Paradigma. Volume 14. Number 01, 2025, pp. e-ISSN:x-x-x Perilaku Rasional Pelajar Melakukan Tradisi Nyethe Di Kampung Kopi Bolorejo Tulungagung Ervin Dwi Andika Putra1 dan Arief Sudrajat . Ant. Si. Prodi Sosiologi. Jurusan Ilmu Sosial. FISIPOL-Unesa 18045@mhs. ABSTRACT Nyethe activity is the art of batik on a cigarette using green coffee grounds and a spoon as a tool to spread the coffee grounds between coffee drinks in Bolorejo Village. Kauman District. Tulungagung. The nyethe tradition is interesting because it is carried out by students and is related to student behavior. The purpose of this study was to analyze the rational behavior of students carrying out the nyethe tradition in Coffee Village Bolorejo Tulungagung. James S. ColemanAos rational choice theory was used in this study. Using a qualitative method with a Verstehen approach. The results of the study stated that students act as rational actors by using available resources such as coffee grounds, cigarettes, free time, and the social environment to achieve certain goals that are expressive or relational. Nyethe was consciously chosen as an alternative activity that can meet the social and psychological needs in student's daily lives. Therefore. Nyethe is not just a traditional activity, but has undergone a transformation into a meaningful rational action in the lives of today's students in Tulungagung. Keywords: coffee, nyethe, student, tradition ABSTRAK Kegiatan nyethe merupakan seni membatik pada sebatang rokok menggunakan ampas kopi ijo dan sendok sebagai alat untuk mengoles ampas kopi pada sela-sela ngopi di Desa Bolorejo. Kecamatan Kauman. Tulungagung. Tradisi nyethe menjadi menarik karena dilakukan oleh pelajar dan berhubungan dengan perilaku Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis perilaku rasional pelajar melakukan tradisi nyethe di kampung kopi Bolorejo Tulungagung. Teori pilihan rasional James S. Coleman yang digunakan pada penelitian ini. Menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan verstehen. Hasil penelitian menyatakan bahwa pelajar bertindak sebagai aktor rasional dengan menggunakan sumber daya yang tersedia seperti ampas kopi, rokok, waktu luang, dan lingkungan sosial untuk mencapai tujuan tertentu yang bersifat ekspresif maupun relasional. Nyethe dipilih secara sadar sebagai alternatif aktivitas yang mampu memenuhi kebutuhan sosial dan psikologis dalam keseharian pelajar. Oleh karena itu, nyethe bukan hanya sekadar aktivitas tradisional, tetapi telah mengalami transformasi menjadi tindakan rasional yang bermakna dalam kehidupan pelajar masa kini di Tulungagung. Kata kunci : kopi, nyethe, pelajar, tradisi Pendahuluan Sejarah keberadaan kopi di Indonesia berawal dari peran penjajah Belanda yang memperkenalkan tanaman kopi kepada penduduk pribumi pada 1696 oleh Adrian Van Ommen selaku opsir dagang Belanda pada awal masa kolonialisme. Kopi tumbuh dengan baik di Jawa tahun 1706 kemudian menyebar ke berberapa pulau besar di Hindia Belanda. Sampai dengan 2010, produksi kopi nasional 800 ton yang sebagian besar dihasilkan dari perkebunan milik petani sebesar 682. Paradigma. Volume 14. Number 01, 2025, pp. e-ISSN:x-x-x ton dengan area tanam mencapai 1. 