Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Juli-Desember Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Juli-Desember ISSN 2528-3391 (Prin. ISSN 2776-3153 (Onlin. DOI: http://doi. org/10. Tersedia online di https://jurnalassyifa. Penanganan Masalah Keperawatan Hipervolemia dan Bersihan Jalan Napas Tidak Efektif pada Pasien dengan Sirosis Hepatis: Studi Kasus Management of Nursing Problems of Hypervolemia and Airway Clearance not Effective in Patients with Hepatic Cirrhosis: Case Study Pera SasmitaA. Riski AmaliaA. Nani Safuni A A Fakultas Keperawatan Universitas Syiah Kuala. Banda Aceh A Bagian Keilmuan Keperawatan Medikal Bedah. Fakultas Keperawatan. Universitas Syiah Kuala. Banda Aceh *Email : riskiamalia@usk. ABSTRAK Sirosis hepatis adalah penyakit kronis yang berlangsung progresif yang menyerang jaringan hati sehingga menyebabkan pelebaran pembuluh darah dan gangguan pada fungsi hati. Indonesia paling sering terdiagnosa sirosis hepatis adalah hepatitis B sebesar 40-50% Tujuan studi kasus ini adalah untuk mengaplikasikan teknik ankle pumping exercise, elevasi kaki 30A dan teknik batuk efektif terhadapa Tn. A dengan hipervolemia dan bersihan jalan napas tidak efektif. Hasil pengkajian didapatkan bahwa Tn. mengalami nyeri pada abdomen kanan bawah, asites, terdapat udema pada ektremitas bawah, lemas, sesak napas, adanya bunyi ronkhi, batuk berdahak, menggunakan otot bantu pernapasan . dan pasien kesulitan mengeluarkan sputum. Implementasi yang sudah diberikan yaitu melakukan teknik ankle pumping exercise, elevasi kaki 30A, dan teknik batuk efektif. Dari hasil implementasi didapatkan hipervolemia belum teratasi dikarenakan pasien masih asites. Diagnosa bersihan jalan napas tidak efektif teratasi sebagian dikarenakan pasien sudah bisa melakukan teknik batuk efektif namun pasien masih batuk dan masihadanya bunyi ronkhi. Kata Kunci : Sirosis Hepatis. Hipervolemia. Ankle pumping exercise. Batuk efektif ABSTRACT Cirrhosis hepatis is a chronic, progressive disease that attacks liver tissue causing dilation of blood vessels and disruption of liver function. In Indonesia, hepatitis cirrhosis is most often diagnosed as hepatitis B in 40-50% of cases. The aim of this case study is to apply the ankle pumping exercise technique, 30A leg elevation and effective coughing technique to Mr. A with hypervolemia and ineffective airway clearance. The results of the study showed that Mr. experiences pain in the lower right abdomen, ascites, there is edema in the lower extremities, weakness, shortness of breath, crackles, coughing up phlegm, using the accessory muscles for breathing . and the patient has difficulty expelling The implementation that has been given is carrying out the ankle pumping exercise technique, 30A leg elevation, and effective coughing techniques. From the implementation results, it was found that hypervolemia had not been resolved because the patient still had ascites. The diagnosis of ineffective airway clearance was partially resolved because the patient was able to use effective coughing techniques but the patient Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Juli-Desember was still coughing and there were still rhonchi sounds. Keywords: Hepatic Cirrhosis. Hypervolemia, ankle pumping exercise, effective PENDAHULUAN Sirosis hepatis merupakan penyakit hati kronik dengan distensi struktur hepar dan hilangnya fungsi hepar, dimana jaringan hati dengan kondisi normal digantikan dengan jaringan parut sehingga mempengaruhi regenerasi sel sel dan struktur normal hati (Adnan & Lolita, 2. Berdasarkan data Riskesdas 2021 di Indonesia diketahui selama 2021 152 kasus sirosis hepatis (Riskesdas 2. Pravelensi sirosis hepatis di Indonesia 0,4%. Tiga provinsi dengan pravelensi sirosis tertinggi adalah Papua . ,7%). Nusa Tenggara Barat . ,6%), dan Gorontalo . ,6%). Pada tahun 2018, dari jumlah 7 juta penduduk menjadi 14 juta penduduk yang menderita sirosis hepatis (Kemenkes, 2. World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa 720. 