Artikel Penelitian Artikel Penelitian Pengaruh Tekanan Telapak Kaki Bagian Depan terhadap Faktor Risiko Sindrom Premenstruasi padaMahasiswi Sampel Urban Pemakaian Hak Tinggi dan Indeks Massa Tubuh FKUI Jakarta Februari-Maret 2018 Handy Winata*. Deswaty Furqonita**. Nyoman Murdana*** Keisha D. Christie1. Theresia Citraningtyas2. Elly Ingkiriwang2. Aries *Dosen bagianSoesanto Anatomi FK UKRIDA **Dosen bagian Anatomi FK UI Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana ***Dosen Rehabilitasi Medik RSCM Staf Pengajar Bagian IKJ Fakultas Kedokteran Universitas Kristen11510 Krida Wacana Alamat Korespondensi : Jl. Terusan Arjuna Utara No. 6 Jakarta Staf Pengajar Bagian IKM Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana E-mail: hand_y19@yahoo. Alamat Korespondensi: keisha. 2014fk078@civitas. Abstrak Pendahuluan. Abstrak Pada saat berdiri, beban berat badan di titik tumpu telapak kaki akan dibagi rata pada depan oleh tulang sesamoid kapitulum ossi I serta Sindrom (PMS) II-IVproduktivitas dan bagian belakang Hal dan kualitas hidup. Untuk memahami sindrom premenstruasi yang terjadi hak tinggi,perkotaan, pada keadaan seperti penelitian ini tekananterhadap akan lebih besar pada Perbedaan IMT pada seseorang perubahanPenelitian ini atau . sia saat ini, akan mempengaruhi ketika berdiri jumlah anak,tekanan hak tinggi, yang sindrom akan memberi beban lebih besar pada sampel kaki bagian Tujuan. Pengambilan Menilai tekanancross-sectional telapak kaki bagian pada perempuan pemakaian hak pada depan di menilai Nafiri tekanan Discipleship kaki Church bagian depan IMT subjekpopulasi Metode. deskriptif analitik Central Park untuk mewakilkan DataSurvei yang dikumpulkan Hasil. Pada pengaruhDidapatkan tekanan telapak kaki bagian depan terhadap dengan potong uji korelasi Spearman. 75 subjek IMT dan tinggi subjek hasil uji berusia analisis 22-29 P = 0,000. pada pengaruh Karakteristik belum Dan kaki bagian tinggi,gelar tanpaD3/S1, hak dengan hak 5 cm, hak dengan pada usia tahun,hak dan memiliki cm, dan hak 5premenstruasi. cm dengan hak 12 skrining cm didapat hasil Premenstrual uji analisis kesemuanya P =Tool 0,000. Hasil Symptoms dengan Screening Kesimpulan. Terdapat pengaruh kaki bagian terhadap pemakaian (PSST) menunjukkan 58,7% tekanan ringan atauhak dan IMT. bergejala, diikuti dengan 37,3% responden sugestif PMS sedang sampai berat. Ditemukan hubungan signifikan antara hasil skrining dengan variabel usia menarche . =0,. dan Katariwayat kunci :keluarga tekanan telapak sepatu hak indeks massa yang dapat mengganggu . =0,. Penelitian produktivitas dan kualitas hidup perempuan daerah perkotaan. Satu dari tiga perempuan pada sampel ini mengalami PMS sedang sampai berat. Perlu dilakukan penelitian lanjutan untuk Abstract menelusuri peran faktor risiko terhadap timbulnya PMS. Introduction. While standing, weight load on the pivot foot will be shared equally at the front by a the metatarsal ossi osseum I and II-V and the back Katabone foot by a medial processus tuberis calcanei. It would be different if wearing high heel, at this position plantar pressure will be greater on the forefoot. Difference or a problem on someone BMI can result in anatomic that will the pressure supported by the foot, when normal or Risk Factors Premenstrual Syndrome Women in an Urban when wearing high heel, such as the use of high heels which will give greater pressure to forefoot. Sample in Jakarta. February-March 2018 The aim of this research is to determine, how the effect of wearing high heel and body mass index to forefoot plantar pressure. Methods. Descriptive analytic survey with a cross-sectional design. Abstract Results. Effect of forefoot plantar pressure at different BMI acquired from analysis results with P = Premenstrual a collection of wearing and effect ofsyndrome forefoot (PMS) with highand of life. To high of PMS cm, no 12 cm, and high heelin5 urban cm with high heelpotential 12 cm, risk were assessed. The research aimed to identify the correlation of risk factors . ge, age of analysis results with P = 0. Conclusion. Forefoot plantar pressure have a effect of different BMI status, parity, education, socioeconomic and employment, family histor. and when high heel. with PMS. The research used cross-sectional purposive sampling among women of at Nafiri Discipleship Church Keywords: plantar age high-heeled shoes, body massCentral Park to represent an urban The data was analyzed using Spearman bivariate correlation test. A total of75 women participated. The majority was 22-29 years, single, reported their first menstruation at 13-15 years of age, had obtained a bachelorAos degree/university diploma, and reported a family history of PMS. Screening results using Premenstrual Symptoms Screening Tool Kedokt Meditek Volume 24. No. Okt-Des 2018 Faktor Risiko Sindrom Prenebstruasi (PSST) showed that 58. 7% of respondents were asymptomatic or had mild PMS, with 37. respondents were suggestive moderate to severe PMS. Significant correlation obtained between screening results with age of menarche . =0. and family history . =0. This portrays a problem that potentially hinders productivity and quality of life in urban women. One of third sample suffered from medium to severe PMS. Further studies need to be conducted among other urban populations to look further into the role of risk factors in PMS. Keywords: premenstrual syndrome, urban women, reproductive health Pendahuluan Metode Penelitian Sindrom premenstrual syndrome (PMS) merupakan kumpulan gejala fisik maupun emosional yang terjadi beberapa hari sebelum 1 PMS terjadi dalam fase luteal dalam siklus menstruasi. 2 Sekitar 80% perempuan diduga menderita PMS. 3 Di masyarakat luas, masih ditemukan perspektif yang menyatakan bahwa PMS bukan penyakit, dan hanya merupakan kejadian normal pada perempuan. 2 Padahal. PMS produktivitas kerja, serta menimbulkan kendala dalam hubungan dengan keluarga, teman, atau rekan kerja, maupun dalam kehidupan sosial serta tanggung jawab Penyebab terjadinya PMS hingga saat ini belum diketahui dengan jelas. 1 Beberapa teori yang masih digunakan hingga saat ini erat kaitannya dengan hormon seks dan steroid pada perempuan. 1 Menurut teori tersebut, sebagian perempuan lebih sensitif terhadap hormon progesteron dan estrogen. Selain itu, ada juga teori bahwa perempuan yang mengalami PMS memiliki kadar serotonin yang lebih rendah. Penelitian sebelumnya menunjukkan siklus menstruasi dipengaruhi oleh faktor 5 PMS juga dapat berdampak pada fungsi sosial dan pekerjaan. Perempuan urban . merupakan kelompok khusus yang perlu diteliti. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan PMS pada kelompok perempuan perkotaan. Selain itu, penelitian ini dapat bermanfaat untuk memperluas wawasan dan pengetahuan masyarakat mengenai PMS dan dapat meningkatkan kesadaran subjek penelitian terhadap gejala PMS yang dideritanya. Dalam penelitian ini, populasi yang digunakan adalah perempuan yang beribadah di Nafiri Discipleship Church Central Park. Jakarta Barat. Subjek penelitian diambil dengan cara purposive sampling, yaitu memilih subjek sesuai dengan karakteristik dan tujuan penelitian. Karakteristik subjek yang mengalami sindrom premenstruasi adalah perempuan dalam usia produktif. Peneliti membagikan kuisioner pada subjek yang memenuhi kriteria dan bersedia untuk menjadi responden. Subjek juga telah menerima informed consent dan penjelasan Instrumen yang digunakan adalah Premenstrual Symptoms Screening Tool (PSST) sesuai rekomendasi Royal College of Obstetrics and Gynaecologists. 