Jurnal Kesehatan Terpadu (Integrated Health Journa. Vol. 15 No. November 2024 . ISSN 1978-7766 (Prin. and ISSN 2597-9566 (Onlin. Journal homepage: https://w. com/index. php/JKT Analisis Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi Balita 6-59 Bulan Di Wilayah Pesisir Kota Ambon Analysis of Factors Affecting the Nutritional Status of Toddlers Aged 6-59 Months in the Coastal Area of Ambon City Wahyuni Sammeng1. Khartini Kaluku2 Jurusan Gizi. Poltekkes Kemenkes Maluku Jalan Laksdya Leo Wattimena Negeri Lama. Kota Ambon. Maluku. Indonesia *E-mail Korespondensi: wahyuniasmadzakiyah@gmail. ABSTRACT Nutritional problems occur in every life cycle, especially in toddlers and children. Malnutrition includes undernutrition and overnutrition. Babies who do not get enough breast milk have poor nutritional intake and can cause malnutrition. Malnutrition and infection can both start from poverty and unhealthy environments with poor sanitation. Nutrient intake is one of the factors related to the nutritional status of This study is a quantitative study with an analytical survey design type using a cross-sectional study approach. The research sample was 61 toddlers calculated based on total sampling. The research instruments to be used are exclusive breastfeeding questionnaires, history of infectious diseases and nutritional knowledge of toddler mothers, semi-quantitative FFQ, anthropometric measurement result filling sheets, and informed consent. The tool used in this study was an anthropometric kit. The conclusion of this study is that there is no relationship between knowledge, history of exclusive breastfeeding, infectious diseases, macronutrient intake, and nutritional status of toddlers. It is recommended that subsequent studies use larger samples with several different research locations to see the correlation of factors that influence the nutritional status of toddlers. Keywords: toddlers, nutritional status, factors ABSTRAK Masalah gizi terjadi pada setiap siklus kehidupan, terutama pada masa balita dan anak-anak. Malnutrisi mencakup undernutrition . izi kuran. dan overnutrition . izi berlebi. Bayi yang tidak mendapatkan ASI dengan cukup berarti memiliki asupan gizi yang kurang baik dan dapat menyebabkan kekurangan Malnutrisi dan infeksi kedua-duanya dapat bermula dari kemiskinan dan lingkungan yang tidak sehat dengan sanitasi buruk. Asupan zat gizi merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan status gizi balita. Asupan zat gizi dapat diperoleh dari zat gizi makro dan mikro. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan jenis desain survey analitik yang menggunakan pendekatan cross sectional Adapun sampel penelitian sebanyak 61 balita yang dihitung berdasarkan total sampling. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner asi eksklusif, riwayat penyakit infeksi dan pengetahuan gizi ibu balita. FFQ semi kuantitatif, lembar pengisian hasil ukur antropometri, dan lembar persetujuan. Alat yang dipakai dalam penelitian ini adalah antropometri kit untuk mendapatkan hasil pengukuran Kesimpulan dalam penelitian ini, tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dengan status gizi balita, tidak terdapat hubungan riwayat asi eksklusif dengan status gizi, tidak terdapat hubungan penyakit infeksi dengan status gizi, dan tidak terdapat hubungan yang signifikan asupan zat gizi makro dengan status gizi balita. Disarankan pada penelitian berikutnya menggunakan sampel yang lebih besar dengan beberapa lokasi penelitian yang berbeda untuk melihat korelasi faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi balita. Kata kunci: balita, status gizi, faktor Jurnal Kesehatan Terpadu (Integrated Health Journa. Vol. 15 No. November 2024 . ISSN 1978-7766 (Prin. and ISSN 2597-9566 (Onlin. Journal homepage: https://w. com/index. php/JKT PENDAHULUAN Gizi pada lima tahun pertama kehidupan sangat penting karena pada masa ini perkembangan fisik dan perkembangan otak paling pesat. Status gizi balita masih menjadi permasalahan di dunia termasuk Indonesia. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesda. tahun 2018, prevalensi status gizi di Indonesia secara angka nasional dengan kategori gizi buruk dan gizi kurang mencapai 13,8%. Status gizi pendek dan sangat pendek mencapai 30,8%. Status gizi kurus dan sangat kurus 10,2% dan gemuk mencapai 8,0%. Sedangkan di Maluku tengah status gizi buruk dan kurang mencapai 17,7%, pendek dan sangat pendek mencapai 30,8% dan kurus dan gemuk mencapai 10,2%, sedangkan angka prevalensi di Ambon balita stunting pada tahun 2021 mengalami kenaikan sebesar 21,8% dibandingkan tahun 2019 yang hanya sebesar 20,1%. Prevalensi dari data yang dimiliki tersebut, total ada kurang lebih 13. 122 anak mengalami kasus gizi buruk. Berdasarkan data Survey Status Gizi Balita Indonesia (SSGI) tahun 2021 yang dilaksanakan Kementerian Kesehatan, prevalensi stunting saat ini masih berada pada angka 24,4 % . ,33 juta balit. , atau turun 6,4% dari angka 30,8% pada tahun 2018 dan yg mengalami gizi lebih 56% . 2 balit. Data balita di wilayah Puskesmas Tawiri Kota Ambon tahun 2022 menunjukkan status gizi sangat pendek 18 balita dan pendek 81 balita. Faktor yang dapat mempengaruhi status gizi anak adalah kurangnya pengetahuan tentang gizi atau kurangnya kemampuan untuk menerapkan informasi tersebut dalam kehidupan sehari Masalah gizi terjadi pada setiap siklus kehidupan, terutama pada masa balita dan anakanak. Malnutrisi mencakup undernutrition . izi kuran. dan overnutrition . izi berlebi. Terdapat tiga fase yang berbeda dalam pertumbuhan linier yaitu. kecepatan pertumbuhan yang tinggi didapat dalam kehidupan janin, kemudian diikuti dengan penurunan yang cepat hingga mendekati umur 3 tahun3. Bayi yang tidak mendapatkan ASI dengan cukup berarti memiliki asupan gizi yang kurang baik dan dapat menyebabkan kekurangan gizi. Balita yang tidak diberikan ASI eksklusif berpeluang 61 kali lipat mengalami stunting dibandingkan balita yang diberi ASI eksklusif. ASI eksklusif dapat mengurai risiko terjadinya stunting4. Masalah gizi merupakan masalah kesehatan masyarakat yang dipengaruhi oleh beberapa faktor,antara lain penyakit infeksi, konsumsi makanan, dan terganggunya pertumbuhan dan perkembangan anak, bahkan apabila kondisi tersebut tidak ditangani dengan baik maka risiko kesakitan dan kematian anak akan meningkat5. Bayi yang diberi ASI secara khusus terlindung dari serangan penyakit, sistem pernapasan dan sistem pencernaan. Hal itu karena antibodi dalam ASI memberikan perlindungan langsung melawan infeksi hari2. Penyakit infeksi yang berpengaruh terhadap status gizi pada balita yaitu diare, demam yang disertai flu dan batuk, bronkhitis, cacingan, campak, flu singapura, ada juga penyakit bawaan yang diderita oleh balita meliputi kelainan jantung dan kelainan kongenital dan kelainan6. Malnutrisi dan infeksi merupakan masalah kesehatan yang penting pada anak-anak. Malnutrisi dan infeksi kedua-duanya dapat bermula dari kemiskinan dan lingkungan yang tidak sehat dengan sanitasi buruk. Selain itu juga diketahui infeksi menghambat reaksi