Journal of Biology Science and Education (JBSE) http://jurnal. Vol. No. Hal. Januari-Juni, . KOMBINASI EKSTRAK DAUN PARE (Momordica charanti. DAN KUNYIT (Curcuma long. SEBAGAI HEPATOPROTEKTOR PADA TIKUS PUTIH (Rattus norvegicu. GALUR WISTAR YANG DIINDUKSI CCL4 DAN PEMANFAATANNYA SEBAGAI MEDIA PEMBELAJARAN Krisman*. Achmad Ramadan Program Studi Pendidikan Biologi. Universitas Tadulako. Indonesia Received: 10 Desember 2020. Accepted: 25 Desember 2020. Published: 5 Januari 2021 ABSTRAK Pare (Momordica charanti. merupakan tanaman yamng memiliki banyak khasiat sebagi obat herbal yang memiliki senyawa kimia seperti saponin, tanin, flavonoid, karantin dan senya kimia lainnya. Kunyit (Curcuma long. adalah tanaman yang memiliki kandungan senyawa kimia yang terdiri dari kurkumin dan minyak atsiri yang dapat menangkal senyawa-senyawa radikal bebas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas kombinasi ekstrak daun pare dan kunyit sebagai hepatoprotektor dan menentukan pada kosentrasi berapa kombinasi ekstrak daun pare dan kunyit efektif sebagai hepatoprotektor. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen laboratorium. Hasil penelitian menunjukan bahwa kosentrasi yang efektif sebagai hepatoprotektor adalah kelompok PI dengan kosentrasi 10% dengan nilai 0,05. Hasil penelitian ini layak digunakan sebagai media pembelajajaran berupa penuntun praktikum dengan rata-rata presentase kelayakan sebesar 67,343% Kata kunci: Daun Pare (Momordica charanti. Kunyit (Curcuma long. SGOT. Hepatoprotektor, dan Media Pembelajaran COMBINATION OF PARE (Momordica charanti. AND TURMINA (Curcuma long. LEAF EXTRACTS AS HEPATOPROTECTORS IN WHITE RATS (Rattus norvegicu. CCL4-INDUCED WISTAR STRAINT AND ITS UTILIZATION AS A LEARNING MEDIA ABSTRACT Bitter gourd (Momordica charanti. is a plant that has many properties as a herbal medicine that has chemical compounds such as saponins, tannins, flavonoids, quarantin and other chemical compounds. Turmeric (Curcuma long. is a plant that contains chemical compounds consisting of curcumin and essential oils that can counteract free radical compounds. This study aims to determine the effectiveness of the combination of bitter melon leaf extract and turmeric as a hepatoprotector and determine at what concentration the combination of bitter melon leaf extract and turmeric is effective as a hepatoprotector. The research method used is laboratory experimental research. The results showed that the effective concentration as a hepatoprotector was the PI group with a concentration of 10% with a value of 0. The results of this study are feasible to be used as learning media in the form of a practicum guide with an average feasibility percentage of 67. Keywords: Pare Leaves (Momordica charanti. Turmeric (Curcuma long. SGOT. Hepatoprotectors, and Learning Media Copyright A 2021 Krisman. Achmad Ramadan. Mursito S Bialangi. Fatmah Dhafir Corresponding author: Krisman. Program Studi Pendidikan Biologi. Universitas Tadulako. Indonesia. Email: krismansamuel40@gmail. PENDAHULUAN Hati merupakan kelenjar terbesar dan pusat metabolisme tubuh dengan fungsi yang sangat kompleks dan berpotensi mengalami kerusakan akibat adanya bahan toksik dan bahan kimia lainnya yang masuk ke dalam tubuh melalui sistem gastrointestinal yang akan menyerap dan membawanya ke hati melalui vena porta. Salah satu bahan toksik tersebut adalah karbon tertraklorida (CCl. , metabolisme CCl4 menghasilkan radikal bebas CCl3 yang dapat menyebabkan gangguan pada fungsi hati dan menyebabkan terjadinya kerusakan pada sel hati (Ramadhani, dkk 2. Secara empiris telah banyak tanaman yang tumbuh di Indonesia yang sudah digunakan oleh masyarakat sebagai obat tradisional dan obat herbal dalam menyembuhkan berbagai macam penyakit. Tanaman