EDUCATION Vol 2 No. 2 Juli 2022 Ae eISSN: 2828-2612, pISSN: 2828-2620. Hal 80-88 JURNAL SOSIAL HUMANIORA DAN PENDIDIKAN Halaman Jurnal: http://journal. id/index. php/Education Halaman Utama : http://journal. id/index. Konflik Dalam Masyarakat Global Ajeng Dwi Pratiwi. Idris Harahap. Vira Madhani dwip06485@gmail. com viramadhani97@gamil. com idrizzhrp@gmail. Universitas Islam Negeri Sumatera Utara Jl. Wileam Iskandar Pasar V. Medan Estate, 20371 Abstrak Manusia/ makhluk hidup merupakan makhluk konfliktif yakni makhluk yang akan selalu bertentangan dengan perbedaan, pertentangan serta persaingan baik dengan cara yang baik maupun terpaksa. hal-hal ini sangat tidak dapat di hindari dikarenakan merupakan aspek nyata di dalaam kehidupan sosial bermasyarakat. konflik pada tahapan tertentu sangat di butuhkan sebagai alat perubahan manusia sebagai anggota masyarakat supaya menjadi yang lebih baik lagi. terdapat pandangan kontemporer terhadap konflik didasarkan kepada anggapan-anggapan bahwa konflik merupakan sesuatu yang tidak dapat di hilangkan sebagaimana konsekkuensi nya yang logis sebagai bahan interaksi makhluk hidup. yang menjadi permasalahan di sini adalah bukan bagaimana caranya supaya meredam kan koflik tetapi melainkan bagaimana cara yang ampuh untuk menangani nya secara tepat sehingga tidak akan menimbulkan hubungan yang rusak antar pribadi masing-masing bahkan juga merusak keorganisasian. seharusnya konflik bukan di jadikan bahan destruktif tetapi melainkan harus dijadikan suatu hal yang konstruktif supaya bisa dan mampu menjalani kehidupan bermasyarakat secara tertib dan teratur. Abstract Humans / living things are conflicting creatures, namely creatures who will always be in conflict with differences, contradictions and competition either in a good way or forced. These things are unavoidable because they are real aspects of social life. Conflict at a certain stage is needed as a tool for human change as a member of society to become a better person. There is a contemporary view of conflict based on the assumptions that conflict is something that cannot be eliminated as it has a logical consequence as a material for the interaction of living things. but the problem here is not how to reduce the conflict, but rather how to effectively handle it so that it will not cause a damaged relationship between each other and even damage the organization. Conflict should not be used as a destructive material, but EDUCATION Vol 2 No. 2 Juli 2022 Ae eISSN: 2828-2612, pISSN: 2828-2620. Hal 80-88 rather should be made into something constructive so that they can and are able to live social life in an orderly and orderly manner. Kata kunci : Konflik. Teori konflik. Penyelesaian konflik PENDAHULUAN Pada dasarnya hakikat konflik adalah suatu pertandingan anatara menang dan kalah antar kelompok maupun individu dalam berorganisasi. bisa juga di katakan dalam kata lain yakni konflik ialah segala macam interaksi pertentangan atau antagonistik antara kelompok dua atau lebih pihak. pertentangan kepentingan ini sangat berbeda intensitasnya tergantung kepada sarana yang di gunakan. masing-masing individu merasa ingin membela nilai-nilai yang telah menganggap diri merak benar, dan juga memaksa pihak-pihak lain untuk mengakui nilai-nilai tersebut baik secara kembut maupun keras. Konflik senidri muncul dikarena kan adanya dari kondisi kemajemukan struktur kemasyarakatan dan juga konflik di artikan sebagai fenomena yang sering terjadi sepanjang proses kehidupan manusia. dari segi sudut manapun kita pandang tentang konflik bahwasanya konflik tidak akan bisa di pisahkan dari kehidupan sosial kita. dalam kehidupan nyata di kehidupan kita manusia tetap akan berhadapan dengan konflik dimana pun dan kapan pun yang akan berhadapan itu seperti pertentangan pendapat-pendapat, tujuan-tujuan dan kebutuhan- kebutuhan yang akan sellau di pertentangkan. Konflik pada umumnya