1131 JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 KONTRIBUSI PARIWISATA DALAM PENGEMBANGAN EKONOMI LOKAL DAN KELESTARIAN BUDAYA DESA PRINGGASELA. LOMBOK TIMUR. Oleh Baiq Nikmatul Ulya1. Lalu Ferdi Ferdiansyah2 Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Mataram. Indonesia E-mail: 1bn_ulya@unram. id, 2laluferdi_f91@staff. Article History: Received: 14-09-2025 Revised: 15-10-2025 Accepted: 18-10-2025 Keywords: Pariwisata. Desa Pringgasela. Ekonomi Kreatif. Pelestarian Budaya. Tenun Tradisional. Partisipasi Masyarakat. Pariwisata Berkelanjutan Abstract: Penelitian ini mengkaji peran pariwisata dalam pembangunan ekonomi dan pelestarian budaya di Desa Pringgasela. Kabupaten Lombok Timur, yang ditetapkan sebagai desa wisata berbasis ekonomi kreatif oleh Pemerintah Provinsi NTB. Potensi utama desa ini terletak pada tradisi menenun serta keberagaman seni dan atraksi budaya lokal, yang kini terancam punah akibat lemahnya regenerasi dan arus modernisasi. Melalui pendekatan kualitatif dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi, penelitian menemukan bahwa pariwisata memberikan kontribusi nyata dalam peningkatan pendapatan, penciptaan lapangan kerja, dan pengembangan usaha lokal, seperti sentra tenun, homestay, kuliner, serta jasa pemandu wisata. Selain itu, kehadiran wisatawan mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, untuk kembali melestarikan tradisi tenun dan kesenian lokal. Namun, tantangan berupa keterbatasan infrastruktur, promosi digital, serta risiko komersialisasi budaya masih perlu diatasi. Diperlukan strategi berbasis partisipasi masyarakat dan prinsip pariwisata berkelanjutan untuk menjaga keseimbangan ekonomi, sosial, dan budaya. PENDAHULUAN Perkembangan pesat sektor pariwisata di Indonesia memberikan peluang besar bagi daerahdaerah untuk memanfaatkan potensi lokal sebagai penggerak pembangunan ekonomi dan pelestarian budaya, termasuk di Desa Pringgasela. Kabupaten Lombok Timur. Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat menetapkan Surat Keputusan No. 13-366/2019 mengenai penunjukan 99 lokasi desa wisata di wilayah NTB. Salah satu desa yang ditetapkan adalah Pringgasela, yang berada di Kabupaten Lombok Timur dan dikembangkan sebagai desa wisata berbasis ekonomi Desa Pringgasela dikenal luas akan keahlian masyarakatnya dalam seni tenun tradisional dengan beragam motif khas. Selain itu, desa ini juga menawarkan berbagai objek wisata menarik, baik yang bersifat alami maupun buatan, seperti Sungai Mencerit, wisata Loang Landak. Aranka Tempasan homestay yang dilengkapi cafe outdoor dengan view Gunung Rinjani dan beberapa Cafy lainnya turut menjadi daya tarik tersendiri. Desa ini ditetapkan sebagai salah satu desa wisata ekonomi kreatif di Nusa Tenggara Barat, yang dikenal dengan kekayaan budaya serta daya tarik alam dan wisata buatan yang menarik. Pariwisata di Pringgasela berpotensi besar memberikan dampak ekonomi langsung kepada masyarakat melalui peningkatan pendapatan, penciptaan lapangan kerja, dan pengembangan usaha a. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 Namun, agar manfaat tersebut optimal dan berkelanjutan, dibutuhkan pemahaman serta partisipasi aktif masyarakat dalam mengelola dan mengembangkan pariwisata, khususnya generasi muda yang diharapkan mampu melanjutkan tradisi tenun sebagai identitas budaya desa. Desa Pringgasela dapat tumbuh menjadi destinasi yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga menjaga nilai-nilai budaya dan sosial masyarakat setempat. Untuk mencapai tujuan tersebut, diperlukan kerja sama antara masyarakat dan para pemangku kepentingan melalui penerapan prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan, salah satunya dengan mengintegrasikan konsep 4A (Atraksi. Aksesibilitas. Amenitas, dan Fasilitas Tambaha. sebagai landasan utama dalam pembangunan destinasi wisata. (Bagus & Wanda, 2. Budaya yang dimiliki oleh Desa Pringgasela hampir punah