tersebut diantaranya yaitu kunyit, teh hijau, batang galling, buah pedada, daun kucing-kucingan, daun kesum, meniran, brotowali, kembang merak, rebung bambu, mengkudu, tomat, jagung, buah pepaya, daun pegagan, gandarusa, daun sendok, wortel, lidah buaya, daun ubi jalar, batang kulit kayu jawa, lidah mertua, akar kuning, temulawa,dan daun pare (Ramdaniah, 2. Beberapa tanaman tersebut, diketahui memiliki manfaat sebagai hepatoprotektor adalah daun pare (Momordica charanti. dan kunyit (Curcuma long. Pazry . menjelaskan bahwa pare merupakan salah satu obat hepatoprotektor karena memiliki senyawa kimia seperti tannin, saponin, flavonoid, kreatinin dan sebagainya mencegah terjadinya kerusakan hati yang disebabkan oleh bakteri, virus, radikal bebas dan CCL4. Kunyit dapat menangkap radikal bebas dikarenakan mempunyai senyawa kurkuminoid yang merupakan senyawa yng dapat menghambat peroksidasi lemak pada hati Hartati dan Balittro . Daun pare dan kunyit memiliki khasiat dan kandungan kimia yang baik untuk melindungi hati dari berbagai ancaman penyakit. Oleh karena itu, jika keduanya dikombinasikan maka efek hepatoprotektor dimungkinkan lebih baik lagi. Seperti yang dijelaskan oleh peneliti-peneliti sebelumnya, bahwa dalam preparasi multi herbal yaitu antara komponen yang satu dengan komponen yang lainnya jika dikombinasikan maka akan saling bersinergi atau antagonist hingga menghasilkan efek yang lebih baik jika dibandingkan dengan komponen yang tunggal (Firman, dkk. , 2. Hepatoprotektor merupakan suatu senyawa atau zat yang dapat mencegah dan memperbaiki sel hati yang rusak akibat adanya metabolisme senyawa toksik. Hepatoprotektor adalah senyawa yang berkhasiat melindungi sel sekaligus memperbaiki jaringan hati akibat adanya pengaruh zat toksik (Wiendarlina dkk. Salah satu zat toksik yang dapat merusak hati adalah CCl4 (Karbon tetra Klorid. Karbon tetra klorida (CCl. merupakan xenobiotik yang lazim digunakan untuk menginduksi peroksidasi lipid dan mencegah terjadi keracunan. Dalam endoplasmic reticulum hati CCl4 yang dimetabolisme oleh sitokrom P450 2EI (CYP2EI) menjadi radikal bebas trikloro metil (CCl. yang dapat menyebabkan kerusakan hati pada hewan coba ataupun manusia (Rahmawati dkk. Menurut Yusuf, dkk . , salah satu cara yang digunakan untuk mengetahui penyebab kerusakan sel-sel hati adalah dengan mengukur kadar SGOT (Serum Glutamat Oxaloacetic Transaminas. dan SGPT (Serum Glutamat Piruvic Transaminas. SGOT dan SGPT adalah enzim aminotranferase yang dapat meningkat ketika terjadi gangguan dalam fungsi hati akibat bahan-bahan kimia dan obat-obatan laninya yang masuk ke dalam tubuh. Berdasarkan fenomena di atas maka peneliti tertarik untuk meneliti tentang kombinasi ekstrak daun pare (Momordica charanti. dan kunyit (Curcuma long. Sebagai hepatoprotektor pada tikus putih (Ratus norvegicu. galur wistar yang di induksi dengan CCL4 dan pemanfaatannya sebagai media METODE Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan jenis penelitian eksperimen Penelitian eksperimental dilakukan dengan tujuan untuk mencari pengaruh antara variabel yang satu dengan variabel yang lannya. Hal itu dilakukan agar dapat mengetahui hubungan sebab akibat dari bahan-bahan yang digunakan dengan cara mengenakan kepada satu atau lebih kelompok eksperimental, satu atau lebih kondisi perlakuan dan membandingkan hasilnya dengan satu atau lebih kelompok kontrol yang tidak dikenai kondisi perlakuan (Narbuko dan Achmadi, 2. Prosedur Kerja Penelitian Penelitian ini dilakukan dalam beberapa tahapan diataranya yaitu : Persiapan Hewan Coba Tikus putih yang digunakan adalah tikus putih jantan dengan berat badan berkisar antara 150 sampai 200 gram, berumur 8-10 minggu atau sekitar 2 sampai 4 bulan, dan berjumlah 18 ekor. Selain