berlatar belkangkan adanya perbedaan, sedangkan perbedaan sendiri dapat di artikan sebagai ketidaksamaan persepsi setiap manusia makhluk hidup yang dapat kita jumpai di mana pun kita bermasyarakat. perbedaan tak dapat di pungkiri dari beberapa nilai-nilai yang terkandung di dalam norma-norma makhluk hidup yang saling bergantung satu dengan yang lainnya. PEMBAHASAN Konflik Pengertian Konflik Konflik berasal dari bahasa Latin AuconfigureAy yang berarti saling memukul. Secara sosiologis, konflik adalah suatu proses sosial antara dua orang atau lebih . isa juga kelompo. di mana salah satu pihak berusaha menyingkirkan pihak lain dengan menghancurkannya atau membuatnya tidak berdaya. Konflik dilatarbelakangi oleh perbedaan ciri-ciri yang dibawa individu dalam suatu Perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya adalah menyangkut ciri fisik, kepandaian, pengetahuan, adat istiadat, keyakinan, dan lain sebagainya. Konflik bertentangan dengan integrasi. Konflik dan Integrasi berjalan sebagai sebuah siklus di masyarakat. Konflik yang terkontrol akan menghasilkan integrasi. Sebaliknya, integrasi yang tidak sempurna dapat menciptakan konflik. Menurut Taquiri dalam Newstorm dan Davis . , konflik adalah warisan kehidupan sosial yang boleh berlaku dalam berbagai keadaan akibat daripada berbangkitnya keadaan ketidaksetujuan, kontroversi dan pertentangan di antara dua pihak atau lebih pihak secar berterusan. Pace & Faules, dalam bukunya Organizational Communication . menyatakan konflik adalah ekspresi pertikaian antara individu dengan individu lain, kelompok dengan kelompok lain karena beberapa alasan. Dalam pandangan ini, pertikaian menunjukkan adanya perbedaan antara dua atau lebih individu yang diekspresikan, diingat, dan dialami Robbin TW . 6: . menyatakan konflik dalam International Journal of Conflict Management, organisasi disebut sebagai The Conflict Paradoks, yaitu konflik adalah pandangan bahwa di sisi konflik dianggap dapat meningkatkan kinerja kelompok, tetapi di sisi lain kebanyakan kelompok dan organisasi berusaha untuk meminimalisasikan konflik. Pandangan ini dibagi menjadi tiga bagian, antara lain: Pandangan tradisional (The Traditional Vie. Pandangan ini menyatakan bahwa konflik adalah hal yang buruk, sesuatu yang negatif, merugikan, dan harus dihindari. Pandangan hubungan manusia (The Human Relation View. Pandangan ini menyatakan bahwa konflik adalah suatu peristiwa yang wajar terjadi di dalam kelompok atau organisasi. Pandangan interaksionis (The Interactionist Vie. Pandangan ini cenderung mendorong suatu kelompok atau organisasi terjadinya konflik. Dapat disimpulkan bahwa konflik adalah reaksi yang terjadi atas perbedaan pendapat atau pandangan mengenai suatu hal yang diekspresikan dengan cara saling menyingkirkan pihak lain untuk mencapai tujuan masing-masing. Teori Konflik Sejarah Konflik Teori konflik adalah teori yang melihat bahwa perubahan sosial tidak terjadi untuk proses penyesuaian nilai-nilai tersedia konflik yang menghasilkan kompromi-kompromi yang beda dengan kondisi semula. Selama semakin dari dua puluh tahun Lewis A. Coser tetap terikat pada model sosiologi dengan tertumpu kepada bangun sosial. Pada ketika yang sama dia menunjukkan bahwa model tersebut selalu mengabaikan studi tentang konflik sosial. Beda oleh karena itu dapat oleh berdasarkanbeberapa mahir menurut ilmu sosiologi yang dengan tegas menegaskan EDUCATION Vol 2 No. 2 Juli 2022 Ae eISSN: 2828-2612, pISSN: 2828-2620. Hal 80-88 eksistensi dua perspektif yang berbeda tersebut yaitu teori fungsionalis dan teori konflik coser mengartikan komitmennya pada probabilitas menyatukan kedua pendekatan tersebut. dengan begitupun banyak juga para ahli-ahli sosilogi kontemporer menggoyahkan analisis konflik sosial yang terjadi di masyarakat mereka memandangnya sebagai hanya sarang penyakit dari organisasi sosial. Sama halnya Simmel. Coser enggak mencoba