotensi berbahaya bagi pasien geriatri dengan beberapa kelebihan diantaranya adaptasi konteks lokal, identifikasi obat yang tidak tepat secara komprehensif dalam memberikan rekomendasi sehingga memudahkan serta mendukung individualisasi terapi dalam mencegah overmedikasi dan polifarmasi. Adanya perubahan respon fisiologis pada geriatri sehingga target tekanan darah tidak bisa disamakan dengan pasien yang lain dan harus disesuaikan agar tidak menimbulkan komplikasi atau diharapkan penggunaan obat tetap aman dan efektif. Konsep pendekatan target tekanan darah yaitu terapi yang Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 11 No. Hal. 36-48, 2025 mengedepankan basis individu pasien. Target tekanan darah adalah tolak ukur keberhasilan terapi antihipertensi. ,9Ae. Monitoring ESO pada pasien geriatri merupakan kewajiban farmasis sesuai Permenkes 73/2016 & 26/2020, sebagai bagian dari pelayanan farmasi untuk memastikan terapi yang aman, efektif, dan rasional melalui deteksi, pelaporan dan pencegahan efek samping obat. Beberapa studi menunjukkan bahwa penggunaan obat yang berpotensi tidak tepat (PIM) pada pasien geriatri masih cukup tinggi, terutama pada terapi antihipertensi, yang dapat meningkatkan risiko efek samping serius. Studi WHO dan Riskesdas menunjukkan bahwa proporsi lansia dengan hipertensi yang belum mencapai target tekanan darah masih signifikan, yang menunjukkan perlunya evaluasi lebih lanjut terhadap efektivitas dan kesesuaian pengobatan antihipertensi . Penggunaan antihipertensi yang tidak sesuai pada lansia dapat meningkatkan risiko efek samping obat (ESO), seperti hipotensi ortostatik dan gangguan elektrolit, yang dapat berdampak pada kualitas hidup dan risiko jatuh. Meskipun beberapa data nasional telah tersedia, data terkait penggunaan antihipertensi yang berpotensi tidak tepat menggunakan kriteria STOPP versi Indonesia, pencapaian target tekanan darah, serta kejadian ESO di kalangan pasien geriatri masih terbatas di tingkat daerah, termasuk di wilayah Samarinda. Kondisi ini mendorong peneliti perlunya dilakukan penelitian di wilayah Samarinda untuk mengevaluasi sejauh mana gambaran PIM, target tekanan darah dan kejadian ESO pada pasien geriatri yang menggunakan terapi antihipertensi. pasien yang memenuhi kriteria inklusi maupun eksklusi penelitian. Kriteria inklusi, yaitu berusia Ou60 tahun, memiliki hipertensi baik dengan komplikasi ataupun tidak, memiliki laboratorium penunjang dan catatan keluhan pasien, menjalani perawatan di rawat inap periode Mei sampai Juni 2023. Kriteria eksklusi meliputi pasien yang tidak bersedia diwawancarai dan tidak kooperatif selama proses wawancara. Analisis terhadap peresepan obat yang berpotensi tidak tepat atau potentially inappropriate medication (PIM) dengan STOPP Versi Indonesia. Luaran klinis dianalisis dengan mengevaluasi pencapaian target tekanan darah berdasarkan perbandingan 3 guideline antara lain National Institute for Health and Care Excellence (NICE) tahun 2019. Eighth Joint National Committee (JNC . tahun 2014 dan American College of Cardiology/ American Heart Association (ACC/AHA) Penggunaan tiga pedoman dalam penelitian ini bertujuan untuk memberikan perbandingan komprehensif terhadap target tekanan darah, mengingat belum ada satupun guideline yang secara universal diterapkan di semua negara, termasuk Indonesia. Efek samping obat dianalisis menggunakan Algoritma Naranjo dengan mengacu pada informasi potensi efek samping obat antihipertensi yang tercantum pada Drug Information