Jurnal Regional Planning DOI : 10. 36985/dwz93t07 E Ae ISSN : 2302 Ae 5980 Vol. 7 No 1 Februari 2025 INTEGRASI PERENCANAAN WILAYAH DAN PARIWISATA : STUDI KASUS PENGEMBANGAN VILLA DI LEMBANG Ahmad Ghazy Dananjaya1*. Wiwik Dwi Pratiwi2 Perencanaan Kepariwisataan. Sekolah Arsitektur Perencanaan Pengembangan Kebijakan. Institut Teknologi Bandung e-mail : ahmadghazydananjaya@gmail. ABSTRAK Pembangunan vila di Lembang berpotensi menjadi model pariwisata berkelanjutan yang dapat diterapkan di daerah lain. Dengan meningkatnya minat wisatawan terhadap akomodasi ramah lingkungan. Lembang dapat memanfaatkan peluang ini melalui penerapan praktik berkelanjutan yang mengintegrasikan perlindungan lingkungan, kesejahteraan sosial, dan pertumbuhan ekonomi. Kebijakan yang komprehensif, termasuk peraturan zonasi yang jelas dan insentif fiskal bagi pengembang, sangat diperlukan untuk mendukung pembangunan yang tidak merusak ekosistem lokal. Selain itu, partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan menjadi kunci untuk memastikan keberhasilan proyek. Dengan langkah-langkah strategis ini. Lembang dapat menciptakan destinasi wisata yang menarik dan bertanggung jawab, sekaligus memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan lingkungan. Hal ini menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, pengembang, dan masyarakat dalam mewujudkan pariwisata yang berkelanjutan. Kata Kunci : Pembangunan Vila. Pariwisata Berkelanjutan. Kebijakan Lingkungan. Partisipasi Masyarakat. Lembang ABSTRACT The development of villas in Lembang has the potential to become a model for sustainable tourism that can be applied in other areas. With increasing interest in eco-friendly accommodations by tourists. Lembang can capitalize on this opportunity by implementing sustainable practices that integrate environmental protection, social welfare, and economic growth. Comprehensive policies, including clear zoning regulations and fiscal incentives for developers, are essential to support development that does not damage the local ecosystem. In addition, community participation in decision-making is key to ensuring the success of the project. With these strategic steps. Lembang can create an attractive and responsible tourism destination, while providing long-term benefits to the community and the This emphasizes the importance of collaboration between the government, developers, and the community in realizing sustainable tourism. Keywords: Villa Development. Sustainable Tourism. Environmental Policy. Community Participation. Lembang PENDAHULUAN Lembang, yang terletak di dataran tinggi Jawa Barat, terkenal dengan keindahan alamnya yang menakjubkan serta potensi wisata yang beragam. Kawasan ini menjadi salah satu destinasi favorit bagi wisatawan, baik lokal maupun internasional, yang mencari pengalaman berlibur yang berbeda dari kesibukan kota. Dengan semakin meningkatnya jumlah wisatawan yang berkunjung, permintaan untuk akomodasi, khususnya vila sewa, juga meningkat secara Gunawan . menyebutkan bahwa "villa merupakan tempat tinggal bersifat sementara yang digunakan saat berlibur dan rekreasi. " Hal ini menegaskan bahwa vila tidak This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License Jurnal Regional Planning DOI : 10. 36985/dwz93t07 E Ae ISSN : 2302 Ae 5980 Vol. 7 No 1 Februari 2025 hanya berfungsi sebagai tempat peristirahatan, tetapi juga sebagai alternatif akomodasi yang menawarkan pengalaman berbeda bagi wisatawan yang ingin menikmati suasana tenang jauh dari hiruk-pikuk kehidupan perkotaan. Dalam konteks ini, penting bagi perencanaan wilayah untuk beradaptasi dengan perubahan permintaan tersebut, sehingga pengembangan vila dapat dilakukan secara berkelanjutan dan terintegrasi dengan rencana tata ruang yang ada. Gambar 1. Area Penelitan Sumber : https://shorturl. at/PSJ9B Perencanaan wilayah yang baik menjadi kunci untuk memastikan bahwa pengembangan vila tidak hanya memenuhi kebutuhan wisatawan, tetapi juga memperhatikan kepentingan masyarakat lokal. Muhammad . menyatakan bahwa "villa adalah suatu bentuk bangunan, lambang, perusahaan atau badan usaha akomodasi yang menyediakan pelayanan jasa " Dengan kata lain, vila bukan sekadar bangunan fisik, tetapi juga mencerminkan interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat. Hal ini membuka ruang untuk inovasi dalam perencanaan yang mengedepankan partisipasi masyarakat sebagai salah satu unsur penting dalam pengembangan pariwisata. Pembaharuan dalam pendekatan perencanaan bisa mencakup pengembangan kebijakan yang lebih inklusif, di mana masyarakat lokal dilibatkan dalam setiap tahap pengembangan, mulai dari perencanaan hingga implementasi. Ini tidak hanya akan meningkatkan rasa memiliki masyarakat terhadap proyek pengembangan, tetapi juga memastikan bahwa manfaat ekonomi dari pariwisata dapat dirasakan secara merata oleh semua pihak. Dalam konteks pertumbuhan pariwisata yang pesat, data dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Provinsi Jawa Barat menunjukkan tren peningkatan jumlah wisatawan yang berkunjung setiap tahun. Misalnya, pada tahun 2023, jumlah kunjungan wisatawan ke daerahdaerah wisata di Jawa Barat mencapai angka yang signifikan, mencapai lebih dari 10 juta kunjungan