akibat kurangnya proses regenerasi yang efektif. Salah satu penyebab utamanya adalah para orang tua tidak mewariskan keterampilan menenun yang dimiliki kepada anak-anak mereka bahkan menganggap kain tenun tidak memiliki nilai ekonomi yang cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga. Selain tenun, sejumlah kesenian tradisional khas Pringgasela juga mulai tersisihkan oleh arus modernisasi, seperti gendang beleq, rantok, rudat, dan lainnya. Hal ini terlihat dari makin jarangnya seni-seni tersebut ditampilkan, kecuali saat ada acara atau perayaan tertentu. Menyadari ancaman kepunahan budaya ini, masyarakat Pringgasela berinisiatif merancang kegiatan khusus sebagai langkah upaya pelestarian budaya mereka. Dalam rangka menghidupkan kembali budaya lokal di Desa Pringgasela, masyarakat setempat menggagas sebuah acara hiburan yang berakar pada nilai-nilai budaya tradisional. Acara tersebut dirancang secara kreatif agar mampu menarik minat penonton maupun pengunjung yang Inisiatif ini membuka peluang besar bagi warga untuk mempromosikan kain tenun khas Pringgasela sekaligus menjaga eksistensi budaya lokal. Hal tersebut merupakan keunikan tersendiri yang menarik untuk diteliti karena memuat berbagai fungsi strategis, seperti menjadi media komunikasi budaya, wadah untuk mengenalkan serta mengembangkan kesenian dan tradisi lokal, mengangkat potensi ekonomi masyarakat, serta mendorong kesadaran kolektif dalam menjaga kelestarian lingkungan alam. Berdasarkan penjelasan di atas, peneliti terdorong untuk melakukan kajian di Desa Pringgasela. Penelitian ini tidak semata-mata menyoroti upaya pelestarian budaya, melainkan juga mengkaji pemanfaatan unsur budaya . hususnya tenun tradisiona. sebagai sarana promosi dan penguatan ekonomi masyarakat setempat. Selain itu, penelitian ini menekankan peran aktif pemuda dalam merancang dan menjalankan kegiatan budaya. Ini menawarkan perspektif baru bahwa regenerasi budaya bisa digerakkan oleh anak muda dengan pendekatan modern namun tetap berakar pada tradisi. LANDASAN TEORI Pelestarian Budaya Lokal Sebagai bangsa yang memiliki perjalanan sejarah panjang dan kaya akan keanekaragaman budaya lokal, sudah sepatutnya kita berkomitmen kuat untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur. Pelestarian tidak hanya dimaknai sebagai upaya menjaga sesuatu agar tetap utuh atau tidak punah, melainkan sebagai tindakan berkelanjutan untuk memelihara dan menghidupkan nilai-nilai budaya tersebut sepanjang waktu. Dalam konteks ini, berbagai bentuk warisan budaya lokal memberikan kesempatan bagi kita untuk memahami kearifan masyarakat masa lalu dalam menghadapi tantangan hidup mereka. Sayangnya, nilai-nilai kearifan lokal tersebut kini sering terabaikan dan dianggap tidak relevan dengan realitas masa kini maupun masa depan. Akibatnya, banyak peninggalan budaya yang rusak, dilupakan, bahkan kehilangan a. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 makna di tengah masyarakat. Ironisnya, ketika bangsa lain dengan sejarah terbatas berusaha meneguhkan identitasnya melalui warisan budaya yang sedikit, bangsa Indonesia yang justru memiliki kekayaan budaya melimpah cenderung abai terhadap aset berharga tersebut. Keadaan ini menunjukkan adanya paradoks dalam cara kita menghargai dan merawat warisan budaya bangsa Upaya pelestarian tidak akan mampu bertahan maupun berkembang apabila tidak memperoleh dukungan nyata dari masyarakat dan tidak menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Para ahli dan praktisi di bidang pelestarian perlu lebih dekat dengan masyarakat, bukan hanya berteori, tetapi juga mengajak mereka terlibat aktif dalam menjaga warisan budaya. Pelestarian tidak seharusnya terbatas pada tulisan akademik, diskusi ilmiah di ruang-ruang mewah, atau sekadar menjadi minat segelintir kalangan tertentu. Sebaliknya, pelestarian harus tumbuh dan berakar di tengah masyarakat, dijalankan bersama, serta diperjuangkan sebagai