Handbook (DIH) edisi 30 Tahun 2021 terhadap obat-obat antihipertensi yang diterima pasien selama perawatan obat lainnya secara bersamaan. ,19,. Drug Information Handbook (DIH) sebagai referensi dalam menganalisis efek samping obat dipercaya karena menyediakan informasi komprehensif yang telah dievaluasi secara profesional dan berbasis bukti . vidence base. DIH menampilkan profil efek samping dengan perincian frekuensi kejadian terperinci seperti >10%, 1-10%, atau tanpa persentase. Penggunaan DIH meningkatkan validitas dalam menentukan apakah efek samping disebabkan oleh obat tertentu. Algoritma Naranjo, sebagai metodologi standar internasional, membantu menilai hubungan sebab-akibat antara obat dan efek samping secara objektif dan METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan observasional deskriptif non-eksperimental yang dilakukan di rumah Sakit X Samarinda. Penelitian ini telah mendapatkan ijin ethical clearance dari RSUD Abdoel Wahab Sjahranie Samarinda Dengan No:131/KEPK-AWS/VI/2023. Pengumpulan data secara prospektif melalui pengamatan data rekam medis serta wawancara dengan pasien atau keluarga Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 11 No. Hal. 36-48, 2025 Efek samping obat dievaluasi berdasarkan skor probabilitas dengan kriteria sangat mungkin (>. , besar kemungkinan . , kemungkinan . , dan meragukan . dari obat antihipertensi yang dicurigai. Dalam penelitian ini, kategori usia dibagi menjadi dua kelompok sesuai dengan distribusi data, yaitu 60Ae74 tahun dan 75Ae90 Jumlah pasien berdasarkan usia tidak terdistribusi merata pada dua kategori tersebut, namun menunjukkan bahwa prevalensi hipertensi meningkat seiring usia tapi tidak selalu terdata. Menurut ACC/AHA, 2017 dan data dari Centers for Disease Control and Prevention (CDC), prevalensi hipertensi meningkat secara progresif mulai usia 40 tahun dan mencapai puncak pada usia 60Ae74 tahun, lalu cenderung stagnan atau sedikit menurun diperkirakan bukan karena resikonya menurun, tetapi karena kemungkinan pasien lansia tua lebih jarang mengakses layanan kesehatan secara aktif . HASIL DAN PEMBAHASAN Karakteristik Sampel Penelitian Berdasarkan data yang diperoleh selama penelitian di rawat inap Rumah Sakit X Samarinda dari bulan Mei sampai Juni 2023, terdapat 14 pasien yang memenuhi Data karakteristik pasien dapat dilihat pada (Tabel . di mana kelompok usia yang paling banyak mengalami hipertensi adalah pasien berusia 60Ae74 tahun . ,86%). Tabel 1. Karakteristik Subjek Penelitian No. Karakteristik Subjek Usia . Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Lama Rawat Inap . Penyakit Penyerta Dengan Penyakit Penyerta Tanpa Penyakit Penyerta Peresepan Obat Jumlah (%) Berpotensi Tidak Tepat (%) Efek Samping Obat (%) 13 . Kemungkinan karena adanya beberapa teori tertentu, dikarenakan secara historis berdasarkan studi Systolic Hypertension in the Elderly Program dan Systolic Hypertension in Europe menyatakan bahwa pasien hipertensi kategori lanjut usia tua memilih untuk tidak mengobati penyakitnya karena mereka takut ada efek samping yang tidak diinginkan dan takut tidak efektif dalam menurunkan tekanan darah. Diperkirakan alasan pada rentang usia 75-90 tahun lebih sedikit terdata di rumah sakit x karena mereka kurang berminat ingin berobat ke rumah sakit dan lebih memilih untuk berada di rumah. Teori lain adalah teori akses dan kemauan berobat pada lansia usia lanjut, di mana WHO dan studi oleh Charles et al. menunjukkan bahwa pasien lansia tua (>75 tahu. cenderung menolak