Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 Randomized Control Trial: Efektivitas Edukasi Melalui Media Sosial Tiktok Terhadap Pengetahuan Dan Sikap Remaja Putri Terkait Keputihan Jasmine Khoirul Barriyah1*. Kurniaty Ulfah2. Yulidar Yanti3,Atin Karjatin4 1,2,3,4 Poltekkes Kemenkes Bandung *Email korespondensi: Jasminekhoirulbarriyah271@gmail. Info Artikel Dikirim: 31 Agustus 2024 15 Sept 2024 September 2024 Kata Kunci: Keputihan. Pengetahuan. Tiktok. Remaja Putri. Sikap Keywords: Attitude, leukorrhea, tiktok social Abstrak Latar Belakang: Masalah kesehatan reproduksi pada remaja sangat memerlukan penanganan serta perhatian yang sangat serius. Keputihan adalah salah satu masalah yang harus mendapat perhatian khusus. Mayoritas wanita sulit membedakan keputihan yang normal dan tidak normal. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas edukasi melalui media sosial atau sosial media TikTok dan ceramah terhadap pengetahuan dan sikap remaja putri mengenai keputihan. Metode: Penelitian ini adalah uji coba terkontrol secara acak pada 76 remaja putri. Peserta dialokasikan menjadi dua kelompok yakni . elompok intervensi Tiktok dan kelompok kontrol cerama. dengan cara pengacakan sederhana, kelompok intervensi mendapat edukasi melalui media Tiktok, pengukuran pengetahuan dan sikap dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan angket pengetahuan dan sikap. Analisis data pada penelitian ini menggunakan uji Mann-whitney dan uji wilcoxon. Hasil : Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan peningkatan pengetahuan dan sikap pasca intervensi. Peningkatan skor pengetahuan remaja pasca diberikan perlakuan pada kelompok intervensi p<0,001 dan kelompok kontrol p<0,001. Peningkatan skor. sikap remaja setelah pemberian perlakuan pada kelompok intervensi <0,001 dan kelompok kontrol <0,001. Simpulan: Edukasi di TikTok lebih efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan sikap remaja putri mengenai keputihan. Media Tiktok dapat dijadikan salah satu alternatif untuk memberikan edukasi khususnya mengenai keputihan. Abstract Background: Reproductive health problems in adolescents need severe treatment and attention. Vaginal discharge is one of the problems that should receive special attention. The majority of women find it difficult to distinguish between normal and abnormal vaginal discharge. Objective: This study aims to determine the effectiveness of education through social media or social media TikTok and lectures on the knowledge and attitudes of adolescent girls regarding vaginal discharge. Methods: The study was a randomized controlled trial on 76 teenage girls. Participants were allocated into two groups . he Tiktok intervention group and the lecture control grou. by simple randomization. the intervention group received education through Tiktok media, and knowledge and attitude measurement was carried out before and after the intervention using a knowledge and attitude questionnaire. Data analysis in this study used the Mann-Whitney test and the Wilcoxon test. Result: The results showed a difference in the increase in knowledge and attitudes after the intervention. The increase in adolescent knowledge scores after treatment in the intervention group was p<0. 001, and in the control group, p<0. Increased Adolescent attitudes after treatment in the intervention group <0. 