Jurnal Pengabdian West Science Vol. No. Januari, 2023, pp. Hubungan Penerapan Bhinneka Tunggal Ika dan Nilai - Nilai Pancasila dengan Profil Pelajar Pancasila Endah Devy Eriani1. Dr. Rahmi Susanti. Si. Dr. Meilinda. Pd. Universitas Sriwijaya *Corresponding author E-mail: 1endahdevy07@gmail. com, 2rahmi_susanti@fkip. meilinda@fkip. Article History: Received: Januari 2023 Revised: Januari 2023 Accepted: Januari 2023 Abstract: Indonesia adalah negara yang memiliki kekayaan yang tersebar mulai dari Sabang sampai Merauke, dengan beragam suku, ras, etnik, agama, budaya, bahasa, dan adat istiadat sehingga menghasilkan kebudayaan yang beraneka ragam. Bhinneka Tunggal Ika menjadi semboyan bangsa Indonesia dan tertulis di dalam lambang Garuda Pancasila. Arti Bhinneka Tunggal Ika adalah berbeda-beda tetap satu jua. Maknanya, dengan jiwa dan semangat bangsa Indonesia mengakui realitas bangsa yang majemuk . uku, bahasa, agama, ras, golongan dl. namun tetap menjunjung tinggi Pancasila sebagai dasar negara memiliki lambang burung Garuda berwarna emas. Di dada burung garuda tersebut ada lambang-lambang bagi tiap sila, bintang, rantai, pohon beringin, kepala banteng serta padi dan kapas. Profil pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan 6 ciri utama: beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan Keywords: Bhinneka tunggal ika, nilai-nilai pancasila, profil pelajar pancasila Pendahuluan Telah kita ketahui bahwa Pancasila adalah dasar negara Republik Indonesia yang ditetapkan pada tanggal 18 Agustus 1945. Ini mengandung arti bahwa tata kehidupan manusia Indonesia baik selaku individu maupun pribadi, selaku anggota masyarakat dan sebagai rakyat yang bermukim di negara Indonesia, harus mengacu kepada nilai yang terkandung di dalam Pancasila. Pancasila merupakan dasar perilaku manusia Indonesia. Bangsa Indonesia yang beraneka ragam daerah dari Sabang-Merauke mempunyai semboyan Bhinneka Tunggal Ika yang berarti berbedabeda tetapi tetap satu jua, sebagai dasar untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan Indonesia. Semboyan ini menggambarkan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia Vol. No. Januari, 2023, pp. yang memiliki keberagaman suku bangsa, budaya, bahasa, agama dan kepercayaan, ras maupun antargolongan. Dengan mengikuti dan mengimplementasikan dalam kehidupan, maka akan tercipta keharmonisan dalam kehidupan bernegara dan berbangsa antar rakyat Indonesia. Pancasila merupakan dasar sekaligus sebagai ideologi bangsa Indonesia menegakkan prinsip-prinsip kehidupan bernegara. Pancasila yang terdapat pada Pembukaan UUD 1945 dan diuraikan secara mendalam pada pasal-pasalnya yang Artinya, nilai-nilai dalam Pancasila menjadi nilai yang mengatur kehidupan berbangsa dan bernegara baik bidang, pendidikan, hukum, politik, ekonomi, seni budaya, dan kemasyarakatan. Pendidikan budaya dan karakter bangsa mempunyai tujuan mempersiapkan peserta didik menjadi warga negara yang baik, yaitu warga berkemampuan, berkemauan, serta implementasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sebagai warga negara berdasarkan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Pendidikan di Indonesia harus sejak awal ditanamkan nilai-nilai pancasila pada peserta didik agar paham tentang pancasila yang menjadi dasar Negara Indonesia sampai mereka dewasa dan tua akan tetap tertanam dalam diri mereka agar menjadi penerus bangsa yang terintegrasi dengan baik. Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk mengkaji tentang hubungan penerapan Bhinneka Tunggal Ika dengan penanaman Nilai - Nilai Pancasila pada kurikulum saat ini yaitu Profil Pelajar Pancasila sebagai perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan 6 ciri utama yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif sebagai perwujudan pelajar Indonesia yang lebih baik. Metode Dalam pelaksanaannya menggunakan metode pengamatan langsung dengan menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan cara menggunakan latar belakang alamiah untuk menafsirkan fenomena yang terjadi serta dilakukan dengan melibatkan berbagai metode yang sudah ada (Sugiyono, 2. Jenis kualitatif dengan melakukan observasi secara langsung ke sekolah. Data hasil pengamatan yang didapatkan melalui kegiatan observasi secara langsung, wawancara dengan pihak sekolah dan juga melakukan studi literatur. KAJIAN LITERATUR Bhinneka Tunggal Ika Bhinneka Tunggal Ika terdapat dalam Peraturan Pemerintah Nomor 66/1951. Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 17 Oktober 1951 oleh Presiden Soekarno dan Vol. No. Januari, 2023, pp. Perdana Menteri. Sukiman Wirjosandjojo. Bhinneka Tunggal Ika Tertuang dalam Pasal 5 yang berbunyi. AuDi bawah lambang tertulis dengan huruf latin sebuah semboyan dalam bahasa Jawa-Kuno berbunyi: Bhinneka Tunggal IkaAy. Bhinneka Tunggal Ika menjadi semboyan bangsa Indonesia dan tertulis di dalam lambang Garuda Pancasila. Arti Bhinneka Tunggal Ika adalah berbeda-beda tetap satu jua. Maknanya, dengan jiwa dan semangat bangsa Indonesia mengakui realitas bangsa yang majemuk . uku, bahasa, agama, ras, golongan dl. namun tetap menjunjung tinggi persatuan. Pada dasarnya semboyan Bhinneka Tunggal Ika melambangkan toleransi dan kesatuan. Pendidikan dapat dijadikan tempat untuk mempelajari segala hal yang berhubungan dengan bangsa Indonesia. Penerapan Bhinneka Tunggal Ika Perilaku Inklusif Seseorang diharuskan tidak melihat dirinya lebih diutamakan dari kepentingan yang lain. Sama halnya dengan kelompok, dimana kepentingan bersama lebih diutamakan dari kepentingan pribadi atau golongan. Mengakomodasi Sifat Pluralistik Ditinjau dari pada keberagaman, maka sudah sepatutnya jika Indonesia menjadi bangsa dengan tingkat pluralistik terbesar di dunia. Dengan lebih memahami mengenai keanekaragaman budaya yang ada di Indonesia akan lebih terhindar dari kesalahpahaman serta konflik yang terjadi karena Tidak Menang Sendiri Implementasi dari prinsip Bhinneka Tunggal Ika maka seseorang diharuskan untuk saling menghormati antar pendapat. Musyawarah untuk Mufakat Dengan adanya semboyan Bhinneka Tunggal Ika, maka jika terdapat perbedaan yang ada pada antar kelompok maupun pribadi wajib dicari solusinya secara bersama-sama dengan musyawarah atau yang dikenal dengan mencari inti kesamaan. Perilaku yang mencerminkan Bhinneka Tunggal Ika Tidak diskriminasi terhadap siapapun Berlaku adil terhadap siapapun . i sekolah, rumah, masyaraka. Menghindari perkelahian atau pertikaian yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain Saling menghormati walaupun berbeda agama, suku, ras dan budaya Tidak menghina atau merendahkan orang lain Hidup rukun di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat Vol. No. Januari, 2023, pp. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan . , mengenai Pendidikan Kebinekaan pada Satuan Pendidikan Menengah dapat simpulkan bahwa dengan nilai-nilai kebhinnekaan yang dikembang disekolah SMAN 7 Singkawang dan SMAN 1 Salatiga dapat membentuk peserta didik menjadi toleransi dengan saling menerima perbedaan, saling menghormati, saling menghargai, dan bekerjasama serta dapat menanamkan cinta damai dan nilai-nilai kasih yang Hal ini juga sejalan dengan penelitian (Puspita & Arif, 2. , dengan menumbuhkan rasa saling mengerti satu sama lain, akan memahami perbedaan, hidup bersama dalam kerukunan, saling bekerjasama dalam menyelesaikan masalah, saling memberi rasa aman, dan adil akan