bagian dari tanggung jawab kolektif untuk menjaga identitas budaya bangsa. (Hadiwinoto, 2002: . Peran budaya lokal dalam pelestarian warisan budaya memiliki posisi yang sangat penting dalam upaya memperkuat pembangunan kebudayaan nasional. Di tengah arus globalisasi yang membawa pengaruh budaya asing, budaya lokal perlu memiliki ketahanan agar tidak kehilangan jati dirinya. Ketidakmampuan menghadapi arus tersebut dapat berakibat pada hilangnya sumber identitas lokal yang berawal dari krisis identitas itu sendiri. Untuk memperkuat daya tahan budaya lokal, terdapat beberapa strategi yang dapat diterapkan, di antaranya: . memperkuat pembangunan jati diri bangsa, . memperdalam pemahaman terhadap falsafah budaya, . menetapkan peraturan daerah yang mendukung pelestarian budaya, serta . memanfaatkan teknologi informasi secara optimal (Mubah, 2011:302Ae. Budaya lokal memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya serta memperkuat identitas bangsa di tengah arus globalisasi. Pelestarian budaya tidak hanya bergantung pada kebijakan atau kajian akademik, tetapi harus menjadi bagian hidup masyarakat dan didukung secara kolektif. Untuk itu, diperlukan strategi yang terarah seperti penguatan jati diri bangsa, pendalaman nilai-nilai budaya, penyusunan regulasi yang berpihak pada pelestarian, serta pemanfaatan teknologi informasi sebagai sarana adaptasi dan pengembangan budaya lokal agar tetap relevan di masa kini dan masa depan. Pengembangan Pariwisata Budaya Dalam kehidupan masyarakat masa kini, kegiatan rekreasi telah menjadi bagian penting yang tidak bisa dipisahkan dari kebutuhan manusia. Hal ini disebabkan oleh padatnya aktivitas sehari-hari yang menimbulkan tekanan, sehingga diperlukan waktu untuk bersantai dan melepaskan penat. Kebutuhan akan relaksasi dan penyegaran ini dapat dipenuhi melalui berbagai bentuk usaha di bidang hiburan dan rekreasi. Dalam konteks ini, sektor pariwisata memiliki peranan yang signifikan. Selain itu, kemajuan sektor pariwisata juga dapat memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan berbagai sektor lainnya, baik secara langsung maupun tidak Dalam jangka panjang, motivasi utama wisatawan diperkirakan akan bergeser ke arah minat terhadap kebudayaan, terutama karena makin sulitnya menemukan nuansa tradisional di negaranegara maju. Kelangkaan ini memicu keinginan banyak orang untuk mengenal lebih dalam budaya asli leluhur mereka. Dalam konteks tren ini. Desa Pringgasela memiliki kekayaan potensi wisata budaya, baik berupa warisan fisik seperti menenun, maupun warisan nonfisik seperti seni tari Apabila potensi wisata budaya ini dikelola secara optimal oleh pemerintah daerah, tentu akan berpeluang untuk bersaing dengan wilayah lain. Namun, jika perhatian hanya diberikan pada a. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 pariwisata alam, ada risiko wisatawan akan merasa jenuh karena sifat wisata alam yang cenderung Sebaliknya, pengelolaan budaya yang tidak terarah justru dapat berdampak negatif. Eksploitasi berlebihan terhadap unsur budaya dapat merusak nilai dan esensi budaya itu sendiri, menjadikannya sekedar simbol kosong tanpa makna. Ketika budaya dijadikan komoditas tanpa kendali, identitasnya dapat tercerabut dari akar masyarakat yang melahirkannya. Di sektor lain, pengembangan budaya yang semata-mata ditujukan untuk kepentingan pariwisata dapat menjadikan para pelaku budaya terlalu berorientasi pada keuntungan. Pendekatan komersial terhadap kebudayaan atau yang dikenal dengan istilah komersialisasi budaya merupakan salah satu dampak dari perubahan budaya dalam proses pembangunan nasional. Kartodirdjo . mengidentifikasi empat persoalan utama yang muncul akibat transformasi budaya, yaitu lemahnya ketahanan budaya dan konflik nilai, komersialisasi budaya, kecenderungan pada materialisme dan konsumerisme, serta potensi konflik sosial. Akibat dari orientasi bisnis yang dominan, tujuan utama dalam mempertunjukkan