AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies P-ISSN: 2622-9897 E-ISSN: 2622-9838 Vol. No. 1, 2025, 541-560 DOI: https://doi. org/10. 58223/al-irfan. Typology and Narrative Structure of Tembang Mamaca: An Oral Literature Study in Pamekasan. Madura MasAoodi Sekolah Tinggi Agama Islam Darul Ulum Banyuanyar Pamekasan. Indonesia ia Ibnumida03@gmail. Abstract Keywords: The mamaca tradition represents a unique form of Madurese oral Mamaca oral literature, embodying both Islamic values and local cultural Despite its richness, scholarly studies have paid limited attention to the typology of its verse songs . and the narrative structures embedded within the performances, leaving a gap in understanding its literary and cultural significance. This study aims to analyze the typological characteristics of tembang and to uncover the narrative frameworks that structure mamaca as both a performance and a cultural text. Using a qualitativedescriptive method with an oral literature approach, the research was conducted in Bandaran Village. Pamekasan Regency. Data were collected through participant observation, in-depth interviews with local performers, and textual analysis of mamaca The findings reveal six principal tembangAiArtate. Kasmaran. Durma. Salangit. Pangkur, and SinomAieach marked by distinctive thematic content and narrative patterns. These tembang not only articulate aesthetic expression but also encapsulate moral and religious teachings, conveyed through symbolic language and dialogic performance. The narrative structures highlight oppositional and complementary patterns that sustain both entertainment and didactic purposes. This study contributes to the field of oral literature by demonstrating how mamaca operates as an adaptive and transgenerational medium of cultural preservation, character education, and spiritual transmission. underscores the importance of examining local oral traditions as dynamic systems of meaning that continue to shape communal identity in Madura. AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 1, 2025, 541-560 Abstrak Kata Kunci: Mamaca, sastra struktur naratif Tradisi mamaca merupakan bentuk khas sastra lisan Madura yang sarat dengan nilai-nilai Islam dan kearifan budaya lokal. Meskipun kaya akan makna, kajian akademik masih terbatas pada tipologi tembang dan struktur naratif yang terkandung di dalam pertunjukannya, sehingga meninggalkan kesenjangan dalam pemahaman terhadap signifikansi sastra dan budaya tradisi ini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik tipologis tembang serta mengungkap kerangka naratif yang membentuk mamaca baik sebagai pertunjukan maupun sebagai teks Penelitian ini menggunakan metode deskriptif-kualitatif dengan pendekatan sastra lisan dan dilaksanakan di Desa Bandaran. Kabupaten Pamekasan. Data dikumpulkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam dengan pelaku mamaca, serta analisis teks naskah mamaca. Hasil penelitian menunjukkan enam tembang utamaAiArtate. Kasmaran. Durma. Salangit. Pangkur, dan SinomAimasing-masing dengan tema khas dan pola naratif tertentu. Tembang-tembang tersebut tidak hanya menyajikan ekspresi estetis, tetapi juga memuat ajaran moral dan religius yang disampaikan melalui bahasa simbolik dan bentuk dialogis. Struktur naratifnya menampilkan pola oposisi sekaligus komplementaritas yang menopang fungsi hiburan sekaligus pendidikan. Penelitian ini berkontribusi pada kajian sastra lisan dengan menunjukkan bahwa mamaca berfungsi sebagai medium adaptif dan lintas generasi dalam pelestarian budaya, pendidikan karakter, serta transmisi nilai spiritual. Dengan demikian, tradisi ini tetap menjadi sistem makna dinamis yang membentuk identitas komunal masyarakat Madura. Received: 02-06-2025. Revised: 15-08-2025. Accepted: 19-08-2025 A MasAoodi Pendahuluan Sastra lisan memainkan peran sentral sebagai penyimpan memori kolektif, peneguh identitas, dan media transmisi nilaiAcnilai budaya suatu komunitas (Bascom, 1965. Foley, 2. Studi mutakhir bahkan menegaskan bahwa praktik tutur tradisional tetap relevan sebagai perekat solidaritas dan pendidikan karakter di tengah modernisasi (Irawan et al. , 2. Di Madura, mamaca menempati posisi istimewa karena memadukan narasi religius dengan performa musikal: teks-teks beraksara Arab Pegon atau Jawi dilagukan oleh tokang maca dan diurai maknanya oleh tokang tegghes. Tradisi 542 | MasAoodi: Typology and Narrative Structure of Tembang