982 hektar (Sudjarmoko 2. Besarnya produksi kopi dalam negeri menempatkan Indonesia sebagai produsen kopi terbesar setelah Kolombia. Vietnam, dan Brazil (Cindy Mutia Annur 2. Interaksi kopi dengan kehidupan sosial masyarakat Indonesia menciptakan pola masyarakat Pola konsumsi kopi awalnya adalah minuman rumahan dengan penyajian diseduh kemudian dinikmati sebagai pengusir rasa kantuk. Seiring berjalannya waktu, pola konsumsi kopi berubah menjadi bagian pemenuhan kehidupan sosial masyarakat. Hal yang tak biasa dari Tulungagung adalah minat masyarakat untuk melakukan kegiatan ngopi pada warung kopi tradisional cukup tinggi. Hal ini menjadikan jumlah warung kopi tradisional memiliki pertumbuhan yang pesat dari tahun ke tahun. Menurut catatan Persatuan Warung Kopi dan Hiburan Tulungagung hingga tahun 2010 saja terdapat 7000 warung kopi yang tersebar di 19 kecamatan dan semua desa seluruh penjuru kabupaten. Warung kopi tradisional di Tulungagung umumnya berkapasitas besar yang mampu menampung banyak orang sehingga fungsi warung kopi dapat digunakan sebagai sarana bertukar pikiran mendiskusikan perihal keseharian atau sekedar melepas kejenuhan selepas bekerja. Awalnya pengunjung warung kopi tradisional adalah orang dengan usia tua, namun seiring berkembangnya waktu, kaum muda dan remaja menjadi mayoritas pengunjung warung kopi Terdapat keunikan dari kegiatan ngopi di Kabupaten Tulungagung yang tidak ditemukan didaerah lain yaitu mayoritas warung kopi tradisional menyediakan kopi ijo sebagai menu utama. Kopi ijo merupakan kopi lokal yang terbuat dari perpaduan kopi dengan kacang hijau yang digiling secara halus menghasilkan butiran bubuk kopi yang teksturnya halus. Sejarah kopi ijo bermula dari Desa Bolorejo. Kecamatan Kauman yang diproduksi oleh Pak Waris pada tahun 1979. Sejarah mencatat tingginya minat ngopi masyarakat Kabupaten Tulungagung dan keberadaan kopi ijo sebagai menu utama pada warung-warung kopi tradisional melahirkan sebuah kebiasaan turun-temurun yang tidak dijumpai pada daerah lain yaitu tradisi nyethe. Cethe baik secara langsung dan tidak langsung telah mewarnai kehidupan sosial masyarakat Tulungagung utamanya kaum pria sebagai mayoritas pengunjung warung kopi tradisional. Ngopi dan nyethe merupakan dua kegiatan yang tidak terpisahkan dan saling bersinggungan. Kegiatan nyethe merupakan seni membatik pada sebatang rokok menggunakan ampas kopi ijo dan sendok atau korek kayu sebagai alat untuk mengoles ampas kopi pada sela-sela ngopi di warung kopi tradisional. Secara tidak langsung, kegiatan nyethe berakar dari kebudayaan Indonesia yaitu memiliki kesamaan dengan aktivitas membatik pada kain menggunakan pewarna dan alat canting. Oleh masyarakat Tulungagung, kegiatan tersebut diadopsi pada sebatang rokok. Secara historis tidak ada yang mengetahui kapan secara pasti kegiatan nyethe itu bermula, namun dapat ditelisik melalui aktivitas Paradigma. Volume 14. Number 01, 2025, pp. e-ISSN:x-x-x petani sepulang dari sawah yang mampir untuk ngopi mendiskusikan hal sehari-hari sembari merokok dan mengoleskan ampas kopi pada rokok. Salah satu kawasan yang masyarakatnya masih melestarikan tradisi nyethe adalah di Desa Bolorejo. Kecamatan Kauman yang berjarak sekitar 6 kilometer dari pusat perkotaan Tulungagung. Desa Bolorejo memiliki banyak warung kopi tradisional baik skala besar dan kecil yang digunakan untuk aktivitas nyethe seperti warung kopi Waris. Maktin. Pak Gun. Giras. Ginaris, dan lain sebagainya. Secara historis. Desa Bolorejo merupakan tempat kelahiran kopi ijoA yaitu bubuk kopi yang diciptakan oleh Pak Waris pada tahun 1979. Penelitian ini menjadi menarik karena bukan hanya membahas tentang tradisi nyethe saja tetapi juga berhubungan dengan perilaku pelajar. Melalui tradisi nyethe, akan diketahui perilaku pelajar yang mendasari kegiatan tersebut disebabkan karena faktor apa saja. Permasalahan pelajar di Tulungagung yang cukup beragam apakah menjadi