1 dan kuisioner data diri yang mencakup status perkawinan, jumlah anak, usia menarche, pendidikan, pekerjaan, pendapatan per bulan, pengeluaran pribadi, pengeluaran keluarga, dan riwayat keluarga. PSST sudah banyak digunakan di Indonesia dengan banyak versi 4 Penelitian ini menggunakan PSST asli dengan tambahan penjelasan/keterangan, sesuai dengan kondisi bahwa populasi tersebut merupakan kelompok urban Jakarta yang berkegiatan rutin dalam Bahasa Inggris. Pengambilan data dilakukan satu kali, dengan pendekatan cross-sectional. Data yang diambil disortir kedalam tolok ukur yang sudah ditentukan dan disajikan dalam tabel, serta dianalisis dengan uji korelasi bivariat Spearman untuk variabel nominalordinal dan numerik-ordinal. Sampel perempuan usia 18-35 tahun di Nafiri Discipleship Church Central Park Jakarta Barat yang datang beribadah pada bulan Februari-Maret Sampel memenuhi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi, diantaranya perempuan yang tidak Kedokt Meditek Volume 24. No. Okt-Des 2018 Faktor Risiko Sindrom Prenebstruasi menggunakan kontrasepsi hormonal, tidak sedang hamil, tidak merokok, dan tidak menderita ketergantungan alkohol. Menurut World Health Organization (WHO), perempuan usia subur adalah perempuan dalam rentang usia 15-49 tahun. Batas bawah usia sampel pada penelitian ini adalah usia 18 tahun berdasarkan patokan umur yang dianggap kompeten untuk mengambil keputusan untuk menjadi 9 Selain itu, dibutuhkan waktu 1-2 tahun setelah menarche untuk terjadinya maturitas kelenjar seks dan steroid yang dapat mengatur siklus menstruasi menjadi Batas atas usia sampel adalah 35 tahun, dengan pertimbangan bahwa pada usia 35 tahun ke atas gejala premenstruasi didapatkan lebih ringan dibandingkan usia lebih muda, serta untuk menyingkirkan peningkatan risiko terjadinya mioma uteri seiring meningkatnya usia. 11 Peneliti International Society for Premenstrual Disorders (ISPMD) yang membagi Premenstrual Disorders (PMD) menjadi tipikal dan atipikal. 12 Dalam penelitian ini, cakupan peneliti hanya di ranah PMD tipikal, dengan PMS yang ada dominan gejala fisik atau PMS dengan dominan gejala emosional (Premenstrual Dysphoric Disorder-PMDD). 12 Sehingga. PMD atipikal yang disebabkan karena penyakit lain yang memperberat gejala premenstruasi berada di luar cakupan Kaji Etik Penelitian ini telah mendapatkan keterangan lolos kaji etik dari Komite Etik Penelitian Medis & Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana. Jakarta Barat dengan nomor 522/SLKEIM/UKKW/FK/KE/ II/2018. Analisis Statistik Penelitian ini menggunakan uji hipotesis non-parametrik, yaitu korelasi bivariat Spearman dengan menggunakan software IBM SPSS versi 24. Kedokt Meditek Volume 24. No. Okt-Des 2018 Hasil Penelitian Jumlah total subjek yang mengisi instrumen penelitian sebanyak 78 orang. Tiga sampel dikeluarkan karena data yang tidak lengkap . idak mengisi data dir. Variabel bebas yang diukur pada subjek dalam penelitian ini adalah: usia saat ini, status perkawinan, jumlah anak, usia pendapatan per bulan, pengeluaran pribadi, pengeluaran keluarga, dan riwayat keluarga. Hasil yang diperoleh untuk masing-masing variabel bebas terdapat pada Tabel 1. Berdasarkan PSST, sepertiga responden melaporkan kondisi yang sugestif PMS sedang sampai berat. Bahkan 4% melaporkan kondisi yang sugestif PMDD. Diagram hasil skrining berdasarkan PSST dapat dilihat pada Gambar Gambar 1. Grafik Persentase Hasil Skrining PMS dengan PSST Tabel 2. Analisis Korelasi Bivariat Variabel Penelitian dengan PMS Hubungan Variabel Usia saat ini-PMS Usia menarchePMS Status perkawinanPMS Jumlah anak-PMS Pendidikan-PMS Pekerjaan-PMS Pendapatan/bulanPMS Pengeluaran pribadi-PMS Pengeluaran