Mamaca: An Oral Literature Study in Pamekasan. Madura AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 1, 2025, 541-560 ini bukan sekadar hiburan, tetapi sekaligus sarana dakwah, pendidikan moral, dan afirmasi jati diri kultural masyarakat pesisir Pamekasan (Affan et al. , 2. Di tengah dinamika perubahan sosial yang cepat. Desa Bandaran. Kecamatan Tlanakan. Kabupaten Pamekasan, menjadi salah satu daerah yang masih mempertahankan tradisi mamaca secara aktif. Masyarakat di desa pesisir utara Madura ini memiliki sistem regenerasi dan transmisi budaya yang memungkinkan tradisi mamaca terus hidup dan diwariskan secara lintas Fenomena ini menjadikan Desa Bandaran sangat relevan untuk diteliti lebih lanjut, khususnya dalam konteks bagaimana masyarakat lokal menerima, menafsirkan, dan menjaga keberlanjutan seni tradisi ini dalam kehidupan Keaktifan komunitas lokal dalam merawat mamaca mencerminkan keberadaan konteks budaya yang dinamis sekaligus kokoh dalam menghadapi perubahan zaman. Meski kajian tentang mamaca sudah dilakukan, fokus dominan masih pada aspek resepsi estetik (Affan et al. , 2. , sosioreligius (Purnamasari et al. , performatif (Hidayatullah, 2. , maupun dimensi ritual seperti rokat pandhaba (Chair, 2. Penelitian intrinsik RifaAoi . serta Rifqi . memang menyentuh tema dan komposisi, namun belum ada telaah sistematis yang memetakan tipologi tembang sekaligus membedah struktur naratifnya. Kesenjangan ini penting diisi karena pola penceritaan menentukan efektivitas mamaca sebagai media penyemaian nilai budaya dan religius. Berdasarkan celah tersebut, artikel ini bertujuan untuk mengidentifikasi tipologi tembang mamaca meliputi Artate. Kasmaran. Durma. Salangit. Pangkur, dan Sinom beserta ciri tematiknya. Lebih lanjut, studi ini menganalisis struktur naratif tiap tembang untuk mengungkap pola alur, motif, serta pesan moralAcreligius yang diinternalisasikan. Secara teoretik, penelitian bertumpu pada tiga teori utama. Pertama, teori sastra lisan yang menekankan formula, improvisasi, dan konteks sosial (Lord, 1. , . Kedua, teori morfologi naratif (Propp, 1. yang memetakan fungsi 543 | MasAoodi: Typology and Narrative Structure of Tembang Mamaca: An Oral Literature Study in Pamekasan. Madura AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 1, 2025, 541-560 cerita dan peran tokoh. Ketiga, teori tipologi tematik dalam kerangka antropologi sastra (Ratna, 2. Pendekatan terpadu ini diharapkan mampu mengungkap bagaimana tembang mamaca bekerja sebagai Aumesin narasiAy sekaligus Auensiklopedia nilaiAy bagi masyarakat Madura, khususnya di Desa Bandaran. Metode Penelitian ini bersifat kualitatifAcdeskriptif dengan menggabungkan pendekatan sastra lisan dan naratologi untuk mengeksplorasi tembang mamaca sebagai produk tutur sekaligus struktur cerita yang hidup dalam konteks sosial. Lokasi riset berfokus di Desa Bandaran. Pamekasan. Madura, karena komunitas setempat masih mempertahankan proses regenerasi tokang maca . dan tokang tegghes . serta mengawetkan naskahAcnaskah mamaca sebagai rujukan pertunjukan. Data utama dihimpun dari empat sumber: performa langsung prosesi mamaca, wawancara mendalam dengan tokang maca, tokang tegghes, dan pendengar kunci, serta studi manuskrip tembang yang disimpan keluarga Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi partisipatif untuk menangkap dinamika performa dan interaksi simbolik (Spradley, 1. , wawancara semiterstruktur guna menggali perspektif subjektif dan historis (Patton, 2. , serta analisis dokumen terhadap teks tembang dan catatan lapangan (Bowen, 2. Seluruh data dianalisis secara tematikAcnaratif: mulaAcmula direduksi, dikode, dan dipetakan ke dalam tema pokok menggunakan langkah Miles dan Huberman . Selanjutnya, setiap tembang dibedah menurut kategori fungsi tokoh, urutan aksi, dan motif cerita merujuk pada morfologi naratif Propp . Selaras dengan teori formulaik sastra lisan Lord . , pola improvisasi dan repetisi dalam performa dicermati untuk memahami hubungan antara tradisi dan kreativitas. Akhirnya, tipologi tematik dianalisis dengan kerangka antropologi sastra Ratna . guna menafsir makna simbolik dan daya hidup nilai budaya yang ditransmisikan melalui mamaca. 