p-ISSN: 2808-2443 e-ISSN: 2808-2222 Volume. No. 6, 2025 Indo-Fintech Intellectuals: Journal of Economics and Business MAKNA LABA BAGI KELOMPOK TENUN LO`A ULIMURI Yulista Indryani1. Kristina Valen Kado2. Asmara3 1,2,3 Article History Received: 15-01-2025 Revision: 19-01-2025 Accepted: 25-01-2025 Published: 09-02-2025 Universitas Nusa Nipa. Alok Timur. Nusa Tenggara Timur Email: indryani08168@gmail. Abstract. This research aims to explore the meaning of profit for the Lo'a Ulimuri weaving group, focusing on how profit is perceived and utilized by business actors in this community. Using a qualitative approach, this study involves indepth interviews with members of the weaving group to explore their views on The results of the study show that for the Lo'a Ulimuri weaving group, profit is not only seen as the fulfillment of financial needs, but also as a symbol of cultural heritage. Profit is considered important for the welfare of group members, strengthening social ties by establishing brotherly love in joys and sorrows, and preserving the cultural heritage of weaving. This research reveals a broader and deeper meaning of profit, covering social, cultural, and economic These findings provide insight into the importance of profit in cultural and community contexts, as well as its impact on sustainable and inclusive economic empowerment strategies. Keywords: Meaning of profit. Lo'a Ulimuri Weaving Group Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi makna laba bagi kelompok tenun Lo`a Ulimuri, dengan fokus pada bagaimana laba dipersepsikan dan dimanfaatkan oleh para pelaku usaha dalam komunitas ini. Menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini melibatkan wawancara mendalam Bersama anggota kelompok tenun untuk menggali pandangan mereka mengenai laba. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bagi kelompok tenun Lo`a Ulimuri, laba tidak hanya dipandang sebagai pemenuhan kebutuhan finansial, tetapi juga sebagai simbol warisan budaya. Laba dianggap penting untuk mensejahterakan anggota kelompok, memperkuat ikatan sosial dengan menjalin tali kasih persaudaraan dalam suka maupun duka, dan melestarikan warisan budaya tenun. Penelitian ini mengungkapkan makna laba yang lebih luas dan mendalam, mencakup dimensi sosial, budaya, dan ekonomi. Temuan ini memberikan wawasan tentang pentingnya laba dalam konteks budaya dan komunitas, serta dampaknya bagi strategi pemberdayaan ekonomi yang berkelanjutan dan Kata Kunci: Makna laba. Kelompok Tenun Lo`a Ulimuri How to Cite: Indryani. et al. Makna Laba Bagi Kelompok Tenun Lo`A Ulimuri. Indo-Fintech Intellectuals: Journal of Economics and Business, 4 . , 3485-3491. 54373/ifijeb. Indryani. et al. Makna Laba Bagi Kelompok A PENDAHULUAN Kelompok tenun Lo`a Ulimuri terdiri dari kumpulan mama-mama atau ibu-ibu di Desa Ona Nangahure. Kelurahan Hewuli. Kecamatan Alok Barat. Kabupaten Sikka. Masyarakat Kampung Ona Nangahure adalah warga transmigrasi dari kampung Ona di Palue, yang mengungsi dari Pulau Palue saat Gunung berapi Rokatenda meletus beberapa waktu lalu. Dalam Bahasa Palue. Lo`a berarti pondok yang merupakan tempat untuk menyimpan hasil kerja dari Masyarakat atau untuk melakukan sesuatu yang berguna, seperti menenun. Ulimuri atau tunas baru merupakan harapan Masyarakat agar warisan dari leluhur berupa tenun dapat dilestarikan secara turun-temurun. Masyarakat Kampung Ona Nangahure adalah warga transmigrasi dari kampung Ona di Palue, yang mengungsi dari Pulau Palue saat Gunung berapi Rokatenda meletus beberapa waktu lalu. Para Wanita dalam kelompok ini melihat laba sebagai sarana untuk memberdayakan diri mereka sendiri dan komunitas. Melalui kegiatan tenun, mereka tidak hanya mendapatkan penghasilan untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga, tetapi juga