JISPENDIORA: Jurnal Ilmu Sosial. Pendidikan Dan Humaniora Vol. No. 3 Desember 2023 E-ISSN : 2829-3886. P-ISSN : 2829-3479. Hal 244-254 DOI: https://doi. org/10. 56910/jispendiora. Perjalanan Kapitalisme Informal Pada Usaha Thrifting Melalui Interpretasi Mitos (Interaksionalisme Simbolik. Herbert Mea. Dwi Wahyu Maulana Putra Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Jember. Program Studi Sosiologi email: 220910302007@mail. Isna Fitrotul Kamila Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Jember. Program Studi Sosiologi email: 220910302016@mail. Nazwa Reina Salsabila Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Universitas Jember. Program Studi Sosiologi email: 220910302032@mail. Alamat: Jl. Kalimantan Tegalboto No. Krajan Timur. Sumbersari. Kec. Sumbersari. Kabupaten Jember. Jawa Timur 68121 Korespondensi penulis: 220910302007@mail. Abstract. This research investigates the course of informal capitalism in the thrifting industry and the role of myth and symbolism in shaping business culture and practices in this context. With reference to Herbert Mead's symbolic interactionalism framework, this study uncovers how symbolism and the impact of sustainability myths, and sellers and buyers' perceptions of seller and buyer preferences and thrift store marketing strategies. In combining social and economic aspects, this research provides a deep insight into the complex dynamics of thrifting industries. The results of this research enrich our understanding of the impact of social and economic change in contemporary society and highlight the economic and cultural complexities in the thrifting industry that are increasingly sustainable and closely linked to myths and symbolism. Keywords: Capitalism. Thrifting. Myth. Symbolic Interaction Abstrak. Penelitian ini menginvestigasi perjalanan kapitalisme informal dalam industri thrifting dan peran mitos serta simbolisme dalam membentuk budaya dan praktik bisnis dalam konteks ini. Dengan merujuk pada kerangka interaksionalisme simbolik Herbert Mead, penelitian ini mengungkap bagaimana simbolisme dan dampak dari mitos keberlanjutan, dan persepsi penjual dan pembeli tentang preferensi penjual dan pembeli serta strategi pemasaran toko thrift store. Dalam menggabungkan aspek sosial dan ekonomi, penelitian ini menyediakan wawasan yang mendalam tentang dinamika kompleks industri thrifting. Hasil penelitian ini memperkaya pemahaman kita tentang dampak perubahan sosial dan ekonomi dalam masyarakat kontemporer serta menyoroti kompleksitas ekonomi dan budaya dalam industri thrifting yang semakin berkelanjutan dan erat terkait dengan mitos serta simbolisme. Kata Kunci: Kapitalisme. Thrifting. Mitos. Interaksionalime Simbolik Received September 30, 2023. Revised Oktober 02, 2023. Accepted November 17, 2023 * Dwi Wahyu Maulana Putra, 220910302007@mail. Perjalanan Kapitalisme Informal Pada Usaha Thrifting Melalui Interpretasi Mitos (Interaksionalisme Simbolik. Herbert Mea. PENDAHULUAN Industri thrifting atau bisnis barang bekas telah berkembang pesat dalam beberapa dekade terakhir, memicu minat yang semakin besar dari berbagai kelompok masyarakat di seluruh dunia. Fenomena ini tidak hanya mencerminkan perubahan dalam pola konsumsi tetapi juga menggambarkan sebuah budaya yang tumbuh seiring dengan minat terhadap keberlanjutan dan penemuan barang-barang unik dengan harga terjangkau. Thrifting, yang pada awalnya dikenal