budaya berubah bukan lagi untuk menampilkan nilai luhur, melainkan untuk kepentingan ekonomi. Jika dibiarkan, kebudayaan bisa dijadikan alat manipulasi demi profit. Bahkan, dalam jangka panjang, hal ini dapat melahirkan budaya baru yang tidak mencerminkan jati diri atau karakter bangsa. Kartodirdjo . menyatakan bahwa transformasi budaya yang tidak berakar pada kepribadian serta identitas bangsa akan menghasilkan budaya modern yang justru menggeser dan menghilangkan budaya tradisional yang mencerminkan karakter asli bangsa. Fenomena pergeseran orientasi budaya akibat dominasi kepentingan ekonomi menunjukkan pentingnya kajian yang menyoroti upaya pelestarian budaya. Penelitian yang dilakukan oleh Rohmi Z. & Mahagangga . berjudul AuPeranan Perempuan Kelompok Sentosa Sasak Tenun di Desa Wisata Pringgasela Kabupaten Lombok TimurAy bertujuan untuk menganalisis kontribusi perempuan dalam pengembangan usaha tenun gedogan pada Kelompok Sasak Tenun Sentosa di Desa Wisata Pringgasela. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan berperan dalam tiga aspek, yaitu: peran produktif sebagai pengrajin tenun, petani, peternak, buruh, dan pedagang. peran reproduktif sebagai pengelola rumah tangga. serta peran sosial melalui keterlibatan dalam kegiatan keagamaan, adat, dan kelompok kesehatan masyarakat. Dari ketiga peran tersebut, peran reproduktif dipandang sebagai peran utama, karena berkaitan erat dengan tanggung jawab perempuan sebagai istri dan ibu dalam mengatur urusan rumah tangga. Dampak pariwisata terhadap pertumbuhan ekonomi lokal Pariwisata merupakan salah satu sektor strategis yang memiliki kontribusi besar terhadap pembangunan, baik dalam skala nasional maupun daerah. Selain menjadi sarana pelestarian budaya dan pemanfaatan potensi alam, pariwisata juga berperan penting dalam meningkatkan taraf hidup masyarakat melalui penciptaan lapangan kerja, peluang usaha, serta perputaran ekonomi lokal. Berangkat dari pemahaman tersebut, penulis berupaya mengkaji lebih dalam mengenai bagaimana pariwisata dapat memberikan pengaruh nyata terhadap peningkatan pendapatan masyarakat. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Salihin . menunjukkan bahwa Pariwisata memberikan dampak positif terhadap ekonomi lokal melalui peningkatan pendapatan, penciptaan lapangan kerja, dan berkembangnya usaha mikro berbasis wisata. Namun, tantangan sosial dan lingkungan perlu mendapat perhatian agar pembangunan pariwisata tetap berkelanjutan. Penelitian selanjutnya direkomendasikan untuk lebih mendalami aspek sosial-budaya dan keberlanjutan Pengembangan pariwisata memberikan dampak yang signifikan terhadap perekonomian masyarakat lokal. Peningkatan pendapatan warga tercapai melalui berbagai aktivitas ekonomi yang terkait dengan sektor pariwisata, termasuk layanan penginapan, kuliner, transportasi, dan pemandu wisata. Selain itu, pariwisata membuka kesempatan kerja baru baik bagi a. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 tenaga lokal maupun bagi pengembangan usaha mikro, seperti kerajinan tangan, penjualan suvenir, dan jasa wisata berbasis komunitas. Di sisi lain, pertumbuhan pariwisata membawa tantangan sosial dan lingkungan. Secara sosial, perubahan pola kehidupan masyarakat dan tekanan terhadap nilai budaya tradisional menjadi isu yang perlu diperhatikan. Secara lingkungan, peningkatan kunjungan wisata berpotensi menimbulkan degradasi ekosistem pesisir, polusi, dan penurunan kualitas sumber daya alam jika tidak dikelola secara berkelanjutan. Oleh karena itu, penelitian ini menekankan perlunya strategi pengelolaan pariwisata yang seimbang, yang tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan pelestarian lingkungan dan penguatan nilai sosial-budaya masyarakat. Penelitian yang dilakukan Abdul H. menunjukkan bahwa Pariwisata memberikan pengaruh signifikan terhadap pengembangan masyarakat, khususnya dalam aspek ekonomi, sosialbudaya, dan lingkungan. Masyarakat