544 | MasAoodi: Typology and Narrative Structure of Tembang Mamaca: An Oral Literature Study in Pamekasan. Madura AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 1, 2025, 541-560 Pembahasan dan Diskusi Tipologi Tembang dalam Tradisi Mamaca Tradisi mamaca di Desa Bandaran menampilkan keragaman tembang yang tidak hanya indah secara musikal, tetapi juga mengandung kedalaman makna yang merefleksikan nilai-nilai keislaman dan kearifan lokal masyarakat Madura. Dari berbagai tembang yang dilantunkan dalam prosesi mamaca, terdapat enam jenis tembang utama yang dapat dikategorikan secara tematik dan fungsional, yaitu Artate. Kasmaran. Durma. Salangit. Pangkur, dan Sinom. Tipologi ini menunjukkan bahwa mamaca bukan sekadar bacaan bersuara, melainkan perangkat simbolik untuk membentuk pemahaman kolektif masyarakat terhadap hidup. Tuhan, dan manusia. Tembang Artate, yang dalam tradisi Jawa dikenal sebagai Dhandanggula, biasanya dibawakan pada awal prosesi mamaca. Tembang ini memuat tema harapan, keteraturan, dan doa untuk kebaikan. Struktur lagunya yang tenang dan ritmis digunakan untuk membangun suasana sakral dan penuh Dalam masyarakat Desa Bandaran. Artate sering dipahami sebagai simbol awal yang baik dalam setiap hajat hidup, sekaligus refleksi dari prinsip hidup mengikuti irama ketertiban (Haidar, 2. Tembang Kasmaran, yang identik dengan Asmaradana, mengusung tema cinta yang tidak bersifat duniawi. Dalam konteks mamaca, cinta yang dimaksud merujuk pada bentuk kasih sayang ilahiah, khususnya kecintaan kepada Nabi Muhammad. Tokang tegghes kerap mengaitkan bait-bait tembang ini dengan narasi kehidupan Rasul sebagai teladan universal kasih sayang dan ketulusan. Alunan lagunya yang sendu memperkuat pengalaman spiritual pendengar, menghadirkan ruang kontemplatif bagi audiens untuk merefleksikan makna cinta transendental (Affan et al. , 2. Sementara itu, tembang Durma menggambarkan suasana penuh ketegangan, perjuangan, dan penguatan jiwa. Dalam mamaca. Durma digunakan untuk menyampaikan pesan keteguhan iman dalam menghadapi cobaan hidup. Tema ini sering dikaitkan dengan kisah-kisah spiritual para nabi atau wali yang 545 | MasAoodi: Typology and Narrative Structure of Tembang Mamaca: An Oral Literature Study in Pamekasan. Madura AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 1, 2025, 541-560 menghadapi ujian berat, namun tetap teguh dalam iman dan amal. Pesan moral dari tembang ini tidak hanya menyentuh dimensi spiritual, tetapi juga membangun daya tahan psikologis dan sosial dalam menghadapi tantangan zaman (Hidayatullah, 2. Tembang Salangit, yang dalam tradisi macapat Jawa dikenal sebagai Kinanti, melambangkan harapan dan kerinduan akan kehidupan akhirat. Tembang ini kerap dibacakan dalam acara keagamaan atau saat mengenang orang yang telah wafat. Dalam konteks resepsi masyarakat Bandaran. Salangit menghadirkan dimensi spiritual yang kuat, menekankan pentingnya ilmu, amal, dan istikamah sebagai bekal menuju kehidupan yang kekal. Kata AulangitAy sendiri sering ditafsirkan secara simbolik sebagai arah spiritual menuju Tuhan (Chair, 2. Berikutnya. Pangkur meninggalkan duniawi. Dalam struktur mamaca. Pangkur berfungsi sebagai penutup atau puncak renungan terhadap kefanaan dunia dan pentingnya kehidupan spiritual. Tokang tegghes sering menjelaskan bahwa hidup adalah perjalanan singkat yang harus dijalani dengan penuh kesadaran akan akhirat. Lirik dan ritme Pangkur memperkuat pesan asketisme dan kesederhanaan, yang sejalan dengan nilai-nilai sufistik dalam Islam lokal Madura (Rifqi, 2. Terakhir, tembang Sinom merepresentasikan semangat pemuda, pembelajaran, dan proses kedewasaan. Dalam konteks mamaca. Sinom menjadi simbol harapan regenerasi budaya dan moral masyarakat. Tembang ini kerap dinyanyikan dalam konteks pendidikan dan pembinaan remaja, dengan isi yang menekankan pentingnya belajar, berakhlak mulia, dan mengikuti jejak tokoh teladan. Sinom dalam mamaca juga sering dikaitkan dengan kisah masa muda Nabi Muhammad, yang menggambarkan teladan sempurna dalam menjalani masa muda dengan bijaksana (Affan et al. , 2025. Haidar, 2. Keenam tembang ini membentuk sistem tematik yang saling melengkapi, membentangkan lanskap nilai dari awal kehidupan hingga tujuan akhir 546 | MasAoodi: Typology and Narrative Structure of Tembang Mamaca: An Oral Literature Study in Pamekasan. Madura AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 1, 2025, 541-560 Melalui struktur tipologis ini, mamaca tampil sebagai bentuk sastra lisan yang bukan hanya estetis, tetapi juga edukatif, simbolik, dan transformatif. Struktur Naratif dalam Tembang Mamaca Struktur naratif dalam tembang-tembang mamaca menunjukkan pola yang khas dan relatif