Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 Vol. No. Juni 2025: 109-118 STRATEGI PRA-PRODUKSI PROGRAM TELEVISI BERBASIS EDUKASI DI ERA KONVERGENSI MEDIA: STUDI KASUS PROGRAM TAU GAK SIH? DI TRANS7 Rangga Saptya Mohamad Permana1 dan Safira Pratiwi Maulany2 Program Studi Televisi dan Film. Fakultas Ilmu Komunikasi. Universitas Padjadjaran. Jatinangor Sumedang Limajaya. Bandung. Indonesia E-mail: rangga. saptya@unpad. 2 safiramaulany@gmail. *E-mail Korespondensi: 1rangga. saptya@unpad. ABSTRAK. Artikel ini membahas strategi pra-produksi dalam program televisi edukatif bergenre news magazine, dengan studi kasus pada program Tau Gak Sih? yang tayang di TRANS7. Program ini menjadi contoh bagaimana media televisi dapat tetap relevan di tengah dominasi media digital dengan menyajikan konten yang informatif, ringan, dan menarik secara visual. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, dengan metode observasi partisipatif dan wawancara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tahapan pra-produksiAi meliputi riset ide, observasi lapangan, pitching, perizinan, dan manajemen logistikAimemegang peran penting dalam menghasilkan tayangan yang sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan audiens muda. Analisis dikaitkan dengan teori-teori komunikasi seperti agenda setting, uses and gratifications, gatekeeping, dan strategi produksi berbasis audiens. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perencanaan pra-produksi yang terstruktur dan adaptif sangat menentukan efektivitas dan daya tarik program televisi edukatif di era konvergensi media. Kata-kata kunci: Pra-produksi. televisi edukatif. news magazine. strategi produksi. analisis khalayak PRE-PRODUCTION STRATEGIES FOR EDUCATIONAL TELEVISION IN THE ERA OF MEDIA CONVERGENCE: A CASE STUDY OF THE TAU GAK SIH? PROGRAM ON TRANS7 ABSTRACT. This article explores pre-production strategies in educational television programming, focusing on a case study of Tau Gak Sih?, a news magazine-style show aired on TRANS7. The program demonstrates how television can remain relevant amidst the rise of digital media by offering content that is informative, light, and visually engaging. The research employs a qualitative descriptive approach, combining participant observation and in-depth interviews. The study finds that pre-production stagesAiincluding idea research, field observation, pitching, permitting, and logisticsAiare crucial in producing episodes that align with the needs and preferences of younger audiences. The findings are analyzed through the lens of communication theories such as agenda setting, uses and gratifications, gatekeeping, and audience-centered production. The study concludes that a structured and adaptive pre-production process is essential to ensure the effectiveness and appeal of educational television programs in the media convergence era. Keywords: Pre-production. educational television. news magazine. production strategy. audience analysis PENDAHULUAN Televisi masih menjadi salah satu media massa yang paling berpengaruh dalam membentuk opini publik dan perilaku sosial masyarakat, meskipun kehadiran media digital semakin mendominasi pola konsumsi informasi dewasa ini. Sebagai medium audiovisual yang mampu menggabungkan unsur suara, gambar, dan narasi, televisi memiliki keunggulan dalam menyampaikan pesan secara efektif dan menarik bagi berbagai segmen audiens (McQuail, 2. Namun, perkembangan televisi di Indonesia tidak terlepas dari tantangan besar terkait dengan kualitas konten yang ditawarkan. Banyak program televisi saat ini lebih menekankan unsur hiburan semata, tanpa memperhatikan nilai edukatif atau informatif. Tayangan-tayangan yang cenderung menampilkan kekerasan, konflik, dan sensasi demi mengejar rating telah menjadi kritik utama terhadap industri televisi nasional (Darwanto, 