001 and the control group <0. Conclusion: Education on TikTok is more effective in increasing the knowledge and attitude of adolescent girls about vaginal discharge. Tiktok media can be used as an alternative to providing education, especially about vaginal discharge. PENDAHULUAN Keputihan adalah suatu kondisi normal bagi seorang wanita namun hal ini menjadi butuh perhatian khusus apabila adanya iritasi, gatal, berwarna, berbau sehingga dapat menjadi suatu keputihan Menurut data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) pada tahun 2017 terdapat hasil 65% remaja putri telah mengalami keputihan patologis yang disebabkan karena kurangnya personal hygiene. Selain itu, menurut data statistik Provinsi Jawa Barat yang dilakukan pada tahun 2015 didapatkan sebanyak 27,60% penduduk wanita di Jawa Barat mengalami keputihan patologis yang didominasi oleh wanita usia Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 subur dan remaja putri. (Profil Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat 2017, 2. Penyebab dari tingginya masalah pada kesehatan reproduksi adalah rendahnya pengetahuan terkait kesehatan reproduksi itu sendiri yang berdampak pada pemahaman resproduksi(Fatimah. Arianto, & Bahfiarti, 2. Meskipun timbul adanya gejala keputihan patologis, seperti rasa terbakar, rasa gatal, dan bau, kebanyakan wanita merasa sulit untuk membedakan antara keputihan normal dan abnormal, yang menyebabkan kebingungan dan menganggap serta meyakini bahwa keputihan yang dialami adalah keputihan yang normal. Pengetahuan menjadi salah satu hal yang mempengaruhi kesehatan organ reproduksi (Mudiyanselage. Menurut Krisdayanti . pada penelitiannya ditemui bahwa dari 92 orang remaja putri didapatkan 66,7% remaja putri mengalami keputihan patologis, hal ini menunjukkan adanya tingkat pengetahuam dan kesadaran yang kurang. Selain kurangnya mengungkapkan bahwa keputihan abnormal dipengaruhi oleh personal hygiene yang kurang baik(Krisdayanti, 2. Pendidikan kesehatan merupakan upaya peningkatkan pengetahuan dan sikap remaja Pendidikan kesehatan dapat dilakukan melalui berbagai media salah satunya media audiovisual(Notoadmojo, 2. Media Audiovisual dapat diunggah pada media sosial yang merupakan platform untuk mengunggah konten audiovisual. Tiktok adalah salah satunya. Tiktok adalah aplikasi yang sangat populer dan viral pada saat ini. Aplikasi ini banyak mendapatkan perhatian dari masyarakat termasuk remaja putri yang tertarik pada video yang dibagikan karena video yang dibagikan terkesan ringan dengan mempertahankan nilai informasi, sehingga kali(Susilowati, 2. Sebagian besar remaja sering menggunakan media sosial, terutama Tiktok. Pada tahun 2021 TikTok melaporkan bahwa 1,4 miliar penggunanya mayoritas adalah wanita usia subur (WUS) berusia antara 20 dan 29 tahun dan remaja berusia antara 10 dan 19 tahun(Lestari, prasetya. Penelitian ini akan diselenggarakan di SMAN 25 Bandung. Berdasarkan informasi kesiswaan SMAN 25 Bandung diketahui bahwa belum pernah ada penelitian terkait keputihan serta tidak ada program terkait keputihan. Selain itu, setelah dilakukan studi pendahuluan menggunakan kuesioner yang berisikan 10 pertanyaan sikap dan 10 pertanyaan pengetahuan didapatkan hasil bahwa pengetahuan tinggi 7 . %) orang, cukup 13 . %) dan rendah 10 . %) dan diperoleh 14 . %) orang bersikap positif dan 16 . %) orang bersikap negatif. Berdasarkan uraian permasalahan di atas, maka penelitian ini penting untuk dilakukan untuk mengetahuai efektivitas media sosial tiktok terhadap pengetahuan dan sikap remaja terkait METODE Penelitian ini merupakan uji coba terkontrol acak atau Randomized Control Trial (RCT) pada dua kelompok yakni kelompok intervensi dan kontrol. Penelitian