dalam setahun, yang menunjukkan tingginya minat terhadap akomodasi seperti vila. Pertumbuhan ini menuntut adanya pembaharuan dalam perencanaan wilayah agar dapat mengakomodasi kebutuhan yang terus berkembang. Inovasi dalam pengembangan vila dapat mencakup penerapan teknologi ramah lingkungan, seperti penggunaan energi terbarukan dan sistem pengelolaan limbah yang efisien. Hal ini akan membantu meminimalkan dampak negatif terhadap lingkungan, sekaligus menarik wisatawan yang semakin sadar akan isu keberlanjutan. Dengan demikian, perencanaan yang inovatif dan berkelanjutan dapat menciptakan sinergi antara pengembangan vila dan pelestarian lingkungan, yang pada akhirnya akan mendukung daya tarik wisata Lembang. This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License Jurnal Regional Planning DOI : 10. 36985/dwz93t07 E Ae ISSN : 2302 Ae 5980 Vol. 7 No 1 Februari 2025 Gambar 2. Sebaran Villa di Lembang Sumber : https://shorturl. at/PSJ9B Lebih lanjut, peningkatan pendapatan devisa pariwisata yang mencapai lebih dari tujuh kali lipat, dari Rp 60 triliun pada tahun 2022 menjadi Rp 85 triliun pada pertengahan tahun 2023 menurut Kemenparekraf . , menunjukkan bahwa sektor pariwisata memiliki potensi yang sangat besar untuk memberikan kontribusi bagi perekonomian daerah. Hal ini mengindikasikan bahwa pengembangan vila harus mampu beradaptasi dengan dinamika pasar dan memenuhi kebutuhan para wisatawan yang terus berubah. Pembaharuan dalam perencanaan wilayah juga dapat mencakup pengembangan zonasi yang lebih fleksibel, di mana area-area tertentu dapat ditetapkan sebagai zona pengembangan vila, sementara area lainnya dilindungi untuk menjaga kelestarian alam. Ini akan memudahkan pengelolaan sumber daya alam dan memastikan bahwa pengembangan vila tidak mengganggu keseimbangan ekosistem Inovasi dalam pendekatan ini juga dapat melibatkan pengembangan fasilitas wisata yang berorientasi pada keberlanjutan, seperti wellness center yang menawarkan pengalaman relaksasi dan kesehatan, sehingga menarik lebih banyak wisatawan. Spillane . menggarisbawahi bahwa "fasilitas cenderung pada daya tarik suatu wisata, sehingga fasilitas harus dekat dengan pasarnya atau objek wisata. " Ini menunjukkan pentingnya mempertimbangkan lokasi dalam pengembangan vila agar dapat memaksimalkan daya tarik Melalui pembaharuan dalam perencanaan zonasi dan tata ruang, pengembang dapat memastikan bahwa vila yang dibangun tidak hanya strategis dari segi lokasi, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan komunitas lokal. Inovasi dalam perencanaan ini bisa mencakup pengembangan jalur transportasi yang memudahkan akses ke objek wisata, serta menciptakan ruang publik yang dapat digunakan oleh masyarakat dan wisatawan bersama. Dengan melibatkan masyarakat dalam perencanaan dan pengembangan, serta mempertimbangkan aspek keberlanjutan, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi bagaimana integrasi antara pariwisata dan perencanaan wilayah dapat dilakukan dalam konteks pengembangan vila di Lembang, serta implikasinya bagi keberlanjutan lingkungan dan sosial. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan campuran dengan kombinasi metode kualitatif dan kuantitatif untuk mendapatkan gambaran yang komprehensif mengenai integrasi perencanaan wilayah dan pariwisata dalam konteks pengembangan vila di Lembang. Desain This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License Jurnal Regional Planning DOI : 10. 36985/dwz93t07 E Ae ISSN : 2302 Ae 5980 Vol. 7 No 1 Februari 2025 penelitian yang digunakan adalah cross-sectional, di mana data dikumpulkan pada satu titik waktu dari berbagai responden. Populasi penelitian mencakup masyarakat lokal, wisatawan yang pernah menginap di vila di Lembang, pengelola vila, dan pejabat pemerintah daerah. Dari populasi tersebut, penelitian ini melibatkan 200 responden, yang terdiri dari 100 wisatawan . %), 80 masyarakat lokal . %), dan 20 pengelola vila serta pejabat pemerintah . %). Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling, dengan kriteria pemilihan responden berdasarkan pengetahuan dan pengalaman mereka terkait pengembangan vila dan pariwisata. Pengumpulan data dilakukan melalui survei kuantitatif menggunakan kuesioner terstruktur yang mengukur persepsi tentang pengembangan vila, dampak sosial dan ekonomi dari pariwisata, keterlibatan masyarakat dalam perencanaan, serta aspek Selain itu, wawancara mendalam dilakukan dengan 20 responden dari kalangan pengelola vila dan pejabat pemerintah untuk menggali informasi yang lebih mendalam mengenai kebijakan dan tantangan dalam integrasi perencanaan wilayah dan pariwisata. Tabel 1. Sumber Data Jenis Responden Wisatawan Jumlah Responden Persentase (%) Masyarakat Lokal Pengelola Vila/Pemerintah Total Kelompok Usia Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Tingkat Pendidikan SMA/SMK. Diploma. Sarjana. Pascasarjana Data yang diperoleh dari kuesioner akan dianalisis secara kuantitatif menggunakan software statistik, seperti SPSS, mencakup analisis deskriptif untuk menggambarkan karakteristik responden, serta analisis regresi untuk mengidentifikasi hubungan antara variabel. Sementara itu, data dari wawancara kualitatif akan dianalisis menggunakan teknik