Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 1 Juni 2024 Hal 30-43 JURNAL PSIKOHUMANIKA http://ejurnal. id/ojs/index. php/psikohumanika PERILAKU BELAJAR MAHASISWA DENGAN PRESTASI AKADEMIK YANG TINGGI DALAM MENGIKUTI PEMBELAJARAN BERBASIS TEKNOLOGI BERDASARKAN PERSPEKTIF SELFREGULATED LEARNING Tenriwali Ridha Rahmah1*. Hari Setyowibowo2 Fakultas Psikologi. Universitas Padjadjaran ARTICLE INFO ABSTRACT Article History Be accepted: Oct 2023 Approved: May 2024 Published: June 2024 Technology-based learning requires students' self-regulated learning abilities. This ability should be done because students can take responsibility and control the learning process they go through. Some students experience obstacles in implementing self-regulated learning which ultimately has an impact on academic results and achievements. However, some other students tend to be able to apply self-regulated learning. Therefore, this study aims to determine the application of self-regulated learning to students who have a high academic achievement in technology-based learning processes. Participants in this research were Unpad students from the Faculty of Psychology. The method used in this research is a mixed method with a sequential explanatory approach involving two phases. First, collecting quantitative data using the A-SRL-S measuring instrument and second, conducting interviews. In the first phase the sampling technique used an accidental technique with 63 participants and in the second phase a selective sampling technique was used with 3 participants. The first phase data was analyzed descriptively and the second phase data was analyzed thematically. The results of this research show that students with high academic achievement set specific and achievable goals in the learning process. These objectives guide determining strategies and conducting evaluations. Keywords : college student. academic achievement. mix method. selfregulated learning. technology-based Alamat Korespondensi: Jl. Raya Bandung Sumedang KM 21. Jatinangor 45363 E-mail: tenriwali21002@mail. setyowibowo@unpad. Tenriwali Ridha Rahmah1*. Hari Setyowibowo2 p-ISSN: 1979-0341 e-ISSN : 2302-0660 Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 1 Juni 2024 INFO ARTIKEL Sejarah Artikel Diterima : Oktober 2023 Disetujui: Mei 2024 Dipublikasikan: Juni 2024 Kata Kunci: berbasis teknologi. self-regulated Hal 30-43 ABSTRAK Pembelajaran berbasis teknologi membutuhkan kemampuan self-regulated learning dari mahasiswa. Kemampuan tersebut seyogianya dapat dilakukan sebab mahasiswa sudah mampu untuk bertanggung jawab dan mengontrol proses pembelajaran yang dilalui. Beberapa mahasiswa mengalami hambatan dalam menerapkan self-regulated learning yang akhirnya berdampak pada hasil dan prestasi akademik. Namun beberapa mahasiswa lainnya cenderung mampu untuk menerapkan self-regulated learning. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran perilaku belajar mahasiswa dengan prestasi akademik yang tinggi dalam mengikuti pembelajaran berbasis teknologi berdasarkan perspektif self-regulated learning. Partisipan dalam penelitian ini adalah mahasiswa Unpad Fakultas Psikologi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode campuran . ix metho. dengan pendekatan sekuensial explanatory melibatkan dua fase, yaitu pengumpulan data kuantitatif menggunakan alat ukur A-SRL-S kemudian melakukan wawancara. Pada fase pertama teknik pengambilan sampel menggunakan teknik accidental dengan jumlah partisipan sebanyak 63 orang dan fase kedua menggunakan Teknik selective sampling dengan jumlah partisipan sebanyak 3 orang. Data fase pertama dianalisis secara deskriptif dan data fase kedua dianalisis secara tematik. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa dengan prestasi akademik tinggi menetapkan tujuan yang spesifik dan dapat dicapai dalam proses pembelajaran. Tujuan tersebut memandu untuk menetapkan strategi dan melakukan evaluasi. PENDAHULUAN Pandemi Covid-19 membuat pola pembelajaran salah satunya di perguruan tinggi mengalami perubahan. Perubahan pola pembelajaran yang awalnya konvensional, yaitu dosen dan mahasiswa bertemu secara langsung di dalam suatu ruangan serta menjadikan dosen sebagai sumber belajar. Mulai berubah pada pembelajaran jarak jauh, pembelajaran berbasis teknologi, daring, atau online. Pembelajaran jarak jauh merupakan proses pembelajaran yang melibatkan dosen dan mahasiswa dengan bantuan perantara media atau teknologi. Pola pembelajaran jarak jauh lebih menekankan pada peran teknologi atau media sebagai sumber informasi dalam kegiatan pembelajaran dan dosen lebih ditekankan untuk memfasilitasi dalam memperoleh informasi. Artinya mahasiswa secara langsung berinteraksi dengan teknologi atau media pembelajaran. Proses pembelajaran jarak jauh sebenarnya tidak mengubah kebiasaan yang terjadi dalam proses pembelajaran konvensional khususnya interaksi antara mahasiswa dan Aktivitas pembelajaran jarak jauh dapat tetap menghubungkan mahasiswa dan dosen, mahasiswa dan mahasiswa, tim pengajar dan staf pendidikan lainnya (Riyana, 2. Dengan demikian, proses pembelajaran jarak jauh hanya berubah pada cara penyampaian materi oleh dosen dengan menggunakan perantara teknologi atau media. Pembelajaran jarak jauh membuat mahasiswa mengalami kesulitan seperti banyaknya tugas yang diberikan tanpa adanya materi yang cukup sehingga mahasiswa cenderung kewalahan dalam mengikuti proses pembelajaran. Selain itu, dalam proses memahami materi, mahasiswa