perawatan intensif karena merasa tidak ingin memperpanjang hidup melalui intervensi medis yang bersifat invasif . Selain itu kemungkinan adanya gejala hipertensi pada lansia tua yang kurang terlihat . ilent symptom. menjelaskan bahwa pasien >75 tahun sering mengalami gejala hipertensi yang tidak khas atau tidak Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 11 No. Hal. 36-48, 2025 dirasakan secara signifikan, sehingga ketika datang ke fasilitas kesehatan, mereka bisa saja sudah dalam kondisi komplikasi dan langsung memerlukan perawatan di ICU tanpa melalui perawatan umum terlebih dahulu . Proporsi pasien hipertensi rawat inap yang lebih banyak pada laki-laki . ,71%) dibanding perempuan . ,29%). Hal ini sesuai dengan beberapa teori dan temuan epidemiologis dari studi sebelumnya baik dari aspek biologis, perilaku kesehatan maupun akses layanan kesehatan. , dimana laki-laki cenderung memiliki resistensi terhadap insulin yang lebih tinggi, lebih banyak massa otot, dan perbedaan dalam cara tubuh mereka mengelola garam dan cairan, yang dapat berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah. Faktor genetik ini mempengaruhi regulasi pembuluh darah dan bisa membuat laki-laki lebih rentan terhadap hipertensi sejak usia muda. serta laki-laki cenderung memiliki gaya hidup yang meningkatkan risiko hipertensi seperti merokok, konsumsi alkohol lebih tinggi dan pola makan tinggi garam dan lemak, aktivitas fisik lebih rendah pada usia lanjut, serta lebih jarang melakukan pemeriksaan kesehatan rutin. Sedangkan perempuan lebih proaktif dalam memeriksakan kesehatannya dibandingkan laki-laki. Karena itu, mereka mungkin lebih sering terdiagnosis dan diobati lebih awal di layanan primer, sehingga tidak sampai harus dirawat inap. Faktor pengelolaan hipertensi dan stabilitas kondisi pasien tampaknya lebih berpengaruh terhadap lama rawat inap dibandingkan keberadaan penyakit penyerta. Berdasarkan data seluruh pasien dalam penelitian ini memiliki penyakit penyerta, dengan distribusi lama rawat inap sebesar 42,86% selama 1-4 hari dan 57,14% selama 5Ae9 hari. Meskipun demikian, durasi rawat inap tidak menunjukkan perbedaan signifikan antara pasien dengan kondisi penyerta yang berbeda, sehingga menunjukkan bahwa faktor utama yang mempengaruhi durasi rawat inap diperkirakan adalah tingkat keparahan hipertensi, respons terhadap pengobatan, serta adanya komplikasi yang menyertai. Walaupun semua pasien memiliki penyakit penyerta, komplikasi hipertensi yang lebih berat dapat memperpanjang lama rawat Pasien yang mengalami komplikasi akut atau hipertensi resisten terhadap terapi cenderung memerlukan perawatan yang lebih intensif dan berkepanjangan. Di sisi lain, pasien dengan hipertensi yang lebih stabil dapat dipulangkan lebih cepat. Durasi rawat inap juga sangat dipengaruhi oleh efektivitas pengelolaan klinis di rumah sakit, termasuk kecepatan dalam menstabilkan tekanan darah dan menangani komplikasi. Pasien yang memerlukan intervensi lebih lanjut atau menunjukkan respons lambat terhadap pengobatan biasanya membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai stabilisasi. Peresepan Berpotensi Tidak Tepat Menurut kriteria B6 dan B7 kriteria STOPP versi Indonesia, penggunaan diuretik loop seperti furosemide sebagai lini pertama untuk hipertensi atau untuk edema tungkai tanpa bukti klinis gagal jantung, gagal hati, sindrom nefrotik, atau gagal ginjal dianggap tidak tepat jelas. Pasien yang dimaksud memiliki diagnosis Hipertensi Non-ST-Elevation Acute Coronary