menghasilkan teori menyeluruh yang mencakup seluruh fenomena sosial. Karena beliau yakin bahwa setiap usaha untuk menghasilkan suatu teori sosial menyeluruh yang mencakup seluruh fenomena sosial adalah premature . esuatu yang sia- sia. Memang Simmel tidak pernah menghasilkan risalat sebesar Emile Durkheim. Max Weber atau Karl Marx. Tapi. Simmel mempertahankan mengembangkan bentuk- bangun-bangun atau konsep- pemikiran sosiologi di mana pokok lingkungan kehidupan empiris dapat ditempatkan. Penjelasan tentang teori knflik Simmel sebagai berikut: Simmel memandang pertikaian sebagai gejala yang tidak mungkin dihindari dalam warga. Bangun sosial dilihat dan diamankannya sebagai gejala yang mencakup pelbagai proses asosiatif dan disosiatif yang tidak mungkin terpisah- pisahkan, namun dapat dibedakan dalam analisis. Menurut Simmel konflik tunduk pada perubahan. Coser mengembangkan proposisi dan meluaskan pemikiran Simmel tersebut dalam menggambarkan kondisi- kondisi di mana konflik secara positif menolong bangun sosial dan bila terjadi secara negatif akan memperlemah kerangka warga. Konflik ini adalah proses yang bersifat instrumental dalam pembentukan, penyatuan dan pemeliharaan bangun sosial. Konflik dapat menaruh dan menjaga garis batas sela dua atau semakin himpunan. Konflik dengan himpunan lain dapat memperkuat kembali identitas himpunan dan melindunginya agar tidak lebur ke dalam lingkungan kehidupan sosial Seluruh fungsi positif konflik tersebut dapat dilihat dan diamankan dalam ilustrasi suatu himpunan yang sedang merasakan konflik dengan himpunan lain. Misalnya, pengesahan pemisahan gereja kaum tradisional . ang memepertahankan praktik- praktik petunjuk katolik pra- Konsili Vatican II) dan gereja Anglo- Katolik . ang berpisah dengan gereja Episcopal mengenai masalah pentahbisan wanit. Perang yang terjadi bertahun- tahun yang terjadi di Timur Tengah telah memperkuat identitas himpunan Negara Arab dan Israel. Coser melihat katup penyelamat berfungsi sebagai jalan ke luar yang meredakan permusuhan, yang tanpa itu hubungan- hubungan di sela pihak-pihak yang bertentangan akan semakin menajam Katup Penyelamat . avety-valu. ialah salah satu mekanisme khusus yang dapat dipakai untuk mempertahankan himpunan dari probabilitas konflik sosial. Katup penyelamat merupakan sebuah institusi pengungkapan rasa tidak puas atas sebuah sistem atau Menurut Coser konflik dibagi menjadi dua, yaitu: Konflik Realistis, berasal dari kekecewaan terhadap tuntutan- tuntutan khusus yang terjadi dalam hubungan dan dari aturan probabilitas keuntungan para partisipan, dan yang ditujukan pada obyek yang diasumsikan mengecewakan. Misalnya para karyawan yang mogok kerja agar tuntutan mereka berupa kenaikan upah atau gaji Konflik Non- Realistis, konflik yang bukan berasal dari tujuan- tujuan saingan yang antagonis, tapi dari kebutuhan untuk meredakan ketegangan, paling tidak dari salah satu pihak. Coser menjelaskan dalam warga yang buta huruf pembasan dendam kebanyakan menempuh ilmu gaib seperti teluh, santet dan lain- lain. Sebagaimana ketidakmampuan melawan himpunan yang seharusnya menjadi lawan mereka. Menurut Coser terdapat suatu probabilitas seseorang terlibat dalam konflik realistis tanpa sikap permusuhan atau agresi. Akan tapi apabila konflik mengembang dalam hubunganhubungan yang intim, maka pemisahan . ntara konflik realistis dan non-realisti. akan semakin sulit untuk dipertahankan. Coser mennyatakan bahwa, semakin tidak jauh suatu hubungan semakin agung rasa kasih saying yang sudah tertanam, sehingga semakin agung juga kecenderungan untuk menekan ketimbang mengungkapkan rasa permusuhan. Sedang pada hubungan- hubungan sekunder, seperti misalnya dengan rekan bisnis, rasa permusuhan dapat relatif tidak terikat diungkapkan. Hal ini tidak selalu bisa terjadi dalam hubunganhubungan primer dimana keterlibatan total para partisipan membuat pengungkapan perasaan yang