2. Dalam konteks ini, kehadiran program-program edukatif seperti Tau Gak Sih? yang disiarkan oleh TRANS7 memberikan alternatif tontonan yang informatif, ringan, dan tetap menghibur. Tau Gak Sih? merupakan program televisi bergenre news magazine yang menyajikan informasi menarik dari berbagai bidang seperti budaya, sains, teknologi, hingga fenomena sosial dengan pendekatan ringan dan visual yang Format program ini menggabungkan elemen vox-pop, narasi presenter, wawancara pakar, hingga infografik dan animasi. Hal ini menunjukkan upaya produsen untuk menghadirkan konten yang sesuai dengan selera penonton muda yang aktif di media sosial dan terbiasa dengan gaya konsumsi informasi yang cepat serta visualisasi yang menarik. Kajian terhadap program ini penting dilakukan karena menampilkan bagaimana proses produksi televisi tidak hanya mengandalkan Strategi Pra-Produksi Program Televisi Berbasis Edukasi di Era Konvergensi Media: Studi Kasus Program Tau Gak Sih? Di Trans7 (Rangga Saptya Mohamad Permana dan Safira Pratiwi Maulan. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 kreativitas saat syuting, tetapi juga bergantung pada tahapan pra-produksi yang terstruktur dan Tahap pra-produksiAiyang mencakup riset ide, pitching, observasi lapangan, pengurusan perizinan, hingga perencanaan teknisAi memegang peran vital dalam memastikan konten yang dihasilkan relevan, menarik, dan sesuai dengan karakteristik audiens sasaran. Selain itu, studi mengenai proses praproduksi program Tau Gak Sih? juga memberikan pemahaman yang lebih luas mengenai praktik kerja di industri media televisi Indonesia, termasuk bagaimana sebuah ide dikembangkan menjadi episode yang siap tayang. Melalui pendekatan akademik, artikel ini mencoba menjembatani antara praktik profesional dan kajian teoretis dalam bidang komunikasi massa, khususnya produksi media dan analisis Oleh karena itu, artikel ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam proses praproduksi program Tau Gak Sih? di TRANS7 dengan menyoroti strategi produksi yang digunakan, tantangan yang dihadapi, serta bagaimana proses ini dikaitkan dengan teori-teori komunikasi dan produksi televisi. Harapannya, penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi pengembangan praktik produksi televisi yang berbasis riset dan orientasi audiens di era media METODE Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk memberikan gambaran sistematis dan mendalam tentang proses pra-produksi program televisi Tau Gak Sih? yang tayang di stasiun televisi TRANS7. Pendekatan ini digunakan karena mampu menangkap realitas sosial yang kompleks serta menjelaskan proses produksi berdasarkan pengalaman langsung dan interpretasi penulis selama melakukan penelitian lapangan. Penelitian ini dilakukan di kantor redaksi TRANS7 yang berlokasi di Gedung TRANS Media. Jl. Kapten P. Tendean. Mampang Prapatan. Jakarta Selatan. Kegiatan penelitian lapangan dilaksanakan selama dua bulan, terhitung sejak 20 Agustus hingga 19 Oktober Penelitian terfokus pada unit kerja Divisi Produksi Program Tau Gak Sih? yang berada di bawah Departemen Produksi Non-Dramatis. Objek utama dalam penelitian ini adalah proses perencanaan produksi atau pra-produksi program Tau Gak Sih? yang mencakup kegiatan riset, observasi, pitching, perizinan, serta manajemen kru dan logistik. Fokus penelitian ditekankan pada tahap pra-produksi karena merupakan fondasi penting dalam menentukan kualitas konten dan efisiensi produksi. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik observasi partisipatif, wawancara mendalam, studi dokumen dan studi pustaka. Ketika melakukan observasi partisipatif, penulis terlibat langsung dalam kegiatan produksi. Keterlibatan ini memungkinkan penulis melakukan pengamatan terhadap aktivitas seharihari tim produksi mulai dari tahap awal praproduksi hingga persiapan produksi di lapangan. Observasi dilakukan terhadap kegiatan rapat redaksi, proses pitching, penyusunan rundown, serta proses logistik dan administrasi produksi. Wawancara dilakukan secara langsung dan informal terhadap berbagai pihak yang terlibat dalam produksi, antara lain: . Taufik Imansyah selaku produser, yang memberikan arahan dan keputusan akhir dalam pitching. Nabila. Desta. Heri dan Okki selaku reporter, yang bertanggung jawab melakukan riset, observasi, dan menyusun konsep episode. Alvin. Paunk dan Indra selaku kamerawan, yang memberikan gambaran teknis terkait kebutuhan alat dan proses syuting. Amar selaku Production Assistant (PA), yang mengatur jadwal, logistik, dan administrasi lapangan. Wawancara dilakukan untuk memperoleh informasi tentang struktur kerja, pertimbangan dalam pemilihan tema, dan hambatan yang biasa terjadi dalam praproduksi. Penulis mengumpulkan, menganalisis dan mengekstrak dokumen-dokumen internal seperti format rundown, daftar peralatan produksi, formulir permohonan liputan, serta jadwal produksi yang kemudian digunakan sebagai bahan penunjang dalam analisis. Dokumendokumen ini memperlihatkan alur birokrasi internal serta pembagian kerja dalam tim Penelitian ini juga didukung oleh telaah pustaka dari berbagai literatur mengenai produksi televisi, komunikasi massa, dan strategi manajemen media. Studi pustaka digunakan untuk menyusun kerangka konseptual serta mengaitkan hasil temuan lapangan dengan teori yang relevan. Dengan pendekatan ini, penelitian diharapkan dapat menjelaskan dinamika kerja produksi televisi secara mendalam dan memberikan kontribusi pada pemahaman tentang perencanaan program televisi yang berbasis riset dan kebutuhan khalayak. HASIL DAN PEMBAHASAN Gambaran Umum Program Magazine Program televisi bergenre magazine atau majalah udara merupakan salah satu bentuk Strategi Pra-Produksi Program Televisi Berbasis Edukasi di Era Konvergensi Media: Studi Kasus Program Tau Gak Sih? Di Trans7 (Rangga Saptya Mohamad Permana dan Safira Pratiwi Maulan. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 siaran non-berita yang menampilkan berbagai informasi dalam format rubrik yang terstruktur. Mirip dengan majalah cetak, program ini memiliki periode tayang tertentu, seperti mingguan atau bulanan, dan menyajikan beberapa rubrik tematik dalam satu episode. Setiap rubrik biasanya membahas satu bidang kehidupan, seperti budaya, musik, film, atau pendidikan, dengan menggunakan berbagai format penyajian seperti wawancara, vox pop, hingga pergelaran Ciri khas program ini adalah penyaji . yang berfungsi sebagai narator sekaligus penghubung antar rubrik. Penyajian visual memegang peranan penting, dengan sekitar 75% isi disampaikan dalam bentuk ilustrasi visual untuk memperkuat narasi (Wibowo, 1. Meskipun menyerupai program feature, perbedaan utama terletak pada keberagaman tema dan struktur rubrik dalam satu episode. Perencanaan program magazine melibatkan tim produksi yang terdiri dari produser, redaktur, reporter, dan pembahas. Produser berperan sebagai koordinator yang menentukan isi dan susunan rubrik, sementara redaktur bertanggung jawab mengelola konten sesuai dengan rubriknya masing-masing. Proses editorial tidak menunggu instruksi formal dari produser, melainkan proaktif mengumpulkan materi yang potensial digunakan pada edisi-edisi Untuk menjaga kualitas sajian, liputan yang dilakukan harus selektif dan berorientasi pada nilai berita serta relevansi dengan tema utama program. Dalam satu episode berdurasi 30 menit, idealnya terdapat empat hingga enam rubrik dengan durasi yang proporsional untuk menjaga ritme tayangan tetap menarik dan tidak monoton. Tahapan produksi program magazine meliputi penyusunan ide pokok, pengumpulan dan seleksi materi, penyusunan naskah penghubung, serta proses rekaman dan penyuntingan. Materi yang tidak memenuhi standar kualitas, baik