Case Study Implementasi Model Newman untuk perawatan stroke holistik: studi kasus adaptasi budaya di Banjarmasin. Indonesia Maria Frani Ayu Andari Dias1*. Anastasia Maratning2 Jurnal Kesehatan e-ISSN: 2502-0439 Informasi artikel Diterima : 23 Mei 2025 Revisi : 17 Juli 2025 Diterbitkan : 31 Juli2025 Korespondensi: nama penulis: Maria Frani Ayu Andari Dias afiliasi: STIKES Suaka Insan email : mariafrani10@gmail. Departemen Kesehatan dan Keperawatan Jiwa. STIKES Suaka Insan Rumah Sakit Suaka Insan Sitasi: Dias. Maratning. Implementasi Model Newman untuk perawatan stroke holistik: studi kasus adaptasi budaya di Banjarmasin. Indonesia. Jurnal Kesehatan. Vol. ABSTRAK Stroke merupakan penyebab utama kematian dan kecacatan di Indonesia. Model Kesehatan Sistem Newman menawarkan pendekatan holistik dalam perawatan stroke dengan menekankan pentingnya memandang individu sebagai satu kesatuan yang utuh dan melibatkan keluarga serta lingkungan sosial dalam proses perawatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi implementasi Model Newman dalam perawatan stroke holistik dengan memperhatikan adaptasi budaya suku Banjar di Banjarmasin. Studi kasus ini dilakukan pada pasien stroke dengan latar belakang budaya yang khas. Metode yang digunakan adalah pengkajian holistik, intervensi keperawatan yang disesuaikan dengan budaya, dan evaluasi. Hasil studi kasus menunjukkan bahwa penerapan Model Newman dengan adaptasi budaya efektif dalam meningkatkan kondisi fisik dan psikologis pasien. Faktor pendukung keberhasilan perawatan adalah dukungan keluarga, keterlibatan aktif pasien, adaptasi budaya yang dilakukan perawat, dan integrasi pengobatan tradisional yang aman dan relevan. Studi kasus ini menunjukkan pentingnya adaptasi budaya dalam perawatan holistik untuk memenuhi kebutuhan unik pasien di kota Banjarmasin. Disarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut dengan populasi yang lebih besar dan mengembangkan program pendidikan untuk perawat tentang perawatan stroke holistik berbasis budaya Kata kunci: Model Newman. perawatan stroke holistik. adaptasi budaya. pengobatan tradisional ABSTRACT Stroke is a leading cause of mortality and disability in Indonesia. Newman's Systems Model offers a holistic approach to stroke care, emphasizing the importance of viewing individuals as a unified whole and involving family and social environment in the care process. This research aims to explore the implementation of Newman's Model in holistic stroke care with attention to the cultural adaptation of the Banjar tribe in Banjarmasin. This case study was conducted on a stroke patient with a distinctive cultural background. The methods used were holistic assessment, culturally-adapted nursing interventions, and evaluation. The results of the case study indicate that the application of Newman's Model with cultural adaptation is efficacious in improving the physical and psychological conditions of the patient. Factors contributing to the success of the care include family support, active patient involvement, cultural adaptation by nurses, and the integration of safe and relevant traditional medicine. This case study demonstrates the importance of cultural adaptation in holistic care to meet the unique needs of patients in Banjarmasin. Further research with a larger population and the development of educational programs for nurses on culturally-based holistic stroke care is recommended. Keywords: Newman's Model. holistic stroke care. cultural adaptation. traditional medicine. Pendahuluan Stroke Kota Banjarmasin, stroke