JIGE 2 (1) (2021) 74-80 JURNAL ILMIAH GLOBAL EDUCATION ejournal.nusantaraglobal.ac.id/index.php/jige PROBLEMATIKA PENDIDIKAN DASAR ISLAM ABAD 21 DI SD NEGERI KENTUNGAN YOGYAKARTA Dewi Sutilah Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta, (Yogyakarta), (Indonesia) History Article Article history: ABSTRACT Received Mei 2, 2021 Approved Juni 5, 2021 Keywords: Problematic, Islamic basic education This study aims to analyze the problems of 21 st Islamic basic education problems in Kentungan Yogyakarta State Elementary School and how the principal’s contribution in dealing with these problems in order to achieve effective and efficient learning goals and realize the goals of Indonesia’s national education. The research method used is descriptive qualitative. The results showed that there were several problems as follows: (1) lack of character education (2) lack of supporting facilities for the learning process. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis permasalahan permasalahan pendidikan dasar Islam 21 di SD Negeri Kentungan Yogyakarta dan bagaimana kontribusi kepala sekolah dalam menangani permasalahan tersebut guna mencapai tujuan pembelajaran yang efektif dan efisien serta mewujudkan tujuan pendidikan nasional Indonesia. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat beberapa permasalahan sebagai berikut: (1) kurangnya pendidikan karakter (2) kurangnya fasilitas pendukung untuk proses pembelajaran. © 2021 Jurnal Ilmiah Global Education *Corresponding author email: dewisutilh@gmail.com PENDAHULUAN Pendidikan di abad ke-21 membuktikan bahwa terjadinya dikotomi antara pendidikan barat yang cenderung sekuler dan pendidikan Islam yang terkungkung dalam dogma yang kaku. Menyadari kekeliriuan tersebut, muncul paham yang berusaha mengintegrasikan Islam dan pengetahuan atau biasa yang disebuat dengan Islamisasi ilmu pengetahuan yang berujung pada internalisasi nilai-nilai Islam dalam ilmu modern (Kurniawan & Mahrus, 2011, hlm. 284). Problematika Pendidikan Dasar Islam Abad 21 di SD Negeri Kentungan Yogyakarta - 74 Dewi / Jurnal Ilmiah Global Education 2 (1) (2021) Pendidikan Islam menurut Zakiah Daradjat merupakan pendidikan yang lebih banyak ditjukan kepada perbaikan sikap mental yang akan terwujud dalam perbuatan, baik bagi keperluan diri sendiri maupun orang lain yang bersifat teoritis dan praktis (Daradjat, 1996, hlm. 25). Di abad ke-21, era globalisasi, pendidikan Islam menemukan berbagai macam problematika diantaranya seperti: (1) kurangnya pendidikan karakter (2) kurangnya fasilitas yang menunjang untuk proses pembelajaran (Rembangy, 2010, hlm. 21). Pendidikan karakter yang sangat penting pada zaman sekarang dengen penuh teknologi, penanaman karakter pada usia dini sangat dianjurkan dan perlu diemban bagi kedua orangtua di rumah tidak hanya melainkan guru saja yang berperan dalam membina karakter anak. Di dalam proses pembelajaran sangat diperlukan sarana dan prasarana sesuai dengan peraturan pemerintah nomor 19 tahun 2005 tentang standar nasional pendidikan. Di Indonesia, secara etimologis pendidikan diterjemahkan ke dalam bahasa Arab “tarbiyah” dengan kata kerjanya “rabba” yang berarti mengasuh, mendidik, memelihara (Daradjat, 1996, hlm. 24). Ki Hajar Dewantara menyatakan bahwa pendidikan adalah tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, maksudnya pendidikan adalah menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagian yang setinggi-tingginya (Ismail, 2008, hlm. 34). Namun menurut, John Dewey mengutarakan pendidikan itu adalah proses pengalaman dan pertumbuhan untuk menyesuaikan tahapan-tahapan dan menambah kecakapan dalam perkembangan seseorang melalui pendidikan. Adapun Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 Pasal yang berbunyi: “Pendidikan adalah usaha dasar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya dan untuk meiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara”. Definisi umum pendidikan Islam adalah pendidikan yang bertujuan membimbing anak didik dalam perkembangan dirinya, baik jasmani maupun rohani manuju terbentuknya kepribadian yang uatama pada anak didik nantinya yang didasarkan pada hukum-hukum Islam Ismail, 20018, hlm. 28). Pendiidkan Islam harus mampu menyesuaikan system dan pengelolaannya sesuai dengan perkembangan zaman. Hal ini ditujukan demi meningkatkan tata kelola dunia pendidikan Islam di Indonesia. Pelaksanaan pendidikan Islam harus senantiasa mengacu pada sumber yang termuat dal Al-Qur’an. Dengan berpegang pada nilai-nilai tertentu dalam Al-Qur’an, terutama dalam pelaksanaan pendidikan Islam, umat Islam akan mampu mengarahkan dan mengantarkan umat manusia menjadi kreatif dan dinamis serta mampu mencapai esensi nilai-nilai ubudiyah kepada khaliknya (Tantowi, 2009, hlm. 37). Pendidikan Islam diakui keberadaannya dalam system pendidikan nasional yang terbagi menjadi tiga hal. Pertama, pendidikan Islam sebagai lembaga yakni dengan diakuinya kederadaan lembaga pendidikan Islam secara eksplesit. Kedua, pendidikan Islam sebagai mata pelajaran, yakni dengan diakuinya pendidikan agama Islam sebagai salah satu mata pelajaran yang wajib diberikan pada satuan pendidikan tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Ketiga, pendidikan Islam sebagai nilai-nilai, yakni dengan ditemukannya nilai-nilai Islam dalam system pendiidkan (Daulay, 2009, hlm. 25). Pemimpin abad 21 harus mempunyai entrepreneur, mampu berkompeten, percaya diri, inovatif, dan memiliki dorongan untuk mencapai sesuatu. Corporatif, sangat konsisten tetapi tidak mendominasi, memberikan keleluasaan pada bawahannya. Devaloper, seorang pembina yang Problematika Pendidikan Dasar Islam Abad 21 di SD Negeri Kentungan Yogyakarta - 75 Dewi / Jurnal Ilmiah Global Education 2 (1) (2021) memandang orang lain sumber pengaruh, membantu mengaktualkan kemampuan yang dimiliki bawahannya. Namun, kepemimpinan itu sendiri adalah kemampuan untuk mempegaruhi suatu kelompok untuk mencapai tujuan (Robbins, 2002, hlm. 163). Berdasarkan latar belakang masalah di atas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang problematika pendidikan dasar Islam abad 21 di SD Negeri Kentungan. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: (1) Apa saja problematika pendidikan dasar Islam abad 21 di SD Negeri Kentungan?, (2) Apa upaya kepala sekolah dalam mengatasi problematika pendidikan dasar Islam abad 21 di SD Negeri Kentungan? METODE Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif, dengan menggambarkan fenomena-fenomena yang terjadi di lapangan secara alamiah bukan dalam kondisi terkendali. Lokasi penelitian adalah di SD Negeri Kentungan. Subjek penelitian adalah kepala sekolah SD Negeri Kentungan. Teknik pengumpulan data menggunakan obervasi dan interview. Analisis data menggunakan data reduksi, data penyajian, dan pengambilan kesimpulan. Pemeriksaan keabsahan data menggunakan triangulasi. Triangulasi adalah teknik yang digunakan pada penelitian kualitatif untuk mengecek dan membangun validitas dengan menganalisis data dari berbagai instrument (Patton, 1990, hlm. 4). HASIL DAN PEMBAHASAN 1. Kurangnya Pendidikan Karakter Berbicara tantang pengertian ilmu pendidikan dalam era globalisasi tidak terlepas dari dua kata yang padukan yaitu ilmu dan pendidikan. Ilmu adalah pengetahuan tentang sesuatu bidang yang disusun secara bersistem menurut metode tertentu, yang dapat digunakan untuk menerangkan gejala tertentu di bidang (pengetahuan) tertentu. Sedangkan pendidikan adalah usaha-usaha sadar yang sengaja dipilih untuk memengaruhi dan membantu anak (pesera didik) dengan tujuan peningkatan keilmuan, jasmani dan akhlak mulia sehingga secara bertahap dapat mengantarkan anak (peserta didik) kepada tujuannya yang ingin dicapai. Dengan demikian