cenderung mengalami kesulitan karena biasanya disampaikan secara lisan berubah menjadi tulisan ataupun video. Metode yang digunakan oleh dosen juga membuat mahasiswa merasa bosan karena cenderung monoton (Argaheni, 2. Kondisi tersebut akhirnya membuat pemerintah mengeluarkan Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 Tentang Penyelenggaraan Pembelajaran Semester Genap Tahun Akademik 2020/2021, yaitu pembelajaran di perguruan tinggi pada semester genap tahun akademik 2020/2021 mulai Januari 2021 dapat diselenggarakan secara campuran- pembelajaran tatap muka dan daring atau yang dikenal dengan istilah hybrid learning atau blended learning. Riyana . mengungkapkan bahwa pola hybrid learning atau blended learning mengubah peran dosen dalam kegiatan pembelajaran, yaitu dosen dan teknologi memiliki peran Tenriwali Ridha Rahmah1*. Hari Setyowibowo2 Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 1 Juni 2024 Hal 30-43 yang setara dalam menjalankan fungsi untuk menyampaikan materi pembelajaran. Pada pola ini, media yang digunakan melalui perantara teknologi dirancang sedemikian rupa untuk dapat menjelaskan materi secara baik, lengkap dan utuh. Peran dosen dalam kegiatan belajar telah difasilitasi oleh teknologi dan mahasiswa tetap bisa belajar dengan mempelajari materi yang tersedia namun tetap perlu pelengkap dari penjelasan dosen secara langsung. Paparan diatas menunjukkan bahwa pola pembelajaran mengalami perubahan mulai dari pembelajaran konvensional kemudian berubah menjadi pola pembelajaran jarak jauh dikarenakan situasi pandemi. Pembelajaran jarak jauh yang memunculkan berbagai permasalahan khususnya yang dirasakan oleh mahasiswa sehingga menghadirkan pola pembelajaran blended learning. Perubahan pola pembelajaran yang terjadi memiliki satu mahasiswa kesamaan yaitu adanya penggunaan teknologi dalam proses pembelajaran. Proses pembelajaran berbasis teknologi dapat memfasilitasi mahasiswa untuk belajar lebih luas dan bervariasi, dapat dilakukan kapan saja, dan tidak terbatas oleh jarak dan ruang. Pembelajaran berbasis teknologi menuntut untuk memiliki ketelitian dan kejelian dalam mencerna dan mengolah informasi yang disajikan, memerlukan kemampuan untuk berkomunikasi menggunakan teknologi, dan menekankan pada proses pembelajaran mandiri, yaitu mahasiswa ditekankan untuk dapat belajar melalui segala sumber yang dapat mendukung (Riyana, 2. Dengan demikian, untuk dapat melakukan proses pembelajaran berbasis teknologi, mahasiswa perlu memenuhi beberapa syarat yaitu memiliki kemampuan dalam menguasai beberapa teknologi yang digunakan dalam proses pembelajaran dan membutuhkan kondisi mahasiswa yang terbiasa untuk belajar mandiri dengan memanfaatkan fasilitas belajar yang tersedia. Salah satu kemampuan yang dibutuhkan oleh siswa adalah kemampuan self-regulated learning agar dapat belajar secara mandiri. Zimmerman . alam Zimmerman, 2. mendefinisikan self-regulated learning sebagai pemikiran, perasaan, dan tindakan yang dihasilkan oleh individu yang berorientasi pada pencapaian tujuan pembelajaran. Zimmerman juga mengungkapkan bahwa keterlibatan individu dalam proses pembelajaran meliputi aspek kognitif, motivasi dan perilaku. Berikut ini penjelasan dari masing-masing aspek dari self-regulated learning, yaitu . kognisi diartikan sebagai kemampuan individu untuk merencanakan, menetapkan tujuan, mengatur, memonitor, dan mengevaluasi diri dari berbagai sisi selama proses Proses ini memungkinkan individu menjadi lebih menyadari diri, banyak mengetahui dan menentukan pendekatan yang tepat dalam pembelajaran. Motivasi diartikan sebagai keyakinan diri individu untuk melakukan dan mencapai tujuan yang diharapkan, memiliki atribusi diri dan berminat pada tugas intrinsik. Perilaku diartikan sebagai upaya yang dilakukan oleh individu untuk dapat mengoptimalkan lingkungan sehingga tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat tercapai. Cara yang dilakukan seperti memilih, menstruktur dan menciptakan lingkungan yang nyaman, mencari nasihat, bimbingan, informasi dan tempat yang tepat untuk belajar . alam Zimmerman, 2. Zimmerman . alam Zimmerman, 2013. Bravo, 2. mengemukakan tiga fase perputaran dalam self-regulated learning yaitu perencanaan . orethought and plannin. , pelaksanaan . erformance monitorin. , dan evaluasi . eflections on performanc. Fase perencanaan . orethought and plannin. merupakan langkah awal yang dilakukan oleh individu untuk menentukan tahap-tahap yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan melakukan analisis tugas dan motivasi diri. Fase Pelaksanaan . erformance monitorin. merupakan beberapa proses yang terjadi selama individu bertindak dalam upaya mencapai tujuan yang telah ditetapkan pada fase sebelumnya. Individu akan menerapkan strategi untuk membuat kemajuan terhadap tugas belajar dan memantau efektivitas dari strategi yang telah ditetapkan serta memotivasi untuk menunjang kemampuan menuju tujuan melalui kontrol diri dan observasi diri. Fase evaluasi . eflections on performanc. merupakan proses yang terjadi setelah individu melakukan usaha yang telah ditetapkan dan pengaruh dari respons terhadap pengalaman yang kemudian akan memberikan pengaruh pada fase perencanaan dalam menetapkan tujuan dan langkah yang akan dilakukan oleh individu. Trisnawati . mengungkapkan bahwa self-regulated learning penting dalam Tenriwali Ridha Rahmah1*. Hari Setyowibowo2 Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 1 Juni 2024 Hal 30-43 pembelajaran berbasis