Vol 2 No. 4 Oktober 2025 P-ISSN : 3047-2806 E-ISSN : 3047-2075. Hal 106 - 112 JURNAL PADAMU NEGERI Halaman Jurnal: https://journal. id/index. php/jpn Halaman UTAMA Jurnal : https://journal. DOI:https://doi. org/10. 69714/9zp8gg36 PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN VISUAL DALAM MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR BAHASA INGGRIS PADA SISWA SEKOLAH DASAR Husnaeni Amelia Fatimah a*. Alya Zalfa Annisa b. Amanda Seftiyani c. Siti Jubaedah d a Fakultas Ilmu Pemdidikan / Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, husnaeniamelia@gmail. IKIP Siliwangi b Fakultas Ilmu Pemdidikan / Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, alyazalfaannisa@gmail. IKIP Siliwangi c Fakultas Ilmu Pemdidikan / Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, amandaseftiyani21@gmail. IKIP Siliwangi d Fakultas Ilmu Pemdidikan / Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, sitijubaedahtiti15@gmail. IKIP Siliwangi Korespondensi ABSTRACT This study aims to describe the impact of using visual learning media on elementary school students' motivation to learn English. The background of the study lies in the lack of student engagement during English lessons, which are often delivered in a monotonous and text-heavy format. The research was conducted at SDN 270 Gentra Masekdas Bandung using a descriptive qualitative approach. The participants consisted of 26 fourth-grade students. Data were collected through three instruments: . student evaluation sheets to measure cognitive understanding, . open-ended questionnaires to explore studentsAo affective responses, and . observation sheets to assess the implementation of visual learning media in the classroom. The results showed that the use of visual learning media improved students' understanding of the material, enhanced emotional engagement, and encouraged independent learning and confidence in expressing opinions. Evaluation results indicated that 80% of students achieved a high level of performance. Other findings revealed that visual learning media fostered a conducive, competitive, and collaborative learning atmosphere. Visual learning media proved to be effective in increasing students' motivation and are recommended for use in English instruction at the elementary level, particularly in the context of 21st-century learning that emphasizes visual and digital literacy. Keywords: English language, visual learning media, learning motivation Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh penggunaan media pembelajaran visual terhadap motivasi belajar Bahasa Inggris siswa sekolah dasar. Latar belakang penelitian ini adalah rendahnya keterlibatan aktif siswa dalam pembelajaran Bahasa Inggris yang bersifat tekstual dan monoton. Penelitian dilakukan di SDN 270 Gentra Masekdas Bandung dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Subjek penelitian terdiri dari 26 siswa kelas IV. Teknik pengumpulan data menggunakan tiga instrumen, yaitu: . lembar evaluasi siswa untuk mengukur pemahaman kognitif. angket terbuka untuk menggali respons afektif siswa. lembar observasi untuk menilai implementasi media pembelajaran visual dalam proses pembelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan media pembelajaran visual mampu meningkatkan pemahaman materi, memperkuat keterlibatan emosional, serta mendorong kemandirian dan keberanian siswa dalam menyampaikan pendapat. Evaluasi hasil belajar menunjukkan bahwa 80% siswa mencapai kategori tinggi. Temuan lain menunjukkan bahwa media pembelajaran visual membantu menciptakan suasana belajar yang kondusif, kompetitif, dan kolaboratif. Media pembelajaran visual terbukti efektif dalam meningkatkan motivasi belajar siswa dan layak diterapkan dalam pembelajaran Received June 20, 2025. Revised July 19 , 2025. Accepted August 16, 2025. Online Available August 21. Husnaeni Amelia Fatimah dkk / Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 106 Ae 112 Bahasa Inggris di sekolah dasar, khususnya dalam konteks pembelajaran abad ke-21 yang menuntut keterampilan literasi visual dan digital. Kata Kunci: English language, visual learning media, learning motivation PENDAHULUAN Sebagai ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang paling sempurna, sejak dilahirkan dan bertumbuh manusia dianugerahkan banyak kemampuan, salah satu yang terpenting adalah berbahasa. Dalam menjalankan kehidupan dan mencapai tujuan dalam kehidupan, manusia tidak bisa terlepas dari berbahasa. Komponen yang utama dalam berbahasa ialah bahasa. Berbahasa tidak mungkin terlaksanakan bila tanpa menggunakan bahasa, sama seperti ketika seseorang ingin memecahkan soal perkalian tidak mungkin orang tersebut tidak bisa berhitung ataupun mengenal angka terlebih dahulu. Manusia memiliki potensi kognitif yang mendukung kemampuan dalam menguasai bahasa. Kemampuan berbahasa yang dimiliki manusia adalah ciri khas dan identitas manusia tersebut. Adapun tahapan manusia dalam menguasai bahasa sesuai dengan perkembangan kognitifnya, dari mengenal huruf hingga menjadi kata, dari kata menjadi kalimat, dari kalimat menjadi paragraf lalu membentuk wacana. Dalam hal ini, sudah jelas bahwa bahasa sangat penting dalam kehidupan manusia baik sebagai alat komunikasi, sarana berpikir dan berekspresi, warisan budaya serta pengembangan pengetahuan. Dalam prosesnya, efektivitas dalam aktivitas berbahasa memiliki beberapa faktor unggulan, seperti jenis bahasa dan kualitas dari bahasa yang disampaikan. Seseorang yang unggul dalam aspek bahasa memiliki kemampuan berpikir yang lebih tajam, lebih terbuka dan mudah menerima serta memahami informasi, memiliki seni dalam menyampaikan ide atau gagasan dengan jelas dan meyakinkan. Perkembangan awal dalam kehidupan manusia, bahasa ibu memegang peran yang sangat krusial. Fondasi utama bagi perkembangan manusia pada aspek kognitif, sosial dan afektif akan selalu dipegang erat oleh bahasa ibu. Bahasa ibu diperoleh secara alami melalui interaksi lingkungan sekitar yang terdekat. Tidak hanya mendukung perkembangan kemampuan berbahasa, penanaman bahasa ibu pada periode awal kehidupan dapat memperkuat identitas negara asal, nilai-nilai budaya dan ketertarikan emosional terhadap tempat asal. Adapun dampak jika bahasa ibu diabaikan dalam proses tumbuh kembang anak mampu mempengaruhi kemampuan berpikir secara abstrak dan gangguan dalam perkembangan bahasa. Di era teknologi yang berkembang pesat ini, kemampuan berbahasa semakin menjadi keterampilan yang dijunjung tinggi. Bahasa menjadi bagian penting sebagai identitas negara yang menjadi penghubung dengan negara lainnya, alat penggerak kemajuan ilmu pengetahuan, serta instrumen untuk beradaptasi dalam masyarakat multikultural yang dinamis. Seiring dengan zaman yang berkembang, bahasa asing tidak bisa ditinggalkan begitu saja, mengingat kebutuhan dalam terampil menggunakan bahasa asing diperlukan. Untuk itu, bahasa ibu sebagai bahasa utama bagi kehidupan manusia dilanjutkan bahasa asing sebagai bahasa kedua yang menjadi keterampilan manusia dalam menghadapi masa yang akan datang. Bahasa asing yang masih memegang tingkat teratas sekaligus ditetapkan sebagai bahasa internasional ialah Bahasa Inggris. Urgensi memasukkan Bahasa Inggris sebagai salah satu mata pelajaran yang ada pada pembelajaran Sekolah Dasar di Indonesia memiliki berbagai pendorong, diantaranya: . Dapat berkomunikasi secara luas dengan berbagai asal budaya. Mampu lebih mudah mengakses informasi dengan skala yang luas. Memiliki kesempatan dalam bekerja sama ataupun bersaing secara global. Memiliki bekal keterampilan bahasa asing sebagai persiapan menghadapi masa yang akan datang. Adapun sebab mengapa pembelajaran bahasa asing mulai dilaksanakan pada jenjang Sekolah Dasar karena penelitian telah menunjukkan bahwa daya yang dimiliki anak-anak dalam menguasai bahasa kedua lebih cepat dibandingkan dengan orang dewasa lantaran sistem otak pada anak-anak masih sanggup mengaplikasikan mekanisme yang sama dengan bahasa pertama yang diperolehnya (Cameron, 2. Bahkan kemampuan pemerolehan bahasa di usia dewasa tidak terindentifikasi dimiliki oleh seseorang sejak lahir atau bawaan (Saville-Troike, 2. Pernyataan dari penelitian tersebut sangat mendukung konsep bahwa pembelajaran Bahasa Inggris sebaiknya berlangsung pada Sekolah Dasar. Penggunaan Media Pembelajaran Visual Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Bahasa Inggris Pada Siswa Sekolah Dasar (Husnaeni Amelia Fatima. Husnaeni Amelia Fatimah dkk / Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 106 Ae 112 Belajar bahasa asing atau bahasa inggris dalam pelaksanaannya seringkali dihadapkan dengan bermacam tantangan, seperti kesiapan guru, metode pembelajaran yang digunakan, keterbatasan sarana sampai motivasi belajar yang tergolong rendah. Masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar bahasa asing yang bisa jadi dikarenakan belum mengetahui makna tujuan belajar, merasa tidak diperlukan karena tidak berkesinambungan dalam kehidupan sehari-hari, bersifat abstrak, kurang optimal dalam belajar bila tidak dikolaborasikan dengan pendekatan yang menarik dan kontekstual. Dalam konteks ini, media pembelajaran visual muncul sebagai salah satu solusi potensial untuk mengatasi permasalahan tersebut. Media pembelajaran visual, seperti gambar, video, animasi, atau infografis, dapat memperkaya pengalaman belajar siswa dengan menghadirkan stimulus visual yang konkret, menarik, dan mudah dipahami. Menurut Allan Paivio . , informasi yang disampaikan melalui kombinasi verbal dan visual lebih mudah diproses dan diingat oleh otak. Hal ini didukung oleh pendekatan multimodal learning yang menyatakan bahwa semakin banyak indera yang terlibat dalam proses belajar, maka semakin besar peluang informasi untuk dipahami dan tersimpan dalam memori jangka panjang. Media pembelajaran visual dapat menciptakan suasana belajar yang lebih menarik dan interaktif, sehingga meningkatkan motivasi intrinsik siswa dalam mempelajari bahasa Inggris. Motivasi belajar menjadi kunci utama dalam penguasaan bahasa, karena tanpa adanya dorongan dari dalam diri siswa, proses pemerolehan bahasa tidak akan berlangsung secara optimal. Dengan demikian, penggunaan media pembelajaran visual dalam pembelajaran bahasa Inggris bukan hanya sebatas inovasi teknis, tetapi juga merupakan pendekatan pedagogis yang didasarkan pada teori kognitif dan afektif dalam pembelajaran bahasa. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara empiris apakah penggunaan media pembelajaran visual dapat meningkatkan motivasi belajar siswa dalam pelajaran bahasa Inggris, khususnya di jenjang sekolah dasar dan menengah pertama, serta bagaimana implementasinya dapat disesuaikan dengan konteks pembelajaran di Indonesia METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan tiga instrumen utama, yakni lembar evaluasi siswa, angket terbuka siswa, dan lembar observasi terhadap pembelajaran berbasis media visual. Ketiga instrumen tersebut dianalisis untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai pengaruh media pembelajaran visual terhadap motivasi belajar Bahasa Inggris pada siswa kelas IV di SDN 270 Gentra Masekdas Bandung, yang berjumlah 26 siswa. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Lembar Evaluasi Siswa Lembar evaluasi siswa digunakan untuk mengukur pemahaman siswa terhadap materi Bahasa Inggris yang telah diajarkan melalui media pembelajaran visual. Evaluasi ini terdiri dari 10 butir soal pilihan ganda dan isian singkat terkait topik "Transportation (Asking and Answering 'How do you get to. ?')". Hasil analisis menunjukkan distribusi sebagai berikut: Tabel 1. Hasil Lembar Evaluasi Siswa Kategori Pemahaman Tinggi (>75%) Sedang . -75%) Rendah (>50%) Jumlah Siswa 21 siswa 4 siswa 1 siswa Presentase Data ini mengindikasikan bahwa mayoritas siswa dapat memahami materi dengan baik ketika disampaikan melalui media pembelajaran visual. Visualisasi yang kontekstual seperti gambar kendaraan beserta keterangan, gambar tempat dan suasana, gambar tokoh dan ekspresinya membantu siswa dalam mengaitkan kosakata baru dengan pengalaman nyata. Hal ini mendukung pandangan Meilani et al. , . dalam teori yang menyampaikan bahwa integrasi teks yang dikolaborasikan dengan gambar yang banyak mampu membantu meningkatkan pemahaman konseptual dan daya ingat siswa dibandingkan dengan teks dengan jumlah yang banyak. Hasil Angket Terbuka Siswa Angket terbuka digunakan untuk menggali persepsi dan pengalaman afektif siswa terhadap penggunaan media visual. Jawaban siswa dianalisis secara tematik menggunakan teknik coding terbuka dan dikategorikan menjadi beberapa tema: JURNAL PADAMU