dari sisi isi maupun teknis, harus dieliminasi sejak awal. Ketelitian dalam tahap ini sangat penting agar program tidak kehilangan integritas editorial. Setelah konten tersusun, penulisan naskah penghubung menjadi elemen strategis untuk menciptakan kesinambungan antar segmen. Naskah ini dapat disampaikan melalui voice over atau langsung oleh presenter. Kualitas produksi sangat bergantung pada pengelolaan naskah dan koordinasi antar elemen produksi, karena kesalahan kecil dapat berdampak pada keseluruhan daya tarik program (Wibowo, 1. Pengembangan gagasan dalam program magazine memerlukan kreativitas yang tinggi, terutama dalam memilih rubrik dan menentukan gaya penyajian. Sebagai contoh, pada program magazine bertema perempuan, rubrik dapat mencakup topik seperti gaya hidup, tokoh dan karier, musik, serta berita. Format dokumenter atau wawancara dengan narasi voice over dapat memperkaya isi program. Keunikan tokoh atau fenomena yang ditampilkan menjadi nilai jual utama dalam menciptakan keterikatan emosional dengan audiens. Dokumentasi visual yang mendalam, seperti peliputan sejarah tokoh wanita inspiratif, mampu memperkuat daya tarik naratif dan mendukung fungsi edukatif program. Oleh karena itu, pengembangan gagasan harus mempertimbangkan segmen penonton, kekayaan visual, serta kesinambungan pesan yang Proses produksi program magazine tidak terlepas dari riset yang mendalam, baik terkait audiens maupun materi konten. Riset audiens dilakukan untuk menentukan tema yang relevan, sementara riset isi membantu dalam pemilihan narasumber, musik, atau peristiwa yang akan Hasil riset kemudian dikompilasi dan dipadukan melalui penulisan skrip yang berfungsi sebagai benang merah antara segmensegmen yang ada. Setelah skrip disusun secara utuh, proses produksi dimulai dengan pengambilan gambar dan pengarahan presenter. Tahapan ini menuntut koordinasi tinggi antar kru agar pesan yang ingin disampaikan dapat divisualisasikan secara jelas, cepat, dan menarik. Dalam konteks ini, program magazine memerlukan pendekatan produksi yang holistik, integratif, dan berbasis audiens untuk memastikan efektivitas dan relevansi tayangan di tengah dinamika media kontemporer. Tahapan Pra-Produksi Program Tau Gak Sih? Riset dan Pengembangan Ide Riset ide dalam program Tau Gak Sih? dilakukan oleh reporter yang memiliki tanggung jawab untuk mengusulkan topik berdasarkan fenomena aktual. Riset ini tidak hanya dilakukan secara daring melalui internet dan media sosial, tetapi juga secara luring dengan mengamati tren di masyarakat. Dalam perspektif Teori Agenda Setting (McCombs & Shaw, 1. , pemilihan isu untuk dijadikan topik liputan berpengaruh dalam membentuk fokus perhatian publik. Reporter sebagai aktor produksi memainkan peran penting dalam menentukan topik yang relevan dengan kebutuhan informasi khalayak. Sebagai program yang ditujukan untuk audiens muda, proses pemilihan ide sangat mempertimbangkan unsur kedekatan . , kebaruan . , dan dampak . , yang Strategi Pra-Produksi Program Televisi Berbasis Edukasi di Era Konvergensi Media: Studi Kasus Program Tau Gak Sih? Di Trans7 (Rangga Saptya Mohamad Permana dan Safira Pratiwi Maulan. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 merupakan elemen dasar dalam nilai berita . ews Ide yang dianggap layak kemudian dituangkan dalam bentuk sinopsis atau gagasan singkat untuk dipresentasikan dalam forum Observasi Lapangan dan Seleksi Lokasi Setelah ide diterima, tahapan observasi lapangan dilakukan. Observasi ini mencakup survei lokasi syuting, pemilihan narasumber, dan verifikasi kelayakan konten. Proses ini penting dalam memastikan bahwa lokasi sesuai dengan pesan visual yang ingin disampaikan. Dalam konteks produksi televisi, observasi lapangan termasuk dalam tahapan pre-shooting yang bertujuan untuk mengurangi risiko teknis di lapangan (Djamal & Fachrudin, 