landasan utama pelajar melakukan tradisi nyethe. Permasalahan yang dialami pelajar di Tulungagung kebanyakan berasal dari permasalahan anak pekerja migran dan pencarian jati diri. Permasalahan anak pekerja imigran yang dihadapi lebih kompleks seperti keluarga, kesehatan, ekonomi, moral, hubungan sosial, hingga perasalahan asmara (Widyarto and Rifauddin Dampak dari permasalahan tersebut dapat membahayakan pelajar dan berdampak pada terjurumusnya ke hal-hal negatif. Kecenderungan pelajar untuk bebas dengan dalih menemukan jati diri juga merupakan suatu hal yang harus selalu diawasi. Jiwa bebas yang dimiliki oleh anak muda atau pelajar akan menjadi bumerang pada diri anak muda jika tidak mendapatkan teguran dan sangsi. Untuk menghindari terjerumusnya anak muda atau pelajar dalam hal negatif, salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan nyehte. Kegiatan nyethe tidak mengharuskan anak muda atau pelajar untuk merokok karena kegiatan membatik dilakukan pada batang rokok yang masih utuh. Penelitian ini nantinya akan berfokus pada bagaimana perilaku rasional pelajar melakukan tradisi nyethe di kampung kopi Bolorejo Tulungagung ?. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi dan menganalisis perilaku rasional pelajar melakukan tradisi nyethe di kampung kopi Bolorejo Tulungagung. Kajian Pustaka 1 Tradisi Tradisi adalah nilai dan norma yang dijalankan oleh anggota masyarakat. Perbedaan mendasar budaya tradisi dengan budaya adalah pada pelaksanaannya. Mengacu pada Merriam-Webster Dictionary, tradisi diartikan sebagai pewarisan informasi, adat, kebiasaan atau kepercayaan secara turun temurun dari generasi ke generasi tanpa instruksi tertulis. Selanjutnya menurut Cornelis Anthonie Van Peursen, tradisi didefinisikan sebagai proses pewarisan dan penerusan nilai dan norma, adat istiadat, dan kaidah-kaidah secara turun temurun namun tidak menutup kemungkinan bentuknya dapat Paradigma. Volume 14. Number 01, 2025, pp. e-ISSN:x-x-x diubah atau disesuaikan dengan perkembangan zaman dan konsesus yang dibangun di kelompok masyarakat (Peursen 1. Tradisi bisa dijabarkan sebagai praktek dari budaya yang telah melalui proses pembiasaan di masyarakat sehingga dianggap sebagai sesuatu yang harus dijalankan tanpa harus bertanya tentang kebenaran dari hal tersebut. Nyethe Kegiatan Nyethe merupakan tradisi lokal yang berasal dari Kabupaten Tulungagung. Nyethe berasal dari kata AucetheAy yaitu mengoleskan ampas kopi atau membatik pada sebatang rokok yang dilakukan oleh masyarakat Kabupaten Tulungagung di warung kopi tradisional. Kegiatan nyethe berakar dari kebudayaan asli Indonesia yaitu membatik. Jika lazimnya kegiatan membatik dilakukan pada media kain dengan menggunakan pewarna, maka nyethe justru menggunakan ampas kopi yang sudah ditiriskan lalu mengoleskan pada rokok sebagai media. Tidak semua ampas kopi dapat digunakan untuk nyethe, melainkan hanya menggunakan kopi ijo karena tekstur ampas kopi relatif halus sehingga melekat pada sebatang rokok. Teori Pilihan Rasional James S. Coleman Teori yang digunakan dalam menganalisis rasionalitas masyarakat mempertahankan tradisi nyethe adalah teori pilihan rasional. Tindakan sosial menurut weber adalah tindakan yang penuh arti bagi individu tindakannya tersebut mempunyai arti subyektif yang ditujukan kepada dirinya dan tindakan orang lain (Soyomukti 2. Melalui teori tersebut Coleman mampu menjelaskan fenomena dari level makro ke mikro. Terdapat dua unsur pembentuk teori pilihan rasional yaitu aktor dan sumber Aktor mengendalikan sumber daya dan sumber daya tersebut yang