dapat ditegaskan bahwa ilmu pendidikan dalam konteks era globalisasi adalah suatu kumpulan ilmu pengetahuan yang tersusun secara sistematis yang memiliki metode-metode tertentu yang ilmiah untuk menyelediki, investigasi, merengungkan tentang gejala-gejala perbuatan bantuan atau didikan yang diberikan oleh orang “dewasa” kepada orang “belum dewasa” untuk mencapai kedewasaanya dalam rangka mempersiapkan generasi milineal guna mencapai hidup dan kehidupan yang lebih baik agar bermakna bagi dirinya, masyarakat angsa, Negara berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 (Hamid Darmadi, 2019, hlm. 1). Abad 21 ditandai sebagai abad kejujuran atau globalisasai, artinya aktivitas manusia pada abad 21 mengklaim perubahan yang fundamental. Dikatakan abad 21 adalah abad yang meminta kualitas dalam segala usaha dan hasil kerja yang bermutu, yang dihasilkan oleh lembaga instansi yang dikekola secara peofesional sehingga membuahkan hasil unggulan dan berkualitas. Sebuah langkah alternatif dalam pembagian tugas dan tanggungjawab antar tingkat pemerintahan sebgai berikut: Pertama, pemerintah daerah kabupaten/kota seyogianya bertanggung jawab kepada tingkatan yang paling operasional dalam pengelolaan dan penyelenggaraan pendiidkan yaitu pada tingkat satun pendidikan, untuk mengelola dan menangani urusan yang berkaitan dengan operasi satuan pendiidkan yang terfokus pada Problematika Pendidikan Dasar Islam Abad 21 di SD Negeri Kentungan Yogyakarta - 76 Dewi / Jurnal Ilmiah Global Education 2 (1) (2021) kabupatennya. Kedua, pemerintah provisi dapat bertanggungjawab dalam membangun infrastruktur pendidikan yang berstandar nasional, sperti bangunan sekolah (material). Ketiga, urusan pemerintah pusat bertanggung jawab langsung terhadap maju mundurnya system pendiidkan nasional, terutama yang berkaitan dengan mutu pendidikan dan daya saing bangsa di era globalisasi abad 21 (Ace Suryadi, 2014, hlm. 139). Dengan perkembangan zaman yang penuh teknologi pada saat ini sangat berpengahruh terhadap anak-anak yang masih rentan perlu diawasi dan dibimbing oleh orangtuanya atau gurunya di sekolah, karna masa dini sangatlah tinggi rasa keingintahuaannya. Sehingga mirisnya pendidikan karakter anak-anak, kurangnya tata karma terhdapa yang lebih tua terutama sama orangtua ketika di rumah begitupun di sekolah dengan gurunya. Hal ini tidak menutup kemungkinan karna dampak pengaruh dari perkembangan zaman yang penuh dengan teknologi. Berdasarkan hasil wawancara kepada Ibu SY selaku kepala sekolah SD Negeri Kentungan menyatakan bahwa: Menurut saya dengan pesatnya perkembangan zaman teknologi ini, atau yang dinamakan dengan era globalisasi/abad 21 sangat berkaitan dengan karakter anak-anak di sekolah maupun dirumah atau lingkungan masyarakat. Sehingga peran guru dan orangtua sangat berkontribusi dalam hal ini. Di sekolah mengadakan berbagai macam ekstrakurikuler untuk membentuk karakter siswa agar menjadi pribadi yang baik mampu menimlementasikan di dalam kehidupan sehari-harinya. Serta pada saat proses pembelajaran pun guru-guru tidak hanya menyalurkan aspek intelektual saja akan tetapi nilai-nilai spiritual, sosial pun tetap di bimbing dan diajarkan kepada anak-anak. Supaya dengan masa dininya sudahnya ditanamkan pendidikan karakter sehingga ketika remaja dewasa mampu menjadi seorang pelajar dengan berjiwa luhur yang berbudi pekerti. Disini kepala sekolah selalu mengevaluasi dan guru-guru pun berkonsultasi kepada kepala sekolah serta berkomunikasi baik dengan para orangtua wali murid (Interview, Tanggal 07 Desember 2019. Pukul 08.05). 