itu, tikus putih harus normal dan tidak cacat. Tikus putih sebelum digunakan sebagai sampel penelitian terlebih dahulu diadaptasi selama 7 hari untuk mengurangi tingkat stress pada hewan iut sendiri. Hal itu dikarenakan tikus putih berada pada habitat yang berbeda dengan sebelumnya. Selama 7 hari tikus putih diadaptasi dengan lingkungan yang baru, maka tikus putih akan dirawat dan diberi makan dan minum secara ad libitum atau tanpa batas. Pengelompokan Hewan Coba Tikus putih dibagi menjadi 6 kelompok, tiap kelompok terdiri dari tiga ekor tikus putih dimana terdapat dua kelompok kontrol yaitu control negatif (K-) dan kontrol positif (K ), kemudian terdapat empat kelompok perlakuan yaitu perlakuan I (P. , kelompok perlakuan II (P. , kelompok perlakuan i (P. dan kelompok perlakuan IV (P. Dengan demikian jumlah tersebut menunjukkan bahwa jumlah ulangan pada setiap perlakuan untuk keperluan akurasi data sangat sesuai dengan rumus menurut Sujithno . sebagai berikut : Ou15 Keterangan: t : perlakuan r : ulangan Maka jumlah ulangan pada setiap perlakuan adalah sebagai berikut: Lalu dilakukan perajangan, hasil perajangan tersebut dijemur pada sinar matahari secara tidak langsung. Selanjutnya rajangan kering daun pare (Momordica charanti. dimaserasi menggunakan etanol. Setelah itu ekstrak disaring menggunakan kapas dan kertas saring, lalu filtrat yang diperoleh dikumpul dan diuapkan . menggunakan alat penguap berputar . otary evaporato. yang dilengkapi penangas air dan pompa vakum pada suhu 40oC. Kemudian dibuat ekstrak daun pare dengan konsentrasi yang berbedabeda yaitu sebesar 10%, 15%, 20%, dan 25%. 2 Kunyit Sampel dari tanaman kunyit (Curcuma long. disortir guna memisahkan dari kotoran. Kemudian dicuci hingga bersih dan didingin anginkan. Lalu dilakukan perajangan, hasil perajangan tersebut dijemur pada sinar matahari secara tidak langsung. Selanjutnya rajangan kering kunyit (Curcuma long. dimaserasi menggunakan etanol. Setelah itu ekstrak disaring menggunakan kapas dan kertas saring, lalu filtrat yang diperoleh dikumpul dan diuapkan . menggunakan alat penguap berputar . otary evaporato. yang dilengkapi penangas air dan pompa vakum pada suhu 40oC. Kemudian dibuat ekstrak kunyit dengan konsentrasi yang berbeda-beda yaitu sebesar 10%, 15%, 20%, dan 25%. 3 Pemberian Bahan Uji 6. Ae . Ou 15 6r Ae 6 Ou 15 6r Ou 15 6 r Ou r Ou 3,5 Sehingga dari perhitungan tersebut, maka digunakan 4 ulangan. Ukuran kandang yang digunakan adalah 30x30x20 berbentuk segi empat pada setiap kelompok perlakuan. Rancangan yang digunakan pada kelompok perlakuan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dimana setiap kelompok perlakuan diacak. Pembuatan Bahan Uji (Ekstrak daun pare dan Kunyi. 1 Daun Pare Sampel dari daun pare (Momordica charanti. disortir guna memisahkan dari kotoran. Kemudian dicuci hingga bersih dan didingin anginkan. Pada minggu kedua mulai dilakukan percobaan selama 7 hari. Kelompok kontrol negatif (K-) hanya diberi makan dan minum yang diberikan secara adlibitum. Pada kelompok kontrol positif (K ) juga diberi makan dan minum secara adblitum. Kelompok perlakuan I (P. diberi masing-masing kosentrasi ekrtrak daun pare dan kunyit sebesar 10% per hari, kelompok perlakuan II (P. diberi masingmasing konsentrasi ekstrak daun pare dan kunyit sebesar 15% per hari dan kelompok perlakuan i (P. diberi masing-masing konsentrasi ekstrak daun pare dan kunyit sebesar 20% per hari. Pada kelompok perlakuan IV (P. diberi konsentrasi masing-masing ekstrak daun pare dan kunyit sebesar 25% per hari. Pada minggu ketiga mulai dilakukan percobaan selama 12 hari. Kelompok kontrol negatif (K-) diberi makan dan minum secara adblitum serta diberikan CCl4 sebanyak 0,2 ml. Pada kelompok kontrol positif hanya diberi makan dan