Kearifan Lokal Masyarakat Desa Lereng Merapi dalam Upaya Mitigasi Bencana Erupsi Suryani 1*. Andayani Listyawati 1. Fatwa Nurul Hakim1 Pusat Riset Kesejahteraan Sosial Desa dan Konektivitas. Badan Riset dan Inovasi Nasional. Kawasan Yogyakarta Gedongkuning. Indonesia * Korespondensi: sryanibpks@gmail. Tel: 62 878-3825-9208 Diterima: 18 Oktober 2022. Disetujui: 12 Desember 2022. Diterbitkan: 31 Desember 2022 Abstrak: Sebagai masyarakat yang bermukim diperdesaan Lereng Merapi, tentu memiliki beragam bentuk kearifan lokal dalam upaya mitigasi bencana erupsi. Permasalahan penelitian ini dirumuskan dalam bentuk pertanyaan penelitian, bagaimana bentuk dan makna kearifan lokal masyarakat perdesaan lereng Merapi yang didayagunakan dalam upaya mitigasi bencana erupsi. Penelitian dilakukan di Kalurahan Umbulharjo. Kapanewon Cangkringan Kabupaten Sleman. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Penelitian ini bertujuan mengetahui bentuk dan makna kearifan lokal masyarakat lereng Merapi dalam upaya mitigasi bencana erupsi. Hasil penelitian menunjukkan, bahwa dalam upaya mitigasi bencana erupsi, masyarakat di perdesaan Lereng Merapi mendayagunakan sejumlah bentuk kearifan lokal: . pengetahuan lokal mencakup inisiatif lokal berupa kegiatan religius, pembimbingan filosofi jawa, gugur gunung, jimpitan, dan rembug warga. Teknologi lokal berupa kenthongan sebagai wahana pertukaran informasi baik kondisi aman maupun dalam keadaan marabahaya . budaya lokal, berupa tradisi mencakup upacara labuhan dan nyadran, kesenian slawatan, serta ungkapan lokal seperti sing eling lan waspada, . keterampilan lokal mencakup keterampilan bertani dalam pembuatan pakan ternak berbahan dasar sampah organik. sumberdaya lokal mencakup sumberdaya manusia, alam, dan sumberdaya sosial. proses sosial lokal mencakup penguatan pola interaksi sosial, tata hubungan warga, dan pengawasan sosial. solidaritas kelompok meliputi penguatan sikap kebersamaan dan kesetiakawanan sosial berlandaskan filosofi Jawa. Direkomendasikan agar kebijakan penanggulangan korban bencana alam mengutamakan upaya mitigasi dengan mendayagunakan setiap bentuk kearifan lokal masyarakat di daerah rawan bencana. Kata Kunci : Kearifan Lokal:Mitigasi:Bencana Erupsi Abstract: As a community living in the villages of the slopes of Merapi, of course they have various forms of local wisdom in efforts to deal with eruption disasters. This research problem is formulated in the form of research questions, how is the form and meaning of local wisdom of rural communities on the slopes of Merapi which are used in efforts to mitigate eruption The research was conducted in Kalurahan Umbulharjo. Kapanewon Cangkringan. Sleman Regency. The method used is descriptive qualitative. This study aims to determine the form and meaning of local wisdom of the merapi slope community in an effort to mitigate the eruption disaster. The results showed that in an effort to mitigate the eruption disaster, communities in the rural slopes of Merapi utilized a number of forms of local wisdom: . local knowledge includes local initiatives in the form of religious activities, guidance on Javanese philosophy, mountain falls, jimpitan, and community Local technology in the form of lies as a vehicle for exchanging information both safe conditions and in a state of danger . local culture, in the form of traditions including labuhan and nyadran ceremonies, slawatan arts, and local expressions such as sing eling and alert, , . local skills include farming skills in the manufacture of animal feed based on organic waste. local resources include human resources, nature, and social resources. Local social processes include strengthening patterns of social interaction, community relations, and social supervision. Group solidarity includes strengthening attitudes of togetherness and social solidarity based on Javanese philosophy. It is recommended that the policy of handling victims of natural disasters prioritizes mitigation efforts by utilizing every form of local wisdom of the community in disaster-prone areas. Keywords : Local Wisdom: Mitigation: Eruption Disaster https://ejournal. id/index. php/SosioKonsepsia/article/view/3089 DOI : 10. 33007/ska. SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 11. No 3 . : hal 413 - 429 Pendahuluan Indonesia merupakan daerah rawan bencana alam karena wilayahnya terdiri dari gugusan pulau, banyak aliran sungai, dan gunung berapi. Sehingga potensi terjadi bencana alam tidak dapat dihindari. Menurut catatan BNPB pada tahun 2022 menunjukkan, bahwa sebanyak 78 persen wilayah Indonesia merupakan daerah rawan bencana alam dan sekitar 838 dari 514 kabupaten/kota mempunyai potensi sebagai daerah rawan bencana alam. Masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana pada umumya memiliki kearifan lokal dalam upaya mitigasi bencana, begitu pula masyarakat di perdesaan lereng Merapi. Gunung Merapi yang berada di perbatasan DI Yogyakarta dengan Jawa Tengah merupakan satu di antara 129 gunung api aktif, bahkan sebagai gunung paling aktif di dunia. Hartuti . menyatakan, gunung Merapi mempunyai ciri khas dengan jarak letusan relatif pendek sehingga berpotensi bahaya, baik bagi lingkungan fisik . , makluk hidup, maupun lingkungan sosial yang berada di daerah rawan erupsi khususnya di kawasan hunian lereng merapi. Di balik bahaya Gunung Merapi tersebut, wawancara dengan Jokarto . menyatakan, bahwa gunung tersebut selama ini telah berjasa bagi warga setempat, yakni sebagai sumber kehidupan dan penghidupan berkat keaktifannya mengeluarkan lava pijar yang membuat suburnya tanah, dan erupsi merupakan kehendak Sang Penguasa Merapi dan perlu dihormati. Pandangan warga ini senada dengan Hudayana . , warga masyarakat sekitar lereng Merapi beranggapan sudah selayaknya menghormati dan menerima secara iklas ketika Gunung Merapi duwe gawe. Maksudnya, jika erupsi masyarakat menganggap gunung tersebut sedang hajatan besar dan mereka berusaha membantu secara iklas meskipun harus mengorbankan harta benda bahkan bertaruh nyawa. Korban jiwa erupsi 25 Nopember 2010 menurut catatan Dinas Sosial Kabupaten Sleman merupakan kejadian cukup besar yang merenggut korban mencapai 270 orang meninggal disinyalir berkait dengan pandangan tersebut. Hal ini terjadi karena banyak warga yang tidak segera mau di evakuasi termasuk juru kunci tradisi labuhan Mbah Marijan. Hasil wawancara di lapangan sesepuh warga setempat Sodikrono . mengemukakan pengalaman saat menghadapi erupsi Merapi 2010 lalu dengan menyatakan, dalam membangun kembali infrastruktur sosial ekonomi yang hancur dilakukan hanya bermodal ketahanan baik secara fisik, mental, maupun ketahanan sosial. Raharjo . menyebutkan, bahwa masyarakat berketahanan sosial adalah masyarakat yang aktif, mandiri, dan mampu bertahan dalam berhadapan dengan berbagai masalah. Warto . , masyarakat berketahanan sosial adalah masyarakat yang di antaranya mempunyai kemampuan menggali kearifan lokal dalam memelihara sumberdaya alam dan sosial. Mengacu pendapat tersebut dan tentu disesuaikan dengan konteks kajian ini, masyarakat berketahanan sosial adalah masyarakat yang mampu menghadapi permasalahan dengan mendayagunakan kearifan lokal. Pendayagunaan kearifan lokal selayaknya dilakukan masyarakat pada era otonomi daerah, karena penanganan permasalahan sosial dengan format yang diseragamkan tanpa memperhatikan karakteristik/keunikan masyarakat lokal terbukti sering terjadi benturan dan mengalami kegagalan. Ditegaskan dalam bagian pengantar Undang-undang Otonomi Daerah Tahun 1999, prinsip otonomi daerah adalah memiliki kewenangan dan tanggungjawab menyelenggarakan kepentingan masyarakat berdasarkan prinsip keterbukaan dan partisipasi masyarakat. Pencapaian keberhasilan yang diharapkan hendaknya bertumpu pada tumbuh dan berkembangnya inisiatif, prakarsa, dan kreativitas dari warga masyarakat . ottom u. baik dalam menggali permasalahan dan kebutuhan, merumuskan tujuan, merencanakan program, melaksanakan kegiatan, maupun dalam mengevaluasi hasil yang Seiring dengan otonomi daerah, masyarakat di setiap wilayah dalam menangani permasalahan sosial seyogyanya mendayagunakan berbagai bentuk kearifan lokal di daerah setempat. Cahyono et a. , senada dengan perihal tersebut menyatakan kearifan lokal pada mulanya dikembangkan oleh masyarakat, dari masyarakat, dan untuk masyarakat dengan tidak memerlukan banyak penyesuaian dan sosialisasi dalam implementasinya karena warga setempat lebih memahami. Atas dasar tersebut permasalahan yang diajukan adalah . Bagaimana gambaran lokasi kajian sebagai daerah rawan Suryani. Andayani Listyawati dan Fatwa Nurul Hakim1 Kearifan Lokal Masyarakat Desa Lereng Merapi dalam Upaya Mitigasi Bencana Erupsi SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 11. No 3 . : hal 413 Ae 429 bencana erupsi Merapi. Bagaimana bentuk kearifan lokal masyarakat desa lereng Merapi yang didayagunakan