Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 01-18 DOI: https://doi. org/10. 58374/sepakat. Available online at: https://ejurnal. id/index. php/Sepakat Peran Keluarga Mencegah Generasi Z Terpapar Faham Agnostik David Aripin Wihardja1. Yanto Paulus Hermanto2 Sekolah Tinggi Teologi Kharisma Bandung. Indonsia Email: dvdanimation@gmail. com 1, y_paulus@yahoo. Abstract. This research aims to provide concrete solutions regarding the strategic role of parents in preventing and addressing Generation Z's tendencies toward agnostic beliefs. The issue raised in this study is the increasing exposure of Generation Z to ideologies that question the existence of God due to the influence of globalization, information technology developments, and rapidly growing secular communities. This research uses a qualitative approach with literature study methods through secondary data analysis from scientific journals and relevant The novelty of this research lies in emphasizing the significance of parental involvement in building children's faith resilience amid unfiltered digital information flows. The results show that the lack of active parental roles becomes a crucial factor contributing to Generation Z's openness to agnosticism. Therefore, this study presents practical guidelines for parents in nurturing and protecting their children's faith more intentionally and contextually. Keywords: Agnosticism. Generation Z. Parents. Abstrak. Penelitian ini bertujuan untuk memberikan solusi konkret terkait peran strategis orang tua dalam mencegah dan menangani kecenderungan Generasi Z terhadap faham agnostik. Masalah yang diangkat dalam studi ini adalah meningkatnya paparan Generasi Z terhadap ideologi yang meragukan keberadaan Tuhan akibat pengaruh globalisasi, perkembangan teknologi informasi, dan komunitas sekuler yang berkembang pesat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur melalui analisis data sekunder dari jurnal ilmiah dan buku-buku relevan. Kebaruan . dari penelitian ini terletak pada penekanan terhadap signifikansi keterlibatan orang tua dalam membentuk ketahanan iman anak-anak di tengah arus informasi digital yang tidak terfilter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa minimnya peran aktif orang tua menjadi faktor krusial yang turut mendorong keterbukaan Generasi Z terhadap agnostisisme. Oleh karena itu, studi ini menyajikan pedoman praktis bagi orang tua dalam membina dan melindungi iman anak-anak mereka secara lebih intensional dan kontekstual. Kata Kunci: Agnostisisme. Generasi Z. Orang Tua PENDAHULUAN Tugas orang tua dalam keluarga adalah bukan hanya memenuhi kebutuhan pokok, kebutuhan pendidikan dan kasih sayang pada anak-anaknya, tapi ada hal lain yang tidak kalah pentingnya yaitu memberi teladan rohani kepada anaknya, sehingga diharapkan anak-anak tersebut di kemudian hari menjadi anak yang tidak hanya pandai tapi juga menjadi anak-anak yang takut akan Tuhan. 1 Sementara ada juga orang tua bersifat permisif, yaitu tidak mau dilibatkan dalam pengaturan kehidupan anaknya meskipun tinggal serumah tapi sama sekali tak mau ikut campur dalam perkembangan kepribadian anaknya. 2 Sehingga yang terjadi adalah hal kebutuhan pokok anak-anak tidak terjamin, pendidikan tidak terpenuhi, dan perkembangan Semuel Rudy Angkouw. AuPeranan Orang Tua Dalam Pendidikan Agama Kristen Terhadap Pertumbuhan Rohani Anak,Ay Shamayim: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani, 1. , 29-44. , 2020. , 2020. Lusia Rahajeng. AuPsikologi Pendidikan Agama Kristen Dalam Keluarga Yang Berkarakter,Ay Educenter : Jurnal Ilmiah Pendidikan, 2022. Received: Maret 10, 2025. Revised: 12 April, 2025. Accepted: 16 April, 2025. Published: Mei 2025 Peran Keluarga Mencegah Generasi Z Terpapar Faham Agnostik karakter anak menjadi buruk. Dalam situasi demikian, muncul permasalahan baru yang semakin mengkhawatirkan, yaitu kecenderungan Generasi Z untuk meninggalkan agama atau kepercayaan yang dianut sejak kecil. Sebagian dari mereka memilih untuk berpindah keyakinan, sementara sebagian lainnya menunjukkan sikap apatis terhadap keberadaan Tuhan. Fenomena ini dapat dipahami sebagai dampak lanjutan dari lemahnya peran keluarga, khususnya orang tua, dalam menanamkan nilai-nilai spiritual dan moral sejak dini dalam kehidupan anak. 3 Dengan kata lain ada kecenderungan generasi Z terpapar faham Agnostik,yaitu suatu faham yang meragukan akan keberadaan Tuhan. 4 Suatu kemunduran jika para orang tua membiarkan hal ini terjadi atau menutup mata pada fenomena miris ini. Tak dapat dibayangkan apa yang terjadi dengan bangsa Indonesia, jika generasi penerus adalah generasi tanpa iman. Melihat kondisi gereja di negara-negara barat, umat Kristen Asia, khususnya di Indonesia akan terkejut karena anggota-anggota gereja yang hadir 90 % adalah generasi baby boomers dan generasi X, pertanyaannya dimana generasi Y apalagi generasi Z,5 orang-orang Kristen di Asia umumnya dan Indonesia khususnya, gereja dipenuhi oleh berbagai generasi dari anak-anak sampai dengan orang tua. Orang-orang Kristen tak boleh terlalu berbangga hati dulu, karena apa yang menimpa gereja-gereja di negara-negara barat tersebut pada gilirannya bisa saja menimpa gereja-gereja di negara Indonesia, terutama kawula generasi Z yang dianggap sebagai generasi yang mudah menelan apa saja informasi yang mereka dapatkan tanpa menyadari