konsisten, yang umumnya terdiri atas empat tahap: pembukaan, konflik, klimaks, dan penutup yang sarat dengan pesan moral. Pada tahap pembukaan, tokang maca biasanya memperkenalkan latar cerita dengan gaya melantun yang tenang, menyampaikan tokoh utama, latar waktu, dan tempat secara implisit melalui bait-bait awal. Tahap ini tidak hanya berfungsi sebagai pengantar, tetapi juga sebagai pengondisi suasana batin pendengar agar siap secara emosional dan spiritual. Setelah itu, cerita berkembang ke dalam konflik, baik dalam bentuk pertentangan batin, ujian hidup, maupun rintangan sosial yang harus dihadapi tokoh utama. Klimaks cerita biasanya berupa puncak ketegangan atau peristiwa transformatif, seperti pertobatan, pencerahan spiritual, atau perjumpaan simbolik dengan tokoh suci. Penutup tembang hampir selalu ditandai dengan nasihat eksplisit atau refleksi moral, yang disampaikan dengan nada yang lembut namun mendalam, menandakan kembalinya keseimbangan dan keharmonisan (Lord, 1976. Ratna, 2. Motif naratif yang berulang dalam berbagai tembang menunjukkan kekayaan arketipal yang hidup dalam kesadaran budaya masyarakat Madura. Salah satu motif dominan adalah hadirnya tokoh religius, baik dalam bentuk nabi, wali, maupun orang saleh lokal, yang menjadi pusat nilai dan moralitas dalam cerita. Tokoh-tokoh ini sering digambarkan sebagai figur pembimbing yang memberikan arah bagi kehidupan spiritual masyarakat. Motif lain yang tak kalah penting adalah perjalanan spiritual, baik secara harfiah . erjalanan fisik dari satu tempat ke tempat lai. maupun secara simbolik . ransformasi batin menuju kesempurnaan ima. Dalam banyak tembang, ujian moral menjadi titik sentral narasi. tokoh utama akan mengalami godaan duniawi, 547 | MasAoodi: Typology and Narrative Structure of Tembang Mamaca: An Oral Literature Study in Pamekasan. Madura AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 1, 2025, 541-560 penderitaan, atau kebimbangan, yang kemudian diatasi melalui kesabaran, doa, dan keteguhan hati (Propp, 1968. Hidayatullah, 2. Menariknya, struktur naratif mamaca juga memuat makna ganda yang memungkinkan teks dipahami secara literal maupun simbolik. Secara literal, teks bisa dibaca sebagai kisah historis atau legenda, lengkap dengan tokoh, alur, dan peristiwa faktual atau mitologis. Namun secara simbolik, setiap peristiwa dalam cerita mengandung pesan moral dan religius yang lebih dalam. Misalnya, perjalanan tokoh dalam tembang Kasmaran dapat dibaca sebagai representasi perjalanan batin manusia dalam mencari cinta ilahiah. Ujian yang dihadapi dalam tembang Durma mencerminkan tantangan kehidupan sehari-hari yang menuntut kesabaran dan keikhlasan. Tokang tegghes berperan penting dalam mengungkap lapisan makna ini, karena melalui interpretasinya, pesan moral teks dijelaskan dan dikaitkan dengan kehidupan nyata pendengar (Affan et al. Struktur ini memperlihatkan bahwa mamaca bukan sekadar bentuk sastra lisan yang menghibur, tetapi juga merupakan wahana pendidikan budaya dan spiritual yang kompleks. Keseimbangan antara struktur naratif yang teratur dan keterbukaan makna memungkinkan mamaca berfungsi secara fleksibel dalam berbagai konteks sosial dan ritus budaya masyarakat Madura. Dengan demikian, struktur naratif dalam mamaca tidak hanya membentuk arsitektur cerita, tetapi juga menjadi media penyampaian nilai yang terus hidup dan relevan dalam kehidupan kolektif masyarakat pendukungnya. Sebagai bentuk sastra lisan yang tumbuh dalam tradisi keagamaan dan kultural masyarakat Madura, mamaca memiliki fungsi yang melampaui sekadar hiburan atau estetika suara. Tembang-tembang yang dinyanyikan oleh tokang maca, dengan penjelasan interpretatif dari tokang tegghes, membentuk suatu narasi kolektif yang merefleksikan nilai, norma, dan pandangan hidup Dalam konteks masyarakat Desa Bandaran, narasi dalam mamaca tidak hadir dalam ruang kosong. Ia hidup dalam ritus, perayaan, dan kehidupan sosial sehari-hari. Struktur tembang dan muatannya bekerja secara 548 | MasAoodi: Typology and Narrative Structure of Tembang Mamaca: An Oral Literature Study in Pamekasan. Madura AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 1, 2025, 541-560 aktif dalam menyampaikan ajaran moral, memperkuat identitas budaya, serta menyatukan generasi dalam satu pemahaman bersama. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana fungsi naratif mamaca tidak hanya beroperasi di tingkat teks, tetapi juga dalam praktik sosial-budaya komunitas. Fungsi Edukatif: Mamaca sebagai Sarana Pembelajaran Etika dan Agama Fungsi edukatif dalam tradisi mamaca menempati posisi yang fundamental dalam sistem transmisi nilai-nilai budaya dan agama di masyarakat Madura, khususnya di Desa Bandaran. Tradisi ini tidak hanya memuat bentuk estetika lisan, tetapi juga menjadi media pengajaran informal yang kaya akan ajaran etika dan keislaman. Melalui struktur tembang dan isi naratifnya, mamaca berfungsi sebagai Aukitab terbukaAy yang dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat tanpa batasan usia atau tingkat pendidikan. Tembang-tembang seperti Sinom. Artate, dan Kasmaran sangat kaya dengan nasihat moral, ajaran akhlak mulia, dan pesan spiritual yang disampaikan dengan cara yang indah, repetitif, dan mudah diingat, sesuai dengan karakteristik sastra lisan (Lord, 1. Dalam masyarakat Madura yang memiliki akar kuat pada tradisi pesantren, keberadaan mamaca memperkuat jalur pendidikan nonformal berbasis lokal. Pesan-pesan etika seperti pentingnya kesabaran, keikhlasan, pengendalian hawa nafsu, serta cinta dan keteladanan kepada Nabi Muhammad, kerap dimunculkan melalui cerita-cerita yang dilantunkan dalam Misalnya, dalam tembang Durma, digambarkan bagaimana seorang tokoh menghadapi ujian berat hidup dengan tetap memegang prinsip dan iman, yang secara tidak langsung mengajarkan nilai kesabaran dan ketakwaan kepada para pendengar. Sementara dalam tembang Sinom, pemuda didorong untuk menuntut ilmu, menghormati orang tua, dan hidup dalam kesantunan, yang memperkuat pesan etika sosial dan semangat belajar sepanjang hayat (Affan et , 2. 549 | MasAoodi: Typology and Narrative Structure of Tembang Mamaca: An Oral Literature Study in Pamekasan. Madura AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 1, 2025, 541-560 Secara metodologis, fungsi edukatif ini diperkuat melalui peran tokang tegghes yang tidak hanya menerjemahkan teks, tetapi juga menginterpretasikan dan mengontekstualisasikan nilai-nilai dalam teks ke dalam kehidupan masyarakat kontemporer. Proses ini menjadikan mamaca sebagai bentuk Aupendidikan kontekstualAy yang menjembatani antara nilai-nilai universal Islam dan kondisi sosial masyarakat lokal. Dalam beberapa sesi mamaca yang diamati, tokang tegghes sering menyisipkan contoh-contoh kehidupan sehari-hari, peribahasa Madura, atau nasihat ulama lokal untuk menjelaskan makna dari bait tembang, sehingga pesan moral menjadi lebih relevan dan membumi bagi audiens yang beragam latar belakangnya (Affan et al. , 2. Fungsi edukatif dalam mamaca juga dapat dipahami dalam kerangka teori pendidikan budaya seperti yang dikemukakan oleh Paulo Freire . , yang menekankan pentingnya pendidikan sebagai proses dialogis dan pembebasan, bukan sekadar transmisi pengetahuan secara satu arah. Dalam mamaca, terjadi dialog antara teks, pelaku, dan pendengar, yang memungkinkan terjadinya proses reflektif dan kritis atas nilai-nilai yang disampaikan. Pendengar tidak hanya menerima pasif, melainkan juga dapat menanggapi, berdiskusi, bahkan terlibat dalam pemaknaan ulang, sebagaimana temuan dalam pendekatan estetika resepsi yang digunakan dalam penelitian ini. Selain itu, keberulangan atau repetisi dalam pola tembang mamaca memperkuat proses internalisasi nilai. Dalam studi psikologi budaya, repetisi dalam sastra lisan dianggap sebagai salah satu mekanisme paling efektif dalam membentuk memori kolektif dan menginternalisasi norma sosial (Barber, 2. Dengan melagukan ajaran agama dan etika dalam bentuk tembang yang ritmis dan emosional, mamaca menciptakan pengalaman afektif yang mendalam dan berkesan, sehingga pesan-pesan moral tidak hanya diketahui secara kognitif, tetapi juga diresapi secara emosional dan spiritual. Lebih lanjut, tembang mamaca dapat menjadi media counter-culture yang menandingi pengaruh budaya populer yang bersifat instan dan dangkal. tengah era digital yang sarat distraksi, mamaca menghadirkan model 550 | MasAoodi: Typology and Narrative Structure of Tembang Mamaca: An Oral Literature Study in Pamekasan. Madura AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 1, 2025, 541-560 pendidikan budaya yang perlahan, reflektif, dan berbasis komunitas, yang memberi ruang pada kontemplasi nilai dan spiritualitas. Hal ini menjadikan mamaca tetap relevan sebagai sarana pendidikan karakter berbasis tradisi yang memiliki daya tahan budaya tinggi (Sholikhah, 2023. Danandjaja, 2. Dengan demikian, fungsi edukatif