mewujudkan rasa saling menghargai. Nilai - Nilai Pancasila Pancasila secara harfiah memiliki arti lima dasar. Pancasila berasal dari bahasa Sansekerta, panca yang artinya lima, dan sila yang artinya dasar. Pancasila telah dirumuskan oleh para leluhur pendiri bangsa Indonesia. Dengan adanya Pancasila, negara Indonesia mempunyai sebuah pondasi untuk bernegara yaitu sebagai ideologi dan dasar negara bangsa Indonesia. Pondasi tersebut dijadikan sebagai pegangan supaya bangsa Indonesia tidak mudah terpengaruh oleh bangsa lain dan sebuah cerminan dan kepribadian bagi bangsa Indonesia. Pancasila sebagai dasar negara memiliki lambang burung Garuda berwarna emas. Di dada burung garuda tersebut ada lambang-lambang bagi tiap sila, bintang, rantai, pohon beringin, kepala banteng serta padi dan kapas. Nilai dan makna pancasila berdasarkan kajian (Ahmad. Nilai - Nilai Luhur Pancasila Pancasila dibentuk dari nilai-nilai kebudayaan, nilai adat istiadat dan nilai religius yang sudah ada di dalam diri masyarakat Indonesia. Pancasila menjadi dasar moral atau tolok ukur dalam bersikap. Di dalam Pancasila terdapat tiga nilai-nilai luhur, yaitu: Nilai Dasar Nilai dasar ini adalah asas yang berdasarkan budaya dan nilai-nilai di dalam bangsa Indonesia yang bersifat abstrak. Nilai ini cenderung tidak berubah-ubah, namun selalu bisa mengikuti perubahan zaman. Nilai Instrumental Nilai instrumental merupakan penjabaran dari nilai dasar yang ada di dalam Pancasila. Nilai instrumental tersebut berbentuk norma sosial dan norma hukum. Nilai-nilai instrumental Pancasila adalah UUD 1945. Tap MPr. UU No. 2 tahun Vol. No. Januari, 2023, pp. 1999 yang membahas mengenai partai politik. UU no 39 tahun 1999 yang membahas tentang hak asasi manusia, dan lain-lain. Nilai Praksis Nilai praksis adalah sebuah penjabaran lebih lanjut dari nilai dasar dan nilai Nilai ini diterapkan dalam kehidupan sehari-hari di kehidupan masyarakat Indonesia. Contoh dari nilai praksis sebagai pengamalan kepada silasila pancasila yaitu, berteman dengan semua orang tanpa memandang suku dan agama yang dianut, bergotong royong dan saling membantu, saling menghormati terhadap perbedaan yang ada dalam diri manusia. Makna Pancasila Sebagai Sumber Nilai Pancasila sebagai dasar negara dan ideologi nasional membawa konsekuensi logis bahwa nilai-nilai pancasila dijadikan landasan pokok, landasan fundamental bagi bangsa Indonesia. Setiap sila di dalam Pancasila mengandung nilai-nilai yang berbeda, namun semua nilai itu merupakan satu kesatuan. Berikut adalah nilainilai yang terkandung dalam Pancasila. Nilai Ketuhanan Dalam sila pertama ini terdapat nilai bahwa negara Indonesia didirikan berdasarkan nilai-nilai ketuhanan. Masyarakat Indonesia sendiri menganut banyak agama, atau masyarakat yang majemuk. Ada Islam. Kristen. Katolik. Budha. Hindu. Konghucu. Dengan sila pertama ini menjadi dasar untuk keempat sila lainnya. Makna dari sila pertama ini adalah percaya kepada Tuhan yang Maha Esa dengan kepercayaan masing-masing dan saling menghormati kepercayaan orang lain. Nilai Kemanusiaan Dalam sila kedua ini mengandung nilai kemanusian. Nilai kemanusiaan ini menjadi dasar dalam menjalankan kehidupan berbangsa dan bernegara. Dengan sila ini diharapkan bahwa negara Indonesia harus selalu menjunjung nilai kemanusiaan, martabat manusia sebagai makhluk yang memiliki adab. Nilai Persatuan Dalam sila ketiga ini mengandung nilai persatuan. Nilai ini memiliki maksud bahwa negara merupakan suatu persekutuan hidup diantara elemen-elemen yang ada di masyarakat seperti suku, agama, dan ras. Hal ini dimaksudkan bahwa perbedaan yang ada di masyarakat Indonesia bukanlah sebuah konflik yang bisa memecah belah bangsa Indonesia. Nilai Kerakyatan