mengembangkan keterampilan, meningkatkan kepercayaan diri, dan memperkuat ikatan sosial di antara mereka. Selain itu, laba yang diperoleh juga digunakan untuk melestarikan budaya lokal. Menurut Maghi . , menyatakan bahwa tenun adat Palue merupakan seni yang diturunkan oleh nenek moyang Masyarakat Palue yang digunakan sebagai kain adat dan sumber mata pencaharian. Masyarakat Palue menyakini bahwa pada saat menenun dilarang untuk mengeluarkan kata-kata kotor. Kain tenun yang dihasilkan memiliki makna-makna tersirat dalam setiap motif yang dibuat. Menurut Maghi . Terdapat beberapa arti yang terkandung dalam berbagai jenis motif kain tenun dari kelompok Lo`a Ulimuri yaitu, . motif Mudhu. Mudhu yang berarti gunung merupakan simbol dari gunung Rokatenda, satu-satunya gunung berapi di Palue. Pada tahun 2013. Gunung Rokatenda meletus hingga menyebabkan Sebagian besar warga berbondong-bondong berpindah dari pulau tersebut. Oleh karena itu. Masyarakat mengabadikan momenya melalui motif mudhu ini. Motif Watu To`o Tanah atau batu dan tanah, dimana Masyarakat menggunakan kerikil dan batu yang bertebaran pada saat Gunung Rokatenda meletus sebagai simbol terpisahnya Masyarakat saat itu dengan keluarga dan kampung halamannya hingga membentuk berbagai kelompok di tempat pengungsian baru. Motif Pou atau perahu yang diciptakan untuk mengenang proses mengungsi dari Palue menuju Hewuli. Terakhir adanya motif Manu atau ayam. Ayam bagi Masyarakat Palue merupakan hewan kurban yang digunakan pada beberapa acara adat. Selain itu, ayam juga digunakan sebagai tanda bagi Masyarakat Palue untuk Bersiap-siap bekerja jika ayam sudah setiap hasil tenun yang dibuat memiliki nilai artistic dan simbolik yang Indryani. et al. Makna Laba Bagi Kelompok A mencerminkan identitas budaya Palue. Tetapi dengan seiring waktu bertambah banyak motif sarung yang dibuat dengan mengikuti permintaan pasar seperti motif burung dan lainnya. Kelompok tenun ini juga menghadapi berbagai tantangan, seperti keterbatasan akses tempat dalam berjualan di pasar-pasar. Oleh karena itu, memahami makna laba secara holistik sangat penting bagi mereka untuk mengatasi hambatan tersebut dan memastikan keberlanjutan usaha tenun ini (Seran. Selly & Mardani, 2. Dengan demikian, penelitian mengenai makna laba bagi kelompok tenun Lo'a Ulimuri dari Palue, yang terdiri dari wanita, memberikan wawasan tentang bagaimana keuntungan ekonomi dapat berfungsi sebagai alat untuk pemberdayaan, pelestarian budaya, dan peningkatan kesejahteraan komunitas. Harapannya, temuan ini dapat digunakan untuk mengembangkan strategi yang mendukung keberlanjutan dan pertumbuhan usaha tenun tradisional di tengah tantangan modernisasi. LANDASAN TEORI Laba Laba dapat secara langsung menggambarkan kondisi keuangan perusahaan tersebut dinyatakan bagus dan kapabel dalam mengelola operasional Organisasi. Leite & Moreira, . menyatakan bahwa dengan adanya laba, pemilik perusahaan mampu melakukan berbagai macam kebijakan terkait dengan keuangan, perluasan perusahaan, melaksanakan kewajiban terhadap pemerintah sehingga mampu membagi dividen kepada para pemegang Laba adalah salah satu indikator kinerja yang paling penting bagi setiap usaha. Penghitungan laba melibatkan pengurangan semua biaya operasional, termasuk biaya produksi, tenaga kerja, pemasaran, dan administrasi, dari total pendapatan yang diperoleh dari penjualan barang atau jasa. Laba diukur dan dilaporkan melalui laporan keuangan, khususnya laporan laba rugi. Metode akrual sering digunakan dalam akuntansi bisnis, di mana pendapatan dan biaya diakui saat terjadinya transaksi, bukan saat kas diterima atau dibayar. Pendekatan ini memberikan gambaran yang lebih akurat tentang kinerja keuangan perusahaan selama periode tertentu dan membantu pemangku kepentingan dalam menilai kesehatan