2. Lebih jauh, kegiatan ini juga berkaitan dengan prinsip Uses and Gratifications Theory (Katz. Blumler, & Gurevitch, 1. yang menyatakan bahwa pemirsa memilih media berdasarkan kegunaan dan relevansi konten terhadap kehidupannya. Oleh karena itu, observasi tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga strategis dalam menyesuaikan konten dengan ekspektasi khalayak sasaran. Pitching dan Seleksi Materi Pitching merupakan tahap krusial dalam sistem editorial program ini. Dalam rapat redaksi yang dilakukan dua kali seminggu, reporter mempresentasikan usulan tema dan angle liputan kepada produser dan tim lainnya. Keputusan akhir ditentukan oleh produser dengan mempertimbangkan aspek kesesuaian dengan format program, urgensi isu, dan nilai hiburan . ntertainment valu. Proses ini menunjukkan praktik gatekeeping (White, 1. , di mana produser dan tim redaksi berperan sebagai penyaring informasi sebelum disampaikan ke Dalam sistem produksi media, gatekeeping adalah bentuk pengendalian isi yang dapat memengaruhi agenda dan persepsi audiens. Seleksi materi yang ketat ini juga mendukung pemeliharaan identitas program dan kohesi format tayangan. Pengurusan Administrasi Produksi Setelah tema disetujui, proses administrasi menjadi tahap berikutnya yang melibatkan pengajuan surat izin liputan, peminjaman alat produksi, dan pengaturan jadwal kru. Manajemen produksi yang rapi sangat menentukan kelancaran proses syuting. Dalam literatur produksi media, tahapan ini merupakan bagian dari line production (Zettl, 2. , yaitu pengorganisasian teknis dan operasional untuk mendukung proses kreatif. Kegiatan ini juga antarbagian, seperti hubungan antara divisi produksi dan bagian peralatan, bagian keuangan, serta divisi kreatif. Efisiensi dalam aspek administratif akan berdampak langsung pada efisiensi anggaran dan kualitas output visual yang Analisis Khalayak dan Penyesuaian Format Program Tau Gak Sih? menargetkan audiens muda, khususnya usia 15Ae35 tahun yang aktif di media sosial dan memiliki preferensi terhadap konten visual yang cepat, menarik, dan Oleh karena itu, dalam tahap perencanaan, produser dan kru mempertimbangkan gaya pengambilan gambar, tone penyampaian narasi, dan pemilihan narasumber yang relevan. Dalam konteks teori analisis khalayak, pendekatan ini sejalan dengan model audiencecentered production (Livingstone, 2. , di mana strategi produksi didesain berdasarkan karakteristik dan pola konsumsi media audiens. Format yang digunakan pun fleksibelAi menggabungkan vox-pop, animasi, narasi presenter, hingga wawancara dengan ahliAiyang menunjukkan bentuk segmentasi visual untuk menyesuaikan preferensi penonton. Penting pula dicatat bahwa dalam menghadapi tantangan konvergensi media, program ini juga diproduksi untuk bisa dikonsumsi ulang melalui platform digital seperti YouTube dan media sosial. Hal ini mencerminkan strategi multiplatform yang menjadi ciri khas media kontemporer (Jenkins, 2. , di mana konten televisi tidak hanya ditujukan untuk layar kaca tetapi juga untuk konsumsi on-demand. Sinergi Tim Produksi dan Dinamika Kerja Hasil observasi menunjukkan bahwa keberhasilan perencanaan pra-produksi sangat ditentukan oleh kerja sama antarpersonel di dalam tim produksi. Tugas dan tanggung jawab dibagi secara jelas, dan masing-masing anggota tim memiliki peran strategis dalam eksekusi Sinergi tim ini memperlihatkan penerapan prinsip kerja kolektif dalam industri media yang menuntut efisiensi tinggi dan kecepatan kerja. Dalam konteks ini, peran produser sebagai pemimpin redaksi memiliki otoritas dan tanggung jawab untuk mengarahkan ritme kerja dan menjaga kohesi tim. Konsep ini sejalan dengan teori organisasi dalam media produksi yang menekankan pentingnya peran kepemimpinan dan struktur kerja dalam menciptakan konten berkualitas (Picard, 2. Secara keseluruhan, tahapan pra-produksi program Tau Strategi Pra-Produksi Program Televisi Berbasis Edukasi di Era Konvergensi Media: Studi Kasus Program Tau Gak Sih? Di Trans7 (Rangga Saptya Mohamad Permana dan Safira Pratiwi Maulan. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 Gak Sih? menggambarkan praktik media yang kompleks dan berlapis, di mana aspek kreatif, teknis, dan manajerial saling terkait dan menentukan kualitas hasil akhir tayangan. Vox-pop dalam Program Televisi: Representasi Suara Masyarakat dan Analisis Khalayak Program vox-pop atau vox populi, yang secara harfiah berarti "suara rakyat", merupakan salah satu segmen dalam program televisi yang dirancang untuk menampilkan pendapat masyarakat umum terhadap suatu isu tertentu. Dalam konteks produksi televisi, vox-pop berfungsi sebagai jembatan antara media dan audiens, di mana suara publik direkam dan disiarkan untuk memberikan keberagaman perspektif dalam menyikapi suatu persoalan. Wibowo . membedakan dua fungsi utama dari vox-pop, yakni sebagai program mandiri dan sebagai bagian dari proses riset opini publik. Dalam konteks pertama, vox-pop memperkaya struktur narasi tayangan dengan menampilkan suara akar rumput yang autentik dan kontekstual. sementara dalam konteks kedua, vox-pop berperan sebagai alat pengumpul data kualitatif yang mencerminkan pola pikir dan sikap Dalam praktik produksi, integrasi segmen vox-pop dalam tayangan televisi berkontribusi pada pembentukan realitas sosial yang dikonstruksi melalui mekanisme representasi. Menurut teori konstruksi sosial atas realitas media (Berger & Luckmann, 1. , media massa bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk makna melalui seleksi, penyusunan, dan penyajian pesan. Oleh karena itu, pendapat-pendapat masyarakat yang ditampilkan dalam vox-pop bukanlah cerminan utuh realitas publik, melainkan representasi terpilih yang disesuaikan dengan sudut pandang naratif program. Dengan demikian, keberadaan vox-pop menciptakan ruang diskursif yang memungkinkan pemirsa menimbang beragam pendapat yang muncul dan membandingkannya dengan pendapat pribadinya, sebagaimana dijelaskan oleh Wibowo . Lebih jauh, vox-pop berperan penting dalam kerangka audience analysis atau analisis khalayak, terutama dalam pendekatan uses and gratifications (Katz. Blumler, & Gurevitch. Melalui segmen ini, program televisi memberikan ruang partisipasi simbolik kepada pemirsa, di mana mereka tidak hanya menjadi konsumen pasif, tetapi juga aktor sosial yang perspektifnya diwakili secara eksplisit di layar. Tayangan vox-pop memungkinkan audiens merasa terlibat secara emosional dan intelektual, serta memperkuat ilusi interaktivitas antara media dan publik. Kehadiran vox-pop juga memperlihatkan bagaimana televisi mencoba memahami kebutuhan informasi, identitas, dan integrasi sosial audiensnya. Oleh karena itu, segmentasi konten vox-pop sering kali dirancang agar relevan dengan kelompok audiens sasaran, baik dari segi usia, kelas sosial, maupun lokasi Namun demikian, produksi vox-pop juga tidak terlepas dari dinamika seleksi dan gatekeeping yang dilakukan oleh tim produksi. Dalam proses ini, tidak semua pendapat yang direkam akan ditayangkan. Produser akan memilih kutipan-kutipan yang paling menarik, kontroversial, atau representatif terhadap arah editorial program. White . dalam teorinya tentang gatekeeping menjelaskan bahwa proses seleksi berita tidak netral, melainkan dipengaruhi oleh nilai-nilai subjektif dan strategi naratif Oleh karena itu, isi vox-pop yang ditayangkan harus dipahami sebagai hasil konstruksi yang bertujuan mendukung struktur program secara keseluruhan, bukan sebagai representasi objektif opini publik. Dengan demikian, vox-pop dalam program televisi memiliki kedudukan yang unik sebagai bentuk partisipasi simbolik khalayak sekaligus instrumen strategis dalam produksi narasi media. Fungsi ganda ini menjadikan