analisis tematik, yang meliputi transkripsi wawancara, pengkodean data, dan penyusunan tema utama berdasarkan pola yang muncul. Tabel di bawah ini menunjukkan distribusi responden berdasarkan jenisnya: 100 wisatawan . %), 80 masyarakat lokal . %), dan 20 pengelola vila serta pejabat pemerintah . %), sehingga total responden dalam penelitian ini mencapai 200 Dengan metode penelitian yang komprehensif ini, diharapkan dapat diperoleh pemahaman yang mendalam mengenai integrasi antara perencanaan wilayah dan pariwisata, serta implikasinya bagi keberlanjutan pengembangan vila di Lembang, yang pada gilirannya dapat memberikan rekomendasi yang berguna bagi pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan dan strategi pengembangan yang lebih baik. HASIL DAN PEMBAHASAN Pembahasan ini akan menguraikan berbagai aspek penting terkait pengembangan vila di Lembang, dengan fokus pada dampak ekonomi, persepsi wisatawan, keterlibatan This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License Jurnal Regional Planning DOI : 10. 36985/dwz93t07 E Ae ISSN : 2302 Ae 5980 Vol. 7 No 1 Februari 2025 masyarakat, inovasi ramah lingkungan, dan tantangan yang dihadapi dalam implementasi Pengembangan vila tidak hanya berkontribusi terhadap peningkatan perekonomian lokal, tetapi juga mempengaruhi kualitas pengalaman wisatawan yang menginap di akomodasi Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana pengembangan ini memengaruhi persepsi wisatawan terhadap fasilitas yang ditawarkan, serta bagaimana masyarakat lokal terlibat dalam proses perencanaan dan pengembangan. Selanjutnya, inovasi ramah lingkungan dalam pengelolaan vila menjadi aspek penting yang perlu digali, mengingat kesadaran akan keberlanjutan semakin meningkat di kalangan wisatawan. Tentu saja, dalam implementasinya, berbagai tantangan muncul yang perlu diidentifikasi dan diatasi agar pengembangan vila dapat berlangsung secara optimal. Dengan membahas sub-sub judul yang telah ditentukan, diharapkan dapat diperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai dinamika pengembangan vila di Lembang dan implikasinya bagi ekonomi lokal, masyarakat, serta lingkungan. Melalui analisis yang komprehensif, pembahasan ini bertujuan untuk memberikan wawasan yang berharga bagi para pemangku kepentingan dalam merumuskan strategi dan kebijakan yang efektif untuk mendukung pengembangan pariwisata berkelanjutan di daerah ini. Dampak Ekonomi Pembangunan Villa terhadap Pariwisata Lembang Pengembangan vila di Lembang memberikan dampak ekonomi yang signifikan terhadap perekonomian lokal. Dengan meningkatnya jumlah wisatawan yang berkunjung, sektor pariwisata mengalami pertumbuhan yang pesat, yang pada gilirannya meningkatkan pendapatan masyarakat dan menciptakan lapangan kerja baru. Tabel di bawah ini menunjukkan beberapa dampak ekonomi yang dihasilkan dari pengembangan vila di Lembang. Tabel 2. Dampak Ekonomi Pembangunan Villa Aspek Dampak Ekonomi Peningkatan Pendapatan Lokal Penciptaan Lapangan Kerja Pertumbuhan Usaha Mikro Peningkatan Investasi Dampak pada Infrastruktur Peningkatan Kunjungan Wisatawan Deskripsi Pengembangan vila meningkatkan pendapatan masyarakat melalui penyewaan akomodasi dan layanan terkait. Banyaknya vila yang dibangun menciptakan peluang kerja baru di sektor perhotelan dan Munculnya usaha kecil dan menengah (UKM) yang menyediakan makanan, souvenir, dan layanan lainnya. Investasi dalam pembangunan vila menarik perhatian investor lokal dan asing. Pengembangan vila mendorong perbaikan infrastruktur, seperti jalan dan fasilitas Jumlah wisatawan yang mengunjungi Lembang meningkat, berkontribusi pada ekonomi lokal. Data/Statistik 70% responden melaporkan peningkatan pendapatan. Diperkirakan 200-300 lapangan kerja baru tercipta. 60% responden mengandalkan usaha mikro untuk pendapatan. Investasi meningkat 30% dalam dua tahun terakhir. 80% responden merasakan perbaikan infrastruktur. Kunjungan wisatawan meningkat 40% dalam setahun. Dari tabel di atas, terlihat bahwa pengembangan vila tidak hanya memberikan manfaat langsung kepada pemilik vila, tetapi juga berdampak luas pada perekonomian lokal. Peningkatan pendapatan, penciptaan lapangan kerja, dan pertumbuhan usaha mikro adalah beberapa contoh nyata dari dampak positif yang dihasilkan. Selain itu, perbaikan infrastruktur dan peningkatan jumlah wisatawan juga menunjukkan bahwa pengembangan vila dapat This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License Jurnal Regional Planning DOI : 10. 36985/dwz93t07 E Ae ISSN : 2302 Ae 5980 Vol. 7 No 1 Februari 2025 menjadi pendorong utama bagi pertumbuhan ekonomi di Lembang. Namun, penting untuk diingat bahwa dampak ini harus dikelola dengan baik agar tidak menimbulkan masalah sosial dan lingkungan. Oleh karena itu, kolaborasi antara pemerintah, pengelola vila, dan masyarakat lokal sangat diperlukan untuk memastikan bahwa pengembangan pariwisata berlangsung secara berkelanjutan dan memberikan manfaat yang optimal bagi semua pihak. Persepsi Masyarakat Lokal dan Wisatawan Mengenai Pembangunan Villa Persepsi masyarakat lokal dan wisatawan merupakan faktor penting yang memengaruhi keberhasilan pengembangan vila di Lembang. Memahami pandangan kedua kelompok ini dapat memberikan wawasan berharga mengenai bagaimana pembangunan vila diterima dan dampaknya terhadap komunitas serta pengalaman wisatawan. Tabel berikut menunjukkan hasil survei yang mengungkapkan persepsi masyarakat lokal dan wisatawan mengenai pembangunan Tabel 3. Persepsi Masyarakat Lokal dan Wisatawan Aspek Persepsi Dukungan Pembangunan Khawatir Lingkungan Terhadap Terhadap Manfaat Ekonomi Dirasakan Partisipasi Perencanaan Kualitas Akomodasi yang Diharapkan Dampak Sosial Masyarakat Lokal meningkatkan ekonomi lokal. 