setempat terlibat secara aktif dalam berbagai aktivitas pariwisata yang berkembang di kawasan tersebut. Pada aspek ekonomi, pariwisata berkontribusi pada peningkatan pendapatan bagi pelaku usaha seperti hotel, restoran, pemandu wisata, biro perjalanan, toko, dan jasa pariwisata lainnya. Namun, pengaruhnya tidak merata, karena beberapa pelaku usaha lokal, seperti pengrajin, pedagang asongan, dan usaha kaki lima, mengalami tekanan terhadap kapasitas usaha mereka. Pengembangan pariwisata ini membuka peluang investasi bagi pelaku usaha besar, sekaligus menjadi tantangan bagi pelaku usaha lokal yang belum mampu beradaptasi atau bersaing dengan skala dan perkembangan industri pariwisata yang terjadi. Peran Pariwisata dalam Pelestarian Budaya Pariwisata tidak hanya berkaitan dengan perjalanan dan hiburan, tetapi juga memiliki fungsi strategis dalam menjaga keberlanjutan budaya. Melalui kegiatan pariwisata, berbagai tradisi, kesenian, bahasa daerah, serta warisan leluhur dapat terus dilestarikan dan diperkenalkan kepada masyarakat luas, baik di tingkat nasional maupun internasional. Pariwisata mendorong revitalisasi tradisi dan kesenian lokal. Banyak festival budaya, pertunjukan seni, serta upacara adat yang kembali digelar secara rutin karena adanya permintaan dari wisatawan. Hal ini tidak hanya memberikan ruang ekspresi bagi pelaku seni, tetapi juga menumbuhkan rasa bangga masyarakat terhadap identitas budaya mereka. Pariwisata turut membuka peluang ekonomi yang berhubungan langsung dengan produk budaya. Misalnya, kerajinan tangan, kuliner tradisional, busana adat, hingga arsitektur khas daerah dapat menjadi daya tarik wisata yang bernilai ekonomis. Dengan demikian, masyarakat memiliki motivasi lebih kuat untuk mempertahankan dan mengembangkan kearifan lokal. Pariwisata berperan dalam transfer pengetahuan lintas generasi. Kegiatan wisata berbasis budaya memungkinkan generasi muda untuk terlibat dalam proses belajar, baik melalui partisipasi dalam pementasan seni maupun dalam produksi karya tradisional. Hal ini berkontribusi terhadap kesinambungan praktik budaya agar tidak hilang ditelan arus . Pariwisata juga memicu upaya pelestarian situs sejarah dan peninggalan budaya. Keberadaan wisatawan menuntut pengelolaan yang lebih serius terhadap cagar budaya, museum, serta peninggalan arkeologi agar tetap terjaga keasliannya. Penelitian yang dilakukan oleh Erna S. berfokus pada peran perempuan dalam meningkatkan inovasi dan kreativitas pada pengembangan kerajinan tenun di Desa Sade. Kabupaten Lombok Tengah. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif untuk menggali kontribusi perempuan dalam proses produksi dan pelestarian budaya Temuan penelitian menunjukkan bahwa perempuan memiliki posisi strategis dalam mengembangkan kreativitas serta inovasi tenun, yang tidak hanya berdampak pada peningkatan kualitas kerajinan, tetapi juga pada penguatan nilai adat dan budaya masyarakat setempat. Hasil penelitian yang diakukan oleh Suryadmaja G. menunjukkan bahwa kesenian a. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 tradisional seperti Gendang Beleq berpotensi untuk meningkatkan kunjungan wisatawan. Sebagai bagian dari pengembangan pariwisata berbasis budaya. Gendang Beleq tidak hanya memperkaya pengalaman wisatawan, tetapi juga memberi dampak positif terhadap pelestarian budaya lokal. Dengan demikian, pariwisata bukan hanya instrumen ekonomi, melainkan juga sarana efektif dalam menjaga warisan budaya. Namun, pengelolaannya harus memperhatikan prinsip keberlanjutan agar pelestarian budaya tidak sekadar menjadi komoditas, melainkan tetap menghormati nilai dan makna yang terkandung di dalamnya. METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan di Desa Pringgasela. Kecamatan Pringgasela. Kabupaten Lombok Timur. Metode yang dipakai adalah pendekatan kualitatif dengan analisis data secara deskriptif Sumber data utama diperoleh melalui observasi, wawancara, serta