Vol. No. November 2025, page: 276 - 284 p-ISSN: 1410-9344. e-ISSN: 2549-5631 DOI: https://doi. org/10. 23917/warta. Strengthening Community Health and Economy through Local Herbal Innovation in the Harmoni WomenAos Group Yulita Maulani*. Aptika Oktaviana Trisna Dewi. Sri Wulandari. Erika Novi Ardianti. Anisa Indriyani. Dini Ashfi Politeknik Indonusa Surakarta. Indonesia Corresponding author: yulita. maulani@poltekindonusa. Abstract Article Info Received: 08/07/2025 Revised: 01/10/2025 Accepted: 03/12/2025 Published: 06/12/2025 Keywords: Economic independence, herbal products, medicinal plants, womenAos empowerment. TOGA Copyrights Aa Author. This work is licensed under a Creative Commons AttributionNonCommercial 4. International License (CC BY-NC All writings published in this journal are personal views of the author and do not represent the views of this journal and the authorAos affiliated institutions. A community service program based on the utilization of family medicinal plants (TOGA) serves as a strategic approach to improving health literacy and economic independence among women in urban areas. Background: Although TOGA is an essential part of IndonesiaAos cultural heritage, its community-level application remains limited due to restricted land availability, low cultivation skills, inadequate hygienic processing practices, and limited entrepreneurial capacity. Purpose: This program aims to empower women by optimizing the use of TOGA and developing innovative local herbal products to enhance health literacy and strengthen economic independence. Methods: The program was conducted over eight months in 2025 and involved 15 participants aged 25Ae60 years. The implementation included training on TOGA cultivation using vertical and hydroponic techniques, training on processing rhizomes into instant herbal beverages with simple technology and food sanitation principles, and entrepreneurship training covering branding, digital marketing, and environmentally friendly packaging design. Evaluation methods consisted of pre-tests, post-tests, direct observation, and participant feedback. Results: Significant improvements were observed across multiple indicators, including increases in TOGA knowledge . Ae. , awareness of benefits . Ae. , cultivation skills . Ae. , and daily utilization . Ae. Knowledge related to herbal products also improved, including perceptions of benefits . Ae. , product variety . Ae. , production processes . Ae. , and business opportunities . Ae. , while entrepreneurial understanding increased by 27Ae 35 points. Conclusion: The program effectively enhanced participantsAo health literacy, technical skills, product innovation, and entrepreneurial readiness while contributing to the achievement of SDG 3. SDG 8, and SDG 12. Recommendations: Program sustainability may be strengthened through the establishment of collaborative business groups and the expansion of digital marketing networks to increase the economic impact of local herbal-based empowerment initiatives. Penguatan Kesehatan dan Ekonomi Komunitas melalui Inovasi Herbal Lokal pada Kelompok Wanita Harmoni Kata kunci: Kemandirian ekonomi, pemberdayaan, perempuan, produk herbal. TOGA Abstrak Program pengabdian masyarakat berbasis pemanfaatan tanaman obat keluarga (TOGA) menjadi salah satu pendekatan strategis dalam meningkatkan literasi kesehatan dan kemandirian ekonomi komunitas perempuan di wilayah Latar belakang: Pemanfaatan TOGA merupakan bagian penting dari warisan budaya Indonesia, namun penggunaannya di tingkat komunitas masih rendah karena keterbatasan lahan, kurangnya keterampilan budidaya dan pengolahan higienis, serta minimnya kemampuan kewirausahaan. Tujuan: Kegiatan ini bertujuan memberdayakan perempuan melalui optimalisasi TOGA dan pengembangan inovasi produk herbal lokal untuk meningkatkan literasi kesehatan serta memperkuat kemandirian ekonomi. Metode: Program berlangsung selama delapan bulan pada tahun 2025 dengan melibatkan 15 peserta berusia 25Ae60 tahun. Tahapan meliputi pelatihan budidaya TOGA melalui teknik vertikultur dan hidroponik, pelatihan pengolahan rimpang menjadi minuman herbal instan menggunakan teknologi sederhana dan prinsip sanitasi pangan, serta pelatihan kewirausahaan meliputi branding, pemasaran digital, dan desain kemasan ramah lingkungan. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test, post-test, observasi langsung, dan umpan balik peserta. Hasil: Peningkatan signifikan diperoleh pada berbagai indikator, meliputi pengetahuan TOGA . Ae. , kesadaran manfaat . Ae. , keterampilan budidaya . Ae. , dan pemanfaatan harian . Ae. Pengetahuan terkait produk herbal turut meningkat pada aspek manfaat . Ae. , variasi produk . Ae. , proses produksi . Ae. , serta peluang usaha . Ae. , sementara pemahaman kewirausahaan naik 27Ae35 poin. Kesimpulan: Program ini efektif meningkatkan literasi kesehatan, kemampuan teknis, kreativitas produk, dan kesiapan kewirausahaan perempuan, serta mendukung pencapaian SDG 3. SDG 8, dan SDG 12. Rekomendasi: Keberlanjutan program dapat diperkuat melalui pembentukan kelompok usaha bersama dan pengembangan jejaring pemasaran digital untuk memperbesar dampak ekonomi berbasis herbal lokal. PENDAHULUAN Indonesia, sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia, memiliki warisan budaya yang tak ternilai berupa jamu dan Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Warisan ini telah lama menjadi basis penting dalam mendukung program kesehatan preventif di tingkat keluarga dan komunitas. Sejumlah tanaman herbal lokal seperti temulawak (Curcuma xanthorrhiz. , jahe (Zingiber officinal. , dan kunyit (Curcuma long. dikenal memiliki khasiat empiris dan telah dibuktikan secara ilmiah melalui berbagai penelitian yang menunjukkan efek antiinflamasi, imunomodulator, dan antioksidan (Kementerian Kesehatan RI, 2. Keberadaan tanaman-tanaman ini tidak hanya memperkuat tradisi pengobatan berbasis kearifan lokal, tetapi juga menjadi modal penting bagi pengembangan kesehatan masyarakat berbasis sumber daya alam. Pemanfaatan herbal tradisional Indonesia juga sejalan dengan rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang mendorong integrasi pengobatan tradisional ke dalam sistem kesehatan nasional sebagai bagian dari strategi pembangunan berkelanjutan (WHO, 2. Meskipun potensi pasar global untuk produk herbal terus meningkat dan mencapai nilai miliaran dolar per tahun, pengelolaan TOGA di tingkat komunitas Indonesia masih menghadapi tantangan berupa lemahnya standardisasi, pemanfaatan yang belum optimal, serta minimnya inovasi berbasis nilai tambah pada produk turunan tanaman obat (Dina & Isnawati, 2. Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara potensi biologis yang dimiliki Indonesia dengan kemampuan pemanfaatannya, sehingga diperlukan upaya sistematis untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam mengolah, memproduksi, dan memasarkan produk herbal secara berkelanjutan. Kelompok Wanita Harmoni di Kampung Mondokan Purwosari. Surakarta, merupakan komunitas perempuan yang memiliki komitmen tinggi dalam upaya peningkatan kesejahteraan keluarga. Namun, kelompok ini menghadapi sejumlah tantangan substantif yang menghambat pemanfaatan Tanaman Obat Keluarga (TOGA) sebagai sumber pengembangan usaha yang berkelanjutan. Permasalahan pertama terkait keterbatasan teknis budidaya, di mana anggota kelompok harus berhadapan dengan lahan pekarangan yang sempit serta kurangnya keterampilan dalam menerapkan teknik budidaya intensif seperti vertikulturAisuatu metode yang terbukti efektif dalam optimalisasi pemanfaatan ruang di kawasan pemukiman padat (Sabani et , 2. Selain itu, anggota kelompok juga mengalami kesenjangan pengetahuan dalam pengolahan rimpang menjadi produk herbal bernilai