Jurnal Bidan Komunitas. Vol. I1 No. 1 Hal. 24-37, e-ISSN 2614-7874 Vol. II No. 1 Hal. 24-37 I e-ISSN 2614-7874 Diterbitkan oleh: Prodi D4 Kebidanan Fakultas Farmasi dan Kesehatan Institut Kesehatan Helvetia Jurnal Bidan Komunitas http://ejournal. id/index. php/jbk ARTIKEL PENELITIAN PENGARUH KARAKTERISTIK TERHADAP PERILAKU IBU MENERIMA IMUNISASI DASAR BATITA 1-2 TAHUN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS KUTA BLANG KABUPATEN BIREUEN TAHUN 2018 Misrina* Dosen AKBID Munawarah. Bireuen * rina27mis@gmail. Abstrak Kematian batita akibat penyakit berbahaya terbilang tinggi yaitu sebesar 1,4 juta jiwa pertahun yang antara lain disebabkan oleh batuk rejan 294. %), tetanus 198. %), dan campak 000. %). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh karakteristik terhadap perilaku ibu menerima imunisasi dasar batita 1-2 tahun di wilayah kerja puskesmas Kuta Blang Kabupaten Bireuen. Metode penelitian ini adalah survei analitik dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan di Wilayah Kerja Puskesmas Kuta Blang Kota Bireuen Tahun 2017. Populasi dalam penelitian ini seluruh ibu yang memiliki balita 1-2 tahun. Teknik pengambilan sampel dilakukan secara proporsive random sampling. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan chi-square dan multivaraiat dengan regresi logistik. Berdasarkan tingkat pendidikan didapatkan hasil 0,076 tidak ada pengaruh, pekerjaan didapatkan hasil 0,146 tidak ada pengaruh, pengetahuan didapatkan hasil 0,000 ada pengaruh dengan nilai OR 13,419 yaitu pengetahuan 13 kali berpengaruh terhadap perilaku ibu menerima imunisasi dasar batita1-2 tahun, sikap didapatkan hasil 0,000 dengan nilai OR 13,692 yaitu sikap 13 kali berpengaruh terhadap perilaku ibu menerima imunisasi dasar batita 1-2 tahun, dukungan keluarga didapatkan hasil 0,302 tidak ada pengaruh, motivasi didapatkan hasil 0,000 dengan nilai OR 12,263 yaitu motivasi 13 kali berpengaruh terhadap perilaku ibu menerima imunisasi dasar batita 1-2 tahun, persepsi didapatkan hasil 0,000 ada pengaruh antara persepsi dengan perilaku ibu menerima imunisasi dasar batita 1-2 tahun. Disarankan kepada tenaga kesehatan di Puskesmas Kuta Blang Kabupaten Bireuen untuk memberikan pendidikan kesehatan melalui penyuluhan tentang pentingnya imunisasi dasar sehingga ibu mau membawa anaknya ke pelayanan kesehatan untuk diimunisasi sesuai dengan umur dan jadwal pemberiaannya. Kata Kunci: Karakteristik. Imunisasi Dasar The Effect Of Characteristics On Mother's Behavior Receiving Batita Basic Immunization 1-2 Years Of Batita Immunization In The Puskesmas Working Area Of Kuta Blang Health Center Bireuen District 2018 Abstract WHO data in 2015, under-five mortality due to dangerous diseases that can be prevented by immunization is high. There were under-five deaths of 1. 4 million per year due to whooping cough Jurnal Bidan Komunitas. Vol. II No. 1 Hal. 24-37, e-ISSN 2614-7874 294,000 . %), tetanus 198,000 . %), and measles 540,000 . %). Objective this study was to determine the characteristic effect on the behavior of mothers receiving basic immunizations for toddlers 1-2 years in the working area of Kuta Blang Community Health Center. Bireuen District. Method this study is an analytical survey with a cross sectional approach. The study was conducted in the Bireuen Kuta Blang Kota Puskesmas Working Area in 2017. The population in this study were all mothers who had toddlers 1-2 years. The sampling technique was carried out by proportional random Data analysis was carried out by univariate, bivariate using chi-square and multivariate with logistic regression. Based on the level of education the results obtained 0. 076 there is no influence, the work is obtained 0. 