dokumentasi. Data kualitatif dikumpulkan melalui wawancara bersama informan yang membahas peran masyarakat dalam pengelolaan destinasi wisata di Desa Pringgasela. Teknik ini dilakukan dengan menyajikan uraian secara terperinci sesuai informasi dari para responden. Sedangkan metode dokumentasi digunakan untuk menghimpun data sekunder melalui beragam dokumen yang dimiliki oleh pihak Informasi tambahan diperoleh dari dokumen resmi yang tersedia di Desa Pringgasela. HASIL DAN PEMBAHASAN Desa Wisata Pringgasela merupakan salah satu wilayah administratif di Kecamatan Pringgasela. Kabupaten Lombok Timur, yang memiliki luas area sebesar 533 hektare dengan jumlah penduduk sebanyak 8. 422 jiwa. Desa Wisata Pringgasela menawarkan beragam daya tarik wisata yang saat ini tengah dikembangkan secara optimal oleh pemerintah desa, pelaku usaha, serta partisipasi aktif masyarakat setempat. Potensi wisata yang tersedia mencakup keindahan alam dan kekayaan budaya yang dapat dinikmati langsung oleh wisatawan. Daya tarik alam di antaranya adalah Sungai Mencerit dengan panjang sekitar 400 meter yang dimanfaatkan untuk aktivitas luar ruang, seperti river tubing, panjat tebing, kegiatan berkemah, dan outbound. Selain sebagai destinasi wisata, sungai tersebut juga berfungsi sebagai sumber kehidupan masyarakat sekitar, sementara itu. Sungai Tempasan di Dusun Tempasan menjadi lokasi kegiatan olahraga air, khususnya arung jeram . Daya tarik budaya di desa ini diwujudkan melalui keberadaan sentra kain tenun tradisional. Galeri Tenun Pringgasela bahkan telah berhasil memasarkan produknya hingga ke pasar Selain itu, pesta budaya yang menampilkan ragam kesenian lokal rutin diselenggarakan setiap tahun dengan dukungan pemerintah dan masyarakat desa. Peran Pariwisata dalam Pembangunan Ekonomi Desa Pringgasela Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan pariwisata di Desa Pringgasela memiliki dampak yang signifikan terhadap pembangunan ekonomi masyarakat. Pariwisata berbasis budaya, terutama yang menonjolkan tenun tradisional, telah menjadi sektor yang mampu membuka peluang ekonomi baru di luar sektor pertanian. Masyarakat setempat tidak lagi hanya bergantung pada pertanian sebagai mata pencaharian utama, tetapi mulai mengembangkan usaha- usaha baru yang berorientasi pada kebutuhan wisatawan. Sektor pariwisata di wilayah ini menunjukkan keterlibatan aktif masyarakat dalam berbagai jenis usaha penunjang, yang mencerminkan potensi ekonomi lokal berbasis budaya dan pelayanan, hal ini dibuktikan dengan munculnya berbagai unit usaha seperti sentra kerajinan tenun. Industri kerajinan tenun menunjukkan angka partisipasi yang signifikan, dengan melibatkan 245 orang Hal ini menegaskan bahwa kerajinan tenun merupakan salah satu sektor ekonomi kreatif a. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 utama yang berbasis pada warisan budaya lokal. Selain itu terdapat juga jasa pemandu wisata, layanan pemanduan wisata dikelola oleh dua entitas, yaitu satu milik desa dan satu milik warga. Jumlah tenaga kerja yang terlibat dalam layanan ini mencapai 6 orang, yang memiliki peran strategis dalam memperkenalkan objek dan budaya lokal kepada wisatawan. Kemudian terdapat juga jenis usaha lainnya seperti toko cenderamata, usaha kuliner . arung makan tradisiona. , cafy hingga homestay sederhana. Ini menjadi bukti nyata bahwa pariwisata telah mendorong tumbuhnya ekonomi kreatif di desa ini. Kehadiran wisatawan turut memberikan efek multiplikasi ekonomi, di mana perputaran uang tidak hanya terjadi pada sektor pariwisata langsung, tetapi juga merambah ke sektor pendukung, seperti transportasi lokal, penyedia bahan baku kuliner, dan jasa pemandu wisata (Caria, 2. Lapangan pekerjaan baru pun tercipta, baik bagi kaum perempuan yang terlibat dalam aktivitas menenun maupun kaum muda yang berperan sebagai pemandu wisata atau pengelola usaha jasa. Hal ini menunjukkan bahwa pariwisata telah meningkatkan