NEGERI Vol. No. Oktober 2025, pp. 106 - 112 Husnaeni Amelia Fatimah dkk / Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 106 Ae 112 Ketertarikan dan Keasyikan Belajar Sebagian besar siswa menyatakan bahwa pembelajaran menjadi lebih menyenangkan. Kalimat seperti Aubelajarnya jadi seru karena ada gambar-gambar lucuAy dan Ausaya jadi tidak ngantuk karena bisa lihat animasi di layarAy muncul berulang kali. Kemudahan Memahami Materi Siswa merasa lebih mudah mengingat kata-kata dalam Bahasa Inggris karena ada gambarnya. Hal ini mencerminkan adanya dual coding (Paivio, 1. , yakni proses pengolahan informasi melalui dua saluran: verbal dan visual. Pernyataan ini juga didukung oleh Widyastuti . bahwa media pembelajaran dalam bentuk gambar . dapat mengembangkan motivasi belajar Bahasa Inggris. Partisipasi Aktif dan Keberanian Berpendapat Beberapa siswa menyatakan mereka merasa lebih percaya diri untuk menjawab dan bertanya. Visualisasi membantu mengurangi kecemasan karena siswa tidak perlu membayangkan abstraksi, melainkan langsung melihat konteksnya. Penggunaan Teknologi Secara Mandiri Semua siswa menyatakan menggunakan smartphone masing-masing untuk mengakses asesmen melalui situs permainan edukatif. Ini memperlihatkan bahwa siswa sudah cukup literat digital dan dapat mengintegrasikan teknologi ke dalam proses belajar. Kerja Sama dan Solidaritas Meski asesmen dilakukan secara individu, siswa sering membantu teman yang kesulitan dalam aspek teknis penggunaan perangkat. Ini mengindikasikan berkembangnya keterampilan sosial dan kolaborasi dalam Hasil Observasi Penggunaan Media Visual Observasi dilakukan langsung di kelas pada tanggal 4 Juni 2025, dengan instrumen observasi berdasarkan prinsip-prinsip desain media visual: kesederhanaan, keterpaduan, penekanan, dan keseimbangan. Kesederhanaan Media tidak menampilkan elemen yang berlebihan. Ukuran teks dan gambar sesuai dengan kemampuan visual siswa usia sekolah dasar. Hal ini mendukung prinsip cognitive load yang menyarankan agar tampilan visual tidak membebani daya kerja memori jangka pendek. Keterpaduan Setiap elemen visual saling melengkapi: teks, gambar, dan simbol mendukung satu pesan yang utuh. Hal ini memperkuat pemahaman siswa terhadap fungsi bahasa dalam konteks yang realistis. Penekanan Media menggunakan warna dan posisi elemen secara strategis untuk mengarahkan perhatian siswa ke bagian penting, seperti kata tanya (Ho. atau frasa kunci ("by bike", "by car"). Ini meningkatkan fokus dan Keseimbangan Susunan elemen yang simetris atau proporsional mencegah kebingungan visual. Siswa lebih mudah menangkap informasi dan tidak terdistraksi oleh elemen yang tidak relevan. Temuan dari ketiga instrumen menunjukkan bahwa media visual secara konsisten meningkatkan keterlibatan dan motivasi belajar siswa. Hal ini terlihat dari: Keterlibatan Afektif dan Kognitif Media pembelajaran visual berhasil menciptakan lingkungan belajar yang kondusif untuk keterlibatan emosi positif. Siswa merasa senang, berani mencoba, dan termotivasi menyelesaikan tugas. Visualisasi yang kuat juga mendukung pembentukan pemahaman konseptual secara cepat. Kemandirian Belajar Berbasis Teknologi Penggunaan Media Pembelajaran Visual Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Bahasa Inggris Pada Siswa Sekolah Dasar (Husnaeni Amelia Fatima. Husnaeni Amelia Fatimah dkk / Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 106 Ae 112 Fakta bahwa semua siswa menggunakan smartphone untuk asesmen tanpa hambatan berarti menunjukkan kesiapan mereka dalam pembelajaran abad 21 yang menuntut integrasi TIK. Ini mencerminkan keterampilan learning how to learn. Interaksi Sosial Positif Walaupun siswa kompetitif secara individu dalam menjawab soal, mereka menunjukkan kecenderungan kolaboratif, seperti saling membantu saat terjadi kesulitan teknis. Ini mencerminkan lingkungan belajar yang sehat dan kooperatif. Transformasi Peran Guru Guru yang memberikan kebebasan berekspresi tetapi tetap menjaga ketertiban kelas telah memposisikan dirinya sebagai fasilitator, bukan hanya sebagai penyampai materi. Ini sejalan dengan prinsip pembelajaran berbasis konstruktivisme. Motivasi Internal Keberanian siswa untuk menyampaikan pendapat dan