dalam upaya mitigasi bencana erupsi. Bagaimana makna setiap bentuk kearifan lokal masyarakat desa lereng Merapi dalam kaitan dengan upaya mitigasi bencana erupsi. Apakah faktor pendukung dan penghambat masyarakat desa lereng Merapi dalam mendayagunakan kearifan lokal sebagai upaya mitigasi bencana erupsi. Mengacu permasalahan yang dirumuskan, berikut tujuan yang dicapai . Di ketahui gambaran lokasi kajian sebagai daerah rawan bencana erupsi. Di ketahui bentuk kearifan lokal masyarakat desa lereng Merapi yang didayagunakan dalam upaya mitigasi bencana erupsi. Di ketahui makna setiap bentuk kearifan lokal masyarakat desa lereng Merapi dalam kaitan dengan upaya mitigasi bencana erupsi. Teridentifikasi faktor pendukung dan penghambat masyarakat desa lereng Merapi dalam mendayagunakan kearifan lokal sebagai upaya mitigasi bencana Metode Penelitian Kajian lereng Merapi dalam mitigasi bencana erupsi merupakan penelitian deskriptif kualitatif menggunakan pendekatan ethnografi dengan menggali dan mendeskripsikan secara objektif bagaimana warga setempat secara kolektif menghayati dan berinteraksi dengan lingkungan alam sebagai daerah rawan bencana yang berbahaya dari letusan gunung api. Selain itu, juga mengungkap dan menggambarkan tentang persepsi, sikap, perilaku, dan tindakan warga keseharian dalam menghadapi bencana dan berbagai upaya mitigasi yang mereka lakukan untuk bersiapsiaga dan mengantisipasi jika sewaktu-waktu terjadi erupsi. Pendekatan ethnografi lebih menekankan pada karakteristik dengan keterlibatan peneliti secara penuh, mengeksplor budaya masyarakat dan pemaparan data lebih Hal tersebut sejalan dengan Marvasti . yang menekankan ada tiga dimensi dalam ethnografi, yaitu keterlibatan dan partisipasi dalam topik yang dipelajari, perhatian terhadap konteks social pengumpulan data, dan kepekaan terhadap bagaimana subyek peneliti direpresentasikan dalam teks penelitian. Pengumpulan data menggunakan sumber data primer ditujukan kepada individu yang dipandang memahami dan memiliki kemampuan untuk menjelaskan perihal objek yang menjadi fokus kajian ini terdiri dari satu orang Lurah Desa Umbulharjo, dua orang aparat desa, dua orang kepala dusun, satu orang pengurus kampung siaga bencana (KSB) AuMerapiAy, sembilan orang ketua adat, tiga orang tokoh masyarakat/agama, satu orang juru kunci labuhan Merapi, dua orang pelaku upacara labuhan Merapi, satu orang korban bencana erupsi, dan delapan orang pengurus paguyuban seni budaya . lawatan, kethoprak, jathilan, tari, hadroh, dan macapa. dilakukan dengan wawancara. Observasi dilakukan untuk untuk mengamati secara langsung dengan cermat mengenai tradisi, adat istiadat, seni, dan budaya setempat yang berkaitan dengan upaya masyarakat dalam mitigasi bencana erupsi gunung Merapi. Studi dokumen sebagai upaya mengumpulkan data pendukung dari sejumlah dokumen yang dicatat atau dilaporkan oleh berbagai pihak berkompenten. Dokumen yang dihimpun di antaranya berkait dengan kondisi geografi dan demografi yang bersumber dari Kabupaten Sleman dalam Angka, monografi Kecamatan Cangkringan, monografi Desa Umbulharjo, serta data korban erupsi yang didokumentasikan oleh Dinas Sosial Kabupaten Sleman, dan peristiwa bencana erupsi gunung Merapi dari waktu ke waktu yang dicatat oleh Dinas Vulkanologi DI. Yogyakarta. Selanjutnya analisis menggunakan Berbagai informasi meliputi fakta di lapangan, pendapat, pandangan, sikap, perilaku, dan tindakan masyarakat yang berhasil dikumpulkan melalui wawancara terhadap informan, pengamatan langsung di kancah, studi pustaka yang relevan. Data kemudian dikelompokkan dan diklasifikasi dengan mengacu beberapa kriteria yang ditetapkan sesuai dengan Analisis data dilakukan dengan cara menghubungkan baik antara berbagai pernyataan atau jawaban setiap informan, maupun dengan informasi hasil studi kepustakaan, dan pengamatan di lapangan tentang sikap, perilaku, dan tindakan warga. Korelasi dilakukan untuk melihat berbagai kearifan lokal yang didayagunakan masyarakat dalam upaya mitigasi bencana erupsi gunung Merapi. Penyajian data, dilakukan dengan menggambarkan makna data secara narasi dengan rangkaian kata/kalimat yang lugas agar mudah dipahami. Suryani. Andayani Listyawati dan Fatwa Nurul Hakim1 Kearifan Lokal Masyarakat Desa Lereng Merapi dalam Upaya Mitigasi Bencana Erupsi SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 11. No 3 . : hal 413 - 429 Pemaknaan dilakukan dengan cara menguraikan untuk menjelaskan secara deskripsi melalui penyajian narasi mengenai arti setiap fenomena yang berkait dengan pendayagunaan kearifan lokal masyarakat lereng Merapi dalam mitigasi bencana erupsi beserta faktor yang mendukung dan menghambat upaya mitigasi erupsi. Penarikan kesimpulan dalam penelitian dilakukan berdasar verifikasi data yang dilaksanakan secara berkelanjutan selama berlangsungnya proses pengumpulan Maksudnya sejak dimulai hingga berakhir pengumpulan data di lapangan, peneliti tidak berhenti melakukan analisis dengan berupaya memberi makna dari data yang berhasil dikumpulkan. Hasil analisis data setiap tahapan tersebut kemudian ditarik suatu kesimpulan meskipun sifatnya masih tentatif sebagai bahan penarikan kesimpulan hasil penelitian. Hal ini mengacu pada pandangan Miles. Huberman & Saldana . yang menyatakan bahwa, data yang terkumpul dianalisis dengan tiga rangkaian analisis data kualitatif, meliputi reduksi data . , display data . ata displa. serta penarikan kesimpulan . rawing and verivying conclusio. Hasil dan Pembahasan Sebagai hasil temuan kajian berikut disajikan bentuk dan makna kearifan loka yang didayagunakanl masyarakat daerah rawan bencana Kalurahan Umbulharjo dalam upaya mitigasi bencana erupsi gunung Merapi. Pendayagunaan Kearifan Lokal Dimensi Pengetahuan Lokal. Sebagaimana dinyatakan Jim Iffe, bahwa pengetahuan lokal sebagai demensi kearifan lokal mencakup inisiatif lokal dan teknologi lokal. Terdapat lima kegiatan masyarakat Kalurahan Umbulharjo yang bernuansa inisiatif lokal, yakni kegiatan religius, penanaman filosofi Jawa . , rembug warga, gugur gunung . otong royon. , dan penghimpunan dana sosial. Kegiatan religius. Menurut informan kegiatan religius lebih banyak dilakukan masyarakat pasca terjadinya erupsi Merapi pada tahun 2010 silam. Di KalurahanUmbulharjo terdapat tiga agama yang dianut masyarakat yakni Islam. Katholik, dan Kristen. Kegiatan peribadatan dilakukan secara pribadi atau secara berjemaah, baik di Masjid maupun di Gereja sesuai dengan keyakinan masing-masing. Informan menuturkan, semua kegiatan religius tersebut mereka lakukan dengan tujuan untuk memohon kepada Tuhan Yang Mahaesa agar warga Kalurahan Umbulharjo yang tempat tinggalnya merupakan daerah lereng Merapi bagian selatan senantiasa diberi keselamatan dan mendapat perlindungan khususnya dari ancaman bencana erupsi. Kegiatan keagamaan dan peribadatan selama ini terus dilakukan, bahkan selalu ditingkatkan seiring dengan seringnya gunung Merapi berstatus Makna keberadaan kegiatan keagamaan masyarakat lereng Merapi Desa Umbulharjo, bahwa peribadatan tersebut mereka laksanakan untuk menjaga keselarasan antara kebutuhan warga yang bersifat dunia dan akherat. Kegiatan keagamaan terutama berbentuk peribadatan dalam rangka meningkatkan keimanan dan ketaqwaan merupakan faktor sangat berpengaruh dalam mendorong masyarakat untuk senantiasa bersemangat dalam mewaspadai, mengantisipasi, dan kesiapsiagaan mereka untuk menghadapi bencana erupsi Merapi jika sewaktu-waktu terjadi. Kewaspadaan, antisipasi, dan kesiapsiagaan ini terutama mereka implementasikan pada berbagai kegiatan persiapan menghadapi bencana erupsi seperti merawat dan memperbaiki jalur evakuasi, menyiapkan prasarana dan sarana pengungsian, serta menyosialisasikan program dan kegiatan berkait dengan upaya mitigasi bencana erupsi Merapi. Filosofi Jawa. Warga Kalurahan Umbulharjo sebagai masyarakat Jawa utamanya generasi tua, selain menanamkan nilai yang bersumber dari agama yang dianut, juga mengajarkan nilai-nilai kejawen . ilosofi masyarakat Jaw. kepada generasi muda. Mbah Barudin . seorang pemuka agama Islam menyatakan, warga Kalurahan Umbulharjo meskipun telah memeluk agama, namun pada umumnya mereka masih mempertahankan nilai yang terkandung dalam filosofi masyarakat Jawa. Mereka memperkuat pernyataan dengan menegaskan, bahwa wong Jawa iku kudu njawani yang secara tersirat artinya orang Jawa itu seharusnya berkepribadian Jawa. Sebagai penegasan lain informan juga mengemukakan ungkapan wong Jawa aja ilang jawane yang secara tersirat berarti selaku orang Jawa Suryani. Andayani Listyawati dan Fatwa Nurul Hakim1 Kearifan Lokal Masyarakat Desa Lereng Merapi dalam Upaya Mitigasi Bencana Erupsi SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 11. No 3 . : hal 413 Ae 429 hendaknya jangan kehilangan watak/kepribadian sebagai orang Jawa. Dalam wawancara sebagai pendalaman lanjut diperoleh informasi, bahwa penanaman nilai dan