menjadi perhatian serius karena prevalensinya yang cukup termasuk di Indonesia. Data Riset Data dari Survei Kesehatan Kesehatan Dasar (RISKESDAS) tahun Indonesia tahun 2018 menunjukkan 2023 menunjukkan Stroke menjadi bahwa sekitar 11 dari setiap 1,000 salah satu masalah kesehatan yang Data didiagnosis stroke oleh dokter. Angka menunjukkan bahwa sekitar 8 dari ini bahkan lebih tinggi dibandingkan setiap 1,000 penduduk berusia 15 prevalensi stroke secara nasional, yang tahun ke atas pernah didiagnosis stroke hanya sekitar 7 dari 1,000 penduduk. oleh dokter. Angka ini cukup tinggi. Jika dibandingkan dengan kota-kota menunjukkan bahwa stroke merupakan lain di Kalimantan Selatan. Banjarmasin menduduki peringkat ke-4 dalam hal Indonesia. Banjarmasin perhatian serius. Jika kita melihat lebih rinci ke berbagai daerah di Indonesia, prevalensi stroke tertinggi ternyata ada upaya pencegahan dan penanganan di Sulawesi Utara yang hampir 13 dari stroke yang lebih intensif di kota ini. Beberapa 1,000 Ini meningkatkan risiko stroke antara lain prevalensi stroke terendah ditemukan adalah tekanan darah tinggi, kolesterol di Papua Pegunungan, dengan angka tinggi, diabetes, obesitas, dan riwayat kurang dari 1 per 1,000 penduduk keluarga stroke. (Kementerian Sementara Kesehatan Republik Stroke tidak hanya menyebabkan Indonesia, 2. Meskipun kematian, tetapi juga kecacatan jangka panjang yang berdampak besar pada penyakit yang serius, tidak semua individu, keluarga, dan masyarakat, penderita melakukan kontrol kesehatan juga menjadi penyebab kematian dan secara rutin. Secara nasional, hanya kecatatan utama di Indonesia dan sekitar 49,2% penduduk yang pernah Dunia. Selain itu, stroke adalah salah didiagnosis stroke oleh dokter yang melakukan kontrol stroke ke fasilitas cenderung meningkat setiap tahunnya persepsi pasien dan keluarga tentang (Cameron et al. , 2. Meskipun Indonesia perawat (Mujiburrahman. Alfisyah and berbagai tingkatan fasilitas pelayanan Ahmad kesehatan untuk pasien stroke, mulai dari posyandu hingga pusat rujukan Syadzali. Studi Sugiatno, nasional, ketersediaan fasilitas dan implementasi Model Newman dalam sumber daya ini perlu dioptimalkan untuk mendukung implementasi model menekankan adaptasi budaya suku Model Banjar di Banjarmasin. Penelitian ini Newman penting karena adaptasi budaya dalam Kesehatan Sistem menawarkan pendekatan holistik yang kesatuan yang utuh, meliputi aspek kepatuhan terhadap pengobatan, dan perkembangan, dan spiritual (Wang. Huang and Jin, 2019. Gill and Wynja. Model ini mendorong perawat Melalui melibatkan pasien stroke dengan latar penanganan gejala fisik, tetapi juga belakang budaya suku Banjar di kota Banjarmasin yang khas, yaitu kuatnya pasien dan melibatkan keluarga serta terhadap pengobatan tradisional, kita dapat memahami secara mendalam Namun, penerapan Model Newman Model Newman di kota Banjarmasin pada masyarakat diaplikasikan dalam konteks budaya lokal dan mengidentifikasi faktor-faktor Banjar faktor budaya. Budaya masyarakat di kota Banjarmasin yang kental dengan Untuk itu, tujuan penulisan nilai-nilai kekeluargaan, gotong royong, dan kepercayaan terhadap pengobatan . mengeksplorasi implementasi Model Newman holistik mendalam mengenai adaptasi budaya Banjarmasin, dalam perawatan stroke. Mengidentifikasi faktor-faktor yang Untuk mempengaruhi keberhasilan perawatan Pertama, mengamati secara langsung Model Newman kondisi Tn. A, baik kondisi fisiknya, . Memberikan sosialnya selama menjalani perawatan. tenaga kesehatan dalam menerapkan Kedua. Model Newman yang