demikian merupakan bahaya untuk hubungan tersebut. Apabila konflik tersebut benarsah melampaui batas sehingga menyebabkan ledakan yang membahayakan hubungan CoserMengutip hasil pengamatan Simmel yang meredakan ketegangan yang terjadi dalam suatu himpunan. Dia menjelaskan bukti yang berasal dari hasil pengamatan terhadap warga Yahudi bahwa peningkatan konflik himpunan dapat dihubungkan dengan peningkatan EDUCATION Vol 2 No. 2 Juli 2022 Ae eISSN: 2828-2612, pISSN: 2828-2620. Hal 80-88 interaksi dengan warga secara semuanya. Bila konflik dalam himpunan tidak telah tersedia, berfaedah menunjukkan lemahnya integrasi himpunan tersebut dengan warga. Dalam bangun agung atau kecil konflik in-group merupakan indikator hal telah tersedia suatu hubungan yang sehat. Coser sangat menentang para mahir sosiologi yang selalu melihat konflik hanya dalam pandangan negatif saja. Perbedaan merupakan peristiwa normal yang sebenarnya dapat memperkuat bangun sosial. Dengan demikian Coser menolak pandangan bahwa ketiadaan konflik sebagai indikator dari kekuatan dan kestabilan suatu hubungan. Teori Konflik Menurut Ralf Dahrendorf Bukan hanya Coser saja yang tidak puas dengan pengabaian konflik dalam pembentukan Coser , sosiologi Jerman bernama Ralf Dahrendorf menyadur teori kelas dan konflik kelasnya ke dalam bahasa inggris yang sebelumnya berbahasa Jerman agar semakin mudah dimengerti oleh sosiolog Amerika yang tidak faham bahasa Jerman ketika lawatan singkatnya ke Amerika Serikat . 7- 1. Dahrendorf tidak menggunakan teori Simmel melainkan membangun teorinya dengan separuh penerimaan, separuh penolakan, serta memodifikasi teori sosiologi Karl Marx. Seperti halnya Coser. Ralf Dahrendorf mula- mula melihat teori konflik sebagai teori parsial, mengenggap teori tersebut merupakan perspektif yang dapat dipakai untuk menganalisis fenomena sosial. Ralf Dahrendorf menganggap warga bersisi ganda, benar sisi konflik dan sisi kerja sama. Inti Pemikiran Teori konflik Ralf Dahrendorf merupakan separuh penerimaan, separuh penolakan, serta modifikasi teori sosiologi Karl Marx. Karl Marx berpendapat bahwa pemilikan dan Kontrol sarana- sarana berada dalam satu individu- individu yang sama. Menurut Dahrendorf tidak selalu pemilik sarana- sarana juga bertugas sebagai pengontrol lebih-lebih pada seratus tahun kesembilan belas. Bangun-bangun penolakan tersebut beliau tunjukkan dengan memaparkan perubahan yang terjadi di warga industri semenjak seratus tahun kesembilan belas. Diantaranya: Dekomposisi modal Menurut Dahrendorf timbulnya korporasi- korporasi dengan saham yang dimiliki oleh orang banyak, dimana tak seorangpun benar kontrol penuh merupakan contoh dari dekomposisi modal. Dekomposisi tenaga. Dekomposisi Tenaga kerja Di seratus tahun spesialisasi sekarang ini mungkin sekali seorang atau beberapa orang mengendalikan perusahaan yang bukan miliknya, seperti halnya seseorang atau beberapa orang yang benar perusahaan tapi tidak mengendalikanya. Karena zaman ini adalah zaman keahlian dan spesialisasi, manajemen perusahaan dapat menyewa pegawai- pegawai untuk memimpin perusahaanya agar mengembang dengan berpegang pada kebenaran. Timbulnya kelas menengah baru Pada belakang seratus tahun kesembilan belas, lahir kelas pekerja dengan bangunan yang jelas, di mana para buruh terampil berada di jenjang atas sedang buruh biasa berada di Penerimaan Dahrendorf pada teori konflik Karl Marx adalah ide mengenai pertentangan kelas sebagai satu bangun-bangun konflik dan sebagai sumber perubahan sosial. Yang belakang sekali dimodifikasi oleh berlandaskan perkembangan yang terjadi akhir- belakang Dahrendorf mengatakan bahwa telah tersedia dasar baru untuk pembentukan kelas, sebagai pengganti konsepsi pemilikan sarana produksi sebagai dasar perbedaan kelas itu. Menurut Dahrendorf hubungan- hubungan kekuasaan yang menyangkut bawahan dan atasan menyediakan unsur untuk kelahiran kelas. Dahrendorf