minum secara adblitum. Sedangkan kelompok perlakuan I (P. diinduksi dengan CCl4 sebanyak 0,2 ml. kelompok perlakuan II (P. diinduksi dengan CCl4 sebanyak 0,2 ml dan pada kelompok perlakuan i (P. diinduksi dengan CCl4 sebanyak 0,2 ml dan kelompok perlakuan 4 (PIV) juga sebanyak 0,2 ml. Nekrosis Sampel Darah Hewan Uji Pengambilan Nekrosis atau pembedahan adalah pemeriksaan organ tubuh baik dipermukaan maupun di dalam tubuh dengan membedah bagian rongga tubuh. Pada hari ke14 kelompok tikus kontrol negatif (K-) dan kontrol positif (K ) dilakukan pengukuran kadar SGOT. Sedangkan pada hari ke-27 kelompok perlakuan I. II, i, dan IV dilakukan pengukuran kadar SGOT pada tikus putih (Rattus norvegicu. Agar lebih mudah tikus putih dibius terlebih dahulu, sehingga proses pengembilan darah lebih efektif dengan menggunakan Kemudian sampel darah tikus putih segera diambil dari jantung pada bagian ventrikel kiri dengan menggunakan jarum suntik sebanyak 3 ml, lalu dimasukkan ke dalam vacutainer. Selanjutnya disentrifugasi dengan kecepatan 3000 rpm selama 15 menit, setelah itu darah diperiksa kadar SGOT nya Pengukuran Kadar Enzim SGOT Pada pengukuran kadar enzim SGOT dilakukan dengan menggunakan Spektrofotometer diantaranya adalah Pengukuran Absorbansi Blanko dan Pengukuran Absorbansi Sampel. Analisis Data Jenis data Jenis data yang digunakan pada penelitian adalah jenis data kuantitatif dimana data yang diperoleh dari penelitian yaitu berupa angka-angka dan analisis menggunakan statistik. Membandingkan ratarata kadar SGOT hati tikus putih (Rattus norvegicu. antara kelompok kontrol negstif (-), kelompok normal ( ), kelompok perlakuan 1 (PI), kelompok perlakuan 2 (PII), kelompok perlakuan 3 (P. , dan kelompok perlakuan 4 (IV) melalui Analisis Varian (ANAVA). Jika terjadi perbedaan bermakna, maka akan dilanjutkan dengan uji BNT (Beda Nyata Terkeci. Sumber Data Sumber data dapat diperoleh dari hasil penelitian yaitu hasil pemeriksaan kadar SGOT hati tikus putih (Rattus norvegicu. galur wistar untuk kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif, dan untuk masing-masing perlakuan kosentrasi bertingkat ekstrak daun pare (Momlordica charanti. dan kunyit (Curcuma long. yang diinduksi dengan Karbon tetraklorida (CCl. Teknik Pengumpulan Data Teknik pengumpulan data yaitu dilakukan dengan pengukuran kadar SGOT tikus putih dengan menggunakan Spektrofotometer yaitu pada kelompok kontrol negatif, kelompok kontrol positif dan untuk masing-masing perlakuan kosentrasi bertingkat antara ekstrak daun pare dan kunyit yang diinduksi dengan CCL4 di Laboratorium Pendidikan Biologi Universitas Tadulako Teknik Analisis Data Setelah data diperoleh secara kuantitatif dari kadar SGOT hati tikus putih, maka akan dianalisis secara statistik melalui AnalisisVarian (ANAVA) yang diolah dengan menggunakan program STATS-27. Jika terjadi perbedaan secara signifikan, maka akan dilanjutkan dengan uji BNT . Pembuatan Media Pembelajaran Mendesain Media Pembelajaran Media pembelajaranmerupakan suatu alat atau sarana yang diberikan oleh pendidik kepada peserta didik untuk mendengar dan melihat dalam rangka memperoleh pengalaman belajar melalui informasi yang di terima. Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan indra, ukuran, waktu dan dapat meningkatkan efektifitas dalam proses belajar Media pembelajaran yang akan dibuat dari hasil penelitian ini yaitu berupa penuntun praktikum yang diharapkan dapat menunjang proses praktikum dan mata kuliah strktur hewan, perkembangan hewan dan pembelajaran biologi. Validasi Desain Media Pembelajaran Setelah pembuatan media pembelejaran selesai, maka validasi desain media pembelajaran akan dilakukan oleh tim dosen ahli agar membantu meninkatkan kualitas dan keunggulan serta kelemahan media