adaptif terhadap budaya dalam perawatan stroke di keluarganya untuk mengetahui lebih Banjarmasin. Tn. terhadap penyakit stroke, pengobatan Metode Penelitian yang dijalani, serta peran perawat single-case. Model Newman dalam proses penyembuhan. Ketiga, pemeriksaan penunjang. Semua seorang pasien stroke berusia 60 tahun memiliki ikatan keluarga yang kuat dan Proses analisis ini bertujuan untuk belakang budayanya yang khas, yaitu penarikan kesimpulan dan verifikasi. sakit di kota Banjarmasin. reduksi data, penyajian data, serta yang sedang dirawat di salah satu Fokus penelitian ini adalah Tn. Tn. medis, hasil pemeriksaan fisik, dan hasil Banjar di kota Banjarmasin. Pemilihan dokumen terkait Tn. A, seperti rekam memperhatikan adaptasi budaya suku tentang penerapan Model Newman dalam perawatan stroke holistik dengan adaptasi budaya. Penelitian ini juga mengutamakan menunjukkan peningkatan tekanan aspek etika, di mana peneliti sudah darah dan denyut nadi. Hasil CT memperoleh persetujuan dari Tn. A dan scan kepala memperkuat diagnosis kerusakan jaringan di area otak kiri. identitas dan informasi pribadi mereka. Kondisi psikologis Tn. A tampak serta memperlakukan mereka dengan Dari sisi sosial dan budaya. Tn. tahun, dirawat di rumah sakit di Banjarmasin A adalah seorang kepala keluarga yang tinggal bersama istri dan tiga Stroke Iskemik. Tn. A memiliki Tn. model Newman terhadap Tn. Pemeriksaan mengalami kelemahan, ia kesulitan perkembangannya. Tn. A berada Dilihat gejala stroke iskemik yang cukup Secara fisik. Tn. A menunjukkan dan pengobatannya, serta percaya informasi tentang penyakit stroke dan penurunan kesadaran. Sisi Mereka aktif mencari kanan tubuh, kesulitan berbicara. Sebagai Untungnya, keluarga Tn. A sangat mengalami kelemahan pada sisi Pengkajian nafkah utama, ia memiliki peran terkontrol selama 10 tahun. Saat diri dari interaksi sosial. Tn. A, seorang laki-laki berusia 60 membuatnya cenderung menarik Pengkajian Keterbatasan Hasil Pada tahap ini, individu berfokus pada kontribusi mereka terhadap keluarga dan masyarakat. Sayangnya, stroke yang dialaminya memberikan dampak besar pada Implementasi dan Evaluasi produktivitas dan peran sosial Tn. Dalam upaya memulihkan kondisi Tn. Sebagai seorang muslim yang taat. Tn. A memiliki keyakinan spiritual yang kuat. Ia meyakini bahwa penyakit adalah ujian dari kebutuhan Tn. Tuhan dan berusaha menerima Pertama, dari sisi fisik, perawat kondisinya dengan ikhlas. Tn. dengan telaten melakukan latihan rentang gerak, baik pasif maupun kehati-hatian spiritual dari tokoh agama untuk membantunya melalui masa-masa sulit ini. Tn. Kondisi fisik Tn. A dipantau secara Nursing Care Plan ketat dengan memeriksa tekanan Rencana darah, denyut nadi, suhu tubuh. Model dan pernapasannya setiap 4 jam Newman dengan memperhatikan Tidak lupa, perawat sosiokultural, perkembangan, dan juga memberikan edukasi kepada Tn. Intervensi Tn. mencegah dekubitus dan infeksi, meningkatkan kemandirian Tn. sehingga mereka dapat berperan aktif dalam perawatan Tn. A di sehari-hari, rumah nantinya. Kedua, kecemasan dan frustasi yang Tn. kebutuhan spiritual Tn. memberikan dukungan emosional Nursing care plan dapat dilihat dengan mendengarkan keluhan- pada tabel 1. keluhannya secara empati. Selain itu, perawat juga melatih Tn. untuk Perawat menggunakan gambar, sehingga ia beribadah dan menjaga privasi Tn. A selama beribadah. Perawat juga mendukung keinginan Tn. A untuk kesulitan berbicara. Ketiga. Tn. dengan memfasilitasi kunjungan ustadz ke ruang rawat. Setelah Perawat memberikan edukasi kepada