sebagai alternatif bagi mereka dengan anggaran terbatas, telah menjadi lebih dari sekadar sebuah tren. ini telah menjadi budaya tersendiri yang mencerminkan dinamika sosial, ekonomi, dan budaya yang unik. Salah satu aspek yang sangat menarik dalam industri thrifting adalah peran kapitalisme informal. Industri ini melibatkan pembelian dan penjualan barang bekas dengan tujuan mendapatkan keuntungan, tetapi di luar kerangka ekonomi formal yang biasanya terlihat dalam bisnis konvensional. Toko thrift store atau toko barang bekas adalah contoh konkret dari kapitalisme informal dalam tindakan. Kapitalisme informal ini mencakup berbagai praktik bisnis, mulai dari toko fisik hingga pasar barang bekas online, dan seringkali beroperasi dengan sedikit regulasi formal. Namun, apa yang membuat industri thrifting semakin menarik adalah peran mitos dalam membentuk budaya dan praktik bisnis dalam industri ini. Mitos ini mencakup pandangan bersama tentang keberlanjutan, eksklusivitas, penemuan "harta karun," dan pandangan terhadap merek tertentu. Mitos ini menciptakan persepsi, ekspektasi, dan harapan yang memengaruhi bagaimana konsumen berinteraksi dengan toko thrift, bagaimana pemilik toko mengemas produk mereka, dan bagaimana industri ini berkembang. Oleh karena itu, mitos-mitos ini memiliki potensi untuk memengaruhi dinamika kapitalisme informal dalam Pendekatan yang paling tepat untuk memahami bagaimana mitos ini memengaruhi perjalanan kapitalisme informal dalam industri thrifting adalah melalui kerangka interaksionalisme simbolik. Kerangka teoritis ini, yang pertama kali diperkenalkan oleh Herbert Blumer dan didasarkan pada pemikiran sosial psikolog Herbert Mead, menyoroti peran sentral simbol-simbol dalam membentuk realitas sosial dan perilaku manusia. Dalam konteks thrifting, simbol-simbol seperti barang bekas, merek, harga, dan tanda-tanda lainnya memainkan peran penting dalam interaksi sosial, pemahaman kolektif, dan pengambilan Industri thrifting, yang melibatkan penjualan dan pembelian barang bekas atau secondhand, telah tumbuh pesat dalam beberapa dekade terakhir. Pertumbuhan industri ini JISPENDIORA-VOLUME 2. NO. DESEMBER 2023 E-ISSN: 2829-3886. P-ISSN: 2829-3479. Hal 244-254 mencerminkan perubahan dalam perilaku konsumen, dengan semakin banyak orang yang mencari alternatif untuk belanja konvensional yang mahal dan mengutamakan aspek Dalam tinjauan pustaka ini, kita akan menjelajahi sejumlah literatur yang relevan yang membahas perkembangan industri thrifting, peran kapitalisme informal dalam thrifting, dan peran mitos dalam membentuk budaya dan praktik bisnis di dalamnya. Industri thrifting telah mengalami perkembangan signifikan dalam beberapa dekade Awalnya dikenal sebagai pilihan bagi individu dengan anggaran terbatas, thrifting telah menjadi fenomena yang lebih luas. Cerulo . mengidentifikasi perkembangan industri thrifting sebagai respons terhadap tuntutan konsumen yang semakin besar untuk barang-barang unik dan lingkungan yang berkelanjutan. Thrifting bukan lagi hanya tentang itu adalah tentang mencari barang-barang yang memiliki nilai lebih, baik secara ekonomi maupun sosial. Selain itu, perkembangan industri ini mencerminkan tren konsumen yang semakin memperhatikan isu-isu sosial dan lingkungan. Menurut Sundaram dan Noseworthy . , generasi yang lebih muda cenderung lebih peduli terhadap keberlanjutan dan dampak lingkungan dari perilaku konsumsi