pembelajaran itu sendiri. Adapun aspek-aspek yang dinilai yaitu aspek desain, isi, dan media dalam bentuk penuntun praktikum Revisi Desain Media Pembelajaran Revisi media pembelajaran dilakukan dengan tujuan memperbaiki segala kekurangan kelemahan yang dimiliki oleh media pembelajaran Uji Coba Media Pembelajaran Uji coba media pembelajaran akan dilakukan oleh mahasiswa dengan jumlah responden sebanyak 20 orang yang diambil dari mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan. Universitas Tadulako Validasi Sumber Belajar Arikunto . menjelaskan bahwa analisis data untuk penilaian media pembelajaran dapat digunakan dengan rumus sebagai berikut: HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian mengenai kombinasi ekstrak daun pare (Momordica charanti. dan kunyit (Curcuma long. sebagai hepatoprotektor pada tikus putih (Rattus norvegicu. galur wistar yang diinduksi CCl4 dan pemanfaatannya sebagai media pembelajaran adalah sebagai berikut : Hasil Pengacakan Sampel dan Bobot Sampel Tikus Putih (Rattus norvegicu. Hasil mendapatkan satu macam perlakuan yang akan dikenakan pada setiap sampel tikus yang akan Proses ini dilakukan sebanyak 18 kali dan memperhatikan bahwa kemunculan setiap perlakuan hanya 3 kali. Adapun cara pengacakan ke enam perlakuan dilakukan dengan menggunakan cara Berikut pengacakkan sampel yang digunakan Tabel 1. 2 Bobot Sampel Tikus Putih (Rattus norvegicu. Kontrol Ratarata= Kontrol 13 = 191 3 = 290 1 = 180 10 = 180 T. 8 = 121 7 = 250 5 = 192 4 = 164 14 = 183 17 = 242 9 = 210 6= 168 15= 168 Rata-rata= Rata-rata= Rata-rata= Rata-rata= Ratarata= Keterangan: T = Tikus, gr= gram. I . %). II . %). %). IV . %), = perlakuan pemberian kombinasi ekstrak daun pare dan kunyit dengan konsentrasi 10%, 15%, 20%, dan 25%). Berdasarkan Tabel 1. 2 menunjukkan bahwa rata-rata bobot tikus yang digunakan yaitu 200 gram. Pengukuran bobot tikus ini digunakan sebagai acuan dalam penentuan jumlah konsentrasi dalam pemberian CCl4 maupun ekstrak yang akan diinduksi pada tikus Hal ini sesuai dengan pendapat Shiyamita . menyatakan bahwa jika bobot tikus diatas 150160 gr, maka pemberian konsentrasi bahan yang akan digunakan sebanyak 0,195 mlAe0,208 ml. Oleh karena itu, dalam pemberian konsentrasi kombinasi ekstrak daun pare dan kunyit digunakan konsentrasi sebanyak 0,2 ml. Kadar SGOT Serum Darah Tikus Putih (Rattus norvegicu. Setelah diperoleh hasil penimbangan sampel tikus putih (Rattus norvegicu. Selanjutnya dilakukan pembedahan dan perhitungan kadar SGOT. Hasil perhitungan kadar SGOT tikus putih yaitu pada tabel Tabel 1. 3 Hasil perhitungan rata-rata kadar SGOT tikus putih (Rattus norvegicu. Ulangan mg/L Tabel 1. 1 Hasil Pengacakkan Sampel Tikus Putih (Rattus Perlakuan Oc 0,429 0,005 0,003 0,437 0,145 0,454 0,65 0,75 1,854 0,618 -0,186 0,35 -0,324 -0,16 0,05 Tikus Ke-13 Tikus Ke-2 Tikus Ke-3 Tikus Ke-1 Tikus Ke-10 Tikus Ke-8 K Normal ( ) K Negatif (-) P1 10% Tikus Ke-16 Tikus Ke-7 Tikus Ke-5 Tikus Ke-4 Tikus Ke-14 Tikus Ke-11 PII 15% 0,34 0,23 0,32 0,89 0,29 Tikus Ke-18 Tikus Ke-17 Tikus Ke-9 Tikus Ke-6 Tikus Ke-15 Tikus Ke-12 Pi 20% 0,31 0,41 0,36 1,08 0,36 PIV 25% 0,87 0,384 0,382 1,636 0,545 Kontrol Kontrol i . %) . %) . %) . %) Setelah diperoleh sampel dari hasil pengacakkan tikus putih (Rattus norvegicu. Kemudian dilakukan penimbangan bobot tikus putih yang akan diberi perlakuan untuk menentukan kriteria kelayakkan sampel tikus putih (Rattus norvegicu. sebagai hewan uji pada penelitian ini Keterangan : K(Norma. = Pemberian makan dan minum. K(-)= Pemberian CCl4 sebesar 0,2 ml selama 7 hari. I 10%. II 15%, i 20%. IV 25%= Perlakuan memberikan kombinasi ekstrak daun daun pare dan kunyit selama 7 hari dengan konsentrasi 10%, 15%, 20% dan 25%. Berdasarkan Tabel 1. 