146 there is no influence, knowledge is obtained 0,000 there is an influence with OR 13. 419, knowledge 13 times affect the behavior of mothers receiving basic immunization 1-2 years, attitudes obtained 0. 000 with OR 13,692 that is 13 times influence on the behavior of mothers receiving toddlers' basic immunization 1-2 years, family support is obtained 302 there is no influence, motivation is obtained 0,000 with OR 12,263 that is motivation 13 times influence on the behavior of mothers receiving toddlers basic immunization 1-2 years, the perception is obtained 0,000 there is an influence between the perception of the behavior of mothers receiving basic immunizations for toddlers 1-2 years. Conclusion: It is recommended to health workers at Kuta Blang Health Center in Bireuen Regency to provide health education through counseling on the importance of basic immunization so that mothers want to take their children to health services to be immunized according to their age and schedule. Keywords: Characteristics. Basic Immunization PENDAHULUAN Pembangunan kesehatan pada hakekatnya adalah penyelenggaraan upaya kesehatan bagi setiap penduduk agar dapat terwujudnya kesehatan yang optimal. Salah satu upaya mencapai keadaan tersebut adalah dengan menurunkan angka kesakitan dan kematian balita . Imunisasi telah terbukti sebagai salah satu upaya kesehatan masyarakat yang sangat Program imunisasi telah menunjukkan keberhasilan yang luar biasa dan merupakan usaha yang sangat hemat biaya dalam mencegah penyakit menular, imunisasi juga telah berhasil menyelamatkan begitu banyak kehidupan dibandingkan dengan upaya kesehatan masyarakat lainnya . Penyelenggaraan imunisasi telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 42 Tahun 2013 bahwa untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan mempertahankan status kesehatan seluruh rakyat diperlukan tindakan imunisasi sebagai tindakan preventif. Imunisasi lengkap dapat melindungi anak dari wabah, kecacatan dan kematian . Imunisasi merupakan perlindungan yang paling ampuh untuk mencegah beberapa penyakit berbahaya. Imunisasi merangsang kekebalan tubuh bayi sehingga dapat melindungi dari berbagai penyakit berbahaya. Kegiatan imunisasi merupakan salah satu kegiatan prioritas Kementrian Kesehatan, sebagai salah satu bentuk nyata komitmen pemerintah dalam mencapai MDGs khususnya untuk menurunkan angka kematian pada anak . Imunisasi merupakan suatu cara yang dilakukan untuk menimbulkan ataupun meningkatkan kekebalan tubuh seseorang terhadap paparan penyakit. Prevalensi kasus penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi terkadang menunjukkan peningkatan maupun penurunan, tergantung jenis penyakit menular. Penyakit menular yang dapat dicegah dengan imunisasi adalah penyakit yang diharapkan dapat diberantas atau ditekan dengan pelaksanaan program imunisasi . Kekebalan tubuh bayi/anak yang didapatkan dari ibunya tidak bersifat kekal. Kekebalan tubuh bayi didapatkan dari Jurnal Bidan Komunitas. Vol. II No. 1 Hal. 24-37, e-ISSN 2614-7874 pemberian ASI eksklusif selama 6 bulan akan tetapi tanpa imunisasi penyakit infeksi juga tidak dapat dicegah. Apabila kadar kekebalan tubuh tersebut telah menurun, bayi/anak harus membuat sendiri kekebalan tubuhnya melalui Nilai . vaksin dibagi dalam tiga katagori yaitu secara individu, sosial dan keuntungan dalam menunjang sistem kesehatan Secara singkat, apabila seseorang anak telah mendapat vaksinasi maka 80-95% akan terhindar dari penyakit infeksi yang ganas . Pemberian imunisasi berguna untuk memberikan perlindungan menyeluruh terhadap penyakit yang berbahaya, dengan memberikan imunisasi sesuai jadwal, tubuh bayi dirangsang untuk memiliki kekebalan