bahaya apa yang ada di balik informasi itu. Gereja-gereja di Indonesia yang terlihat adanya gejala ditinggalkan oleh kawula generasi Z adalah gereja-gereja tradisional dimana cirinya kepemimpinan banyak dipegang/dikuasai oleh generasi tua, dan yang kurang mempercayai kepemimpinan generasi Z, adapun gereja-gereja tradisional tersebut antara lain gereja-gereja kesukuan seperti Gereja Batak Karo Protestan (GBKP). Gereja Kristen Protestan Simalungun (GKPS). Gereja Kristen Protestan Angkola (GKPA). Gereja Kristen Pasundan (GKP). Gereja Kristen Sumatera Bagian Selatan (GKSBS). Gereja Toraja Mamasa (GTM) dan satu gereja yang agak besar yaitu GPIB. Yunardi Kristian Zega. AuPendidikan Agama Kristen Dalam Keluarga: Upaya Membangun Spiritualitas Remaja Generasi Z,Ay Jurnal Luxnos, 7. , 105-116. , 2021. Karen Heather Ross. AuLosing Faith In Fundamentalist Christianity: An Interpretative Phenomenological AnalysisAy . Priskila Ditya Mediawati. AuRuang Ketiga Sebagai Upaya Pendidikan Kristiani Bagi Generasi Z Dalam Konteks Budaya Populer,Ay Aradha: Journal Of Divinity. Peace And Conflict Studies, 2. , 1-17. , 2022. AuPemuridan: Pembentukan Karakter Bagi Generasi Milenial Di Gereja Bagian Barat,Ay 2022. Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik- Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 01-18 Jika gerenasi Z masih tidak diikutsertakan secara aktif dalam pelayanan gereja . , maka kemungkinan generasi Z akan meninggalkan gerejanya. Sekarang yang menjadi inti penelitian penulis adalah apa yang menyebabkan generasi Z ini sampai begitu terbuka dengan informasi dari luar tapi meninggalkan ajaran-ajaran dasar yang mereka dapatkan dari sejak mereka kecil. Dengan perkembangan teknologi saat ini, dimana segala hal dapat diraih dengan begitu cepat, baik itu dalam hal berbelanja, mencari hiburan bahkan hal-hal yang bersifat rohanipun banyak dijumpai di medsos. 7 Hal yang sangat berbahaya tentang kajian rohani di medsos adalah apakah hal-hal rohani yang disajikan itu sesuai dengan ajaran sehat sesuai Alkitab atau hanya kotbah yang bertujuan menyenangkan pemirsanya. Efek lain dari kemajuan teknologi khususnya internet adalah terbukanya pikiran generasi Z akan faham-faham baru tentang moralitas dan spiritualitas9 yang tampaknya baik dan mengandung nilai moral tinggi tapi pada hakekatnya adalah suatu pelanggaran terhadap Firman Tuhan. Bahkan banyak generasi Z . erutama di negara-negara maj. yang mulai beranggapan bahwa keselamatan tidaklah diperoleh dari memeluk suatu agama. Mereka menganggap bahwa Tuhan itu bersifat universal bukan milik satu agama saja10 Disamping itu mereka menganut faham bahwa dengan perbuatan baik saja cukup untuk mendapatkan keselamatan11. Mengenai masalah keengganan kawula generasi Z terhadap kehidupan keagamaan dan kegemaran mereka terhadap teknologi memang sudah banyak ditulis oleh banyak penulis baik dalam jurnal ilmiah maupun buku-buku, diantaranya : kesatu survey tentang persentase berapa banyak dari kawula generasi Z yang masih bersungguh-sungguh dengan imannya12, kedua survey tentang penyebab generasi Z meninggalkan aktifitas keagamaannya13 dimana hasil survey di Indonesia tahun 2021 menjelaskan sebagai berikut : generasi Z adalah generasi yang unik atau memiliki ciri khas sendiri disebabkan karena pengaruh teknologi internet,dimana generasi ini di Indonesia dari 191. 9 juta usia produktif ada sekitar 75 juta jiwa yang mengenal internet. Carolina Etnasari Anjaya. Sarah Priska Toding. AuTinjauan Eksistensi Roh Kudus Dalam Dunia Virtual,Ay Ritornera-Jurnal Teologi Pentakosta Indonesia, 1. , 1-11. , 2021. Elto Solibut. AuKhotbah Humoris Dari Perspektif Homiletika,Ay Visio Dei: Jurnal Teologi Kristen, 5. , 134-143, 2023. Dan Rosa De Lima Gita Sekarjati Tsania Rahma. Yehezkiel Lemuel. Debby Fitriana. Tiara Rizki Annesha Fanani. AuIntolerance In The Flow Of Information In The Era Of Globalization: How To Approach The Moral Values Of Pancasila And The Constitution?,Ay Journal Of Pancasila And Global Constitutionalism, 1. , , 2022. Novita Papayungan. AuKeselamatan Universalberdasarkan Tafsir Terhadap Lukas 3:6,Ay Sangulele: Jurnal Teologi Kontekstual, 1. , 37-60. , 2022. Pardomuan Munthe Feran Riki Barus. AuKajian Dogmatis Terhadap Pemahaman Jemaat Gbkp Runggun Pasar Pinter Tentang Perbuatan Baik,Ay Theos: Jurnal Pendidikan Dan Theologi, 1, 58-64. , 2021. Yornan Masinambow. AuDekonstruksi Pendidikan Agama Kristen Bagi Generasi Z,Ay Teleios: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen, 2. , 112-123, 2022. Yuli Kristyowati. AuGenerasi AoZAo Dan Strategi Melayaninya,Ay Ambassadors: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristiani, 2. , 23-34. , 2021. Peran Keluarga Mencegah Generasi Z Terpapar Faham Agnostik sehingga timbul kesenjangan dengan generasi sebelumnya. Berbicara tentang isu generasi Z, beberapa peneliti sebelumnya telah melakukan kajian yang cukup terstruktur. Gulo dalam penelitiannya mengeksplorasi peran generasi Z dalam mengekspansi nilai-nilai misi di era digita. Ia berpendapat bahwa. Generasi Z perlu diikutsertakan dalam menyebarkan nilai-nilai kerajaan Allah di dunia yang semakin dipenuhi oleh tantangan zaman, seperti degradasi iman, paparan paham agnostik, dan berbagai tantangan 14 Selanjutnya. Padakari dan Korwa dalam kajiannya mengemukakan bahwa, pentingnya model pendidikan spiritual kontekstual bagi