keluarga tentang menunjukkan perbaikan yang cara merawat pasien stroke di signifikan, baik secara fisik rumah, termasuk cara membantu maupun psikologis. Kekuatan Tn. A berpakaian, makan, dan Perawat Tn. Tn. berkomunikasi dengan lebih baik, dan kecemasannya berkurang. Tn. A juga lebih rileks dan bersemangat Keluarga Tn. A pun tradisional AubaurutAy sebagai terapi menjadi lebih percaya diri dalam Tn. bahwa terapi tersebut aman dan Keberhasilan perawatan ini tidak lepas dari dukungan keluarga yang Dalam berkomunikasi kuat, keterlibatan aktif Tn. A dalam dengan keluarga Tn. A, perawat proses perawatan, adaptasi budaya menggunakan bahasa lokal-bahasa yang dilakukan oleh perawat, serta Banjar, dan menghormati norma serta nilai-nilai budaya mereka. yang aman dan sesuai dengan Keempat, kebutuhan spiritual kondisi Tn. Asuhan keperawatan Tn. A juga dipenuhi dengan pada Tn. A dengan menggunakan Tn. Model Neuman dapat dilihat pada Tabel 1. Nursing care plan untuk Tn. A dengan masalah Stroke. Domain Fisik Masalah Keperawatan Gangguan mobilitas Tujuan Intervensi Meningkatkan mobilitas Risiko perfusi serebral tidak efektif Defisit perawatan diri Mempertahankan fungsi Mencegah komplikasi Latihan rentang gerak pasif dan aktif, fisioterapi, mobilisasi dini (Dukungan ambulasi. Mobilisas. Memantau tekanan darah, denyut nadi, suhu tubuh, dan pernapasan Memantau tanda-tanda infeksi, dekubitus, dan tromboemboli Risiko jatuh Risiko luka tekan Ansietas Mengurangi kecemasan Gangguan komunikasi Meningkatkan Defisit pengetahuan Melibatkan keluarga dalam perawatan Kesiapan peningkatan koping keluarga Mempertahankan peran sosial pasien Perkembangan Kesiapan peningkatan konsep diri Membantu pasien beradaptasi dengan kondisi sakit Spiritual Risiko Distres Spiritual Memenuhi kebutuhan Psikologis Sosiokultural Memberikan informasi yang jelas dan jujur tentang kondisi pasien, mendengarkan keluhan pasien, dan memberikan dukungan emosional Melatih pasien berkomunikasi dengan menggunakan gambar atau alat bantu bicara, melibatkan keluarga dalam Memberikan edukasi kepada keluarga tentang cara merawat pasien stroke di rumah, mendukung keputusan keluarga terkait pengobatan tradisional selama tidak bertentangan dengan pengobatan medis. Memfasilitasi pasien untuk berinteraksi dengan keluarga dan teman, mendukung pasien untuk kembali ke aktivitas sosial sesuai kemampuan Memberikan motivasi, dukungan dan edukasi kepada pasien untuk tetap produktif sesuai kemampuan, memfasilitasi pasien untuk mencari aktivitas baru yang sesuai dengan kondisi (Promosi harga diri, promosi Memfasilitasi pasien untuk beribadah sesuai keyakinan, mendukung pasien untuk berkonsultasi dengan tokoh agama jika membutuhkan Flexible Line of Defense Stressors: Being in the state of illness because of stroke and admitting in the hospital Primary Prevention Normal Line of Defense Secondary Intervention: Nursing care. treatment of Lines of Resistance Tertiary Prevention: Readaptation, reeducation to prevent future occurances, maintenance of stability C Physiological Psychological Sociocultural Developmental Spiritual Patient Stroke Stressors: Causes: Ischemia Stroke, hemorrhagic stroke, transient ischemic attack (TIA). Risk factors: Lifestyle risk factors: being overweight/obese, physical inactivity, heavy or binge drinking, use of illegal drugs (Cocaine and Medical risk factors: high blood pressure, cigarette smoking/secondhand smoke exposure, high cholesterol, diabetes, obstructive sleep apnea, having other cardiovascular diseases, personal/family history of stroke, covid-19 