sehingga tubuhnya mampu melawan serangan penyakit berbahaya . Berdasarkan data WHO 2015, angka kematian balita akibat penyakit berbahaya yang seharusnya dapat dicegah dengan imunisasi masih terbilang tinggi. Terdapat kematian balita sebesar 1,4 juta jiwa pertahun yang antara lain disebabkan oleh batuk rejan 294. %), %), dan campak 540. %) . Imunisasi biasanya lebih fokus diberikan kepada anak karena sistem kekebalan tubuh mereka masih belum sebaik orang dewasa, sehingga rentan terhadap serangan penyakit berbahaya. imunisasi tidak cukup hanya dilakukan satu kali, tetapi harus dilakukan secara bertahap dan lengkap terhadap berbagai penyakit yang sangat membahayakan kesehatan dan hidup anak . Status imunisasi dasar pada bayi umur 1-2 tahun, meliputi : BCG. DPT. Polio. Hepatitis, dan Campak. Idealnya bayi harus mendapatkan imunisasi dasar yang lengkap terdiri dari BCG 1 kali. DPT 3 kali. Polio 4 kali. Hepatitis 3 kali dan Campak 1 kali. Untuk kelengkapan status imunisasi dasar lengkap bayi dapat dilihat dari cakupan imunisasi campak karena pemberian imunisasi campak dilakukan paling akhir setelah keempat imunisasi dasar pada bayi yang lain telah diberikan . Upaya meningkatkan kekebalan tubuh bayi/anak terhadap suatu penyakit, vaksinansi harus diberikan sebelum seorang bayi/anak menderita penyakit, waktu yang tepat untuk memberikan vaksin tergantung pada kapan seorang bayi/anak rentan terhadap penyakit tersebut, misalnya kasus penyakit campak paling banyak dijumpai pada anak sekitar umur 1-5 tahun, maka imunisasi campak harus diberikan sebelum bayi berusia 1 tahun . Pencapaian Universal Child Immunization (UCI) pada dasarnya merupakan proyeksi terhadap cakupan sasaran bayi yang telah mendapatkan imunisasi secara lengkap. Bila cakupan UCI dikaitkan dengan batasan suatu wilayah tertentu, berarti dalam wilayah tersebut juga tergambarkan besarnya tingkat kekebalan masyarakat terhadap penularan PD31. Suatu keadaan tercapainya imunisasi dasar secara lengkap pada semua bayi . nak di bawah umur 1 tahu. dan target UCI tahun 2014 adalah 100%. Diperkirakan 1,5 juta balita di Indonesia belum terjangkau program imunisasi dasar maupun pemberian vaksin lainnya . Data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2012 menunjukkan AKB sebesar 32 per 1000 kelahiran hidup pada Ini berarti di Indonesia, ditemukan kurang lebih 440 bayi yang meninggal setiap Penyebab kematian bayi terbanyak disebabkan oleh masalah neonatal seperti berat bayi lahir rendah (BBLR). Asfiksia. Diare, dan Pneumonia, serta beberapa penyakit infeksi lainnya . Berbagai negara di dunia, kurangnya persediaan vaksin, akses terhadap layanan kesehatan, kurangnya pengetahuan masyarakat serta kecilnya dukungan politis dan financial menjadi penyebab kesenjangan cakupan Kondisi geografis Indonesia juga merupakan tantangan bagi program imunisasi, selain kurangnya pengetahuan masyarakat dan kurangnya informasi tentang imunisasi. Pemerintah juga telah menggiatkan program penyebarluasan informasi tentang pentingnya imunisasi . Jurnal Bidan Komunitas. Vol. II No. 1 Hal. 24-37, e-ISSN 2614-7874 Faktor-faktor dengan kelengkapan imunisasi dasar meliputi beberapa hal, salah satunya yang disampaikan oleh Suparyanto . yang menyatakan bahwa faktor yang berhubungan dengan kelengkapan imunisasi balita antara lain adalah pengetahuan, motif, pengalaman, pekerjaan, dukungan keluarga, penghasilan dan pendidikan. Data Dinkes Kabupaten Bireuen bahwasannya didapatkan jumlah bayi baru lahir tahun 2016 sebanyak 9. 