keluarga-PMS Riwayat keluargaPMS 0,684 Koefisien 0,048 0,005 (-) 0,321 0,205 0,300 0,172 0,253 (-) 0,148 (-) 0,121 (-) 0,159 0,134 0,479 (-) 0,083 0,655 (-) 0,052 0,187 (-) 0,154 0,004 0,332 Faktor Risiko Sindrom Prenebstruasi Tabel 1. Karakteristik Subjek Penelitian Faktor risiko Tolok ukur Frekuensi Interval usia saat ini . Proporsi (%) Status perkawinan Jumlah anak . Interval usia Pendidikan Pekerjaan Interval Pendapatan per bulan . uta Interval Pengeluaran Pribadi per bulan . uta rupia. Interval Pengeluaran Pribadi per bulan . uta rupia. Pengeluaran Keluarga . uta Riwayat keluarga >33 Belum kawin Sudah kawin Janda <10 10-Des >15 SD/SMP SMA/SMK D3/S1 Tidak bekerja Bekerja 03-Jun 06-Sep 09-Des >12 03-Jun 06-Sep 09-Des >12 03-Jun 06-Sep 09-Des >12 05-Okt Okt-15 >25 Tidak ada Ada Uji non-parametrik menggunakan korelasi bivariat Spearman pada Tabel 2 menunjukkan korelasi yang signifikan antara derajat PMS dengan usia menarche . =0,. dan derajat PMS dengan riwayat keluarga . =0,. Pembahasan PMS dan PMDD memiliki keterkaitan yang erat dengan keadaan kesehatan fisik yang buruk dan adanya tekanan secara psikologis. Oleh karena itu, hal yang berdampak terhadap peningkatan stres pada seorang perempuan dianggap dapat memiliki pengaruh dalam kecenderungan terjadinya gejala premenstruasi. Paparan stres yang setara juga dapat memberikan dampak yang berbeda karena faktor 14 Pada penelitian di Jerman, prevalensi PMS tertinggi berada pada kelompok perempuan yang belum menikah, dan kelompok usia 35-44 tahun. 13 Sedangkan pada penelitian sebelumnya pada populasi perempuan urban di Amerika Serikat, kelompok dengan prevalensi tertinggi ada pada kelompok usia 25-35 tahun. Korelasi Usia Saat Ini dengan PMS Usia saat ini dinilai memiliki hubungan yang berbanding terbalik dengan derajat PMS yang lebih berat. 16 Faktor usia memiliki peranan terhadap kemampuan pengendalian stres. 15 Pada umumnya, usia muda dianggap lebih rentan terhadap pajanan stres. 15 Pada penelitian ini, frekuensi PMS tertinggi ditemukan pada kelompok 26-29 tahun. Pada uji korelasi bivariat antara data usia saat ini pada sampel dan hasil skrining menggunakan PSST belum didapatkan hubungan yang signifikan . >0,. Sebuah penelitian di Surabaya juga meninjau korelasi antara usia dan derajat keparahan PMS. 17 Pada penelitian terhadap subjek dokter perempuan di RSUD Dr. Soetomo yang berusia 20-39 tahun tersebut, didapatkan hubungan yang signifikan dengan nilai p=0,018. Perbedaan ini dapat disebabkan karena rentang usia sampel penelitian yang digunakan pada kedua penelitian berbeda, serta distribusi frekuensi usia sampel yang tidak merata pada masing-masing kelompok usia. Selain itu terdapat faktor perancu di luar variabel usia yang belum dilakukan stratifikasi, seperti jenis pekerjaan/aktivitas subjek yang heterogen. Kedokt Meditek Volume 24. No. Okt-Des 2018 Faktor Risiko Sindrom Prenebstruasi Masing-masing pekerjaan memiliki pajanan stres yang relatif berbeda-beda. Korelasi Status Perkawinan dengan PMS Karena distribusi usia sampel relatif muda . alam kategori remaja akhir sampai dengan dewasa awa. , sebagian besar subjek penelitian belum menikah. Pada uji korelasi bivariat antara status perkawinan dengan PMS, belum ditemukan hubungan yang signifikan. Penelitian di RSUD Dr. Soetomo terhadap korelasi variabel status perkawinan dengan derajat keparahan PMS juga mendapat nilai p yang serupa . >0,. 