60% khawatir dampak negatif 70% merasa mendapatkan manfaat dari peningkatan 55% ingin dilibatkan dalam menawarkan pengalaman lokal yang autentik. Wisatawan 30% menyatakan kepedulian memperbaiki fasilitas umum. 20% merasa tidak perlu dilibatkan dalam perencanaan. 90% menginginkan fasilitas modern dan kenyamanan. peningkatan jumlah wisatawan dapat memperkaya budaya Dari tabel di atas, terlihat bahwa mayoritas masyarakat lokal mendukung pembangunan vila karena diyakini dapat meningkatkan ekonomi lokal. Namun, ada kekhawatiran terhadap dampak lingkungan yang perlu diperhatikan. Di sisi lain, wisatawan juga menunjukkan dukungan terhadap pembangunan, terutama dalam hal peningkatan pilihan akomodasi dan Selain itu, perbedaan dalam harapan tampak jelas, di mana masyarakat lokal lebih menginginkan pengalaman yang autentik, sementara wisatawan cenderung mengutamakan kenyamanan dan fasilitas modern. Hal ini menunjukkan perlunya dialog antara kedua kelompok untuk memastikan bahwa pengembangan vila dapat memenuhi kebutuhan dan harapan semua Keterlibatan masyarakat lokal dalam perencanaan pembangunan juga menjadi aspek penting yang perlu diperhatikan oleh pengelola vila dan pemangku kepentingan. Dengan melibatkan masyarakat, diharapkan pembangunan vila dapat dilakukan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat maksimal bagi semua pihak, tanpa mengabaikan pelestarian lingkungan dan budaya lokal. This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License Jurnal Regional Planning DOI : 10. 36985/dwz93t07 E Ae ISSN : 2302 Ae 5980 Vol. 7 No 1 Februari 2025 Peran Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan Villa Berkelanjutan Partisipasi masyarakat merupakan elemen kunci dalam pembangunan vila berkelanjutan di Lembang. Keterlibatan masyarakat tidak hanya meningkatkan rasa memiliki terhadap proyek pembangunan, tetapi juga memastikan bahwa kebutuhan dan aspirasi lokal Melalui partisipasi aktif, masyarakat dapat berkontribusi dalam pengambilan keputusan, perencanaan, dan pelaksanaan pembangunan, sehingga hasilnya lebih sesuai dengan konteks lokal. Tabel di bawah ini menggambarkan peran partisipasi masyarakat dalam pembangunan vila berkelanjutan. Tabel 4. Peran Partisipasi Masyarakat dalam Pembangunan Aspek Partisipasi Pengambilan Keputusan Perencanaan Proyek Pelaksanaan Proyek Monitoring dan Evaluasi Pendidikan dan Kesadaran Pengembangan Kapasitas Deskripsi Masyarakat dilibatkan dalam proses pengambilan keputusan terkait pembangunan vila. Masyarakat memberikan masukan pembangunan vila. Keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan proyek, seperti tenaga kerja lokal. Masyarakat dampak pembangunan vila. Masyarakat program pendidikan mengenai keberlanjutan dan pengelolaan Pelatihan kapasitas bagi masyarakat untuk mengelola vila secara berkelanjutan. Dampak Keputusan yang diambil lebih relevan dan diterima oleh masyarakat. Rencana pembangunan yang lebih sesuai dengan kebutuhan lokal. Meningkatkan lapangan kerja dan pendapatan masyarakat. Meningkatkan akuntabilitas transparansi dalam proyek. Meningkatkan pentingnya keberlanjutan. Masyarakat lebih siap dan mampu mengelola sumber daya secara Dari tabel di atas, terlihat bahwa partisipasi masyarakat dalam berbagai aspek pembangunan vila berkelanjutan memberikan dampak positif yang signifikan. Keterlibatan dalam pengambilan keputusan dan perencanaan memastikan bahwa proyek yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan dan harapan masyarakat. Selain itu, pelaksanaan proyek yang melibatkan tenaga kerja lokal tidak hanya menciptakan lapangan kerja, tetapi juga meningkatkan pendapatan masyarakat. Monitoring dan evaluasi yang dilakukan oleh masyarakat juga penting untuk memastikan bahwa pembangunan vila berjalan sesuai rencana dan memberikan manfaat yang diharapkan. Dengan meningkatkan pendidikan dan kesadaran mengenai keberlanjutan, masyarakat dapat lebih memahami pentingnya menjaga lingkungan dan sumber daya alam. Secara keseluruhan, partisipasi masyarakat dalam pembangunan vila berkelanjutan di Lembang tidak hanya memperkuat hubungan antara pengelola vila dan masyarakat, tetapi juga menciptakan lingkungan yang lebih harmonis dan berkelanjutan bagi semua pihak yang terlibat. Inovasi dalam Praktik Pembangunan Villa Ramah Lingkungan Inovasi dalam praktik pembangunan vila ramah lingkungan sangat penting untuk memastikan bahwa pengembangan pariwisata di Lembang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga berkelanjutan dan tidak merusak lingkungan. Berbagai teknologi dan metode baru telah diadopsi untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan. This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License Jurnal Regional Planning DOI : 10. 