000 kematian di dunia disebabkan oleh sirosis hepatis (Ahmad et al. , 2. Sirosis hepatis menempati urutan ketujuh penyebab kematian di dunia. Sirosis hepatis menempati urutan kedua belas penyebab utama kematian di Amerika Serikat (Darni & Rahmah, 2. , sedangkan dikorea, sirosis hepatis menduduki urutan kedelapan sebagai salah satu penyebab mortalitas (Elfatma et al, 2. Di Indonesia sendiri belum ada data yang dapat mempresentasikan jumlah penderita sirosis hepatis, namun menurut laporan dari rumah sakit umum pemerintahan di Indonesia, rata rata pravelensinya adalah 3,5% dari seluruh pasien yang dirawat dibagian penyakit dalam (Saskara & Suryadama, 2. Asites merupakan salah satu dari tiga komplikasi sirosis yang sering terjadi, komplikasi lainnya adalah enselopati dan pendarahan vasises. Dua faktor yang berperan dalam pembentukan asites pada pasien sirosis yaitu retensi natrium dan air, serta hipertensi Hipertensi portal terjadi karena perubahan struktur hati pada sirosis dan meningkatnya aliran darah ke splanklinus. Penumpukan kolagen yang progresif dan terbentuknya nodul mengubah keadaan normal pembukuh darah hati dan meningkatkan resistensi terhadap aliran portal. Sinusoid menjadi kurang lentur karena terbentuknya kolagen didalam ruang disse, ini akan menyebabkan tekanan pada system portal static. Edema merupakan kondisi vena yang terbendung karena adanya peningkatan tekanan hidrostatik intravaskuler . ekanan yang mendorong darah mengalir didalam vaskuler oleh kerja pompa jantun. , sehingga menimbulkan pembesaran atau penumpukan cairan plasma ke ruang intestinum. Dalam keadaan edema, pasien tidak bisa melakukan aktivitas sehari hari dan hal ini dapat menimbulkan komplikasi (Budiono & Ristanti, 2. Salah satu upaya mandiri yang dapat dilakukan oleh perawat dalam mengurangi edema adalah dengan melakukan terapi Ankle Pumping Exercise dan elevasi kaki 30 derajat. Hasil penelitian dari Budiono, 2019 membuktikan bahwa terapi kombinasi ini mampu mengurangi tingkat edema . latihan ini bertujuan untuk memperlancar peredaran darah. Edema dapat dikurangi dengan melakukan perubahan posisi dengan elevasi kaki. Perubahan posisi saat kaki di elevasikan bertujuan akan meningkatkan aliran balik vena dan mengurangi tekanan pada vena (Sukmana dkk, 2. Sirosis hepatis dapat menyebabkan sesak napas dikarenakan virus hepatitis menyebabkan nekrosis parenkim hati yang menyebabkan terbentuknya jaringan ikat sehingga dapat mengakibatkan kegagalan parenkim hati, sehingga munculnya diagnosa bersihan jalan napas tidak efektif. Salah satu upaya yang dilakukan adalah teknik batuk Penelitian yang dilakukan oleh Puspitasari. Purwono & Immawati . tentang Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Juli-Desember penerapan teknik batuk efektif pada pasien tuberkulosis paru menunjukkan bahwa sebelum dilakukan intervensi pasien tidak bisa mengeluarkan dahak, namun setelah diberikan intervensi batuk efektif pasien dapat mengeluarkan dahak dengan lebih maksimal meskipun masih terdengar suara ronkhi dari paru-paru pasien. Hal ini menunjukkan bahwa teknik batuk efektif dapat digunakan sebagai solusi untuk mengatasi masalah bersihan jalan napas tidak efektif. Penelitian yang sama yang dilakukan oleh Listiana. Keraman, & Yanto . juga menunjukkan bahwa teknik batuk efektif dapat memberi pengaruh terhadap pengeluaran sputum pada pasien tuberkulosis. Manfaat batuk efektif untuk melonggarkan saluran pernapasan maupun mengatasi sesak napas akibat adanya lendir yang memenuhi saluran pernapasan. Lendir, baik dalam bentuk dahak . maupun sekret dalam hidung, timbul akibat adanya infraksi pada saluran pernapasan maupun karena jumlah penyakit yang diderita seseorang (Puspitasari. Purwono & Immawati, 2. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nugroho . , menunjukkan bahwa ada pengaruh batuk efektif terhadap pengeluaran dahak pada pasien ketidakbersihan jalan napas yang dibuktikan dengan hasil uji Wilcoxon Signed Runk Test didapatkan adanya pengaruh yang signifikan sebelum dan sesudah pemberitahuan batuk efektif. METODE Penelitian ini design studi kasus. Pengambilan sampel dilakukan pada pasien dengan diagnosa medis sirosis hepatis. Metode pengumpulan data penelitian studi kasus ini melalui proses asuhan keperawatan, yang meliputi tahap pengkajian, penetapan diagnosa keperawatan, intervensi keperawatan, implementasi keperawatan dan evaluasi KASUS "Tn. A" berusia 51 tahun dengan keluhan nyeri pada abdomen kanan bawah, asites, udem dengan Pitting edema derajat 3mm . , sesak napas dengan frekuensi 29x/menit, terdapat suara ronkhi, menggunakan otot bantu pernapasan . , batuk berdahak dan menggunakan nasal kanul 5 liter/menit. Pasien sudah didiagnosa sirosis hepatis satu tahun yang lalu, sbelumnya pasien menderita hepatitis B. HASIL AuTn. AAu berusia 51 tahun dengan diagnosa medis sirosis hepatis mengeluh pusing, lemas dan nyeri pada bagian perut kanan bawah seperti ditusuk tusuk, perut kembung, sesekali sesak napas disertai batuk berdahak dan kesulitan BAB dengan peristaltik usus 4x/menit. Pola nutrisi, pasien memiliki nafsu makan yang kurang. Selain itu pasien juga mengeluh sudah tidak bisa mengunyah karena faktor usia dan kesulitan Berat badan pasien saat dirawat adalah 40 Kg, dimana pasien mengatakan jika dirinya mengalami penurunan berat badan sebanyak 20 Kg. Tinggi badan pasien 150 cm. perhitungan indeks massa tubuh (IMT) pasien adalah 17,8 (Kuru. Hasil pucat. Glasglow Coma Scale (GCS): E4M6V5, tekanan darah 118/83 mmHg, nadi : 85 kali/menit. Respiratory rate:29x/menit, suhu : 36,5OC. SpO2 : 97%. Setelah 5 hari rawatan, didapatkan hasil pasien masih terdapat edema di ekstremitas bawah dengan pitting edema derajat 1 . , pasien sudah bisa melakukan Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Juli-Desember teknik batuk efektif namun setelah diberikan intervensi batuk efektif pasien dapat mengeluarkan dahak dengan lebih maksimal meskipun masih terdengar suara ronkhi dari paru-paru pasien. Hal ini menunjukkan bahwa teknik batuk efektif dapat digunakan sebagai solusi untuk mengatasi masalah bersihan jalan napas tidak efektif. Terapi obat dan pemeriksaan fisik yang lengkap dapat dilihat pada tabel 1 dan 2 sebagai berikut: Tabel 1. Terapi Obat Nama Obat Injeksi/drips/oral Manfaat Metronidazole Ketorolac Ceftriaxone Oral Antibiotik Anti nyeri Antibiotik Tabel 2. Pemeriksaan Fisik Pengkajian Kepala Hasil Pemeriksaan Mata Hidung Mulut Leher Thoraks Abdomen Ekstremitas Inspeksi : tidak ada luka, tidak ada ketombe, rambut bersih namun sedikit berminyak, wajah tampak bengkak Palpasi : tidak teraba masa, tidak ada nyeri saat ditekan Inspeksi : simetris, palpebra normal, konjungtiva anemis, sklera ikterik Inspeksi : simetris, tidak ada sekret, tidak tampak pernapasan cuping hidung Palpasi : tidak teraba masa, tidak ada nyeri saat ditekan Perkusi : tidak ada sinus Inspeksi : kurang bersih, membran mukosa pucat, tidak ada plak di lidah, tampak karies dan karang pada gigi, tidak ada tonsilitis,gigi depan