mereka. Ini telah membuka peluang bagi industri thrifting untuk berkembang sebagai alternatif berkelanjutan terhadap pembelian barang-barang baru. Industri thrifting sering kali diidentifikasi sebagai contoh kapitalisme informal yang Gomez . mendefinisikan kapitalisme informal sebagai aktivitas ekonomi yang beroperasi di luar kerangka ekonomi formal dan seringkali melibatkan pertukaran tunai, kurangnya regulasi formal, dan transaksi ad hoc. Toko thrift store adalah salah satu contoh konkret dari bisnis yang beroperasi di bawah kapitalisme informal. Salah satu ciri khas kapitalisme informal dalam thrifting adalah fleksibilitasnya. Bisnis thrift store seringkali mampu beradaptasi dengan cepat terhadap perubahan dalam tren dan kebutuhan konsumen. Mereka memanfaatkan kurangnya regulasi formal untuk berinovasi dalam praktik bisnis Hal ini mencakup pengelolaan stok, penetapan harga, dan promosi yang berfokus pada nilai-nilai yang relevan dengan konsumen, seperti keberlanjutan dan eksklusivitas. Mitos-mitos dalam thrifting memainkan peran penting dalam membentuk budaya dan praktik bisnis dalam industri ini. Pandangan tentang keberlanjutan, eksklusivitas, dan penemuan "harta karun" telah menjadi elemen kunci dalam pemasaran dan daya tarik toko thrift store. Mitos keberlanjutan, misalnya, menciptakan persepsi bahwa thrifting adalah tindakan yang berkelanjutan dan membantu pelestarian lingkungan. Pandangan ini memotivasi beberapa konsumen untuk memilih barang bekas sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan (Sundaram & Noseworthy, 2. Mitos eksklusivitas, di sisi lain. Perjalanan Kapitalisme Informal Pada Usaha Thrifting Melalui Interpretasi Mitos (Interaksionalisme Simbolik. Herbert Mea. menciptakan permintaan untuk barang-barang thrift yang unik dan langka (Hong & Chan. Dalam thrifting, mitos ini memotivasi konsumen untuk mencari barang-barang yang tidak dapat ditemukan di toko konvensional. Mitologi merek juga dapat memainkan peran dalam menentukan daya tarik suatu toko thrift store. Beberapa toko memiliki reputasi tertentu yang terkait dengan barang-barang merek tertentu, dan mitos ini dapat memengaruhi preferensi konsumen dalam memilih tempat berbelanja. Interaksi Simbolik menurut Effendy . 9: . adalah suatu faham yang menyatakan bahwa hakekat terjadinya interaksi sosial antara individu dan antar individu dengan kelompok, kemudian antara kelompok dengan kelompok dalam masyarakat, ialah karena komunikasi, suatu kesatuan pemikiran di mana sebelumnya pada diri masing-masing yang terlibat berlangsung internalisasi atau pembatinan. Teori interaksionalisme simbolik, yang didasarkan pada pemikiran Herbert Mead dan dikembangkan oleh Herbert Blumer, menekankan peran penting simbol-simbol dalam membentuk realitas sosial dan perilaku Dalam kerangka ini, simbol-simbol seperti barang bekas, merek, harga, dan tandatanda lainnya memiliki makna yang mendalam dalam konteks thrifting. Menurut Jannah dalam Belly . teori intersionalisme simbolik adalah teori yang digunakaninteraksionisme simbolik oleh George Herbert Mead, dimana teori tersebur menjelaskan bahwa seseorang dipandang menjadi seorang aktor yang menafsirkan, menilai, bertindak dam menjelaskan tentang penggunaan simbol sebagai bentuk interpretasi dalam interaksi seseorang, dengan orang lain, maupun kelompok. Herbert Mead mengemukakan konsep "self" yang terdiri dari "self yang saya" . dan "self yang