36985/dwz93t07 E Ae ISSN : 2302 Ae 5980 Vol. 7 No 1 Februari 2025 meningkatkan efisiensi energi, dan mempromosikan keberlanjutan. Tabel di bawah ini merangkum beberapa inovasi yang diterapkan dalam pembangunan vila ramah lingkungan. Tabel 5. Inovasi dalam Praktik Pembangunan Inovasi Penggunaan Energi Terbarukan Sistem Pengolahan Air Limbah Desain Arsitektur Lingkungan Ramah Sistem Penampungan Air Hujan Teknologi BIM (Building Information Modelin. Kendaraan Ramah Lingkungan Deskripsi Dampak Pemasangan panel surya dan Mengurangi turbin angin untuk memenuhi pada bahan bakar fosil dan kebutuhan energi vila. menurunkan emisi karbon. Implementasi sistem pengumpulan Meningkatkan kualitas air dan dan pengolahan air limbah untuk mengurangi dampak negatif mencegah polusi. terhadap lingkungan. Penggunaan material bangunan Mengurangi konsumsi energi yang berkelanjutan dan desain dan meningkatkan kenyamanan memaksimalkan penghuni. pencahayaan alami. Instalasi sistem penampungan air Mengurangi penggunaan air hujan untuk digunakan dalam bersih dan mempromosikan kebutuhan non-potable. pengelolaan air yang efisien. Penggunaan teknologi BIM untuk Meningkatkan efisiensi dalam merencanakan dan mengelola perencanaan dan konstruksi, proyek secara efisien. serta mengurangi limbah. Penyediaan kendaraan listrik atau Mengurangi polusi udara dan untuk meningkatkan transportasi wisatawan. wisata yang lebih bersih. Dari tabel di atas, terlihat bahwa inovasi dalam pembangunan vila ramah lingkungan mencakup berbagai aspek, mulai dari penggunaan energi terbarukan hingga desain arsitektur yang berkelanjutan. Penerapan teknologi seperti sistem pengolahan air limbah dan penampungan air hujan tidak hanya membantu menjaga kualitas lingkungan, tetapi juga mengurangi biaya operasional bagi pemilik vila. Dengan mengadopsi praktik-praktik ini, pengembang vila di Lembang dapat menciptakan akomodasi yang tidak hanya menarik bagi wisatawan, tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan. Inovasi ini juga berkontribusi pada citra Lembang sebagai destinasi wisata yang berkelanjutan, menarik lebih banyak wisatawan yang peduli terhadap isu lingkungan. Secara keseluruhan, penerapan inovasi ramah lingkungan dalam pembangunan vila di Lembang merupakan langkah penting menuju pariwisata yang lebih berkelanjutan dan bertanggung jawab. Tantangan Koordinasi Stakeholder dalam Pembangunan Villa Pembangunan vila di Lembang menghadapi berbagai tantangan dalam koordinasi antara pemangku kepentingan, yang mencakup pemerintah setempat, pengembang, masyarakat lokal, dan wisatawan. Salah satu tantangan utama adalah perbedaan kepentingan di antara Misalnya, pengembang sering kali fokus pada keuntungan finansial, sementara masyarakat lokal lebih peduli terhadap dampak sosial dan lingkungan dari proyek tersebut. Data menunjukkan bahwa 60% masyarakat lokal merasa bahwa kepentingan mereka tidak terakomodasi dalam proses perencanaan, sehingga menciptakan ketidakpuasan dan potensi Selain itu, kurangnya komunikasi yang efektif antara pihak-pihak terkait juga menjadi Tanpa adanya saluran komunikasi yang jelas, informasi penting sering kali tidak sampai kepada masyarakat, yang mengakibatkan kesalahpahaman dan ketidakpercayaan. Sebuah survei menunjukkan bahwa 55% pemangku kepentingan merasa bahwa informasi This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License Jurnal Regional Planning DOI : 10. 36985/dwz93t07 E Ae ISSN : 2302 Ae 5980 Vol. 7 No 1 Februari 2025 mengenai proyek pembangunan tidak disampaikan secara transparan. Tidak hanya itu, aspek regulasi dan kebijakan juga menambah kompleksitas dalam koordinasi. Proses perizinan yang panjang dan rumit sering kali menghambat kemajuan proyek. Menurut data, 70% proyek pembangunan vila mengalami penundaan terkait masalah perizinan, yang pada akhirnya berdampak pada biaya dan waktu penyelesaian proyek. Tantangan lain yang signifikan adalah mengintegrasikan perspektif keberlanjutan dalam setiap tahap pembangunan. Meskipun semakin banyak pemangku kepentingan yang menyadari pentingnya keberlanjutan, masih ada resistensi terhadap perubahan praktik tradisional. Hanya 40% pengembang yang berkomitmen untuk menerapkan praktik ramah lingkungan dalam proyek mereka, yang menunjukkan perlunya edukasi dan peningkatan kesadaran di antara pengembang dan masyarakat. Secara keseluruhan, tantangan koordinasi antara pemangku kepentingan dalam pembangunan vila di Lembang memerlukan pendekatan yang lebih kolaboratif dan inklusif. Diperlukan upaya untuk meningkatkan komunikasi, memastikan partisipasi masyarakat, dan mengedukasi semua pihak tentang pentingnya keberlanjutan, agar pembangunan vila dapat berjalan lebih harmonis dan memberikan manfaat yang maksimal bagi seluruh pihak yang terlibat. Hubungan antara Persepsi Keberlanjutan dan Kepuasan Pengalaman Wisata Hubungan antara persepsi keberlanjutan dan kepuasan pengalaman wisata di Lembang sangat signifikan dan saling memengaruhi. Penelitian menunjukkan bahwa wisatawan yang memiliki persepsi positif terhadap keberlanjutan suatu destinasi cenderung merasa lebih puas dengan pengalaman mereka. Sebuah survei yang dilakukan terhadap 500 wisatawan di Lembang mengungkapkan bahwa 75% dari mereka yang menilai keberlanjutan vila dan fasilitas pendukungnya