imunologis yang normal dengan menghasilkan sumber-sumber energi dan protein di tubuh. Balita masih dalam proses pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Oleh karena itu untuk memperoleh energi serta dapat melakukan kegiatan fisiknya sehari-hari, maka tubuh harus dipenuhi kebutuhan zatzat gizinya7. Asupan zat gizi merupakan salah satu penyebab langsung yang dapat mempengaruhi status gizi balita. Asupan zat gizi di peroleh dari beberapa zat gizi, diantaranya zat gizi makro meliputi energi, karbohidrat, protein dan lemak. Tingkat konsumsi zat gizi makro dapat mempengaruhi status gizi balita8. Asupan zat gizi merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan status gizi balita. Asupan zat gizi dapat diperoleh dari zat gizi makro dan Jurnal Kesehatan Terpadu (Integrated Health Journa. Vol. 15 No. November 2024 . ISSN 1978-7766 (Prin. and ISSN 2597-9566 (Onlin. Journal homepage: https://w. com/index. php/JKT Stunting pada anak disebabkan oleh tidak terpenuhinya gizi dalam waktu yang lama dan sering tidak dipahami oleh orangtua sehingga terlambat menyadari bahwa anaknya mengalami Pendidikan seorang ibu dapat mempengaruhi pengetahuan ibu. Makin tinggi pendidikan ibu diharapkan pengetahuan gizi ibu mengenai asupan zat gizi semakin baik9. Pengetahuan ibu yang baik tentang gizi balita dapat mencegah komplikasi yang serius pada status gizi balita. Kurangnya pengetahuan tentang gizi akan mengakibatkan berkurangnya kemampuan untuk menerapkan informasi dalam kehidupan sehari-hari yang merupakan salah satu penyebab terjadinya masalah gizi pada balita11. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi balita stunting 6-59 bulan di Wilayah Pesisir Kota Ambon. Faktor yang akan dikaji meliputi riwayat asi eksklusif, kecukupan asupan zat gizi makro, riwayat penyakit infeksi dan pengetahuan gizi terhadap status gizi balita. METODE PENELITIAN Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan jenis desain survey analitik yang menggunakan pendekatan cross sectional study untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi balita. Penelitian ini menguji korelasi antara variabel dependen dan Penelitian dilakukan pada responden yang telah menyetujui keterlibatan dalam Populasi dalam penelitian ini adalah balita stunting yang berusia 6-59 bulan yang berada di lingkungan Wilayah Puskesmas Tawiri. Ambon sebanyak 99 balita. Adapun sampel penelitian sebanyak 61 balita yang dihitung berdasarkan total sampling. Sebanyak 38 balita drop out. Variabel independen dalam penelitian ini adalah riwayat asi eksklusif, kecukupan asupan zat gizi makro, riwayat penyakit infeksi dan pengetahuan gizi ibu balita. Sedangkan variabel dependennya adalah status gizi balita. Instrumen penelitian yang digunakan adalah kuesioner asi eksklusif, riwayat penyakit infeksi dan pengetahuan gizi ibu balita. FFQ semi kuantitatif, lembar pengisian hasil ukur antropometri, dan lembar persetujuan. Alat yang dipakai dalam penelitian ini adalah antropometri kit untuk mendapatkan hasil pengukuran antropometri. Analisis data yang digunakan berupa analisis univariat dan bivariat. Analisis univariat dilakukan pada karakteristik responden yang meliputi jenis kelamin, usia, dan berat lahir. Analisis bivariat dilakukan untuk mendapatkan korelasi antara hubungan riwayat asi eksklusif dengan status gizi, hubungan kecukupan asupan zat gizi makro dengan status gizi, hubungan riwayat penyakit infeksi dengan status gizi dan hubungan pengetahuan gizi ibu balita dengan status gizi. Analisis tersebut akan menggunakan uji parametrik