3 menunjukkan bahwa rata-rata jumlah kadar SGOT tikus putih (Rattus norvegicu. kontrol (Norma. yang hanya diberi makan dan minum, kadar SGOTnya berada pada kisaran normal yaitu 0,145 mg/L. Kadar SGOT pada kontrol (-) tikus putih yang setelah diinduksi CCl4 terjadi peningkatan yaitu 0,618 mg/L. Rata-rata kadar SGOT pada tikus putih PI dengan kombinasi daun pare dan kunyit pada kosentrasi 10% yaitu 0,05 mg/L. PII dengan konsentrasi 15% sebesar 0,29 mg/L. Pi dengan konsentrasi 20% sebesar 0,36 mg/L, dan PIV dengan konsentrasi 25% sebesar 0,545 mg/L. Jika dilihat hasil yang diperoleh sangat signifikan hal ini disebabkan oleh karena kosentrasi ekstrak daun pare dan kunyit hanya berbeda 5% sehingga pebedaannya pun tidak terlalu besar. Adapun rata-rata jumlah kadar SGOT tikus putih (Rattus norvegicu. pada masing-masing perlakuan dapat dilihat pada gambar KO S E N T R A S I 0,618 0,545 0,29 0,145 0,36 0,05 K Normal K Negatif P1 10 % ( ) (-) PII 15% Pi 20% PIV 25% Gambar 4. 1 Grafik Hasil Pemeriksaan Kadar SGOT Tikus (Rattus norvegicu. Putih Hasil analisa sidik ragam jumlah kadar SGOT tikus putih (Rattus norvegicu. di atas menunjukkan bahwa Fhitung > Ftabel yang berarti H0 ditolak dan H1 Pertama. H1 diterima karena ekstrak daun pare (Momordica charanti. dan Kunyit (Curcuma long. berpengaruh terhadap penururnan kadar SGOT tikus putih galur wistar yang diinduksi dengan CCl4. Kedua. H1 yang diterima adalah terdapat salah satu konsentrasi ekstrak daun pare dan kunyit yang efektif berpengaruh terhadap kadar SGOT darah tikus putih galur wistar yaitu pada P1 dengan konsentrasi 10% yang memiiki nilai 0,05 yang diinduksi dengan CCl4. Dengan demikian dapat di simpulkan adanya pengaruh ekstrak daun pare dan kunyit terhadap kadar SGOT tikus putih (Rattus norvegicu. yang diinduksi dengan CCl4. Maka dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf 0,05%. Berdasarkan data pada gambar 4. 1 untuk melihat konsentrasi mana yang paling efektif untuk menurunkan kadar SGOT hepar tikus putih (Rattus norvegicu. maka dilanjutkan dengan uji BNT pada taraf 0,05%. Berdasarkan uji lanjut BNT yang dilakukan, diperoleh nilai BNT sebesar 0,027 Oleh karena itu, dapat dilihat bahwa pada Kontrol (Norma. berbeda tidak nyata dengan perlakuan PI 10%. PII 15% . Pi 20% dan berbeda nyata pada perlakuan IV 25% dan K(-). Kontrol (-) tidak berbeda nyata dengan perlakuan PII 15%. Pi 20% dan PIV 25 %. Namun berbeda nyata dengan K (Norma. dan perlakuan PI 10%. Perlakuan kombinasi daun pare dan kunyit dengan konsentrasi 10% tidak berbeda nyata dengan PII 15%. Pi 20% dan K (Norma. Tetapi berbeda nyata dengan perlakuan IV 25% dan K(-). Perlakuan kombinasi daun pare dan kunyit dengan konsentrasi 15% tidak berbeda nyata dengan Pi 20%. PIV 25%. K(-) dan K(Norma. Perlakuan kombinasi daun pare dan kunyit dengan konsentrasi 20% tidak berbeda nyata dengan PII 15%. PIV 25% dan K (Norma. Perlakuan dengan kosentrasi 25% tidak beda nyata dengan perlakuan PII 15%. Pi 20% dan K(-). Namun berbeda nyata dengan PI 10% dan K(Norma. Dengan demikian dapat dilihat bahwa konsentrasi terbaik untuk menurunkan kadar SGOT tikus putih (Rattus norvegicu. yaitu pada perlakuan I dengan kosentrasi 10% pada kombinasi daun pare dan kunyit. Berdasarkan data kadar enzim SGOT kelompok kontrol (-) yaitu tikus diberi CCl4 menunjukkan kadar SGOT sebesar 0,618 mg/L. Jumlah kadar SGOT kelompok kontrol negative (-) menunjukkan perbedaan yang signifikan bila dibandingkan dengan kelompok kontrol normal ( ), yaitu sebesar 0,145 mg/L. Nilai ini menunjukkan perbedaan bermakna, yang berarti bahwa telah terjadi kerusakan hati akibat pemberian CCl4. Hal ini sesuai dengan pendapat Shiyamita . yang menyatakan bahwa gangguan pada hati dapat ditandai dengan adanya peningkatan kadar SGOT, dan kerusakan hati dapat disebabkan oleh