Vol. No. 1, 2025 p. DOI: https://doi. org/10. 52620/jls. ISSN 3031-9439 Metafora dalam Qosidah Nahdiyyah Satu Abad Nahdlatul Ulama: Resepsi Sastra Wolfgang Iser Syarifudin Choirul Umam, 2Siti Amsariah, 3Yeni Ratna Yuningsih 1,2,3 Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Indonesia Email: fudin2316@gmail. Abstract Qasidah Nahdliyah Satu Abad NU (QNSANU) is a literary work composed by KH. Afifudin Muhajir to commemorate the centennial of Nahdlatul Ulama (NU). According to Iser, no literary work holds complete meaning if it remains static as a document. it must be read and actively responded to by Authors deliberately leave gaps or empty spaces within the text as a platform for readers to engage their imagination, leading to multiple interpretations that enrich perspectives and understanding of the literary work. This study aims to examine how these gaps are filled by respondents or readers, thereby revealing diverse interpretations. The research employs a qualitative method, with metaphor data collected through an experimental approach, involving fieldwork and interviews with 11 master's students of Arabic Language and Literature from the Faculty of Adab and Humanities. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Class of 2024. The study emphasizes that the second stanza of Qasidah Nahdliyah Satu Abad NU possesses significant symbolic power in establishing both emotional and intellectual connections with its readers. The findings support the hypothesis that the qasidah serves as an effective aesthetic medium for representing NU's historical, spiritual, and ideological values. Metaphors in the stanza, such as kaukabah . and al-barq fi alzulma . ightning in the darknes. , successfully create a framework for diverse interpretations depending on the readers' backgrounds. These interpretations demonstrate the qasidah's ability to bridge multiple perspectives, both among individuals directly connected to NU and those with no direct affiliation. Keywords: ReaderAos Response. Woflgang Iser. QNSANU. Mataphor Copyright A 2025 Author . Journal of Linguistics and Social Studies is licensed under a Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International License. PENDAHULUAN Bahasa merupakan alat utama manusia berkomunikasi, tentunya dengan gaya bahasa yang berbeda-beda, ada yang menyampaikan dengan harfiah atau kiasan . Metafora merupakan salah satu gaya bahasa figuratif yang kadang sulit untuk beberapa orang pahami karena kata atau kelompok kata yang digunakan bukan dengan arti yang sebenarnya. Metafora umumnya digunakan untuk memperindah bahasa atau memperelok retorika, lebih dari itu metafora berfungsi untuk menjelaskan konsep-konsep yang sarat dengan makna (Lakoff & Johnson, 2003, hlm. Vol. No. 1, 2025 p. DOI: https://doi. org/10. 52620/jls. ISSN 3031-9439 Metafora sebagai bentuk abstrak dari sebuah pesan memiliki peran sebagai ruang bebas pemaknaan . l-AoAriyya. , ia merupakan ungkapan yang umum digunakan namun diletakan di ruang-ruang yang tak lazim ungkapan itu berada, serta memiliki sambung-kait . l-SyawAhi. ketika ungkapan yang umum itu digunakan dalam ruang-ruang itu . l-JurjAn, 2012, hlm. Sesorang dalam kehidupan sehari-harinya secara sadar ataupun tidak menggunakan metafora dalam berbicara, melakukan percakapan atau menyelipkannya dalam sebuah tulisan untuk menjelaskan sebuah konsep yang abstrak (Knowles & Moon, 2007, hlm. Dalam karya sastra seperti novel, cerpen, khitAbah, syair ataupun qadah, acapkali pencipta karya tersebut menyampaikan pesan-pesan abstrak dan kaya makna lewat metafora. Dalam penelitian ini. Qadah merupakan inti pembahasan. Qadah adalah syair Arab yang terdiri dari tujuh bait atau lebih . l-Majdhb, 1409, hlm. Qosidah Nahdiyyah Satu Abad NU (QNSANU) misalnya, terdiri tiga belas bait. QNSANU dikarang oleh KH. Afifuddin Muhajir dalam rangka semarak perayaan satu abad Nahdhatul Ulama (NU) yang dihitung berdasarkan kalender NU didirikan pada 16 Rajab 1344 H, dan peringatan satu abadnya dirayakan pada 16 Rajab 1444 H bertepatan dengan tanggal 7 Februari 2023. Walaupun momen satu abad NU sudah rampung. QNSANU menjadi menarik karena ia diciptakan oleh seorang kiai yang notabenenya hampir tidak pernah mengecap bangku kuliah di negeri-negeri Arab namun piawai menggubah sebuah syair atau membuat qadah. KH. Afifuddin Muhajir merupakan sosok yang sangat dihormati di NU, beliau termasuk jajaran wakil Rais Amm Nahdhatul Ulama masa bakti 2022-2027, beliau juga mendapatkan gelar doktor honoris causa dari Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Walisongo. Semarang dalam bidang Fiqh wa Uluh. QNSANU pertama kali