generasi Z dalam menghadapi berbagai tantangan zaman. Padakari menegaskan, model pendidikan iman yang kontektual dapat menjadi sarana efektif untuk memperkuat iman dan pengetahuan generasi Z supaya tetap memiliki pendirian kerohanian. Berdasarkan riset terdahulu di atas, maka penelitian ini menawarkan kebaruan pada penekanannya terhadap urgensi keterlibatan aktif orang tua dalam membangun ketahanan iman generasi Z di tengah derasnya arus informasi digital yang tidak terfilter. Di tengah maraknya penelitian yang berfokus pada pendekatan institusional, seperti pendidikan formal dan program gereja, studi ini menghadirkan pendekatan yang berpusat pada keluarga sebagai basis utama dalam pembentukan spiritualitas anak. Kebaruan lainnya terletak pada penyusunan pedoman praktis yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga kontekstual dan aplikatif, sehingga memberikan kontribusi nyata bagi orang tua dalam menghadapi tantangan zaman modern yang sarat dengan konten agnostik dan nilai-nilai sekuler. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menganalisis peran strategis keluarga, khususnya orang tua, dalam mencegah generasi Z terpapar paham agnostik yang kian marak di era digital. Selain itu, riset ini berupaya menggali bagaimana pola asuh, keteladanan iman, dan komunikasi spiritual dalam keluarga dapat membentuk ketahanan iman anak sejak dini. Adapun kontribusi penelitian ini terletak pada penyediaan kerangka konseptual dan praktis bagi keluarga Kristen dalam menghadapi tantangan sekularisasi dan krisis spiritual generasi Z. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam kajian ini adalah metode kualitatif Studi Pustaka (Literatur Revie. , dimana metode ini dapat menggambarkan secara mendalam suatu fenomena atau topik penelitian. Dimas dkk menuturkan pendekatan kualitatif dengan studi Rezeki Putra Gulo. AuPeran Generasi Z Dalam Mengekspansi Misiologi Di Era Society 5. 0,Ay Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristen 2, no. : 120Ae25, https://doi. org/10. 56854/pak. Seprianus L. Padakari and Frengki Korwa. AuSpiritualitas Kontekstual: Model Pendidikan Iman Kristen Dalam Menjawab Tantangan Generasi Z,Ay Imitatio Christo 1, no. : 16Ae29. Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik- Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 01-18 pustaka selalu menggunakan data dari sumber-sumber yang bisa diandalkan, contoh : artikel jurnal, literatur, buku , dan referenci lain yang relevan. Alur proses studi pustaka adalah sebagai berikut : kesatu, menentukan topik dan pertanyaan penelitian. topiknya adalah : peran keluarga mencegah generasi Z terpapar faham pertanyaan penelitiannya : bagaimana peran keluarga dalam mencegah generasi Z terpapar faham agnostik?. kedua, mencari sumber data : artikel jurnal,literatur, buku dan referensi lain yang mendukung analisa penulis berkaitan dengan masalah yang dibahas. membaca serta mencatat data, maksudnya membaca sumber data dan mencatat informasi yang merujuk pada pertanyaan penelitian, membuat kutipan dan ringkasan dari sumber data,menyusun informasi yang dikumpulkan berbasis tema atau kategori. menganalisa data,identifikasi pola dan tren data,interpretasi data dalam menjawab pertanyaan penelitian, membuat kesimpulan dan temuan penelitian. kelima, menulis bagian metode. Dengan pendekatan kualitatif deskriptif, maka penelitian ini bertujuan memberikan wawasan yang lebih dalam mengenai hal-hal apa saja yang menjadi penyebab utama terpaparnya generasi Z pada faham Agnostik. HASIL DAN PEMBAHASAN Sebab-sebab Generasi Z terpapar Faham Agnostik Generasi Z mudah terpapar faham Agnostik. Pernyataan ini didukung oleh beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya , yaitu : kesatu kekecewaan terhadap formalisme agama, kedua kecenderungan kepada agnostisisme, ketiga persetujuan mereka pada indiferentisme agama. keempat menganut atheism praktis. kelima kebencian terhadap religionisme dan keenam kurang dilibatkan dalam pelayanan. Kekecewaan terhadap Formalisme Agama Dewasa ini tumbuh satu kelompok orang dalam berbagai gereja yang menjadikan agama hanya sebagai alat legalistik dan hanya bersifat formalitas saja, tanpa mendalami hakekat yang terkandung dalam ajaran agama itu. , contoh : sebagai perbandingan adalah apa yang terjadi pada jaman Tuhan Yesus, lihat apa yang dilakukan oleh kaum Farisi dan Saduki18 contoh kesatu ketika mereka mengkritik murid-murid Tuhan Yesus yang belum mencuci Dimas Assyakurrohim et al. AuCase Study Method in Qualitative Research,Ay Jurnal Pendidikan Sains Dan Komputer 3, no. : 1Ae9. Jeffrit Kalprianus Ismail. Pengantar Metodologi Penelitian PAK (Papua: Perpustakaan STT Arastamar Wamena, 2. , 01. Iwan S. Tarigan Beresman Supriadi Sianturi. Rencan C Marbun. Berton B. Silaban. Bernad Lubis. AuMenanggalkan Formalitas. Meneguhkan Esensi Keadilan: Sebuah Kajian Teologis Kitab Amos Dan Relevansinya Bagi Warga Jemaat Gpkb Resort Aek Mabar,Ay Jurnal Review Pendidikan Dan Pengajaran (Jrp. , 7. , 17292-1704. , 2024. Peran Keluarga Mencegah Generasi Z Terpapar Faham Agnostik tangan sebelum mereka makan dan Tuhan Yesus menegur mereka karena mereka melakukan perintah-perintah yang satu, tapi melalaikan perintah yang lainnya yaitu cinta kasih dan keadilan kepada sesama manusia. Kedua mengkritik murid-murid Tuhan Yesus karena memetik bulir gandum di hari Sabat dan Tuhan