tinggi, melaporkan tingkat kepuasan yang tinggi terhadap pengalaman Hal ini menunjukkan bahwa elemen-elemen seperti pengelolaan lingkungan yang baik, penggunaan sumber daya yang efisien, dan dukungan terhadap komunitas lokal berkontribusi besar terhadap kepuasan mereka. Di sisi lain, wisatawan yang merasakan dampak negatif dari pembangunan yang tidak berkelanjutan, seperti pencemaran atau kerusakan lingkungan, melaporkan tingkat kepuasan yang lebih rendah, dengan 68% dari mereka menyatakan bahwa pengalaman mereka terganggu oleh masalah tersebut. Ini menunjukkan bahwa persepsi keberlanjutan tidak hanya memengaruhi tingkat kepuasan, tetapi juga dapat berdampak pada niat wisatawan untuk kembali ke Lembang di masa depan. Data menunjukkan bahwa 85% responden yang merasa bahwa destinasi tersebut ramah lingkungan memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk kembali berkunjung, dibandingkan dengan hanya 40% dari mereka yang tidak merasakan hal yang sama. Selain itu, keberlanjutan juga berpengaruh pada citra dan reputasi destinasi. Wisatawan yang puas dengan pengalaman mereka cenderung merekomendasikan Lembang kepada orang lain, dengan 90% dari mereka yang merasa positif mengenai keberlanjutan akan merekomendasikannya kepada teman dan keluarga. Ini menunjukkan bahwa investasi dalam praktik keberlanjutan bukan hanya meningkatkan kepuasan saat ini, tetapi juga dapat menarik lebih banyak wisatawan di masa depan. Dengan demikian, hubungan antara persepsi keberlanjutan dan kepuasan pengalaman wisata di Lembang adalah hubungan yang saling menguntungkan. Keberlanjutan tidak hanya memberikan manfaat lingkungan, tetapi juga menjadi faktor kunci dalam menciptakan pengalaman wisata yang memuaskan, yang pada gilirannya dapat meningkatkan daya tarik dan reputasi destinasi. Strategi Edukasi Stakeholder untuk Meningkatkan Kesadaran Keberlanjutan This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License Jurnal Regional Planning DOI : 10. 36985/dwz93t07 E Ae ISSN : 2302 Ae 5980 Vol. 7 No 1 Februari 2025 Meningkatkan kesadaran keberlanjutan di kalangan stakeholder dalam pembangunan vila di Lembang memerlukan strategi edukasi yang komprehensif dan terstruktur. Salah satu pendekatan efektif adalah dengan mengadakan workshop dan seminar yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, termasuk pengembang, masyarakat lokal, dan pemerintah. Berdasarkan data, 70% peserta workshop yang diadakan pada tahun lalu melaporkan peningkatan pemahaman tentang praktik keberlanjutan setelah mengikuti acara tersebut. Dalam workshop ini, materi yang disampaikan mencakup pentingnya pengelolaan sumber daya yang efisien, dampak lingkungan dari pembangunan, dan cara-cara untuk mengintegrasikan keberlanjutan dalam proyek mereka. Selain itu, penting untuk memanfaatkan media sosial dan platform digital sebagai sarana edukasi. Dengan jumlah pengguna internet yang terus meningkat, sekitar 60% masyarakat lokal menggunakan media sosial untuk mendapatkan Oleh karena itu, kampanye edukasi melalui platform ini dapat menjangkau lebih banyak orang dengan biaya yang lebih rendah. Konten-konten informatif, seperti video pendek dan infografis yang menjelaskan manfaat keberlanjutan, dapat menarik perhatian dan meningkatkan keterlibatan masyarakat. Program pelibatan langsung juga sangat efektif, di mana masyarakat diajak untuk berpartisipasi dalam proyek keberlanjutan, seperti penanaman pohon atau pengelolaan sampah. Data menunjukkan bahwa partisipasi aktif dalam kegiatan lingkungan dapat meningkatkan rasa kepemilikan dan tanggung jawab terhadap keberlanjutan, dengan 75% peserta mengaku lebih peduli terhadap isu lingkungan setelah terlibat langsung. Tidak kalah pentingnya, kolaborasi dengan institusi pendidikan dalam menyusun kurikulum keberlanjutan juga dapat memberikan dampak jangka panjang. Dengan mengedukasi generasi muda tentang pentingnya keberlanjutan, kita dapat membangun budaya keberlanjutan yang lebih kuat di masa depan. Penelitian menunjukkan bahwa 80% siswa yang terlibat dalam program pendidikan lingkungan menunjukkan minat yang lebih besar dalam isu-isu Integrasi Perencanaan Wilayah dan Pariwisata dalam Pembangunan Villa di Lembang Integrasi antara perencanaan wilayah dan pariwisata dalam pembangunan vila di Lembang sangat penting untuk menciptakan destinasi yang berkelanjutan dan harmonis dengan lingkungan sekitar. Dengan meningkatnya jumlah wisatawan yang mengunjungi Lembang, yang mencapai 3 juta pengunjung pada tahun 2023, kebutuhan untuk merencanakan pembangunan vila secara efektif menjadi semakin mendesak. Dalam integrasi ini, perencanaan wilayah harus mempertimbangkan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi agar pembangunan vila tidak hanya menguntungkan secara finansial, tetapi juga tidak merusak ekosistem lokal. Data menunjukkan bahwa 65% masyarakat merasa bahwa pembangunan vila yang tidak terencana dapat mengganggu keindahan alam dan kualitas hidup mereka. Salah satu pendekatan yang dapat diterapkan adalah dengan melibatkan stakeholder lokal dalam proses perencanaan. Melalui forum diskusi dan konsultasi publik, masyarakat dapat memberikan masukan tentang kebutuhan dan harapan mereka terkait pembangunan. Sebuah studi menunjukkan bahwa proyek yang melibatkan partisipasi masyarakat memiliki tingkat keberhasilan yang lebih tinggi, dengan 80% proyek yang melibatkan masyarakat lokal berhasil memenuhi ekspektasi mereka. Selain itu, penting untuk mengembangkan zonasi yang jelas dalam perencanaan wilayah, yang membedakan area untuk pengembangan vila, ruang terbuka hijau, dan fasilitas umum. Dengan zonasi yang tepat, dampak negatif terhadap lingkungan dapat diminimalkan dan This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License Jurnal Regional Planning DOI : 10. 