tambah dan berumur simpan panjang. Hasil pre-test menunjukkan bahwa pemahaman peserta mengenai proses produksi dan sanitasi pangan masih berada pada skor 70, sehingga belum memenuhi standar dasar produksi pangan sederhana berbasis herbal (Fitriani et al. , 2. Tantangan lainnya terletak pada rendahnya kesiapan kewirausahaan anggota kelompok, yang tercermin dari skor rata-rata pre-test pada aspek pemahaman konsep TOGA . , kesadaran manfaat . , dan 277 | Warta LPM. Vol. No. November 2025 keterampilan teknis budidaya . Nilai-nilai ini menunjukkan bahwa tingkat literasi teknis dan kapasitas manajerial mitra masih berada pada kategori rendah hingga sedang, sehingga memerlukan intervensi yang sistematis dan berbasis bukti. Studi sebelumnya menegaskan bahwa keberhasilan usaha mikro perempuan sangat dipengaruhi oleh literasi bisnis, ketahanan psikologis, kompetensi manajerial, serta akses terhadap jaringan dukungan dan pasar (Umar et al. , 2025. Paramita et al. , 2. Oleh karena itu, intervensi melalui program pemberdayaan yang terstruktur menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kesiapan kelompok dalam mengelola potensi TOGA sebagai basis ekonomi produktif. Menanggapi permasalahan kuantitatif di atas. Program PKM ini menawarkan solusi yang berfokus pada inovasi produk herbal lokal melalui pendekatan transfer of knowledge dan transfer of technology. Intervensi yang diusulkan meliputi: . Optimalisasi Budidaya melalui pelatihan vertikultur untuk lahan terbatas. Inovasi Produk Pascapanen melalui pelatihan pengolahan rimpang menjadi minuman herbal instan serbuk dengan penerapan sanitasi pangan dan teknik kristalisasi sederhana (Choironi et al. , 2023. Fitriani et al. , 2. Penguatan Kewirausahaan melalui branding dan strategi pemasaran digital. Program ini tidak hanya mendorong kemandirian ekonomi keluarga, tetapi juga memperkuat pengetahuan kesehatan berbasis sumber daya lokal, sejalan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDG), yaitu SDG 3 (Good Health and Wellbein. SDG 8 (Decent Work and Economic Growt. , dan SDG 12 (Responsible Consumption and Productio. Dengan demikian, program ini memiliki justifikasi ilmiah dan urgensi sosial yang kuat untuk dilaksanakan. METODE Metode pelaksanaan program dirancang secara partisipatif dengan melibatkan mitra sejak tahap perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Pendekatan partisipatif ini dipilih karena telah terbukti efektif dalam meningkatkan kesadaran kewirausahaan, rasa memiliki terhadap program, serta keterampilan teknis dalam kegiatan pengabdian masyarakat serupa di berbagai daerah (Choironi et al. , 2. Pelibatan aktif mitra juga memungkinkan terjadinya proses pembelajaran dua arah, sehingga perencanaan kegiatan dapat disesuaikan dengan kebutuhan aktual komunitas. Program ini dilaksanakan selama delapan bulan dengan tiga fokus utama, yakni budidaya tanaman obat keluarga (TOGA) di lahan sempit, pembuatan produk herbal minuman seduh siap konsumsi, serta pelatihan kewirausahaan termasuk pembuatan kemasan ramah Pada tahap pertama, kegiatan diawali dengan sosialisasi dan transfer pengetahuan mengenai manfaat TOGA, pentingnya tanaman obat dalam kesehatan preventif, serta potensi ekonominya di tingkat rumah tangga. Pelatihan kemudian difokuskan pada teknik budidaya yang sesuai untuk lahan pekarangan terbatas, khususnya metode vertikultur. Teknik ini dipilih karena telah banyak digunakan dalam optimalisasi ruang sempit dan terbukti meningkatkan produktivitas tanaman tanpa memerlukan lahan luas (Sabani et al. , 2. Peserta diberikan pelatihan praktik langsung mulai dari pemilihan bibit berkualitas, teknik perawatan, penggunaan pupuk organik, hingga prosedur panen yang tepat. Materi pelatihan ini mengacu pada pedoman teknis budidaya tanaman obat yang sebelumnya telah diterapkan secara efektif dalam program pemberdayaan masyarakat (Yuliana et al. , 