Dalam sila keempat ini ada nilai kerakyatan di dalamnya. Nilai keadilan ini memiliki arti bahwa dalam menjalankan negara Indonesia harus mementingkan Vol. No. Januari, 2023, pp. Negara juga harus memberi kebebasan namun tetap disertai dengan saling bertanggung jawab terhadap satu sama lain. Dalam sila keempat ini juga terdapat maksud bahwa masyarakat dan negara Indonesia harus mengakui dan menerima perbedaan yang ada sehingga perbedaan itu bukanlah menjadi masalah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Nilai Keadilan Dalam sila kelima ada nilai keadilan di dalamnya. Nilai ini merupakan sebuah tujuan negara untuk hidup dalam satu tujuan. Keadilan ini harus terwujud dalam negara Indonesia. Maka dari itu, masyarakat indonesia harus adil terhadap sesama, adil terhadap dirinya sendiri dan tidak melupakan hubungan individu dengan Tuhan yang Maha Esa. Profil Pelajar Pancasila Profil Pelajar Pancasila sesuai Visi dan Misi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 22 Tahun 2020 tentang Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Tahun 2020-2024 AuPelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan 6 ciri utama: beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatifAy. Berakhlak mulia, pelajar Indonesia yang berakhlak mulia adalah pelajar yang berakhlak dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa. Ia memahami ajaran agama dan kepercayaannya serta menerapkan pemahaman tersebut dalam kehidupannya sehari-hari. Akhlak beragama: mengenal sifat-sifat Tuhan dan menghayati bahwa inti dari sifat-sifat-Nya adalah kasih dan sayang Akhlak pribadi: menyadari bahwa menjaga dan merawat diri penting dilakukan bersamaan dengan menjaga dan merawat orang lain dan lingkungan sekitarnya Akhlak kepada manusia: mengutamakan persamaan dan kemanusiaan di atas perbedaan serta menghargai perbedaan yang ada dengan orang lain Akhlak kepada alam: menyadari pentingnya merawat lingkungan sekitarnya sehingga tidak merusak atau menyalahgunakan lingkungan alam, agar alam tetap layak dihuni oleh seluruh makhluk hidup saat ini maupun generasi Vol. No. Januari, 2023, pp. Akhlak bernegara: memahami serta menunaikan hak dan kewajibannya sebagai warga negara yang baik serta menyadari perannya sebagai warga Berkebinekaan Global Mengenal dan Menghargai Budaya: mengenali, mengidentifikasi, dan mendeskripsikan berbagai macam kelompok berdasarkan perilaku, cara komunikasi, dan budayanya, serta mendeskripsikan pembentukan identitas dirinya dan kelompok, juga menganalisis bagaimana menjadi anggota kelompok sosial di tingkat lokal, regional, nasional dan global. Kemampuan komunikasi interkultural dalam berinteraksi dengan sesama: keunikan masing-masing budaya sebagai sebuah kekayaan perspektif sehingga terbangun kesalingpahaman dan empati terhadap sesama. Refleksi dan tanggung jawab terhadap pengalaman kebinekaan: secara reflektif memanfaatkan kesadaran dan pengalaman kebinekaannya agar terhindar dari prasangka dan stereotip terhadap budaya yang berbeda, sehingga dapat menyelaraskan perbedaan budaya agar tercipta kehidupan yang harmonis antar sesama. dan kemudian secara aktif-partisipatif membangun masyarakat yang damai dan inklusif, berkeadilan sosial, serta berorientasi pada pembangunan yang berkelanjutan. Gotong Royong Kolaborasi: bekerja bersama dengan orang lain disertai perasaan senang ketika berada bersama dengan orang lain dan menunjukkan sikap positif terhadap orang lain. Kepedulian: memperhatikan dan bertindak proaktif terhadap kondisi atau keadaan di lingkungan fisik sosial. Berbagi: memberi dan menerima segala hal yang penting bagi kehidupan pribadi dan bersama, serta mau dan mampu menjalani kehidupan bersama yang mengedepankan