Intek Akuakultur. Volume 7. Nomor 1. Tahun 2023. E-ISSN 2579-6291. Halaman 82-91 Laju Pertumbuhan Ikan Kakap Putih (Lates calcalife. yang Diberi Jenis Pakan yang Berbeda Rika Fatmala Putri1*. Muzahar1. Dwi Septiani Putri1 Jurusan Budidaya Perairan. Fakultas Ilmu Kelautan dan Perikanan. Universitas Maritim Raja Ali Haji Naskah diterima : 25 November 2022. Disetujui Publikasi : 12 Juni 2023 INFO NASKAH Kata Kunci: Ikan Kakap Putih. Lates calcalifer. Pertumbuhan ABSTRAK Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui pertumbuhan terbaik ikan kakap putih yang diberikan pakan dari jenis yang berbeda. Penelitian ini berlokasi di kelompok Maju Jaya Desa Penaga. Kecamatan Teluk Bintan. Kabupaten Bintan. Penelitian pada bulan Mei sampai Juli 2022. Menggunakan RAL dengan 4 perlakuan dan tiap perlakuan diulang sebanyak 3 kali. Masing-masing perlakuan yaitu : perlakuan A . enggunaan pelet 7% dari total biomass. , perlakuan B . enggunaan pelet 3,5% ikan tamban 3,5% dari total biomass. , perlakuan C . enggunaan ikan tamban 2,8% pelet 4,2% dari total biomass. , dan perlakuan D . enggunaan ikan tamban 7% dari total biomass. Penelitian ini menghasilkan penggunaan ikan tamban 7% dari total biomassa berpengaruh nyata terhadap parameter pertumbuhan bobot, panjang mutlak dan spesifik harian dengan nilai 35,14 g, 4,02 cm, dan 0,59 g. Perlakuan D juga memberikan SR . FCR dan nilai EP yaitu 97,78 %, 3,38, dan 29,80 %. Kualitas air selama penelitian digolongkan layak berdasarkan SNI . uhu 30,6 AC, salinitas 25,3 ppm, pH 7,6, dan DO 6,5 Gedung FIKP Lt. II Jl. Politeknik Senggarang, 29115. Tanjungpinang. Telp : 1-8041766, Fax. *Email: 180254243020@student. Growth Rate of White Snapper (Lates calcalife. Given Different Types of Feed Rika Fatmala Putri1*. Muzahar1. Dwi Septiani Putri1 Department of Aquaculture. Faculty of Marine Science and Fisheries. Raja Ali Haji Maritime University ARTICLE INFO ABSTRACT Keywords The purpose of this study was to determine the best growth of white snapper given feed of different types. This research is located in Maju Jaya group. Penaga Village. Teluk Bintan District. Bintan Regency. Research in May to July 2022. Using RAL with 4 treatments and each treatment was repeated 3 times. Each treatment is: treatment A . he use of pellets 7% of total biomas. , treatment B . he use of pellets 3. 5% tamban fish 3. 5% of total biomas. , treatment C . he use of tamban fish 2. 8% pellets 4. 2% of total biomas. , and treatment D . he use of tamban fish 7% of total biomas. This study resulted in the use of tamban fish 7% of the total biomass significantly influenced the growth parameters of weight, absolute length and daily specific with values of 35. 14 g, 4. 02 cm, and 0. 59 g. Treatment D also gave SR. FCR, and EP with values 97. 78%, 3. Water quality during the study was classified as suitable based on SNI . 6 AC, salinity 25. 3 ppm, pH 7. 6, and DO 6. 5 pp. Growth. Lates calcalifer. White Snapper Gedung FIKP Lt. II Jl. Politeknik Senggarang, 29115. Tanjungpinang. Telp : 1-8041766, Fax. *Email 180254243020@student. PENDAHULUAN Intek Akuakultur. Volume 7. Nomor 1. Tahun 2023. E-ISSN 2579-6291. Halaman 82-91 Ikan kakap putih (Lates calcalife. merupakan ikan primadona baik dalam negeri maupun luar negeri. Produksi budidaya terbaik di Indonesia satu diantraranya yaitu ikan kakap putih (Aslamiah et al. , 2. Diketahui ikan ini dijual dengan nilai pasar 75. 