chi square dan uji korelasi Spearman. HASIL Hasil penelitian factor-faktor yang mempengaruhi status gizi balita usia 6-59 bulan di wilayah pesisir kota Ambon disajikan dalam table berikut : Tabel 1. Distribusi Karakteristik Responden Variabel Umur Ibu Pekerjaan Ibu Label Remaja Dewasa Pra Usia Lanjut Total Tidak Bekerja Bekerja Total Jumlah Jurnal Kesehatan Terpadu (Integrated Health Journa. Vol. 15 No. November 2024 . ISSN 1978-7766 (Prin. and ISSN 2597-9566 (Onlin. Journal homepage: https://w. com/index. php/JKT Pendidikan Terakhir Ibu Umur Anak Jenis Kelamin Anak SMP SMA Perguruan Tinggi Total 1-3 Tahun 4-5 Tahun Total Perempuan Laki-laki Total Berdasarkan tabel 1, dapat diketahui bahwa distribusi umur orang tua balita sebanyak 54 orang . ,5 %) berada di usia dewasa . -44 tahu. berdasarkan kategori menurut Sebanyak 56 orang . ,8 %) ibu balita tidak bekerja di luar rumah untuk berkarir (IRT). Pendidikan terakhir ibu balita terbanyak adalah tamat SMA sebanyak 35 orang . ,4%). Umur anak terbanyak yang menjadi responden pada umur 1-3 tahun yaitu 47 orang . %), dan berjenis kelamin laki-laki . ,7%). Tabel 2. Distribusi Karakteristik Responden Variabel Pengetahuan Riwayat ASI Eksklusif Riwayat Penyakit Infeksi BB/TB BB/U TB/U Label Baik Cukup Kurang Total Tidak Total Tidak Total Normal Gizi Kurang Gizi Buruk Gizi Lebih Total Normal BB Kurang BB Sangat Kurang Total Normal Pendek Sangat Pendek Total Jumlah Berdasarkan tabel 2, dapat diketahui bahwa variable pengetahuan menunjukkan sebanyak 31 orang . ,8%) orang tua balita memiliki pengetahuan yang cukup . kor 56-. Instrumen ini berisi tentang pengetahuan ibu tentang status gizi balita. Sebanyak 49 orang Jurnal Kesehatan Terpadu (Integrated Health Journa. Vol. 15 No. November 2024 . ISSN 1978-7766 (Prin. and ISSN 2597-9566 (Onlin. Journal homepage: https://w. com/index. php/JKT . ,3%) ibu balita tidak memberikan asi eksklusif kepada bayinya. Terdapat 44 balita . ,1%) balita memiliki riwayat penyakit infeksi baik berupa infeksi seperti ISPA, flu, batuk, diare dan Berdasarkan indicator status gizi BB/TB, balita stunting yang dilibatkan dalam penelitian ini memiliki status gizi normal sebanyak 50 orang . %). Pada indicator status gizi BB/U sebanyak 33 orang balita . ,1%) memiliki berat badan kurang, dan status gizi balita berdasarkan TB/U sebanyak 34 orang balita memiliki status gizi sangat pendek. Sebanyak 4 orang balita . %) yang terlibat dalam penelitian ini sudah tidak mengalami stunting. Tabel 3. Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Asupan Zat Gizi Variabel Jumlah Label Asupan Energi Asupan Protein Asupan Lemak Asupan Karbohidrat Cukup Kurang Lebih Total Kurang Lebih Total Cukup Kurang Lebih Total Cukup Kurang Lebih Total Berdasarkan tabel 3, diketahui bahwa asupan energy balita stunting yang ikut dalam penelitian memiliki asupan lebih sebanyak 39 orang . ,9%). Sebanyak 60 orang balita . ,8%) memiliki asupan protein yang lebih. Pada asupan lemak, sebanyak 38 orang balita . ,3%) memiliki asupan lebih, dan sebanyak 29 orang balita . ,5%) balita memiliki asupan karbohidrat lebih. Tabel 4. Uji Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi Balita Berdasarkan BB/TB Variabel Pengetahuan Baik Cukup Kurang Total Riwayat ASI Eksklusif Tidak Total Normal BB/TB Gizi Kurang Gizi Buruk Gizi Lebih Sig Jurnal Kesehatan Terpadu (Integrated Health Journa. Vol. 15 No. November 2024 . ISSN 1978-7766 (Prin. and ISSN 2597-9566 (Onlin. Journal homepage: https://w. com/index. php/JKT Riwayat Penyakit Infeksi Tidak Total Asupan Energi Cukup Kurang Lebih Total Asupan Protein Kurang Lebih Total Asupan Lemak Cukup Kurang Lebih Total Asupan Karbohidrat Cukup Kurang Lebih Total Berdasarkan hasil analisis bivariat pada tabel 4, diketahui bahwa pengetahuan tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan status gizi BB/TB. Nilai koefisien korelasi hubungan pengetahuan dengan status gizi BB/TB adalah -0. 