sudah tidak lengkap, gigi kuning Inspeksi : tidak tampak pembesaran vena jugularis Palpasi : tidak ada pembesaran vena jugularis, tidak ada pembesaran kelenjar tiroid dan kelenjar limfa. Inspeksi : dinding dada simetris, tampak penggunaan otot bantu pernapasan, irama napas irregular, pasien tampak sesak, frekuensi napas 26x/menit Palpasi : tidak ada masa, tidak ada nyeri tekan Perkusi : redup Auskultasi : terdengar ronchi basah Inspeksi : tampak asites, distensi abdomen Palpasi : nyeri tekan perut bagian kanan, tidak teraba masa. Perkusi : timpani Auskultasi : bising usus 4 kali/menit Inspeksi : tampak edema di esktremitas bawah . aki kanan dan kaki kir. Palpasi : pitting edema derajat 2 . Akral dingin CRT > 2 detik Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Juli-Desember Hasil pemeriksaan laboratorium darah rutin dan pemeriksaan laboratorium urine dapat dilihat pada tabel 4 dan 5. Tabel 4. Hasil pemeriksaan Laboratorium Darah Rutin Jenis Pemeriksaan Hematologi Darah Rutin Hemoglobin Hematokrit Eritrosit Trombosit Leukosit MCV MCH MCHC RDW MPV PDW Hitung jenis : Eosinofil Basofil Netrofil batang Netrofil segmen Limfosit Monosit Imunoserologi Hepatitis anti HCV HbsAg HbsAg Konfirmasi Hasil Nilai Rujukan Satuan 10,5* 4,2* 6,92 14,0 Ae 17,0 45 Ae 55 4,7 Ae 6,1 150 Ae 450 4,5 Ae 10,5 80 Ae 100 27 Ae 31 32 Ae 36 11,5 Ae 14,5 7,2 Ae 11,1 7,2 Ae 11,1 g/dl 10/mm3 10/mm3 10/mm3 0Ae6 2Ae6 50 Ae 70 20 Ae 40 2Ae8 Negatif Positif Tabel 5. Hasil pemeriksaan Laboratorium Urine Hasil Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Urinalisis Makroskopik Warna Kuning kecoklatan Kejernihan Jernih Berat jenis 1,003 Ae 1,030 5,0 Ae 9,0 Lekosit Negatif Negatif Protein Negatif Negatif Glukosa Positif Negatif Keton Negatif Negatif Nitrit Negatif Negatif Urobilinogen Positif Negatif Bilirubin Negatif Negatif Darah Negatif Negatif Mikroskopik Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Juli-Desember Hasil Pemeriksaan Hasil Nilai Rujukan Urinalisis Sedimen urine: Leukosit 0Ae2 0Ae2 Eritrosit 0Ae2 0Ae2 Epitel 0Ae1 0Ae1 Lain lain Gambar 1 menunjukkan hasil pemeriksaan endoksopi yaitu dengan adanya varises esofagus grade II dan ulkus gaster pada bagian antrum. Gambar 1. Pemeriksaan Endoskopi PEMBAHASAN Diagnosa hipervolemia diangkat berdasarkan data yang didapatkan dari hasil pengkajian kepada pasien. Selama pengkajian didapatkan bahwa pasien mengeluh badannya yang bengkakdan perut mengalami asites. Tampak edema di ekstremitas bawah, pitting edema 3 mm, hasil laboratorium menunjukkan nilai albumin : 2,29 g/dl. Ht, 39%. Na : 129 mmol/dl, dan balance cairan : - 8,920. Hipervolemia adalah peningkatan volume cairan intravaskular, interstitial, dan/atau intraselular (PPNI, 2. Volume darah sering meningkat pada penderita sirosis hati, terutama dengan asites dan edema. Volume darah rata rata meningkat 15% lebih tinggi dari normal dan ini cenderung memperbesar pravelensi dan derajat anemia. Hipervolemia ini bisa parsial dan kadang kadang total dihitung dari rendahnya Hb dan eritrosit pada darah tepi 5-7. Besarnya hipervolemia dihubungkan dengan hipertensi portal berdasarkan ada atau tidaknya asites. Edema merupakan salah satu gejala awal adanya retensi cairan yang signifikan yang dapat menyebabkan kelebihan beban jantung. Penyebab edema pada sirosis hepatis sendiri sulit untuk diketahui. Namun faktor-faktor risiko utama dapat disebabkan oleh penyakit kardiovaskular ataupun gagal ginjal. Tindakan yang dilakukan perawat adalah memeriksa tanda dan gejala hipervolemia, mengidentifikasi penyebab hipervolemia, memonitor tanda hemokonsentrasi, memonitor tanda peningkatan tekanan onkotik plasma, memonitor