000 rupiah per kg (Kusumanti et al. , 2. Menurut Aslamiah et al. , . , ikan kakap putih dengan pertumbuhan cenderung cepat, pemeliharaan yang mudah dan beradaptasi baik dengan lingkungan menjadikan budidaya ikan ini bersifat komersil sehingga ikan kakap putih banyak diminati Jenis pakan yang digunakan merupakan bagian dari manajemen pemberian Manajemen pemberian pakan berperan dalam keberhasilan kegiatan Terdapat 3 golongan dari jenis pakan dalam kegiatan budidaya yaitu, pakan alami, buatan dan berupa potongan ikan segar. Menurut Rihi . , pengertian dari pakan pelet . yaitu pakan yang sengaja dibuat, diformulasi dan dibentuk untuk menarik minat ikan pada pakan. Keunggulan penggunaan pakan buatan . yaitu tidak bergantung pada musim sehingga stock pakan selalu ada. Kelemahan dari pakan buatan, biaya yang relatif mahal dan dari segi lingkungan, mampu menurunkan nilai kualitas air apabila terdapat sisa pakan atau pakan terbuang sehingga berpengaruh pada pertumbuhan ikan (Yanuar, 2. Ikan rucah merupakan pakan yang diminati ikan kakap putih, karena pakan ini merupakan ikan segar dan sesuai dengan sifat karnivora ikan kakap putih. Kendala pada penggunaan ikan rucah yaitu tergantung dengan musim sehingga stock pakan menjadi terbatas. Dari segi ekonomi, ikan rucah dinilai lebih murah dibandingkan pakan buatan. Kualitas pakan juga mempengaruhi pertumbuhan pada ikan budidaya. Setiap jenis ikan memiliki jumlah dan kandungan nutrisi yang berbeda. Pada pakan harus terkandung nutrisi dari tiga jenis makro nutrien yang dibutuhkan ikan yaitu protein, karbohidrat dan lipid (Vera dan Sri, 2. Asam amino esensial . berperan sebagai sumber energi dan memberikan pertumbuhan optimum pada ikan (Usman et al. , 2. Jenis pakan yang berbeda, maka berbeda pula protein yang terkandung didalamnya. Nilai protein optimal antara 25-50% untuk pertumbuhan ikan, serta pada fase pembesaran membutuhkan kandungan protein antara 45-50% (Tacon,1995. Putri et al. , 2. Menurut Syah et al. , . sebesar 40,68% nilai protein ditemukan pada ikan tamban dan menurut (Utomo et al. , 2. mengandung protein kasar sebesar 58,97%. Berdasarkan hal itu, nilai protein sebesar 48% pada pelet megami GR-5 dapat dikategorikan mendekati nilai protein pada ikan tamban. Penelitian yang telah dilakukan pada ikan kerapu macan yang diberikan penggunaan jenis pakan yang berbeda berhasil dilakukan. Hasil penelitian menghasilkan pertumbuhan mutlak sebesar 173,97 g, yang berasal pada perlakuan penggunaan pakan ikan rucah dan pelet dengan FR senilai 5% dari total biomassa (Prihadi, 2. Pencampuran sumber protein baik dua atau lebih, dapat memberikan pengaruh yang lebih baik dalam pertumbuhan pada ikan budidaya jika dibandingkan penggunaan satu sumber protein (Lazaren et al. , 2018. Lisandari et , 2. Permasalahan yang muncul berasal dari harga pakan relatif tinggi. Dari segi biaya, harga pakan pelet dan pakan yang bersumber dari ikan tamban Intek Akuakultur. Volume 7. Nomor 1. Tahun 2023. E-ISSN 2579-6291. Halaman 82-91 memiliki harga relatif jauh berbeda. Penelitian perbandingan penggunaan jenis pakan, antara penggunaan pakan pelet komersial, pakan ikan tamban maupun gabungan keduanya belum diujikan pada ikan kakap putih. Oleh karena itu, perlu diuji lebih lanjut terkait "Pengaruh Pemberian Jenis Pakan yang Berbeda terhadap Laju Pertumbuhan Ikan Kakap Putih (Lates calcalife. BAHAN DAN METODE Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Mei-Juli 2022 di Keramba Jaring Apung milik kelompok Maju Jaya Desa Penaga. Kabupaten Bintan Kepulauan Riau. Wadah yang digunakan berupa waring sejumlah 12 buah yang berukuran 0,5 m x 0,5 m x 1 m. Benih ikan kakap putih yang digunakan sebanyak 180 ekor dengan ukuran padat tebar 10-12 cm. Ikan uji diberikan makan berupa ikan tamban dan pakan buatan . sesuai dengan perlakuan masing-masing. Perlakuan sebelumnya telah dilakukan oleh Prihadi . pada ikan kerapu macan (Ephinephelus foscoguttatu. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental dengan rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri dari empat perlakuan dan tiga ulangan. Perlakuan yang akan diberikan sebagai berikut : Perlakuan A : Penggunaan pelet 7% dari total biomassa Perlakuan B : Penggunaan ikan tamban 2,8% pelet 4,2% dari total biomassa Perlakuan C : Penggunaan pelet 3,5% ikan tamban 3,5% dari total biomassa Perlakuan D : Penggunaan ikan tamban 7% dari total biomassa Persiapan Wadah Penelitian Media pemeliharaan yang dipakai untuk penelitian berupa waring dengan jumlah 12 unit dengan ukuran 0,5m x 0,5m x 1m, yang diberi pemberat berupa pipa PVC yang membentuk persegi empat. Petakan waring diikatkan dalam keramba jaring apung (KJA) untuk pengamanan agar biota uji tidak lepas. Persiapan Ikan Uji Benih ikan kakap putih yang dipakai berkisar 10A2 cm sejumlah 180 ekor. Padat tebar yang diterapkan adalah 15 ekor ikan per waring. Ikan uji sebelum diberi perlakuan diaklimatisasi di dalam wadah pemeliharaan selama 1 hari dan dilakukan pembiasaan makan dengan pemberian makan rucah dan pelet selama 6 hari dan dipuasakan. Setelah itu diberi makan sesuai dengan perlakuan masingmasing. Persiapan Pakan Uji Pakan uji yang digunakan terdiri atas : . pakan buatan . komersial merk megami, dan . ikan tamban. Ikan tamban yang akan diberikan terlebih dahulu dipotong-potong disesuaikan dengan bukaan mulut ikan uji. Banyaknya ikan rucah yang dipotong disesuaikan untuk stok makan ikan selama dua hari yang akan disimpan ke dalam freezer agar tidak rusak. Pemeliharaan Ikan Uji Pemeliharaan ikan akan dilaksanakan selama 60 hari. Ikan uji selama pemeliharaan diberi pakan menggunakan metode feeding rate sebesar 7% dari total biomassa, dengan pemberian pakan dua kali sehari yaitu pada pagi hari pukul 00 WIB dan sore hari pukul 16. 00 WIB selama pemeliharaan. Pengambilan Data Ikan Uji Pengambilan data ikan uji dilakukan setiap lima belas hari sekali. Data yang diambil dalam data pertumbuhan adalah pertumbuhan bobot mutlak dan Intek Akuakultur. Volume 7. Nomor 1. Tahun 2023. E-ISSN 2579-6291. Halaman 82-91 pertumbuhan panjang mutlak serta data kualitas air. Data yang diperoleh dicatat ke dalam log book harian. Parameter Penelitian Parameter penelitian yang diamati berupa pertumbuhan bobot mutlak, pertumbuhan panjang mutlak, food convertion ratio (FCR), kelangsungan hidup, laju pertumbuhan harian, efisiensi pemanfaatan pakan dan kualitas air. Bobot Mutlak Bobot mutlak adalah pertambahan bobot rata-rata kakap putih selama penelitian Effendi . yang dinyatakan dalam rumus : Wm= ycyei Oe ycyea Keterangan : : Pertumbuhan berat mutlak . : Bobot rata-rata akhir . : Bobot rata-rata awal . Panjang Mutlak Perbedaan dari panjang rata-rata akhir dengan panjang rata-rata awal merupakan pengertian pertumbuhan panjang mutlak Nurmasyitah et al. yang dinyatakan dalam rumus : yc =Lt-Lo Keterangan : : Pertambahan panjang mutlak . : Rata-rata panjang ikan pada akhir penelitian . Lo : Rata-rata panjang ikan pada awal penelitian . Tingkat Kelangsungan Hidup (SR) Membandingkan jumlah ikan yang hidup pada akhir dan pada awal pemeliharaan adalah cara menghitung tingkat kelangsungan hidup selama penelitian, rumus perhitungan menurut (Muchlisin et al. , 2. sebagai berikut : yaeyac = ycAyei yeo yayaya% ycAyea Keterangan : SR : Kelangsungan hidup (%) Nt : Jumlah ikan pada akhir penelitian . No : Jumlah ikan pada awal penelitian . HASIL Bobot Mutlak Nilai pertumbuhan bobot mutlak ikan kakap putih hasil penelitian ditampilkan pada Gambar 1. 