mengakui terdapat perbedaan di sela mereka yang benar sedikit dan banyak kekuasaan. Perbedaan dominasi itu dapat terjadi secara drastis. Tapi pada dasarnya tetap terdapat dua kelas sosial yaitu, mereka yang berkuasa dan yang didiami. Dalam analisisnya Dahrendorf menganggap bahwa secara empiris, pertentangan himpunan mungkin paling mudah di analisis bila dilihat dan diamankan sebagai pertentangan mengenai ligitimasi hubungan- hubungan kekuasaan. Dalam setiap asosiasi, kebutuhan himpunan penguasa merupakan nilai- nilai yang merupakan ideologi keabsahan kekuasannya, sementara kepentingan- kebutuhan himpunan bawah melahirkan ancaman untuk ideologi ini serta hubungan- hubungan sosial yang terkandung di dalamnya. Penyelesaian Konflik Preventif Upaya preventif adalah upaya pencegahan masalah berupa tindakan pengendalian sosial untuk mencegah atau mengurangi kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan di masa mendatang. Tindakan preventif atau pencegahan ini dilakukan baik secara pribadi maupun berkelompok. Tindakan preventif dilakukan karena manusia menyadari adanya potensi terjadi konflik apabila tidak diantisipasi. EDUCATION Vol 2 No. 2 Juli 2022 Ae eISSN: 2828-2612, pISSN: 2828-2620. Hal 80-88 Tujuan dari upaya mengatasi konflik secara preventif adalah mengondisikan keadaan sedemikian rupa. Sehingga dapat mencegah timbulnya masalah antara kedua belah pihak. Salah satu contohnya adalah Badan Narkotika Nasional atau BNN melakukan sosialisasi kepada masyarakat akan bahaya penggunaan narkoba. Sosialisasi dilakukan untuk mencegah semakin banyaknya korban akibat penggunaan obat-obatan terlarang. Represif Upaya represif adalah upaya penyelesaian masalah yang dilakukan setelah masalah Represif kerap dilakukan untuk menindak pelanggaran. Upaya represif biasanya dilakukan oleh individu, kelompok, atau pemerintahan untuk mengontrol masyarakat. Tujuannya adalah mengembalikan keserasian yang terganggu akibat penyimpangan yang ada. Tindakan represif dapat digolongkan ke dalam beberapa tindakan, yaitu: Tindakan Pribadi Represif: Pengaruh yang datang dari orang atau tokoh tertentu yang menjadi panutan. Tindakan Institusional Represif: Pengaruh yang ditimbulkan dari adanya suatu institusi atau lembaga. Pola perilaku lembaga tidak hanya mengawasi para anggota lembaga saja, tetapi juga mengawasi kehidupan masyarakat di sekitar lembaga tersebut. Tindakan Resmi: Pengendalian atau pengawasan sosial yang dilakukan oleh lembaga resmi negara sesuai peraturan perundang-undangan dengan sanksi yang mengikat. Tindakan Tidak Resmi: Pengendalian atau pengawasan sosial yang dilakukan tanpa rumusan aturan yang jelas atau tanpa sanksi hukum yang tegas. Kuratif Upaya mengatasi konflik secara kuratif adalah dengan menanggulangi dan mengatasi dampak yang disebabkan oleh masalah atau konflik yang terjadi. Sehingga, upaya kuratif merupakan tindak lanjut dalam masalah atau konflik yang sedang berlangsung. Berikut langkah-langkah mengatasi konflik secara kuratif yang dapat dilakukan: Mencari penyebab terjadinya konflik. Mencari solusi yang bersifat win-win solution atau menguntungkan kedua belah Melakukan mediasi dengan menghadirkan pihak ketiga sebagai mediator. Menempuh jalur hukum atau pengadilan sebagai upaya terakhir apabila konflik tidak bisa diatasi secara damai. KESIMPULAN konflik adalah ekspresi pertikaian antara individu dengan individu lain, kelompok dengan kelompok lain karena beberapa alasan. Dalam pandangan ini, pertikaian menunjukkan adanya perbedaan antara dua atau lebih individu yang diekspresikan, diingat, dan dialami Robbin menyatakan konflik dalam International Journal of Conflict Management, organisasi disebut sebagai The Conflict Paradoks, yaitu konflik adalah pandangan bahwa di sisi konflik dianggap dapat meningkatkan kinerja kelompok, tetapi di sisi lain kebanyakan kelompok dan organisasi berusaha untuk meminimalisasikan konflik. DAFTAR PUSTAKA