2021. Suhariyanti et al. , 2. Tahap kedua berfokus pada peningkatan kemampuan peserta dalam mengolah tanaman rimpang menjadi produk herbal bernilai tambah tinggi. Dalam tahap ini, peserta diperkenalkan pada proses produksi minuman herbal serbuk instan menggunakan prinsip kristalisasi. Teknik kristalisasi dipilih karena mampu meningkatkan umur simpan, menjaga kualitas senyawa bioaktif, dan menghasilkan produk yang mudah dikonsumsi serta memiliki nilai komersial yang baik (Fitriani et al. , 2. Pelatihan mencakup prosedur pengeringan, penggilingan, formulasi rasa, dan teknik pengemasan sederhana. Selain itu, peserta dibekali pemahaman mengenai sanitasi pangan, higienitas peralatan, serta penerapan teknologi sederhana untuk menjamin mutu dan keamanan produk. Penekanan kuat pada aspek higienitas merujuk pada hasil penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa kualitas produk herbal sangat dipengaruhi oleh praktik sanitasi yang baik (Safitri & Gustina, 2. Tahap ketiga adalah pelatihan kewirausahaan dan penguatan kapasitas pemasaran produk. Pada tahap ini, peserta dilatih memahami konsep dasar bisnis, strategi branding, dan pemasaran digital yang relevan dengan perkembangan era ekonomi kreatif. Pemanfaatan media sosial seperti Instagram. Facebook, dan WhatsApp Business diperkenalkan sebagai sarana promosi efektif dengan biaya rendah. Selain itu, peserta diajarkan merancang kemasan produk yang menarik, ramah lingkungan, dan memenuhi standar keamanan pangan. Pendekatan ini terbukti menjadi faktor kunci dalam pengembangan usaha mikro berbasis TOGA sehingga dapat berkelanjutan dan memiliki daya saing di pasar lokal (Paramita et al. , 2. Melalui pelatihan ini, diharapkan anggota kelompok mampu merintis usaha berbasis herbal dengan pendekatan bisnis yang terstruktur dan berorientasi pada keberlanjutan. Warta LPM. Vol. No. November 2025 | 278 Gambaran IPTEK pembuatan produk herbal alami sebagai berikut: Gambar 1. Gambaran IPTEK pembuatan produk herbal alam Evaluasi program dilakukan melalui pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta, yang sejalan dengan metodologi evaluasi yang digunakan pada studi yang membuktikan peningkatan literasi pemanfaatan simplisia herbal (Purba et al. , 2. Keberlanjutan program didukung melalui pembentukan kelompok tani kecil dan kelompok usaha bersama, yang berperan sebagai motor penggerak dalam menjaga kesinambungan budidaya dan pengembangan produk herbal di lingkungan mitra. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian masyarakat yang dilaksanakan di Kelompok Wanita Harmoni. Kampung Mondokan Purwosari. Surakarta, merupakan suatu upaya pemberdayaan yang dirancang secara komprehensif dan Program ini berfokus pada peningkatan kapasitas kelompok melalui serangkaian intervensi yang terukur, mencakup tiga aspek utama yaitu literasi Tanaman Obat Keluarga (TOGA), peningkatan keterampilan teknis budidaya dan pengolahan, serta penguatan kompetensi kewirausahaan. Untuk memastikan efektivitas program, evaluasi dilakukan secara sistematis menggunakan metode pre-test dan post-test, sehingga perubahan pengetahuan, kemampuan, dan kesiapan usaha dapat dinilai secara objektif. Dalam pelaksanaannya, kegiatan ini melibatkan tim yang terdiri dari tiga dosen dan tiga mahasiswa dari Politeknik Indonusa Surakarta, yaitu dua mahasiswa Program Studi D4 Analis Kesehatan dan satu mahasiswa dari Program Studi D3 Farmasi. Sinergi lintas keilmuan ini memungkinkan program berjalan lebih optimal karena setiap anggota tim berkontribusi sesuai dengan bidang keahlian masing-masing, baik dalam aspek teknis kesehatan, pengolahan herbal, maupun pendampingan masyarakat. Koordinasi yang baik antara dosen, mahasiswa, dan mitra kelompok wanita menjadikan kegiatan pengabdian ini bukan hanya sebagai sarana transfer pengetahuan, tetapi juga sebagai upaya penguatan komunitas secara berkelanjutan. Pada pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini, tiga dosen berperan aktif dalam memberikan penyuluhan serta pendampingan terkait tiga materi utama, yaitu pelatihan budidaya Tanaman Obat Keluarga (TOGA), teknik pengolahan herbal menjadi produk siap konsumsi, serta strategi pemasaran dan pengemasan produk yang sesuai dengan standar keamanan pangan. Total peserta kegiatan berjumlah 15 orang yang merupakan anggota Kelompok Wanita Harmoni di Kampung Mondokan. Purwosari. Peserta mayoritas merupakan ibu rumah tangga dengan rentang usia 25 hingga 60 tahun, sehingga kegiatan dirancang dengan pendekatan yang aplikatif dan mudah diterapkan dalam lingkungan rumah tangga. Dokumentasi kegiatan dapat dilihat pada gambar yang disajikan di bawah ini sebagai bukti keterlibatan aktif peserta. Seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan melalui tiga sesi utama yang berlangsung secara bertahap. Sesi pertama diselenggarakan pada tanggal 8 Juni 2025, yang berfokus pada praktik budidaya TOGA menggunakan metode vertikultur untuk optimalisasi lahan pekarangan sempit. Pada sesi ini, peserta tidak hanya memperoleh penyuluhan teori, tetapi juga mendapatkan kesempatan praktik langsung mulai dari persiapan media tanam, pemilihan bibit, hingga teknik perawatan sederhana yang dapat diterapkan di rumah masing-masing. Sesi kedua dilaksanakan pada tanggal 13 Juli 2025, yang berisi pelatihan pengolahan tanaman TOGA menjadi minuman herbal seduh instan. Pada sesi ini, peserta mempelajari proses pencucian, pengirisan, pengeringan, penghalusan, hingga tahap pengemasan yang higienis. Selain pelatihan, pada sesi ini juga dilakukan penyerahan alat 279 | Warta LPM. Vol. No. November 2025 pendukung produksi kepada Kelompok Wanita Harmoni untuk memastikan keberlanjutan kegiatan setelah program berakhir. Sesi terakhir merupakan kegiatan penutupan yang disertai penyuluhan mengenai kewirausahaan, strategi branding, dan pemasaran produk herbal, termasuk cara memanfaatkan media sosial untuk memperluas akses Pada sesi ini, peserta didorong untuk mengembangkan pola pikir wirausaha . ntrepreneurial mindse. serta memahami pentingnya kualitas produk dan kemasan dalam meningkatkan daya saing di pasar lokal. Seluruh kegiatan berlangsung secara interaktif, dengan diskusi terbuka dan tanya jawab untuk memastikan peserta memahami materi yang diberikan. Dokumentasi sesi penutupan juga ditampilkan pada gambar di bawah ini sebagai bagian dari pelaporan kegiatan. Gambar 2. Proses pelaksanaan kegiatan Kegiatan pengabdian masyarakat ini dievaluasi menggunakan metode pre-test dan post-test sebagai instrumen pengukuran objektif untuk menilai peningkatan kapasitas peserta setelah mendapatkan intervensi. Pendekatan evaluatif ini dipilih karena mampu memberikan gambaran kuantitatif mengenai perubahan pengetahuan dan keterampilan peserta secara terukur. Secara umum, hasil evaluasi menunjukkan bahwa program ini memberikan dampak yang sangat signifikan, terutama dalam aspek literasi kesehatan, keterampilan budidaya TOGA, kemampuan inovasi produk herbal, dan peningkatan kesadaran kewirausahaan. Sebelum pelaksanaan program, tingkat pemahaman awal anggota Kelompok Wanita Harmoni menunjukkan kondisi yang masih membutuhkan penguatan. Hal ini terlihat dari nilai pre-test, di mana rata-rata skor pemahaman konsep dasar TOGA berada pada angka 52, sedangkan keterampilan teknis budidaya hanya mencapai 60. Nilai ini mencerminkan bahwa pemahaman peserta mengenai manfaat TOGA, teknik penanaman, serta potensi ekonominya masih berada pada kategori rendah hingga sedang. Setelah seluruh tahapan kegiatan dilaksanakan meliputi pelatihan budidaya, pengolahan produk herbal, hingga pelatihan kewirausahaan terjadi peningkatan yang sangat signifikan pada hampir semua aspek yang Hasil analisis post-test menunjukkan bahwa rata-rata peningkatan pengetahuan keseluruhan mencapai hampir 50% dibandingkan