40,00 35,14 1,81 Pertumbuhan Bobot Mutlak . 35,00 26,65 0,64 AN 30,00 25,00 20,00 15,00 10,00 5,00 17,94 5,59 22,04 2,38 AN Intek Akuakultur. Volume 7. Nomor 1. Tahun 2023. E-ISSN 2579-6291. Halaman 82-91 Gambar 1. Pertumbuhan bobot mutlak ikan kakap putih . eterangan : A: penggunaan pelet 7 % dari total biomassa. B: penggunaan pelet 4,2 % ikan tamban 2,8 % dari total biomassa. C : penggunaan 3,5 % ikan tamban pelet 3,5 % dari total biomassa. D : penggunaan ikan tamban 7% dari total biomassa ). Gambar 1 menunjukkan nilai pertumbuhan bobot mutlak ikan kakap putih yang terbaik selama penelitian adalah pada perlakuan D . ,14A1,81 . diikuti perlakuan C . ,65A 0,64 . selanjutnya perlakuan B . ,04A 2,38 . dan perlakuan A . ,94A 5,59 . Pertumbuhan bobot mutlak ikan kakap putih setelah dilakukan uji sidik ragam menunjukan hasil terdapat perbedaan nyata pada setiap perlakuan . <0,. Perlakuan D berbeda nyata dengan perlakuan A. B, dan C dan perlakuan A berbeda dengan perlakuan B tetapi keduanya (A dan B) tidak berbeda nyata dengan perlakuan C, setelah dilakukan hasil uji Duncan. Panjang Mutlak Nilai pertumbuhan panjang mutlak ikan kakap putih hasil penelitian disajikan pada Gambar 2. Pertumbuhan Panjang Mutlak . 4,02 0,81 AN 0,70 2,08 2,16 0,75 AN 2,72 0,42 Perlakuan Gambar 2. Pertumbuhan panjang mutlak ikan kakap putih . eterangan : A: penggunaan pelet 7% dari total biomassa. B: penggunaan pelet 4,2% ikan tamban 2,8% dari total biomassa. C: penggunaan ikan tamban 3,5% pelet 3,5% rucah. D: penggunaan ikan tamban 7% dari total Gambar 2 menunjukkan nilai pertumbuhan panjang mutlak ikan kakap putih selama penelitian yang terbaik pada perlakuan D . ,02A0,81 c. , diikuti Intek Akuakultur. Volume 7. Nomor 1. Tahun 2023. E-ISSN 2579-6291. Halaman 82-91 perlakuan C . ,72A0,42 c. , perlakuan B . ,16A0,75 c. , dan perlakuan A . ,08A0,70 c. Hasil uji statistik anova menunjukkan hasil berbeda nyata dengan setiap perlakuan . <0,. Hasil uji Duncan menunjukkan bahwa perlakuan D berbeda dengan perlakuan A dan C, tetapi tidak berbeda nyata dengan perlakuan Tingkat Kelangsungan Hidup (SR) Nilai tingkat kelangsungan hidup ikan kakap putih hasil penelitian disajikan pada Gambar 3. 97,78 3,85 93,33 6,67 97,78 3,85 97,78 3,85 Tingkat Kelangsuangn Hidup (%) Perlakuan Gambar 3. Tingkat kelangsungan hidup ikan kakap putih . eterangan : A: penggunaan pelet 7% dari total biomassa. B: penggunaan pelet 4,2% ikan tamban 2,8% dari total biomassa. C: penggunaan ikan tamban 3,5% pelet 3,5% dari total biomassa. D: penggunaan ikan tamban 7% dari total biomass. Gambar 3 menunjukkan bahwa nilai tingkat kelangsungan hidup ikan kakap putih yang terbaik ada pada ketiga perlakuan yaitu perlakuan D. C dan A dengan nilai rata-ratanya . ,78A3,. dan yang terendah perlakuan B . ,33A6,. Hasil uji statistik anova menunjukkan hasil tidak terdapat perbedaan nyata pada setiap perlakuan . >0,. PEMBAHASAN Pertumbuhan bobot ikan uji selama penelitian menunjukkan hasil terbaik pada perlakuan D . engunaan ikan tamban 7% dari total biomass. dengan nilai Intek Akuakultur. Volume 7. Nomor 1. Tahun 2023. E-ISSN 2579-6291. Halaman 82-91 35,14A1,81 g. Perlakuan D berbeda nyata dengan perlakuan A. B dan C pada parameter pertumbuhan bobot mutlak. Perbedaan hasil yang diperoleh dari setiap perlakuan disebabkan karena kebiasaan makan ikan kakap putih yang biasa memakan ikan rucah jenis tamban segar dan menyebabkan hasil lainnya kurang optimal selama penelitian. Terlihat hasil pada perlakuan A . enggunaan pakan pelet 7% dari total biomass. menunjukkan hasil yang terendah selama penelitian. Hal ini disebabkan karena biota ikan