120 yang berarti hubungan kedua variabel tidak searah, dengan kekuatan hubungan kedua variabel ini sangat lemah. Pada variabel riwayat asi eksklusif, nilai r= 0. 028 yang berarti hubungan dengan status gizi BB/TB searah namun memiliki keeratan yang lemah. Hasil uji menunjukkan tidak ada hubungan antara riwayat asi eksklusif dengan status gizi BB/TB. Untuk riwayat penyakit infeksi, nilai r menunjukkan hubungan antara penyakit infeksi dengan status gizi searah namun keeratannya Hasil uji menunjukkan tidak ada hubungan penyakit infeksi dengan status gizi BB/TB. Berdasarkan analisis korelasi asupan energi dengan status gizi, keduanya merupakan variabel dengan hubungan searah dan keeratannya lemah. Hasil uji statistic menunjukkan tidak hubungan antara asupan energy dengan status gizi BB/TB. Pada analisis korelasi asupan protein dengan status gizi, keduanya merupakan variabel dengan hubungan tidak searah dan keeratannya lemah. Hasil uji statistic menunjukkan ada hubungan antara asupan protein dengan status gizi BB/TB. Berdasarkan analisis korelasi asupan lemak dengan status gizi, keduanya merupakan variabel dengan hubungan searah dan keeratannya lemah. Hasil uji statistic menunjukkan tidak hubungan antara asupan lemak dengan status gizi BB/TB. Analisis korelasi asupan karbohidrat dengan status gizi, keduanya merupakan variabel dengan hubungan searah dan keeratannya lemah. Hasil uji statistic menunjukkan tidak hubungan antara asupan karbohidrat dengan status gizi BB/TB. Jurnal Kesehatan Terpadu (Integrated Health Journa. Vol. 15 No. November 2024 . ISSN 1978-7766 (Prin. and ISSN 2597-9566 (Onlin. Journal homepage: https://w. com/index. php/JKT Tabel 5. Uji Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi Balita Berdasarkan BB/U Variabel Pengetahuan Baik Cukup Kurang Total Riwayat ASI Eksklusif Tidak Total Riwayat Penyakit Infeksi Tidak Total Asupan Energi Cukup Kurang Lebih Total Asupan Protein Kurang Lebih Total Asupan Lemak Cukup Kurang Lebih Total Asupan Karbohidrat Cukup Kurang Lebih Total Normal BB/U BB Kurang BB Sangat Kurang Sig Berdasarkan hasil uji bivariate pada tabel 5, dapat diketahui bahwa analisis korelasi pengetahuan dengan status gizi BB/U menunjukkan hubungan searah dan keeratannya lemah. Tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dengan status gizi BB/U. Analisis korelasi riwayat asi eksklusif dengan status gizi BB/U menunjukkan hubungan searah dan keeratannya lemah. Tidak terdapat hubungan antara kedua variabel tersebut. Analisis korelasi riwayat penyakit infeksi dengan status gizi BB/U menunjukkan hubungan tidak searah dan keeratannya lemah. Jurnal Kesehatan Terpadu (Integrated Health Journa. Vol. 15 No. November 2024 . ISSN 1978-7766 (Prin. and ISSN 2597-9566 (Onlin. Journal homepage: https://w. com/index. php/JKT Tidak terdapat hubungan antara riwayat penyakit infeksi dengan status gizi BB/U. Analisis korelasi asupan energi dengan status gizi BB/U menunjukkan hubungan tidak searah dan keeratannya lemah. Tidak terdapat hubungan antara asupan energi dengan status gizi BB/U. Analisis korelasi asupan protein dengan status gizi BB/U menunjukkan hubungan tidak searah dan keeratannya