infection. Others: age >55 yo, race/ethnicity sex, hormones. Reconstitution Gambar 1. Aplikasi Neuman Sistem Model pada Tn. A dengan Stroke. Pembahasan Model Newman Pendekatan Neuman diterapkan dalam perawatan Tn. menawarkan pendekatan perawatan sangat relevan, terutama mengingat bahwa ia mengalami stroke iskemik Betty memandang pasien sebagai sistem jaringan dalam otak dan pasokan darah berbagai stresor dari lingkungan intra, yang tidak adekuat. Kerusakan ini inter, dan ekstra dirinya. Dalam model dapat disebabkan oleh berbagai faktor, ini, pasien terdiri dari beberapa unsur, termasuk perdarahan, aterosklerosis, yaitu fisiologis, psikologis, sosiokultural, atau bekuan darah(Laurent et al. perkembangan, dan spiritual. Unsur- Penelitian oleh (Papathanasiou, unsur ini dilindungi oleh struktur dasar Zamanzadeh atau inti yang disebut sebagai "flexible Gripshi. Jiao line of defence"(Wang. Huang and Jin, 2. menunjukkan bahwa dukungan Ketika stresor mengganggu atau merusak flexible line of defence, maka perawatan stroke dapat meningkatkan flexible line of resistance akan aktif. kepuasan pasien dan hasil kesehatan. Proses transisi dari flexible line of Dalam pengalaman Tn. A, kepuasan defence ke flexible line of resistance terhadap perawatan yang diberikan sangat dipengaruhi oleh perawat yang berkelanjutan dari kondisi wellness selalu mendengarkan keluh kesahnya menuju illness. Dalam konteks ini, dan melibatkan keluarganya dalam intervensi keperawatan dapat dilakukan setiap keputusan perawatan. Hal ini dalam tiga tahap penting: primary prevention, secondary prevention, dan prinsip dari Newman system model tertiary prevention. Dengan demikian, dalam praktik perawatan. model ini memberikan kerangka kerja Selain itu, terdapat banyak faktor yang komprehensif untuk memahami terjadinya stroke, mulai dari masalah secara menyeluruh, terutama dalam gaya hidup hingga faktor medis dan perawatan pasien seperti Tn. Dalam Tn. perawatan Tn. A di rumah sakit. Etika dalam perawatan kesehatan merupakan aspek yang tidak dapat mencerminkan pentingnya pendekatan diabaikan (Koslander, da Silva and Roxberg. Setiap Penelitian oleh (Basri et al. dan (Veesart and Johnson, 2. berdasarkan persetujuan Tn. A dan kerahasiaan informasi, sejalan dengan prinsip-prinsip etika yang diuraikan oleh kepatuhan pasien terhadap perawatan (Lesandrini Leclerc, medis yang diberikan. Dalam kasus Tn. Penelitian keterlibatan pasien dalam pengambilan diterima dengan baik oleh perawat keputusan meningkatkan kepuasan dan berkontribusi pada rasa percaya diri hasil kesehatan (Skyvell Nilsson et al. dan kenyamanan Tn. A selama proses Hal ini terlihat jelas dalam interaksi kami dengan Tn. A dan Meskipun pengobatan tradisional keluarganya, di mana mereka aktif BaAourut yang dilakukan oleh Tn. A dan keluarganya sering digunakan untuk menciptakan rasa saling percaya yang mengobati patah tulang Rachman et penting dalam hubungan terapeutik. , . praktik ini juga dapat Dua aspek kritis yang menjadi membantu meningkatkan kemampuan fokus dalam perawatan Tn. A adalah keyakinan spiritual dan keterlibatan kelemahan, seperti yang ditunjukkan Penelitian oleh Carpenter et oleh Tn. Meskipun praktisi BaAourut , . dan Kliewer & Saultz, . spiritual berperan sebagai mekanisme kepercayaan dari pasien serta keluarga koping positif bagi pasien dengan membuat perawatan tradisional ini penyakit serius. Tn. A menerima kondisi spiritual, sebuah perspektif yang tidak pengobatan tradisional dan kolaborasi psikologisnya tetapi juga mempercepat lingkungan terapeutik yang