atau filosofi Jawa oleh generasi tua kepada generasi muda dilakukan melalui pendidikan sopan santun oleh warga setempat disebut wulang wuruk suba sita, tata krama, unggah ungguh yang pada intinya merupakan pembinaan sikap dan perilaku sewaktu bersosialisasi dengan orang lain sesuai norma sopan santun masyarakat Jawa. samping melalui pendidikan sopan santun, penanaman nilai filosofi kejawen juga dilakukan melalui penggunaan bahasa Jawa secara benar dalam kehidupan keseharian. Sumber data menginformasikan, bahwa penggunaan bahasa Jawa dalam implementasinya terdapat tiga tingkatan yaitu bahasa ngoko, krama madya, dan krama inggil. Dicontohkan, bahasa Jawa ngoko biasanya digunakan untuk berkomunikasi dengan saudara/teman akrab dalam kehidupan keseharian, misalnya kowe lunga seka ngendi, iki kakangku lagi turu . amu pergi dari mana, ini kakakku baru tidu. Bahasa Jawa krama madya digunakan untuk berkumunikasi dengan orang lain yang dirasa harus dihormati, misalnya sampean kesah saking pundi, niki kangmas kula nembe tilem. Sementara bahasa krama inggil digunakan untuk berkomunikasi dengan orang lain yang sangat dihormati, misalnya panjenengan tindak saking pundi, menika raka kula nembe sare. Pembimbingan filosofi yang dikenal dengan nilai kejawen oleh generasi tua masyarakat Kalurahan Umbulharjo juga dilakukan melalui media sanggar ataupun paguyuban, yang bertujuan untuk melestarikan dan mewariskan nilai budaya Jawa terutama yang menyangkut norma dan etika sesuai ajaran leluhur masyarakat Jawa. Keberadaan sanggar tari Widya Budaya asuhan Ibu Sri Lestari di Padukuhan Plosorejo, sanggar tari Bondan pimpinan Ibu Neta di Dusun Pentingsari, dan sangar tari Mutiara Abadi dengan pengasuh Bpk Nartukijo di Dusun Karanggeneng ternyata sangat berperan dalam menanamkan tentang filosofi Jawa atau nilai kejawen. Selain keberadaan tiga sanggar tari tersebut, warga masyarakat Dusun Balong dan Dusun Gondang juga mendirikan paguyupan macapat, merupakan perkumpulan warga dalam melantunkan sekaligus mengartikan dan mengkaji makna yang terkandung dari setiap tembang Jawa yang disebut Menurut informan, tembang macapat terdapat sembilan jenis terdiri dari Kinanthi. Sinom. Asmarandana. Pangkur. Pucung. Dandanggula. Durma. Maskumambang, dan Mijil. Semua tembang macapat tersebut ditulis dengan huruf Jawa dan menggunakan bahasa Kawi . ahasa Jawa kun. Berikut salah satu tembang macapat Dandanggula yang dicontohkan sekaligus diartikan oleh Darminto . seorang ketua paguyuban macapat di Dusun Karanggeneng: Yogyanira kang para prajurit . ebaiknya bagi seorang prajuri. Lamun bisa sira nuladha . ikalau bisa dirimu menconto. Dhuk ing nguni caritane . egini dulu ceritany. Andelira Sang Prabu Sasrabau ing Maespati . erwira perang Sang Prabu Sasrabau di Maespat. Aran Patih Suwanda lelabuhanipun . ernama Patih Suwanda pengabdianny. Kang ginelung tri prakara . ang terdiri dari tiga perkar. Guna, kaya, purun ingkang den antepi . erguna, berdarma, dan berkemauan mengabdi yang diyakin. Nuhoni trah utama . atuh ajaran keluarga yang Informan lebih lanjut menjelaskan makna yang tersirat dalam tembang tersebut, yaitu bahwa diharapkan semua petugas yang mengabdi pada masyarakat, hendaknya dapat mencontoh dan meneladani pengabdian Patih Suwanda yang sewaktu muda bernama Raden Sumantri. Raden Sumantri (Suwand. selaku patih Prabu Sosrobau raja Maespati ini dalam mengabdi terhadap negara dilakukan secara totalitas, yakni berusaha dirinya berguna bagi negara, berdarma dalam bentuk kekayaan, dan sanggup melakukan pekerjaan apapun yang ditugaskan oleh pimpinan. Jiwa dan semangat Patih Suwanda sebagaimana digambarkan hendaknya diadopsi bagi warga masyarakat dalam melakukan pengabdian sesuai tugas dan tanggungjawab masing-masing. Apabila dikaitkan dengan kajian ini, maka dalam rangka kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana erupsi Merapi, setiap aparat/petugas di lingkup Kalurahan Umbulharjo diharapkan dapat meneladani sikap dan tindakan seorang tokoh yang digambarkan dalam pewayangan melalui tembang macapat tersebut. Berdasar data tentang kiat pembimbingan filosofi Jawa yang dilakukan orang tua kepada generasi muda di lokasi kajian dapat ditegaskan, bahwa masyarakat Desa Umbulharjo secara berkelanjutan senantiasa menanamkan nilai kejawen. Kiat tersebut dilakukan dalam upaya mempertahankan dan melestarikan karakter masyarakat Jawa sebagai keunikan yang merupakan cirikhas etnis Jawa. Suryani. Andayani Listyawati dan Fatwa Nurul Hakim1 Kearifan Lokal Masyarakat Desa Lereng Merapi dalam Upaya Mitigasi Bencana Erupsi SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 11. No 3 . : hal 413 - 429 Karakteristik dan keunikan yang berbeda ini merupakan sumberdaya sosial sebagai modal menumbuhkembangkan ketahanan sosial masyarakat Kalurahan Umbulharjo dalam kesiapsiagaan menghadapi bencana erupsi Merapi. Gugur gunung. Kearifan lokal masyarakat yang berwujud kegiatan gotong royong yang merupakan cirikhas masyarakat Jawa tidak terkecuali warga lereng Merapi yang bertempat tinggal di Kalurahan Umbulharjo. Pada intinya gugur gunung merupakan kegiatan yang bernuansa kebersamaan warga dalam menyelesaikan suatu pekerjaan dengan saling membantu. Hasil wawancara dan didukung pengamatan di lapangan menunjukkan, bahwa kegiatan gugur gunung atau gotong royong ini warga lakukan pada dua demensi yakni gotong royong berdemensi membantu dan gotong royong berdemensi kerja bakti. Gotong royong berdimensi bantu membantu sesama warga yang mereka istilahkan dengan kata sambatan. Misalnya sambatan pada keluarga dalam menyelesaikan pekerjaan mencangkul di sawah, membuat/membangun rumah, ataupun menyelesaikan pekerjaan seorang warga yang menyelenggarakan hajatan. Gotong royong berdimensi kerja bakti yang oleh warga setempat disebut mrogan yang menurut informan berasal dari kata mrogram berarti merencanakan Karena kesulitan mengucapkan, maka sesepuh terdahulu menyebutnya mrogan yang dimaksud adalah gotong royong berdimensi kerja bakti menyelesaikan pekerjaan untuk kepentingan umum seperti mengeruk walet . edimen saluran irigas. , bersih-bersih lingkungan RT/RW ataupun dukuh dan perbaikan benteng makam. Sementara mrogan yang berkait dengan mitigasi bencana misalnya membuat/memperbaiki jalur evakuasi, menyelesaikan pekerjaan mempersiapkan upacara ritual labuhan Merapi, membersihkan lahan/lapangan pengungsian, dan membenahi lingkungan hunian tetap. Menghimpun dana sosial. Model kemandirian warga Kalurahan Umbulharjo sebagai upaya menghimpun dana sosial dalam memberikan bantuan bagi masyarakat terdampak erupsi dengan menghimpun dana bantuan sosial melalui model jimpitan oleh warga setempat baik dalam bentuk uang maupun barang. Jimpitan yang berbentuk barang berupa beras. Jumlah bantuan sosial yang dihimpun melalui kegiatan jimpitan ditetapkan berdasarkan kesepakatan dalam musyawarah warga pada lingkup RT,RW ataupun tingkat dukuh. Uang atau beras yang jumlahnya telah disepakati bersama setiap sore menjelang malam ditaruh dengan wadah tertentu seperti gelas plastik aqua dan diletakkan di depan rumah oleh masing-masing warga. Petugas ronda malam (Siskamlin. kemudian pada tengah malam hingga dini hari mengambil uang/beras jimpitan sekaligus berkeliling untuk menjaga keamanan Sutrisno seorang Dukuh Balong berkait dengan model penghimpunan dana ini mengemukakan, kegiatan jimpitan ini kelihatannya tampak sederhana bahkan dapat dikatakan sepele, namun jika dilakukan secara rutin dalam jangka waktu yang lama ternyata dapat mengumpulkan dana yang jumlahnya relatif banyak. Informan ini memberikan ilustrasi, kegiatan pengumpulan dana sosial melalui jimpitan di RT 01 Dukuh Balong sebagai wilayah dirinya bertempat tinggal. Wilayah RT tersebut ditempati 46 kepala keluarga dan setiap malam masing-masing keluarga memberikan dana jimpitan minimal Rp. 500,- sehingga setiap malam dapat mengumpulkan dana sosial minimal Rp. 000,-. Dengan demikian, warga RT 01 tersebut dalam satu bulan mampu menghimpun dana sosial minimal sebanyak Rp. 000,- dan dalam satu tahun minimal dapat mengumpulkan dana sebanyak Rp. 000,-. Dukuh Balong lebih lanjut menginformasikan, dari hasil kegiatan jimpitan tersebut setelah terhimpun dimanfaatkan untuk memberikan bantuan sosial. Warga yang menjadi sasaran bantuan sosial hasil jimpitan di antaranya anggota keluarga yang sakit dan opname, anak yatim piatu, lanjut usia terlantar, keluarga duafa, disabilitas terlantar, korban bencana puting beliung, dan keluarga korban kebakaran. Seorang tokoh masyarakat sekaligus sesepuh desa setempat Mbah Jarwo mempertegas, bahwa pengumpulan dana sosial melalui kegiatan jimpitan merupakan bentuk kemandirian dan keswadayaan yang dilandasi sikap kegotongroyongan warga dengan dijiwai semangat menabung untuk berkegiatan sosial. Sesepuh desa ini bahkan menambahkan, bahwa kegiatan jimpitan sebagai model pengumpulan dana bantuan sosial pada dasarnya hampir dilakukan oleh setiap