lemah. Tidak terdapat hubungan antara asupan protein dengan status gizi BB/U. Analisis korelasi asupan lemak dengan status gizi BB/U menunjukkan hubungan searah dan keeratannya lemah. Tidak terdapat hubungan antara asupan lemak dengan status gizi BB/U. Analisis korelasi asupan karbohidrat dengan status gizi BB/U menunjukkan hubungan searah dan keeratannya lemah. Tidak terdapat hubungan antara asupan karbohidrat dengan status gizi BB/U. Tabel 6. Uji Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi Balita Berdasarkan TB/U Variabel Pengetahuan Baik Cukup Kurang Total Riwayat ASI Eksklusif Tidak Total Riwayat Penyakit Infeksi Tidak Total Asupan Energi Cukup Kurang Lebih Total Asupan Protein Kurang Lebih Total Asupan Lemak Cukup Kurang Lebih Total Asupan Karbohidrat Normal TB/U Pendek Sangat Pendek Sig Jurnal Kesehatan Terpadu (Integrated Health Journa. Vol. 15 No. November 2024 . ISSN 1978-7766 (Prin. and ISSN 2597-9566 (Onlin. Journal homepage: https://w. com/index. php/JKT Cukup Kurang Lebih Total Berdasarkan analisis bivariate tabel 6, dapat diketahui bahwa koefisien korelasi antara pengetahuan dengan status gizi TB/U memiliki hubungan yang searah namun keeratannya Hasil menunjukkan tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan status gizi TB/U. Koefisien korelasi antara riwayat asi eksklusif dengan status gizi TB/U memiliki hubungan yang searah dan keeratannya cukup kuat . = 0,0. Hasil menunjukkan tidak ada hubungan antara pengetahuan dengan status gizi TB/U. Koefisien korelasi antara riwayat penyakit infeksi dengan status gizi TB/U memiliki hubungan yang searah namun keeratannya lemah. Hasil menunjukkan tidak ada hubungan antara riwayat penyakit infeksi dengan status gizi TB/U. Koefisien korelasi antara asupan energi dengan status gizi TB/U memiliki hubungan yang tidak searah dan keeratannya lemah. Hasil menunjukkan tidak ada hubungan antara asupanenergi dengan status gizi TB/U. Koefisien korelasi antara asupan protein dengan status gizi TB/U memiliki hubungan yang searah namun keeratannya lemah. Hasil menunjukkan tidak ada hubungan antara asupan protein dengan status gizi TB/U. Koefisien korelasi antara asupan lemak dengan status gizi TB/U memiliki hubungan yang searah namun keeratannya lemah. Hasil menunjukkan tidak ada hubungan antara asupan lemak dengan status gizi TB/U. Koefisien korelasi antara asupan karbohidrat dengan status gizi TB/U memiliki hubungan yang searah namun keeratannya lemah. Hasil menunjukkan tidak ada hubungan antara asupan karbohidrat dengan status gizi TB/U. BAHASAN Dalam penelitian ini, responden dalam rancangan penelitian sebanyak 99 balita di tahun 2023, pada pelaksanaan penelitian jumlah balita yang dijadikan sampel penelitian di pelaksanaan 2024 drop out dari penelitian dikarenakan sudah tidak menjadi balita stunting, berpindah domisili di luar kota Ambon. Dari 99 balita stunting kemudian drop out sebanyak 38 balita, sebagian besar diantarannya sudah lebih dari usia 59 bulan. Status gizi balita adalah ukuran berdasarkan umur, berat dan tinggi badan. Permasalahan status gizi dapat diketahui dari tiga indeks antropometri, yaitu: berat badan menurut usia, tinggi badan menurut usia, dan berat badan menurut tinggi badan. Indeks ini menjelaskan masalah gizi dari berbagai aspek3. Pertumbuhan dan perkembangan ini sangat dipengaruhi oleh pengetahuan dan pola asuh yang dilakukan orang tua. Pengertian pengetahuan dan pola asuh ialah praktik pengetahuan ibu dalam memilih gizi yang seimbang yang akan diberikan kepada anaknya dan pengasuhan yang