penggunaan bersama sumber daya dan ruang yang ada di masyarakat secara sehat. Mandiri Kesadaran akan diri dan situasi yang dihadapi: melakukan refleksi terhadap kondisi dirinya dan situasi yang dihadapi dimulai dari memahami emosi dirinya dan kelebihan serta keterbatasan dirinya, sehingga ia akan mampu mengenali dan menyadari kebutuhan pengembangan dirinya yang sesuai dengan perubahan dan perkembangan yang terjadi. Vol. No. Januari, 2023, pp. Regulasi diri: mampu mengatur pikiran, perasaan, dan perilaku dirinya untuk mencapai tujuan belajarnya. Bernalar Kritis Memperoleh dan memproses informasi dan gagasan: memiliki rasa keingintahuan, mengajukan pertanyaan yang relevan, mengidentifikasi dan mengklarifikasi gagasan dan informasi yang diperoleh, serta mengolah informasi tersebut. Menganalisis dan mengevaluasi penalaran: dalam pengambilan keputusan, menggunakan nalarnya sesuai dengan kaidah sains dan logika dalam pengambilan keputusan dan tindakan dengan melakukan analisis serta evaluasi dari gagasan dan informasi yang ia dapatkan. Merefleksi pemikiran dan proses berpikir: melakukan refleksi terhadap berpikir itu sendiri . dan berpikir mengenai bagaimana jalannya proses berpikir tersebut sehingga ia sampai pada suatu simpulan. Mengambil keputusan: mengambil keputusan dengan tepat berdasarkan informasi yang relevan dari berbagai sumber, fakta dan data yang mendukung. Kreatif Menghasilkan gagasan yang orisinal: menghasilkan gagasan yang terbentuk dari hal paling sederhana, seperti ekspresi pikiran dan/atau perasaan, sampai dengan gagasan yang kompleks untuk kemudian mengaplikasikan ide baru sesuai dengan konteksnya guna mengatasi persoalan dan memunculkan berbagai alternatif penyelesaian. Menghasilkan karya dan tindakan yang orisinal: menghasilkan karya yang didorong oleh minat dan kesukaannya pada suatu hal, emosi yang ia rasakan, sampai dengan mempertimbangkan dampaknya terhadap lingkungan PEMBAHASAN Bangsa Indonesia adalah masyarakat yang multikultural. Seperti menurut Bhiku Parekh, dalam (Azra, 2. mengatakan bahwa Masyarakat multikultural adalah suatu masyarakat yang terdiri dari beberapa macam komunitas budaya dengan segala kelebihannya, dengan sedikit perbedaan konsepsi mengenai sistem arti, nilai, bentuk organisasi sosial, sejarah, adat serta kebiasaan. Berdasarkan (Portal Informasi Indonesia. Indonesia memiliki lebih dari 300 kelompok etnik atau suku bangsa, lebih tepatnya terdapat 1. 340 suku bangsa di Tanah Air menurut sensus BPS tahun 2010. Vol. No. Januari, 2023, pp. Kebijakan Sekolah dalam Mengelola Kebhinnekaan Tunggal Ika dengan NilaiNilai Pancasila Implementasi kebijakan sekolah di SMA Srijaya Negara Palembang berdasar visi dan misi diwujudkan dalam berbagai bentuk pembiasaan, program, dan kegiatan. Contoh praktik baik ditemukan di SMA Srijaya Negara Palembang, yaitu dengan memperkenalkan keadaan peserta didik berkaitan dengan banyaknya perbedaan secara agama/keyakinan, adat istiadat, suku, dan Bahasa. Pemahaman tentang keberagaman tersebut tertuang dalam program keagamaan yang dilakukan setiap pagi atau sebelum proses pembelajaran dimulai ada kegiatan membaca Al-Quran bersama bagi beragama muslim, untuk yang beragama non-muslim bisa membaca AlKitab yang mereka anut. Untuk menjaga suasana yang tetap kondusif, kepala sekolah selalu menyampaikan pesan tentang pentingnya toleransi dan kebinekaan di saat upacara bendera dan menyampaikan tentang memelihara ketertiban dan persatuan di lingkungan sekolah, yang berarti terdapat pada sila ke-3 Pancasila. Pihak sekolah juga menerapkan budaya nasional, yakni tidak menunjukkan dominasi salah satu agama tertentu, tercermin dalam setiap pembacaan doa, di mana siswa berdoa sesuai dengan tata