taraf hidup masyarakat sekaligus memberikan peluang yang lebih luas dalam menciptakan kemandirian ekonomi desa. Peran Pariwisata dalam Pelestarian Budaya Selain memberikan kontribusi ekonomi, pariwisata di Desa Pringgasela juga berfungsi sebagai media pelestarian budaya. Tenun tradisional yang menjadi ikon desa tidak hanya dipasarkan sebagai komoditas ekonomi, tetapi juga dijadikan sebagai atraksi wisata yang menonjolkan nilai-nilai budaya lokal. Wisatawan dapat menyaksikan langsung proses menenun yang dilakukan oleh masyarakat, bahkan ikut terlibat dalam workshop sederhana. Aktivitas ini tidak hanya memberikan pengalaman unik bagi wisatawan, tetapi juga menghidupkan kembali semangat masyarakat dalam melestarikan warisan budaya mereka. Generasi muda yang sebelumnya cenderung kurang tertarik dengan kegiatan menenun, kini mulai kembali belajar karena adanya peluang ekonomi dan pengakuan dari wisatawan. Dengan demikian, pariwisata mendorong terjadinya proses regenerasi dalam pelestarian keterampilan Lebih jauh lagi, atraksi budaya seperti pertunjukan seni tradisional dan ritual adat yang dipentaskan untuk wisatawan turut menjaga keberlangsungan tradisi agar tidak hilang ditelan Dengan menampilkan kegiatan-kegiatan tradisional dapat menjadi sarana pelestarian dan pengembangan kesenian serta kebudayaan yang mencerminkan identitas bangsa Indonesia. (Resmawati, 2014 : . Dari sisi sosial, kehadiran wisatawan juga menumbuhkan rasa bangga dan kesadaran kolektif masyarakat terhadap budaya mereka sendiri. Penghargaan yang diberikan wisatawan terhadap hasil karya tenun dan tradisi lokal membuat masyarakat semakin termotivasi untuk merawat dan melestarikan budaya tersebut. Sehingaa dengan demikian pariwisata dapat bertahan dan tidak hanya memberikan dampak saat ini akan tetapi juga dalam jangka waktu yang panjang. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 Peran serta masyarakat lokal dalam kepemilikan dan pengelolaan sumber daya pariwisata menjadi faktor kunci dalam mewujudkan keberlanjutan destinasi wisata. Keterlibatan ini tidak hanya mencerminkan keadilan dalam distribusi manfaat ekonomi, tetapi juga memperkuat rasa memiliki terhadap potensi lokal yang dimiliki. Bentuk partisipasi tersebut dapat terwujud melalui kepemilikan langsung atas usaha-usaha pariwisata oleh warga setempat, pelibatan aktif dalam proses perumusan kebijakan serta pengelolaan lingkungan, hingga penguatan kapasitas komunitas dalam mengelola sumber daya alam dan budaya secara bijaksana (Diandra, 2. Dengan demikian, masyarakat lokal tidak hanya menjadi objek dari pembangunan pariwisata, melainkan juga bertindak sebagai subjek yang memiliki kendali terhadap arah dan model pengembangannya. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pariwisata berbasis masyarakat . ommunity-based touris. , yang menempatkan keberlanjutan sosial, budaya, ekonomi, dan lingkungan sebagai fondasi utama dalam pengelolaan destinasi wisata. Gambar 1. Festival Alunan Budaya (Nyiwa. yang diselenggarakan di desa Pringgasela . /07/2. Sumber : dokumentasi pokdarwis tunggul. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 Gambar 2. Demo Tenun, kegiatan yang dilaksanakan di arena pameran ekonomi kreatif yaitu demonstrasi para penenun, yang rata-rata dilakukan oleh para gadis di Desa Pringgasela. Tantangan Meskipun pariwisata membawa banyak manfaat, penelitian ini juga menemukan sejumlah tantangan yang perlu diantisipasi. Keterbatasan infrastruktur masih menjadi kendala utama, seperti akses jalan yang belum sepenuhnya memadai, keterbatasan fasilitas publik, serta kurangnya media promosi digital yang efektif. Hal ini menyebabkan Desa Pringgasela belum dikenal secara luas, terutama di kalangan wisatawan mancanegara. Di sisi lain, muncul kekhawatiran mengenai potensi terjadinya komersialisasi terhadap budaya lokal. Budaya kerap dijadikan komoditas untuk menarik wisatawan, sehingga lebih difokuskan pada aspek