Syndrome (NSTEMI) Ventilator Associated Pneumonia (VAP) Coronary Artery Disease (CAD) Vertigo. Dalam hal ini tidak menunjukkan adanya indikasi klinis yang jelas untuk penggunaan furosemid, karena tidak ada gagal jantung, overload cairan, atau edema paru dalam diagnosis dan vertigo, jika berhubungan dengan hipotensi atau ketidakseimbangan elektrolit, justru bisa diperburuk oleh furosemid. Meskipun tidak secara eksplisit disebutkan dalam STOPP versi Indonesia, kombinasi dengan Bisoprolol ini dapat meningkatkan risiko hipotensi berlebihan, gangguan elektrolit, gangguan perfusi organ dan aritmia pada pasien lanjut Kombinasi ini berpotensi sebagai PIM jika furosemide diberikan tanpa indikasi yang jelas. Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 11 No. Hal. 36-48, 2025 Tabel 2. PIM Berdasarkan Kriteria STOPP Versi Indonesia Jenis Terapi Berpotensi Tidak Tepat Jumlah (%) Bisoprolol Furosemide 1 . ,14%) Candesartan Clonidine 1 . ,14%) Amlodipine Candesartan Furosemide Spironolactone 1 . ,14%) Keterangan PIM jika furosemide diberikan tanpa indikasi jelas seperti gagal jantung atau PIM karena clonidine tidak direkomendasikan pada lansia. Berpotensi PIM karena kombinasi dua diuretik, risiko ketidakseimbangan elektrolit dan hipotensi. Kriteria B10 STOPP versi Indonesia antihipertensi kerja sentral seperti clonidine sebaiknya dihindari pada lansia kecuali jika kelas antihipertensi lain tidak efektif atau tidak ditoleransi. Berdasarkan algoritma terapi antihipertensi dari NICE 2019. JNC 8 tahun 2014, dan ACC/AHA tahun 2017, clonidine tidak direkomendasikan sebagai bagian dari lini utama baik terapi lini kedua pada alur terapi hipertensi, termasuk pada pasien lansia dengan CKD stadium IV, karena tidak memberikan proteksi ginjal dan memiliki risiko efek samping sentral. Meskipun penggunaannya pada tanggal 1Ae2 Juni tampaknya bersifat sementara sebagai shortacting rescue therapy, hal ini tidak sesuai dengan alur terapi stepwise yang dianjurkan, terutama mengingat tekanan darah pasien kembali tidak terkontrol hari setelahnya dimana mencapai 190/80Ae90 mmHg setelah clonidine dihentikan. Selain itu, dosis candesartan 16 mg dan furosemide belum direkomendasikan, dan belum terdapat tambahan CCB yang secara guideline lebih tepat sebagai alternatif pengganti clonidine sejak awal lonjakan tekanan darah. Oleh karena itu, penggunaan clonidine dalam konteks ini dapat dipertimbangkan sebagai potentially inappropriate medication. ,32,. Kombinasi Diuretik: Kriteria B12 STOP versi INA memperingatkan terhadap penggunaan antagonis aldosteron . eperti spironolacton. bersama dengan obat hemat kalium lainnya karena risiko ketidakseimbangan elektrolit . dan hipotensi. Pada penelitian pasien ini mendapatkan kombinasi furosemid spironolakton biasanya dibenarkan dalam dan sering digunakan pada pasien dengan hipertensi, gagal napas, dan PPOK. Ae Tapi penggunaannya harus hati-hati, karena risiko Potentially Inappropriate Medication terutama pada pasien lansia atau dengan fungsi ginjal menurun. Pemantauan elektrolit wajib, dan pertimbangkan. Efek yang disampaikan pada kriteria STOPP adalah karena risiko hiperkalemia namun meskipun tidak terjadi ada beberapa alasan yang memungkinkan, antara lain: Spironolakton memiliki efek kalium-sparing yang lemah dan lambat masuk dalam kategori dosis renda. serta tidak cukup kuat untuk menahan kehilangan K akibat Pemberian kombinasi khususnya Furosemid di tanggal tersebut diberikan dosis . ategori tingg. dimana pagi telah diberikan oral dan injeksi 1 