hepatoksin yaitu CCl4. Hati merupakan organ tubuh yang berperan penting dalam proses metabolisme dan detoksifikasi. Pemaparan oleh berbagai bahan toksik akan mempertinggi kerusakan hati. Hati potensial mengalami kerusakan karena merupakan organ pertama setelah saluran pencernaan yang terpapar oleh bahan-bahan yang bersifat toksik. Apabila terjadi kerusakan sel atau meningkatnya permeabilitas membran sel, maka dapat didiagnosis bahwa hati telah mengalami kerusakan atau nekrosis hati. Dalam hal ini dapat didiagnosa dengan cara pemeriksaan SGOT dan SGPT (Chaningtyas dkk, 2. Dampak racun CCl4 bukan secara langsung disebabkan oleh molekul CCl4 itu sendiri. Namun oleh karena konversi molekul yang menjadi radikal bebas Triklorometil (CCl3-) dalam retikulum endoplasma halus oleh interaksi dengan transport elektron NADPH-Sitokrom P-450 sistem enzim oksidae yang berfungsi dalam metabolisme obat-obatan yang larut dalam lemak dan senyawa-senyawa lainnya (Rianto. Radikal bebas ini kemudian akan segera bereaksi dengan oksigen membentuk metabolit yang lebih reaktif yaitu Triklorometil Peroksida (CCl3O2-) yang selanjutnya akan bereaksi dengan asam lemak polienolik yang dapat menghasilkan peroksida lipid . Hal ini sesuai dengan pendapat Rahmawati dkk . mengemukakan bahwa peroksidasi lipid dapat mengakibatkan terjadinya kerentanan membran dan dapat menyebabkan kerusakan membran sehingga terjadi nekrosis, inaktifasi enzim, menurunnya sintesa protein, menurunkan aktifitas enzim, meningkatnya permeabilitas kapiler dan meningkatkan agregasi trombosit yang membentuk tautan silang dengan protein, . Hidayat . mengemukakan bahwa enzim SGOT digunakan sebagai indikator karena mempunyai kepekaan yang tinggi ketika organ hati, jantung, ginjal, otot skelet, dan otak mengalami kerusakan. Berdasarkan hal tersebut bila dibandingkan dengan hasil penelitian data kadar enzim SGOT kelompok kontrol negatif (-) yaitu tikus putih yang diberikan CCl4 menunjukkan kadar SGOT sebesar 0,618 mg/L. Jumlah kadar SGOT kelompok kontrol ( ) menunjukkan perbedaan yang signifikan bila dibandingkan dengan kelompok kontrol normal ( ), yaitu sebesar 0,145 mg/L. Nilai ini menunjukkan perbedaan bermakna, yang berarti bahwa telah terjadi kerusakan hati akibat pemberian CCl4. Sehingga mengakibatkan kadar SGOT meningkat dari keadaan Berdasarkan hasil pengamatan pada kombinasi ekstrak daun pare (Momordica Charanti. dan Kunyit (Curcuma Long. yang berbeda yaitu kosentrasi 10%, 15%, 20%, dan 25% terlihat adanya penurunan kadar SGOT bila dibandingkan dengan kontrol (-) yaitu tikus yang diinduksi CCl4. Hal ini sesuai dengan pendapat Shiyamita . yang mengemukakan bahwa jika terjadi kerusakan pada hati dapat ditandai dengan peningkatan kadar SGOT, dan gangguan pada hati dapat disebabkan oleh hepatoksin yaitu CCl4. Perbedaan nilai kadar SGOT dari perlakuan bila dibandingkan dengan kontrol (-) telah terjadi perbaikan hati dengan pemberian kombinasi ekstrak daun pare dan kunyit 10%, 15%, 20%, dan 25%. Sehingga kadar SGOT kembali pada keadaan normal. Pada perlakuan pemberian kombinasi ekstrak daun pare dan kunyit 10%, 15%, 20%, dan 25% menunjukkan kadar SGOT berada pada kondisi Akan tetapi perlakuan pada konsentrasi 10% menunjukan penurunan kadar SGOT paling efektif. Hal ini mengindikasikan bahwa telah terjadi perbaikan fungsi sel pada organ hati. Pendapat ini sejalan dengan Firman dkk . yang menyatakan semakin tinggi konsentrasi ekstrak tanaman, maka akan semakin meningkat daya antioksidannya. Rasa pahit tanaman pare terutama pada daun dan buah disebabkan oleh kandungan zat sejenis glukosida yang disebut momordisin dan charantin. Ekstrak yang diperoleh pada uji fitokimia memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder dalam daun pare yaitu senyawa