warga RT/dukuh di wilayah Kalurahan Umbulharjo. Suryani. Andayani Listyawati dan Fatwa Nurul Hakim1 Kearifan Lokal Masyarakat Desa Lereng Merapi dalam Upaya Mitigasi Bencana Erupsi SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 11. No 3 . : hal 413 Ae 429 Sumber data tersebut melengkapi informasi, bahwa penghimpunan dana bantuan sosial melalui kegiatan jimpitan dilakukan oleh warga perdesaan lereng Merapi tersebut, karena merupakan strategi pengumpulan dana sosial secara mandiri yang dirasa sangat meringankan warga, namun dapat memperoleh hasil secara optimal. Selain itu, juga dimanfaatkan sebagai wahana untuk lebih menggiatkan ronda malam sebagai salah satu sistem keamanan lingkungan. Selama pascabencana letusan Merapi tahun 2010 lalu, pengumpulan dana sosial melalui kegiatan jimpitan dari masingmasing dukuh juga dimanfaatkan untuk memberi bantuan sosial bagi warga Padukuhan Pelemsari dan sebagian warga Padukuhan Pangukrejo yang menjadi korban erupsi Merapi. Selain itu, jika cadangan bantuan sosial tersebut berlebih, dana juga dialokasikan untuk kepentingan warga dalam menghadapi bencana, seperti penyediaan konsumsi kerja bakti perbaikan jalur evakuasi, pelatihan evakuasi korban, dan praktik pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K). Makna dari kegiatan jimpitan yang dilakukan warga Kalurahan Umbulharjo, bahwa masyarakat perdesaan setempat mampu menggali dan melestarikan kearifan lokal berupa kemandirian dan keswadayaan dalam menghimpun dana untuk bantuan sosial bagi warga yang membutuhkan. Kemandirian dan keswadayaan pengumpulan dana sosial tersebut tentunya merupakan modal sosial masyarakat Umbulharjo yang wilayahnya merupakan daerah rawan bencana erupsi Merapi. Kegiatan penggalangan dana sosial yang dilakukan secara mandiri dan swadaya tersebut, selanjutnya didayagunakan sebagai wahana untuk mencapai ketahanan sosial masyarakat, terutama dalam rangka menghadapi, bersiapsiaga, dan antisipasi bencana erupsi Merapi. Rembug warga. Kegiatan ini dilakukan dalam upaya mitigasi bencana erupsi Merapi. Rembug warga sebagai upaya mitigasi bencana baik bencana erupsi, bencana banjir lahar dingin, maupun bencana lain seperti tanah longsor dan puting beliung. Pelaksanaan rembug warga dalam rangka kewaspadaan dan kesiapsiagaan menghadapi bencana alam tersebut mereka lakukan baik pada tingkat RT/RW, dukuh, maupun tingkat Kalurahan Umbulharjo. Informan membeberkan, bahwa permasalahan yang dibahas dalam rembug warga berkait dengan upaya mitigasi bencana antara lain cara menghimpun dana sosial untuk korban bencana dan pengerjaan, perbaikan/pembuatan jalur Pembagian petugas pelaksanaan tradisi seperti upacara dandan/merti kali dan labuhan Merapi, kerja bakti pemeliharaan barak ataupun tempat pengungsian, dan simulasi mengungsi. Keberadaan rembug warga sebagai bagian kearifan lokal masyarakat Desa Umbulharjo dapat dimaknai, bahwa warga setempat mempunyai cara unik serta langkah arif dan bijaksana dalam bermusyawarah untuk melakukan berbagai upaya mitigasi bencana, khususnya dalam menghadapi bencana erupsi Merapi. Dengan demikian dapat ditegaskan, bahwa warga masyarakat lereng Merapi di perdesaan tersebut memiliki kearifan lokal untuk memelihara dan menggali sumberdaya sosial sebagai modal untuk mencapai ketahanan sosial. Teknologi lokal. Hasil kajian di lapangan menunjukkan terdapat dua teknologi lokal yang didayagunakan warga perdesaan lereng Merapi bagian selatan, yaitu teknologi komunikasi dengan media kenthongan, teknologi pertukangan, dan teknologi pembuatan peralatan dari batu. Teknologi yang dipergunakan dalam memberikan informasi jika terjadi bencana dan diterapkan masyarakat setempat dalam menaggulangi berbagai masalah berupa kenthongan. Kenthongan sebagai teknologi tepatguna yang diterapkan warga Kalurahan Umbulharjo dalam upaya mitigasi bencana. Informasi dari Bejo Mulyo . seorang mantan lurah Kalurahan Umbulharjo, bahwa kepemilikan kenthongan merupakan kepatuhan atas wasiat atau pesan nenek moyang yang menjadi leluhur warga Menurut cerita, wasiat agar setiap keluarga memiliki kenthongan secara turun temurun melalui gethak tular dari mulut ke mulut yang kemudian diyakini sebagai ajaran lokal, sehingga dalam kenyataannya sebagian terbanyak warga masih memiliki kenthongan. Informan menginformasikan, bahwa kegunaan kenthongan sangat cocok bagi masyarakat Kalurahan Umbulharjo. Sebagaimana hasil pengamatan, bahwa desa di lereng Merapi memiliki wilayah dengan kemiringan sangat terjal dan di antara padukuhan dibatasi lembah atau bukit, bahkan dibatasi tebing yang sangat curam. Sebelum merebaknya alat komunikasi modern seperti handphon/HT, warga perdesaan di lereng selatan Merapi bagian atas mengalami kesulitan untuk berkumonikasi secara cepat jarak jauh dengan warga di lereng bagian bawah jika sewaktu ada tanda bahaya erupsi Merapi. Suryani. Andayani Listyawati dan Fatwa Nurul Hakim1 Kearifan Lokal Masyarakat Desa Lereng Merapi dalam Upaya Mitigasi Bencana Erupsi SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 11. No 3 . : hal 413 - 429 Berdasar pada kondisi alam dan merupakan daerah yang rawan bencana erupsi itulah maka hingga saat ini warga masyarakat Kalurahan Umbulharjo mendayagunakan teknologi lokal dengan memanfaatkan kenthongan sebagai media komunikasi jika sewaktu waktu gunung Merapi menunjukkan tanda bahaya akan erupsi. Penggunaan teknologi lokal kenthongan sebagai media komunikasi massal tersebut hingga saat ini masih menjadi kebiasaan dan menurut informan akan terus dilestarikan, meskipun pada saat ini telah menjamur alat komunikasi modern. Pelestarian teknologi lokal kenthongan ini dilakukan warga juga sebagai upaya mendukung kebijakan Daerah Istimewa Yogyakarta yang salah satu keistimewaannya adalah mempertahankan berbagai bentuk kearifan lokal. Sumber data menginformasikan, bahwa kenthongan dipukul/dibunyikan warga sebagai media komunikasi baik dalam kondisi keamanan warga terjamin maupun kondisi masyarakat mengalami musibah seperti kebakaran rumah, rumah ambruk karena terlanda puting beliung, atau menghadapi ancaman bencana erupsi Merapi dan bahaya banjir lahar dingin. Dalam keadaan masyarakat aman terutama di tengah malam hingga dini hari, seorang warga biasanya membunyikan kenthongan yang disebut daramuluk yakni diawali pukulan keras dan jarang, kemudian pukulan melemah dan cepat, serta diakhiri dengan kembali pukulan keras dan jarang . Pemukulan kenthongan model daramuluk di tengah malam hingga dini hari bermakna, bahwa seseorang mengabarkan atau memberitahukan jika malam itu dalam kondisi aman dan terkendali, namun ia berpesan kepada warga lain agar senantiasa bersiaga, dan biasanya warga yang terbangun dari tidur juga membalas dengan kenthong daramuluk sehingga dimungkinkan terjadi komunikasi saling membalas di antara warga dengan menyampaikan pesan bahwa keamanan masyarakat dalam kondisi terkendali dan terjaga. Pendayagunaan Kearifan Lokal Dimensi Budaya Lokal. Labuhan. Tradisi labuhan gunung Merapi merupakan upaya mitigasi bencana erupsi secara tradisi. Wawancara dengan juru kunci tradisi labuhan Surakso Sihono mengemukakan, kesiapsiagaan warga terhadap bahaya erupsi Merapi juga dilakukan secara tradisional, yakni melaksanakan upacara labuhan ke puncak gunung tersebut dengan tempat yang dinamakan pelataran Sri Manganti. Menurut informan tersebut, tradisi berupa labuhan Merapi merupakan upacara ritual yang dilakukan Sentono dalem . Raja Yogyakarta yang melibatkan masyarakat Kalurahan Umbulharjo terutama warga kampung/RT Kinahrejo Padukuhan Pelemsari. Sumber data tersebut lebih lanjut menjelaskan, bahwa penyelenggaraan upacara ritual labuhan merupakan sarana warga masyarakat desa setempat untuk memohon keselamatan pada Tuhan Yang Mahaesa agar mereka terbebas dari marabahaya terutama terhindar dari bahaya erupsi gunung Merapi. Berkait dengan keberadaan tradisi labuhan tersebut, mantan Lurah Desa Umbulharjo Bejo Mulyo . membeberkan, upacara ritual kesiapsiagaan menghadapi bencana Merapi ini telah dilakukan warga secara turun temurun sejak para leluhur hingga saat ini dan ke depan. Informan mengaku memperoleh cerita lisan dari ayahnya dengan menegaskan, bahwa pada tahun 1930 setelah Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda dengan cara licik melalui tipudaya di Magelang, ada sebagian kerabat Keraton Yogyakarta yang dipimpin Kyai Wonodriyo mengungsi dan menetap di daerah yang sekarang disebut Kampung Kinahrejo sebagai wilayah Padukuhan Pelemsari. Kalurahan Umbulharjo. Kyai Wonodriyo kemudian oleh Raja Yogyakarta yang pada waktu itu Sri Sultan Hamengkubuwana VII diangkat menjadi Demang sekaligus sebagai juru kunci upacara labuhan gunung Merapi. Peran sebagai juru kunci tersebut terus digantikan oleh anak secara turun temurun hingga Ki Suraksohargo alias Mbah Marijan sebagai juru kunci yang sangat Pada saat penelitian ini tugas juru kunci upacara labuhan digantikan oleh putra Mbah Marijan yang bernama Ki Surakso Sihono. Sumber data lain adalah seorang yang menjabat Duku Pelemsari Ramijo . menginformasikan, bahwa upacara ritual labuhan di puncak Merapi dilakukan karena warga percaya adanya kekuatan gaib di balik letusan gunung paling aktif tersebut. Perihal ini senada pendapat Tyas Eko Raharjo (MIPKS:. dengan menyatakan, keberadaan gunung Merapi oleh warga setempat bukan saja bersifat fisik, tetapi juga dipandang ataupun dihayati sebagai alam yang bersifat adi kodrati . lam gai. Keberadaan gunung Merapi menurut warga setempat merupakan perpaduan antara kekuatan Sang Mahapencipta dengan kekuatan gaib yang menjadi penghuni Merapi. Perpaduan dua Suryani. Andayani Listyawati dan Fatwa Nurul Hakim1 Kearifan Lokal Masyarakat Desa Lereng Merapi dalam Upaya Mitigasi Bencana Erupsi SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 11. No 3 . : hal 413 Ae 429 kekuatan tersebut menjadi hubungan secara baik dan seimbang antara kehidupan alami manusia dengan makhluk penghuni alam semesta. Sewaktu melakukan observasi pelaksanaan upacara labuhan Merapi peneliti memperoleh informasi, bahwa labuhan kali ini dimulai dan berangkat pukul 06. 