teknologi. Hal ini dikarenakan self-regulated learning dapat membantu individu untuk mengatur dan mengarahkan diri, menyesuaikan dan mengendalikan diri dalam menghadapi tugas-tugas pembelajaran untuk meningkatkan prestasi dalam belajar. Dinata. Ragzianta, & Zainuddin . mengungkapkan bahwa self-regulated learning memiliki peran penting dalam pembelajaran untuk membantu mengarahkan individu pada kemandirian belajar, yakni mengatur jadwal belajar, menetapkan target belajar dan mencari informasi yang dibutuhkan secara mandiri. Penelitian yang dilakukan oleh Muasyaroh & Royanto . juga mengungkapkan hal yang sama bahwa self-regulated learning dapat mengatur proses pembelajaran pada mahasiswa menjadi lebih aktif dan mandiri karena dapat membantu untuk mengelola informasi dan mengikuti proses belajar dalam lingkungan digital serta self-regulated learning menjadi prasyarat dalam kesiapan mahasiswa dalam melakukan pembelajaran khususnya pembelajaran berbasis teknologi. Hu dan Driscoll . alam Mulyadi. Basuki, & Rahardjo, 2. melakukan penelitian di salah satu perguruan tinggi US pada mahasiswa yang mengikuti sebuah kursus mengungkapkan bahwa self-regulated learning diperlukan untuk pembelajaran yang membutuhkan kemandirian ditandai dengan minimnya keberadaan mentor atau dosen. Selain itu dengan banyaknya kendala yang dihadapi oleh mahasiswa membutuhkan self-regulated learning untuk membuat mahasiswa menjadi lebih tekun, fokus, disiplin, dan memiliki kemampuan untuk memperoleh pengetahuan secara mandiri (Oyelere. Olaleye. Balogun, & Tomczyk, 2. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa adanya perubahan pembelajaran berbasis teknologi membuat mahasiswa perlu memiliki kemampuan self-regulated learning untuk membantu mahasiswa dalam proses Dilihat dari tahap perkembangan, mahasiswa seyogianya telah masuk ke dalam kategori adult learner. Adapun karakteristik adult learner, yaitumemiliki kontrol atas pembelajaran. Hal ini menunjukkan bahwa ketika orang dewasa terlibat dalam proses pembelajaran memiliki kewenangan untuk menerapkan metode atau strategi belajar yang dapat membantu individu dalam mengontrol proses pembelajaran. Adanya kontrol atas pembelajaran membuat orang dewasa mampu untuk bertanggung jawab dan berusaha sebaik mungkin dalam berbagai tugas dan aktivitas pembelajaran yang dilakukan (Kapur, 2. Selain itu, karakteristik lainnya dari adult learner adalah termotivasi dalam situasi belajar. Biasanya orang dewasa antusias untuk mencapai tujuan atau sasaran yang diharapkan. Orang dewasa akan menyadari bahwa waktu dan sumber daya yang digunakan dalam proses belajar merupakan sesuatu yang akan memperoleh manfaat. Adanya motivasi ini juga membuat orang dewasa mampu menghadapi situasi yang tidak menyenangkan ketika proses pembelajaran dengan menemukan cara efektif untuk mengatasi masalah dan tantangan (Kapur, 2. Karakteristik tersebut menunjukkan bahwa seyogianya mahasiswa mampu untuk mengontrol dan bertanggung jawab dalam proses pembelajaran yang dilalui, mampu menerapkan keterampilan manajemen waktu yang efektif dan memungkinkan menggunakan waktu yang cukup dalam menyelesaikan semua tugas dan aktivitas yang dilakukan. Selain itu juga memiliki motivasi dalam belajar yang membuat mahasiswa bisa menghadapi situasi yang tidak menyenangkan dalam proses pembelajaran. Sehingga dapat disimpulkan bahwa karakteristik sebagai adult learner yang dimiliki oleh mahasiswa dapat membantu dalam menerapkan self-regulated learning. Akan tetapi, dalam proses pembelajaran berbasis teknologi masih banyak mahasiswa yang mengalami kendala dalam proses belajar dan cenderung kesulitan untuk menerapkan selfregulated learning. Penelitian yang dilakukan oleh Harahap . menunjukkan bahwa mahasiswa di salah satu universitas di Sumatera Utara cenderung memiliki tingkat self-regulated learning berada dalam kategori sedang yaitu sebanyak 71. 7%, 10. 8% berada di kategori rendah, 7% berada dalam kategori tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa kemampuan self-regulated learning mahasiswa masih perlu untuk ditingkatkan. Penelitian yang dilakukan oleh Biwer. Wiradhany, dkk . menunjukkan bahwa ratarata mahasiswa melaporkan kurang dapat menerapkan self-regulated learning dibandingkan Tenriwali Ridha Rahmah1*. Hari Setyowibowo2 Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 1 Juni 2024 Hal 30-43 sebelum pandemi. Hal ini disebabkan oleh ketidakmampuan mahasiswa untuk mempertahankan perhatian atau atensi ketika proses pembelajaran dan juga kurang memiliki motivasi dibandingkan sebelum pandemi. Lamanauskas. Makarskait-Petkevisien. Gorghiu. Santi & Pribeanu . juga melaporkan bahwa motivasi mahasiswa selama proses pembelajaran di saat pandemi termasuk rendah ke sedang dan motivasi intrinsik lebih rendah dibandingkan ekstrinsik. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sulitnya mahasiswa menerapkan self-regulated learning karena kurang memiliki motivasi selama proses pembelajaran berbasis teknologi khususnya selama pandemi. Hasil wawancara yang dilakukan oleh Esela pada tahun 2021 menunjukkan bahwa mahasiswa kesulitan untuk mengatur waktu selama proses pembelajaran, banyak distraksi atau hal eksternal yang mengganggu dalam proses pembelajaran, merasa bosan, jenuh dan stress. Selain itu mahasiswa juga jarang merencanakan proses pembelajaran, tidak memiliki strategi dalam belajar, dan cenderung kurang merasa memiliki motivasi (Esela, 2. Sehingga dapat terlihat bahwa mahasiswa masih mengalami kesulitan dalam menerapkan self-regulated learning. Ketidakmampuan mahasiswa untuk menerapkan self-regulated learning dapat berdampak pada hasil pembelajaran atau prestasi akademik yang diperoleh. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa terdapat korelasi positif antara penerapan SRL dan prestasi akademik dan performa akademik rendah pada mahasiswa juga disebabkan kegagalan dalam menerapkan SRL. Namun hasil penelitian yang dilakukan oleh Hilmiatussadiah . menunjukkan bahwa selama proses pembelajaran berbasis teknologi khususnya daring prestasi yang mahasiswa cenderung mengalami peningkatan. Hal ini disebabkan mahasiswa memperoleh materi perkuliahan dari dosen dan juga mencari materi tambahan jika mengalami kebingungan. Penelitian yang dilakukan oleh (Virgilia. Pratikto, 2. mengungkapkan bahwa mahasiswa perlu menerapkan self-regulated learning untuk mengoptimalkan proses pembelajaran. Hasil penelitian tersebut mengungkapkan bahwa self-regulated learning yang dilakukan oleh mahasiswa adalah meregulasi motivasi, perilaku dan kognitif. Sehingga hasil pembelajaran yang diperoleh oleh mahasiswa cenderung Berdasarkan hal tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran berbasis teknologi membutuhkan kemampuan self-regulated learning dari mahasiswa. Kemampuan tersebut seyogianya dapat dilakukan sebab mahasiswa sudah mampu untuk bertanggung jawab dan mengontrol proses pembelajaran yang dilalui. Beberapa mahasiswa mengalami hambatan dalam menerapkan self-regulated learning yang akhirnya berdampak pada hasil dan prestasi akademik. Namun beberapa mahasiswa lainnya cenderung mampu untuk menerapkan self-regulated Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran perilaku belajar mahasiswa dengan prestasi akademik yang tinggi dalam mengikuti pembelajaran berbasis teknologi berdasarkan perspektif self-regulated learning. Adapun pertanyaan penelitian yang diajukan yaitu bagaimana perilaku belajar pada mahasiswa yang memperoleh prestasi akademik (IPK) yang tinggi dalam proses pembelajaran berbasis teknologi berdasarkan perspektif selfregulated learning?. Penelitian ini penting dilakukan untuk mendapatkan informasi terkait penerapan self-regulated learning yang optimal dalam proses belajar dan sebagai pengembangan intervensi bagi mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam menerapkan self-regulated learning. METODE Penelitian ini menggunakan metode campuran . ix metho. dengan pendekatan sekuensial Pendekatan sekuensial eksplanatori merupakan metode campuran yang melibatkan dua fase, yaitu peneliti melakukan pengumpulan data kuantitatif pada fase pertama, menganalisis hasil, dan kemudian menggunakan hasil analisis tersebut untuk merencanakan fase kedua yaitu fase kualitatif. Hasil kuantitatif digunakan untuk menginformasikan jenis partisipan untuk dipilih dan jenis pertanyaan yang akan ditanyakan (Creswell, 2. Partisipan dalam penelitian ini adalah Mahasiswa Unpad Fakultas Psikologi. Pada fase pertama jumlah partisipan sebesar 63 orang dari total populasi 240 mahasiswa. Teknik pengambilan subjek pada sesi pertama adalah accidental sampling. Accidental sampling Tenriwali Ridha Rahmah1*. Hari Setyowibowo2 Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 1 Juni 2024 Hal 30-43 merupakan teknik pengambilan subjek secara acak dan kebetulan dapat ditemui . alam Creswell, 2. Fase kedua jumlah partisipan yang terlibat sebanyak 3 orang dengan kriteria merupakan mahasiswa aktif semester 2, 4 atau 6, berusia minimal 18 tahun, memiliki IPK di atas 3. 5, memiliki self-regulated learning dalam kategori tinggi yang diperoleh dari hasil pengukuran, dan bersedia untuk mengikuti penelitian. Penetapan kriteria partisipan berdasarkan pada tujuan penelitian yaitu mendapatkan perilaku belajar mahasiswa dengan prestasi akademik yang tinggi. Tujuan tersebut diturunkan menjadi . mahasiswa aktif yang megikuti pembelajaran, . semester 2,4 atau 6 karena pada semester tersebut mahasiswa sedang mengikuti pembelajaran berbasis teknologi, . IPK di 5 yang sebagai ukuran mahasiswa dengan prestasi akademik yang tinggi, . berusia minimal 18 tahun sebagai ukuran bahwa secara usia individu yang sudah dapat mengatur dan mengarahkan diri agar dapat belajar secara mandiri. Partisipan tersebut dipilih menggunakan teknik selective sampling. Selective sampling merupakan teknik pengambilan sampel yang dilakukan oleh peneliti dengan memilih partisipan penelitian berdasarkan tujuan penelitian. Partisipan penelitian tersebut diperoleh setelah melakukan pengamatan pada lingkungan sehingga mengetahui kriteria partisipan yang tepat dan sesuai dengan tujuan penelitian . alam Creswell, 2. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu pada fase pertama menggunakan skala A-SRL-S yang telah diadaptasi ke dalam Bahasa Indonesia yang digunakan untuk proses sampling atau menjaring partisipan sesuai dengan kriteria yang telah ditetapkan. Skala A-SRL-S memiliki koefisien reliabilitas sebesar 0. 