Yesus menjawabnya dengan menjelaskan kembali apa yang dialami oleh Daud ketika dia dan orang-orangnya dikejar oleh Raja Saul dimana Daud meminta makanan kepada imam Akhimelek karena dia dan anak buahnya menderita kelaparan, ternyata yang ada hanya roti kudus, dan itu boleh dimakan oleh orang- orang yang tahir, dan Daud menjamin bahwa dia dan anak-anak buahnya saat itu tahir, dan merekapun boleh memakan roti kudus itu. ketiga mengkritik Yesus karena menyembuhkan di hari Sabat, dimana ada seorang yang lumpuh sebelah tangannya, dan orang Farisi sengaja bertanya kepada Yesus untuk menjebak Dia, dengan bertanya bolehkah menyembuhkan orang di hari Sabat, tapi Yesus memberi perumpamaan yaitu jika keledai mereka masuk ke lubang dan terjadi pada hari Sabat, apakah mereka juga akan menolong keledai itu dari lubang? . keempat mereka mengajarkan kasih kepada Allah dan kepada sesama, tapi mereka membenci orang-orang Samaria, sehingga Tuhan Yesus memberi perumpamaan tentang orang Samaria yang baik hati. Sedangkan untuk jaman sekarang ,contoh serangan dari kaum legalistik adalah masalah dalam tatacara ibadah, dimana mereka menyerang gereja-gereja yang menggunakan alat-alat musik tertentu, menggunakan lampu sorot atau kabut asap atau masalah yang ringan saja yaitu masalah bertepuk tangan saat memuji Tuhan. Saat ini seringkali dapat dilihat dan didengar di Youtube banyak pendeta-pendeta besar yang sibuk bukan mengurus masalah anggota gerejanya tapi menyerang habis-habisan aliran yang berbeda dengan aliran yang dia jalankan di gerejanya. Jika praktek-praktek seperti di atas tidak segera dihentikan bagaimana para pengurus gereja dapat menarik generasi Z yang memang memiliki karakteristik yang berbeda yaitu berpikiran terbuka dan sangat menghargai pluralitas baik dalam hal keagamaan maupun kehidupan sekuler mereka. Yang pasti mereka bersikap malas dan enggan ke gereja karena melihat tingkah laku jemaat senior yang harusnya mencerminkan kasih Tuhan , tapi malah mempraktekan hal-hal yang berlawanan dengan apa yang diajarkan oleh Tuhan sendiri. Kecenderungan kepada Agnostisisme Kekecewaan generasi Z terhadap formalisme agama telah menimbulkan sikap skeptis . dalam diri generasi ini terhadap keberadaan Allah, lalu bersikap apatis19 terhadap permasalahan agama dan senantiasa menghindari diskusi tentang keberadaan Tuhan, karena Meriko Zonnedy Simangunsong Guntur Hari Mukti. Victor Deak. AuThe Role Of The Church In Avoiding Theological Apathy Towards Young People,Ay International Journal Of Social. Policy And Law, 4. , 91-100, 2023. Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik- Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 01-18 mereka ingin hal-hal yang praktis dan tidak ingin memikirkan hal-hal yang membingungkan. Mereka memiliki faham ada tidaknya Allah tidak dapat dibuktikan ataupun disangkali. Dengan pemahaman diatas, generasi Z telah terpapar faham Agnostik 20 . Apa cirinya bahwa mereka terpapar faham Agnostik ini ? Ada beberapa hal yang bisa penulis tunjukkan bahwa generasi ini sudah terpapar Agnostisisme :kesatu sudah tidak peduli lagi tentang Tuhan, peribadatan dan berakar di gereja lokal. kedua meninggalkan agama yang mereka anut sejak kecil, karena menganggap agama tidak dapat memberi jawaban yang relevan terhadap tantangan yang mereka hadapi. ketiga menganggap bahwa keselamatan tidak ada kaitannya dengan memeluk suatu agama, moralitas dan perbuatan baiklah yang menentukan keselamatan keempat enggan ke gereja karena dianggap terlalu protektif dan ini bertolak belakang dengan pandangan mereka terhadap kebebasan, kelima gereja dianggap anti terhadap perkembangan teknologi, keenam gereja gagal dalam memberikan tanggapan yang jujur, masuk akal, dan sangat memuaskan terhadap keraguan generasi mudanya, khususnya yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan keberagaman. Hal-hal di atas terjadi disebabkan karena : kesatu, agama hanya warisan saja . iturunkan para orang tua kepada anak-anakny. sehingga tidak berakar dengan kuat. agama sudah tergantikan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diyakini mereka dapat memecahkan masalah lebih instan dibanding dengan agama. Intinya mereka kecewa karena baik para rohaniawan , orang tua dan guru-guru mereka seringkali tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka bahkan mungkin menganggap pertanyaan-pertanyaan itu tidak berbobot, jadi mereka semakin haus akan jawaban-jawaban yang bisa memuaskan dahaga keingintahuan mereka. Menyetujui indiferentisme agama Indiferentisme adalah suatu pendapat sesat yang menyatakan bahwa keselamatan kekal dapat diperoleh jiwa melalui pengakuan iman terhadap agama apapun selama moralitas dipertahankan (Paus Gregorius XVI). Indiferentisme dapat juga berupa kepercayaan bahwa tidak penting agama apapun yang dianut manusia, ia tetap bisa diselamatkan. Awalnya faham ini dikutuk keras oleh gereja Roma Katholik, karena dianggap merupakan penyangkalan terhadap dogma Extra Ecclesiam Nulla Salus (Diluar Gereja tidak ada keselamata. Sebagaimana diutarakan bahwa generasi Z ini bersifat terbuka terhadap semua faham yang mereka dapatkan melalui media internet, dan mereka dengan mudahmenerima semua ajaran agama apapun yang mereka lihat dan dengar asalkan berisi moralitas yang tinggi, maka tidak Hengki Irawan Setia Budi. AuUrgensi Konstruksi Generasi Penerus Bagi Gereja,Ay