flavonoid, alkaloid, tannin, saponin, dan triterpenoid (Jayanto, 2. Kunyit (Curcuma Long. merupakan tanaman yang memiliki banyak manfaat sebagai obat herbal karena memiliki senyawa seperti kurkumin, minyak atsiri, flavonoid dan alkaloid yang berfungsi sebagai antioksidan, antikolestrol, antitumor, antivirus dan antibakteri (Abdullatif, 2. Antioksidan merupakan penghambat potensial dari enzim sitokrom P-450. Hal ini akan mengakibatkan molekul CCL4 tidak terkonversi menjadi radikal bebas Triklorometil (CCl3-) dan tidak akan terbentuk Triklorometil peroksida (CCl3O2-) yang menyebabkan tidak terjadinya peroksidasi lipid. Akibatnya tidak banyak asam lemak tak jenuh yang diubah menjadi peroksida lipid dan fungsi membran tetap terjaga dengan baik. Efek antioksidan juga digunakan sebagai anti kanker yang akan menginduksi terjadinya apoptosis pada sel kanker tanpa efek pada sel sehat (Rahmawati dkk, 2. Hasil Analisis Media Pembelajaran Media pembelajaran adalah segala bentuk penalaran seorang pengembang pembelajaran yang diberikan kepada siswa guna memudahkan proses pengembangan bahan ajar yang dapat digunakan sebagai perantara atau penyalur pesan untuk merangsang pikiran, perasaan, motivasi dan perhatian siswa selama proses pembelajaran Rianto . Adapun media pembelajaran yang akan dibuat dari hasil penelitian ini yaitu penuntun praktikum yang memuat semua rangkaian penelitian serta hasil yang Nurseto . mengemukakan bahwa penuntun praktikum merupakan salah satu alat atau sarana yang diberikan oleh pendidik kepada peserta didik guna mendengar dan melihat serta memperoleh pengalaman belajar melalui informasi yang diterima baik melalui video, audio, poster, penuntun praktikum, maupun media lainnya sehingga peserta didik dapat menjadi generasi yang lebih baik. Menurut Lasmiati dan Hartati . bahwa media pembelajaran baik modul maupun penuntun praktikum harus berkualitas dan mampu memperhatikan kompenen-komponen yang telah ditetapkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) dengan melihat aspek kelayakan isi, gambar, bahasa, asppenjian dan aspek kegrafisan. Tingkat kelayakan penuntun praktikum sebagai media pembelajaran dapat diketahui dengan cara melakukan validasi oleh tim ahli isi, ahli media, dan ahli desain, serta 20 orang mahasiswa yang berperan sebagai validator. Setelah dilakukan validasi oleh tim ahli maka diperoleh nilai presentase yaitu ahli isi 60% cukup layak, ahli desain nilai presentase 84% sangat layak, ahli media nilai presentase 62% layak. Sehingga penuntun praktikum ini layak digunakan sebagai media pembelajaran. Selanjutnya penuntun praktikum ini diuji kembali oleh 20 orang mahasiswa. Berdasarkan hasil uji kelayakan oleh 20 orang mahasiswa diperoleh nilai presentase sebesar 63,375% dan layak digunakan sebagai media pembelajaran. Hal ini sesuai dengan pendapat Arikunto . dengan nilai presentase 61% - 80% Menyatakan bahwa penuntun praktikum tersebut layak digunakan sebagai media pembelajaran. Melalui penelitian tersebut, maka secara keseluruhan penuntun praktikum ini dapat dijadikan media pembelajaran dengan total rata-rata 67,343%. Sehingga penuntun praktikum ini dapat dijadikan acuan pada beberapa mata kuliah seperti perkembangan hewan dan fisiologi hewan. KESIMPULAN DAN SARAN Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan maka diperoleh kesimpulan adalah sebagai berikut : Kombinasi ekstrak daun pare (Momordica charani. dan kunyit (Curcuma long. memiliki efektifitas sebagai hepatoprotektor . Kosentrasi hepatoprotektor pada kombinasi ektrtrak daun pare (Momordica charani. dan kunyit (Curcuma long. adalah kosentrasi 10% PI dengan nilai 0,05. Hasil penelitian ini layak digunakan sebagai media pembelajaran berupa penuntun praktikum dengan nilai sebesar 67,343%. DAFTAR PUSTAKA