cara agama yang dianut masing-masing siswa. Implementasi kebijakan sekolah yang dapat dikategorikan sebagai praktik baik juga ditemukan di SMA Srijaya Negara Palembang. Berdasarkan data profiling peserta didik saat observasi PPL komposisi peserta didik menurut etnis didominasi oleh mayoritas Melayu . %), selebihnya etnis Jawa. Batak. Minang. Komering. Komposisi tersebut juga dapat memberikan gambaran tentang komposisi menurut agama dan budaya yang dianut peserta didik yang mayoritas Islam dan budaya yang dianut berbeda-beda. Untuk menjaga kerukunan antar etnis, agama, dan budaya, pihak sekolah melakukan proses pembauran kelompok peserta didik seperti dalam pemilihan jurusan dan kelompok belajar/tugas. Selain itu pihak sekolah juga memperbanyak kegiatan ekstrakurikuler yang dapat digunakan oleh warga sekolah sebagai ajang anak-anak berkumpul antar etnis. Menanamkan Kebhinnekaan dengan Nilai - Nilai Pancasila Nilai-nilai kebinekaan yang dikembangkan di sekolah tercermin dalam pelaksanaan berbagai program dan kegiatan intrakurikuler dan ekstrakurikuler. Nilai-nilai kebinekaan yang dikembangkan di SMA Srijaya Negara Palembang terakumulasi dalam sejumlah bentuk kegiatan intrakurikuler yang bersumber dari mata pelajaran agama. Pada saat mengikuti pelajaran agama di kelas, pihak sekolah berupaya untuk memberi pelajaran agama dalam kelompok sesuai agamanya masing-masing. Nilai-nilai toleransi juga mendapat perhatian pihak sekolah, ditanamkan dalam pola pembiasaan saling menerima dan tidak saling mengganggu Vol. No. Januari, 2023, pp. karena adanya perbedaan. Hal lain yang tak kalah pentingnya adalah kegiatan ekstrakurikuler . rmais/rohis, perfileman, seni suara, futsal. KIR, pramuka. Marching band. Parkibraka. PMR, pencak silat, seni tari, basket, dan organisasi OSIS) sebagai wadah bersilaturahmi antar siswa. SMA Srijaya Negara Palembang memiliki peserta didik yang beragama, bentuk nasionalisme yang lakukan sekolah adalah menanamkan kesadaran nasionalisme melalui pengenalan simbol-simbol kebangsaan Pancasila, pembiasaan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan lagu wajib nasional, berdoa di awal KBM atau ketika upacara bendera, dan pemberian tugas sebagai petugas upacara bendera secara bergiliran diyakini dapat mempertebal rasa kebangsaan peserta didik. Penumbuhan nilai-nilai kejuangan dilakukan melalui pengenalan para pahlawan, seperti merayakan hari pahlawan, dan memajang foto-foto pahlawan. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Puspita & Arif, 2. dengan implementasi nilai-nilai bhinneka tunggal Ika di sekolah dapat membangun prinsip toleransi di antara sesama peserta didik, membangun keberagamaan inklusif, dan membangun kesadaran multikultur di kalangan peserta didik. Hubungan Penerapan Bhinneka Tunggal dan Nilai - Nilai Pancasila dengan Profil Pelajar Pancasila di Sekolah (Permendikbud Nomor 22 Tahun 2. menuturkan bahwa profil pelajar Pancasila merupakan perwujudan melalui penumbuh kembangan nilai-nilai budaya Indonesia dan nilai-nilai Pancasila yang dibentuk sebagai penguatan profil pelajar berdasarkan Badan Standar. Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan (Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. , 2. bahwa Auprofil pelajar Pancasila adalah karakter dan kemampuan yang dibangun dalam keseharian dan dihidupkan dalam diri setiap individu peserta didik melalui budaya satuan pendidikan, pembelajaran intrakurikuler . uatan pelajaran kegiatan atau pengalaman belaja. , ekstrakurikuler . egiatan untuk mengembangkan minat dan baka. , dengan projek penguatan profil pelajar PancasilaAy. Penerapan Profil Pelajar Pancasila di Sekolah Menurut (Juliani & Bastian, 2. dalam penelitiannya menyebutkan bahwa