menyebabkan terjadinya Dalam teori pilihan rasional harus melibatkan paling sedikit dua orang. Orang-orang yang telibat mempunyai keinginan untuk memenuhi kebutuhan. Sehingga muncul sifat ketergantungan dan kerja sama untuk membentuk tindakan-tindakan yang akan dicapai (Latifah. Nurhadi, and Liestyasari 2. Coleman menjelaskan bahwasannya terdapat pergerakan dari tindakan aktor menuju tindakan Perpindahan tersebut merupakan suatu kegiatan perpindahan sederhana dan rasional karena terdapat kendali atas orang lain. Tindakan rasional dilakukan untuk memaksimalkan keuntungan. Pada fenomena nyethe, aktor yang dimaksud adalah pelajar yang melakukan kegiatan nyethe. Kegiatan nyethe dilakukan dengan berbagai tujuan sebagai bentuk ekspresi. Ekspresi tersebut dapat tersalurkan melalui kegiatan nyethe. Jiwa bebas yang dimiliki oleh pelajar selalu menjadi awal untuk mendongkrak sesuatu yang dinilai tidak sesuai. Kegiatan nyehte menjadi jembatan bagi pelajar untuk mengekspresikan suasana hati yang sedang kacau ataupun sebaliknya. Paradigma. Volume 14. Number 01, 2025, pp. e-ISSN:x-x-x METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Menurut Strauss dan Corbin, penelitian kualitatif merupakan prosedur penemuan data yang tidak dilakukan dengan prosedur statistik atau kuantifikasi (Salim and Syahrum 2. Pendekatan yang dipilih adalah pendekatan verstehen dari Max Weber. Lokasi penelitian berada di kampung kopi yaitu Desa Bolorejo. Kecamatan Kauman. Kabupaten Tulungagung karena merupakan salah satu kawasan konsentrasi warung kopi tradisional di Kabupaten Tulungagung. Penelitian ini dilakukan pada Maret-Juli 2023. Subjek penelitian ditentukan menggunakan teknik purposive. Jadi penetapan kriteria pada pengambilan subjek sifatnya wajib (Sugiyono 2. Pengumpulan data yaitu observasi bertujuan mendapatkan gambaran kegiatan tradisi nyethe oleh pelajar pada kampung kopi Bolorejo Tulungagung. Binister dkk, wawancara dilakukan untuk mendapat penjelasan mendalam perilaku rasional pelajar melakukan tradisi nyethe di kampung kopi Bolorejo Tulungagung. Penggunaan in-depth interview bertujuan untuk menemukan permasalahan secara lebih terbuka dan mendalam mengenai pendapat-pendapat atau informasi dari subjek penelitian (Walidin. Saifullah, and Tabrani 2. Dokumentasi terbagi menjadi dua yaitu berasal dari data primer dan sekunder. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis data model Miles dan Huberman. Terdapat tiga komponen dalam analisis data yaitu reduksi data, display data, dan kesimpulan. HASIL DAN PEMBAHASAN Latar Belakang Pelajar Melakukan Tradisi Nyethe di Kampung Kopi Bolorejo Tulungagung Sebagai salah satu pelajar yang menjadi subjek penelitian berinisial FA melakukan kegiatan nyethe menunjukkan adanya perbedaan. Hal yang mendasari FA mengenal nyethe ke warung kopi di Bolorejo. Berdasarkan temuan data yang ada, menyatakan : AuSaya mulai mengenal nyethe, bisa dikatakan awal mula kelas X, kurang lebih telah mengetahui sejak setahun yang lalu. Mengenal nyethe karena melihat teman-teman, mereka sering ngopi dengan melakukan nyethe ketika di warung kopi. Menurut pengamatanku seperti asik, jadi nyobain juga. Akhirnya merasa senang karena seru dan asik, ketagihanlah. Ay BP merupakan pelajar kelas XII berusia 17 tahun, gemar dalam pergi ke warung kopi sebagai tempat pelampiasan baginya dalam mengekspresikan diri dari lelahnya kegiatan sekolah. Berdasar dari temuan data yaitu : AuUntuk dibilang kenal atau tau sejak SMP karena sering memperhatikan orang mengoleskan kopi ke rokok. Mulai sering dan praktek ketika awal