lain" (I). "Self yang saya" adalah bagian dari diri yang tercermin dari pandangan orang lain terhadap diri kita, sedangkan "self yang lain" adalah bagian diri yang merespon pandangan diri kita terhadap diri sendiri. Dalam interaksi sosial, individu mengambil peran yang berbeda-beda dan memahami diri mereka sendiri melalui interaksi dengan orang lain. Dalam konteks thrifting, peran simbol-simbol dan mitos dalam membentuk interpretasi kolektif dapat dimengerti melalui kerangka interaksionalisme simbolik ini. Industri thrifting maupun dalam konteks narasi elite dan re-tradisionalisme komunitas adat Using, peran mitos dan interpretasi simbolik sangat penting. Dalam thrifting, mitos dan simbolisme merek, keberlanjutan, dan harta karun memengaruhi preferensi konsumen dan strategi bisnis. Dalam konteks Pemangku Adat, mitos dan narasi masyarakat adat dapat memainkan peran dalam mendefinisikan identitas dan kebijakan tradisional. (Prasetyo, 2. Industri thrifting telah berkembang pesat sebagai respons terhadap perubahan dalam perilaku konsumen dan perhatian terhadap isu-isu keberlanjutan dan eksklusivitas. JISPENDIORA-VOLUME 2. NO. DESEMBER 2023 E-ISSN: 2829-3886. P-ISSN: 2829-3479. Hal 244-254 Kapitalisme informal berperan penting dalam industri ini, dengan toko thrift store yang beroperasi di luar kerangka ekonomi formal dan memanfaatkan fleksibilitas untuk bertahan dan berkembang. Mitos dalam thrifting memengaruhi budaya dan praktik bisnis, dengan pandangan tentang keberlanjutan, eksklusivitas, dan penemuan "harta karun" yang menjadi elemen kunci dalam pemasaran dan daya tarik toko thrift store. Teori interaksionalisme simbolik, khususnya kontribusi Herbert Mead, memberikan kerangka analisis yang kuat untuk memahami peran simbol-simbol dalam pembentukan realitas sosial dan interpretasi mitos dalam thrifting. Penelitian ini bertujuan untuk menjelajahi lebih lanjut peran interpretasi mitos dan simbol-simbol dalam membentuk kapitalisme informal dalam usaha thrifting apakah mitos tersebut akan berdampak, serta kontribusi interaksionalisme simbolik Herbert Mead dalam memahami dinamika sosial dan ekonomi dalam bisnis barang bekas. Penulis akan menyelidiki sejauh mana mitos-mitos ini memengaruhi perilaku penjual dan pembeli dan praktik bisnis di industri thrifting yang terus berkembang. Dengan demikian, jurnal ini akan memberikan kontribusi penting dalam pemahaman tentang kapitalisme informal dalam thrifting dan dinamika budaya yang terkait dengannya. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif, dikombinasikan dengan metodologi deskriptif. Penelitian kualitatif adalah metode yang berfokus pada sifat dan sifat perilaku manusia dan kualitasnya. Ini melibatkan analisis fakta, sikap, dan hubungan antara fenomena yang sistematis, kuantitatif, dan kualitatif. Teknik pengumpulan data melibatkan pengamatan dan wawancara. Pengamatan dilakukan dengan individu yang mengumpulkan dan menggunakan barang bekas. Wawancara digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis data yang dikumpulkan. Studi ini bertujuan untuk memahami bagaimana memberikan informasi yang akurat dan komprehensif. Masyarakat Risiko adalah sebuah konsep yang digagas oleh Ulrich Beck yang menggambarkan transisi sosial dalam masyarakat modern di mana ketidakpastian dan risiko memainkan peran sentral. Dalam masyarakat ini, risiko buatan manusia dan alamiah mendominasi berbagai aspek kehidupan, seperti