ampul setiap 8 jam Furosemid 20Ae40 mg IV bisa menyebabkan kehilangan kalium besar lewat urin dalam hitungan jam, sementara spironolakton butuh waktu 2Ae3 hari untuk bekerja optimal atau dengan kata lain ketidakseimbangan rasio dosis dimana furosemid dosis tinggi dan spironolakton dosis rendah yaitu dominan efek kaliuretik . embuangan kaliu. atau Efek kalium-sparing tidak cukup untuk menetralkan furosemide dosis tinggi. Obat Lain yang memperparah hipokalemia yang digunakan oleh pasien Kortikosteroid (Pumicor. Meskipun Kortikosteroid inhalasi memiliki efek sistemik minimal, tapi bisa muncul bila dosis tinggi/kronik dan pasien menerima dosis tinggi. Begitupun pada terapi Pulmicort Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 11 No. Hal. 36-48, 2025 dan Combivent memiliki kontribusi kecil, tapi memperburuk bila digabungkan. Terapi lain ini semua membuat risiko hipokalemia cukup tinggi, apalagi bila tidak ada suplementasi K atau kalium-sparing diuretik yang memadai. 2018 dan 2023 karena memberikan kontrol tekanan darah yang lebih efektif dengan dosis rendah per obat karena memberikan efek sinergis dan efek samping yang minimal terutama pada pasien lansia dengan tekanan darah tinggi yang sulit dikendalikan obat. ,2,. Penggunaan kombinasi juga ditujukan untuk mengatasi resistensi terhadap monoterapi, terutama pada lansia yang mengalami perubahan fisiologis mempengaruhi respons obat sehingga terapi harus diindividualisasikan dengan mempertimbangkan komorbiditas dan tolerabilitas, termasuk kemungkinan penambahan agen lain seperti Furosemide. Spironolactone, atau Clonidine. Pola Peresepan Terapi Antihipertensi Berdasarkan Tabel 2, terapi kombinasi antihipertensi lebih banyak digunakan pada pasien geriatri dibandingkan monoterapi dengan kombinasi Candesartan Amlodipine paling umum . ,71%). Kombinasi antara Calcium Channel Blocker (CCB) dan Angiotensin II Receptor Blocker (ARB) didukung dan sesuai dengan rekomendasi oleh pedoman seperti JNC 8 dan ESC/ESH tahun Tabel 3. Pola Peresepan Terapi Antihipertensi Jenis Terapi Nama Obat Jumlah (%) Monoterapi Amlodipine Candesartan Candesartan Amlodipine Bisoprolol Furosemide Amlodipine Bisoprolol Candesartan Clonidine Amlodipine Candesartan Furosemide Spironolactone Total Terapi Kombinasi Pada kejadian pertama yang tercantum dalam Tabel 6, ditemukan ketidaktepatan peresepan antihipertensi berdasarkan kriteria STOPP Versi Indonesia terjadi pada golongan obat diuretik loop yaitu furosemide sebanyak 2 kejadian. Obat furosemide digunakan sebagai lini pertama edema, tetapi juga bisa digunakan sebagai obat antihipertensi. Obat antihipertensi furosemide ini bekerja di ansa henle bagian asenden pada bagian epitel tebal dimana menghambat elektrolit Na . K dan Cl. Pada 2 orang pasien tersebut tidak mengalami gejala edema. Maka dari itu, obat tersebut kemungkinan digunakan sebagai lini pertama antihipertensi. Menurut kriteria STOPP versi Indonesia, ada pilihan obat alternatif yang lebih aman seperti obat golongan diuretik thiazide. Calcium Channel Blocker. Beta Blocker. Angiotensin Receptor Blocker, dan Angiotensin Converting Enzyme yang dapat digunakan baik dengan cara terapi tunggal maupun kombinasi. Obat golongan diuretik loop seperti furosemide jika digunakan sebagai lini pertama antihipertensi, mampu menyebabkan menurunnya fungsi ginjal dan mengurangi aktivitas dari obat antidiabetik. Pada kejadian yang kedua, terjadi pada 1 orang pasien dimana pasien tersebut diberikan obat antihipertensi clonidine. Berdasarkan