Skenoo: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kristen, 1. , 59-77, 2021. Peran Keluarga Mencegah Generasi Z Terpapar Faham Agnostik heran kalau akhirnya mereka menilai bahwa semua agama sama saja dan bersifat apatis terhadap perbedaan yang ada. Tidak heran kalau sering mendengar anak-anak muda dengan mudah berpindah-pindah gereja atau berpindah-pindah agama. Mengapa hal ini terjadi? Penulis melalui penelitiannya menemukan tiga sebab penting sebagai berikut : kesatu seseorang memeluk suatu agama dan kemudian berpindah ke agama lain , pasti ada motivasi tersembunyi pada orang tersebut. kedua perpindahan agama dikarenakan iman yang rapuh sehingga mudah diombang-ambingkan, ketiga lebih mementingkan segi lahiriah dibandingkan segi batiniah. Menganut atheism praktis Generasi Z ada yang menganut faham atheise praktis22,maksudnya adalah mereka tidak menyangkal bahwa Tuhan itu ada, tapi mereka anggap adalah hal yang tidak penting dan tidak berguna,karena Tuhan dianggap tidak memberi mereka tujuan hidup, atau mengatur kehidupan mereka sehari-hari. Ciri-ciri generasi yang terpapar atheisme praktis adalah : kesatu percaya kepada Tuhan tapi tak ada motivasi untuk melakukan perbuatan moral yang baik atau tindakan religius yang lain. kedua masalah Tuhan tidak diikutsertakan dalam segala tindakan ketiga tidak tahu bahkan tak mau tahu tentang konsep Tuhan. Mereka beribadah hanya bertujuan supaya tidak dikucilkan oleh anggota keluarga atau Masyarakat atau yang lebih parah agar mudah mendapatkan Kartu Tanda Penduduk. Faham Agnostik jika dibiarkan terus akan berubah menjadi atheis praktis Kebencian terhadap religionisme Religionisme adalah faham dari pemeluk agama yang memakai identitas agamanya untuk membentuk solidaritas yang sempit dan menghasilkan ke-eksklusivan sehingga menganggap kelompok yang satu lebih baik dari kelompok yang lain dan tidak jarang terjadi penyerangan, penghinaan, pendeskriditan kelompok yang lain23 Bukan saja yang berbeda agama, kadang-kadang terjadi juga dalam agama yang sama, tapi aliran berbeda, mereka saling menyerang satu sama lain . Tentu saja faham diatas pasti ditentang oleh kawula generasi Z yang menjunjung tinggi keterbukaan dan keberagaman. Yusuf Siswantara. AuDialog Sebagai Cara Hidup Menggereja Di Kultur Indonesia,Ay Kurios (Jurnal Teologi Dan Pendidikan Agama Kriste. , 6. , 87-102. , 2020. Tri Astuti Yeniretnowati. Yakub Hendrawan Perangin Angin. AuPeran Kepala Keluarga Kristen (Aya. Dalam Mendidik Anak Generasi Z Dan Alpha,Ay Apostolos: Journal Of Theology And Christian Education, 1. , , 2021. David G. Horrell. AuEthnicisation. Marriage And Early Christian Identity: Critical Reflections On 1 Corinthians 7, 1 Peter 3 And Modern New Testament Scholarship,Ay 2016. Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik- Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 01-18 Kurang dilibatkan dalam kegiatan pelayanan Generasi Z sering dianggap kurang bertanggungjawab jika diberi tugas untuk Pelayanan, karena dianggap mereka senantiasa menghabiskan waktu mereka dengan gadget mereka24 Tapi apakah benar anggapan orang terhadap generasi ini. Sebenarnya bukannya mereka tidak mau dilibatkan dalam Pelayanan tapi dikarenakan mereka melihat para seniornya seringkali membuat perbedaan atau diskriminasi dalam memilih siapa-siapa yang akan melayani, akibatnya mereka menjadi enggan dan malas dalam melakukan pelayanan itu. Peran Orang Tua Mencegah Gen Z Terpapar Agnostik Peran Orang Tua Mencegah Gen Z Terpapar Agnostik Sebagaimana bapak-bapak rohani yang ada di dalam Alkitab. Mereka selalu memberikan ajaran-ajaran luhur dari Kitab Suci, dan bisa lihat hasilnya ,contoh : Abraham mengajarkan Firman Allah kepada anaknya yaitu Ishak, lalu Ishak memberikan ajaran kepada anaknya yaitu Yakub dan Yakub meneruskannya pada semua anak-anaknya, meskipun tahu tidak semua anak-anak Yakub itu berhasil jadi orang yang benar, tapi jerih lelah bapak-bapak rohani itu dalam mendidik dan memberikan teladan yang baik kepada anak-anaknya telah menghasilkan suatu bangsa yang besar yaitu Israel dan Israel tetap menjadi negara yang kuat, meskipun dimusuhi oleh bangsa-bangsa di sekitarnya. Hal ini dikuatkan lagi di dalam Alkitab bahwa fungsi orang tua adalah : . Sebagai pendidik : Firman Tuhan dalam Efesus 6 : 4, isinya meminta bapa-bapa untuk mendidik anakanaknya dalam ajaran Tuhan dan jangan membangkitkan kemarahan pada diri anak-anak, . Sebagai panutan : Contoh Timotius. Timotius mencontoh nenek dan ibunya dan dijadikan panutan hidupnya , nenek dan ibunya mengajari firman Tuhan sejak Timotius kecil . Tim. 1:5. Ada kecenderungan bahwa sekarang ini para orang tua mengalihkan perannya baik sebagai pengajar maupun pendidik anak-anak mereka kepada pihak gereja , guru-guru baik di sekolah maupun di sekolah minggu, hal ini tidak salah sama sekali tapi tidak sesuai dengan Firman Tuhan dalam Kej 2:18-25 dimana Allah membentuk keluarga yang tujuannya adalah mempersiapkan anak-anak yang mencintai Tuhannya. Brian Tucker. Kathy Ehrensperger. Reading Paul In Context: Explorations In Identity Formation. Rahel Rati Sarungallo ,Riana Udurman Sihombing. AuPeranan Orang Tua Dalam Mendewasakan Iman Keluarga Kristen,Ay Jurnal Teologi Dan Pelayanan Kerusso, 4. , 34-41. , 2019. Sayang Tarigan. Guntur Hari Mukti,Victor Deak,Shania Chukwu. AuPeran Dan Fungsi Orang Tua Kristen Dalam