mamaca tidak hanya terbatas pada ranah agama secara formal, melainkan juga mencakup pembentukan etika sosial, kesadaran budaya, dan penguatan identitas kolektif. Tradisi ini menjadi sumber belajar yang hidup, membumi, dan berkelanjutan dalam konteks masyarakat Madura, terutama di tengah keterbatasan akses pendidikan formal di wilayah pedesaan. Fungsi Simbolik: Representasi Kosmologi Islam-Madura Mamaca sebagai bentuk sastra lisan tidak hanya berfungsi sebagai wahana edukatif, tetapi juga mengandung kekuatan simbolik yang mendalam sebagai representasi dari kosmologi Islam-Madura, yaitu cara masyarakat Madura memahami dunia, kehidupan, dan spiritualitas dalam kerangka ajaran Islam yang telah berakulturasi dengan budaya lokal. Dalam konteks ini, setiap elemen dalam mamaca, baik teks, suara, peran tokoh, hingga struktur pertunjukannya, bekerja secara simbolik untuk menyampaikan pandangan hidup yang terintegrasi antara Islam dan budaya Madura. Salah satu wujud simbolik paling mencolok dalam iamaca adalah penggunaan bahasa Pegon dan Jawi dalam naskah-naskah tembang yang Tulisan Arab berbahasa lokal ini tidak hanya menandakan historisitas Islamisasi di Madura, tetapi juga menjadi simbol dari Islam tradisional yang dekat dengan pesantren dan tarekat (Affan et al. , 2. Tulisan tersebut melambangkan kontinuitas tradisi literasi Islam sejak abad ke-17 M dan memperlihatkan bagaimana Islam diinternalisasi dalam kehidupan masyarakat tanpa menghilangkan identitas kedaerahan mereka (Braginsky, 2. Penulisan teks dalam aksara yang AusacralAy ini juga menandai dimensi spiritual 551 | MasAoodi: Typology and Narrative Structure of Tembang Mamaca: An Oral Literature Study in Pamekasan. Madura AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 1, 2025, 541-560 dalam mamaca, di mana teks bukan sekadar narasi, tetapi juga dianggap sebagai medium keberkahan . dan penghubung dengan nilai-nilai ilahiah. Selain tokoh-tokoh direpresentasikan sebagai figur religius yang menyimbolkan idealitas moral Tokoh seperti nabi, wali, atau pemuda saleh dalam narasi tembang bukan hanya karakter cerita, tetapi juga simbol dari jalan spiritual yang harus Dalam tembang Kasmaran, misalnya, cinta tidak dimaknai sebagai hasrat duniawi, melainkan sebagai simbol cinta ilahiah kepada Rasulullah. Cinta ini diposisikan sebagai jalan pembersihan diri dan pemuliaan hati . azkiyatun naf. , yang merupakan aspek penting dalam kosmologi Islam (Nasr. Pemaknaan semacam ini menunjukkan bahwa mamaca bukan sekadar cerita, melainkan artikulasi dari pandangan hidup yang menjadikan Tuhan. Nabi, dan akhlak sebagai pusat kehidupan. Tembang Pangkur juga memiliki muatan simbolik yang kuat. Tema meninggalkan dunia . dalam tembang ini mengandung simbol sikap asketis yang diasosiasikan dengan kesalehan spiritual. Tembang ini mengajarkan bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan sementara yang seharusnya tidak mengalihkan manusia dari tujuan akhir: kembali kepada Tuhan. Simbolisasi ini sejajar dengan nilai-nilai sufistik dalam Islam Nusantara, yang menempatkan dunia sebagai ujian dan akhirat sebagai tempat kembali sejati (Woodward, 2. Dalam praktik mamaca, hal ini diwujudkan melalui irama yang lambat, suasana sakral, dan pesan-pesan moral yang ditegaskan oleh tokang tegghes. Simbolisasi waktu dalam mamaca juga mencerminkan kosmologi IslamMadura. Pertunjukan mamaca lazimnya dilaksanakan pada malam hari, selepas salat Isya hingga menjelang subuh. Malam dipahami sebagai waktu yang penuh keheningan dan keberkahan, mirip dengan waktu-waktu spiritual seperti Dalam perspektif masyarakat Madura, malam bukan hanya waktu kosong, tetapi merupakan ruang simbolik yang mendekatkan manusia pada Yang Transenden. Dengan demikian, waktu pelaksanaan mamaca pun menjadi 552 | MasAoodi: Typology and Narrative Structure of Tembang Mamaca: An Oral Literature Study in Pamekasan. Madura AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 1, 2025, 541-560 bagian dari ritual simbolik yang menghubungkan masyarakat dengan tatanan kosmos spiritual (Hidayatullah, 2. Tidak kalah penting adalah keberadaan sesanding atau sajian ritual yang biasanya menyertai prosesi mamaca. Sajian ini bukan sekadar pelengkap seremoni, tetapi memiliki makna simbolik sebagai wujud syukur, permohonan keselamatan, dan penghormatan kepada leluhur. Dalam tradisi Islam-Madura, praktik ini menunjukkan keberlanjutan nilai-nilai Islam lokal yang menekankan pentingnya hubungan