40 dari pelataran Harga Dalem Kinahrejo menuju tempat mendekati puncak Merapi yang disebut Pelataran Sri Manganti. Menurut Sugesti . salah seorang pembawa uba rampe untuk sesaji yang pada saat itu ia telah bertugas untuk yang ketiga kalinya, mengaku merasa senang diajak ibunya mengikuti upacara labuhan, meskipun berjalan naik gunung tidak memakai alas kaki. Gadis tersebut bahkan mengaku, bahwa keikutsertaannya merupakan bagian dari nguri-uri tradisi warga setempat sebagai unsur budaya Jawa. Supriyatun sebagai ibu kandung gadis Sugesti lebih lanjut menambahkan informasi, bahwa upacara labuhan Merapi tahun ini lebih ramai dibanding tahun sebelumnya, meskipun gunung Merapi dalam kondisi status waspada. Masyarakat juga antusias mengikuti prosesi rutin yang digelar secara tahunan Informan ini menyatakan, bahwa tujuan masyarakat mengikuti prosesi labuhan adalah untuk ngalap berkah, sekaligus memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Mahaesa agar diberi rizeki barokah, kesehatan, dan keselamatan utamanya agar terhindar dan selamat dari bencana erupsi Merapi. Nyadran. Wujud kesiapsiagaan masyarakat Kalurahan Umbulharjo secara tradisi yang lain adalah upacara nyadran. Menurut Hamidulloh Ibda . nu,or. id diunduh tanggal 7 Juni 2. , bahwa nyadran dari aspek etimologi berasal dari kata beberapa bahasa. Pertama, kata bahasa Indonesia (KKBI,2. , kata sadran-nyadran diartikan mengunjungi makam pada bulan Ruwah memberikan doa kepada leluhur . yah, ibu, dan lainny. dengan bunga dan sesajian. Kedua, bahasa sanskerta sradda artinya keyakinan. Ketiga, nyadran dalam bahasa Jawa berasal dari kata sadra yang artinya Ruwah/Syakban lantaran dilakukan pada bulan sebelum bulan Ramadhan. Keempat, nyadran diambil dari bahasa Arab shadrun yang berarti dada. Kamin, . berpendapat, bahwa menjelang bulan Ramadhan masyarakat harus ndhadha . nstrupeksi dir. dan menyucikan diri dari aspek lahir dan batin. Menurut Kepala Seksi Kesejahteraan Masyarakat Kalurahan Umbulharjo Sugeng Sunarta . , upacara nyadran ini biasanya dilaksanakan pada bulan saAoban yang dalam penanggalan Jawa adalah bulan ke delapan. Masyarakat Jawa menyebutnya bulan Ruwah yang menurut informan secara jarwa dhasa berasal dari kata ngluru arwah berarti mencari atau menemui arwah. Upacara adat nyadran dilakukan warga setempat dengan berdoa bersama di brak/los makam masing-masing padukuhan. Upacara nyadran dalam pelaksanaannya diawali dengan kerja bakti massal membersihkan sampah atau rerumputan yang tumbuh di lingkungan makam. Kemudian sesuai waktu yang disepakati yang biasanya malam hari warga dukuh setempat menuju makam dan setiap kepala keluarga membawa ambengan yakni nasi tumpeng beserta ubarampe seperti pisang raja, sambel gepeng dan lauk pauk. Setelah tiba saatnya sesuai waktu yang ditentukan, warga melaksanakan doa bersama dengan dzikir dan tahlil untuk mendoakan leluhur yang telah menghadap Sang Pencipta terutama orang tua dan leluhur Menurut Mbah Rejo . selaku sumber yang dapat dipercaya, bahwa dalam doa bersama tersebut juga mendoakan lelehur yang menjadi cikal bakal . rang yang diyakini bertempat tinggal pertam. di wilayah Kalurahan Umbulharjo. Sumber data lebih lanjut membeberkan, bahwa masyarakat setempat meyakini jika orang yang pertama kali tinggal di wilayah ini adalah Kyai Wanadriya. Kyai Wanadriya semula tinggal di sebelah utara dekat pusat Keraton Yogyakarta. Sebagai tokoh yang berpengaruh dan berpotensi memberi perlawanan terhadap penjajah sehingga oleh Belanda selalu diburu untuk ditangkap dan dipenjarakan. Menghadapi kondisi demikian, maka sekitar tahun 1850 Kyai Wanadriya beserta kerabat dekat mengungsi dan menetap di wilayah lereng Merapi bagian paling atas yang sekarang disebut kawasan Kinahrejo sebagai bagian wilayah Padukuhan Pelemsari Kalurahan Umbulharjo. Pada masa pemerintahan Sri Sultan Hamengku Buwana VII. Kyai Wanadriya di angkat menjadi juru kunci labuhan Merapi dengan gelar Ki Kliwon Kartahargo, kemudian digantikan anaknya Mbah Marijan yang diberi gelar Ki Kliwon Suraksohargo, dan saat penelitian ini peran juru kunci labuhan Merapi tersebut digantikan oleh cucunya Ki Kliwon Surakso Sihono. Kedua tokoh penting yakni Ki Kliwon Kartohargo dan Ki Kliwon Suraksohargo itulah yang oleh warga dianggap sebagai cikal bakal masyarakat Kalurahan Umbulharjo. Suryani. Andayani Listyawati dan Fatwa Nurul Hakim1 Kearifan Lokal Masyarakat Desa Lereng Merapi dalam Upaya Mitigasi Bencana Erupsi SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 11. No 3 . : hal 413 - 429 Berdasar uraian tentang tradisi nyadran di lokasi kajian dapat dimaknai, bahwa masyarakat Kalurahan umbulharjo hingga saat penelitian ini masih memiliki kesiapsiagaan yang bersifat tradisi. Kesiapsiagaan tersebut oleh warga dilakukan dengan melaksanakan tradisi nyadran untuk mendoakan arwah leluhur agar diberi keselamatan di alam langgeng yakni alam akherat. Selain itu, warga juga memohon pada Tuhan Yang Maha Esa agar diberi keselamatan dari segala marabahaya termasuk dihindarkan dari bahaya letusan gunung Merapi. Dengan melakukan tradisi tersebut, warga percaya dan yakin bahwa keselamatan dan kesejahteraan akan senantiasa mengiringi kehidupan dan penghidupan mereka. Warga masyarakat Kalurahan Umbulharjo pada sisi lain juga memiliki ungkapan yang mereka sebut paribasan . berikut yang didayagunakan warga dalam upaya mitigasi bencana erupsi Merapi. Masyarakat Kalurahan Umbulharjo juga masih nguri-uri . kesenian tradisional seperti. Slawatan. Kethoprak, dan jathilan . uda kepan. Ketiga kesenian lokal tersebut dilestarikan dan berperan dalam upaya mitigasi bencana erupsi yang dilakukan warga setempat. Ungkapan Sing eling lan waspada, sebagai landasan kesiapsiagaan warga masyarakat lereng Merapi dalam menghadapi bencana erupsi. Menurut Mbah Tama . selaku informan, arti yang tersurat dalam ungkapan tersebut adalah Au hendaknya selalu ingat dan waspadaAy . ing = yang/hendaknya, eling = selalu ingat/sadar, lan = dan, waspada = berhati-hati/bersiag. Informan selanjutnya mengemukakan arti yang tersirat dalam ungkapan ini, yaitu bahwa dalam menghadapi permasalahan sosial dalam konteks ini mengalami kondisi ketidaknyamanan karena bertempat tinggal di daerah yang rawan bencana erupsi Merapi, maka setiap warga hendaknya sadar dan selalu waspada sehingga secara arif dan bijaksana melakukan berbagai upaya untuk mengurangi risiko bencana. Informan menjelaskan, ungkapan tersebut mengandung nilai peringatan bagi warga Kalurahan Umbulharjo yang daerahnya secara geografis merupakan lereng paling atas di Kapanewon Cangkringan. Kabupaten Sleman. Ungkapan ini mengingatkan warga perdesaan lereng Merapi agar menyadari, waspada, dan senantiasa terus bersiaga menghadapi ancaman letusan Merapi yang setiap waktu dapat terjadi. Kesadaran, kewaspadaan, dan kesiapsiagaan merupakan tindakan sangat positif sebagai salah satu faktor penting yang menentukan ketahanan mental warga Kalurahan Umbulharjo dalam upaya mengurangi risiko bencana erupsi. Kesadaran di sini menurut informan adalah, bahwa setiap warga selalu menyadari jika dirinya bertempat tinggal di daerah rawan bencana alam letusan gunung Merapi yang setiap saat terancam bahaya erupsi. Kewaspadaan adalah suatu tindakan yang selalu berjaga-jaga dengan dibarengi suatu ihtikat untuk selalu mengantisipasi jika sewaktu-waktu terjadi bencana erupsi. Sementara kesiapsiagaan adalah suatu kesiapan untuk menghindari apabila terjadi bencana erupsi dengan menggunakan nalar/akal sehat, tidak secara serampangan, dengan pertimbangan secara matang, serta tidak gegabah dan tergesa, baik dalam upaya melakukan pengungsian, pertolongan korban, maupun dalam melakukan tindakan evakuasi. Keberadaan ungkapan sing eling lan waspada dilatarbelakangi suatu