Pembentukan Iman Anak,Ay Journal Of Industrial Engineering & Management Research, 3. , 134-139, 2022. Andreas Sese Sunarko. AuFungsi Keluarga Dalam Persepektif Alkitab Sebagai Basis Pendidikan Agama Kristen,Ay Urnal Pendidikan Agama Kristen (Jupa. , 1. , 92-107. , 2021. Peran Keluarga Mencegah Generasi Z Terpapar Faham Agnostik Para ahli seperti Homrighausen mengatakan bahwa tempat pertama untuk anak, tempat yang menampung anak tersebut ada- lah keluarga sedangkan guru pertama dan terpenting dalam mengajar iman Kristiani adalah orang tua. 28 Sementara Aryaningrat dan Marheni mengatakan bahwa orang tua harus juga memiliki quality time . aktu bersama yang cukup dengan anak-anakny. sehingga terjadilah proses saling koreksi sifat antara orang tua dan anak selama Aoquality timeAo tersebut. Menurut Tafonao, teladan orang tua yang baik kepada anakanaknya dapat berupa kasih yang nampak antara ayah dan ibu dalam menjalani kehdupan keluarga sehari-hari, bagaimana anak-anak dapat melihat kasih itu dari ayah dan ibunya, jadi tidak hanya berupa teori tapi dipraktekan dalam hidup sehari-hari, hal ini menghindarkan anakanak generasi Z dari menganggap agama sebagai formalitas belaka . enjawab sebab anakanak generasi Z yang kecewa terhadap formalisme agam. Penulis lain yaitu Marisi. Tarigan. Papay dan Bunthu menjelaskan dalam tulisannya agar para orang tua harus menjadi teladan dalam masalah datang beribadah di gereja lokal, dengan demikian anak-anak mereka dapat mencontoh teladan orang tuanya dan mau menjadi berkat di gereja lokal30. enjawab masalah kecenderungan anak-anak generasi Z kepada faham Agnosti. Sementara pakar lain yaitu Hale menyatakan bahwa orang tua sangat berperanan dalam mendidik anaknya apakah anak tersebut akan menjadi orang yang mudah berpindahpindah agama atau setia pada agama masa agam. Selalu Memberikan Jawaban Yang Memuaskan Untuk Setiap Pertanyaan Anak-anak Bahaya faham Agnostik sudah mulai mengancam anak-anak dari generasi Z, dikarenakan sifat keterbukaan mereka terhadap kemajuan teknologi terutama internet dan Mereka dengan gadget di tangan bisa memperoleh apapun yang mereka inginkan dengan mudah dan cepat. Karena itu para orang tua juga harus bersifat terbuka dan jangan alergi terhadap kemajuan teknologi. Para orang tua jangan bersikap puas dengan ilmu yang mereka miliki, tapi harus senantiasa menimba dan menggali ilmu baru akibat kemajuan teknologi tersebut. 31 Harus selalu meng-upgrade diri baik dalam pengetahuan agama maupun sekuler, sehingga setiap saat bisa menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh anak-anak mereka, sehingga anak-anak mereka tak perlu bertanya pada orang-orang di luar keluarga yang Aprianto Wirawan. AuPendidikan Kristen Dalam Keluarga Sebagai Pendekatan Pembentukan Karakter Anak,Ay Jurnal Pendidikan Kristen, 1 . Article 1, 2021. Talizaro Tafonao ,Yasanto Lase. AuPeran Orang Tua Dan Pemerintah Dalam Mendampingi Psikologi Anak Selama Belajar Online,Ay Davar: Jurnal Teologi, 2. , 1-16. , 2021. Efendy ,Candra Gunawan Marisi. Yohanes Tarigan. Alexander Djuang Papay. Ferdinandes Petrus Bunthu. Anton. Ivan. Yesimeli. AuPembinaan Warga Gereja Dalam Menumbuhkan Spiritualitas Remaja-Pemuda Di Gepkim Kampung Bumi Permai Kota Batam,Ay Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Nusantara, 3. Nadya Wahyu Efendi ,Choerul Anwar Badruttamam. Zuhriyyah Hidayati. AuPeran Orang Tua Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Terhadap Peserta Didik,Ay Cendekia, 10. , 123-132. , 2018. Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik- Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 01-18 tak semuanya memberikan jawaban yang benar. Dan tidak lupa selalu meminta hikmat Tuhan dalam menjawab setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh anak-anak mereka. Seorang peneliti menyatakan bahwa sering munculnya pertanyaan dari pihak anak-anak disebabkan karena keingintahuan mereka yang lebih dibanding dengan generasi-generasi sebelumnya dan ketidakpuasan terhadaap cara atau metoda mengajar dari orang tua dan guruguru di sekolah. Ketidakpuasan generasi ini dilatarbelakangi oleh kebiasaan mereka menggunakan teknologi bergerak . obile technolog. contoh : pemakaian gawai . elpon genggam dan lapto. Perkembangan teknologi saat ini memberi semangat belajar pada generasi Z karena sesuai dengan dunia mereka. Gawai saat ini bukan hanya digunakan di sekolah sekuler tapi juga di sekolah minggu dan di rumah,sedangkan pertemuan tatap muka tetap dijalankan. untuk mendidik anak-anak bersosialisasi secara langsung juga untuk menghindarkan anak-anak mengakses situs-situr yang justru menjerumuskan anak-anak Dengan demikian istilahnya berubah dari Education menjadi edutaiment. 