kriteria STOPP versi Indonesia, clonidine kurang dapat ditoleransi pada pasien geriatri karena berisiko untuk memicu terjadinya sinkop dan jatuh. Menurut Handler . clonidine kurang dapat ditoleransi pada pasien geriatri karena berisiko memicu . ingsan/kehilangan kesadaran sementar. , rasa kantuk yang parah, bradikardi dan hipotensi . Kejadian peresepan obat yang berpotensi tidak tepat Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 11 No. Hal. 36-48, 2025 dalam pengobatan antihipertensi yang ketiga yaitu terjadi pada obat golongan calcium channel blocker yaitu amlodipine dimana merupakan kejadian yang paling banyak yaitu 6 pasien mengalami kejadian tersebut. Berdasarkan kriteria STOPP versi Indonesia, obat golongan ini tidak boleh diberikan pada pasien yang mengalami hipotensi postural. Hipotensi postural ditandai dengan tekanan darah yang mengalami penurunan sistolik Ou20 mmHg. Obat ini tidak boleh diberikan karena bisa memicu terjadinya sinkop dan jatuh. Menurut penelitian Rahmawati et , obat antihipertensi dapat menyebabkan jatuh melalui kondisi ketika hipotensi postural, pusing, lemas, kelemahan otot, mengantuk, penurunan kewaspadaan, sedasi dan efek samping lainnya. pedoman klinis berbeda yaitu NICE 2019. JNC 8 tahun 2014, dan ACC/AHA 2017 sebagai pembanding target tekanan darah pada pasien geriatri. Pendekatan ini bertujuan untuk memberikan gambaran keberhasilan terapi antihipertensi di rumah sakit, mengingat setiap pedoman memiliki kriteria target tekanan darah yang berbeda berdasarkan populasi, risiko komorbiditas, dan pendekatan terapi yang Pemilihan ketiga pedoman ini juga didasarkan pada prinsip evidence based practice yang menekankan perlunya bukti ilmiah internasional dalam evaluasi NICE lebih sering digunakan di Eropa. JNC 8 masih relevan di banyak negara termasuk Indonesia, dan ACC/AHA merepresentasikan pendekatan terbaru yang lebih ketat dari Amerika Serikat. ,10,44,. Luaran Klinis Pasien Berikut hasil penelitian mengenai luaran klinis yang tercantum dalam Tabel Dalam penelitian ini, digunakan tiga Tabel 4. Gambaran Luaran Klinis (Target Tekanan Dara. Jenis Pedoman <80 Tahun >80 Tahun Ou60 Tahun Ou65 Tahun Luaran Klinis (Target Tekanan Dara. Jumlah Tercapai (%) NICE 2019 <140/90 mmHg <150/90 mmHg JNC 8 2014 <150/90 mmHg ACC/AHA 2017 <130/80 mmHg Berdasarkan Tabel 3, evaluasi pencapaian target tekanan darah pada pasien geriatri menggunakan tiga pedoman klinis menunjukkan hasil yang bervariasi. Menurut NICE 2019, target tekanan darah untuk pasien usia <80 tahun adalah <140/90 mmHg, dan dari total 14 pasien, 9 pasien . ,29%) mencapai target, sedangkan 5 pasien . ,71%) tidak mencapai target. Tidak terdapat pasien berusia >80 tahun dalam studi ini, sehingga kelompok tersebut tidak memiliki data. Sementara itu, menurut JNC 8 . , yang menetapkan target <150/90 mmHg untuk usia Ou60 tahun, sebanyak 10 pasien . ,43%) berhasil mencapai target. Jumlah Tidak Tercapai 5 . dan 4 pasien . ,57%) tidak mencapainya. Sebaliknya, dengan kriteria ACC/ AHA 2017 yang lebih ketat . arget <130/80 mmHg untuk usia Ou65 tahu. , hanya 3 pasien . ,43%) yang memenuhi target tekanan darah, sedangkan 11 pasien . ,57%) tidak mencapai target. Hasil ini menunjukkan bahwa semakin ketat kriteria yang digunakan, semakin rendah tingkat pencapaian target tekanan darah pada pasien geriatri, yang dapat disebabkan oleh faktor usia lanjut, penyakit penyerta, atau efek samping terapi yang menghambat optimalisasi penurunan tekanan darah. Pada pasien lansia pendekatan terapi hipertensi