130 bayi. Berdasarkan yang dikumpulkan dari 18 puskesmas yang ada di kabupaten Bireuen bahwa cakupan imunisasi pada bayi yaitu HB0 . -7 har. sebesar 67,5%. BCG sebesar 61,9%, polio-1 sebesar 66,7%. DPT/HB sebesar 13,3%. DPT/HB-Hib . sebesar 51,4%. Campak Sebesar 60,3% . Puskesmas Kuta Blang merupakan salah satu puskesmas induk yang ada di Kota Bireuen Kabupaten Bireuen, berdasarkan data imunisasi dan capaiannya tahun 2016 dengan jumlah bayi sebanyak 354 bayi menunjukkan bahwa capaian indikator imunisasi dasar hanya 23%. BCG sebesar 54,18%. Hb0 sebesar 68,7%, polio-1 sebesar 63,6%, polio-4 sebesar 34,5%. DPT-HB1 sebesar 40,9%. DPT-HB3 sebesar 24%, campak sebesar 30,1% . Data yang diperoleh di Puskesmas Kuta Blang menunjukkan tidak ada cakupan imunisasi dasar yang mencapai target UCI sampai dengan 100% di wilayah kerja Puskesmas Kuta Blang. Penyebab tidak lengkapnya imunisasi yang peneliti dapatkan dari petugas kesehatan yang bekerja di puskesmas Kuta Blang menyatakan bahwa alasan ibu tidak mau memberikan imunisasi kepada anaknya karena banyak beredar isu tentang kandungan vaksin yang terbuat dari liur babi, membuat imun tubuh anak melemah, dan masih banyak orang yang lebih percaya kepada teman, keluarga atau tokoh masyarakat yang tidak mengijinkan anaknya untuk imunisasi akan tetapi anaknya tetap sehat. Berita isu vaksin yang terbuat dari liur babi ini sudah beredar mulai dari tahun 2012 hingga kini, sehingga untuk mengembalikan persepsi yang benar tentang imunisasi pada masyarakat disini merupakan hal yang tidak mudah bagi tenaga Petugas kesehatan telah melakukan upaya maksimal dalam menyelenggarakan program imunisasi tersebut baik pada bayi maupun pada balita, untuk melakukan pendekatan atau melakukan sosialisasi pada masyarakat tentang imunisasi. Puskesmas Kuta Blang sudah mendatangkan tengku sebagai tokoh agama yang dipercayai oleh masyarakat setempat untuk memberi penjelasan bahwa imunisasi ini tidak haram dan memiliki manfaat yang besar. Masih rendahnya cakupan imunisasi dasar pada bayi di wilayah kerja Puskesmas Kuta Blang Kota Bireuen menarik minat peneliti untuk mengetahui alasan mengapa imunisasi dasar cakupannya masih sangat Berdasarkan data sekunder yang di dapatkan dipuskesmas dari 23% yang melakukan imunisasi dasar dan 77% yang tidak melakukan imunisasi dasar tidak ada dari mereka yang menderita penyakit akibat tidak mendapatkan imunisasi dasar lengkap, oleh karena itu masih banyak masyarakat setempat tidak mau mengimunisasi anaknya. Hasil wawancara dengan 20 orang ibu yang memiliki bayi dengan imunisasi tidak lengkap yang dilakukan pada hari selasa tanggal 15 Novomber 2016 diperoleh jawaban beragam. Sebanyak 11 orang ibu mengatakan bahwa takut untuk mengimunisasi anaknya karena anggapan kandungan vaksin yang haram, sebanyak 2 orang ibu mengatakan malas untuk mengimunisasi anaknya karena menurut mereka anak yang diimunisasi dengan yang tidak diimunisasi sama saja, sebanyak 1 orang ibu mengatakan karena tidak diberikan ijin oleh suaminya, sebanyak 3 orang ibu mengatakan tidak mengetahuan manfaat dari imunisasi 3 orang ibu mengatakan karena takut anaknya Berdasarkan uraian di atas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul AuPengaruh Karakteristik Terhadap Perilaku Ibu Menerima Imunisasi Dasar Batita Jurnal Bidan Komunitas. Vol. II No. 1 Hal. 24-37, e-ISSN 2614-7874 1-2 Tahun Di Wilayah Kerja Puskesmas Kuta Blang Kabupaten Bireuen Tahun 2017Ay. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis faktor yang pengaruh karakteristik terhadap perilaku ibu menerima imunisasi dasar batita 1-2 tahun Di Wilayah Kerja Puskesmas Kuta Blang Kabupaten Bireuen Tahun 2017. proporsive random sampling. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data Metode pengelohan data collecting, checking, coding, entering dan processing. Analisis data yang digunakan adalah analisis univariat dan analisis bivariat dan multivariat dengan uji chi-square. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang dilakukan adalah survei analitik dengan desain penelitian crossectional study yaitu mencari pengaruh karakteristik individu terhadap pemberian imunisasi dasar pada batita usia 1-2 tahun di wilayah kerja puskesmas Kuta Blang Kecamatan Kuta Blang Kabupaten Bireuen Penelitian ini akan dilakukan di wilayah kerja Puskesmas Kuta Blang Kecamatan Kuta Blang Kabupaten Bireuen tahun 2016. Lokasi penelitian ditentukan dengan alasan karena masih rendahnya cakupan imunisasi dasar pada anak yaitu sebesar 23 % pada tahun 2016. Penelitian ini dimulai bulan dari 15 November 2016 yaitu dengan melakukan survey awal, pengambilan data, penelurusan kepustakaan, penyusunan proposal dilanjutkan dengan melakukan uji validitas dan melakukan penelitian pada tanggal 15 Maret 2017 sampai dengan 22 Maret 2017 di wilayah kerja Puskesmas Kuta Blang Kabupaten Bireuen. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu yang mempunyai batita 1-2 tahun yang bertempat tinggal di wilayah Puskesmas Kuta Kecamatan Kuta Blang Kabupaten Bireuen tahun 2016 sebanyak 460 orang. Besar sampel dalam penelitian ini diambil dengan menggunakan rumus Solvin. Berdasarkan perhitungan rumus tersebut, didapatkan jumlah sampel sebanyak 83 responden. Teknik HASIL Analisis Univariat Berdasarkan tabel 1 dapat diketahui pendidikan yang dimiliki ibu yang PT sebanyak 24 orang . ,9%). SLTA sebanyak 41 orang . ,4%). SLTA sebanyak 10 orang . ,0%) dan SD sebanyak 8 orang . ,6%). Berdasarkan Pekerjaan ibu yang PNS sebanyak 9 orang . ,8%). Swasta sebanyak 10 orang . ,0%), honorer sebanyak 9 orang . ,8%), pedagang sebanyak 12 orang . , dan IRT sebanyak 43 orang . Berdasarkan Pengetahuan ibu yang baik sebanyak 36 orang ( 43,. , kurang sebanyak 47 orang . Berdasarkan Sikap ibu yang positif sebanyak 46 orang . ,4%), dan negatif sebanyak 37 orang . ,6%). Berdasarkan Dukungan keluarga ibu yang mendapat dukungan baik sebanyak 46 orang . ,4%), dan yang mendapat dukungan kurang sebanyak 37 orang . ,6%). Berdasarkan Motivasi Ibu yang mempunyai motivasi tinggi sebanyak 52 orang . ,7%) dan motivasi rendah sebanyak 31 orang . Berdasarkan Persepsi ibu yang mempunyai persepsi positif sebanyak 50 orang . ,2%) dan persepsi negatif sebanyak 33 orang . ,8%). Berdasarkan perilaku ibu menerima imunisasi dasar Batita 12 tahun yang lengkap sebanyak 25 orang . ,1%) dan tidak lengkap sebanyak 58 orang . ,9%). Tabel 1. Distribusi Frekuensi Pengaruh Karakteristik Terhadap Perilaku Ibu Menerima Imunisasi Dasar Batita 1-2 tahun Di Wilayah Kerja Puskesmas Kuta Blang Kabupaten Bireuen Tahun 2018 Variabel Pendidikan ibu SLTA Jurnal Bidan Komunitas. Vol. II No. 1 Hal. 24-37, e-ISSN 2614-7874 SLTP Pekerjaan ibu PNS Swasta Honorer Pedagang IRT Pengetahuan Ibu Baik Kurang Sikap Positif Negatif Dukungan Keluarga Baik Kurang Motivasi Tinggi Rendah Persepsi Positif Negatif Imunisasi Dasar Batita 1-2 Lengkap Tidak Lengkap Analisis Bivariat Berdasarkan tabel 2 dapat dilihat tabulasi silang pengaruh pendidikan terhadap perilaku ibu menerima imunisasi dasar pada Batita 1-2 tahun diketahui bahwa dari 83 responden terdapat 24 responden dengan imunisasi dasar batita 1-2 tahun lengkap sebanyak 12 orang . %) dan tidak lengkap sebanyak 12 orang . %). Sebanyak 41 responden dengan pendidikan SLTA yang menerima imunisasi dasar batita 1-2 tahun lengkap sebanyak 8 orang . ,5%) dan tidak lengkap sebanyak 33 orang . ,5%). Sebanyak menerima imunisasi dasar batita 1-2 tahun lengkap sebanyak 2 orang . %) dan tidak lengkap sebanyak 6 orang . %). Hasil uji chisquare menunjukkan bahwa p = 0,076> 0,05, artinya tidak ada pengaruh yang signifikan antara pendidikan terhadap perilaku ibu menerima imunisasi