dipublikasikan dalam kanal YouTube TVNU Televisi Nahdlatul Ulama pada tanggal 3 Febuari 2023 (Lutfi dkk. , 2023, hlm. QNSANU pada hakikatnya adalah karya sastra berbentuk syair atau puisi yang mengandung banyak pemaknaan sehingga terjadi pengalihan makna semantik, menurut (Riffaterre, 1978, hlm. ini disebabkan karena adanya displacing . , distroting . , dan creating . Banyaknya pemaknaan ini terjadi karena setiap pembaca mencoba meresepsi atau merespons karya sastra tertentu, tidak jarang seorang pembaca memiliki banyak interpretasi berbeda jika pembacaan dilakukan di waktu dan keadaan yang berbeda. Resepsi sastra merupakan sebuah kajian yang berfokus pada pembaca, di mana pembacalah yang menjadi aktor utama. Kajian ini melihat bagaimana respon pembaca terhadap sebuah karya sastra. Nilai estetik dalam kajian ini adalah pemaknaan atau imajinasi pembaca terhadap karya sastra, menurut Sterne dalam (Iser, 1972, hlm. pembaca dan pengarang diibaratkan berada dalam sebuah ruang imajinasi. Sejatinya karya sastra bersifat dinamis. Vol. No. 1, 2025 p. DOI: https://doi. org/10. 52620/jls. ISSN 3031-9439 ekspektasi atau respon pembaca terus berubah dan bermodifikasi sepanjang proses pembacaan. Hal ini membuat karya sastra menjadi lebih hidup dan kaya karena setiap kalimat, ungkapan atau ide melahirkan pemaknaan baru yang tak terduga serta membiarkan pembaca merenung dan terus menyesuaikan pemahamannya sehingga karya sastra tak terlihat seperti artefak yang kaku dan statis (Iser, 1972, hlm. Penelitian terkait resepsi bukan sesuatu yang baru, sudah banyak peneliti melakukan publikasi terkait kajian resepsi ini. Misalnya (Rusmin Nurjadin, 2. , ia menganalisis resepsi sastra terhadap cerita rakyat Tanjung Menangis dari Sumbawa menggunakan pendekatan struktural, sosiologis, dan psikologis. Penelitian ini menunjukkan bahwa cerita ini bertema legenda setempat dengan alur maju dan mudah dipahami. Pembaca menilai cerita mencerminkan budaya musyawarah, nilai religius, dan moral. Selain itu, cerita memberikan manfaat inspiratif dan wawasan budaya, mendorong pembaca untuk mengaplikasikan nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari. Terkait penelitian resepsi lainya, (Sasmita & Dermawan, 2. telah melakukan penelitian untuk mengkaji kumpulan puisi Kemelut Cinta Rahwana karya Djoko Saryono sebagai resepsi terhadap kisah tokoh Rahwana dalam Ramayana. Berdasarkan teori estetika resepsi Wolfgang Iser, penelitian ini mengungkap stereotip mitos Rahwana sebagai lambang angkara murka, serakah, dan angkuh, serta kontra mitos yang menampilkan Rahwana sebagai sosok bijaksana, tulus mencintai, dan menerima takdir. Hasilnya menunjukkan reinterpretasi tokoh wayang dalam sastra modern Indonesia. Berbeda dengan (Sasmita & Dermawan, 2. yang mengkaji kumpulan puisi Kemelut Cinta Rahwana karya Djoko Saryono, (Rohman, 2. mengkaji respons terhadap bait Nazm Alfiyyah Ibn Malik di Indonesia, terutama di pesantren, menggunakan teori estetika resepsi sastra. Hasilnya, terdapat dua model respons: pertama, respons tekstual serupa ulama Arab yang mengisi ruang teks secara terbatas. kedua, respons kontekstual yang melampaui nahwu-sharf. Respons akademisi bersifat parsial mengikuti kaidah ilmiah, sedangkan komunitas kreatif di media sosial menunjukkan respons unik yang keluar dari aturan tradisional. Selanjutnya, penelitian yang dilakukan oleh (Wicaksono, 2. , ia berusaha melihat bagaimana tanggapan mahasiswa terhadap antologi puisi menolak korupsi 6 yang memberdah korupsi kepala daerah, ia memakai metode eskperimental dalam penelitian respesinya. Selain itu, penelitian yang pernah dilakukan oleh (Rindaningtyas dkk. , 2. ia berfokus pada karya sastra yang berjudul Perhiasan Bumi Karya Korrie Layun Rampan. Hasil temuannya adalah penerimaan pembaca terhadap unsur intrinsik cerpen Perhiasan Bumi karya Korrie Layun Rampan yang dihasilkan setelah responden menjawab tujuh belas pertanyaan pada angket, dan ditemukan tiga jawaban yang sama dari responden tentang implikasi penerimaan pembaca terhadap cerpen tersebut dalam pembelajaran sastra. Vol. No. 1, 2025 p. DOI: https://doi. org/10. 