hiburan atau keuntungan ekonomi semata. Praktik semacam ini berisiko mengabaikan makna simbolik, nilai-nilai sakral, dan fungsi budaya dalam kehidupan sosial Apabila dibiarkan tanpa regulasi dan pendekatan yang sensitif terhadap konteks budaya, maka kegiatan pariwisata berpotensi mereduksi esensi budaya itu sendiri. (Ruastiti, 2. Untuk mencegah hal tersebut, pengembangan pariwisata perlu dilakukan secara selektif dan bertanggung jawab, dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip pariwisata berkelanjutan. Hal ini mencakup pelibatan masyarakat lokal, perlindungan terhadap warisan budaya, serta penekanan pada keseimbangan antara manfaat ekonomi dan pelestarian nilai-nilai tradisional. https://ejournal. id/JRT JRTour Journal Of Responsible Tourism Vol. No. November 2025 KESIMPULAN Pariwisata di Desa Pringgasela memiliki peluang besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui bertambahnya pendapatan, terbukanya lapangan kerja, serta berkembangnya usaha-usaha lokal. Agar manfaat ini dapat dirasakan secara berkelanjutan, diperlukan keterlibatan aktif seluruh lapisan masyarakat, khususnya generasi muda, dalam pengelolaan dan pelestarian tradisi tenun sebagai identitas budaya desa. Meskipun budaya lokal menghadapi ancaman serius akibat lemahnya regenerasi dan tekanan modernisasi, inisiatif masyarakat dalam mengadakan kegiatan berbasis budaya telah menjadikan pariwisata sebagai sarana strategis dalam menjaga warisan budaya sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif. Partisipasi masyarakat dalam berbagai bentuk usaha pariwisata seperti kerajinan tenun, jasa pemandu, kuliner, hingga homestay menunjukkan adanya distribusi manfaat yang lebih merata serta memperkuat rasa memiliki terhadap budaya lokal. Namun demikian, keterbatasan infrastruktur dan kurangnya promosi digital masih menjadi tantangan utama yang perlu diatasi. Dengan dukungan peningkatan kapasitas masyarakat, perbaikan fasilitas, dan strategi promosi yang lebih efektif. Desa Pringgasela berpotensi berkembang menjadi destinasi pariwisata yang berkelanjutan secara ekonomi, sosial, dan budaya. DAFTAR REFERENSI Caria Ningsih. Hasyim Mochtar. Setiawati. Ita Purnama. , & MM. Peran pariwisata dalam ekonomi berkembang analisis keuangan dan ekonomi: buku . Diandra. Peran Masyarakat Lokal dalam Pengembangan Pariwisata. Jurnal abdimas Pariwisata. Vol. 5 No. 2 Tahun 2024. Hlm 82 . Fatihah. Winda Amalia. Idrus. Syech. Martayadi. Uwi. Peran Kelompok Wanita Penenun Ditinjau Dari Inovasi Dan Kreativitas Motif Dalam Meningkatkan Daya Tarik Wisata Di Desa Pengadangan Kecamatan Pringgasela Kabupaten Lombok Timur. Journal Of Responsible Tourism, 2025, 4. 3: 875-882. Hadiwinoto. AuBeberapa Aspek Pelestarian Warisan BudayaAy. Makalah disampaikan pada Seminar Pelestarian dan Pengembangan Masjid Agung Demak, di Demak, 17 Januari 2002. Kartodirdjo. Tranformasi Budaya dalam Pembangun dalam Tantangan Kemanusian Universal. Yogyakarta : Kanisius . Mubah. AuStrategi Meningkatakan Daya Tahan Budaya Lokal dalam Menghadapi Arus GlobalisasiAy. Jurnal Komunikasi. Volume XXIV. No. 4/2011. Hlm. Ni Made. Seni Pertunjukan Bali dalam Kemasan Pariwisata (Seri Kajian Buday. Resmawati W. Fungsi Gedung Taman Budaya Jawa Timur sebagai Wadah Aktifitas Seni Tradisional Jawa Timur tahun 1978-1988, eJournal Pendidikan Sejarah, 292-301 . Rohmi. , & Mahagangga. Peranan Perempuan Kelompok Sentosa Sasak Tenun di Desa Wisata Pringgasela Kabupaten Lombok Timur. Jurnal Destinasi Pariwisata, 8. , 45-51. Enden. Masa depan industri Pariwisata Kota Palangkaraya. Jurnal Penelitian UPR, 2 . : 45-47. Salihin. Pengaruh Pengembangan Pariwisata Terhadap Perekonomian Lokal di Kawasan Wisata Pantai Senggigi. Lombok. Tourism and Hospitality Research, 1. , 01-08. Suryadmaja. Potensi Seni Gendang Beleq Dalam Penguatan Pariwisata di Lombok. Provinsi Nusa Tenggara Barat. Journal of Modern Social and Humanities, 1. , 1323. https://ejournal. id/JRT