36985/dwz93t07 E Ae ISSN : 2302 Ae 5980 Vol. 7 No 1 Februari 2025 keanekaragaman hayati tetap terjaga. Penggunaan teknologi informasi dalam perencanaan juga dapat meningkatkan efektivitas integrasi ini. Sistem informasi geografis (GIS) dapat digunakan untuk menganalisis kondisi lingkungan, potensi pariwisata, dan infrastruktur yang ada, sehingga perencanaan dapat dilakukan dengan data yang akurat dan terkini. Data terbaru menunjukkan bahwa penggunaan GIS dalam perencanaan wilayah dapat meningkatkan efisiensi pengambilan keputusan hingga 30%. Akhirnya, pendekatan yang berfokus pada keberlanjutan juga harus menjadi bagian integral dari perencanaan. Ini termasuk penerapan praktik ramah lingkungan dalam pembangunan vila, seperti penggunaan material bangunan yang berkelanjutan dan pengelolaan limbah yang baik. Dengan mengintegrasikan perencanaan wilayah dan pariwisata secara efektif. Lembang tidak hanya dapat meningkatkan daya tarik sebagai destinasi wisata, tetapi juga memastikan bahwa pembangunan vila memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat dan lingkungan. Hal ini akan menciptakan kondisi yang lebih baik untuk pertumbuhan ekonomi jangka panjang dan keberlangsungan ekosistem Peluang Pembangunan Villa sebagai Model Pariwisata Berkelanjutan di Daerah Lain Pembangunan vila di Lembang menawarkan peluang yang signifikan untuk dijadikan model pariwisata berkelanjutan yang dapat diterapkan di daerah lain. Dengan semakin meningkatnya perhatian terhadap keberlanjutan dalam industri pariwisata, yang diperkirakan akan mencapai nilai $8,5 triliun pada tahun 2030. Lembang telah menunjukkan bahwa pengembangan akomodasi ramah lingkungan dapat menarik lebih banyak wisatawan yang peduli terhadap isu lingkungan. Dalam hal ini, pembangunan vila yang mengintegrasikan praktik ramah lingkungan, seperti penggunaan energi terbarukan, pengolahan air limbah, dan desain arsitektur yang berkelanjutan, telah menjadikan Lembang sebagai contoh yang baik. Data menunjukkan bahwa 78% wisatawan lebih memilih akomodasi yang menerapkan prinsip keberlanjutan, dan sekitar 65% dari mereka bersedia membayar lebih untuk pengalaman yang ramah lingkungan. Hal ini menunjukkan bahwa ada pasar yang besar untuk pengembangan vila berkelanjutan, tidak hanya di Lembang, tetapi di berbagai daerah yang memiliki potensi Selain itu, dengan meningkatnya kesadaran masyarakat dan pemerintah terhadap pentingnya pelestarian lingkungan, daerah lain dapat belajar dari strategi yang diterapkan di Lembang, seperti melibatkan masyarakat lokal dalam perencanaan dan pelaksanaan proyek. Mengadopsi model pembangunan vila yang berkelanjutan juga dapat memberikan manfaat ekonomi yang signifikan. Menurut analisis, daerah yang menerapkan pariwisata berkelanjutan dapat mengalami peningkatan pendapatan sebesar 30%-50% dari sektor pariwisata dalam jangka panjang, dibandingkan dengan pembangunan yang tidak mempertimbangkan Ini terjadi karena pariwisata berkelanjutan tidak hanya menarik pengunjung yang lebih banyak, tetapi juga menciptakan lapangan kerja dan mendukung ekonomi lokal melalui pembelian produk lokal dan jasa. Dengan memanfaatkan teknologi modern dan pendekatan inovatif, daerah lain dapat mengadaptasi model pembangunan vila Lembang untuk menciptakan destinasi yang tidak hanya menarik bagi wisatawan, tetapi juga menguntungkan bagi masyarakat setempat dan melindungi lingkungan. Melalui kolaborasi antara pemerintah, pengembang, dan masyarakat, pembangunan vila sebagai model pariwisata berkelanjutan dapat menjadi langkah positif menuju masa depan pariwisata yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan di seluruh dunia. Implikasi Kebijakan untuk Mendukung Pembangunan Villa Berkelanjutan di This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License Jurnal Regional Planning DOI : 10. 36985/dwz93t07 E Ae ISSN : 2302 Ae 5980 Vol. 7 No 1 Februari 2025 Lembang Implikasi kebijakan untuk mendukung pembangunan vila berkelanjutan di Lembang sangat penting agar pengembangan pariwisata dapat berjalan selaras dengan pelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat. Pertama-tama, pemerintah daerah perlu menetapkan peraturan zonasi yang jelas yang mengatur area mana saja yang diperbolehkan untuk pembangunan vila dan area mana yang harus dilindungi sebagai ruang terbuka hijau atau kawasan konservasi. Menurut data, 25% dari total lahan di Lembang masih dapat dijadikan sebagai ruang terbuka hijau, yang berfungsi tidak hanya sebagai paru-paru kota tetapi juga sebagai daya tarik wisata. Kebijakan ini diharapkan dapat mencegah eksploitasi lahan yang berlebihan dan memastikan bahwa pembangunan vila tidak merusak ekosistem lokal. Selanjutnya, penerapan insentif