filosofi warga setempat sebagai masyarakat Jawa, yang menurut sumber data tersebut berupa pandangan yang selalu berpikir objektif dan tidak berpikir subjektif. Menurut informan, berpikir objektif adalah cara berpikir yang bertolak dari suatu pandangan bahwa objek adalah sumber kebenaran yang sejati. Jadi, kesimpulan kegiatan berpikir dikatakan benar karena sesuai objek yang dipikirkan. Masyarakat Jawa selalu berusaha tidak berpikir subjektif, yakni cara berpikir yang berangkat dari suatu pandangan bahwa subjek atau individu sebagai sumber kebenaran. Dengan demikian, seseorang yang cara berpikirnya subjektif biasanya tidak berlandaskan akal sehat, tergesa memutuskan, dan tidak mempertimbangkan secara matang. Apabila dikaitkan dengan upaya mitigasi bencana erupsi Merapi, warga yang cara berpikirnya subjektif dapat mengakibatkan timbulnya sikap yang cenderung tidak menyadari bahwa dirinya bertempat tinggal di daerah rawan bencana, tidak waspada terhadap ancaman erupsi yang sewaktu-waktu dapat terjadi, dan tidak siapsiaga untuk berupaya mengurangi risiko yang ditimbulkan bencana erupsi. Data di lapangan memperlihatkan, bahwa ungkapan sing eling lan waspada masih sangat mempengaruhi sikap dan perilaku kehidupan masyarakat Kalurahan Umbulharjo sebagai kawasan lereng Merapi yang rawan bencana erupsi. Sebagaimana realitanya, bahwa Merapi sebagai gunung api Suryani. Andayani Listyawati dan Fatwa Nurul Hakim1 Kearifan Lokal Masyarakat Desa Lereng Merapi dalam Upaya Mitigasi Bencana Erupsi SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 11. No 3 . : hal 413 Ae 429 paling aktif di dunia setiap saat terus mengeluarkan lava pijar, dengan dibarengi suara gemuruh, bahkan setiap saat juga terjadi letusan meskipun tidak berskala besar. Sehubungan kondisi gunung Merapi yang demikian, ungkapan tersebut menurut informan masih berperan sebagai peringatan agar masyarakat lereng gunung api tersebut khususnya warga Kalurahan Umbulharjo selalu sadar, waspada, dan bersiapsiaga menghadapi erupsi dengan melakukan berbagai upaya mitigasi. Pendayagunaan Kearifan Lokal Dimensi Keterampilan Lokal. Pembuatan pakan ternak berbahan dasar sampah organik pada hakikatnya merupakan keterampilan warga petani setempat dalam rangka mengatasi kekurangan pemberian kebutuhan makanan ternak, akibat jumlah ternak peliharaan banyak, lahan yang dimiliki terbatas, dan atau akibat musim kemarau yang panjang. Penerapan keterampilan tersebut ternyata tidak hanya berdampak positif bagi penghidupan warga secara ekonomi, tetapi juga secara sosial kemasyarakatan. Dampak positif secara ekonomi mencakup penghematan beaya pembelian pakan, beaya pengobatan karena ternak terjaga kesehatannya, serta hewan ternak cepat gemuk dan laku jual. Keuntungan secara sosial di antaranya tumbuhnya semangat petani untuk belajar/berlatih keterampilan, terpeliharanya sikap kerjasama dan kegotongroyongan, serta terciptanya media rembug warga dalam upaya penanganan permasalahan sosial, perekonomian, termasuk upaya kesiapsiagaan dan antisipasi warga setempat dalam menghadapi bencana erupsi Merapi. Pendayagunaan Kearifan Lokal Dimensi Sumberdaya Lokal. Umi Ratih Santoso, dkk. berikut dimensi ini menyatakan, bahwa sumberdaya lokal merupakan keberadaan atau ketersediaan potensi masyarakat setempat dengan keunikannya, sehingga menjadi tolok ukur warga bersangkutan dalam penanganan berbagai permasalahan. Pada konteks penelitian ini tentu keunikan potensi warga Kalurahan Umbulharjo dalam upaya mitigasi bencana erupsi Merapi. Oleh karena itu, penelaahan mengenai sumberdaya manusia di sini difokuskan terhadap warga masyarakat desa sebagai komunitas orang Jawa. Kajian ini difokuskan pada penggalian terhadap pikiran, tenaga, dan kemampuan warga masyarakat Kalurahan Umbulharjo dalam upaya melakukan kesiapsiagaan untuk menghadapi bencana erupsi berikut banjir lahar dingin, yang senantiasa mengancam kehidupan mereka. Pikiran yang menjadi fokus kajian dan digali dalam penelitian ini adalah pandangan atau sikap warga masyarakat desa di lereng Merapi tersebut dalam menghadapi bencana erupsi yang setiap saat dapat terjadi. Dalam wawancara terhadap beberapa aparat Kalurahan Umbulharjo diperoleh sejumlah informasi, bahwa dalam mengarungi kehidupan di daerah yang rawan bencana awan panas wedhus gembel dan banjir lahar dingin, warga di perdesaan lereng Merapi ini selalu waspada dan siapsiaga. Menurut sumber data tersebut, warga setempat selalu sadar dan berpikiran objektif bahwa mereka tinggal dan menapak kehidupan di daerah rawan bencana yang memerlukan suatu kewaspadaan, kesiapsiagaan dan kesigapan. Prinsip yang digunakan sebagai pegangan warga desa ini dalam bersiapsiaga menghadapi bencana letusan gunung Merapi adalah pepatah lokal yatna yuwana lena kena. Secara tersurat pepatah lokal tersebut berarti waspada selamat, terlena terkena. Sementara secara tersirat bermakna, bahwa dalam hidup keseharian warga lereng Merapi di Kalurahan Umbulharjo wajib waspada agar selamat dari ancaman letusan gunung paling aktif tersebut, dengan mengenali dan atau memahami gejala atau tanda-tanda jika akan terjadi erupsi, dan apabila sampai terlena akan terkena bencana erupsi yang mematikan tersebut. Aspek sumberdaya manusia yang berwujud kemampuan, yaitu keberadaan tenaga profesional di Kalurahan Umbulharjo yang tangguh dan siapsiaga melaksanakan tugas kemanusiaan jika sewaktuwaktu terjadi bencana erupsi. Berkait dengan perihal ini. Lurah Umbulharjo Suyatmi . menyatakan, tenaga profesional yang dimiliki desa setempat menurutnya relatif memadai. Informan ini lebih lanjut mengemukakan, sejumlah tenaga profesional yang berkemampuan memadai bertempat tinggal menyebar di sembilan dukuh yang terdiri dari 144 relawan lokal, 35 tenaga Linmas, 19 orang tagana, 18 petugas SAR, dan 13 orang tenaga kesehatan. Mereka sesuai dengan profesi, tugas pokok, dan fungsi masing-masing senantiasa terus bersiapsiaga dengan mendayagunakan profesi dan Suryani. Andayani Listyawati dan Fatwa Nurul Hakim1 Kearifan Lokal Masyarakat Desa Lereng Merapi dalam Upaya Mitigasi Bencana Erupsi SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 11. No 3 . : hal 413 - 429 kemampuannya jika sewaktu waktu warga masyarakat membutuhkan, terutama di saat peristiwa bencana baik sewaktu terjadi letusan maupun banjir lahar dingin sebagai dampak erupsi Merapi. Informan tersebut lebih lanjut menambahkan, bahwa aspek pemikiran, ketenagaan, dan kemapuan secara memadai sebagai unsur sumberdaya manusia di Kalurahan Umbulharjo, berdasar pengalaman bencana erupsi 2010 misalnya, dapat didayagunakan secara optimal dalam penanganan korban baik pada saat mitigasi . ntisipasi dan kesiapsiagaa. sebelum terjadi bencana, saat tanggap darurat, maupun saat pascabencana yakni pelaksanaan rekontruksi hunian sementara/tetap dan rehabilitasi/pemberdayaan warga korban bencana. Sajian KalurahanUmbulharjo terbukti memiliki kearifan lokal dalam menggali, memelihara, dan melestarikan sumberdaya manusia yang berwujud pikiran, tenaga, dan kemampuan warga secara Ketiga bentuk sumberdaya tersebut lebih lanjut didayagunakan sebagai kekuatan dalam upaya mitigasi letusan Merapi berikut ancaman banjir lahar dingin sebagai bencana yang selalu menyertai kehidupan warga masyarakat setempat. Modal sosial inilah yang merupakan faktor pendukung kelancaran dan keberhasilan penanganan korban seperti yang dilakukan pada saat terjadi erupsi Merapi pada tahun 2010 dua belas tahun lalu. Pendayagunaan Kearifan Lokal Dimensi Proses Sosial Lokal. Hubungan kemasyarakatan warga Kalurahan Umbulharjo selain berlandaskan pada peraturan perundang-undangan atau hukum yang berlaku di negara Indonesia, juga mengacu pada adat dan budaya Jawa. Tata hubungan berlandaskan peraturan perundang-undangan negara, maksudnya kebebasan hubungan di antara warga masyarakat Umbulharjo tetap selalu berpijak pada hukum yang berlaku di Indonesia sebagai negara berdasar hukum. Sementara mengacu pada adat dan budaya Jawa yang dimaksud di sini, bahwa warga di perdesaan lokasi kajian dalam berhubungan sosial satu sama lain tetap berpedoman pada norma dan nilai adat. Selain itu, warga juga senantiasa tunduk pada sesepuh atau pemuka masyarakat yang selama ini dianggap mempunyai keteladanan, seperti tokoh formal . urah/pamong kalurahan, dusun, dan ketua RT/RW), tokoh non formal seperti ( sesepuh warga, pendidik, tetua adat, juru kunci labuhan AuMerapi, dan pengasuh paguyuban seni/sanggar buday. , serta tokoh agama . yai, ustad/ustadah, dan pendeta atau pimpinan jemaa. Keberadaan peraturan perundang-undangan negara, adat istiadat, dan tokoh masyarakat/agama sebagaimana dikemukakan mendasari pola kehidupan dan hubungan sosial warga Kalurahan Umbulharjo. Pada praktiknya, kedua dasar yang memayungi pola kehidupan sosial, khususnya tata hubungan masyarakat warga Kalurahan Umbulharjo tersebut berperan secara terpadu dan saling Wisman . selaku sumber data dalam wawancara