antara manusia. Tuhan, dan alam. Kehadiran simbolsimbol ini menjadikan mamaca sebagai ruang semiotik tempat berlangsungnya negosiasi makna antara nilai Islam normatif dan praktik budaya lokal (Geertz. Fungsi simbolik mamaca juga melampaui konteks individual, dan menjadi penanda identitas kolektif masyarakat Madura. Dalam setiap bait dan irama tembang, masyarakat tidak hanya mendengar cerita, tetapi juga melihat refleksi dari nilai-nilai yang membentuk kebersamaan mereka: keberanian, ketundukan kepada Tuhan, hormat kepada orang tua, dan kesadaran akan kefanaan dunia. Semua itu diartikulasikan melalui perangkat simbolik yang bersumber dari teks-teks religius, mitologi lokal, dan pengalaman kolektif sebagai komunitas Muslim. Dengan demikian, mamaca berfungsi sebagai representasi kosmologi Islam-Madura yang kompleks dan menyatu. Ia tidak hanya menyampaikan ajaran secara eksplisit, tetapi juga menyimbolkan pandangan hidup masyarakat yang terbentuk melalui akulturasi panjang antara Islam dan budaya lokal. Fungsi simbolik ini menjadikan mamaca bukan hanya bentuk ekspresi budaya, tetapi juga sistem pengetahuan dan spiritualitas yang terus diwariskan lintas Fungsi Integratif: Memperkuat Identitas Komunitas melalui Narasi Kolektif Tradisi mamaca tidak hanya mengandung nilai edukatif dan simbolik, tetapi juga berfungsi secara kuat sebagai instrumen integrasi sosial yang 553 | MasAoodi: Typology and Narrative Structure of Tembang Mamaca: An Oral Literature Study in Pamekasan. Madura AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 1, 2025, 541-560 memperkuat identitas kolektif masyarakat Madura. Dalam konteks Desa Bandaran, mamaca menjadi ruang budaya yang menyatukan berbagai elemen Masyarakat dari tokoh agama, tokang maca, tokang tegghes, hingga pemuda dan anak-anak dalam suatu aktivitas kultural yang sarat nilai dan makna. Melalui aktivitas bersama ini, mamaca menjelma menjadi narasi kolektif yang tidak hanya dituturkan, tetapi juga dihidupi bersama dalam ruang sosial yang sama. Fungsi integratif ini dapat diamati dari cara mamaca menjadi bagian dari peristiwa sosial yang penting dalam kehidupan masyarakat, seperti rokat . itual tolak bal. , hajatan keluarga, peringatan hari besar Islam seperti Maulid Nabi, hingga pertemuan adat dan pendidikan nonformal. Dalam setiap momen tersebut, mamaca tidak hanya hadir sebagai hiburan, tetapi juga sebagai penanda identitas kultural yang mengikat masyarakat dalam kesadaran sejarah, nilai, dan tujuan bersama (Affan et al. , 2. Dalam kerangka teori fungsionalisme struktural Durkheim, praktik seperti ini berperan dalam mempertahankan integrasi sosial dan kohesi melalui ritus kolektif yang berulang (Durkheim. Narasi dalam mamaca bekerja sebagai cerita kita bersama, yakni cerita yang diturunkan lintas generasi dan berfungsi untuk membentuk serta memperkuat kesadaran kolektif . ollective consciousnes. Dalam tembang-tembang seperti Artate. Pangkur, atau Salangit, tersirat nilai-nilai yang menjadi fondasi kebudayaan Madura: kerja keras, kesalehan, penghormatan pada orang tua, cinta kepada Rasul, dan keterikatan dengan tanah leluhur. Ketika tokang maca melantunkan tembang dan tokang tegghes menafsirkan maknanya, mereka tidak sekadar mentransmisikan teks, tetapi juga mengaktifkan memori kolektif yang menghidupkan kembali nilai-nilai lama dalam konteks kehidupan kontemporer (Halbwachs, 1992. Ratna, 2. Fungsi integratif ini juga beroperasi dalam dimensi lintas generasi. Dalam penelitian ini, keterlibatan anak-anak muda sebagai pendengar aktif dan pewaris peran menunjukkan bahwa mamaca masih mampu menjadi ruang regeneratif yang inklusif. Mereka tidak hanya mendengarkan, tetapi juga 554 | MasAoodi: Typology and Narrative Structure of Tembang Mamaca: An Oral Literature Study in Pamekasan. Madura AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 1, 2025, 541-560 menyerap narasi identitas yang dibingkai dalam gaya dan bahasa lokal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari. Fefomena ini memperlihatkan bahwa mamaca berfungsi sebagai jembatan antara generasi tua dan muda, memperkuat rasa memiliki terhadap tradisi, serta membangun rasa tanggung jawab kolektif atas kelestarian budaya lokal (Sholikhah, 2023. Hidayatullah, 2. Selain itu, bentuk pertunjukan mamaca yang terbuka dan partisipatif menjadikannya ruang sosial yang egaliter. Siapa pun dalam komunitas dapat hadir, mendengar, dan menanggapi. Dalam ruang ini, tidak ada hierarki