inklusif. proses penyembuhan. Dalam konteks Kombinasi antara dukungan spiritual, ini, keyakinan spiritualnya memberikan partisipasi keluarga, dan praktik budaya makna dan harapan, yang sangat lokal, seperti BaAourut, tidak hanya penting dalam menghadapi tantangan memperkuat kepatuhan pasien tetapi kesehatan yang berat. Keterlibatan keluarga juga terbukti meningkatkan terhadap sistem perawatan kesehatan Dengan demikian, adaptasi budaya menjadi fondasi yang penting Keluarga Tn. dalam menciptakan rencana perawatan yang komprehensif dan efektif. keputusan medis, tetapi juga terlibat Kebaruan dalam penerapan terapi komplementer perawatan Tn. A terletak pada sinergi seperti pijat tradisional. Penelitian oleh antara keyakinan spiritual, pengobatan Field tradisional, dan protokol medis modern terapi komplementer seperti pijat dapat banyak studi mendukung pendekatan emosional bagi pasien stroke, sehingga holistik, hanya sedikit yang secara keluarga dalam proses perawatan. Meskipun Keberhasilan pendekatan holistik kerangka perawatan berbasis bukti. pada Tn. A tidak terlepas dari adaptasi Dalam kasus Tn. A, praktik BaAourutAi yang umumnya digunakan untuk patah rencana perawatan. Penelitian oleh tulangAiternyata Cheraghi et al. , . menegaskan terhadap latar belakang budaya pasien tradisional dalam konteks patologi yang merupakan kunci dalam merancang Hal ini memberikan wawasan intervensi yang efektif. Dalam kasus baru bagi praktisi keperawatan dalam Tn. A, pengakuan terhadap praktik merancang rencana perawatan yang lebih komprehensif, yang tidak hanya Dengan demikian, pendekatan holistik konvensional tetapi juga menghargai kompleksitas individu pasien dapat nilai-nilai budaya dan spiritual pasien. menjadi kunci dalam meningkatkan Meskipun Model Newman yang kualitas perawatan kesehatan. Keterbatasan penelitian holistik, peneliti menyadari adanya Keterbatasan penelitian ini terletak pada deskripsi kasus pasien Tn. A yang Penelitian oleh (Wang. Huang and Jin, 2. menunjukkan bahwa modelmodel prinsip-prinsip Untuk disarankan agar melibatkan lebih dari karena itu, pengalaman dalam merawat analisis yang lebih mendalam mengenai Tn. A menunjukkan bahwa pendekatan berbasis bukti yang mengintegrasikan model Neuman dengan pasien lain. terwakili dalam model tersebut. Oleh untuk membandingkan implementasi mempertimbangkan faktor-faktor lain pasien, yang membatasi kemampuan Model Newman diterapkan, penting untuk itu, penelitian ini hanya melibatkan satu hasil secara objektif. Dalam konteks Tn. tidak sepenuhnya komprehensif. Selain abstrak dapat menyulitkan pengukuran pemberian asuhan keperawatan. keluarga, dan pengobatan tradisional Kesimpulan dapat meningkatkan kepuasan pasien Studi dan hasil kesehatan. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengeksplorasi Model stroke holistik, dengan memperhatikan elemen-elemen ini dapat diintegrasikan adaptasi budaya, dapat meningkatkan dalam praktik keperawatan sehari-hari, serta untuk mengembangkan model pasien di Banjarmasin. Adaptasi budaya perawatan yang lebih inklusif dan yang dilakukan mencakup penggunaan adaptif terhadap kebutuhan pasien. bahasa lokal, pelibatan keluarga, serta Newman penghormatan terhadap kepercayaan keperawatan yang berbasis budaya untuk meningkatkan kualitas pelayanan pengobatan tradisional yang aman dan Temuan Ucapan Terimakasih kesehatan bagi pasien stroke. Peneliti Yayasan Suaka Insan Suster-suster masyarakat yang memiliki budaya yang Santo Paulus dari Chartres dan STIKES Suaka Insan mendukung bagi pasien. pelaksanaan penelitian ini. Ucapan Saran