SMA, bawaan dari teman yang sering mengajak nongkrong ke warung kopi. Dulunya cuma memperhatikan karena penasaran nyoba aja sih akhirnya. Ay Paradigma. Volume 14. Number 01, 2025, pp. e-ISSN:x-x-x Nyethe di Kampung Kopi Bolorejo Lelahnya pelajaran yang didapatkan dari sekolah dapat berkurang ketika duduk bersama dengan teman melakukan kegiatan nyethe. Teman menjadi pendukung karena FA bukan merupakan perokok, sehingga dengan teman yang perokok ia dapat melakukan kegiatan nyethe dan menggambarkan secara bebas ekspresinya dalam batang rokok, meskipun ia bukan merupakan perokok. AuNyethe sebagai hiburan dengan seni sederhana dalam menggambar di batang rokok. Duduk santai ngegambar sambil ngilangin stress, bisa juga menghindarkan dari kegiatan yang hanya bengong. Warung kopi punya suasana yang mendukung nyaman dan lebih fleksibel. Ay Pengalaman Terhadap Kegiatan Nyethe Pengalaman dari rasa senang karena bisa melakukan kegiatan dengan bebas, bebas untuk menggambar atau mencorat coret rokok mereka sembari mengobrol atau hanya berdiam diri. Subjek pertama berinisial FA menjelaskan pengalamannya: AuNyethe itu bentuk dari seni sederhana yang menggambaran kebebasan. Dengan menuangkan gambaran pada batang rokok, mirip dengan melaukan batik, tapi beda dengan bahan yang digunakan. Ay BP menjelaskan pengalamannya nyethe bagian dari cara mengeluarkan ekspresi dirinya. Ekspresi tersebut dapat digambarkan secara nyata melalui penggambaran motif nyethe di batang rokok, pola yang dapat dibuat secara bebas atau bahkan hanya sekedar coretan tanpa makna. AuMirip seni ya, seni lukis atau gambar. Dengan bentuk khas batang rokok bisa timbul coretan aneh, jadi karya kecil dengan kepuasan sendiri. Aku sendiri tidak merokok, suka aja, minta atau pinjem dari temen cuma untuk digambar, selesai balikin lagi. Ay DA menceritakan nyethe menjadi bagaian dari hobi baru yang menyenangkan bagi dirinya. Hobi tersebut berhubungan dengan kegiatan menggambar dengan menggunakan media baru, yaitu rokok dengan bahan dari ampas kopi. AuNyethe menjadi ritual kecil ketika sedang nongkrong, karena proses yang dapat dinikmati dari meminum kopi sampai sisa ampasnya atau langsung mengambil ampasnya. Ay Temuan data mengenai nyethe meliputi latar belakang, nyethe di warung kopi, dan pengalaman dari kegiatan nyethe ditemukan bahwasanya nyethe kebanyakan dikenal dari ajakan teman yang sering berinteraksi dengan mereka, ajakan teman yang secara tidak sadar dilakukan terus menerus akhirnya menarik perhatian untuk melakukan. Teman menjadi sumber dalam pengalaman awal yang kemudian menjadikan dirinya sering melakukan kegiatan yang sama karena merasakan terdapat kecocokan ketika melakukan kegiatan nyethe. Warung kopi juga memberikan kesan kebebasan dalam Paradigma. Volume 14. Number 01, 2025, pp. e-ISSN:x-x-x menikmati rokok dengan bebas karena ketersediaan ruang terbuka, atau mayoritas pengunjung memang merupakan perokok sehingga merasa biasa. Nyethe memberikan beragam pengalaman bagi mereka yang perokok atau bukan perokok, karena nyethe bisa menjadi ruang tambahan untuk mempersatukan diantara keduanya. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa tindakan pelajar dalam melakukan nyethe bukan semata-mata kebiasaan yang berlangsung turun-temurun, melainkan merupakan bentuk tindakan sosial yang sarat akan rasionalitas. Pelajar memutuskan untuk melakukan nyethe karena adanya pertimbangan subjektif yang mencerminkan ekspresi diri, pencarian ketenangan, hingga kebutuhan akan interaksi sosial yang bebas dari tekanan. Lingkungan sekitar, termasuk warung kopi dan teman sebaya, berperan besar sebagai sumber daya yang memungkinkan tindakan tersebut berlangsung. Proses menunjukkan bahwa tindakan sosial dalam kegiatan nyethe bersifat subjektif, brarti makna tindakan dibentuk atau bahkan saling bertukar melalui sebuah interaksi sosial. Dalam hal ini penting memahami tindakan berdasarkan konteks sosial dan bergantung terhadap kondisional pelaku. Perilaku tersebut dipengaruhi oleh kombinasi faktor individu, lingkungan sosial, dan ketersediaan sumber daya. Untuk memperjelas pembahasan, data hasil penelitian dikelompokkan ke dalam beberapa poin utama berikut: 4 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Tindakan Nyethe oleh Pelajar: Lingkungan Sosial: Warung kopi menjadi ruang interaksi sosial yang inklusif dan memberikan kebebasan, berbeda dengan cafy modern yang dianggap mahal dan membatasi. Teman Sebaya: Teman menjadi agen sosialisasi utama yang mendorong rasa penasaran, solidaritas, dan ketertarikan untuk mencoba nyethe. Ekspresi Diri: Nyethe dipahami sebagai media untuk meluapkan kreativitas, suasana hati, dan mengekspresikan keunikan diri melalui seni menggambar di batang rokok. Relaksasi dan Pelarian Tekanan: Aktivitas nyethe memberikan ketenangan dan pelampiasan dari beban akademik atau masalah pribadi. Pertimbangan Ekonomis dan Efisiensi: Warung kopi menyediakan fasilitas murah dan suasana santai yang mendukung aktivitas ini. Implementasi Teori Pilihan Rasional James S. Coleman: Coleman menjelaskan bahwa tindakan sosial bersifat rasional ketika aktor secara sadar menggunakan sumber daya yang tersedia untuk mencapai tujuan tertentu. Dalam konteks ini, pelajar bertindak sebagai aktor rasional dan menggunakan sumber daya lingkungan untuk memenuhi kebutuhan ekspresi diri, hiburan, dan eksistensi sosial. Penerapan Teori Pilihan Rasional James S. Coleman dalam Kasus Nyethe. Komponen Definisi Implementasi dalam Nyethe Paradigma. Volume 14. Number 01, 2025, pp. e-ISSN:x-x-x Teori Aktor Individu yang memiliki tujuan dan Pelajar sebagai pelaku utama yang memilih untuk nyethe Sumber Segala bentuk sarana yang dapat Warung kopi, teman, ampas kopi, rokok, waktu Daya menunjang tujuan Tujuan Sasaran yang ingin dicapai oleh Ekspresi diri, ketenangan, hiburan, relasi sosial luang, alat nyethe Rasionalitas Perhitungan cara paling efektif Memilih tempat murah, suasana nyaman, dan Tindakan mencapai tujuan bahan mudah diperoleh 5 Proses Pembentukan Tindakan Kolektif Tindakan individual yang awalnya bersifat pribadi dan spontan, seperti rasa penasaran atau ekspresi seni, berkembang menjadi tindakan kolektif dalam komunitas informal. Teman sebaya bukan hanya pendorong, tetapi juga penyedia sumber daya sosial. Ketergantungan sosial dan kerja sama ini mengarah pada pembentukan komunitas nyethe yang stabil dan terus bertahan. 6 Transformasi Nilai Tradisi Nyethe Nyethe yang awalnya dilakukan oleh petani sebagai bentuk istirahat kini mengalami pergeseran Pelajar mengadopsinya sebagai media aktualisasi diri yang relevan dengan kehidupan sosial dan budaya mereka saat ini. Tradisi ini bukan hanya diwariskan, tetapi dikonstruksi ulang sesuai dengan kebutuhan dan realitas sosial pelajar masa kini. Seni memberikan rasa ketenangan untuk mendorong kondisi dirinya tenang, hal ini dapat mengeluarkan beban pikiran ketika melaksanakan aktifitas yang dilakukan. Stres dapat mereda, sehingga menjadikannya tenang. Nyethe membangun relasi sosial dan eksistensi dalam kelompok Bangunan relasi ini terbentuk dari kegiatan interaksi beberapa individu dengan lainnya, sehingga dapat membaur dengan kelompok