32 Peneliti lain (Tulus dan Buulol. menyatakan perlunya para pendidik . rang tua , guru sekolah minggu dan guru agam. memiliki keahlian dalam berapologetika, mengapa ini perlu? Karena generasi Z sekarang lebih terbuka terhadap ajaran-ajaran agama lain, untuk menghindari generasi ini menjadi bingung akan masalah keselamatan, maka perlulah keahlian mejelaskan ajaran Kristen yang murni dimiliki oleh para pendidik ini supaya dapat menjelaskan dengan benar ajaran Kristen kepada anakanak generasi ini. Menanamkan Iman dan Kebenaran Sejati Bersumber kepada Alkitab Saja Generasi Z dengan sifat keterbukaannya terhadap semua informasi yang masuk menyebabkan harus ada upaya lebih dari para orang tua untuk bisa membimbing dan mengarahkan anak-anak dari generasi ini supaya bisa menyaring informasi mana yang benar dan mana yang tidak benar, karena saat ini banyak informasi-informasi yang kelihatannyaberbau kerohanian tapi isinya menyesatkan. Yang gencar saat ini adalah gerakan New Age Movement (NAM), gerakan ini berdiri dikarenakan meningkatnya rasa tidak percaya pada institusi agama formal. Gereja dianggap tidak mampu memberikan jawaban atas berbagaibagai persoalan yang dihadapi manusia. Lamhot Naibaho. Elsudarma Santi Helena. Djoys Anneke Rantung. AuPemanfaatan Teknologi Bergerak Sebagai Strategi Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen Pada Anak Usia Dini,Ay Jiip-Jurnal Ilmiah Ilmu Pendidikan, 6, 1124-32, 2023. Stenly R Paparang ,Safatulus Giawa Tulus. Sediria Buulolo. Lilis Hertiana Daeli. Yaniati Gulo. AuUrgensi Pendidikan Agama Kristen Dalam Membina Sikap Berapologetik Warga Jemaat,Ay Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristen, 1. , 70-74. , 2023. Bakhoh Jatmiko. Memahami New Age Movement 1 Dan Bahayanya Terhadap Iman Kristen, 2019. Peran Keluarga Mencegah Generasi Z Terpapar Faham Agnostik Tugas para orang tua untuk bisa menyakinkan anak-anak khususnya dari generasi Z bahwa Firman Tuhan dalam Alkitab adalah satu-satunya yang benar dan tidak bisa ditawartawar. Seorang peneliti Kristen mengatakan bahwa para orang tua agama Kristen adalah teolog garis depan yang harus menanamkan intisari dari iman kristiani yaitu mengasihi ALLAH dengan segenap hati, segenap jiwa dan segenap akalbudi, dan sesamanya manuasia seperti diri mereka sendiri dan yang terutama adalah menerima Yesus dan juga guru Kristus sebagai Tuhan dan satu-satunya Juruselamat yang benar. 35 Penulis lain dalam tulisannya menyatakan bahwa para pendidik Kristen . ara orang tua dan guru agam. harus : kesatu membentuk generasi muda yang beriman teguh , kedua mampu menyampaikan sumbangsih pikiran dan pendapat teologi yang bersumber dari firman Allah, ketiga membentuk konsep teologi praktika Gereja . enerapan teologi praktis dalam gereja dan masyaraka. , keempat mampu mengembangkan argumen teologis berbasis Alkitab. Para pendidik Kristen harus memiliki sikap sebagai berikut : untuk memiliki kualifikasi tempatkan Alkitab sebagi sumber pengajaran. Dengan demikian, pertumbuhan keimanan anak dapat terjamin ,selalu melekat secara rohani dengan Tuhan Yesus. 37 Jika orang tua berhasil menanamkan kebenaran sejati yang hanya terdapat di Alkitab maka ini akan menjawab masalah generasi Z yang berfaham indiferensiasi agama. enganggap semua agama sam. dan juga AomerehabilitasiAo generasi Z yang terpapar faham agnostik( yang menganggap bahwa alkitab tidak bisa menjawab masalah-masalah yang timbul dalam kehidupan manusi. Melestarikan Faham Keterbukaan Generasi Z Untuk Meningkatkan Keimanan Pribadi Dan Toleransi Kepada Sesama Sifat keterbukaan adalah baik, sebatas tetap memegang keyakinan awal, dan menghargai keyakinan orang lain, tapi jika dasar keimanan anak-anak generasi Z ini amat minim ,ini bisa menyebabkan mereka memiliki pandangan bahwa semua agama itu sama, semua agama itu baik dan merintis jalan ke surga, padahal orang-orang Kristen memiliki keyakinan bahwa hanya ada satu jalan menuju surga yaitu melalui iman kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Jadi keterbukaan dan toleransi itu baik sejauh berkenaan tentang hubungan dengan sesama38, tapi untuk keyakinan dan kepercayaan pribadi , para orang tua harus mengarahkan supaya anak-anak generasi Z tetap memegang teguh keyakinan yang Sostenis Nggebu. AuGuru Agama Kristen Sebagai Teolog Praktika Garis Depan Bagi Siswa,Ay Didache: Journal Of Christian Education, 3. , 1-20. , 2022. Magdalena P. Santoso. Karakteristik Pendidikan Kristen, 2005. Semuel Linggi Topayung. AuMenjembatani Kesenjangan Generasi : Pendekatan Efektif Pedagogis Kristiani Di Era Digital,Ay BONAFIDE: Jurnal Teologi Dan Pendidikan Kristen 5, no. : 592Ae616. Paskah Parlaungan Purba. AuPendidikan Kristen Dalam Keluarga Sebagai Upaya Pembentukan Karakter Remaja,Ay Fidei: Jurnal Teologi Sistematika Dan Praktika, 4. , 298-314, 2021. Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik- Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 01-18 diterima dan diajarkan sejak mereke kecil. Dari ulasan diatas tentang keterbukaan generasi Z terhadap agama dan kepercayaan lain akan menjawab masalah kebencian generasi Z terhadap formalisme agama dan faham religionisme . imana kedua faham ini menyerang kepercayaan yang berseberanga. Nilai-nilai moral generasi Z harus dibangun supaya muncul sikap toleransi yang benar dan rasa hormat pada kelompok sosial lainnya. Kelompok peneliti lain menerangkan bahwa ada beberapa faktor yang bisa menyebabkan terjadinya konflik antar agama yaitu : pengakuan sepihak dari masing-masing penganut agama bahwa ajaran agamanya yang benar, pemahaman menyimpang tentang doktrin agama, toleransi antar agama dan pemahaman pluralisme yang minim, karena manusia makhluk sosial, akibat logisnya manusia ditempatkan pada interaksi sosial yang kuat dengan lingkungan alamiahnya. Perangkat sikap toloransi yang berkualitas sangat diperlukan untuk mendukung terwujudnya hubungan sosial masyarakat yang kondusif. 