ini telah mendapatkan persetujuan etik dari komisi Etik Penelitian Kesehatan Politeknik Kesehtan Kementrian Kesehatan Bandung No. 08/KEPK/EC/II/2023. Populasi terjangkau penelitian ini adalah remaja putri yang ada di SMAN 25 Bandung pada Januari-April 2023. Pengambilan sampel dilakukan dengan stratified simple random Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 sampling, yakni populasi dikelompokan disaksikan oleh partisipan selama 5 menit berdasarkan strata atau tingkatan kelas. Setiap dengan satu kali pemutaran. Setelah 5 menit tingkat (Kelas 10,11 dan . dan dipilih maka akun tiktok peneliti akan di private dan sebanyak 12-13 orang dari setiap tingkat kelas tidak ada yang bisa mengakses video tersebut secara acak menggunakan aplikasi acak online kembali meskipun responden memiliki link. rakko-tools. Setelah itu dilakukan posttest dengan mengisi Adapun kriteria inklusi patisipan kembali kuisioner. Pada kelompok kontrol adalah telah mengalami haid, memiliki diberikan edukasi keputihan melalui metode handphone untuk melihat video tiktok serta ceramah, sebelum diberikan intervensi bersedia menjadi responden dan kriteria dilakukan pretest berupa pengisian kuesioner ekslusinya adalah sakit dan responden pengetahuan dan sikap dan selanjutnya penyandang disabilitas. Selanjutnya sampel diberikan ceramah yang berlangsung sekitar yang sudah didapat, dialokasikan ke dalam 5 menit tanpa ada sesi tanya jawab. Setelah kelompok intervensi dan kontrol secara acak ceramah selesai partisipan mengisi kuesioner . dengan menggunakan web undi posttest kembali. online rakko-tools dengan jumlah 38 orang Intsrumen penelitian yang digunakan baik untuk kelompok intervensi dan kontrol. adalah kuesioner pengetahuan dan sikap yang Semua partisipan mendapatkan informed berisi 10 butir pertanyaan dan 10 butir Pada penelitian ini tidak dilakukan Kuesioner ini telah dilakukan penyamaran . ujicoba pada 30 siswa di sekolah berbeda Intervensi dilaksanakan pada satu dengan hasil uji validitas seluruh pertanyaan hari dengan pembagian waktu antara valid dan hasil uji reabilitas seluruh kelompok perlakuan dan kelompok kontrol. pertanyaan reliabel. Intervensi pada kelompok perlakuan Pengolahan data dilakukan secara diselenggarakan terlebih dahulu yakni berupa komputerisasi menggunakan SPSS for edukasi keputihan melalui aplikasi Tiktok Windows 25. Uji statistik yang digunakan dengan meberikan link video Sebelumnya adalah uji wilcoxon dan uji mann-whitney dilakukan pretest dengan mengisi kuesioner pengetahuan dan sikap, dilanjutkan dengan pemberian link video tiktok yang dapat HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Karakteristik Responden Kelompok Media sosial Kelompok ceramah Tiktok Variabel Usia 15 Tahun 16 Tahun 17 Tahun 18 Tahun 19 Tahun Kelas Kelas 10 Kelas 11 Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 Kelas 12 Paparan informasi Tidak Hasil analisis pada Tabel 1 menunjukan karakteristik responden dalam penelitian. Pada kelompok intervensi diketahui bahwa responden paling banyak berusia 17 tahun yaitu sebanyak 16 responden . %) sedangkan ada kelompok kontrol responden terbanyak berusia 16 tahun dengan 19 responden . ,7%), median usia responden pada kelompok intervensi berusia 17 tahun, median usia kelompok kontrol berusia 17 tahun. Semakin tinggi usia seseorang, makin berkembang pula daya tangkap dan daya pikir yang dimilikinya (Notoadmojo, 2. Selain itu, kematangan kognitif dan psikologis akan terus meningkat. Pada masa remaja awal . -14 tahu. pola pikir dan kematangan