kondisi awal. Peningkatan tersebut secara jelas terlihat pada tiga pilar utama program. Pertama, pemahaman konsep TOGA mengalami kenaikan yang sangat kuat, dari skor awal 52 meningkat menjadi 85, menunjukkan bahwa peserta telah memahami fungsi, jenis, manfaat, dan potensi TOGA tidak hanya untuk kesehatan tetapi juga untuk pemberdayaan ekonomi keluarga. Kedua, pengetahuan teknis terkait proses produksi dan higienitas produk herbal meningkat dari 70 menjadi 88, menandakan kemampuan Warta LPM. Vol. No. November 2025 | 280 peserta dalam mengolah rimpang menjadi produk siap konsumsi jauh lebih matang dan sesuai standar keamanan pangan sederhana. Ketiga, indikator kewirausahaan mengalami peningkatan rata-rata 27 hingga 35 poin, meliputi aspek manajemen usaha, pemasaran produk, pemahaman branding, serta strategi penjualan modern berbasis digital. Secara keseluruhan, peningkatan capaian tersebut menunjukkan bahwa program pengabdian ini tidak hanya berhasil dalam memberikan pelatihan, tetapi juga efektif dalam membangun kemandirian keterampilan dan membuka peluang ekonomi baru bagi anggota Kelompok Wanita Harmoni. Hasil ini juga mengindikasikan bahwa peserta telah memiliki kesiapan yang jauh lebih baik untuk mengembangkan usaha berbasis TOGA secara keberlanjutan, baik untuk konsumsi keluarga maupun potensi komersial di tingkat komunitas. Data terperinci mengenai peningkatan pengetahuan dan keterampilan ini dapat dilihat pada grafik di bawah Grafik Pemahaman Tentang Toga Konsep TOGA Manfaat TOGA Budidaya TOGA 1 Pre Test 2 Post Test Pemanfaatan Harian Gambar 3. Pengetahuan tentang TOGA Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan signifikan pada pemahaman peserta mengenai Tanaman Obat Keluarga (TOGA). Nilai rata-rata peserta meningkat dari 52 . re-tes. menjadi 85 . ost-tes. pada aspek konsep, yang mencerminkan pemahaman lebih baik tentang definisi, karakteristik, dan perbedaannya dengan tanaman Kesadaran akan manfaat TOGA juga meningkat, dengan skor dari 58 menjadi 90, menunjukkan bahwa peserta semakin memahami fungsi TOGA tidak hanya sebagai obat tradisional, tetapi juga untuk menjaga kesehatan, meningkatkan daya tahan tubuh, serta memberi nilai tambah bagi keluarga. Pada aspek budidaya, skor naik dari 60 menjadi 80, yang menandakan peningkatan pengetahuan teknis mengenai syarat tumbuh, perawatan, dan pemanfaatan lahan terbatas. Sementara itu, pemanfaatan harian mengalami peningkatan dari 58 menjadi 85, membuktikan bahwa peserta mampu mengintegrasikan TOGA dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk kesehatan keluarga maupun sebagai penghias pekarangan. Secara keseluruhan, pelatihan ini efektif memperkuat pemahaman konseptual sekaligus membentuk kesadaran praktis peserta terhadap TOGA. Grafik Pemahaman Produk Herbal Tujuan dan Manfaat Jenis dan Contoh Proses Produksi dan Peluang dan Produk Herbal Produk Herbal Higienitas Tantangan Usaha Produk Herbal 1 Pre Test 2 Post Test Gambar 4. Pengetahuan produk Herbal Alami Hasil pelatihan produk herbal menunjukkan peningkatan pemahaman yang signifikan pada berbagai aspek, mulai dari tujuan dan manfaat, jenis produk, proses produksi, hingga peluang usaha. Peserta semakin 281 | Warta LPM. Vol. No. November 2025 memahami bahwa produk herbal tidak hanya bermanfaat sebagai obat alami, tetapi juga mampu menjaga kesehatan, meningkatkan kesejahteraan, serta memberikan nilai tambah bagi keluarga, sebagaimana tercermin dari kenaikan skor 60 menjadi 95. Pengetahuan tentang jenis dan contoh produk herbal, seperti minuman seduh, jamu instan, dan serbuk rempah, juga meningkat dari 55 menjadi 85, menegaskan keberhasilan pelatihan dalam memperluas wawasan tentang diversifikasi olahan berbasis TOGA. Pada aspek teknis, skor proses produksi dan higienitas naik dari 70 menjadi 88, menunjukkan pemahaman lebih baik terkait pemilihan bahan baku, standar keamanan pangan, serta