kekuasaan yang kaku. tokoh agama, petani, pemuda, dan perempuan dapat berbagi pengalaman spiritual dan kebudayaan yang sama. Ruang semacam ini menciptakan interaksi sosial yang cair dan memperkuat solidaritas komunitas, sebuah bentuk dari communitas dalam istilah Victor Turner . , yakni solidaritas spontan yang terbentuk dalam momen ritus kolektif. Narasi dalam mamaca juga bekerja sebagai arsip budaya yang menyimpan sejarah lokal, tokoh-tokoh adat, dan jejak Islamisasi di Madura. Sebagian besar masyarakat tidak membaca sejarah dalam bentuk tulisan, tetapi mendengar dan menghayatinya melalui tembang dan penafsiran dalam mamaca. Oleh karena itu, mamaca berfungsi sebagai mekanisme pelestarian identitas historis dan spiritual komunitas dalam bentuk yang dinamis dan komunikatif (Foley, 2002. Braginsky, 2. Dengan demikian, fungsi integratif mamaca tidak dapat dilepaskan dari perannya dalam membangun, memelihara, dan memperkuat identitas kolektif masyarakat Madura. Ia menjadi wadah bagi regenerasi nilai, forum interaksi lintas kelas dan generasi, serta sumber narasi bersama yang menyatukan individu dalam kesadaran budaya dan spiritual yang sama. Di tengah tantangan globalisasi dan modernisasi, mamaca menjadi bentuk kultural yang lentur namun kuat dalam menjaga keberlangsungan identitas komunitas. 555 | MasAoodi: Typology and Narrative Structure of Tembang Mamaca: An Oral Literature Study in Pamekasan. Madura AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 1, 2025, 541-560 Kesimpulan Tradisi mamaca di Desa Bandaran bukan semata-mata ekspresi seni tutur yang estetis, tetapi juga mengemban fungsi sebagai narasi sosial dan spiritual yang menyatu dalam denyut kehidupan masyarakat Madura. Tembangtembang yang dilantunkan dengan penuh khidmat dan diiringi penafsiran oleh tokang tegghes menjadi ruang artikulasi nilai-nilai moral, keislaman, dan kebudayaan lokal yang hidup dan dinamis. Fungsi estetiknya tidak terpisah dari nilai praktisnya dalam membentuk kesadaran etis dan religius Masyarakat. Mamaca tidak berhenti sebagai bentuk pertunjukan, melainkan menjadi wahana refleksi kolektif atas kehidupan dan keberagamaan. Tipologi tembang mamaca memperlihatkan adanya keragaman tema, mulai dari harapan, cinta ilahiah, perjuangan, kerinduan spiritual, penolakan terhadap keduniawian, hingga semangat pemuda. Keragaman ini menunjukkan keluasan cakupan nilai yang dibawa oleh mamaca, namun seluruhnya tetap diarahkan untuk satu tujuan utama, yaitu mendidik dan membentuk karakter Pesan-pesan tersebut dikemas dalam bentuk yang musikal, puitis, dan simbolik sehingga mudah diterima dan diresapi oleh berbagai kalangan, termasuk generasi muda. Inilah yang menjadikan mamaca bukan hanya warisan budaya, tetapi juga kurikulum nilai yang hidup di tengah masyarakat. Struktur naratif yang khas dalam tembang-tembang mamaca dengan pola pembukaan, konflik, klimaks, dan penutup bernuansa nasihat membantu audiens untuk menangkap pesan moral dan religius secara efektif. Narasi dalam mamaca tidak hanya menyampaikan kisah, tetapi juga memandu audiens untuk menginterpretasikan nilai di balik kisah tersebut. Proses ini memungkinkan terjadinya transformasi batiniah yang tidak menggurui, tetapi membimbing secara halus dan reflektif. Karakteristik ini menjadikan mamaca sebagai media pendidikan yang adaptif dan transgeneratif, mampu menjembatani nilai-nilai tradisional dengan konteks kehidupan modern. Implikasi dari temuan ini menunjukkan bahwa mamaca dapat diintegrasikan secara strategis dalam program pelestarian budaya, pendidikan 556 | MasAoodi: Typology and Narrative Structure of Tembang Mamaca: An Oral Literature Study in Pamekasan. Madura AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 1, 2025, 541-560 karakter, dan pengembangan kurikulum berbasis kearifan lokal. Di tengah tantangan globalisasi dan modernisasi yang kerap mengikis identitas lokal, mamaca menawarkan model pendidikan budaya yang berbasis komunitas, partisipatif, dan berakar kuat pada nilai-nilai religius dan sosial. Oleh karena itu, upaya pelestarian mamaca tidak hanya penting untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya, tetapi juga untuk memperkuat jati diri kultural dan spiritual masyarakat Madura secara berkelanjutan. 557 | MasAoodi: Typology and Narrative Structure of Tembang Mamaca: An Oral Literature Study in Pamekasan. Madura AL-IRFAN: Journal of Arabic Literature and Islamic Studies Vol. No. 1, 2025, 541-560 References