yang mereka miliki belum berkembang dengan baik, hal ini tentu tidak serupa dengan remaja akhir, yang berusia 17-21 tahun dimana telah mencapai kematangan secara kognitif dan sudah mampu membedakan antara benar atau salah serta telah mampu mengembangkan aturan moral mereka sendiri (Helmy Ilmiawati. Seluruh responden berasal dari 3 strata yakni kelas 10,11 dan 12 yang diundi dengan jumlah yang sama, dari data tersebut lebih dari separuh responden baik kelompok intervensi dan kelompok kontrol sudah terpapar dengan informasi terkait keputihan, pada kelompok intervensi sejumlah 22 . ,4%) responden dan pada kelompok sejumlah 22 . ,4%) responden. Pengetahuan muncul sebagai hasil dari tahu setelah melakukan pengindraan terhadap sesuatu. Pengindraan terjadi melalui panca indra manusia yang terdiri dari penciuman, perasa. Sebagian besar pengetahuan yang dimiliki manusia berasal dari telinga dan mata (Notoadmojo, 2. Tabel 2. Perbedaan pengetahuan kedua kelompok sebelum intervensi antara kedua kelompok Variabel Kelompok Intervensi Kelompok kontrol Nilai P Nilai pengetahuan . entang skor: 1-. Sebelum intervenes Setelah intervensi Nilai p <0,001b <0,001b Hasil analissis pada Tabel 2 terlihat tidak terdapat perbedaan bermakna skor pengetahuan antara kedua kelompok sebelum diberi perlakuan. Hal ini menggambarkan bahwa tingkat pegetahuan 0,077a penelitian adalah setara. Setelah dilakukan intervensi pada kelompok perlakukan tidak ada responden yang pengetahuan nya menurun, 4 responden pengetahuan nya tetap, dan 34 responden pengetahuan nya Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 meningkat dengan nilai p-value,<0,05. Hal ini menunjukkan peningkatan pengetahuan yang bermakna antara sebelum pemberian intervensi,dan sesudah intervensi video Tiktok. Pada kelompok kontrol terdapat 1 responden yang pengetahuan nya menurun, 9 responden pengetahuannya tetap, dan 28 responden pengetahuan nya meningkat nilai p-value < 0,05. Hal ini menunjukan peningkatan pengetahuan yang bermakna antara sebelum intervensi ceramah dan sesudah intervensi ceramah. Pada penelitian ini baik kelompok edukasi media Tiktok maupun kelompok ceramah, sama-sama mengalami peningkatan pengetahuan terkait keputihan setelah dilakukan intervensi. Pengetahuan adalah hasil tahu yang berasal dari penginderaan penglihatan, pendengaran, penciuman dan perabaan yang Penginderaan pengetahuan yang disebabkan karena adanya proses belajar yang dilakukan oleh seseorang. Video merupakan media yang dapat melibatkan dua indera yakni pendengaran dan penglihatan. Media ini dapat meningkatkan minat seseorang dalam memepelajari sesuatu karena dapat dilihat sekaligus didengar (Rayanda, 2. Dalam penelitian ini terdapat perbedaan antara penayangan video melalui Tiktok terhadap pengetahuan remaja putri. Hal ini didukung penelitian Shiddiq . terkait efek Tiktok terhadap pengetahuan yang memperihatkan dalam penelitiannya pada 25 orang responden terdapat 24 orang . %)mengalami peningkatan pengetahuan dan 1 orang . %) melaporkan penurunan pengetahuan setelah diberi intervensi video Tiktok dengan nilai P-value <0,05 (Shiddiq, 2. Selain itu, penelitian Lili et al. tentang seks bebas mendapati bahwa adanya kenaikan pengetahuan pasca dilakukan pendidikan kesehatan menggunakan video dengan kategori 88% kategori baik dan 12% kategori baik (Pertiwi, 2. Selain Media audiovisual. Media lainnya yang kerap digunakan adalah teknik konvensional ceramah yang merupakan suatu teknik penyampaian lisan untuk mengkomunikasikan informasi. Metode ini tergolong dalam