17 Penemuan dari kedua penelitian tidak mendukung teori yang menyatakan bahwa status perkawinan merupakan faktor protektif pada derajat keparahan PMS. 13 Hasil yang didapat juga dipengaruhi distribusi yang tidak normal pada variabel status perkawinan dalam sampel yang didapat. Korelasi Jumlah Anak dengan PMS Salah satu kekurangan dari penelitian ini adalah jumlah sampel yang sudah menikah sedikit, sehingga jumlah anak juga dengan sendirinya sedikit. Jumlah anak terbanyak pada sampel adalah sebanyak dua orang anak. Pada penelitian ini, hanya terdapat dua perempuan yang termasuk dalam kategori multipara . elah melahirkan lebih dari satu anak hidu. Data yang didapat belum bisa merepresentasikan hubungan antara variabel jumlah anak dengan derajat keparahan PMS. Penelitian di RSUD Dr. Soetomo menghasilkan p=0,079 pada korelasi antara paritas dan PMS. 17 Jumlah anak terbanyak pada penelitian tersebut sejumlah tiga orang anak. 17 Meningkatnya jumlah paritas perempuan untuk mengalami PMS, terutama saat adanya kejadian depresi postpartum. 18 Hasil dari kedua penelitian tidak mendukung teori mengenai multipara sebagai faktor risiko dari PMS. Korelasi Usia Menarche dengan PMS Prevalensi usia menarche yang didapatkan pada penelitian ini serupa dengan data Kemenkes, yaitu 89% perempuan mengalami menarche pada usia 12-15 tahun. 8 Dalam penelitian ini, didapatkan nilai p=0,005 dengan koefisien korelasi sebesar -0,321. Hal ini menandakan bahwa variabel usia menarche Kedokt Meditek Volume 24. No. Okt-Des 2018 memiliki hubungan signifikan yang berbanding terbalik terhadap derajat keparahan PMS. Semakin kecenderungan keparahan PMS menurun. Penelitian mahasiswa program studi keperawatan di Lebanon mendapatkan korelasi yang signifikan antara usia menarche dengan terjadinya PMS, nilai p yang didapat <0,001. 19 Kedua hasil penelitian mendukung teori yang ada bahwa usia menarche yang terjadi lebih awal memiliki komplikasi pada kesehatan, yaitu salah satunya berupa gangguan pada siklus menstruasi. Korelasi Pendidikan dengan PMS Mayoritas sampel penelitian telah menempuh perguruan tinggi. Dalam hal ini, belum ditemukan korelasi yang signifikan antara pendidikan dengan derajat keparahan gejala PMS. Pada penelitian yang dilakukan di Aceh mengenai hubungan antara karakteristik perempuan dengan derajat keparahan PMS, salah satu variabelnya juga mencakup tingkat 20 Subjek yang diambil sebanyak 46 bidan, dengan 52,17% subjek yang telah menempuh pendidikan tinggi. 20 Penelitian tersebut juga tidak mendapatkan adanya korelasi yang signifikan antara kedua variabel yang 20 Menurut teori, perbedaan pada tingkat pendidikan dapat menyebabkan seseorang memiliki perspektif yang berbeda dalam menghadapi pajanan stres. 20 Namun, hasil penelitian pada dua penelitian ini tidak mendukung teori yang menyatakan bahwa perempuan dengan tingkat pendidikan rendah lebih cenderung menderita PMS dibandingkan perempuan dengan tingkat pendidikan yang 20 Hal ini bisa dipengaruhi pemilihan populasi yang relatif berpendidikan tinggi. Seluruh sampel didapatkan sudah mengecap pendidikan dan telah tamat pendidikan dasar/rendah. Korelasi Pekerjaan dengan PMS Menurut teori, faktor pekerjaan secara langsung maupun tidak langsung memiliki hubungan dengan tingkat stres pada perempuan, namun dalam skala yang berbeda untuk masingmasing pekerjaan. 20 Perempuan yang bekerja di luar rumah dikatakan memiliki kecenderungan untuk menderita PMS lebih tinggi dibanding perempuan yang bekerja di rumah atau sebagai ibu rumah tangga. 20 Namun, penelitian yang Faktor Risiko Sindrom Prenebstruasi sebelumnya tidak mengukur variabel stres sebagai penentu utama kaitan antara pekerjaan dan PMS, sehingga korelasi langsung dengan pekerjaan belum dapat dibuktikan. Pada penelitian ini, mayoritas subjek Namun, bidang yang digeluti berbedabeda. Pada penelitian ini, belum didapatkan korelasi yang signifikan antara pekerjaan dengan PMS. Pada penelitian yang dilakukan di RSUD Dr. Soetomo mengukur variabel stres, variabel pekerjaan tidak diukur karena sudah homogen. Belum ditemukan signifikansi antara korelasi variabel stres dengan derajat keparahan PMS pada penelitian tersebut. 