teknologi, lingkungan, kesehatan, dan Risiko tersebut sering kali memiliki dampak global dan tidak merata terdistribusi di seluruh lapisan masyarakat. Peningkatan ketidakpastian dan perubahan yang cepat mengharuskan adanya perhatian terhadap upaya manajemen risiko dan perlindungan terhadap konsekuensi negatif yang mungkin timbul. Perjalanan Kapitalisme Informal Pada Usaha Thrifting Melalui Interpretasi Mitos (Interaksionalisme Simbolik. Herbert Mea. Dalam pembahasan tentang jual beli barang thrift masyarakat risiko sangat penting digunakan ketika kita mempertimbangkan cara konsumen dan pelaku usaha thrift store berinteraksi dengan risiko yang terkait dengan barang-barang bekas. Sebagai masyarakat yang semakin mengutamakan keberlanjutan dan anggaran yang terbatas, konsumen thrift mungkin terlibat dalam aktivitas yang didorong oleh ketidakpastian, seperti mencari barangbarang unik dengan harga terjangkau, meskipun dengan risiko tertentu terkait kualitas atau keaslian barang. Di sisi lain, pemilik thrift store beroperasi di bawah kerangka kapitalisme informal, yang mencakup risiko dalam memilih dan menjual barang bekas, serta risiko perubahan tren konsumen. Penelitian dilakukan di toko barang bekas di Mangli. Kecamatan Kaliwates. Kabupaten Jember, pada September 2023. Peserta termasuk tiga siswa, satu guru, satu siswa, satu pemilik bisnis, satu guru, satu siswa, dan satu siswa. HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil observasi dan wawancara yang telah dilakukan, penulis dapat menguraikan dan memperoleh hasil peneltian tentang Perjalanan Kapitalisme Informal Pada Usaha Thrifting Melalui Interpretasi Mitos Teori : Interaksionalisme Simbolik (Herbert Mea. Kapitalisme Ibu Nafis sendiri adalah guru sekolah dasar di SD Sukorejo 2 dan usaha baju second ini adalah usaha suaminya yang ternyata juga di dukung oleh Ibu kandung dari Ibu Nafis yang juga berjualan di pasar Mangli. Hari senin-jumAoat suaminya yang menjaga jualan di Mangli dan saat hari minnggu Ibu Nafis bergantian yang menjaga di Mangli dan suaminya berjualan di tempat lain yaitu Pasar Jatirogo. Dagangan Ibu. Nafis ini buka dari jam 8 pagi hingga 4sore. Berikut penuturan hasil wawancaranya. AuIya mbak, kalau saya buka jam 07. 00 WIB. Saya tutup biasanya jam 16. 00 WIB Bukan tutup mbak tapi lebih ke sudah agak sepi saja, nanti jam 13. 00 keatas mulai ramai lagi. Jadi biasanya yang lain juga mau tutup di sekitaran jam 15. 00- 17. 00 itu saya jualan trift ini awalnya ikut suami saya. juragan saya itu dari bali mbak. Ay Dalam berjualan Ibu Nafis biasanya membeli ball seberat 1 kwintal dari pengepul, dalam 1 kwintal ball tersebut tidak pasti jumlah perbijinya. Dalam pembelian ball ada sistem ekor, yang mana dalam satu kali beli harus mengambil 2 ball yang biasanya dinamakan JISPENDIORA-VOLUME 2. NO. DESEMBER 2023 E-ISSN: 2829-3886. P-ISSN: 2829-3479. Hal 244-254 sistem ekor, karena jika mengambil 1 ball harganya lebih mahal. Harga Ball juga bermacammacam sesuai kodenya, isinya dan kualitasnya. Ball yang pernah Ibu Nafis beli yaitu sekitar harga 4jt-12JT. Berikut hasil wawancaranya Auya itu sudah mbak yang kaos panjang cewek, mahalan yang mahal itu kaos pendek cowok bisa sampe 10 juta lebih dan flanel bisa sampe 12 juta lebihAy Ternyata dagangan Ibu Nafis ini tidak hanya dijual langsung ke customer, tetapi saat buka ball biasanya akan dibeli terlebih dahulu oleh orang-orang yang mau mengkulak, orangorang tersebut adalah orang yang mengambil untuk dijual online dan juga pedagang lain yang mengkulak barang yang bermerk saja untuk dijual kembali. Tengkulak yang memberi barang ini harus membeli sekita 50-100 pcs. Aujadi gini mbak, misal kita ambil barang apa saja itu ada yang pertama kali kulakukan contohnya dress itu target harus 50 pcs itu 50. 