uji tidak terbiasa memakan pakan buatan . , sehingga dibutuhkan waktu lebih lama agar biota uji lebih terbiasa dengan pakan tersebut. Ariyanto . menjelaskan, setiap spesies ikan berbeda maka berbeda pula kebiasaan makanannya. Hal ini didasarkan pada usia, musim, lingkungan asal, ukuran ikan, dan jenis makanan yang dimakan. Selain itu, ada dua faktor yang menyebabkan pertumbuhan bobot berbeda selama penelitian yaitu faktor dari dalam dan luar. Menurut Windarto et al. keturunan, sex, usia, parasit dan penyakit merupakan faktor dalam. Sedangkan, jumlah, besar kecilnya pakan dan kualitas air termasuk dalam faktor Oleh karena itu, pengunaan ikan tamban 7% dari total biomassa menghasilkan pertumbuhan bobot yang terbaik dibandingkan perlakuan yang Ikan kakap putih sudah terbiasa dengan aroma dan bentuk dari ikan rucah sendiri sebagai makanannya sehingga pemberian kombinasi pakan pelet dan rucah ataupun pelet seluruhnya menunjukkan hasil yang kurang optimal. Oleh karena itu, pembiasaan lebih lama untuk ikan kakap putih dapat mengenal makanan barunya yaitu pelet komersial ataupun pakan kombinasi diperlukan. Kebutuhan protein ikan kakap putih harus diperhatikan untuk menunjang pertumbuhan yang optimum dan sebagai sumber energi. Nilai protein yang dibutuhkan ikan kakap putih pada masa pembesaran 45-50% menurut Tacon . dalam Putri et al. , . Kandungan protein pada pakan yang akan diberikan untuk ikan kakap putih juga harus diperhatikan. Pada pakan pelet dengan merk dagang megami GR-5 kandungan proteinnya 48% dan pada ikan tamban kandungan protein kasar 58,97% (Utomo et al. , 2. Hal ini menunjukkan bahwa ikan tamban lebih tinggi kandungan proteinnya dibandingkan pakan pelet megami GR-5. Pertumbuhan panjang ikan kakap putih selama penelitian diperoleh hasil yang terbaik yaitu pada perlakuan D . engunaan ikan tamban 7% dari total biomass. dengan nilai . ,02A0,81 c. Hal ini juga sejalan dengan pertumbuhan bobot yang meningkat. Pertumbuhan panjang pada ikan merupakan salah satu indikator apakah ikan yang dipelihara mengalami pertumbuhan atau tidak. Hal ini dapat terlihat dari selisih pertumbuhan pada saat awal penelitian dan akhir Perlakuan A. B, dan D menunjukan nilai yang tertinggi pada parameter tingkat kelangsungan hidup dengan rata-rata nilai . ,78A3,85%) dan terendah pada perlakuan C dengan nilai . ,33A6,67%). Nilai kelangsungan hidup pada ikan kerapu cantang yaitu 97,27% merupakan penelitian yang telah dilakukan oleh (Prihadi, 2. (Salampessy dan Irawati, 2. menjelaskan bahwa nilai kelangsungan hidup ikan yang baik berkisar antara 73,5-86,0%. Sehingga dapat dikatakan nilai kelangsungan hidup pada penelitian ini baik. Faktor seperti cuaca yang tidak menentu, kualitas air, padat tebar ikan dan kualitas pakan dapat mempengaruhi nilai tingkat kelangsungan hidup ikan selama pemeliharaan. Intek Akuakultur. Volume 7. Nomor 1. Tahun 2023. E-ISSN 2579-6291. Halaman 82-91 Kualitas air, sistem budidaya dan lokasi adalah faktor yang dapat mempengaruhi nilai kelangsungan hidup (Kadarini et al. , 2. Faktor yang mempengaruhi tingkat kelangsungan hidup ikan ada dua yaitu faktor abiotik dan biotik, faktor abiotik adalah kesiapan makanan dan kualitas media hidup ikan dan faktor biotik meliputi umur ikan dan adaptasi ikan dilingkungan tempat hidupnya. KESIMPULAN Perlakuan D . engunaan ikan tamban 7% dari total biomass. memberikan pengaruh signifikan terhadap pertumbuhan ikan kakap putih. Perlakuan D memberikan nilai yang terbaik berturut pada setiap parameter pertumbuhan bobot mutlak, pertumbuhan panjang mutlak dan pertumbuhan harian yakni: 35,14 g, 4,02 cm, dan 0,59 g. DAFTAR PUSTAKA