harus Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 11 No. Hal. 36-48, 2025 diindividualisasikan untuk menghindari risiko hipotensi ortostatik, cedera akibat jatuh, dan efek samping obat lainnya. Oleh karena itu, guideline seperti JNC 8 dan NICE cenderung memberikan target tekanan darah yang lebih tinggi dibandingkan ACC/ AHA. Seiring bertambahnya usia, perubahan fisiologis seperti penurunan elastisitas vaskular, penurunan kecepatan metabolisme obat, dan penurunan fungsi ginjal dapat menyebabkan terapi antihipertensi menjadi kurang efektif, terutama jika target tekanan darah terlalu agresif seperti dalam pedoman ACC/AHA. ,33,. Gambaran Kejadian Efek Samping Obat (ESO) Berikut kejadian efek samping obat dan skala yang didapatkan setelah dianalisis menggunakan Algoritma Naranjo yang tercantum pada Tabel 5. Tabel 5. Gambaran Kejadian Efek Samping Obat Kejadian Efek Samping Obat Kelainan fungsi Nyeri perut Jumlah Jumlah Kejadian (%) Nama Obat Skor Naranjo Keterangan 2 . Candesartan Besar Kemungkinan 1 . Furosemide Besar Kemungkinan Berdasarkan Tabel 5, terdapat 3 pasien pasien kejadian ESO yang teridentifikasi selama masa perawatan di rawat inap, dengan total frekuensi 3 dari 14 pasien . ,43%). Jenis ADR yang paling banyak terjadi adalah gangguan fungsi ginjal sebanyak 2 kasus . ,29%) yang dikaitkan dengan penggunaan Candesartan, dengan skor Naranjo sebesar 8, menunjukkan bahwa kejadian tersebut memiliki hubungan yang besar kemungkinan dengan obat tersebut. Selain itu, 1 pasien . ,14%) mengalami nyeri penggunaan Furosemide, dengan skor Naranjo 6, yang juga dikategorikan sebagai hubungan probable. Kejadian ini menunjukkan pentingnya pemantauan efek samping pada pasien geriatri, mengingat populasi ini memiliki kerentanan fisiologis terhadap reaksi obat akibat perubahan farmakokinetik dan farmakodinamik yang terjadi seiring bertambahnya usia. Terdapat 2 pasien mengalami adverse drug reaction berupa gangguan fungsi ginjal dengan skor Naranjo 8, ditandai peningkatan serum kreatinin setelah pemberian Candesartan. Tidak ada antihipertensi lain dalam regimen terapi yang berpotensi menyebabkan kondisi terse Hasil ini juga menegaskan perlunya evaluasi berkala terhadap regimen terapi, terutama untuk golongan obat antihipertensi yang berisiko menyebabkan nefrotoksisitas dan gangguan elektrolit pada lansia, seperti ARB (Candesarta. dan diuretik (Furosemid. Lansia mengalami penurunan fungsi ginjal dan hati yang menyebabkan perubahan eliminasi obat dan peningkatan risiko ADR. Obat seperti ARB dan diuretik sangat rentan menyebabkan efek samping pada sistem ginjal dan gastrointestinal. Skor Naranjo digunakan secara luas untuk menentukan hubungan kausal antara obat dan kejadian ADR. Skor antara 5-8 dikategorikan sebagai AuprobableAy atau besar kemungkinan, yang mendukung evaluasi klinis dalam penentuan etiologi ADR, sehingga Candesartan diduga sebagai penyebab utama. Studi menunjukkan bahwa pasien geriatri memiliki risiko 2-3 kali lipat lebih tinggi untuk mengalami ADR dibanding populasi dewasa muda, terutama akibat penggunaan multi obat . dan penurunan cadangan fisiologis . Seluruh hasil identifikasi peresepan obat berpotensi tidak tepat, target luaran klinis berupa tekanan darah dan potensi kejadian ESO dalam penelitian ini telah divalidasi oleh apoteker yang memiliki kompetensi di bidang farmasi klinik serta oleh penulis utama sebagai Jurnal Ilmiah Manuntung: Sains Farmasi Dan Kesehatan p-ISSN. 2442-115X. e-ISSN. Vol. 11 No. Hal. 36-48, 2025 DAFTAR PUSTAKA