pentingnya higienitas dalam menghasilkan produk berkualitas. Sementara itu, kemampuan mengidentifikasi peluang dan tantangan usaha juga berkembang, dengan skor meningkat dari 62 menjadi 90, yang membekali peserta dalam membaca potensi pasar sekaligus mengantisipasi kendala. Secara umum, peningkatan pemahaman peserta berkisar 30Ae55% dibandingkan kondisi awal, menandakan bahwa pelatihan ini tidak hanya memperkuat pengetahuan konseptual dan teknis, tetapi juga menumbuhkan kesadaran akan potensi ekonomi produk herbal, sehingga peserta lebih siap mengembangkan inovasi lokal yang aman, higienis, bernilai jual, dan berkontribusi pada kemandirian ekonomi masyarakat. Grafik Pemahaman Kewirausahaan Pemahaman Konsep & Prinsip Kewirausahaan Tujuan & Manfaat Kewirausahaan 1 Pre Test Manajemen Usaha & Inovasi Produk Peran Kewirausahaan bagi Masyarakat 2 Post Test Gambar 5. Pengetahuan pemasaran dan pengemasan produk Secara keseluruhan, peningkatan pemahaman pada aspek kewirausahaan berkisar antara 27 hingga 35 poin, atau sekitar 50Ae70% dibandingkan kondisi awal. Data ini menunjukkan bahwa pelatihan berhasil memberikan pemahaman yang lebih komprehensif, tidak hanya dari sisi konseptualAimeliputi prinsip dasar kewirausahaan, tujuan pengembangan usaha berbasis herbal, dan pentingnya nilai tambah produkAitetapi juga dari sisi praktis yang berkaitan langsung dengan kebutuhan peserta di lapangan. Peningkatan ini terlihat dari kemampuan peserta dalam memahami dasar-dasar manajemen usaha kecil, seperti perencanaan produksi, pengelolaan biaya, dan strategi penetapan harga yang sesuai dengan pasar. Berdasarkan hasil resume kuisioner peserta, pelatihan Transformasi Kesehatan dan Ekonomi melalui Pemanfaatan TOGA dan Produk Herbal Lokal terbukti sangat efektif dalam meningkatkan pemahaman peserta. Hasil pre-test menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan awal masih relatif rendah, baik pada aspek pemanfaatan TOGA, produk herbal, maupun kewirausahaan. Akan tetapi, hasil post-test memperlihatkan lonjakan signifikan dengan rata-rata peningkatan hampir 50%, mencakup pemahaman konseptual, manfaat, teknis budidaya, hingga penerapan praktis. Peserta tidak hanya memahami definisi, manfaat, dan teknik budidaya TOGA, tetapi juga mampu melihat peluang pengembangan produk herbal yang higienis, aman, dan bernilai ekonomi. Selain itu, kesadaran akan pentingnyainovasi produk, pengemasan, dan manajemen usaha juga meningkat tajam, sehingga peserta lebih siap mengembangkan usaha berbasis produk herbal sebagai sumber kemandirian ekonomi keluarga maupun komunitas. Secara keseluruhan, pelatihan ini berhasil mentransfer pengetahuan secara komprehensif dan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kapasitas serta pemberdayaan masyarakat berbasis sumber daya lokal. Pelatihan Transformasi Kesehatan dan Ekonomi melalui pemanfaatan TOGA dan produk herbal lokal terbukti sangat efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta. Hasil pre-test dan post-test menunjukkan adanya peningkatan nyata pada pemahaman konsep, manfaat, teknik budidaya, serta pemrosesan herbal menjadi produk siap konsumsi. Pola ini sejalan dengan penelitian Purba et al. yang menemukan bahwa literasi pemanfaatan simplisia tanaman obat herbal untuk kesehatan keluarga meningkat signifikan setelah diberikan edukasi. Rata-rata pengetahuan peserta meningkat dari skor 45,89 pada pre-test menjadi 93,51 pada post-test, menunjukkan efektivitas pelatihan berbasis praktik langsung dalam meningkatkan literasi kesehatan masyarakat berbasis herbal (Purba et al. , 2. Warta LPM. Vol. No. November 2025 | 282 Selain itu, kegiatan ini juga meningkatkan kesadaran peserta terhadap inovasi produk, teknik pengemasan, serta manajemen kewirausahaan. Temuan ini relevan dengan penelitian di Desa Ketenger. Purwokerto, yang melaporkan adanya peningkatan pengetahuan peserta dari 54,18 sebelum