DESAIN Model Prakarya dan Kewirausahaan Berbasis Ekonomi Kreatif Berdimensi Industri Keunggulan Lokal Sukardi Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Mataram e-mail: kardi_unram@yahoo. Abstrak: Penelitian bertujuan untuk menghasilkan model pendidikan prakarya dan kewirausahaan berbasis ekonomi kreatif berdimensi industri keunggulan lokal yang efektif bagi lulusan SMA berjiwa Penelitian menggunakan prosedur research and development yang dipadukan dengan prinsip desain konstruktivistik dengan tahapan: studi pendahuluan, pengembangan produk awal, dan uji produk awal melalui uji validasi ahli dan praktisi. uji terbatas secara bersiklus, uji produk akhir melalui quasi eksperimen, dan desiminasi serta implementasi. Hasil penelitian tahap pertama adalah sebagai berikut. Industri kerajinan lokal dan pemasarannya menjadi prioritas substansi prakarya dan kewirausahaan dengan menggunakan pembelajaran konstruktivisme social. Desain model terdiri atas tiga komponen, yaitu tujuan . ujuan mata pelajaran, kompetensi dasar, dan indikato. , prosedur pembelajaran . engorganisasian dan penyampaian materi serta pengelolaan pembelajara. , dan penilaian. Desain model menghasilkan produk yang berupa: rumusan kompetensi dasar, silabus, buku ajar, panduan pembelajaran, media, rencana pelaksanaan pembelajaran, dan perangkat penilaian. Hasil uji produk awal menunjukkan bahwa secara keseluruhan rancangan model dan produk yang dihasilkan pada kategori sangat baik. Kata Kunci: desain model, prakarya dan kewirausahaan, ekonomi kreatif MODEl Design OF Prakarya and entrepreneurship With creative economy based and local QUality of Industry dimension Abstract: This study aims to produce education model of prakarya and entrepreneurship with creative economy based and local quality of industry dimension to the graduated students of Senior High School who have entrepreneur passion. This study used research and development procedure with constructivism design which included the introduction study, initial product development, and initial product test through expert and practitioner validity. limited test in cycle, final product test through quasi experiment, dissemination, and implementation. The first result of the study is as follow. Local handicraft industry and its marketing became the substantial priority of prakarya and entrepreneurship by using social constructivism learning. The model design consists of three components, such as objective . earning objective, basic competency, and indicato. , learning procedure . aterial organization, material delivery and learning managemen. , and evaluation. Model design produce a product which include basic competency formula, syllabus, handout, learning guide, media, lesson plan, and evaluation. The result of the initial product showed that all of produced model plan and product is categorized into good. Keywords: model design, prakarya and entrepreneurship, creative economy Pendahuluan Sebagian besar ahli kewirausahaan sepakat bahwa kompetensi wirausaha berupa kemampuan berpikir kreatif dan bertindak inovatif menjadi muara utama pendidikan kewirausahaan (Wennekers & Thurik, 1999. Zimmerer dkk. , 2008:. Muara ini juga sejalan dengan gelombang perada- ban ekonomi kreatif yang menempatkan kreativitas manusia sebagai faktor produksi utama dalam kegiatan ekonomi (Howkins, 2001. Florida, 2002. Rautkorpi, 2007. Pang, 2009. Macdonald, 2. Howkins . misalnya menyebutkan ekonomi kreatif sebagai Auan economy in which ideas, not land or capital, are the most important factors of productionAy. Kedua teori ini sangat relevan dengan tuntutan Kurikulum 2013, khususnya pada mata pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan Sekolah Menengah Atas (SMA) yang menekankan pada tercapainya lulusan yang produktif, kreatif, dan inovatif (Kemdikbud, 2. Prakarya dan Kewirausahaan sendiri merupakan mata pelajaran yang Aumengembangkan pengetahuan dan melatih keterampilan kecakapan hidup berbasis seni, teknologi, dan