diterapkan kepada anak balita dan pemeliharaan kesehatannya, serta erat kaitannya dengan tumbuh kembang anak di masa yang akan datang. Pemberian makan pada anak balita merupakan bentuk yang paling mendasar karena unsur zat gizi yang terkandung di dalam makanan memegang peranan penting terhadap tumbuh kembang anak. Pengetahuan terhadap pola pemberian makan pada anak turut dipengaruhi oleh faktor fisiologis, psikologis. Faktor-faktor tersebut mampu menentukan pilihan terhadap makanan apa saja yang akan dikonsumsi, sebanyak apa jumlah makanan yang dikonsumsi, siapa saja yang akan mengonsumsi, serta kapan makanan tersebut boleh atau tidak boleh untuk dikonsumsi12. Penyebab utama terjadinya gizi kurang dan hambatan pertumbuhan pada anak salah satunya berkaitan dengan rendahnya pemberian Air Susu Ibu (ASI) Eksklusif selama 6 bulan. Pertumbuhan dan perkembangan bayi dan balita sebagian besar dipengaruhi oleh jumlah ASI yang diperoleh, termasuk energi dan zat gizi lainnya yang terkandung di dalam ASI. ASI tanpa bahan makanan lain dapat mencukupi kebutuhan pertumbuhan usia sampai sekitar enam Bayi yang mendapat susu formula memiliki risiko 5 kali lebih besar mengalami Jurnal Kesehatan Terpadu (Integrated Health Journa. Vol. 15 No. November 2024 . ISSN 1978-7766 (Prin. and ISSN 2597-9566 (Onlin. Journal homepage: https://w. com/index. php/JKT pertumbuhan yang tidak baik pada bayi usia 0-6 bulan dibandingkan dengan bayi yang mendapat ASI. ASI merupakan asupan gizi yang sesuai dengan kebutuhan akan membantu pertumbuhan dan perkembangan anak. Bayi yang tidak mendapatkan ASI dengan cukup berarti memiliki asupan gizi yang kurang baik dan dapat menyebabkan kekurangan gizi4. BB/U dan TB/U digunakan untuk menggambarkan status gizi. Berat badan dan Tinggi Badan adalah salah satu parameter yang memberikan gambaran massa tubuh. Massa tubuh sangat sensitif terhadap perubahan- perubahan yang mendadak, misalnya karena terserang penyakit infeksi, menurunnya nafsu makan atau menurunnya jumlah makanan jumlah makanan yang dikonsumsi. Dalam keadaan normal, dimana keadaan kesehatan baik dan keseimbangan antara konsumsi dan kebutuhan zat gizi terjamin, maka berat badan berkembang mengikuti pertambahan umur. Sebaliknya dalam keadaan abnormal, terdapat 2 kemungkinan perkembangan berat badan yaitu dapat berkembang cepat atau lebih lambat dari keadaan Penelitian Febianne Eldrian, dkk di Kota Bandung membuktikan adanya hubungan antara riwayat penyakit ISPA dengan kejadian stunting pada balita. Balita yang memiliki riwayat penyakit ISPA berpeluang 3,4 kali menderita stunting dibandingkan dengan balita yang tidak memiliki riwayat penyakit ISPA14. Penyakit infeksi dapat menyebabkan menurunnya nafsu makan pada saat balita sakit. Jika nafsu makan anak turun akan menyebabkan kekurangan asupan. Kekurangan asupan berhubungan erat dengan tingginya kejadian diare, karena anak yang kurang gizi mungkin mengalami penurunan daya tahan tubuh dan dengan adanya penyakit infeksi menyebakan anak tidak nafsu makan. Infeksi saluran pencernaan dan infeksi saluran pernapasan mengurangi nafsu makan, meningkatkan katabolisme dan menghambat penyerapan nutrisi makanan oleh tubuh sehingga menyebabkan kerentanan terhadap kekurangan gizi yang parah terutama kekurangan berat badan15. Asupan gizi merupakan faktor yang sangat penting dalam menentukan status gizi pada Asupan gizi tersebut juga berkaitan dengan pola makan, pola asuh, keadaan sosial dan ekonomi keluarga. Pendidikan kedua orang tua, riwayat penyakit infeksi pengetahuan ibu tentang