52620/jls. ISSN 3031-9439 Resepsi bukan saja tentang karya-karya baru, karya sastra lama yang sudah menjadi manuskrip juga menjadi daya tarik sendiri seperti penelitian yang dihasilkan oleh (Sanjaya & Sudibyo, pengungkapan makna sosial budaya dan nilai historis yang ada pada zaman itu. Kemudian penelitian yang dilakukan oleh (Jambak dkk. , 2. , penelitian ini membahas respons mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang terhadap Qasidah Nahdliyyah 99 Tahun NU dengan menggunakan teori resepsi sastra Hans Robert Jauss, khususnya konsep Horizon Harapan. Penelitian ini menunjukkan variasi respons dan harapan pembaca dipengaruhi oleh pengalaman membaca karya sastra, pengetahuan tentang puisi dan unsurunsurnya. Namun, identitas diri, latar pendidikan, dan latar belakang keluarga tidak berpengaruh signifikan terhadap perbedaan resepsi sastra. Publikasi terakhir yang peneliti temukan tentang QNSANU adalah penelitian yang dilakukan oleh (Lutfi dkk. , 2. ia mengkaji QNSANU dengan pisau analisis semiotika Riffaterre untuk mengungkap makna terdalam dari QNSANU melalui tahapan pembacaan heuristik, hermeneutik, serta penentuan model, varian, matriks, dan hipogram. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Qasidah NSANU berisi sejarah berdirinya NU, perannya dalam menjaga persatuan Indonesia, dan tokoh-tokoh pendirinya. Peneliti juga menemukan publikasi terkait metafora yang pernah dilakukan oleh (Nofiadri dkk. , 2. , penelitian ini objek kajiannya adalah metafora dan yang menarik adalah ia menggunakan wawancara sebagai model penelitiannya, yang mana ini relevan dengan apa yang akan dilakukan peneliti untuk mengkaji QNSANU khususnya pada bagian metafora. Dari semua penelitian di atas, peneliti akan melakukan kajian yang bertujuan untuk mengkaji QNSANU menggunakan pisau analisis repetoire dan wirkung readerAos respons . espon pembac. Wolfgang Iser untuk melihat gaps . yang dilakukan oleh KH. Afifudin Muhajir dalam membuat QNSANU. METODE Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Metode kualitatif menurut (Creswell & Creswell, 2018, hlm. adalah metode yang mengunakan kata, frasa ataupun kalimat untuk membangun narasi sehingga pemabahan disajikan secara analisis-deskriptif dengan pisau analisis readerAos response Wolfgang Iser, ia menjelaskan bahwa respon pembaca merupakan hal penting untuk mengisi celah atau gaps pada sebuah karya sastra, karena menurutnya setiap karya sastra memiliki ruang kosong yang sengaja dibuat oleh penulisnya agar para pembaca memiliki penafsirannya masing-masing (Iser, 1991, hlm. Untuk mengisi celah atau gaps itu sendiri. Iser menggunakan istilah repetoire dan wirkung. Vol. No. 1, 2025 p. DOI: https://doi. org/10. 52620/jls. ISSN 3031-9439 Repetoire adalah elemen-elemen dalam sebuah teks yang memiliki kaitan erat dengan pengalaman serta pengetahuan yang dimiliki oleh pembaca. Elemen-elemen ini mencakup segala sesuatu yang dapat dikenali dan dipahami pembaca berdasarkan latar belakang mereka, sehingga membentuk jembatan antara teks dan pemahaman pembaca (Iser, 1991, hlm. Wirkung adalah pengalaman pembaca saat berinteraksi dengan teks, termasuk respons emosional, intelektual, atau interpretatif yang muncul selama proses membaca (Iser, 1991, hlm. Dalam penelitan ini, pengambilan data yaitu respon pembaca terhadap metafora dalam QNSANU dengan menggunakan metode eksperimental. di mana peneliti menentukan responden atau partisipan, kemudia turun ke lapangan langsung dan menetukan teksnya. Eksperimental cocok untuk resepsi karya sastra masa kini saja, menggingat QNSANU merupakan karya yang baru lagi di perayaan satu abad NU (Abdullah, 2001, hlm. Adapun responden atau partisipannya adalah 11 mahasiswa Mahasiswa Magister Bahasa dan Sastra Arab Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Angkatan 2024. Mereka merupakan lulusan strata satu yang konsen di Bahasa Arab serta memiliki latar belakang pengalaman dan kultur yang berbeda-beda. Kemudian teks atau objek kajian resepsinya ada metafora dalam QNSANU, karena menurut . l-JurjAn, 2012, hlm. metafora memiliki pemaknaan yang sangat luas, dan terkandung di dalamnya banyak interpretasi. HASIL DAN PEMBAHASAN ca AC AaOA A aIA ca aAIa OacU A a AA a AE eA a AIA a eAeI a a OA a A Eaa acI aNA: sA e aN a eO a E eaOE a a AEEA e a AuNahdlatul Ulama didirikan bintang-bintang ulama terbaik # Nahdlatul Ulama seperti kilat di kegelapanAy Dari semua partisipan, bait inilah yang paling dominan atau mudah ditangkap oleh partisipan sebagai metafora karena bait ini mengandung tiga komponen metafora yaitu tenor atau al-MustaAoAr Lah. Vehicle atau al-MustaAoAr Minh dan Ground atau Wajh al-Tashbh. Kata UAIa OacA e a ca aOA sebagai Tenor . l-MustaAoAr La. , kata ACA a AE eA a sebagai Vehicle . l-MustaAoAr Min. dan kata AeI aA a AEEA sebagai Ground (Wajh al-Tashb. Terdapat beberapa partisipan yang memahami bait ini mengandung metafora hanya saja terdapat perbedaan fokus pada kata, frasa atau kalimat tertentu, seperti sebagai berikut: Vol. No. 1, 2025 p. DOI: https://doi. org/10. 