finansial perusahaan. Ada perbedaan penting antara laba ekonomi dan laba akuntansi dalam bisnis. Laba memiliki peran yang sangat penting dalam bisnis. Laba tidak hanya menunjukkan seberapa baik kinerja finansial perusahaan, tetapi juga berfungsi sebagai dasar untuk pengambilan keputusan manajerial. Selain itu, laba memberikan insentif bagi pemilik dan untuk terus mendukung bisnis. Laba juga merupakan sumber dana untuk pembiayaan operasional, dan inovasi. Laba penting bagi keberlanjutan usaha dalam jangka panjang. Dengan Indryani. et al. Makna Laba Bagi Kelompok A laba yang memadai, perusahaan dapat berinovasi, beradaptasi dengan perubahan pasar, dan menghadapi tantangan keuangan. Laba yang berkelanjutan menunjukkan bahwa bisnis memiliki dasar yang kuat untuk tumbuh dan berkembang di masa depan. Laba juga memastikan bahwa perusahaan dapat terus beroperasi dan memberikan manfaat ekonomi bagi semua pemangku kepentingan. Makna laba menurut akuntansi menggambarkan kondisi surplus keuangan perusahaan Lowe et al . , akan tetapi deskripsi terhadap kondisi surplus keuangan telah. pergeseran makna bahkan dapat dikatakan sebagai sebuah ketidakstabilan pemahaman (Rochayatun & Andriyani, 2. Ketidaksesuai makna laba dapat disebabkan oleh berbagai macam hal, menurut Stephen et al . berasal dari berbagai macam pola pandang antara lain berasal dari perbedaan pendidikan, pengalaman, profesi, pengalaman, pengetahuan, bahkan budaya yang dianut dan diyakini seseorang yang terlibat dalam fenomena eksposisi atas makna laba tersebut (Rochayatun & Andriyani, 2. Namun semua penelitian tersebut belum menyinggung deskripsi laba berdasarkan sudut pandang dari pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Tenun Ikat. METODE Penelitian ini menggunakan jenis penelitan kualitatif dengan pendekatan fenomenologi. Pendekatan ini bertujuan untuk memahami pengalaman subjektif dan pandangan pengrajin tenun ikat mengenai makna laba, baik sebagai keuntungan finansial maupun sebagai simbol warisan budaya. Data yang dikumpulkan melalui wawancara kepada anggota kelompok tenun LoAoa Ulimuri di Desa Ona Nangahure. Kelurahan Hewuli. Kecamatan Alok Barat. Kabupaten Sikka. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi makna laba bagi kelompok tenun LoAoa Ulimuri di Desa Ona Nangahure. Kelurahan Hewuli. Kecamatan Alok Barat. Kabupaten Sikka. Berdasarkan wawancara mendalam bersama 15 anggota tenun ikat, ditemukan beberapa temuan utama yang menggambarkan makna laba dari berbagai perpektif adalah sebagai Laba sebagai Keuntungan Finansial Bagi anggota tenun, mereka menilai bahwa laba sebagai hasil ekonomi yang langsung berhubungan dengan pendapatan dari usaha mereka dalam membuat dan menjual hasil tenun. Indryani. et al. Makna Laba Bagi Kelompok A Dalam wawancara seorang penenun senior yakni Ibu Loren mengatakan AuKalau ada lebih, kami tabung untuk biaya kuliah anak-anak. Kami ingin mereka bisa sekolah setinggi-tingginya, meskipun kami hanya seorang penenun. Ay Selain itu ketua dari kelompok tenun ikat Lo,a Ulimuri juga mengatakan AuSetiap laba yang kami dapat dari menjual kain tenun, kami gunakan untuk beli beras, minyak goreng, dan keperluan dapur lainnya. Kalau tidak ada laba, sulit untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,Ay Berdasarkan hasil wawancara jelas bahwa laba sangat Laba ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, membayar biaya pendidikan anak, serta membeli bahan baku untuk produksi berikutnya. Sebagian besar anggota tenun LoAoa Ulimuri menganggap laba sebagai pendapatan utama yang menggerakan ekonomi Laba sebagai Simbol Keberlanjutan Budaya Selain sebagai keuntungan finansial, laba juga dimaknai sebagai cara untuk mempertahankan tradisi tenun LAooa Ulimuri. Para anggota menyadari bahwa dengan mendapatkan laba, mereka dapat terus