kelompok konvensioal karena tidak memerlukan persiapan khusus, sederhana dan paling mudah (Ferawati. Dalam penelitian ini terdapat perbedaan skor nilai pretest dan postest pada Hal ini sesuai dengan penelitian Nurul . , yang menemukan bahwa dari 14 partisipan semuanya dengan 9 orang . ,3%) dengan kategori baik dan 5 orang . ,7%) dengan kategori cukup setelah dilakukan pemberian metode (Riau. Tabel 3 Perbedaan Sikap Kedua Kelompok Variabel Nilai sikap skor: 1-. Kelompok Intervensi Kelompok kontrol Nilai P entang Sebelum intervenes Setelah intervensi Nilai p 35,50 . <0,001b 30 . <0,001b 0,347a Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 Hasil analisis pada tabel 3 terlihat tidak adanya perbedaan sikap remaja putri kelompok dengan nilai p-value>0,05 yang artinya sikap kedua kelompok adalah setara. Selanjutnya perbandingan sikap antara sebelum diberikan intervensiedukasi melalui media soial Tiktok dan sesudah diberikan intervensi edukasi melalui media sosial Tiktok adalah tidak ada responden yang sikap nya menurun, 1 responden sikap nya meningkat,dengan nilai p-value > 0,05. Hal ini secara statistik menunjukkan terdapat peningkatan sikap yang bermakna antara sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok edukasi media sosial Tiktok. Pada kelompok kontrol 3 responden yang sikapnya menurun, 8 responden sikap nya tetap, dan 27 responden sikap nya meningkat dengan nilai P-value > 0,05. Hal ini menunjukan peningkatan sikap bermakna antara sebelum intervensi ceramah dan sesudah intervensi ceramah. Hasil kelompok,perlakukan dan kontrol samasama mengalami peningkatan skor sikap setelah dilakukan intervensi. Media akan memainkan peran penting dalam menyebarkan informasi sehingga pengetahuan seseorang akan berpengaruh terhadap sikapnya. Dengan adanya media seseorang bisa mendapatkan informasi baru sehingga peningkatan pengetahuan dan perubahan sikap seseorang dapat dengan mudah terjadi (Notoadmojo. Dalam penelitian ini terdapat sikap remaja putri terkait keputihan setelah dilakukan edukasi melalui media sosial Tiktok. Hal ini didukung dengan penelitian Dopo . tentang dampak Tiktok pada sikap saat menstruasi yang melibatkan 70 responden, sikap meningkat setelah menerima intervensi, terbukti dengan skor rata-rata sebelum intervensi . dan setelah intervensi . dengan p-value <0,05 (Wicaksono. Selain itu, sejalan juga dengan penelitian Siti . yang didapatkan bahwa terjadinya peningkatan rata-rata sikap pada seseorang baik sebelum maupun sesudah menerima intervensi media audiovisual dengan p-value <0,05. (Utami, 2. Dalam penelitian ini juga edukasi melalui ceramah mengalami peningkatan terhadap sikap remaja putri. Hal ini sesuai dengan penelitian Nurul . , yang mendapatkan bahwa terjadi peningkatan sikap baik sebelum maupun sesudah intervensi dengan melibatkan 14 partisipan. Hasil dari dalam penelitian menunjukkan bahwa terjadinya peningkatan sikap pada seseorang dengan 7 orang . %) diantaranya masuk dalam kategori baik dan 7 orang . %) masuk dalam kategori cukup, dengan p-value 0,012, dimana p<0,05(Riau, 2. Tabel 4 Efektivitas media sosial tiktok dan ceramah terhadap pengetahuan Selisih sebelum dan sesudah diberikan intervensi Kelompok Perlakuan . Kelompok Kontrol 2,50 . 