52620/jls. ISSN 3031-9439 Kata A( EOEAbintan. Pemilihan diksi ini adalah sebuah kata yang diselubungkan untuk mengkait-hubungkan tentang ikon bintang yang digunakan oleh Nahdatul Ulama dalam logo organisasinya. Kata Kaukabah . di situ tuh langsung saya teringat gitu sebuah simbol yang ada di lambang NU itu sendiri kan ada beberapa bintang-bintang ya ada yang besar ada yang kecil gitu. (VN) Dalam interpretasi VN, lambang NU menjadi bagian dari repertoire yang dimiliki pembaca. Pengetahuan tentang elemen visual lambang NU . intang besar dan keci. menjadi kerangka referensi yang digunakan untuk memahami dan memaknai teks. Dalam hal ini, kata kaukabah memunculkan asosiasi emosional dan intelektual yang kuat bagi responden, yang langsung terhubung dengan identitas dan nilai-nilai simbolik NU. Efek ini menegaskan bahwa teks telah berhasil membangun resonansi dengan pembaca, menciptakan makna yang relevan secara personal. Dalam pandangan Wolfgang Iser, gaps merupakan ruang kosong atau ambiguitas yang secara sengaja diciptakan oleh penulis dalam teks. Ruang ini memberikan peluang bagi pembaca untuk mengisi makna berdasarkan pengetahuan, pengalaman, dan interpretasi mereka. Pada pernyataan responden (VN), kata kaukabah . diinterpretasikan sebagai simbol yang terkait langsung dengan lambang NU, yang memiliki bintang besar dan kecil. Responden memanfaatkan gap ini dengan menghubungkannya ke konteks simbolik organisasi NU. Hal ini menunjukkan bahwa gap dalam teks tersebut berhasil memancing pembaca untuk memberikan interpretasi berdasarkan latar belakang budaya dan pengetahuan mereka tentang NU. Frasa sA( aOe a E eaOEaBintang-Bintang Ulama Terbai. Salah seorang partisipan memahami bahwa yang dimaksud dengan A( aOe a Ea eOEaBintang- Bintang Ulama Terbai. adalah ulama-ulama yang memiliki cahaya sehingga mampu memberikan contoh atau tauldan. Ulama-ulama Nahdlatul Ulama itu merupakan ulama-ulama yang terbaik yang memiliki cahaya yang bisa dijadikan contoh gitu. (AP) Berbeda dengan . , yang dimaksud frasa A( aOe a Ea eOEaBintang-Bintang Ulama Terbai. adalah orang-orang hebat yang mampu dalam bidang keilmuan juga menerapkannya dalam masyarakat dan memiliki daya juang yang tinggi. Bahwa . ini ingin menyuarakan bahwa pendiri NU itu adalah orang-orang hebat gitu orang-orang yang istilahnya orang-orang pilihan yang dia tidak hanya Vol. No. 1, 2025 p. DOI: https://doi. org/10. 52620/jls. ISSN 3031-9439 pakar keilmuan tapi penerapan di masyarakat juga perjuangan mereka luar biasa seperti itu jadi menurut saya itu diibaratkan dengan bintang-bintang ya wajar gitu kan. (HA) Dalam data . peneliti melihat adanya proses wirkung dalam pemaknaan ulama-ulama NU memiliki perjuangan yang luar biasa, ini disebabkan karena adanya Repertoire dari pengalaman pembacaan terhadap beberapa literatur yang telah dilakukan oleh partisipan ini. Saya lahir memang di keluarga NU, tapi dalam hal ini saya bukan karena ada intervensi dari situ, ya cuman memang dari beberapa literatur yang saya baca, ya memang perjuangan NU itu luar biasa gitu. (HA) Data . menunjukkan pembaca (AP) mengisi gap tersebut dengan pandangan bahwa para ulama NU adalah sosok terbaik, penuh cahaya, dan menjadi teladan. Ini adalah interpretasi yang menghubungkan simbol bintang dengan kualitas spiritual dan moral. Data . memperlihatkan pembaca (HA) mengisi celah dengan penekanan pada kehebatan ulama NU, baik dalam bidang ilmu, penerapan di masyarakat, maupun perjuangan ca AC AaOA Kalimat AeI aA a AE eA a . ilat di kegelapa. a AEEA Pemilihan diksi ini mengambarkan bahwa NU senantiasa berkilau dalam ketinggian . serta mengambarkan kerasnya perjuangan NU di masa-masa awal oleh karena itu pengarang lebih memilih kata al-Barq dibandingkan kata nr yang terkesan lembut dalam hal memberi sinar. Petir itu kan mengkilat artinya dia akan terus berkilau atau akan terus tinggi. atas, dari zaman kegelapan dahulu sampai nanti mungkin di akhir zaman jadi dia akan terus berkilau seperti cahaya kilat. (VN) Mereka tidak menggunakan kata Nr tapi mereka menggunakan kata Barq yang mana lebih intens maknanya jadi dibanding cahaya yang lembut karena memang mungkin pada zaman itu memang harus struggle seberjuang itu mereka untuk menerangi, kalau cahaya itu pemaknaannya itu lebih lembut dan lebih menerangi menyinarinya. (MT) Selain data . , salah seorang partisipan memaknai bahwa ulama-ulama NU adalah penerang bagi umat serta ulama yang beraliran Ahlussunnah Wal Jamaah. [Ulama-ulam. NU itu berperan sebagai cahaya di dalam kegelapan di mana bisa menerangi umat-umat Islam yang ada di Indonesia gitu dengan adanya Ahlussunnah Wal Jamaah yang diboyong oleh ulama-ulama di Nahdlatul Ulama. (FJ) Vol. No. 1, 2025 p. DOI: https://doi. org/10. 