Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 1 . , 2023. Page 40-48 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Pengukuran Keterbacaan Teks Materi Ajar pada Siswa Sekolah Menengah Atas Idham1. Endang Sri Maruti2 Pendidikan Bahasa Indonesia. Universitas Qamarul Huda Bdaruddin Bagu PGSD. Universitas PGRI Madiun endang@unipma. Submitted: 18-01-2023 | Reviewed: 18-01-2023 | Accepted: 23-01-2023 ABSTRAK Tingkat keterbacaan sebuah wacana akan memberi dampak pada tingkat kemampuan membaca dan pemahaman terhadap bacaan. Rumusan masalah tulisan ini bagaimanakah tingkat keterbacaan teks bacaan dalam buku ajar siswa sekolah menengah atas berdasarkan formula Grafik Fry. Tujuan tulisan ini untuk mengetahui tingkat keterbacaan wacana tersebut dengan formula Grafik Fry. Penelitian ini termasuk dalam penelitian kuantitatif deskriptif. Data berupa teks wacana dalam buku ajar yang telah dikumpulkan sebagai sampling, dengan mengambil teks bacaan di awal, di tengah, dan di akhir buku. Analisis data dalam tulisan ini dilakukan dengan Grafik Fry. Hasil perhitungan wacana ini diperoleh 6,0 jumlah kalimat, dan diperoleh 156 jumlah suku kata. Dari hasil grafik fry tersebut wacana ini cocok untuk pembaca tingkat 10 sampai 12, yakni mahasiswa perguruan tinggi semester 1,2 dan 3. Hasil ini bisa menjadi dasar pengembangan buku ajar dan teks bacaan di dalamnya untuk disesuaikan dengan tingkatan usia pembacanya. Tingkat keterbacaan yang sesuai dengan pembaca tentu menjadi penentu keberhasilan suatu bacaan dalam pembelajaran. Kata Kunci: Formula Grafik Fry. Keterbacaan. Wacana ABSTRACT The level of readability of a discourse will have an impact on the level of reading ability and understanding of reading. The formulation of the writing problem is what is the readability level of reading text in high school students' textbooks based on the Fry Graph formula. The purpose of this paper is to determine the readability level of the discourse using the Fry Graph formula. This research is included in the descriptive quantitative research. The data in the form of discourse texts in textbooks which have been collected as a sampling, by taking reading texts at the beginning, in the middle, and at the end of the book. Data analysis in this paper was carried out using Fry Charts. The results of this discourse calculation obtained 6. 0 the number of sentences, and obtained 156 the number of syllables. From the results of the fry graph, this discourse is suitable for readers at levels 10 to 12, namely college students in semesters 1, 2 and 3. These results can be the basis for developing textbooks and reading texts in them to suit the age level of the readers. The level of readability that is appropriate to the reader certainly determines the success of a reading in learning. Keywords: Discourse. Fry Graph Formula. Readability. PENDAHULUAN Kegiatan membaca merupakan suatu proses yang dilakukan dan digunakan seseorang sebagai pembaca dalam upaya untuk mendapatkan pesan, yang ingin diutarakan oleh penulis melalui media kata-kata atau melalui bahasa tulis (Sari et al. , 2. Dalam kegiatan membaca, pembaca dituntut agar kelompok kata yang merupakan suatu kesatuan untuk terlihat dalam suatu pandangan secara sekilas (Mustikaningsih, 2. Hal itu dilakukan JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 1 . , 2023. Page 40-48 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 untuk mengetahui makna kata-kata secara individual. Jika hal tersebut tidak tercapai, maka dapat dipastikan pesan yang tersurat dan yang tersirat tidak akan tertangkap atau dipahami dengan baik, dan proses