usaha untuk menciptakan Profil Pelajar Pancasila tidak saja merupakan gerakan dalam sistem pendidikan, namun juga merupakan gerakan masyarakat. Kesuksesan mewujudkan Profil Pelajar Pancasila akan bisa dicapai jika orang tua, pendidik, peserta didik, dan semua instansi di masyarakat berkolaborasi dan bekerjasama untuk mencapainya. Hal ini juga sejalan dengan (Siregar & Naelofaria, 2. , bahwa proses pendidikan berujung pada satu tujuan yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Profil Pelajar Pancasila yaitu: Beriman Bertakwa kepada Tuhan Vol. No. Januari, 2023, pp. Yang Maha Esa dan Berakhlak Mulia. Berkebinekaan Global, bergotong royong. Kreatif. Bernalar Kritis dan Kemandirian. Pertama. Beriman Bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia mempunyai elemen kunci yaitu: keimanan dan spiritual penting untuk diterapkan hal ini dikarenakan keduanya dapat dijadikan pegangan dan tempat manusia bersandar karena adanya kekuatan yang lebih dahsyat. Adanya Keimanan dan Spiritual akan membantu manusia dan memberikan kekuatan untuk menyelesaikan segala persoalan. Akhlak Pribadi atau moralitas merupakan tolak ukur terhadap apa yang kita lakukan di dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Hamka di dalam (Sutinah & Widodo, 2. menyebutkan bahwa aspek religius dalam proses belajar ini akan semakin memperkuat pembentukan karakter peserta didik karena pendidikan karakter bukan semata hanya fisik semata tetapi juga psikis dan Kedua. Berkebinekaan Global didasari oleh semboyan Negara Kita Indonesia yaitu Bhinneka Tunggal Ika. Wujud nyatanya yaitu kemampuan peserta didik di dalam mencintai perbedaan. Budaya, agama, suku, ras, merupakan bentuk dari perbedaan yang harus dicintai oleh peserta didik. Tanpa didefinisikan toleransi sangat diperlukan bahkan menjadi kebutuhan pokok dalam membangun suatu Negara, khususnya dengan keragaman suku bangsa, tradisi, dan adat istiadat serta agama dan aliran kepercayaan (Kahfi, 2022. Shihab, 2. Ketiga. Gotong Royong merupakan kemampuan untuk melakukan kegiatan secara bersama-sama dalam team dan berkolaborasi untuk menjadikan segala pekerjaan menjadi mudah, cepat dan ringan. Gotong royong memiliki ciri kerakyatan, sama dengan penggunaan demokrasi, persatuan, keterbukaan, kebersamaan dan atau kerakyatan itu sendiri (Kahfi, 2022. Widayati, 2. Keempat. Kreatif merupakan kemampuan peserta didik untuk menghasilkan sesuatu yang orisinil, bermakna, bermanfaat dan berdampak. Kemampuan ini dapat terwujud pada kemampuan menghasilkan gagasan, karya dan tindakan yang orisinil. Kreatif adalah usaha memiliki daya cipta: memiliki kemampuan untuk menciptakan: daya cipta: pekerjaan yang menghendaki kecerdasan dan imajinasi (Pablo, 2018. Kahfi, 2. Jadi untuk memiliki karakter kreatif seseorang harus memiliki kemampuan mencipta dan mampu berimajinasi. Kelima. Bernalar Kritis merupakan kemampuan memecahkan masalah dan mengolah informasi. Wujud nyata bernalar kritis adalah peserta didik yang mengolah informasi terlebih dahulu sebelum dapat diterima oleh pemikirannya. Seorang anak yang bernalar kritis akan menganalisis suatu informasi sebelum mengambil sebuah keputusan apakah informasi tersebut dapat diterima apa tidak. Kemampuan Vol. No. Januari, 2023, pp. memecahkan masalah bagi anak yang berpikir kritis dilakukan secara analisis. Pada dasarnya berpikir kritis atau bernalar kritis diartikan sebagai sebuah proses intelektual dengan melakukan pembuatan konsep, penerapan, melakukan sintesis dan atau mengevaluasi informasi yang diperoleh melalui observasi, pengalaman, refleksi, pemikiran dan komunikasi sebagai dasar untuk meyakini dan melakukan suatu tindakan (Kahfi, 2022. Lismaya, 2. Keenam. Kemandirian merupakan