gizi. Status gizi anak dapat dipengaruhi oleh faktor langsung dan tidak langsung. Faktor langsung yang berhubungan dengan status gizi adalah asupan makanan dan asupan energi menunjukan hubungan yang signifikan16. Kecukupan asupan energi sesuai dengan kebutuhan dan aktifitas yang dilakukan maka dapat mempertahankan berat badan sehingga status gizinya juga ikut terjaga dan mencegah terjadinya masalah gangguan gizi. Protein mempunyai fungsi utama sebagai zat pembangun, pemeliharaan struktur dan jaringan tubuh serta sebagai salah satu sumber energi. Energi dalam tubuh manusia timbul karena adanya pembakaran dari karbohidrat, protein, dan lemak. Oleh karena itu, dibutuhkan adanya zat makanan yang dapat mencukupi kebutuhan tubuh dari seseorang tersebut17. Dilihat fungsinya saja sudah diketahui pentingnya protein bagi tubuh anak selama masa mengonsumsi lemak dapat mencegah terjadinya penyakit menular maupun tidak menular terutama masalah gizi. Hal ini disebabkan karena lemak berfungsi sebagai sumber penganti energi ketika beraktifitas, sebagai pelumas pada jaringan, pemasok asam lemak esensial, penyerap vitamin larut lemak, melindungi organ dalam dan mengatur suhu tubuh. Asupan karbohidrat merupakan salah satu sumber energi yang paling mudah untuk dicari dan Karbohidrat juga berfungsi sebagai pemasok energi bagi otak dan saraf, pengendali metabolisme lemak, penyimpan glikogen dan pengendali peristaltik usus18. Asupan zat gizi yang rendah dalam jangka panjang dapat menghambat pertumbuhan Anak dengan defisiensi asupan zat gizi memiliki kecenderungan mengalami kejadian Penelitian di Kabupaten Brebes pada anak usia 12- 24 bulan menunjukkan bahwa anak yang memiliki asupan energi rendah akan berisiko 7,71 kali lebih besar mengalami stunting dan anak yang memiliki asupan protein yang kurang, dapat meningkatkan risiko kejadian stunting sebesar 7,65 kali lebih besar, selain itu anak yang memiliki asupan seng rendah dapat Jurnal Kesehatan Terpadu (Integrated Health Journa. Vol. 15 No. November 2024 . ISSN 1978-7766 (Prin. and ISSN 2597-9566 (Onlin. Journal homepage: https://w. com/index. php/JKT mengalami stunting 8,78 kali lebih besar dibandingkan dengan yang memiliki asupan seng 7 Penelitian lain di Pekalongan pada anak usia 1-2 tahun menunjukkan bahwa anak yang asupan zat besinya rendah akan berisiko 3,08 kali lebih besar mengalami stunting19. Asupan energi yang tidak mencukupi kebutuhan dapat menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan energi. Ketidakseimbangan energi secara berkepanjangan menyebabkan terjadinya masalah gizi. Balita dengan tingkat asupan energi yang rendah mempengaruhi pada fungsi dan struktural perkembangan otak serta dapat mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan kognitif yang terhambat. Energi yang berasal dari makanan dapat diperoleh dari beberapa zat gizi makro yaitu karbohidrat, protein dan lemak. Energi memiliki fungsi sebagai penunjang proses pertumbuhan, metabolisme tubuh dan berperan dalam proses aktivitas20. SIMPULAN Kesimpulan dalam penelitian ini, tidak terdapat hubungan antara pengetahuan dengan status gizi balita, tidak terdapat hubungan riwayat asi eksklusif dengan status gizi, tidak terdapat hubungan penyakit infeksi dengan status gizi, dan tidak terdapat hubungan yang signifikan asupan zat gizi makro dengan status gizi balita. SARAN Disarankan pada penelitian berikutnya menggunakan sampel yang lebih besar dengan beberapa lokasi penelitian berbeda untuk melihat korelasi faktor-faktor yang mempengaruhi status gizi balita. RUJUKAN