membaca itu bisa dikatakan gagal karena tidak terlaksana dengan baik (Azis & Adila, 2. Kegiatan membaca termasuk dalam kegiatan yang bersifat reseptif, yakni proses penerimaan (Maruti, 2. Dalam hal ini merupakan kegiatan menerima ilmu pengetahuan yang diperoleh dari suatu sumber yang berasal dari pencipta tulisan itu. Proses penerimaan ini bertujuan untuk memberikan wawasan kepada para pembacanya. Dengan adanya sifat reseptif ini, bertambahnya wawasan merupakan salah satu fungsi yang utama dalam kegiatan Begitu pula dalam kegiatan pembelajaran di sekolah, kegiatan membaca menjadi kegiatan yang sangat penting (Rohman, 2. Kegiatan literasi ini menjadi salah satu syarat dalam pengerjaan soal misalnya. Dengan begitu, kegiatan membaca merupakan suatu alat penting untuk mencari suatu keputusan tepat sehingga dibutuhkan suatu kecerdasan. Syarat teks wacana yang baik dalam materi pembelajaran di sekolah adalah teks wacana yang dapat terbaca oleh pembaca dengan baik. Tingkat keterbacaan sebuah wacana dapat ditentukan oleh beberapa hal, seperti jumlah kalimat, susunan kalimat dan adanya katakata sulit. Miftaahurrahmi & Syarif . menyatakan bahwa tingkat keterbacaan sebuah teks ditentukan oleh susunan kalimat, kepadatan kata dalam kalimat, dan kata-kata sulit yang terdapat dalam wacana tersebut. Jadi, sebuah wacana sangat ditunjang oleh adanya aspek kebahasaan yang baik. Besaran atau tingkat keterbacaan sebuah wacana dalam materi pembelajaran akan menentukan keberhasilan suatu pembelajaran. Tingkat keterbacaan berdampak pada tingkat kemampuan membaca dan pemahaman pembaca terhadap suatu bacaan (Isabela, 2. Pemahaman dalam membaca akan terganggu jika kualitas kecepatan dalam membaca dan memahami bacaan (Crossley et al. , 2. Tingkat pemahaman bacaan dapat ditentukan oleh perbedaan susunan kalimat sehingga susunan menjadi tidak tepat atau pun pemilihan diksi yang tidak sesuai atau ketidaksesuaian tingkat keterbacaan dengan usia pembaca. Bacaan untuk siswa sekolah dasar tentu berbeda dengan bacaan siswa sekolah menengah atas. Penentuan tingkat keterbacaan wacana dapat dilakukan dengan cara menguji atau mengetes bacaan berdasarkan rumus keterbacaan, tetapi juga dari hasil beberapa tes keterbacaan pembaca berupa tes pemahaman bacaan. Tes tersebut menguji apa yang disebut JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 1 . , 2023. Page 40-48 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Skorecova et al. , . sebagai Auenam faktor heuristik pemahaman bacaanAy. Tiga faktor yang berhubungan dengan teks . ext-drive. , yaitu pengenalan kata, proses decoding fonem-grafem dan pengenalan sintaksis kalimat. Tiga faktor lainnya terkait dengan pengetahuan pembaca . nowledge-oriente. , yaitu persepsi dalam teks, metakognisi dan pengetahuan sebelumnya. Sifat dari tiga faktor terakhir . ecara implisi. Demi kesempurnaan referensi tentang keterbacaan wacana, penulis menggunakan formula Grafik Fry dalam menentukan tingkat keterbacaan wacana pada artikel yang berjudul AuKearifan Lokal yang TersisaAy karya Warsono. Artikel tersebut merupakan salah satu artikel yang termuat dalam buku yang berjudul AuBunga Rampai Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Generasi Masa DepanAy yang diterbitkan oleh Unesa University Press tahun 2011. Tujuan penulis adalah mendeskripsikan tingkat keterbacaan wacana artikel yang berjudul AuKearifan Lokal yang TersisaAy Karya Agus Suprijono berdasarkan Grafik Fry . anjang pendeknya kalimat, kata, dan jumlah suku kat. METODE PENELITIAN Penelitian Data dikumpulkan dari bacaan yang berada dalam buku teks yang digunakan siswa sekolah menengah