52620/jls. ISSN 3031-9439 Berbeda dengan data . , peneliti menemukan adanya Repertoire dari salah satu partisipan yang merupakan mahasiswa sastra sehingga terjadinya proses wirkung dalam melihat dan mengkritik kata al-Barq itu sebagai diksi yang kurang pas digunakan untuk mengambarkan kelanggengan NU itu sendiri. Kemudian saya yang cukup bertanya ya sebagai anak sastra Kenapa pemilihan katanya itu kilat padahal kita tahu kalau kilat itu cahayanya sekejap gitu kilat gitu Apakah memang bisa menerangi seluruh alam dengan cahayanya yang sekejap gitu, padahal kan kita berharap di kegelapan itu ada cahaya yang awet ya gitu tapi kenapa pemilihan diksinya itu kilat. (FJ). Data . menunjukkan pembaca (VN) mengisi gap dengan makna bahwa al-Barq melambangkan kilauan NU yang terus eksis dan bersinar, dari masa lalu hingga masa depan. Data . memperlihatkan pembaca (MT) mengaitkan al-Barq dengan intensitas perjuangan NU di masa awal, berbeda dengan nr yang dianggap lembut. Data . menggambarkan adanya (FJ), al-Barq merepresentasikan kelanggengan. Ini menunjukkan bagaimana gap bisa memunculkan kritik atas pemilihan kata dalam teks. AI aNa aI aI aIA a A aO a eA a AOA a aANa UI A a a A aa E eacO a EeA e AaE aC e a aIO aA e aA A: A aE aNA a AA e AA AuHadlratus Syaikh meletakkan pondasi Nahdlatul Ulama # Yaitu Hasyim AsyAoari yang sosoknya merupakan anugerah luar biasa!Ay Dalam data yang ke . ini, partisipan menyoroti keseluruhan bait ketiga sehingga menggasilkan repertoire yang dipengaruhi oleh latar belakangnya sebagai anggota organisasi Muhammadiyah, yang kemungkinan tidak terpapar secara langsung pada tradisi sastra atau simbol-simbol Nahdlatul Ulama (NU). Hal ini terlihat dari pengakuannya bahwa ini adalah kali pertama ia mengetahui dan mendengar tentang lirik Qosidah Nahdiyyah Satu Abad NU. Sejujurnya karena ini baru pertama kali saya mengetahui tentang adanya lirik Qasidah satu abad NU karena saya mengikuti organisasi Muhammadiyah ya. Jadi mungkin ini adalah kali pertama Ya saya mendengar ini namun yang menarik ada di Laqad banA uasrat asy-syaikh al-asAs laha: ayy HAshimun Asyar, aeim bihi minnA. Hasyim Ashari yang sosoknya merupakan anugerah luar biasa mungkin ini menggambarkan bahwa Hasyim Ashari adalah suatu sosok yang benar-benar sangat luar biasa yang Bahkan telah mendirikan organisasi Nahdlatul Ulama ini dan berkembang pesat sampai satu abad NU maka adanya qasidah satu abad NU ini juga menggambarkan ke anugrahnya yang luar biasa sehingga dapat diceritakan melalui sejarah-sejarahnya kurang lebih seperti itu (NR) Vol. No. 1, 2025 p. DOI: https://doi. org/10. 52620/jls. ISSN 3031-9439 Namun, (NR) tetap mampu mengenali metafora atau simbol penting, seperti KH. Hasyim AsyAoari, berkat pengetahuan umum sejarah Islam di Indonesia. Bagian bait yang menyebutkan "Hasyim AsyAoari sebagai anugerah luar biasa" sesuai dengan repertoire-nya, memungkinkan ia untuk memahami qasidah sebagai penghormatan terhadap tokoh ini. Dalam data . , wirkung yang dihasilkan adalah qasidah berhasil membangkitkan rasa takjub pada NR terhadap figur KH. Hasyim AsyAoari, meskipun ia berasal dari organisasi berbeda. Ia mengakui bahwa bait qasidah ini menggambarkan tokoh tersebut sebagai sosok luar biasa, yang memberikan dampak emosional berupa kekaguman pada kontribusi Hasyim AsyAoari terhadap NU. Respon ini menunjukkan bahwa qasidah mampu menjembatani pengalaman pembaca dengan narasi yang ditawarkan teks. Dalam pengalaman (NR), gaps ini terlihat pada pemahamannya tentang bait Laqad banA uasrat asy-syaikh al-asAs laha: ayy HAshimun Asyar, aeim bihi minanA. Ia mencoba memahami makna simbolik dari bait tersebut dengan menyoroti KH. Hasyim AsyAoari sebagai sosok luar biasa yang berperan besar dalam mendirikan NU. Meski ia belum familiar dengan tradisi sastra qasidah dalam konteks NU, ia mengisi gaps tersebut dengan interpretasi yang berdasarkan pada pengetahuan sejarahnya. A aO a aIA a A aC eA: aNA a AIA a AO aE eaO sE AaO auA a AIA a A E aeOEA e aA eOa aI A a AI a acOA e AIA a aOA e AaIA a AA AuMelaui isyarat Syaikhona Kholil# seorang wali qutub yang mendidik ulamaulama kamiAy Kalimat aNA a A( aE eaO sE AaO auAIsyarat Syaikhona Kholi. a AA Dalam wawancara ini, repertoire pertisipan sebagai pembaca tampak dibentuk oleh keterbatasan pengetahuan tentang tradisi NU dan makna simbolik dalam lirik qasidah. mengakui bahwa dirinya masih awam terhadap teks Arab dan sejarah figur penting seperti Syekh Kholil. Namun, ia tetap menggunakan intuisi dan pemahaman umum tentang Islam untuk menafsirkan kalimat Khallin f IsyAratihi dengan menyebut Syekh Kholil sebagai tokoh penting yang memberikan isyarat perjuangan untuk membela Islam atau memakmurkan NU. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun repertoire-nya terbatas, ia mampu membangun pengertian dasar berdasarkan pengalaman dan interpretasi personal. Kalau saya pribadi jujur ya. Saya masih kurang paham tentang tekstual Arab, jadi saya masih sulit mengartikan secara literilik Apa maksud dari lirik dan qasidah itu kayak seperti di sini Min SyaikhinA, ayy Khallin f IsyAratihi. melalui isyarat yang apa, ini masih perlu dijelaskan. Kalau menurut saya pribadi yang masih awam ini masih perlu diperdalam lagi karena mungkin latar belakang saya yang masih belum tahu tentang NU . yekh kholi. itu siapa, isyarat Vol. No. 1, 2025 p. DOI: https://doi. org/10. 52620/jls. ISSN 3031-9439 Syekhona Kholil ini sampai seperti apa yang berpengaruh pada NU, sekilas itu isyarat tuh maksudnya Seperti apa gitu, ada petikan . itu enggak bisa menebaknebak atau seperti apa. Kalau menurut saya mungkin isyarat Syekh Kholil di sini mungkin kayak perintah gitu, perintah untuk membela Islam atau kayak memakmurkan NU mungkin juga perjuangan. (MF) Wirkung yang muncul pada partisipan (MF) adalah rasa keingintahuan sekaligus pengakuan terhadap keterbatasannya dalam memahami teks. Ia menunjukkan ketertarikan untuk mengetahui lebih dalam tentang makna "Syekh Kholil" dan perannya dalam NU. Respons ini menunjukkan bahwa teks qasidah mampu membangkitkan refleksi dan keinginan untuk mempelajari lebih lanjut, meskipun tidak langsung memberikan pemahaman yang lengkap. Selain itu, interpretasi (MF) bahwa "isyarat" mungkin bermakna perintah perjuangan juga menunjukkan bahwa teks berhasil memicu asosiasi dengan nilai-nilai universal Islam. Gaps dalam teks qasidah terlihat jelas dalam wawancara ini karena (MF) menghadapi kesulitan memahami makna literal bait-bait dalam teks Arab, khususnya kalimat Min SyaikhinA, ayy Khallin f IsyAratihi. Celah ini menciptakan ruang interpretasi yang harus diisi oleh (MF) berdasarkan pemahaman subyektifnya. Ia mencoba menafsirkan "isyarat" tersebut sebagai "perintah untuk perjuangan" atau "upaya memakmurkan NU. " Hal ini menunjukkan bahwa ia mengisi gaps dengan asumsi yang relevan dengan nilai-nilai Islam yang sudah ia kenal, meskipun pemahaman itu masih bersifat tentatif dan eksploratif. A aA aIA s AaE a e a a a eA ca AE a e a eE aA eIaa EA ac a A Ea aI eO aEaO aEA: AI a aNA ac a aO EA a A aO eI aE eaOA AuMereka tersebar di seluruh penjuru bumi # Mereka laksana bahtera dalam mengarungi lautan fitnahAy Bait ini merupakan bait kelima dari QNSANU, ada tiga partisipan yang menangkap adanya metafora dalam bait ini. Kalimat A aA aIA ca A( a e a eE aA eIaa EALaksana Bahtera Dalam Mengarungi Lautan Fitna. Repertoire (LM) terbentuk dari pemahaman balaghah dan kesadaran akan tantangan organisasi seperti NU. Ia memahami metafora sufunA . sebagai simbol organisasi yang menghadapi tantangan besar . dan bertahan dengan perlindungan dari Sang Pencipta. Interpretasi ini menunjukkan pengetahuan balaghahnya sebagai dasar untuk memahami metafora dalam teks. Manusia diumpamakan sebagai bahtera gitu sedangkan pelindung kita adalah sang pencipta Kenapa harus bahasanya itu bahtera kayak gitu nah tapi kalau menurut itu dari persepsi aku dari sisi balagohnya ya cuman mungkin tafsiran dari ini menurut feeling aku tafsiran dari kata ini mungkin memang yang namanya Vol. No. 1, 2025 p. DOI: https://doi. org/10. 52620/jls. ISSN 3031-9439 organisasi pasti mempunyai banyak sekali tantangan rintangan yang harus dihadapin dan mungkin makanya itu dikatakan bahtera untuk melindungi kaum NU gitu organisasi-organisasinya dari segala macam fitnah yang datang ke mereka dan bagaimana mereka mampu menghadapi tantangan tersebut untuk tetap berkibar selagi itu masih berada dalam kurun batas yang baik untuk umat. (LM) Dari data . ini, dapat dipahami bahwa wirkung yang dialamai oleh (LM) yaitu dapat membangkitkan refleksi tentang tantangan internal dan eksternal yang dihadapi oleh NU sebagai organisasi keagamaan. Ia menjadikan metafora AubahteraAy sebagai sarana untuk memahami dinamika perjuangan NU. Hampir sama dengan data . , partisipan (MF) memfokuskan analisis pada pilihan diksi sufunA atau bahtera yang ia anggap sengaja digunakan untuk menekankan tantangan besar yang harus dihadapi NU, berbeda dari perahu kecil yang tidak mencerminkan skala tantangan tersebut. Repertoarnya didasarkan pada logika simbolik dan penggunaan imajinasi yang mendalam terhadap makna bahtera. AuMereka laksana bahtera dalam mengarungi lautan fitnahAy mungkin mereka menggunakan kata bahtera yang notabenennya itu biasanya digunakan untuk lautan-samudra gitu, mungkin sangking besarnya fitnah ketika itu dan sampai saat ini mereka