efek Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Juli-Desember samping diuretic, membatasi asupan cairan dan garam, meninggikan kepala tempat tidur, melakukan angkle pumpling exercise dan elevasi kaki 30A. Ankle pumpling exercise dan elevasi kaki 30A merupakan salah satu terapi yang digunakan untuk mengurangi edema. Salah satu penelitian yang dilakukan oleh Manawan & Rosa . menunjukkan bahwa latihan kaki di fleksi dan ekstensi pada daerah tungkai yang odem dan dikombinasikan dengan elevasi kaki berpengaruh pada penurunan diameter Penelitian yang dilakukan oleh Riska Noor & Wahyuningsih . tentang pengaruh kombinasi ankle pump exercise dan elevasi kaki 30A terhadap edema kaki pada pasien CKD yang dilakukan terhadap 12 responden menunjukkan bahwa adanya pengaruh dari kombinasi ankle pump exercise dan elevasi kaki 30A terhadap penurunan edema. Asites didefinisikan sebagai distensi abdomen yang diakibatkan oleh akumulasi cairan di rongga peritoneum. Ini adalah komplikasi sirosis yang paling sering dengan lebih kurang 50% pasien mengalami asites pada waktu 10 tahun sesudah diagnosis. Salah satu diuretic yang diberikan adalah furosemide dan sprinolakton. Sprinolakton merupakan antagoenis aldosterone yang bekerja pada tubulus distal untuk meningkatkan natriuresis dan mempertahankan kalium. Tindakan yang dilakukan oleh perawat dalam mengatasi bersihan jalan napas tidak efektif adalah mengidentifikasi kemampuan batuk, memonitor retensi sputum, mengatur posisi semi-fowler, mengajarkan teknik batuk efektif. Pasien diberikan mukolitik yaitu fluimucil 200mg/8jam. Penelitian yang dilakukan oleh Puspitasari. Purwono & Immawati . tentang penerapan teknik batuk efektif pada pasien tuberkulosis paru menunjukkan bahwa sebelum dilakukan intervensi pasien tidak bisa mengeluarkan dahak, namun setelah diberikan intervensi batuk efektif pasien dapat mengeluarkan dahak dengan lebih maksimal meskipun masih terdengar suara ronkhi dari paru-paru pasien. Hal ini menunjukkan bahwa teknik batuk efektif dapat digunakan sebagai solusi untuk mengatasi masalah bersihan jalan napas tidak efektif. Penelitian yang sama yang dilakukan oleh Listiana. Keraman, & Yanto . juga menunjukkan bahwa teknik batuk efektif dapat memberi pengaruh terhadap pengeluaran sputum pada pasien tuberkulosis. Manfaat batuk efektif untuk melonggarkan saluran pernapasan maupun mengatasi sesak napas akibat adanya lendir yang memenuhi saluran pernapasan. Lendir, baik dalam bentuk dahak . maupun sekret dalam hidung, timbul akibat adanya infraksi pada saluran pernapasan maupun karena jumlah penyakit yang diderita seseorang (Puspitasari. Purwono & Immawati, 2. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Nugroho . , menunjukkan bahwa ada pengaruh batuk efektif terhadap pengeluaran dahak pada pasien ketidakbersihan jalan napas yang dibuktikan dengan hasil uji Wilcoxon Signed Runk Test didapatkan adanya pengaruh yang signifikan sebelum dan sesudah pemberitahuan batuk efektif. KESIMPULAN Berdasarkan hasil studi kasus dapat disimpulkan bahwa : pada hari pertama nilai derajat edema adalah Pitting edema derajat 2 . dan pada hari kelima pitting edema derajat 1 . berdasarkan studi kasus dapat disimpulkan bahwa penerapan kombinasi ankle pumping exercise dan elevasi kaki 30 derajat terbukti efektif untuk menurunkan derajar edema pada pasien sirosis hepatis. Teknik batuk efektif juga terbukti efektif dikarena pada hari pertama pasien belum bisa mengeluarkan sputum namun setelah diberikan intervensi batuk efektif pasien dapat mengeluarkan dahak dengan lebih maksimal meskipun masih Jurnal AssyifaAo Ilmu Kesehatan. Vol 9 No. Juli-Desember terdengar suara ronkhi dari paru-paru pasien. SARAN