ekonomiAy (Kemdikbud. Lebih lanjut disebutkan bahwa salah satu tujuan mata pelajaran ini adalah Aumenumbuhkembangkan jiwa wirausaha melalui melatih dan mengelola penciptaan karya . , mengemas, dan usaha menjual berdasarkan prinsip ekonomis, ekosistemik dan ergonomisAy (Kemdikbud, 2. Namun demikian, permasalahan yang terkuak berdasarkan hasil-hasil penelitian terdahulu dan menjadi fokus penelitian ini adalah sebagai Pertama, kecenderungan lulusan SMA yang kurang mampu menciptakan lapangan kerja (Wildan dkk, 2. terindikasi pada 9. lulusan SMA menjadi pengangguran, belum termasuk setengah menganggur (BPS, 2013. Fakta lain yang terkait adalah hanya sekitar 25% yang melanjutkan studi ke Perguruan Tinggi (Dinas Dikpora NTB, 2. , terindikasi pada pencapaian Angka Partisipasi Kasar Perguruan Tinggi (APK PT) yang baru menyentuh angka 18,53% (BPS, 2013. Kedua, pendidikan kewirausahaan yang dikembangkan cenderung teoritis dan tidak bersentuhan/relevan dengan permasalahan sosial tersebut (Sukardi dkk, 2. , tidak terkait dengan kebutuhan dan potensi industri keunggulan lokal sekitar siswa, padahal potensi tersebut sangat memadai (Sukardi dkk, 2012. Wildan dkk, 2011. Sulaimi dkk, 2. Keunggulan lokal sendiri merupakan Ausegala hal yang menjadi ciri khas kedaerahan pada semua aspekAy (Supeno, 2. yang menurut Dediwitagama (Direktorat Pembinaan SMA, 2007. berbentuk Auhasil bumi, kreasi seni, tradisi, budaya, pelayanan, jasa, sumber daya alam, sumber daya manusia atau lainnya yang menjadi keunggulan suatu daerahAy. Ketiga, peluang pembentukan kemampuan berpikir kreatif dan bertindak inovatif melalui pendidikan Prakarya dan Kewirausahaan juga belum sesuai dengan harapan Kurikulum 2013 (Sukardi, 2. , karena guru belum memiliki acuan dalam membelajarkan mata pelajaran tersebut. Keempat, penelahaan terhadap hasil-hasil penelitian tentang pendidikan kewirausahaan juga menunjukkan temuan yang kurang konsisten. Di satu sisi berdampak positif terhadap sikap kewirausahaan (Packham dkk. , 2010. Sowmya dkk, 2. , namun disisi lain belum mampu membentuk kompetensi wirausaha (Cheng dkk, 2. Ketidakkonsistenan hasil-hasil tersebut disinyalir karena adanya perbedaan konten, strategi, media, dan lainnya. Kelima, terhadap permasalahan tersebut, maka diperlukan konstruksi pendidikan kewirausahaan sesuai dengan konteks ke Indonesiaan. Dalam konteks tersebut, maka pemikiran teori rekonstruksi sosial sangat relevan, karena menempatkan pendidikan yang terintegrasi dengan lingkungan, pemecahan permasalahan sosial, serta substansinya digali dari potensi sekitar siswa. Teori ini juga menempatkan realitas sebagai konstruksi sosial yang diciptakan oleh individu terhadap dunia sosial di sekelilingnya. Dalam konteks pembelajaran, teori ini menempatkan proses pembelajaran sebagai proses bersama, interaksi, dan kerjasama (McNeil, 2006:. Hasil kajian terdahulu menemukan bahwa pembelajaran kewirausahaan yang menekankan pada interaksi sosial berhubungan positif dengan keinginan berwirausaha siswa (Man & Yu, 2007. Jha, 2. Berdasarkan temuan-temuan dan sandaran teoritis tersebut, kajian ini menjadi penting untuk menggagas inovasi pengembangan Prakarya dan Kewirausahaan berbasis ekonomi kreatif berdimensi industri keunggulan lokal dengan bersandarkan pada teori rekonstruksi sosial sebagai upaya membentuk lulusan berjiwa wirusaha, khususnya kemampuan berfikir kreatif dan bertindak inovatif dalam menciptakan produk/jasa. Inovasi ini juga dilakukan untuk mempertegas status penelitian sebelumnya (Sukardi dkk, 2. melalui konstruksi pendidikan kewirausahaan dalam konteks ke Indonesiaan. Oleh karenanya, tujuan penelitian tahap pertama ini, yaitu: . memperoleh design model pendidikan Prakarya dan Kewirausahaan berbasis ekonomi kreatif berdimensi industri keunggulan lokal jenjang SMA. Komponennya diadaptasi dari variabel pembelajaran menurut Reigeluth dan Meriill Desain Model Prakarya dan Kewirausahaan Berbasis Ekonomi Kreatif Berdimensi Industri Keunggulan Lokal . 