93 dan terdiri atas 54 aitem dan menggunakan skala likert yang terdiri atas empat pilihan jawaban yaitu sangat setuju, setuju, tidak setuju, dan sangat tidak setuju. Skala A-SRL-S tersebut Berikut ini blue print dari alat ukur ASRL-S. Tabel 1. Blueprint A-SRL-S Aitem Indikator Jumlah Aitem Favorable Unfavorable Memory strategy Self-evaluation Organizing Goal setting Seeking assistance Environmental structuring 40,41,42 Learning responsibility Total Pada fase kedua, setelah peneliti menindaklanjuti hasil dari pengumpulan data pada fase Peneliti akan melakukan pengambilan data menggunakan teknik wawancara. Metode wawancara yang digunakan adalah wawancara semi terstruktur. Wawancara semi terstruktur merupakan salah satu jenis wawancara memberikan kebebasan kepada peneliti untuk mengatur alur wawancara, serta memiliki guideline interview sebagai pedoman dalam membuat pertanyaan agar sesuai dengan tema penelitian (Herdiansyah, 2. Peneliti menggunakan metode wawancara semi terstruktur karena peneliti ingin mengetahui dan mendapatkan pemahaman terkait pengalaman mahasiswa yang memiliki IPK tinggi dalam menerapkan self-regulated learning pada pembelajaran berbasis teknologi. Hal tersebut perlu untuk dikaji melalui proses wawancara sebab berkaitan dengan pemaknaan dan penghayatan subjektif individu yang bersangkutan. Proses wawancara juga akan menggunakan guideline interview yang berfungsi membantu peneliti untuk memandu alur pembicaraan (Herdiansyah, 2. Guideline interview dibuat oleh peneliti dengan . mendefinisikan setiap fase dari self-regulated learning, . menetapkan tujuan atau data yang ingin diperoleh dari Tenriwali Ridha Rahmah1*. Hari Setyowibowo2 Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 1 Juni 2024 Hal 30-43 wawancara pada setiap fase tersebut, . menyusun pertanyaan berdasarkan tujuan yang Adapun poin-poin pertanyaan dalam guideline interview diturunkan berdasarkan fase selfregulated learning yaitu fase perencanaan, pelaksaan dan evaluasi. Pertanyaan pada fase perencanaan seperti . apa yang ingin kamu capai dalam pembelajaran?, . Apa yang kamu persiapkan untuk mencapai tujuan tersebut?. Pertanyaan pada fase pelaksaan seperti . bagaimana cara kamu menerapkan perencanaan atau strategi belajar?, . jika menemukan kesulitan apa yang kamu lakukan?. Pertanyan pada fase pelaksanaan seperti . bagaimana cara kamu menilai apakah tujuan yang kamu tetapkan telah tercapai atau tidak? Observasi yang dilakukan dalam penelitian ini berupa perilaku-perilaku yang muncul selama proses wawancara baik berupa penampilan, gesture dan intonasi suara, interaksi subjek dengan peneliti, serta kegiatan harian lain subjek yang berkaitan dan dapat menjadi tambahan terhadap hasil wawancara (Creswell, 2. Analisis data pada fase pertama digunakan analisis data deskriptif yaitu teknik analisis dengan menjelaskan ataupun mendeskripsikan data dari variabel yang diteliti (Azwar, 2. Peneliti mengumpulkan data yang telah diisi oleh partisipan kemudian mendeksirpikan data Pada fase kedua analisis akan dilakukan menggunakan aplikasi MAXQDA versi 2020 dengan metode yang dikemukakan oleh Creswell . Mengelola dan mempersiapkan data hasil wawancara untuk dianalisis. Langkah yang dilakukan oleh peneliti yaitu menyiapkan transkripsi wawancara, mengetik data lapangan, men-scanning materi, atau memilah dan menyusun data tersebut ke dalam jenis yang berbeda tergantung pada sumber informasi. Membaca keseluruhan data. Peneliti memaknai verbatim yang telah dibuat. Membuat koding. Koding merupakan proses mengorganisasikan data dengan mengumpulkan potongan teks atau gambar dan menuliskan kategori dalam batas-batas. Terdapat tiga jenis pengelompokkan kode yaitu kode yang berkaitan dengan topik utama, kode yang mengejutkan atau tidak disangka di awal penelitian, dan kode yang ganjil dan memiliki keterkaitan konseptual. Pada tahap ini, peneliti menentukan kode-kode yang akan Menerapkan proses koding untuk mendeskripsikan tema yang akan dianalisis. Hasil proses ini akan menghasilkan sejumlah kecil tema atau kategori. Tema inilah yang menjadi hasil utama dalam penelitian. Tema yang telah diidentifikasi dapat dianalisis menjadi lebih kompleks, khusus pada penelitian dengan pendekatan naratif, tema tersebut dapat dikaitkan menjadi satu rangkaian cerita. Interpretasi data. Interpretasi data pada penelitian kualitatif adalah keluar dari kode dan tema menuju makna yang lebih luas. Interpretasi dapat berupa makna yang berasal dari perbandingan antara hasil penelitian dengan informasi yang berasal dari literatur atau teori. Peneliti melakukan interpretasi dari data hasil wawancara yang telah dikoding dan menyertakan hasil observasi dan studi dokumen yang telah dilakukan. Menyajikan dan memvisualisasikan data. Deskripsi dan tema yang telah dianalisis dan diinterpretasi selanjutnya disajikan kembali dalam bentuk laporan, biasanya disajikan dalam bentuk teks, tabel, bagan, atau gambar. Pendekatan yang paling populer ialah menerapkan pendekatan naratif dalam menyampaikan hasil analisis. Untuk membuktikan penelitian yang dilakukan merupakan penelitian ilmiah sekaligus menguji data yang diperoleh digunakan uji keabsahan data. Adapun uji keabsahan data yang digunakan pada fase kedua adalah triangulasi dan melakukan cross check terhadap pengkodean yang telah dibuat oleh peneliti. Proses cross check ini akan dilakukan dengan membandingkan antara hasil pengkodean yang diperoleh secara mandiri oleh peneliti dengan hasil pengkodean yang diperoleh oleh teman sejawat (Creswell, 2. Hasil dari proses cross check yang telah dilakukan disebut dengan intercoder agreement. Intercoder agreement dapat dikatakan agreement ketika pengkodean yang dilakukan oleh peneliti mirip satu sama lain dengan pengkodean teman Tenriwali Ridha Rahmah1*. Hari Setyowibowo2 Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 1 Juni 2024 Hal 30-43 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil pengambilan data kuantitatif menunjukkan bahwa partisipan yang memiliki IPK 3. 1 Ae 4 sebanyak 19 orang/ 30% . IPK 3. 5 Ae 3. 