pelatihan menjadi 91,29 setelah pelatihan tentang pembuatan minuman herbal instan berbasis TOGA (Choironi et al. , 2. Fakta tersebut memperkuat bukti bahwa pelatihan dengan pendekatan partisipatif tidak hanya meningkatkan keterampilan teknis, tetapi juga mendorong munculnya kesadaran kewirausahaan dalam masyarakat, terutama bagi kelompok perempuan, sehingga berkontribusi pada peningkatan kesehatan sekaligus ekonomi keluarga SIMPULAN Program Transformasi Kesehatan dan Ekonomi: Pemberdayaan Kelompok Wanita Harmoni Mondokan Purwosari melalui Inovasi Produk Herbal Lokal terbukti efektif dalam meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan kesadaran peserta secara signifikan, yang tercermin dari peningkatan skor post-test pada aspek konseptual, teknis, dan kewirausahaan. Meskipun demikian, pelaksanaan program ini diawali dengan tantangan utama pada mitra, yaitu keterbatasan keterampilan budidaya di lahan sempit, minimnya pengetahuan tentang teknik pengolahan rimpang menjadi produk yang higienis dan tahan lama, serta rendahnya kesiapan kewirausahaan untuk mengkomersialkan produk herbal. Intervensi yang terstruktur berhasil mengatasi kesenjangan ini, menghasilkan keterampilan praktis dalam budidaya dan produksi minuman herbal instan yang bernilai jual. Untuk menjamin keberlanjutan dan memperluas dampak ekonomi, pengembangan program selanjutnya difokuskan pada penguatan kelembagaan melalui pembentukan kelompok usaha bersama dan perluasan jejaring pemasaran digital. Upaya keberlanjutan ini bertujuan untuk menjaga kesinambungan pasokan bahan baku . sekaligus membuka akses pasar modern yang lebih luas, sehingga program ini memberikan kontribusi nyata pada pemberdayaan perempuan dan penguatan ekonomi lokal yang berkelanjutan, sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG 3. SDG 8, dan SDG . PERSANTUNAN Ucapan terima kasih yang tulus kami sampaikan kepada Kementerian Pendidikan Tinggi. Sains, dan Teknologi khususnya Direktorat Riset. Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM), atas dukungan, pendanaan, dan kesempatan yang telah diberikan dalam pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat ini. Kehadiran program Pengabdian Kepada Masyarakat skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (Nomor: 006/PM-PKM/INDO/VI/2. telah memberikan arah, semangat, dan inspirasi yang berarti bagi kami dalam mengimplementasikan inovasi berbasis potensi lokal. Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada Politeknik Indonusa Surakarta sebagai institusi pengusul yang telah memberikan dukungan penuh baik secara kelembagaan maupun akademik dalam penyelenggaraan kegiatan ini. Kami juga menyampaikan terima kasih kepada Kelompok Wanita Harmoni Kampung Mondokan Purwosari. Kota Surakarta, yang telah menjadi mitra aktif serta memberikan dukungan penuh selama proses pelatihan dan pendampingan berlangsung. Terima kasih juga kepada tim pengabdian, mahasiswa, serta seluruh pihak yang telah berkontribusi dalam berbagai aspek, mulai dari perencanaan, pelaksanaan kegiatan, hingga penyusunan luaran. Sinergi dan kerja sama yang baik dari seluruh pihak menjadi kunci keberhasilan program ini dalam mewujudkan tujuan pemberdayaan kesehatan dan ekonomi berbasis sumber daya lokal. KONTRIBUSI PENULIS Pelaksanaan kegiatan: YM. AOTD. SW. Penyusunan artikel: YM. ENA. Analisis dampak layanan: AOTD. AI. DAH. Penyajian hasil layanan: SW. ENA. Revisi artikel: YM. AI. DAH. Conflict of Interest Tidak ada konflik kepentingan dalam publikasi artikel ini. PENDANAAN Program pengabdian kepada masyarakat dan publikasi artikel ini didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi. Sains, dan Teknologi melalui Direktorat Riset. Teknologi, dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRTPM), dalam skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat dengan nomor kontrak 006/PM-PKM/INDO/VI/2025. REFERENSI