000/pcs, macam-macam jadi tergantung harga dressnyaAy. Tidak dapat mematok harga untuk di setiap bijinya, karena Ibu Nafis akan melihat terlebih dahulu harga yang diambil ole tengkulak, baru setelah itu akan diitung jumlahnya yang selanjutnya diberi harga harus lebih tinggi dari harga jual ke tengkulak. Auiya, nanti sisanya tinggal di paskan saja untuk harganya berapa, jadi kalau untuk menghitung keuntungan pastinya gabisa mbak. Karena ngga mungkin juga kalau 1 kwintal bisa habis dalam sebulan, jadi sulit buat ngitung keuntungannya perbulanAy. Mas Khairil sendiri merupakan seorang pemuda yang membuka usaha baju second bersama saudaranya yang sudah lebih dulu usaha ini. Dipasar Mangli ini mas Khairil dan saudaranya menyewa dua lahan yang berarti setiap bulannya membayar sekitar 300. Stand jualan nya itu buka sekitar jam 8 pagi hingga jam 4 sore. Mas Khairil dan saudaranya ini baru ikut berjualan di lapak Mangli sekitar tahun 2017 dan mendapat tempat di bagian belakang karena lahan ini dibuka tahun 2014 yang mana lapak bagian depan sudah penuh terisi. Pada tahun 2021 mas khairil pernah berjualan secara online melalui instagram tetapi hanya berjalan sekitar 6 bulan karena Mas Khairil merasa kurang peminat saat itu dan ia membutuhkan perputaran modal dengan cepat, makadari itu ia memilih untuk berjualan di lapak Mangli ini saja. Perjalanan Kapitalisme Informal Pada Usaha Thrifting Melalui Interpretasi Mitos (Interaksionalisme Simbolik. Herbert Mea. Dalam berjualan, mas Khairil dulunya sama seperti penjual lain yang membeli ball sendiri, biasanya antara dari Bali. Surabaya dan Bandung, karena pengepul ball pakaian second di sekitaran Jember tidak ada. Tetapi untuk akhir-akhir ini ia memilih untuk ikut mengkulak atau mengambil per pcs dari penjual lainnya, ntah itu pedagang diluar pasar Mangli ataupun juga mengkulak dari pedagag disitu juga. Mas Khairil memilih hal itu karena ia hanya berjualan pakaian yang bermerk atau hanya mengambil yang ada brand terkenalnya, seperti jika Bu. Nafis membuka ball maka Mas Khairil akan ikut mengkulak dari Bu. Nafis dengan harga yang lebih murah dan memilih yang brand saja. Penghasilan ini tidak dapat dihitung setiap bulan oleh Mas Khairil, hanya saja ia menghitung jika dalam satu minggu dan sedang ramainya itu bisa mendapat 7JT-8JT. Puncak dari larisnya jualannya itu pada saat bulan puas, tetapi harga ball dan harga kulak juga akan lebih tinggi, sehingga Mas Khairil juga harus menyesuaikan dengan harga pasar. Hitungan sepinya itu sekitar 700. 000 per harinya. Dalam mematok keuntungan. Mas Khairil mengaku ia bisa mengambil untuk sekitar 30. 