8:1. , meliputi aspek tujuan, prosedur pembelajaran, dan penilaian. memperoleh prototipe produk model pendidikan, berupa rumusan/ penajaman kompetensi dasar (KD), silabus, buku ajar, buku panduan pembelajaran, media, rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), dan perangkat METODE Penelitian ini menggunakan model penelitian dan pengembangan . esearch and developmen. yang mengacu pada Borg dan Gall . Dalam pelaksanaannya, langkah-langkah model ini dimodifikasi dan dikombinasikan dengan prinsip-prinsip design berorientasi konstruktivistik (Willis, 2. Paling tidak ada beberapa tahapan utama dalam kajian ini, yaitu: . tahap awal, berupa studi pendahuluan, pengembangan produk awal, uji produk awal melalui uji ahli dan dan . tahap kedua, berupa uji produk awal melalui uji terbatas, uji lapangan melalui uji quasi eksperimen, desiminasi dan implementasi . ivisualisasikan dalam Gambar . Studi pendahuluan dilakukan menggunakan metode fishbone diagram sebagaimana disarankan Kaoru Ishikawa (Tambupolon, 2001:. yang meliputi aspek orang, bahan, prosedur, peralatan, dan lingkungan. Subjek yang diwawancarai adalah guru Prakarya dan Kewirausahaan, kepala sekolah, wakil bidang kurikulum yang ditentukan secara cluster sampling. Dari lima Kabupaten/ Kota di Pulau Lombok, ditetapkan Kota Mataram mewakili industri kerajinan perhiasan emas/perak/ mutiara dan Kabupaten Lombok Barat mewakili industri kerajinan kain batik khas lokal. Selain itu, juga diwawancarai komite sekolah, dewan pendidikan, tim pengembang kurikulum Dinas Pendidikan setempat, dan kelompok pengusaha keterampilan/kerajinan lokal atau dunia usaha (DU)/dunia kerja (DK) sebagai informan yang ditentukan secara purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner, panduan Focus Group Discussion (FGD), wawancara, dan kajian dokumen. Instrumennya berupa kuesioner yang disusun dalam bentuk semantic differential, panduan FGD, panduan wawancara untuk memperoleh data atau fakta tentang permasalahan. Cakrawala Pendidikan. Februari 2016. Th. No. kebutuhan, dan daya dukung sekolah terkait Prakarya dan Kewirausahaan. Kajian dokumen dilakukan untuk melengkapi dan verifikasi hasil khususnya terkait kebijakan pengembangan Prakarya dan Kewirausahaan, dokumen kompetensi inti dan KD, silabus, buku ajar, dan perangkat pendukung lainnya yang dimiliki sekolah. Tahap pengembangan produk awal dilakukan dalam bentuk penyusunan design model dan penyusunan prototipe produk model. Penyusunan design ini dilakukan menggunakan design terbalik sebagaimana disarankan oleh Gagne dkk . , yaitu dengan menetapkan hasil belajar terlebih dahulu. Hasil penyusunan design menjadi dasar menyusun prototipe produk, berupa penajaman KD, silabus, buku ajar, buku panduan pembelajaran, media. RPP, dan perangkat penilaian. Subjek yang dilibatkan juga sama dengan subjek sebagaimana studi pendahuluan. Kelayakan hasil pengembangan diukur dari ketepatan design dengan hasil belajar yang dirumuskan, sedangkan kelayakan prototipe produk diukur dari ketepatan dengan design yang dihasilkan. Untuk itu, instrumen yang digunakan adalah panduan FGD dan panduan wawancara kelayakan hasil Uji produk awal dilakukan dengan dua cara, yaitu melalui uji validasi ahli/praktisi dan uji coba terbatas. Untuk tahap awal hanya dilakukan uji validasi dengan melibatkan 1 orang ahli teknologi pembelajaran (TP), 1 orang ahli Bahasa Indonesia (BI), dan melibatkan praktisi (DU/DK/pengrajin setempa. Instrumen untuk uji validasi menggunakan kuesioner yang diadaptasi dari indikator yang dikembangkan oleh Direktorat Pembinaan SMA . Instrumen uji validasi oleh praktisi dijaring menggunakan panduan FGD. Penilaian dan masukan pada tahap uji produk awal dijadikan dasar melakukan perbaikan produk. Data hasil validasi ahli dan praktisi dianalisis menggunakan teknik deskriptif kuantitatif. Skor berada dalam interval 1-5, sehingga kriteria interpretasinya, yaitu: sangat baik, jika rata-rata penilaian atau tanggapan . > 4. jika 3 < pt dAy 4. cukup , jika 2 < pt dAy 3 . jika 1