75 sebanyak 28 orang/ 44%, dan IPK 3. 76 Ae 4. 0 sebanyak 16 orang/ 26%. Pertisipan dengan kemampuan self-regulated learning dalam kategori sedang ratarata memperoleh IPL 3. 5 hingga 3. 75 sedangkan partisipan dengan self-regulated learning dalam kategori tinggi rata-rata memperoleh IPK diatas 3. Hal ini juga menunjukkan bahwa mahasiswa dengan IPK Tinggi mampu menerapkan self-regulated learning dalam proses belajar yang diikuti salah satunya dengan model pembelajaran berbasis teknologi yang meliputi hybrid atau blended learning. Adanya kemampuan tersebut membuat partisipan mampu mengatasi hambatan yang ditemukan dalam proses pembelajaran. Grafik 1 Self-regulated learning dan IPK Hasil penelitian fase dua yaitu pembelajaran berbasis teknologi yang saat ini diikuti membuat partisipan merasakan berbagai perbedaan. Perbedaan pertama terkait dengan lingkungan belajar, yaitu pada awalnya partisipan merasakan belajar di lingkungan universitas atau kelas dan bertemu dengan pengajar. Namun dengan adanya pola belajar baru membuat proses belajar bisa dilakukan dimana saja, salah satunya dirumah. Pembelajaran yang dilakukan di rumah membuat partisipan merasa tidak nyaman, banyak distraksi, dan tidak dapat fokus dengan proses pembelajaran. Hal ini dikarenakan adanya tugas tambahan yang diperoleh selain mengikuti proses pembelajaran. AuKalau yang paling dihayati, situasi lingkungan belajarnya Kak karena kalau misalkan dulu secara langsung gitu offline itu bisa lebih serius. Tapi kalau misalkan secara online berarti otomatis dirumah ya kan Kak. Nah di rumah itu, lingkungan di rumahnya nggak terlalu mendukung gitu, nggak terlalu kondusif. Soalnya nggak hanya mengerjakan satu tugas untuk kegiatan akademik saja tapi Z harus ngerjain tugas yang lainnya kayak misalkan ngebantuin adek gitu jadi harus bangun lebih pagi buat bantuin adek berangkat sekolah, kasih makan, kayak gituAy (Wawancara Z: 21-. Perbedaan kedua yang dirasakan adalah partisipan yaitu sumber belajar yang awalnya menggunakan buku yang dapat disentuh berubah menjadi bentuk ebook yang diakses menggunakan komputer. Selain itu, perbedaan lainnya adalah metode pencatatan yang dilakukan oleh partisipan, yaitu awalnya mencatat menggunakan buku berpindah menggunakan aplikasi google document untuk memudahkan mengikuti proses pembelajaran. Tenriwali Ridha Rahmah1*. Hari Setyowibowo2 Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 1 Juni 2024 Hal 30-43 AuAKayak alat pencatatannya gitu loh Kak, yang tadinya nggak pake google docs. Kan sekarang aku nyatetnya pake google docs yang tadinya aku nggak ngerti terus masih asing nyatet di laptop ngetik-ngetik gitu, mau nggak mau harus terbiasa karena pas di semester awal aku nyoba tulis tangan itu kayak nggak memungkinkan dan makan waktu cukup lama yang akhirnya aku ketinggalan cukup banyak materi, ketinggalan mencatat, kayak lama gitu dan akhirnya aku membiasakan diri untuk mengetikA. Ay (Wawancara S: 21-. AuA. tadinya aku buku banget yang tidak bisa belajar kalau tidak menggunakan buku karena suka nyoret-nyoret merangkum pakai kata-kata aku sendiri nah sekarang itu pdf, ebook, dan catatan aku juga di di google drive mau nggak mau jadi harus baca di layarAAy(Wawancara S: Hambatan yang paling dirasakan oleh partisipan adalah banyaknya distraksi dari lingkungan dan perasaan bosan yang dirasakan ketika mengikuti proses pembelajaran. Meskipun menghadapi hambatan tersebut, partisipan mencari cara untuk menghadapi hambatan tersebut. Salah satunya dengan menyiapkan diri dan mengatur lingkungan belajar sebelum proses belajar berlangsung. Proses menyiapkan diri dilakukan seperti bangun lebih awal sebelum proses kuliah atau pembelajaran, sarapan, dan mandi. Untuk mengatur lingkungan, partisipan menyiapkan peralatan yang dibutuhkan seperti laptop dan mengabari orang yang berada di lingkungan partisipan agar tidak mengganggu dalam beberapa saat karena partisipan akan berkuliah. AuA. Mejanya jangan ada barang-barang yang nggak penting, bilang ke orang rumah jangan diganggu kalau ada yang bisa ngerjain jangan aku dulu, terus nyiapin di laptop kayak ebook, gdocs, zoom jadi kayak ngeset layarAy (Wawancara S : 297-. AuZ selalu harus mandi dulu karena nggka nyaman kalau nggak mandi, madi dulu. Terus kalau sarapan, sarapan secukupnyaAy . awancara Z: 264-. Mengatur proses belajar dapat dilakukan oleh partisipan karena adanya tujuan yang ditetapkan dalam proses pembelajaran. Tujuan tersebut membuat partisipan mampu untuk menghadapi situasi yang tidak menyenangkan ketika proses pembelajaran dengan menemukan cara efektif. Partisipan juga memaknakan tujuan yang ditetapkan sebagai pendorong untuk melakukan sesuatu dalam proses belajar. AuAkarena jelas gitu arahnya mau kemana AAy (Wawancara F: 205-. AuAkalau misalnya ada tujuan pas males-malesan keingat tujuan eh jadinya bisa semangat dan nggak malas-malesanAAy . awancara S: 260-. Tujuan yang ditetapkan oleh partisipan juga membantu performa partisipan dalam proses Tujuan yang ditetapkan oleh partisipan adalah tujuan yang mampu untuk dicapai dan disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki namun tetap mampu untuk memotivasi. Hal ini dikarenakan tujuan yang lebih spesifik, menantang dan diperkirakan dapat dicapai lebih mampu menghasilkan kinerja yang lebih baik dibandingkan dengan penetapan tujuan apa adanya dan tidak memperhatikan kemampuan diri. AuAakhirnya aku kayak mikir-mikir lagi kayaknya aku nggak sanggup deh kalau misalnya terlalu apa yah menetap goals terlalu