lanjut memberikan penjelasan, bahwa keterpaduan antara peran peraturan perundang-undangan dan adat/budaya tersebut telah berlangsung secara turun temurun dari nenek moyang. Menurut informan, keterpaduan antara peran perundang-undangan dan adat dalam mengatur tata kehidupan khususnya hubungan sosial warga setempat, dapat dilihat dari keberadaan ungkapan lokal desa mawacara, negara mawa tata yang jika dialih dalam bahasa Indonesia secara tersurat pengertiannya adalah desa memiliki cara dan negara memiliki peraturan perundang-undangan. Ungkapan lokal tersebut secara tersirat menurut informan bermakna, bahwa setiap daerah/desa tertentu memiliki adat istiadat yang disepakati secara turun temurun untuk mengatur kehidupan warganya. Pada sisi lain, sebagai bagian dari wilayah negara kesatuan republik Indonesia, warga di setiap daerah juga harus tunduk pada hukum dan peraturan perundangundangan yang berlaku di negara kita. Perihal yang penting dan perlu diperhatikan adalah, bahwa norma adat yang ada di setiap daerah hendaknya tidak bertentangan dengan hukum negara. Hasil pengamatan di lapangan menunjukkan, bahwa kedua dasar yang melandasi tata kehidupan dan pola hubungan di antara warga tersebut terbukti mampu menjamin warga Kalurahan Umbulharjo dalam mencapai kondisi tata titi tentrem kerta raharja gemah ripah loh jinawi . ertata, cermat, tenteram, selamat, serta makmur dan sejahter. dalam segala aspek kehidupan. Tata hubungan sosial yang baik tersebut terus dijaga dan dipelihara oleh warga setempat dan didayagunakan untuk mengatasi berbagai permasalahan sosial, termasuk upaya mengkondisikan masyarakat agar memiliki Suryani. Andayani Listyawati dan Fatwa Nurul Hakim1 Kearifan Lokal Masyarakat Desa Lereng Merapi dalam Upaya Mitigasi Bencana Erupsi SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 11. No 3 . : hal 413 Ae 429 kewaspadaan dan kesiapsiagaan mengantisipasi terjadinya erupsi Merapi untuk mengurangi risiko bencana alam tersebut. Pendayagunaan Kearifan Lokal Dimensi Solidaritas Kelompok. Tingginya rasa solidaritas kelompok di antara sesama warga Kalurahan Umbulharjodalam lingkungan ketetanggaan menurut informan digambarkan dalam ungkapan : karo tangga luwih becik gawe pager mangkok ketimbang pager tembok. Jika ungkapan tersebut dialih dalam bahasa Indonesia berarti, dengan tetangga lebih baik membuat pagar mangkok daripada pagar dinding. Sebagaimana dipahami, mangkok adalah alat yang bermanfaat sebagai tempat makan atau sayuran. Dengan demikian, makna yang tersirat dalam ungkapan lokal ini, bahwa dalam mempererat rasa persaudaraan dan kekeluargaan warga Kalurahan Umbukharjo, sesama tetangga masih saling peduli dengan senantiasa berusaha memberikan makanan sebagai wujud penerapan nilai kebersamaan yang disimbolisasi dengan pagar mangkok. Informan menambahkan penjelasan, bahwa pagar mangkok tersebut juga merupakan simbol untuk menciptakan keamanan setiap warga terutama bagi mereka yang mampu secara ekonomi. Maksudnya, apabila suatu keluarga senantiasa perhatian pada tetangga yang kurang mampu dengan selalu memberi sekedar makanan, maka keluarga pemberi makanan ini akan terjamin keamanannya, karena rumahnya akan selalu dijaga oleh orang di sekelilingnya yang selalu diperhatikan dengan diberi makanan. Menurut informan, ungkapan lokal lain yang mengandung nilai solidaritas kelompok dan menjadi acuan warga masyarakat setempat dalam membina kebersamaan yaitu mangan ora mangan yen Informan kemudian mengartikan setiap kata dalam ungkapan tersebut yaitu mangan berarti makan, ora artinya tidak, yen berarti asalkan, dan ngumpul artinya berkumpul. Menurutnya, arti yang tersurat dalam ungkapan tersebut adalah makan tidak makan asalkan berkumpul. Sementara pengertian yang tersirat, bahwa berkumpulnya saudara, kerabat, sahabat, atau teman sejawat merupakan suatu kebahagiaan atau kegembiraan tersendiri yang luar biasa bagi masyarakat lereng Merapi yang tinggal di Kalurahan Umbulharjo. Sumber data menuturkan, saat ngumpul yang bernilai adalah bertemunya di antara mereka, bukan banyak dan mutu hidangannya. Dengan sekedar hidangan secara ala kadarnya, bahkan tanpa makanan atau minuman kegiatan ngumpul tetap mereka Wawancara lebih lanjut terhadap informan untuk mengkaji secara mendalam diperoleh informasi, bahwa keberadaan kedua ungkapan tersebut dilatarbelakangi oleh kondisi kekeluargaan dan semangat warga perdesaan lereng Merapi sebagai masyarakat etnis Jawa. Sebagaimana diinformasikan, bahwa masyarakat Jawa di perdesaan ini pada umumnya cenderung hidup bersama dengan sanak saudara yang tempo dulu mereka rasakan sangat menggembirakan. Informan menambahkan, bagi masyarakat Jawa di masa silam khususnya yang hidup di perdesaan setempat, meskipun ekonomi telah berkecukupan, tetapi jika harus berpisah apalagi dengan tempat tinggal yang jauh seperti di luar pulau Jawa rasanya kurang menyenangkan. Kecenderungan warga perdesaan setempat senang menyanyangi di antara sesama saudara yang diwariskan nenek moyang dalam suatu kerabatan masyarakat Jawa. Sumber data bahkan memperkuat dengan menegaskan, bahwa yang dianggap sanak saudara oleh warga setempat sebagai masyarakat Jawa, bukan hanya keluarga seketurunan sedarah, melainkan termasuk orang lain yang bergaul ataupun berhubungan secara akrap, baik dalam lingkungan ketetanggaan, relasi usaha, teman sepekerjaan maupun teman dekat Kedua pepatah yang lazim disebut ungkapan lokal tersebut mengandung nilai yang membimbing masyarakat Kalurahan Umbulharjo kearah lestarinya solidaritas, kesetiakawanan, kekeluargaan, dan Dua ungkapan lokal di atas secara filosofi menuntun agar setiap warga masyarakat setempat senantiasa menumbuhkembangkan sikap solidaritas atau kesetiakawanan. Pendalaman lebih lanjut diperoleh informasi, bahwa ungkapan lokal ini masih berpengaruh secara positif terhadap sikap, tindakan, dan perilaku sosial masyarakat Kalurahan Umbulharjo. Masyarakat lereng Merapi tersebut ternyata hingga saat ini masih mengacu ungkapan tradisional Jawa di atas. Menurut Surakso Sihono selaku juru kunci labuhan Merapi, kedua ungkapan tersebut dalam praktiknya masih digunakan baik dalam penanggulangan korban letusan Merapi 2010, maupun dalam upaya mitigasi bencana erupsi Suryani. Andayani Listyawati dan Fatwa Nurul Hakim1 Kearifan Lokal Masyarakat Desa Lereng Merapi dalam Upaya Mitigasi Bencana Erupsi SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 11. No 3 . : hal 413 - 429 seperti dalam melakukan kesiapsiagaan, kewaspadaan, dan pembuatan prasarana sarana sebagai persiapan evakuasi jika sewaktu-waktu bencana erupsi terjadi. Kesimpulan Berdasar analisis data dan pembahasan peneliti dapat menarik beberapa kesimpulan berikut. Masyarakat Kalurahan Umbulharjo sebagai komunitas yang bertempat tinggal di daerah rawan bencana, ternyata memiliki kearifan lokal yang masih dilestarikan dan didayagunakan dalam mitigasi bencana erupsi. Pertama, pengetahuan lokal masyarakat, yakni mencakup inisiatif lokal dan teknologi Inisiatif lokal berupa : . kegiatan warga masyarakat bersifat religius, bertujuan untuk memohon kepada Tuhan Yang Mahaesa agar selamat dari marabahaya khususnya bahaya erupsi Merapi melalui pengajian bagi umat Islam. Ibadat misa dan doa novena bagi pemeluk agama Katolik, dan kebaktian untuk umat yang beragama Kristen Protestan. Pembimbingan filosofi Jawa melalui pendidikan sopan santun, penggunaan bahasa Jawa secara benar, pendirian sanggar tari, dan pembentukan paguyuban mocopat yang bertujuan agar warga masyarakat memiliki kepribadian kuat, ketangguhan mental, dan ketahanan sosial secara memadai. gugur gunung, yakni kegotongroyongan warga dalam segala aspek kehidupan seperti tolong menolong atau bantu membantu yang telah dilakukan seperti dalam membangun rumah pascaerupsi 2010, bergotong royong melakukan persiapan dan pelaksanaan upacara labuhan, serta bekerja bakti dalam memperbaiki jalur evakuasi. jimpitan, merupakan model keswadayaan dan kemandirian warga masyarakat setempat dalam menghimpun dana bantuan sosial. Kedua, budaya lokal meliputi : . tradisi mencakup upacara labuhan Merapi dan nyadran. Labuhan Merapi dan nyadran merupakan upaya mitigasi bencana secara tradisi yang dilakukan warga Kalurahan Umbulharjo, bertujuan untuk memohon keselamatan kepada Tuhan Yang Mahaesa, agar terbebas dari segala marabahaya dan bencana. kesenian, slawatan. Keberadaan kesenian selawatan oleh warga masyarakat setempat didayagunakan sebagai wahana untuk memohon keselamatan melalui lantunan paduan suara yang senantiasa mengagungkan nama Allah SWT dan Rosul utusanNya. ungkapan sing eling lan waspada. Ungkapan lokal sing eling lan waspada pada dasarnya mengingatkan warga setempat agar selalu sadar bahwa mereka bertempat tinggal di daerah rawan bencana erupsi Merapi dan hendaknya selalu waspada. Ketiga, keterampilan lokal. Dalam kajian ini difokuskan pada keterampilan warga yang mendukung masyarakat Kalurahan Umbulharjo