kesadaran diri sendiri terhadap tanggung jawab atas proses dan hasil belajarnya. Peserta didik yang menerapkan kemandirian yaitu selalu sadar terhadap dirinya sendiri, sadar akan kebutuhan dan kekurangannya dan sadar terhadap situasi atau keadaan yang dihadapi, peserta didik juga memiliki kemampuan regulasi diri yang terwujud dalam kemampuan membatasi diri terhadap hal yang disukainya. Berdasarkan Kemandirian dalam belajar diartikan sebagai aktivitas belajar yang berlangsung karena lebih didorong oleh kemauan sendiri, pilihan sendiri, dan tanggung jawab sendiri dari pembelajaran (Serevina, 2020. Kahfi, 2. Kesimpulan Berdasarkan hasil dan pembahasan yang sudah dibuat bahwa hubungan penerapan bhinneka tunggal Ika dan nilai-nilai pancasila merupakan revolusi kurikulum baru yaitu kurikulum merdeka dengan menerapkan profil pelajar pancasila pada saat pelaksanaan pembelajaran sebagai perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global dan berperilaku sesuai dengan nilai-nilai Pancasila, dengan 6 ciri utama: beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, bergotong royong, mandiri, bernalar kritis, dan kreatif. Pada SMA Srijaya Negara Palembang sudah efektif untuk dapat menjadikan peserta didik memiliki karakter profil pelajar Pancasila. Pengakuan/Acknowledgements Pelaksanaan observasi dilakukan di SMA Sriajaya Negara Palembang pada saat kegiatan PPL 1 Program Pendidikan Profesi Guru Prajabatan 2022 Gelombang 1 LPTK Universitas Sriwijaya. Terima kasih banyak kepada pihak-pihak yang terkait dalam membantu kegiatan ini berjalan dengan efektif, mulai dari dosen, guru pamong, peserta didik SMA Srijaya Negara Palembang maupun teman-teman kelompok PPL di SMA Sriajaya Negara Palembang yang sudah memudahkan kegiatan ini dapat berlangsung. Daftar Referensi Ahmad. Memaknai Pancasila Sebagai Sumber Nilai. Dari https://w. com/literasi/pancasila-sebagai-sumber-nilai/ diakses pada tanggal Vol. No. Januari, 2023, pp. 15 Desember 2022 pukul 20. 54 WIB. Azra. Indonesia. Islam, and democracy: Dynamics in a global context. Equinox Publishing. Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Pendidikan Kebinekaan pada Satuan Pendidikan Menengah. Pusat Penelitian Kebijakan Pendidikan dan Kebudayaan Kemendikbud. Juliani. , & Bastian. Pendidikan karakter sebagai upaya wujudkan Pelajar Pancasila. Prosiding Seminar Nasional Program Pascasarjana Universitas PGRI Palembang. Kahfi. Implementasi profil pelajar Pancasila dan Implikasinya terhadap karakter siswa di sekolah. DIRASAH: Jurnal Pemikiran Dan Pendidikan Dasar Islam, 5. , 138Ae151. Lismaya. Berpikir Kritis & PBL:(Problem Based Learnin. MEDIA SAHBAT CENDEKIA. Permendikbud. Rencana Strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Dari http://ditpsd. id/hal/profil-pelajar-pancasila diakses pada 14 Desember 2022 20 WIB. Portal Informasi Indonesia. Suku Bangsa. Dari https://indonesia. id/profil/sukubangsa/kebudayaan/suku-bangsa diakses pada tanggal 15 Desember 21. 12 WIB. Puspita. , & Arif. Implementasi Nilai-Nilai Bhinneka Tunggal Ika di SMA Muhammadiyah 5 Yogyakarta. Jurnal Citizenship, 4. , 69. Shihab. Wasathiyyah Wawasan Islam tentang Moderasi Beragama. Lentera Hati Group. Siregar. , & Naelofaria. Internalisasi Nilai-Nilai Pancasila Dalam Pembelajaran Dalam Jaringan (Darin. Tingkat Sekolah Dasar (S. Di Era Pandemi Covid-19. Jurnal Pendidikan Sosial Keberagaman, 7. Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif. Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. CV. Sutinah. , & Widodo. The Effect of Nature of Science (NoS) Explicit Learning Design on StudentsAo NoS Comprehension at Elementary School. Ibtida: Jurnal Pendidikan Guru MI, 7. , 197Ae209. Widayati. Gotong Royong. Alprin.