atas dengan menggunakan teknik sampling. Setelah data terkumpul, data dianalisis dengan menghitung tingkat keterbacaannya berdasarkan formula Fry. Penamaan grafik Fry berasal dari nama pembuatnya yaitu Edward Fry . Formula ini diterbitkan dalam Journal of Reading pada tahun 1977. Rumus Fry yang dapat dibaca menghilangkan seratus kata dalam sebuah wacana tanpa mempertimbangkan panjang wacana. Tidak peduli seberapa tebal halaman buku atau berapa lama keterbacaannya dengan rumus ini, gunakan hanya seratus kata. Menurut Fry, angka tersebut tergolong representatif. Diperkenalkan oleh Edward Fry, grafik keterbacaan adalah formula yang relatif baru, diterbitkan dalam Journal of Reading pada tahun 1977. Bagan aslinya dibuat pada tahun 1968. Formula ini mendasarkan formula keterbacaannya pada dua faktor utama, yaitu panjang kata dan tingkat kesulitan kata, yang dinyatakan dengan jumlah suku kata yang membentuk setiap kata . dalam wacana. JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 1 . , 2023. Page 40-48 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Perhatikan grafik fry berikut ini: Adapun langkah-langkah dalam menguji tingkat keterbacaan suatu teks adalah sebagai Memilih penggalan wacana sebanyak 100 kata yang baik dari bacaan yang akan diuji tingkat keterbacaannya. Menghitung jumlah kalimat yang terdapat dalam wacana tersebut. Menghitung jumlah suku kata dalam wacana sampel tersebut. Menghitung jumlah suku kata tersebut dengan bilangan 0,6 . ilangan konversi grafik Fr. Memasukkan angka jumlah kalimat dan jumlah suku kata pada langkah sebelumnya dalam Grafik Fry sehingga membentuk titik koordinat. Melihat hasil tersebut, dan analisis tingkat keterbacaannya (Sulistyaningsih et al. , 2. HASIL DAN PEMBAHASAN Setelah memilih beberapa data, berikut adalah sampling penghitungan tingkat keterbacaan yang dilakukan. JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 1 . , 2023. Page 40-48 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Gambar 1. Data Bacaan sampling Perhitungan jumlah Kata dan Kalimat Sekarang ini bangsa Indonesia berada pada era era pascamodern, yang ditandai kaburnya dan runtuhnya sekat-sekat tradisional: antara budaya dan budaya tinggi dan budaya rendah, antara dunia bisnis dan dunia seni, dan antara kebudayaa dan Sebagai contoh, meningkatnya penampilan dan status budaya pop yang dipercepat oleh media elektronik telah mengakibatkan kekaburan posisi antara keduanya. Pemilihan antara budaya tinggi dan budaya rendah kini tidak lagi relevan. Budaya tinggi tak lebih dari suatu subkultur, tak lebih JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 1 . , 2023. Page 40-48 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 dari suatu pendapat atau pandangan yang muncul di tengah perubahan yang terjadi. Chambers, 1986 194. Pada era pascamodern, manusia kehilangan banyak hal // karena terdesak oleh perubahan. Angka-angka yang terdapat di bawah setiap kata pada wacana di atas menunjukkan perhitungan sampel wacana. Kata yang diberi // . aris miring du. merupakan akhir dari sampel wacana yang menunjukkan bahwa kata itu termasuk ke dalam hitungan 100 kata. Berdasarkan data diatas, jumlah kalimat utuh ada 5 ditambah 7 kata pada kalimat terakhir yang jumlah kata seluruhnya berjumlah 11 kata. Kata keseratusnya itu jatuh pada kata hal. Kata tersebut merupakan kata kelima dari 11 kata yang terdapat pada kalimat terakhir tersebut. Dengan demikian, rata-rata jumlah kalimat pada wacana sampel di atas adalah 5 7/11 kalimat. Jika dihitung ke dalam sistem desimal akan menghasilkan angka 6,0 kalimat. Perhitungan Jumlah Suku Kata Sekarang ini bangsa Indonesia 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Pada 16 17 18 19 21 22 23 24 25 26 27 28 29 yang ditandai 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 Sekat-sekat 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57 antar budaya tinggi dan budaya rendah, 58 59 60 61 62 63 64 65 66 67 68 69 70 71 72 dan dunia 73 74 75 76 77 78 79 80 81 82 83 84 85 86 dan antara dan bisnis. 