1,00 (-1-. P-value . <0,001a Hasil Uji Mann whitney Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 Berdasarkan Tabel 4 didapatkan peningkatan skor pengetahuan remaja putri terkait keputihan secara statistik setelah intervensi pada kedua kelompok, yakni kelompok perlakuan mengalami peningkatan skor pengetahuan yang lebih tinggi secara bermakna dibanding kelompok kontrol dengan nilai p-value<0,05. Hasil dari uji Mann-Whitney menunjukkan pengetahuan setelah diberi intervensi adalah 47,14 pada kelompok Tiktok dan 29,86 pada kelompok ceramah. Berdasarkan penelitian ini didapatkan perbedaan peningkatan skor pengetahuan dan sikap remaja putri terkait keputihan antara kedua kelompok yakni kelompok edukasi media sosial Tiktok secara statistik yakni kelompok intervensi Tiktok mengalami peningkatan skor nilai pengetahuan yang lebih baik atau lebih tinggi secara bermakna dibanding kelompok ceramah sebagai kontrol dengan nilai p-value < 0,05. Hasil uji Mann-Whitney rangking nilai pengetahuan setelah diberi intervensi adalah 47,14 pada kelompok Tiktok dan 29,86 pada kelompok ceramah. Hal ini membuktikan bahwa Tiktok lebih pengetahuan remaja putri terkait keputihan. Dari hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa media tiktok merupakan suatu media yang dapat diterapkan untuk memepengaruhi dan meningkatkan pengetahuan pada remaja. Menurut Ainul . , mengedukasi masyarakat melalui media yang tepat akan dapat meningkatkan kesehatan masyarakat karena seseorang akan bertindak sebagai agen untuk menyebarluaskan ilmu yang telah mereka peroleh dari edukasi media TikTok kepada masyarakat setempat. Akhirnya, hal itu dapat menyebarkan informasi dan bermanfaat bagi masyarakat dan dirinya sendiri(Bertalina, 2. Tabel 5 Efektivitas media sosial tiktok dan ceramah terhadap sikap Selisih Sikap Kelompok Perlakuan . 4,00 . Berdasarkan Tabel 5 didapatkan bahwa adanya perbedaan kenaikan skor sikap kedua kelompok yakni kelompok edukasi media sosial Tiktok mengalami peningkatan sikap yang lebih tinggi dibanding dengan kelompok kontrol dengan nilai p-value<0,05. Hasil dari uji Mann-Whitney diketahui bahwa rangking sikap setelah diberi intervensi adalah 48,14 pada kelompok Tiktok dan 28,86 pada kelompok ceramah. Dalam penelitian ini terdapat perbedaan media sosial Tiktok terhadap sikap remaja putri, dengan didukung oleh penelitian Dopo . Tiktok merupakan salah satu aplikasi Kelompok Kontrol . 1,00 (-2,. P-value <0,001a yang mudah untuk diakses sehingga dapat berpengaruh terhadap sikap seseorang dalam mengambil keputusan (Wicaksono, 2. KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini dapat menunjukan bahwa edukasi melalui media sosial Tiktok dan ceramah sama-sama dapat memberikan kenaikan pengetahuan dan sikap remaja putri terkait keputihan. Namun edukasi melalui media sosial Tiktok lebih efektif secara bermakna dibandingkan metode ceramah terhadap kenaikan pengetahuan dan sikap remaja putri. Untuk itu media sosial Tiktok Jurnal Penelitian Sains dan Kesehatan Avicenna ISSN 2829-5536 Vol. 3 No. 3 September 2024 dapat menjadi media alternatif yang efektif dalam rangka edukasi dan promosi kesehatan bagi remaja pada khususnya dan masyarakat secara umum. Diharapkan guru dan tenaga pemberian edukasi melalui tiktok terutama terkait keputihan terlebih di era digitalisasi ini media sosial lebih digemari oleh remaja putri. Selain itu, bagi peneliti selanjutnya diharapkan melakukan penelitian lanjutan yang berhubungan dengan keputihan dengan menggunakan variabel penelitian yang UCAPAN TERIMA KASIH Terima kasih kepada Allah Swt, karena sudah memberikan kesehatan dan kelancaran untuk peneliti bisa menyelesaikan penelitian ini dengan baik. Terima kasih kepada staff dosen, keluarga. SMAN 25 Bandung dan segala pihak yang telah membantu dan berkontribusi dalam terlaksananya penelitian DAFTAR PUSTAKA