melestarikan budaya tenun yang telah ada selama puluhan tahun. Sebagian laba digunakan untuk kegiatan sosial dan pelatihan bagi generasi muda agar mereka tertarik dan dapat melanjutkan tradisi ini seperti yang dikatakan oleh Ibu Ave dalam wawancaranya yakni, "Kami ikut pameran dan pakai laba untuk promosi. Dengan cara ini, orang-orang dari luar tahu bahwa kain tenun dari desa kami punya nilai budaya yang Laba sebagai Alat untuk Meningkatkan Kesejahteraan Sosial Dalam wawancara salah satu anggota tenun LoAoa Ulimuri yakni Ibu Koni mengatakan AuKami sering membantu sesama anggota yang membutuhkan bantuan modal untuk membeli bahan baku. Laba yang didapatkan bisa digunakan untuk saling mendukung,Ay Selain kepentingan pribadi, terbukti bahwa laba juga digunakan untuk mendukung kesejahteraan sosial di kelompok tenun LoAoa Ulimuri. Para anggota sering kali menyisihkan sebagian laba mereka untuk membantu sesama dengan menyumbang untuk acara adat, kedukaan, atau membantu keluarga yang membutuhkan. Laba memiliki nilai sosial yang kuat karena berkontribusi pada kesejahteraan bersama. Pembahasan Dalam konteks ekonomi, laba bagi anggota tenun LoAoa Ulimuri merupakan suatu keuntungan finansial yang memiliki peran penting sebagai sumber pendapatan utama yang mendukung kelangsungan hidup mereka. Namun ada tantangan terkait dengan fluktuasi harga bahan baku dan keterbatasan pasar yang sering mempengaruhi laba yang mereka peroleh. Indryani. et al. Makna Laba Bagi Kelompok A Meskipun demikian, mereka menunjukan ketahanan dan adaptasi terhadap tantangan ini dengan meningkatkan kualitas dan diversifikasi produk mereka. Makna laba juga sangat terkait sebagai simbol keberlanjutan budaya. Kelompok tenun LoAoa Ulimuri bukan sekedar produk ekonomi, tetapi bagian dari identitas budaya yang diwariskan turun-menurun. Laba dianggap sebagai salah satu cara untuk memastikan bahwa seni tenun ini dapat bertahan dan terus dihargai oleh generasi mendatang. Aspek sosial juga sangat kuat dalam makna laba bagi kelompok tenun LoAoa Ulimuri. Laba tidak hanya dipandang sebagai keuntungan pribadi, tetapi juga sebagai alat untuk meningkatkan kesejahteraan sosial komunitas tenun ikat ini. Laba yang diperoleh dari penjualan tenun sering digunakan untuk kepentingan bersama, seperti menyumbang dalam acara adat atau membantu sesame anggota yang membutuhkan bantuan modal. Hal ini menunjukan bahwa dalam kelompok tenun LoAoa Ulimuri, laba tidak hanya berfungsi untuk keuntungan idividu, tatapi juga untuk memperkuat struktur sosial yang ada dan membentuk sistem yang saling mendukung. Meskipun laba memiliki banyak makna positif, kelompok tenun LoAoa Ulimuri juga menghadapi tantangan besar dalam mempertahankan tingkat laba yang konsisten. Fluktuasi harga bahan baku, persaingan dari produk luar daerah, dan ketergantungan pada pasar lokal yang terbatas menjadi kendala utama. Selain itu, permintaan lokal yang tidak selalu stabil membuat laba yang diperoleh seringkali tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan jangka Panjang. Hal ini mempengaruhi daya saing produk dan kemampuan mereka untuk terus berkembang secara ekonomi. KESIMPULAN Makna laba bagi kelompok tenun LoAoa Ulimuri melibatkan dimennsi ekonomi, budaya, dan sosial. Laba tidak hanya dipandang sebagai keuntungan finansial, tetapi juga sebagai simbol keberlanjutan tradisi budaya, serta alat untuk meningkatkan kesejahteraan sosial. Namun, mereka menghadapi tantangan besar dalam mencapai laba yang stabil, terutama terkait dengan fluktuasi harga dan keterbatasan pasar. Oleh karena itu, penting bagi pemerintah dan lembaga terkait untuk memberikan dukungan agar mereka dapat terus berkembang dan mengatasi tantangan ini dan meningkatkan daya saing produk tenun LoAoa Ulimuri. Indryani. et al. Makna Laba Bagi Kelompok A REFERENSI