vox-pop sebagai bagian penting dari strategi komunikasi media yang berorientasi pada engagement dan responsivitas audiens. Di tengah kompetisi industri penyiaran yang semakin kompleks, segmen seperti vox-pop memungkinkan program televisi tampil lebih dekat dengan publik, meningkatkan kredibilitas, dan memberikan kesan kebertarungan isu secara sosial. Dengan mengaitkannya pada konsep representasi, konstruksi realitas, serta perilaku audiens, voxpop bukan sekadar cuplikan opini, tetapi juga refleksi hubungan dinamis antara media dan SIMPULAN Berdasarkan hasil analisis terhadap proses produksi program televisi bergenre magazine serta studi kasus pada program Tau Gak Sih? di TRANS7, dapat disimpulkan bahwa keberhasilan sebuah tayangan sangat ditentukan oleh ketepatan dan kelengkapan tahap pra-produksi. Program magazine ditandai oleh struktur rubrik yang beragam, penyajian visual yang kuat, serta keterlibatan tim produksi dalam penyusunan konten yang informatif dan menarik. Perencanaan yang melibatkan produser, redaktur. Strategi Pra-Produksi Program Televisi Berbasis Edukasi di Era Konvergensi Media: Studi Kasus Program Tau Gak Sih? Di Trans7 (Rangga Saptya Mohamad Permana dan Safira Pratiwi Maulan. Jurnal Kajian Budaya dan Humaniora Ae ISSN 2656-7156 dan reporter secara simultan memungkinkan program menjaga keberagaman format, daya tarik naratif, dan kesinambungan isi yang relevan dengan segmentasi audiens. Pada program Tau Gak Sih?, praktik praproduksi menunjukkan bagaimana teori komunikasi massa seperti Agenda Setting. Uses and Gratifications, dan gatekeeping diterapkan dalam proses seleksi isu, observasi lapangan, pitching, dan administrasi produksi. Proses ini memperlihatkan bagaimana produksi televisi bukan hanya bersifat teknis, melainkan juga strategis, dengan mempertimbangkan preferensi audiens muda dan tuntutan industri media digital. Penyesuaian format tayangan dengan selera visual dan interaktivitas audiens menjadi kunci dalam mempertahankan atensi pemirsa dan memperluas jangkauan program ke ranah Segmen vox-pop dalam program televisi juga terbukti memainkan peran signifikan sebagai bentuk representasi opini publik sekaligus sebagai mekanisme engagement. Melalui vox-pop, tayangan tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi juga mengajak pemirsa untuk membandingkan perspektif mereka sendiri dengan pendapat masyarakat Dalam konteks produksi, vox-pop merupakan ruang diskursif yang memungkinkan terjadinya konstruksi realitas sosial melalui seleksi naratif yang dilakukan oleh tim editorial. Fungsi ganda segmen ini, baik sebagai alat editorial maupun sebagai kanal partisipasi simbolik audiens, menunjukkan kompleksitas relasi antara media dan masyarakat dalam membentuk wacana publik. Selain itu, keberhasilan produksi juga sangat bergantung pada sinergi antarpersonel di dalam tim produksi, termasuk dalam hal koordinasi peran, efisiensi logistik, dan kepekaan terhadap dinamika editorial. Produksi program televisi seperti Tau Gak Sih? menuntut kepemimpinan redaksional yang kuat, serta pembagian tugas yang jelas untuk menghasilkan konten berkualitas yang sesuai dengan standar industri dan ekspektasi audiens. Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa keberhasilan media ditentukan oleh perpaduan antara kreativitas, manajemen strategis, dan adaptabilitas terhadap konvergensi media. Dengan demikian, program televisi nondrama seperti magazine dan vox-pop tidak hanya menjadi wadah informasi dan hiburan, tetapi juga berfungsi sebagai instrumen edukatif, partisipatif, dan reflektif dalam kehidupan masyarakat. Kajian ini mempertegas pentingnya pra-produksi yang berbasis riset, orientasi audiens, dan kolaborasi tim sebagai fondasi utama untuk menciptakan tayangan yang relevan, bermakna, dan berdaya saing di tengah ekosistem media yang semakin kompleks. DAFTAR PUSTAKA