tidak menggunakan sekoci atau mungkin perahu, tapi bahtera yang luar biasa besar dan sanggup untuk mengarungi samudra dan memang bahtera tidak ditujukan untuk sungai-sungai kecil tapi untuk melawan ombak-ombak yang besar dengan berbagai tantangan mungkin, saya merasa inilah Kenapa mereka memilih diksi bahtera. (MF) Respon atau wirkung yang dirasakan oleh (MF) menunjukkan apresiasinya terhadap kekuatan simbolik teks, di mana ia memahami skala tantangan sebagai sesuatu yang besar. Lain halnya dengan partisian ketiga, (AM) membawa perspektif era post-truth, menggunakan repertoar-nya yang mencakup wawasan modern tentang relativitas kebenaran. menghubungkan AubahteraAy dengan perjuangan ulama NU dalam menghadapi disinformasi dan hilangnya nilai kebenaran absolut di era kontemporer. Saya mungkin ingin mengartikan bahwa para ulama atau mereka yang hadir di jam'iyah Nahdlatul Ulama itu mereka sedang mengarungi lautan yang penuh dengan apa yang disebut era post-truth itu, bagaimana kebenaran itu tidak dijadikan lagi patokan jadi post-truth itu, ya kebenaran-kebenaran kosong gitu ya rasanya relatif semua, ya bagaimana para ulama ini dapat bertarung melawan era (AM) Vol. No. 1, 2025 p. DOI: https://doi. org/10. 52620/jls. ISSN 3031-9439 Terlihat bahwa wirkung atau respon yang ditampilkan pada data . bahwa teks memicu analisis kritis yang menghubungkan perjuangan NU dengan konteks sosial modern, yaitu era posttruth. Responsnya menunjukkan bahwa teks qasidah mampu menjadi jembatan antara nilai tradisional dan persoalan modern. Celah dalam kalimat Bauri al-Fitnati as-SufunA mendorong ketiga partisipan untuk memberikan interpretasi yang berbeda tentang makna metafora. (LM) mengisi celah dengan mengaitkan bahtera sebagai perlindung umat dari fitnah, mencerminkan tantangan organisasi secara umum. (MT) mengisi celah dengan penekanan pada ukuran dan fungsi bahtera, yaitu kemampuan menghadapi ombak besar yang melampaui perahu kecil. (AM) mengisi celah dengan perspektif era post-truth, menjadikan bahtera sebagai simbol perjuangan ulama melawan relativitas kebenaran. A a s aO a eN aa E aeA a aIA a AA a AIA a AauE eaONa a eA e aA eOa aI A a AIA e A aIA: a a Ae aU aO aA U AE aO eOA AuSuatu hari Syaikhona Khalil mengirimkan tasbih dan tongkat kepada Hadlratus Syaikh Hasyim AsyAoari# melalui Syaikh AsAoad, kebanggaan para cerdik-pandaiAy Frasa a a (Tasbih dan Tongka. a Ae aU aO aA Salah Muhammadiyah, menunjukkan bahwa latar belakang non-NU memberikan perspektif unik dalam memahami teks qasidah. Repertoaire-nya mencakup pemahaman dasar tentang simbolisme religius dalam Islam, seperti tasbih yang diasosiasikan dengan ibadah dan amanat spiritual. menafsirkan frasa subuatan wa 'aA sebagai metafora mandat atau amanat kepada generasi penerus NU. karena saya bukan orang NU nih, saya besar dari lingkungan keluarga muhammadiyah, yah. Tapi saya melihat adanya metafora, pas di kata-kata subuatan wa 'aA, itu tuh kayak ngasih tasbih ke murid yang lain gitu ya. Nah itu tuh. Itu kan kiasanya sebenarnya, kan tasbih itu kayak mandat atau amanat biar diterusin loh, kayak kamu nih yang pegang NU nanti atau penerus lah ya seperti itu. (AH) Teks qasidah membangkitkan respons reflektif pada partisipan (AH), meskipun ia berasal dari tradisi yang berbeda. Metafora tasbih membuatnya merenungkan konsep kontinuitas amanah dan tanggung jawab antar generasi dalam NU. Responsnya menunjukkan bahwa teks ini tidak hanya berbicara kepada audiens internal NU, tetapi juga mampu menjangkau audiens eksternal, memberikan ruang bagi mereka untuk berkontribusi dalam pemaknaan. Adapun celah atau gaps dalam teks terlihat pada kurangnya penjelasan eksplisit tentang simbol tasbih dalam konteks qasidah, (AH) mengisi celah ini dengan interpretasi bahwa tasbih Vol. No. 1, 2025 p. DOI: https://doi. org/10. 52620/jls. ISSN 3031-9439 melambangkan mandat spiritual yang harus diteruskan oleh murid atau penerus NU. Pengisian celah ini mencerminkan kemampuannya untuk mengaitkan elemen teks dengan konsep tanggung jawab dan kesinambungan tradisi keagamaan. A Ea a aIA a AA aIA s AC E a s A aI aI Ae a: AA eO aI aO e a a ua eI aOIaOea Oa aa aA a AOA a a AuSelamanya Nahdlatul Ulama menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia#dari perpecahan, seperti ruh memelihara ragaAy Kalimat AA eO aI aO e a a ua eI aOI eaOa aOA a A( aANahdlatul Ulama menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesi. Partisipan selanjutnya (KA) menggunakan pemahaman tentang aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaj. dan prinsip nasionalisme sebagai fondasi interpretasi teks. Dalam analisisnya, ia melihat hubungan yang erat antara