tinggiA. jadinya aku nurunin goals aku jadi sebisa mungkin e aku mencapai goals aku ituAAy (Wawancara S: 154-. Selain itu, partisipan juga membuat tujuan spesifik yaitu tujuan jangka panjang dan tujuan jangka pendek. Tujuan jangka panjang adalah perolehan IPK yang diharapkan sedangkan tujuan jangka pendek adalah memahami materi yang diajarkan oleh dosen, mengerjakan tugas dengan optimal dan sebaik mungkin, serta merinci lebih detail dengan membuat tujuan dalam mengerjakan tugas. Tenriwali Ridha Rahmah1*. Hari Setyowibowo2 Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 1 Juni 2024 Hal 30-43 AuA sekarang tujuan Z pengennya mempertahankan IPK yang sudah didapat dan kalau bisa jangan turun. Kalau jangka pendeknya untuk meminimalisir bisa dapetin hal itu Z harus ngerjain tugas atau praktikum dengan prepare wellAy (Wawancara Z: 107-. Penetapan tujuan tersebut juga berdasarkan dari analisis tugas yang dilakukan oleh partisipan dengan melihat beban tugas dan hasil merefleksikan diri. Partisipan melihat seperti apa beban tugas yang diperoleh dan kemampuan yang dimiliki hingga akhirnya partisipan menentukan tujuan yang mampu untuk dicapainya. Adapun kemampuan yang dimiliki dari partisipan yaitu mampu mengorganisir, disiplin, bertanggung jawab, dan mampu melihat hal positif ketika menghadapi situasi yang tidak menyenangkan. Hal ini membuat partisipan memiliki keyakinan diri yang memotivasi untuk mencapai tujuan. Penetepan tujuan oleh partisipan juga dipengaruhi oleh evaluasi diri yang dilakukan oleh Evaluasi diri terhadap tujuan yang ditetapkan dipandang sebagai sesuatu yang penting oleh partisipan untuk menentukan langkah selanjutnya yang akan dipilih atau dilakukan. AuAEvaluasi itu bisa bikin tahu salah dimana dan kedepannya gimana biar kesalahannya nggak diulangAy (Wawancara S: 260-. Untuk proses evaluasi, partisipan membandingkan perilaku belajar yang dilakukan dengan hasil yang diperoleh baik dari IPK yang didapatkan, pemahaman materi atau umpan balik dari tugas yang dikerjakan AuAkalau tujuannya tercapai senang berarti kayaknya dari situ aku bisa nilai bahwa aku tuh bisa capai tujuan itu dan mungkin kedepannya bisa aku lebihin nih tujuannyaAy (Wawancara F: Reaksi diri partisipan dalam proses evaluasi berbentuk respons adaptif, yaitu ketika partisipan mengalami kegagalan mencapai tujuan, partisipan berupaya untuk mencari cara lain agar tujuannya dapat tercapai. AuAkalau misalnya nggak berhasil e kadang ada rasa sedih dulu sedih kenapa bisa kayak gini, khawatir kayak gitu. Habis itu berarti harus mikirin ulang strateginya yang salah kedepannya apakah dari langkah Z belajarnya, di semester depannya bikin strategi baru lagiA. Ay (Wawancara Z: 202-. Strategi yang digunakan oleh partisipan untuk mencapai tujuan pembelajaran adalah merangkum materi perkuliahan dan menyediakan waktu untuk mereview kembali materi Selain itu juga, partisipan mengatur waktu proses pembelajaran sehingga bisa menjadi optimal. Austrateginya paling aku ada kayak review bareng bersama teman jugay (Wawancara S: Meskipun begitu, partisipan tidak memaksakan diri dalam proses pembelajaran. Partisipan menyediakan waktu istirahat dan melakukan aktivitas yang disenangi. Ketika dalam proses tersebut, partisipan merasa kehilangan semangat, partisipan tidak menyerah atau berhenti berupaya untuk mencapai tujuan. Akan tetapi partisipan mengambil jeda untuk menikmati hobi untuk mengembalikan energi dan semangat yang dimiliki. Au. cara balikinnya suka istirahat dulu kayak nonton film kayak lebih banyak nonton youtube, buka tiktok atau buka sosmed trus kadang beli makanan pedes. Ay (Wawancara Z: 222-. Tenriwali Ridha Rahmah1*. Hari Setyowibowo2 Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 1 Juni 2024 Hal 30-43 Ketika partisipan menghadapi hambatan, partisipan berupaya untuk mencari dukungan dari Dukungan ini baik berupa dukungan emosional yang dapat membantu partisipan untuk menjadi lebih bersemangat atau menguatkan partisipan maupun dukungan berupa pemberian informasi seperti ketika partisipan tidak memahami materi perkuliahan. Dukungan yang diterima oleh partisipan dapat membantu partisipan untuk lebih optimal dalam mencapai tujuan yang ditetapkan. AuAmencari dukungan kalau lagi kesusahan cerita ke teman-teman kayak duh ini susah banget aku nggak ngerti dan mereka menanggapi dan aku ngerasa didengar jadi kayak tenang ajay (Wawancara S: 303-. Berdasarkan hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa dalam proses pembelajaran berbasis teknologi, partisipan merasa proses pembelajaran yang berbeda dimana banyaknya distraksi yang Untuk mengatasi distraksi tersebut, partisipan perlu untuk menyiapkan diri dan mengatur lingkungan sebelum memulai proses pembelajaran. Kegiatan yang dilakukan oleh partisipan tersebut menunjukkan adanya usaha untuk menerapkan self-regulated learning dalam proses pembelajaran. Muasyaroh & Royanto . mengungkapkan bahwa salah satu upaya individu menerapkan self-regulated learning yaitu menyiapkan diri sebelum proses belajar Hal tersebut dapat mahasiswa mengatur proses pembelajaran menjadi lebih aktif dan dalam mengikuti proses belajar. Pada fase perencanaan . orethought and plannin. yang merupakan langkah awal yang dilakukan oleh individu untuk menentukan tahap-tahap yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan melakukan analisis tugas dan motivasi diri (Zimmerman. Pada partisipan penetapan tujuan menjadi hal penting karena menjadi pendorong untuk melakukan sesuatu dalam proses belajar. Kapur . mengungkapkan bahwa adanya tujuan yang dimiliki oleh individu dalam proses belajar dapat membantu individu untuk menghadapi situasi yang tidak menyenangkan dan menemukan cara efektif untuk mengatasi masalah dan tantangan. Tujuan yang ditetapkan oleh partisipan juga membantu performa partisipan dalam proses pembelajaran. Hal ini dikarenakan tujuan membuat partisipan memfokuskan upaya untuk mencapai hal yang diinginkan dan termotivasi akan hal tersebut . alam Urdan & Teramoto, 2. Zimmerman . juga mengungkapkan bahwa adanya tujuan dalam proses pembelajaran yang mampu dicapai oleh individu dapat meningkatkan keberhasilan akademik dari individu Oleh karena itu, adanya tujuan yang dibuat oleh partisipan membantu dalam proses pembelajaran agar memiliki performa yang baik dan hasil belajar yang memuaskan. Tujuan yang ditetapkan oleh partisipan merupakan tujuan yang mampu dicapai dan disesuaikan dengan kemampuan yang dimiliki. Selain itu juga tujuan dibuat spesifik mungkin mulai dari tujuan jangka panjang maupun jangka pendek. Locke dan Latham . mengungkapkan bahwa tujuan yang menantang bagi individu akan menghasilkan tingkat motivasi yang tinggi dan mampu memikirkan strategi baru untuk meningkatkan kinerja. Selain itu, membuat tujuan yang lebih spesifik membantu individu untuk memantau kemajuan dan menyesuaikan kinerja yang dimiliki. Sehingga tujuan tersebut mampu mendorong upaya penggunaan strategi dan mencapai hasil yang diharapkan. Tujuan yang telah ditetapkan memandu partisipan untuk menetapkan dan melaksanakan . erformance monitorin. strategi belajar yang akan digunakan seperti merangkum materi perkuliahan dan menyediakan waktu untuk mereview kembali materi pembelajaran. Selain itu juga, partisipan mengatur waktu proses pembelajaran sehingga bisa menjadi optimal. Hal ini sejalan dengan penelitian Dinata. Ragzianta, & Zainuddin . mengungkapkan bahwa selfTenriwali Ridha Rahmah1*. Hari Setyowibowo2 Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 1 Juni 2024 Hal 30-43 regulated learning memiliki peran penting dalam pembelajaran untuk membantu mengarahkan individu pada kemandirian belajar, yakni mengatur jadwal belajar, menetapkan target belajar dan mencari informasi yang dibutuhkan secara mandiri. Selain membuat strategi, partisipan mengungkapkan adanya upaya untuk mencari dukungan dari lingkungan. Dukungan yang didapatkan baik berupa dukungan emosional maupun pemberian Nasution . bahwa dukungan yang diberikan khususnya teman sebaya dapat membantu individu dalam proses pembelajaran untuk berusaha lebih keras dan memberikan semangat serta memotivasi untuk bisa menjadi lebih baik. Mencari dukungan ini menjadi temuan baru dalam penelitian bahwa partisipan dengan selfregulated learning dalam kategori tinggi atau dapat mengatur diri dalam proses belajar. Bersedia untuk mencari bantuan atau pertolongan ketika menemui hambatan. Situasi ini dapat terjadi sebab partisipan memahami tujuan yang ingin dicapai dan mengetahui kapan waktu untuk mencari dukungan atau bantuan dari lingkungan. Tujuan yang dimiliki oleh partisipan juga dapat dijadikan sebagai standar dan pembanding dalam fase evaluasi . eflections on performanc. Partisipan akan melakukan proses refleksi diri terhadap perilaku belajar yang telah dilakukan, hasil yang telah diperoleh dan tujuan yang telah ditetapkan di awal. Zimmerman . mengungkapkan bahwa proses evaluasi dapat dilakukan oleh individu denganmelakukan perbandingan antara standar kinerja yang telah ditetapkan atau tujuan dan perilaku yang telah dilakukan. Proses perbandingkan tersebut akan menunjukkan sejauh mana tujuan individu dalam belajar dapat tercapai. Proses ini akan membantu mengarahkan invidiu dan individu akan cenderung merasa puas dan memiliki keinginan untuk melakukan yang lebih baik lagi selanjutnya. Proses evaluasi yang dilakukan oleh partisipan sebagian besar menunjukkan respon adaptif yaitu berupaya untuk melakukan penyesuaian terdapat perilaku yang masih kurang dalam proses mencapai tujuan. Akan tetapi jika tujuannya telah tercapai maka individu akan menaikkan standar tujuan ke yang lebih tinggi dan mampu untuk dicapai. Zimmerman . mengungkapkan bahwa reaksi diri yang berupa respon adaptif dapat membantu individu untuk melakukan penyesuaian terhadap strategi atau upaya untuk meningkatkan efektifitas metode pembelajaran. Hal ini juga membuat individu mampu melakukan modifikasi terhadap strategi yang telah dibuat. Sehingga tujuan yang ditetapkan mampu untuk dicapai dan menjadi bahan untuk menentukan langkah SIMPULAN Perilaku belajar mahasiswa dengan prestasi akademik yang tinggi menunjukkan bahwa dalam proses pembelajaran mahasiswa memiliki tujuan dalam proses belajar. Tujuan ini ditetapkan merupakan tujuan yang mampu untuk dicapai dan spesifik berdasarkan waktu seperti tujuan jangka panjang dan tujuan jangka pendek. Adanya tujuan tersebut membantu untuk menetapkan strategi pembelajaran yang dapat dilakukan, seperti merangkum atau mereview hasil pembelajaran. Tujuan tersebut juga menjadi standar untuk melakukan evaluasi terhadap pelaksanaan ataupun perilaku Evaluasi dilakukan dengan membandingkan antara tujuan dan hasil yang diperoleh. Jika berhasil maka mahasiswa meningkatkan tujuannya menjadi lebih tinggi sedangkan jika tidak berhasil maka mahasiswa akan menyusun strategi baru yang dapat membantu mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Tenriwali Ridha Rahmah1*. Hari Setyowibowo2 Jurnal Psikohumanika. Volume 16. No 1 Juni 2024 Hal 30-43 DAFTAR PUSTAKA