fiskal bagi pengembang yang menerapkan praktik pembangunan berkelanjutan juga sangat diperlukan. Misalnya, pemerintah dapat memberikan keringanan pajak atau subsidi untuk penggunaan material ramah lingkungan dan teknologi energi terbarukan. Data menunjukkan bahwa pengembang yang menerapkan praktik berkelanjutan dapat mengurangi biaya operasional hingga 20% dalam jangka panjang, sehingga insentif ini akan membuat mereka lebih termotivasi untuk berinvestasi dalam pembangunan yang ramah lingkungan. Selain itu, pelatihan dan edukasi bagi pengembang dan masyarakat lokal tentang pentingnya keberlanjutan dalam pariwisata harus menjadi bagian integral dari Dengan mengadakan program pelatihan yang melibatkan 70% pengembang dan 80% masyarakat dalam memahami dan menerapkan praktik keberlanjutan, diharapkan akan tercipta kesadaran dan kolaborasi yang lebih baik dalam pembangunan vila. Kebijakan juga harus mendukung partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan terkait pembangunan. Melalui forum konsultasi publik, masyarakat lokal dapat memberikan masukan dan keinginan mereka, yang akan membuat mereka merasa lebih terlibat dan memiliki tanggung jawab terhadap keberhasilan proyek. Penelitian menunjukkan bahwa proyek yang melibatkan masyarakat memiliki tingkat keberhasilan hingga 90% dibandingkan proyek yang tidak melibatkan masyarakat. Secara keseluruhan, kebijakan yang mendukung pembangunan vila berkelanjutan di Lembang harus bersifat komprehensif dan inklusif, menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan kesejahteraan sosial. Kebijakan ini tidak hanya akan memberikan manfaat bagi Lembang, tetapi juga dapat menjadi contoh bagi daerah lain dalam mengembangkan pariwisata yang berkelanjutan dan bertanggung jawab. KESIMPULAN Pembangunan vila di Lembang sebagai bagian dari upaya pariwisata berkelanjutan memberikan gambaran yang jelas tentang pentingnya sinergi antara keberlanjutan lingkungan, kesejahteraan sosial, dan pertumbuhan ekonomi. Dalam menghadapi tantangan global seperti perubahan iklim dan penurunan kualitas lingkungan, pendekatan pariwisata yang berkelanjutan menjadi semakin relevan. Dengan meningkatnya jumlah wisatawan yang mencari pengalaman yang ramah lingkungan. Lembang memiliki peluang untuk memanfaatkan potensi ini dengan menerapkan praktik-praktik yang mendukung keberlanjutan. Data menunjukkan bahwa 78% wisatawan lebih memilih akomodasi yang menerapkan prinsip keberlanjutan, yang menjadi dorongan bagi pengembang untuk berinvestasi dalam pembangunan vila yang tidak hanya menarik tetapi juga bertanggung jawab terhadap lingkungan. Namun, untuk memastikan keberhasilan jangka panjang dari pembangunan vila, diperlukan kebijakan yang komprehensif This is an open access article distributed under the Creative Commons Attribution 4. 0 International License Jurnal Regional Planning DOI : 10. 36985/dwz93t07 E Ae ISSN : 2302 Ae 5980 Vol. 7 No 1 Februari 2025 dan inklusif. Kebijakan ini harus meliputi peraturan zonasi yang jelas, yang mengatur penggunaan lahan untuk pembangunan vila dan menjaga ruang terbuka hijau. Penetapan area yang dilindungi sangat penting untuk mencegah eksploitasi lahan yang berlebihan dan menjaga keanekaragaman hayati yang ada di Lembang. Dengan 25% dari total lahan di Lembang masih dapat dijadikan sebagai ruang terbuka hijau, pemerintah harus berupaya keras untuk memastikan bahwa pembangunan vila tidak merusak ekosistem lokal. Kebijakan yang mendukung perlindungan lingkungan ini akan memberikan manfaat jangka panjang bagi masyarakat dan menarik lebih banyak wisatawan yang peduli terhadap isu-isu lingkungan. Selain itu, penting untuk memberikan insentif fiskal kepada pengembang yang menerapkan praktik keberlanjutan, seperti penggunaan energi terbarukan dan material ramah Insentif ini dapat berupa keringanan pajak atau subsidi, yang akan mendorong lebih banyak pengembang untuk berinvestasi dalam pembangunan yang berkelanjutan. Data menunjukkan bahwa pengembang yang menerapkan praktik ini dapat mengurangi biaya operasional hingga 20%, membuat mereka lebih termotivasi untuk berkontribusi pada pembangunan yang ramah lingkungan. Dengan kebijakan yang mendukung. Lembang dapat menjadi pusat inovasi dalam pariwisata berkelanjutan, yang tidak hanya menguntungkan pengembang tetapi juga memberikan dampak positif bagi masyarakat lokal. Akhirnya, untuk mencapai keberhasilan dalam pembangunan vila berkelanjutan, partisipasi masyarakat dalam pengambilan keputusan harus menjadi prioritas. Melalui forum konsultasi publik, masyarakat lokal dapat memberikan masukan dan harapan mereka terkait pembangunan, sehingga tercipta rasa kepemilikan yang lebih besar terhadap proyek tersebut. Penelitian menunjukkan bahwa proyek yang melibatkan masyarakat memiliki tingkat keberhasilan hingga 90% dibandingkan proyek yang tidak melibatkan masyarakat. Dengan mengedepankan kolaborasi antara pemerintah, pengembang, dan masyarakat. Lembang tidak hanya akan menjadi destinasi wisata yang menarik, tetapi juga contoh nyata dari pembangunan yang harmonis antara manusia dan Ini adalah langkah penting untuk menciptakan masa depan pariwisata yang lebih berkelanjutan dan bertanggung jawab, yang akan memberikan manfaat bagi generasi DAFTAR PUSTAKA