bertanya merupakan indikator tumbuhnya intrinsic Ini adalah keberhasilan utama media pembelajaran visual sebagai alat bantu belajar yang mendorong partisipasi aktif. Secara keseluruhan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa media pembelajaran visual bukan hanya efektif dalam meningkatkan pemahaman kognitif siswa terhadap materi Bahasa Inggris, tetapi juga sangat kuat dalam meningkatkan motivasi, keberanian, dan kemandirian belajar siswa sekolah dasar di era digital. Efektivitas ini makin optimal jika guru mampu mengelola pembelajaran secara inklusif, fleksibel, dan berbasis teknologi KESIMPULAN DAN SARAN Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dampak penggunaan media pembelajaran visual terhadap motivasi belajar Bahasa Inggris siswa sekolah dasar, khususnya di SDN 270 Gentra Masekdas Bandung. Berdasarkan hasil analisis dari tiga instrumen . embar evaluasi siswa, angket terbuka siswa, dan lembar observasi kela. , dapat disimpulkan bahwa: Media pembelajaran visual berperan signifikan dalam meningkatkan pemahaman kognitif siswa. Hal ini tercermin dari capaian hasil evaluasi, di mana sebagian besar siswa mampu menjawab soal dengan benar lebih dari 75%, menunjukkan pemahaman yang kuat terhadap materi Bahasa Inggris yang diajarkan. Motivasi belajar siswa mengalami peningkatan secara menyeluruh, baik dalam aspek afektif . ntusiasme, rasa senang, keberanian bertany. maupun dalam aspek perilaku belajar . emandirian, kompetisi sehat, dan Hal ini sejalan dengan prinsip student engagement dalam pembelajaran aktif. Media pembelajaran visual efektif membentuk lingkungan belajar yang partisipatif dan mendukung interaksi sosial yang positif. Siswa menunjukkan sikap saling membantu, mampu mengatasi kendala teknologi, dan tetap fokus pada tugas secara individu meskipun berada dalam kelompok. Peran guru yang fleksibel dan adaptif menjadi faktor pendukung keberhasilan implementasi media pembelajaran visual. Guru mampu memberikan ruang ekspresi sambil menjaga suasana kelas tetap kondusif, menjadikan pembelajaran lebih bermakna dan menyenangkan. Dengan demikian, media pembalajaran visual tidak hanya berfungsi sebagai alat bantu pengajaran, tetapi juga sebagai pemantik motivasi belajar yang relevan dengan kebutuhan dan karakteristik siswa abad ke-21. Berikut beberapa saran yang dapat diberikan berdasarkan hasil penelitian: Pemilihan media pembelajaran visual disesuaikan dengan tingkat perkembangan siswa, seperti visual sederhana yang dipadukan keterangan teks yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Hindari visual dengan konsep abstrak dengan teks yang terlalu panjang karena mampu mengurangi fokus. Aplikasikan keserhanaan . idak terlalu rama. , keterpaduan . eks dan gambar yang berkesinambunga. , penekanan . arna/ukuran untuk poin pentin. , dan keseimbangan . ata letak rapi dan proposiona. dalam media pembelajaran visual sehingga mampu membantu siswa lebih cepat menangkap dan memahami pesan yang disampaikan tanpa terbebani dengan informasi berlebih. Memberi ruang eksplorasi dan memfasilitasi rasa ingin tahu siswa dengan berkolaborasi dalam aktivitas kreatif membuat media pembelajaran visual, seperti menggambar peta jalan ke sekolah dalam Bahasa Inggris, membuat flashcard kosakata, membuat komik pendek, atau poster. Hal ini mampu membuat siswa merasakan keterlibatan dalam belajar. Tidak menggunakan satu jenis media pembelajaran visual seperti gambar saja, tetapi dapat mengkombinasikan dengan audio yang bisa disajikan dalam bentuk video, atau dengan kontekstual JURNAL PADAMU NEGERI Vol. No. Oktober 2025, pp. 106 - 112 Husnaeni Amelia Fatimah dkk / Jurnal Padamu Negeri Vol 2 No. 106 Ae 112 yang bisa disajikan dalam bentuk alat peraga, atau dengan tekonologi yang bbisa disajikan dalam bentuk permainan pembelajaran online. Tidak hanya itu, evaluasi terhadap efektivitas penggunaan media pembelajaran visual perlu dilakukan agar mampu memperbaiki dan menyesuaikan media yang sesuai dengan kebutuhan siswa. Masukan dari siswa juga diperlukan untuk itu perlu dilakukan refleksi setelah penggunaan media pembelajaran visual seperti pertanyaan: apa yang menarik, apa yang sulit, apa yang tidak dipahami, apa yang ingin DAFTAR PUSTAKA