39 Penelitian lain telah mengungkapkan tentang adanya kekurangpahaman ganerasi Z tentang agama Kristen itulah sebabnya mudah sekali bagi mereka terlalu bertoleransi sehingga tidak ada batas antara keimanan pribadi dan keimanan orang lain. Mereka kurang menghargai iman yang mereka miliki sejak kecil . al ini menjawab masalah generasi Z yang berfaham indiferensiasi agama atau menganggap semua agama itu sam. Dari hasil penelitian itu ditemukan hal-hal yang menjadi penyebab masalah diatas yaitu: kurikulum sekolah yang terlalu fokus pada pendidikan sekuler, kurang pengalaman langsung dengan praktik agama, atau pengaruh budaya sekuler dapat mempengaruhi pemahaman mereka tentang agama Kristen. Tentang masalah kurang pengalaman langsungdengan praktik agama, diperlukan adanya dialog dan diskusi terbuka antara guru dan siswa dalam membentuk kesadaran spiritual, dimana para pendidik dan orang tua harus menciptaka ruang yang aman bagi siswa untuk berbagi pemikiran, pertanyaan, dan pengalaman mereka seputar agama dan Mendorong Generasi Z Aktif Dalam Pelayanan Gereja Sesuai Minat Dan Keahlian Orang tua dan Gembala jemaat mempunyai peranan penting dalam membentuk dan membangun generasi Z dari kecanduan teknologi dan penurunan moral. 41 Mengapa demikian? Pengajaran agama dalam keluarga apalagi di sekolah dirasa belum bisa mengakomodasi Seprianus L. Padakari and Rezeki Putra Gulo. AuTeologi Dan Keadilan Sosial : Peran Gereja Dalam Merespons Ketimpangan Global,Ay Jurnal Tumou Tou 12, no. : 41Ae52. Mozes Lawalata ,Elfin Warnius Waruwu. AuPeran Guru Pendidikan Agama Kristen Dalam Membangun Kesadaran Spiritual Bagi Generasi Milenial Dan Generasi Z Di Era 5. 0,Ay Edulead: Journal Of Christian Education And Leadership, 4. , 144-155. Joni Manumpak Parulian Gultom. AuStrategi Gembala Jemaat Dalam Pembangunan Motivasi Dan Konsistensi Spiritual Generasi AoZ,AoAy Jurnal Gamaliel: Teologi Praktika, 5. , 45-62. , 2023. Peran Keluarga Mencegah Generasi Z Terpapar Faham Agnostik generasi Z untuk peduli akan Tuhan. Globalisasi, maraknya komunitaas sosial dan teknologi yang semakin maju, harusnya mendorong orang tua dan gembala jemaat untuk termotivasi mencari cara-cara baru untuk meningkatkan kerohanian generasi Z. Generasi Z saat ini memerlukan contoh teladan dari pemimpin rohani dan orang tua. dengan demikian generasi Z akan tertarik untuk melayani di gereja lokal mereka. Hal ini akan menjawab masalah generasi Z yang terpapar faham agnostik . asa bodoh dengan agama,karerna agama dianggap tidak bisa mangatasi permasalahan merek. Penulis senior Kristen menyatakan bahwa Generasi Z hidup sezaman saat internet Dengan demikian cara berpikir ganerasi Z dipengaruhi oleh perkembangan internet yang semakin maju ini. Di era digital ini pelayanan gereja tak dapat tidak harus menggunakan digitalisasi. Karena gereja-gereja masih menggunakan cara tradisional dalam menyelenggarakan pelayanannya maka anak-anak generasi Z kurang tertarik ambil bagian dalam pelayanan. Peneliti berikutnya meneliti penyebab sebagian besar anak muda terutama generasi Z meninggalkan gereja lokal tempat mereka bertumbuh dan menyatakan gereja tidak relevan dan Setelah ditelusuri ternyata penyebabnya adalah kurangnya saat teduh serta perenungan Alakitab dan penginjilan secara . ingkat pemuridan yang renda. , usulan dari penelitinya adalah harus digiatkan kembali praktek rohani pribadi setiap hari dengan bimbingan teologis dari pembimbing rohani yang khusus menangani generasi muda . hususnya generasi Z). Sehingga mutu kerohanian generasi Z dapat lebih membaik. KESIMPULAN Peranan orang tua dalam keluarga sangat penting dalam menyelamatkan anak-anak generasi Z dari Agnostisisme . Terpaparnya generasi Z pada faham Agnostik dimulai dari kekurang pengertian orang tua tentang cara mendidik generasi Z dan kurangnya waktu orang tua bersama dengan anak-anak generasi Z ini. Orang tua berkewajiban memberikan teladan hidup dan sikap rohani yang baik sehingga bisa menjadi panutan anak generasi Z, dan tidak kalah pentingnya orang tua harus selalu meng-upgade diri dalam hal pengetahuan baik agama maupun sekuler, sehingga menjadi tempat bertanya yang baik untuk anak generasi Z. Jika karakter anak generasi Z ini sudah terbentuk dengan baik sejak dari rumah, maka segala tindak Andries Yosua ,Joni Manumpak Parulian Gultom. Martina Novalina. AuCfpelayanan Penggembalaan Pada Era Digital,Ay Kharismata: Jurnal Teologi Pantekosta, 4. , 229-248. , 2022. Resmi Hutasoit ,Rumondang Lumban Gaol. AuMedia Sosial Sebagai Cf Gereja Yang Bertransformasi Bagi Perkembangan Spiritualitas Generasi Z Dalam Era Digital,Ay Kenosis: Jurnal Kajian Teologi, 7. , 146-172. Joni Manumpak Parulian Gultom. AuMisi Gereja Dalam Pengembangan Praktek Penginjilan Pribadi Dan Pemuridan Generasi Z,Ay Manna Rafflesia, 9. , 18-36. , 2022. Sepakat : Jurnal Pastoral Kateketik- Volume. 11 Nomor 1. Mei 2025 E-ISSN : 2541-0881. P-ISSN : 2301-4032. Hal 01-18 tanduknya di luar rumah dapat diterima dengan baik oleh masyarakat. UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih penulis tujukan untuk Bapak Yanto Paulus Hermanto yang telah mengarahkan penulis dalam membuat artikel jurnal ini. Segala perhatian dan jerih lelah Bapak Yanto Paulus dalam mengarahkan dan membimbing penulis sehingga dapat menyelesaikan jurnal ini, kiranya Tuhan Yesus saja yang akan membalasnya dengan berkatNya. Tanpa bimbingan dan pengarahan Bapak Yanto Paulus mustahil penulis dapat menyelesaikan jurnal DAFTAR PUSTAKA