dasar batita 1-2 tahun di wilayah kerja Puskesmas Kuta Blang Kabupaten Bireuen tahun 2017. Tabulasi silang pengaruh pekerjaan terhadap perilaku ibu menerima imunisasi dasar pada Batita 1-2 tahun diketahui bahwa dari 83 responden terdapat pekerjaan ibu dengan PNS sebanyak 9 responden dengan imunisasi dasar batita 1-2 tahun lengkap sebanyak 6 orang . ,7%) dan tidak lengkap sebanyak 3 orang . ,3%). Sebanyak 10 responden dengan pendidikan swasta yang menerima imunisasi dasar batita 1-2 tahun lengkap sebanyak 2 orang . %) dan tidak lengkap sebanyak 8 10 responden dengan pendidikan SLTP yang menerima imunisasi dasar batita 1-2 tahun lengkap sebanyak 3 orang . %) dan tidak lengkap sebanyak 7 orang . %). Sebanyak 8 responden dengan pendidikan SD yang Jurnal Bidan Komunitas. Vol. II No. 1 Hal. 24-37, e-ISSN 2614-7874 orang . %). Sebanyak 9 responden dengan pekerjaan Honorer yang menerima imunisasi dasar batita 1-2 tahun lengkap sebanyak 3 orang . ,3%) dan tidak lengkap sebanyak 6 orang . ,7%). Sebanyak 12 responden dengan pekerjaan pedagang yang menerima imunisasi dasar batita 1-2 tahun lengkap sebanyak 3 orang . %) dan tidak lengkap sebanyak 9 orang . %). Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa p = 0,146> 0,05, artinya tidak ada pengaruh yang signifikan antara pekerjaan terhadap perilaku ibu menerima imunisasi dasar batita 1-2 tahun di wilayah kerja Puskesmas Kuta Blang Kabupaten Bireuen tahun 2017. Tabulasi silang pengaruh pengetahuan terhadap perilaku ibu menerima imunisasi dasar pada Batita 1-2 tahun diketahui bahwa dari 83 responden terdapat pekerjaan ibu dengan pengetahuan baik sebanyak 36 responden dengan imunisasi dasar batita 1-2 tahun lengkap sebanyak 22 orang . ,1%) dan tidak lengkap sebanyak 14 orang . ,9%). Sebanyak 47 responden dengan pengetahuan kurang yang menerima imunisasi dasar batita 1-2 tahun lengkap sebanyak 3 orang . ,4%) dan tidak lengkap sebanyak 44 orang . ,6%). Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa p = 0,000< 0,05, artinya ada pengaruh yang signifikan antara pengetahuan terhadap perilaku ibu menerima imunisasi dasar batita 1-2 tahun di wilayah kerja Puskesmas Kuta Blang Kabupaten Bireuen tahun 2017. Tabulasi silang pengaruh sikap terhadap perilaku ibu menerima imunisasi dasar pada Batita 1-2 tahun diketahui bahwa dari 83 responden terdapat sikap ibu yang positif sebanyak 46 responden dengan imunisasi dasar batita 1-2 tahun lengkap sebanyak 50 orang . %) dan tidak lengkap sebanyak 23 orang . %). Sebanyak 37 responden dengan sikap negatif yang menerima imunisasi dasar batita 1-2 tahun lengkap sebanyak 2 orang . ,4%) dan tidak lengkap sebanyak 35 orang . ,6%. Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa p = 0,000> 0,05, artinya ada pengaruh yang signifikan antara sikap terhadap perilaku ibu menerima imunisasi dasar batita 1-2 tahun di wilayah kerja Puskesmas Kuta Blang Kabupaten Bireuen tahun 2017. Tabulasi silang pengaruh dukungan keluarga terhadap perilaku ibu menerima imunisasi dasar pada Batita 1-2 tahun diketahui bahwa dari 83 responden terdapat ibu dengan dukungan keluarga baik sebanyak 46 responden dengan imunisasi dasar batita 1-2 tahun lengkap sebanyak 16 orang . ,8%) dan tidak lengkap sebanyak 30 orang . ,2%). Sebanyak 24 responden dengan dukungan keluarga kurang yang menerima imunisasi dasar batita 1-2 tahun lengkap sebanyak 9 orang . ,3%) dan tidak lengkap sebanyak 28 orang . ,7%). Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa p = 0,302>0,05, artinya tidak ada pengaruh yang signifikan antara dukungan keluarga terhadap perilaku ibu menerima imunisasi dasar batita 12 tahun di wilayah kerja Puskesmas Kuta Blang Kabupaten Bireuen tahun 2017. Tabulasi silang pengaruh motivasi terhadap perilaku ibu menerima imunisasi dasar pada Batita 1-2 tahun diketahui bahwa dari 83 responden terdapat ibu dengan motivasi tinggi sebanyak 52 responden dengan imunisasi dasar batita 1-2 tahun lengkap sebanyak 24 orang . ,2%) dan tidak lengkap sebanyak 28 orang . ,8%). Sebanyak 47 responden dengan motivasi rendah yang menerima imunisasi dasar batita 1-2 tahun lengkap sebanyak 1 orang . ,2%) dan tidak lengkap sebanyak 30 orang . ,8%). Hasil uji chi-square menunjukkan bahwa p = 0,000<0,05, artinya ada pengaruh yang signifikan antara motivasi terhadap perilaku ibu menerima imunisasi dasar batita 12 tahun di wilayah kerja Puskesmas Kuta Blang Kabupaten Bireuen tahun 2017. Tabulasi silang pengaruh persepsi terhadap perilaku ibu menerima imunisasi dasar pada Batita 1-2 tahun diketahui bahwa dari 83 responden terdapat ibu dengan persepsi positif sebanyak 50 responden dengan imunisasi dasar batita 1-2 tahun lengkap sebanyak 24 orang . %) dan tidak lengkap sebanyak 26 orang . %). Sebanyak 33 responden dengan persepsi negatif yang menerima imunisasi dasar batita 1-2 tahun lengkap sebanyak 1 orang . %) dan tidak lengkap sebanyak 32 orang . %). Hasil Jurnal Bidan Komunitas. Vol. II No. 1 Hal. 24-37, e-ISSN 2614-7874 uji chi-square menunjukkan bahwa p = 0,000<0,05, artinya ada pengaruh yang signifikan antara persepsi terhadap perilaku ibu menerima imunisasi dasar batita 1-2 tahun di wilayah kerja Puskesmas Kuta Blang Kabupaten Bireuen tahun 2017. Tabel 2. Tabulasi Silang Pengaruh Karakteristik Terhadap Perilaku Ibu Menerima Imunisasi Dasar Batita 1-2 Tahun Di Wilayah Kerja Puskesmas Kuta Blang Kabupaten Bireuen Tahun 2017 Ketidakaktifan Ibu Balita Dalam Kegiatan Posyandu Jumlah Variabel Asymp. Sig Aktif Tidak Aktif Pendidikan ibu 0,076 SLTA SLTP Pekerjaan Ibu PNS Swasta Honorer 0,146 Pedagang IRT Pengetahuan Ibu Baik Kurang 0,000 Sikap Positif Negatif 0,000 Dukungan Keluarga Baik Kurang 0,302 Motivasi Tinggi Rendah 0,000 Persepsi Positif Negatif 0,000 >1 sehingga dapat dikatakan mempunyai pengaruh yang berarti terhadap perilaku ibu menerima imunisasi dasar batita 1-2 tahun. Pada penelitian ini variabel yang paling besar berpengaruh adalah sikap dengan nilai Exp (B)=13. Analisis Multivariat Berdasarkan hasil analisis multivariat menggunakan regresi logistik dengan metode enter tersebut, ada tiga variabel independen . engetahuan, dimasukkan ke dalam analisis karena mempunyai p-value <0,005 dan nilai Exp (B) Jurnal Bidan Komunitas. Vol. II No. 1 Hal. 24-37, e-ISSN 2614-7874 Tabel 4. Hasil Uji Regresi logistik Pengaruh Karakteristik Terhadap Perilaku Ibu Menerima Imunisasi Dasar Batita 1-2 Tahun di Wilayah Kerja Puskesmas Kuta Blang Kabupaten Bireuen Tahun 2018. Variabel p-Value Exp () CI 95% (Lower-Uppe. Pengetahuan 846- 63. Sikap Motivasi Konstanta Pemberian imunisasi dasar lengkap sangat memengaruhi kesehatan anak. Imunisasi menimbulkan/meningkatkan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit sehingga bila suatu saat terpapar dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya mengalami sakit ringan . Salah satu indikator menentukan status kesehatan suatu negara adalah dengan melihat angka kematian balita atau derajat kesehatan anak mencerminkan derajat kesehatan bangsa, sebab anak sebagai generasi penerus memiliki kemampuan yang dapat dikembangkan. Pertumbuhan dan perkembangan anak di masa balita sangat dipengaruhi oleh perilaku ibu dalam mengurus anak terutama balita. Selain itu pertumbuhan dan perkembangan anak bisa dipengaruhi dari faktor lingkungan yang masih bisa diperbaiki, misalnya pertumbuhan dan perkembangan anak bisa dilihat dari asupan nutrisi atau gizi pada balita dan pemberian imunisasi dasar . Anak yang tidak