lain. Akhirnya membentuk komunitas informal secara berkelompok mempertahankan praktik ini. Warung kopi muncul sebagai tempat ruang sosial dari berkumpulnya tindakan individual yang berbeda tersebut. Tindakan secara kolektif dapat muncul dari tindakan individual yang bersifat rasional. Nyethe ini subjek ketika awal melakukan bersifat motivasi individual berupa penasaran serta ekspresi diri. Berkembang serta berlanjut membangun sebuah komunitas informal secara kolektif mempertahankan praktek sosial ini. Tindakan rasional dapat muncul serta dipengaruhi control atas interaksi dengan aktor lain. Peran teman sangat besar, mereka bukan hanya sekedar preferensi perilaku, melainkan sumber daya sosial menjadi dorongan Paradigma. Volume 14. Number 01, 2025, pp. e-ISSN:x-x-x subjek untuk ikut nyethe. Muncul sifat ketergantungan dan kerjasama menghasilkan tindakan kolektif stabil. Penelitian ini menemukan keterlihatan adanya transformasi nilai dalam praktik tradisional bertransformasi nilai ketika praktik tradisional. Nyethe yang diawali dengan kebiasaan para petani beristirahat dari ladang atau sawah pergi ke warung kopi untuk melakukan tindakan ini, berubah kearah pelajar untuk melampiasan bentuk ekspresi baru dalam kebudayaan. Memunculkan sifat pergeseran dari pasif atau secara turun temurun ke arah reartikulasi nilai sesuai kebutuhuan dan realitas sosial actor pelaku. Penelitian ini menunjukkan bahwa perilaku pelajar ketika melakukan nyethe di Kampung kopi Bolorejo Tulungagung merupakan bentuk tindakan sosial yang cukup kompleks dengan makna secara rasional. Mereka bertindak berdasarkan beragam pertimbangan mulai dari efisiensi serta pengaruh dari lingkungan sosial. Nyethe terbangun bukan hanya diteruskan tetapi direkonstruksi menjadi sarana aktualisasi dan eksistensi dalam lingkungan budaya remaja. Tindakan nyethe pelajar bukan hanya tindakan pasif melainkan hasil dari sebuah kesadaran rasionalitas dan interaksi sosial yang aktif dalam kerangka budaya lokal. Tradisi nyethe tetap bertahan dan berkembang bukan karena keunikan warisan masa lalu semata, tetapi karena berhasil menemukan relevansi baru dalam kehidupan sosial kontemporer pelajar. KESIMPULAN Pelajar yang terlibat dalam tradisi nyethe menunjukkan perilaku yang dapat dikategorikan sebagai Tindakan mereka tidak semata-mata dilandasi oleh kebiasaan atau dorongan emosional, tetapi lebih pada pertimbangan sosial, simbolik, dan personal. Pelajar memaknai nyethe sebagai media untuk mengekspresikan diri, mengurangi stres, menjalin pertemanan, dan mencari kenyamanan dalam lingkungan yang tidak penuh tekanan. Meskipun sebagian pelajar tidak merokok, mereka tetap melakukan nyethe sebagai bentuk partisipasi budaya yang dinilai menyenangkan dan Berdasarkan sudut pandang teori pilihan rasional James S. Coleman, perilaku pelajar dalam melakukan nyethe menunjukkan adanya tindakan rasional berorientasi nilai, tindakan afektif, serta tindakan instrumental. Pelajar bertindak sebagai aktor rasional yang menggunakan sumber daya yang tersediaAiseperti ampas kopi, rokok, waktu luang, dan lingkungan sosialAiuntuk mencapai tujuan tertentu yang bersifat ekspresif maupun relasional. Tradisi nyethe dipilih secara sadar sebagai alternatif aktivitas yang mampu memenuhi kebutuhan sosial dan psikologis dalam keseharian mereka. Oleh karena itu, nyethe bukan hanya sekadar aktivitas tradisional, tetapi telah mengalami transformasi menjadi tindakan rasional yang bermakna dalam kehidupan pelajar masa kini di Tulungagung. Paradigma. Volume 14. Number 01, 2025, pp. e-ISSN:x-x-x Daftar Pustaka