menjaga aqidah yang memang disebutkan di bait sebelumnya dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Repertoarnya mencakup wawasan tentang peran nilai-nilai agama dalam menjaga harmoni di ranah politik dan . setelah menjaga aqidah di bawahnya menjaga negara kesatuan Republik Indonesia menurut saya di sini ada semacam pesan terhadap orang-orang itu yang mungkin berada di ranah pemerintah ya bagaimana mereka seharusnya menjaga negara kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan pada akidah ahli sunnah gitu ya dalam artian tidak boleh Meninggalkan apa prinsip mereka sebagai orang yang beriman, orang NU gitu, seperti itu sih Jadi menjaga Indonesia gitu jangan merusak Indonesia dari dalam. (KA). Teks membangkitkan wirkung atau respons reflektif (KA), yang melihat qasidah sebagai pengingat bagi masyarakat, khususnya pejabat, untuk tidak merusak nilai-nilai bangsa dari dalam. Ia memaknai teks sebagai sarana advokasi nilai-nilai keimanan untuk memperkuat landasan moral dalam menjaga persatuan bangsa. Celah atau gaps muncul karena teks qasidah tidak secara eksplisit menjelaskan bagaimana kaitan antara aqidah dan penjagaan NKRI, (KA) mengisi celah ini dengan interpretasi bahwa pesan tersebut ditujukan kepada pejabat pemerintah agar tetap berpegang pada prinsip aqidah dalam menjalankan tugas mereka. Celah ini memungkinkannya untuk menyoroti pentingnya menjaga identitas keimanan dalam konteks nasionalisme. Kalimat AE a aIA a AA aIA s A( E aSeperti Ruh Memelihara Rag. a AA a AOA Selain (KA) pada data . , partisipan lainnya ada yang menangkap metafora pada bait ini misalnya (MT), mengacu pada konsep ruh sebagai simbol keberadaan yang tidak terlihat tetapi Vol. No. 1, 2025 p. DOI: https://doi. org/10. 52620/jls. ISSN 3031-9439 penting untuk kehidupan. Ia menggunakan perspektif metaforis untuk memahami peran NU sebagai "ruh" yang menjaga NKRI melalui penyebaran nilai-nilai perdamaian dan toleransi. Kata-kata ka-ruin Anat al-badana, jadi ruh yang menjaga badan karena definisi ruh sendiri itu kan masih gantung, saya enggak tahu apakah benar ruh yang menjaga badan atau badan yang melindungi ruh agar tidak keluar dari jasad gitu kan, mungkin karena saya sendiri kurang memahami kenapa harus mereka mengatakan NU ini menjaga kesatuan NKRI, ruh itu kayak memelihara, mungkin karena roh itu tidak terlihat tapi itu yang paling penting yang menjaga kehidupan gitu mungkin. NU itu memang tidak terasa mungkin tidak terasa nyata tapi semangat-semangat, spirit-spirit itu beredar luas di masyarakat untuk menjaga perdamaian meningkatkan toleransi untuk menjaga kesatuan negara agar tidak terjadi perpecahan saling menghargai mungkin seperti itu sih, karena ruh itu memang tidak terlihat tapi kenyataannya seperti itu. (MT) Bait ini membangkitkan refleksi filosofis pada (MT), yang mengaitkan metafora ruh dengan peran NU dalam menjaga kesatuan bangsa. Responsnya menunjukkan apresiasi terhadap nilainilai toleransi yang direpresentasikan NU dalam menjaga NKRI. Celah muncul dalam penggambaran peran ruh: apakah ruh menjaga badan, atau badan yang menjaga ruh. Tafsiran (MT) mengisi celah ini dengan analogi bahwa NU adalah "ruh" yang tidak terlihat, tetapi hadir melalui semangat dan spirit yang dirasakan dalam masyarakat. Interpretasinya menekankan bahwa meskipun peran NU tidak selalu tampak nyata, dampaknya signifikan dalam menjaga stabilitas sosial dan politik. SIMPULAN Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa bait kedua Qosidah Nahdliyah Satu Abad NU memiliki kekuatan simbolis yang signifikan dalam membangun koneksi emosional dan intelektual dengan pembacanya. Temuan ini mendukung hipotesis bahwa qasidah tersebut dapat menjadi medium estetis yang efektif dalam merepresentasikan nilai-nilai historis, spiritual, dan perjuangan Nahdlatul Ulama (NU). Metafora dalam bait tersebut, seperti kaukabah . dan al-barq fi alzulma . ilat di kegelapa. , berhasil menciptakan kerangka pemaknaan yang beragam sesuai latar belakang pembaca. Interpretasi ini menunjukkan bahwa qasidah mampu menjembatani berbagai perspektif, baik di kalangan yang memiliki keterkaitan langsung dengan NU maupun yang tidak. Selain itu, qasidah ini membuktikan potensinya sebagai alat literasi budaya yang menghidupkan kembali pemahaman tentang sejarah dan tokoh-tokoh penting NU, seperti KH. Hasyim AsyAoari dan Syekh Kholil. Respons pembaca mengindikasikan bahwa elemen estetis dalam qasidah berperan penting dalam memperkuat kesadaran kolektif atas warisan NU, tanpa mengesampingkan inklusivitas audiens yang lebih luas. Vol. No. 1, 2025 p. DOI: https://doi. org/10. 52620/jls. ISSN 3031-9439 DAFTAR PUSTAKA