diimunisasi akan rentan terhadap sakit seperti demam, batuk, pilek dan bisa terkena penyakit tertentu seperti TBC, difteri, pertusis, tetanus, polio, campak dan mudah tertular dari orang disekitarnya karena daya tahan tubuh yang menurun, oleh karena itu seorang ibu harus memberikan imunisasi dasar lengkap pada anaknya sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Pengaruh Pendidikan Terhadap Perilaku Ibu Menerima Imunisasi Dasar Batita 1-2 Berdasarkan hasil penelitian uji statistik menunjukan bahwa dari 83 responden, mayoritas berpendidikan SLTA. Hasil uji Chi PEMBAHASAN Perilaku Ibu Menerima Imunisasi Dasar Batita 1-2 tahun Penerimaan imunisasi pada bayi dicatat dalam Kartu Menuju Sehat (KMS) yaitu jadwal dan jenis-jenis imunisasi. KMS ini menjadi indikator peneliti untuk menentukkan apakah ibu balita sudah menerima imunisasi dasar lengkap atau tidak. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan dari 83 responden hanya 25 orang . ,1%) yang menerima imunisasi dasar Setelah dilakukan penelitian ternyata kebanyakan ibu yang tidak menerima imunisasi dasar pada anaknya karena alasan kandungan vaksin yang haram, rasa kasihan jika anak yang beranggapan bahwa imunisasi membuat anak menjadi sakit bukan bertambah sehat. Ada juga ibu yang mengatakan tidak ada gunanya anak disuntik ataupun diberi obat imunisasi, menurut mereka untuk menjadikan anak sehat, cukup diberikan makanan yang bergizi dan minum Penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Silitonga di Kabupaten Tapanuli Utara dengan judul Pengaruh Faktor Pemudah. Pemungkin dan Penguat terhadap Pemberian Imunisasi Dasar Lengkap pada Bayi oleh Ibu di Kabupaten Tapanuli Utara Tahun 2011 dari 197 responden yang diteliti hanya 66 responden yang memberikan imunisasi dasar lengkap pada bayinya, sebanyak 131 responden tidak memberikan imunisasi dasar pada bayinya dengan alasan anak sedang sakit, ibu sering menunda jadwal pemberian imunisasi karena alasan ibu bekerja . Jurnal Bidan Komunitas. Vol. II No. 1 Hal. 24-37, e-ISSN 2614-7874 Square menunjukan bahwa tidak ada pengaruh yang signifikan antara pendidikan dengan perilaku ibu menerima imunisasi dasar batita 12 tahun. Hal ini terjadi karena pengetahuan responden tentang pentingnya imunisasi dasar tidak dipengaruhi oleh tingkat pendidikan Hasil penelitian menunjukan bahwa pengetahuan responden tentang imunisasi dasar diperoleh dari penyuluhan kesehatan yang diberikan oleh petugas kesehatan setempat. Pendidikan akan mempengaruhi proses pemahaman terhadap pengetahuan atau ilmu. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin mudah menerima informasi, oleh sebab itu, pendidikan sangat penting bagi menelaah dan menerima informasi yang diperoleh dengan pertimbangan rasional . Pendidikan yang baik akan memberikan kemampaun yang baik pula pada seseorang kesehatan keluarga termasuk imunisasi anak. Responden sebagaian besar memiliki pendidikan yang memadai tetapi pengetahuan mereka tentang imunisasi masih kurang. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Widiastuti tenatng Faktor Yang Berhubungan dengan Perilaku Ibu Dalam Memberikan Imunisasi Dasar Kepada Bayinya di Desa Banyutowo Kabupaten Kendal, menyatakan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pendidikan dengan perilaku ibu dalam memberikan imunisasi dasar pada Penelitian dengan judul Hubungan Pendidikan Orang Tua Dengan Kelengkapan Imunisasi Dasar Pada Bayi Usia 9-12 Bulan bahwasannya tidak ada pengaruh antara pendidikan ibu dengan status imunisasi dasar lengkap pada anaknya secara statistik juga tidak bermakna 95% . ,984-1,. dengan OR 1,2 artinya resiko ibu yang yang berpendidikan tinggi(>SLTP) 1,2 kali dibandingkan dengan ibu yang berpendidikan (