88 89 90 91 92 93 94 95 96 97 98 Sebagai 99 100 101 102 103 104 105 106 107 108 Penampilan dan status 109 110 111 112 113 114 115 116 117 118 119 yang dipercepat 120 121 122 123 124 125 126 127 128 129 130 131 132 133 134 135 136 137 138 139 140 141 142 143 144 JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 1 . , 2023. Page 40-48 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Pemilihan 145 146 147 148 149 150 151 152 153 154 156 157 158 159 dan budaya 160 161 162 163 164 165 166 167 168 169 170 171 172 173 174 175 176 178 179 180 181 182 183 Budaya tak lebih 184 185 186 187 188 189 190 191 200 201 202 203 204 tak lebih 205 206 207 208 209 210 211 212 213 214 215 yang muncul 216 217 218 219 220 221 222 223 224 225 226 yang terjadi. 227 228 229 230 231 232 233 234 235 236 237 Chambers, 1986: 194 238 239 240 Pada 242 243 244 245 246 247 248 249 250 251 252 253 254 255 256 257 258 259 260 Setelah menghitung perhitungan kalimat, selanjutnya menghitung jumlah suku kata pada wacana tersebut. Pada wacana tersebut diperoleh jumlah kalimat sebanyak 6 kalimat, sedangkan jumlah suku kata pada wacana tersebut berjumlah 260 suku kata. Setelah diplotkan ke dalam Grafik Fry maka titik temu dari persilangan melewati daerah yang diarsir. Maka tingkat keterbacaan wacana tersebut tidak bisa ditentukan atau wacana tersebut tidak memiliki peringkat baca yang cocok untuk peringkat kelas manapun. Dalam hal ini, maka ada beberapa catatan penting dalam Grafik Fry untuk mengukur keterbacaan wacana Bahasa Indonesia yakni dengan mengalikan hasil perhitungan suku kata wacana tersebut dengan angka 0,6. Berdasarkan hal itu, hasil perhitungan wacana yang telah dilakukan, akan diperoleh perhitungan jumlah sebanyak 6 kalimat, dan jumlah suku kata 260 x 0,6 = 156. Jika hal ini diplotkan ke dalam Grafik Fry, titik temu dan persilangan kedua data tersebut jatuh pada wilayah 10,11, dan 12. JUPE2: Jurnal Pendidikan & Pengajaran Available Online at https://jurnal. id/index. php/JUPE2 doi: https://doi. org/10. 54832/jupe2. JUPE2. Volume 1 . , 2023. Page 40-48 p-ISSN: 2985-9891 e-ISSN: 2985-6736 Berikut titik temu jumlah kata dan suku kata dengan menggunakan Grafik Fry antara garis vertikal dan horizontal pada artikel: Kearifan Lokal Yang Tersisa Setelah melakukan penghitungan dan pencocokan dengan grafik Fry, maka temuan ini menjadi bahan masukan bagi pengembang buku ajar baik di jenjang SD sampai Perguruan Tinggi. Dengan melihat dan mengukur tingkat keterbacaan suatu bacaan, para pengembang buku ajar bisa memilih dan memilah bacaan yang sesuai dengan usia pembacanya (Lisnawati, 2. Dengan demikian, tujuan pembelajaran akan tercapai dengan mudah. Dan siswa tidak lagi kesulitan dalam memahami teks bacaan dalam buku ajar yang mereka pegang. Temuan lain dalam penelitian ini adalah bahwa tidak semua bacaan yang ada dalam buku ajar yang beredar sudah sesuai tingkat keterbacaannya. KESIMPULAN Berdasarkan analisis data, maka dapat disimpulkan bahwa artikel keterbacaan Kearifan Lokal Yang Tersisa tingkat keterbacaannya dapat ditentukan atau wacana tersebut memiliki tingkat keterbacaan untuk peringkat kelas 10,11, dan 12 yaitu mahasiswa perguruan tinggi semester 1,2 dan tiga. DAFTAR PUSTAKA