000 untuk barang yang biasa saja, tapi jika brand dan seperti jaket, hoodie itu bisa ambil keuntungan hingga 100. Adapun Ibu Rofid telah menjadi pedagang baju second di Mangli selama 10 tahun. Awalnya, beliau memulai bisnis dengan menjual pakaian keliling. Untuk mencukupi kebutuhan sehari-harinya, sang suami juga keliling untuk menjual baju-baju second itu di pasar Kalisat. Selain itu. Ibu Rofid juga mendapat bantuan dari menantunya . stri dari anak laki-lakiny. yang menjual barang dagangannya secara online, terutama melalui sesi live di platform TikTok. Menurut Ibu Rofid, keuntungan yang diperoleh dari penjualan baju bekas masih belum mencukupi. Masalahnya adalah beberapa pakaian hanya dijual seharga 10 ribu rupiah Ibu Rofid biasanya mendapatkan persediaan pakaian secondnya dalam bentuk 'ball' dari Bandung. Bali. Surabaya. Menurut pengakuannya, pakaian-pakaian second tersebut umumnya sudah melalui proses seleksi atau dipilih-pilih terlebih dahulu oleh para penjual baju online. Mereka memilih-pilih pakaian yang berkualitas untuk dijual kembali. Harga setiap 'ball' pakaian second saat ini telah mengalami kenaikan, dari yang sebelumnya seharga 7 juta rupiah menjadi 9 juta rupiah. Selain itu. Ibu Rofid biasanya membeli dress dengan harga sekitar 14 juta rupiah, sementara untuk celana kain, harganya bisa mencapai 7 juta rupiah. Adapun perjalanan yang berbeda dari para pembeli. Dhany merupakan seorang mahasiswa Universitas Jember yang menyukai thrift sedari SMA. Tetapi kegemarannya berbelanja thrift ini semakin bertambah saat ia menjadi mahasiswa. Ia menyukai thrif karena JISPENDIORA-VOLUME 2. NO. DESEMBER 2023 E-ISSN: 2829-3886. P-ISSN: 2829-3479. Hal 244-254 sebagai mahasiswa, ia merasa berbelanja thrift itu dapat disesuaikan dengan kantong mahasiswa atau pelajar. Dhani biasanya berbelanja thrift di pasar Mangli atau di Kalisat, tetapi menurut pengalamannya ia lebih suka berbelanja di Kalisat karena menurutnya ada selisih harga antara di pasar Mangli dan di Kalisat. Selisih harga tersebut bisa sampai setengah dari harga yang ada di pasar Mangli. Dhany berpendapat bahwa saat berbelanja thrift kualitas itu yang menentukan kita sendiri, karena menurut Dhany, saat berbelanja thrift kita harus pintar-pintar memilih baik itu baik itu dari harga, kualitas, bahan, dan lainnya. Di zaman sekarang thrift banyak disukai oleh kalangan anak muda, dan biasanya yang mereka cari adalah brand dari baju thrift tersebut. Karena menurut Dhany, baju brand saat kita memakainya dan sudah bosan kita bisa menjualnya lagi. Tapi bila Dhany. Ia membeli baju thrift jarang melihat brand, karena dia membeli sesuai kebutuhan saja. Menurutnya, tujuan dari orang berbelanja thrift pada zaman dahulu dan zaman sekarang itu berbeda. Karena yang dulunya orang-orang berbelanja thrift karena kurangnya ekonomi dan dulu thrif digemari oleh semua kalangan. Tapi, di zaman sekarang tidak semua kalangan menyukai thrift, mayoritas didominasi oleh anak muda yang berbelanja baju thrift melihat brand dan atas dasar gengsi. Sedikit berbeda dengan Dhany, justru Chandra lebih ingin membeli pakaian thrift yang ada brandnya. Ia mengatakan bahwa sangat tertarik dengan pakaian thrift yang ada brandnya dikarenakan ia sering melihat teman-temennya memakai baju brand dan ternyata itu dari hasil membeli di pasar thrift. Dampak Mitos Bagi para penjual terkait larangan berjualan pakaian second tersebut serta ilegalnya menjual pakaian thrift tersebut. Berikut hasil wawancaranya. AuIya, mau bagaimana lagi mungkin memang ada campur tangan dari yang diatas, soalnya pernah viral juga kan terkait pembakaran bal itu ternyata ngga semua dibakar dan sisanya disimpan oleh pihak kepolisianAy. (Ibu Nafis. Penjual Thrif. AuItu gara-garanya itu awalnya itu kan ada barang ilegal masuk ke dalam IndonesiaAy. AuAnggapannya itu nggak mau bayar pajak satu ball. Sekarang aja paling