17 Untuk menelusuri kemungkinan hubungan ini lebih lanjut, penelitian-penelitian memperjelas aktivitas atau pajanan tertentu berkorelasi dengan PMS. Status sosioekonomi yang rendah umumnya berbanding lurus dengan tingkat pendidikan yang rendah. Perempuan dengan status sosioekonomi yang rendah diduga memiliki kecenderungan untuk mengalami PMS lebih dari yang memiliki status sosioekonomi menengah ke atas. Pada penelitian ini, status sosioekonomi digambarkan dalam pendapatan per bulan, pengeluaran pribadi, dan pengeluaran Belum ditemukan adanya korelasi yang signifikan antara variabel-variabel tersebut terhadap PMS. Penelitian di RSUD Dr. Soetomo juga dilakukan uji korelasi antara status sosioekonomi dengan PMS. 17 Hasil dari penelitian tersebut juga tidak menemukan korelasi yang signifikan antara kedua variabel tersebut . =0,. 17 Kedua penelitian tidak mendukung teori yang ada. Hal ini dapat disebabkan karena sampel memiliki tingkat sosioekonomi yang relatif homogen pada level menengah-tinggi. menunjukkan bahwa riwayat keluarga memiliki hubungan sebanding dengan PMS. Penelitian di RSUD Dr. Soetomo juga mendapatkan hasil yang serupa dengan p=0,018 dan nilai r=0,256. Kedua hasil ini mendukung teori mengenai adanya kaitan antara riwayat keluarga dalam PMS Pada penelitian ini, telah ditelusuri korelasi bivariat antara masing-masing sepuluh variabel bebas . sia saat ini, status perkawinan, jumlah anak, usia menarche, pendidikan, pekerjaan, pendapatan per bulan, pengeluaran pribadi, pengeluaran keluarga, dan riwayat keluarg. dengan hasil skrining gejala premenstruasi menggunakan kuisioner PSST. Ditemukan bahwa terdapat dua variabel bebas . sia menarche dan riwayat keluarg. yang memiliki korelasi signifikan terhadap hasil skrining PSST. Belum ditemukannya korelasi pada variabel bebas lainnya dapat disebabkan karena karakteristik populasi yang distribusinya tidak merata, tidak dilakukannya stratifikasi pada variabel perancu, dan tidak dilakukan analisis hubungan secara multivariat . erutama antara sesama variabel bebas yang berpotensi memiliki keterkaitan dalam mempengaruhi kecenderungan terjadinya PMS). Selain itu, jumlah sampel terbatas dan pada penelitian ini hanya terbatas pada skrining tanpa dilakukan diagnosis pasti. Penelitian membandingkan faktor-faktor risiko tersebut pada kelompok-kelompok lain, seperti kelompok non-urban dan dengan jumlah sampel yang lebih Persepsi terhadap dan penanganan untuk PMS berbeda pada setiap daerah berdasarkan faktor sosio-kultural yang ada. 13 Selain itu, dapat dilakukan pengukuran faktor stres dalam sampel, serta faktor-faktor risiko lain yang dapat memengaruhi PMS pada perempuan. Juga perlu ditelusuri bagaimana usia menarche yang dini berkaitan dengan beratnya derajat PMS. Korelasi Riwayat keluarga dengan PMS Simpulan Riwayat keluarga memiliki hubungan erat dengan beragam kejadian patologis maupun Salah satunya adalah kejadian PMS. Dalam penelitian ini, ditemukan bahwa riwayat keluarga memiliki korelasi yang signifikan dengan hasil skrining gejala premenstruasi menggunakan kuisioner PSST. Nilai p didapatkan sebesar 0,004 . <0,. dengan koefisien korelasi sebesar 0,332. Korelasi ini Pada menunjukkan besarnya masalah PMS pada perempuan, khususnya sampel urban. Perhatian terutama perlu diberikan pada perempuan yang mengalami menarche pada usia dini dan perempuan dengan riwayat keluarga PMS. Oleh karena itu, perlu ada penanganan yang memadai dan kebijakan yang dapat memberikan dukungan Korelasi Status Sosioekonomi dengan PMS Kedokt Meditek Volume 24. No. Okt-Des 2018 Faktor Risiko Sindrom Prenebstruasi bagi perempuan yang mengalami PMS, baik di tempat kerja maupun dalam masyarakat. Daftar Pustaka