dapat bertahan hidup di kawasan lereng Merapi sehingga mampu melakukan berbagai upaya mitigasi bencana erupsi. Keterampilan lokal masyarakat yang berhasil digali meliputi keterampilan bertani, beternak, dan pembuatan pakan ternak berbahan dasar sampah organik. Ketiga keterampilan warga desa lokasi kajian tersebut merupakan keterampilan lokal yang menunjang upaya masyarakat dalam melakukan kewaspadaan, kesiapsiagaan, dan antisipasi dalam rangka meminimalisir risiko bencana erupsi. Keempat sumberdaya lokal. Sumberdaya setempat yang didayagunakan warga Kalurahan Umbulharjo dalam melakukan upaya kesiapsiagaan menghadapi bencana erupsi Merapi berupa sumberdaya manusia, sumberdaya alam, dan sumberdaya sosial. Sumberdaya manusia mencakup pikiran, tenaga, dan kemampuan warga Kalurahan Umbulharjo untuk berpikir objektif dan sadar, bahwa mereka menempati daerah rawan letusan Merapi yang perlu pengetahuan/pemahaman tentang gejala awal, kewaspadaan, dan kesiapsiagaan menghadapi erupsi. Di samping itu masyarakat setempat juga memiliki tenaga profesional yang berkemampuan memadai, baik dalam melaksanakan kesiapsiagaan menghadapi bencana, bertugas kemanusiaan saat tanggap darurat, maupun dalam melaksanakan berbagai tugas pada saat pascabencana. Sumberdaya sosial masyarakat Kalurahan Umbulharjo yang didayagunakan untuk keperluan mitigasi bencana meliputi Satuan Perlindungan Masyarakat dalam Penanggulanggan bencana (Satlinmas PB) dan kampung siaga bencana (KSB) AuMerapiAy Sumberdaya berupa lembaga sosial tersebut juga didayagunakan dalam upaya mitigasi bencana, dan sangat mendukung warga masyarakat dalam bersiapsiaga menghadapi erupsi Merapi dan antisipasi untuk mengurangi risiko yang ditimbulkan bencana tersebut. Kelima, proses sosial lokal, meliputi pola interaksi masyarakat, tata hubungan kemasyarakatan, dan pengawasan sosial. Masyarakat Kalurahan Umbulharjo memiliki pola berinteraksi sosial ala Suryani. Andayani Listyawati dan Fatwa Nurul Hakim1 Kearifan Lokal Masyarakat Desa Lereng Merapi dalam Upaya Mitigasi Bencana Erupsi SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 11. No 3 . : hal 413 Ae 429 perdesaan dengan penuh suasana kekeluargaan, kerukunan, dan kebersamaan. Berkait dengan tata hubungan kemasyarakatan, warga desa setempat selain mengacu pada norma dan adat istiadat, juga berlandaskan pada peraturan dan perundang-undangan yang berlaku di negara kita. Sementara dalam hal pengawasan sosial terhadap perilaku menyimpang, warga setempat memberlakukan sanksi moral berupa teguran lisan, teguran tertulis, peringatan keras secara tertulis, dan jika yang bersangkutan tetap tidak mengindahkan . warga melakukan pengucilan lingkungan Sementara pelanggaran terhadap hukum perdata dan pidana, warga masyarakat setempat menyerahkan kepada pihak berwajib. Keenam solidaritas kelompok. Warga Kalurahan Umbulharjo dalam mengembangkan solidaritas sosial berlandaskan filosofi Jawa yang mengendap dalam ungkapan mangan ora mangan yen ngumpul, yang berintikan penerapan nilai kesetiakawanan sosial mencakup kejujuran, kepedulian, gotongroyong, rela berkorban, kebersamaan, kerukunan, tolong menolong, tenggang rasa, musyawarah, legawa, dan nilai taat norma. Nilai solidaritas sosial tersebut oleh warga setempat diimplementasikan dalan hidup bermasyarakat, termasuk didayagunakan dalam berbagai upaya berkait dengan kegiatan yang bertujuan pengurangan risiko bencana erupsi Merapi. Makna kearifan lokal berkaitan dengan mitigasi bencana erupsi, bahwa setiap bentuk kearifan lokal Kalurahan Umbulharjo terbukti didayagunakan dalam upaya pengurangan risiko bencana erupsi Merapi. Keragaman kearifan lokal masyarakat setempat berdayaguna dalam pembangunan fisik, penyadaran warga, dan peningkatan masyarakat menghadapi bencana erupsi. Kearifan berbentuk teknologi dan keterampilan lokal serta jiwa kegotongroyongan didayagunakan dalam pembangunan prasarana dan sarana mitigasi seperti pembuatan pemeliharaan jalur evakuasi, banker, dan gardu Kearifan berupa tradisi, seni, dan ungkapan lokal didayagunakan sebagai wahana penyuluhan dan bimbingan sosial dalam menyadarkan masyarakat tentang pentingnya kewaspadaan dan kesiapsiagaan sebelum terjadi bencana. Sementara kearifan lokal seperti kegiatan religius, solidaritas sosial, dan keberadaan kampong siaga bencana AuMerapiAy didayagunakan warga dalam meningkatkan kemampuan menghadapi bencana erupsi. Saran Pihak berkompenten diharapkan dapat melakukan solusi. Pertama. Pemerintah hendaknya merumuskan kebijakan berkait dengan pelestarian setiap bentuk kearifan lokal masyarakat di daerah rawan bencana alam. Perlu melibatkan berbagai kementerian yang memiliki tugas pokok dan fungsi perlindungan dan jaminan sosial bagi korban bencana alam, mendorong melakukan sinergitas dan pelibatan di antara Kementerian Sosial. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Kementerian Pendidikan dan Kebudyaan, serta Kementerian Pariwisata. Sinergitas di antara sejumlah kementerian tersebut penting dilakukan agar tidak terjadi tumpang tindih program/kegiatan yang dilakukan dalam upaya mitigasi Kedua, penggalian dan pelestarian berbagai bentuk kearifan lokal masyarakat daerah rawan bencana alam khususnya rawan letusan gunung Merapi, sebagaimana diamanatkan Undang-undang Nomor 13 Tahun 2012 perlu terus dilakukan. Pemerintah DI Yogyakarta melalui Dinas Sosial. BPBD. Dinas Pendidikan. Dinas Kebudayaan dan Dinas Pariwisata hendaknya secara intensif melakukan sosialisasi dan promosi berbagai strategi pendayagunaan kearifan lokal yang dilakukan masyarakat daerah rawan bencana lereng Merapi dalam upaya kesiapsiagaan menghadapi erupsi. Sosialisasi oleh Dinas Sosial dapat didelegasikan pada petugas lapangan seperti TKSK. PSM. Tagana. Karang Taruna, pengurus kampung siaga bencana (KSB), sedangkan BPBD dapat menugaskan TRC dan Pengurus desa tangguh bencana (Destan. dengan sasaran warga masyarakat daerah rawan bencana alam. Dinas pendidikan dapat menyosialisasikan dengan menugaskan tenaga pendidik ditujukan pada siswa melalui format kurikulum muatan lokal dan atau pelajaran ekstrakurikuler seperti kepramukaan dan P3K. Dinas kebudayaan dan pariwisata dapat melakukan promosi dengan mengintegrasikan pada setiap kegiatan yang menjadi tugas pokok dan fungsi masing-masing, ataupun dilakukan secara Suryani. Andayani Listyawati dan Fatwa Nurul Hakim1 Kearifan Lokal Masyarakat Desa Lereng Merapi dalam Upaya Mitigasi Bencana Erupsi SOSIO KONSEPSIA: Jurnal Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial. Vol 11. No 3 . : hal 413 - 429 berencana dengan fokus tujuan menginformasikan berbagai bentuk kearifan lokal yang didayagunakan masyarakat daerah rawan bencana alam dalam upaya meminimalisasi risiko bencana. Ketiga, generasi tua hendaknya senantiasa terus menyosialisasikan kepada generasi muda mengenai setiap bentuk kearifan lokal. Generasi tua terutama tokoh kunci masyarakat seperti sesepuh desa, tetua adat, pemuka agama, dan aparat desa secara intensif perlu memberi bimbingan melalui pemahaman, penanaman, ataupun penerapan nilai-nilai kearifan lokal dalam kehidupan bermasyarakat, baik dalam lingkungan keluarga, ketetanggaan, sekolah, maupun lingkungan masyarakat secara lebih luas. Keempat, pemangku kepentingan perlu berupaya mengintegrasikan setiap bentuk kearifan lokal masyarakat di daerah rawan bencana. Misalnya dalam pengintegrasian keterampilan lokal dengan aspek teknologi tepatguna, pemerintah daerah setempat hendaknya bekerjasama dengan akademisi. Pengintegrasian keterampilan dan teknologi lokal dengan teknologi tepatguna hendaknya tetap memperhatikan aspek ramah lingkungan. Selain itu, teknologi tepatguna yang diintegrasikan jangan sampai mengurangi apalagi menghilangkan nilai kearifan lokal, tetapi tetap mendukung unsur keberadaan keunikan, cirikhas tradisional, dan keaslian dari bentuk, makna, dan dayaguna bagi warga masyarakat yang bertempat tinggal di daerah rawan bencana. Kelima, kebijakan pemerintah baik pemerintah pusat melalui ketentuan beberapa kementerian terkait maupun pemerintah daerah perlu merumuskan program khusus yang difokuskan bagi pengembangan dan pemberdayaan warga masyarakat di daerah rawan bencana. Program yang diformat dan dilakukan pemerintah hendaknya diselaraskan atau dipadukan dengan berbagai bentuk kearifan lokal yang tumbuh, berkembang, dan didayagunakan masyarakat setempat. Dengan demikian, program kegiatan mitigasi bencana yang bersifat struktural hendaknya juga diintegrasikan dengan pola kesiapsiagaan dalam menghadapi erupsi oleh masyarakat setempat yang bersifat nonstruktural mencakup adat tradisi, seni, norma, dan budaya lokal. Ucapan terimakasih: penulis mengucapkan terimakasih kepada kepala B2P3KS yang mendukung penelitian ini. Dinas Sosial Kabupaten Sleman, perangkat kalurahan umbulharjo dan warga umbulharjo yang telah memberikan informasi dan juga data-data yang relevan untuk mendukung tulisan ini. Daftar Pustaka