nggak itu pajaknya hampir mendekati harga ballnya. Jadi yang membuat harga naik itu dari pajaknya kalau sekarangAy. (Mas Khairil. Penjual Thrif. Perjalanan Kapitalisme Informal Pada Usaha Thrifting Melalui Interpretasi Mitos (Interaksionalisme Simbolik. Herbert Mea. AuIya, gak boleh masuk. Kalau sekarang enggak wesAy. Iya penurunan, kan gak ngedatengin barang. Barangnya mau masuk kesini malah ketahan di Mojokerto, ndek mana itu lagi, dilarang, gak bisa masukAy. (Ibu Rofid. Penjual Thrif. Dari hasil wawancara di atas, penulis melihat bahwa dampak terjadinya mitos tersebut sangat besar, sehingga ada dari mereka yang dagangannya menjadi sepi ketika mitos itu Adapun penulis mendapatkan info terkait hal ini, setia para penjual memiliki grup yang mana disana terdapat informasi soal mito-mitos yang beredar. Adapun dari mereka tidak mengambil pusing soal mitos yang beredar ini. Adapun covid juga menjadi alasan dari dagangan mereka sepi. Covid membuat kondisi krisis ekonomi akibat tingginya angka pengangguran dan lesunya perekonomian global dan nasional menyebabkan tingkat kemiskinan semakin meningkat. Limbong. , & Fitri. Bagi para pembeli terkait larangan memakai pakaian second tersebut serta ilegalnya menjual pakaian thrift tersebut karena adanya wabah penyakit. Berikut hasil wawancaranya. Aumenurut saya bisa karena kan barang dari luar negeri mungkin habis dipakai orang luar manca negara atau tidak baju-baju yang lama tidak terjual secara langsung di luar negeri jadi dapat membawa penyakit lah. Jadi ketika kita ngethrift kita seusai mendapat baju itu kita harus mencuci terlebih dahulu kalau bisa dengan air panas agar kuman atau penyakit ilangAy AuMenurut saya, sekarang kan semenjak isunya barang thrift sudah distop kan dari luar negeri, bagus si karena produk dalam negeri bisa terjual lagi secara normal lah dibanding tahun-tahun sebelumnya yang kebanyakan barang dari sandang itu terjual dikaranakan barang bekas. Sedangkan barang baru dari produk lokal tidak dapat terjual secara maksimalAy. (Dhany. Pembeli Pakaian Thrif. Ausetuju gak setuju sih, soalnya kalau gak semua bawa penyakit kan, kalau untuk isu ilegalnya saya kurang mengikuti siAy. (Candra. Pembeli Pakaian Thrif. KESIMPULAN Dari hasil penelitian di atas, dapat disimpulkan bahwa jurnal yang berjudul Perjalanan Kapitalisme Informal Pada Usaha Thrifting Melalui Interpretasi Mitos (Interaksionalisme Simbolik. Herbert Mea. , industri thrifting merupakan subjek yang menarik dan kompleks yang memadukan aspek ekonomi dan sosial dalam perjalanan kapitalisme, yang mana itu dapat dilihat dari perjalanan para informan. Dengan JISPENDIORA-VOLUME 2. NO. DESEMBER 2023 E-ISSN: 2829-3886. P-ISSN: 2829-3479. Hal 244-254 menggunakan kerangka kerja interaksionalisme simbolik Hertbert Mead, penelitian ini mengungkapkan bahwa pentingnya dampak dari mitos dan simbolisme dalam membentuk budaya dan persepsi penjual dan pembeli yang semuanya berperan dalam perkembangan thrifting ini. Penelitian ini membantu kita memahami lebih dalam perjalanan kapitalisme informal dan mitos dalam thrifting dan dampaknya dalam masyarakat kontemporer. Dengan demikian, penelitian ini mengungkap kompleksitas ekonomi dan budaya dalam industri thrifting dan memberikan kontribusi berharga terhadap pemahaman kita tentang perubahan konsumen dan ekonomi dalam masyarakat yang semakin berkelanjutan dan terhubung erat dengan mitos serta simbolisme. REFERENCE