2. Kurangnya Fasilitas yang Menunjang untuk Proses Pembelajaran Fasilitas adalah sarana prasasana dalam standar nasional pendidikan, yang memiliki tujuan untuk menunjang keberhasilan proses pembelajaran. Namun disini ada hasil wawancara dengan Ibu Kepala Sekolah SD Negeri kentungan menyatakan bahwa: Fasilitas yang menunjang untuk proses pembelajaran disini adalah kategori pendidikan non-akademik, yang mana sekolah ini memiliki berbagai macam ekstrakurikuler diantaranya; pramuka, olahraga, seni tari, pencak silat seni musik dan membatik. Misalnya, ketika ekstrakurikuler olahraga yaitu renang, yang mana disini membutuhkan tempat kolam renang sedangkan di sekolah tidak akan tetapi tidak menutup kemungkinan buat sekolah dan tidak membatasi kemampuan-kemampuan yang dimiliki anak-anak, maka sekolah bekerjasama dengan pihak kampus UNY (Universitas Negeri Yogyakarta). Akan tetapi tidak itu saja, seperti ekstrakurikuler olahrga footsall yang mana disni pihak sekolah bekerjasama dengan masyarakat dengan meminjam lapangan footsal yang ada di masyarakat yang masih terjangkau jaraknya dari sekolah. Hal-hal seperti ini perlu diperhatikan karna sangat mendukung keberhasilannya prestasi anak-anak di dalam bidang non-akademik itu sendiri tanpa adanya hambatan. Berhubung lokasi sekolah yang minimalis dan sudah padat dipenuhi oleh gedung-gedung sekolah karna setiap kelas memiliki 2 rombel antara A dan B dari kelas I-VI, sehingga pihak sekolah berinisiatif dengan keterbatasan lokasi sekolah tetapi anak-anak masih tetap berkembang dan terus berprestasi dengan kemampuanProblematika Pendidikan Dasar Islam Abad 21 di SD Negeri Kentungan Yogyakarta - 77 Dewi / Jurnal Ilmiah Global Education 2 (1) (2021) kemampuan yang dimilikinya. Dan tidak hanya untuk berprestasi dibidangnya tetapi juga menerapkan pendidikan karakter melalui ekstrakurikuler karna sekolah SD Negeri Kentungan memiliki ciri khas GSM (Gerakan Sekolah Menyenangkan). Sedangkan, dibidang akademik sendiri tidak meiliki problematika apapun dan justru anak-anak sudah banyak berprestasi juga dengan sering mandapatkan nilai tertinggi serta aktif dalam mengikuti lomba-lomba seperti olimpiade atau lomba cerdas cermat baik dari tingkat Kecamatan/Kabupaten/Provinsi. Peran guru pun sangat berkontribusi dengan aktif mampu mengaktualkan siswa-siswanya dengen memiliki kepribadian yang luhur serta berprestasi di bidang akademik atau non-akdemik. Misalnya, ketika anak-anak mendapatkan nilai terbaik di kelasnya maka guru memberikan reward dengan memberikan bintang dan hasil-hasli belajar sehari anak-anak di pajang di dalam kelas sehingga memicu anak-anak yang lainnya untuk lebih giat lagi belajarnya. Sehingga anak-anak lebih semangat buat belajar dan terus mengembangkan bakatnya. Dan sekolah ini pun memiliki outing class dari kelas I-VI setelah PAS dilakukan, dengan memiliki tujuan untuk melatih anak-anak supaya mampu menjadi seorang entrepreneur karna sekolah tidak hanya menerapkan aspek intelektual tetapi keseleruhan aspeknya yang diterapkannya. Misalnya, outing class kelas III yaitu cooking dimana anak-anak masak memasak makanan apa saja setelah itu dijualkan dan yang menjadi pembelinya bapak/ibu guru, kakak kelas, dan adik-adik kelasnya. Kurang lebih 1 menit jualannya sudah habis semua. Sikap yang diterpkan kepada anak-anak melaui outing class ini mampu menjadi entrepreneur karna sekolah tidak hanya menerapkan menjadi seorang PNS saja tetapi dengan memiliki kemampuan bisa membuat anakanak nantinya mampu berekspresi sesuai dengan bidangnya masiang-masing dengan perkembangan zaman yang penuh teknologi di era globalisasi (Interview, Tanggal 07 Desember 2019. Pukul 09.13). 3. Upaya yang dilakukan Kepala Sekolah dalam Mengatasi Problem Pendidikan Dasar Islam Abad 21 di SD Negeri Kentungan Yogyakarta Berdasarkan hasil wawancara yang dilakukan peneliti kepada kepala sekolah, mengemukakan bahwa solusi dalam mengatasi problematika pendidikan dasar Islam bad 21 di SD Negeri Kentungan. Solusi terhadap permasalahan karakter bangsa akan terwujud ketika pendidikan itu bermutu tinggi sehingga menghilangkan prolem yang telah ada. Terbentuknya karakter dan budaya bangsa hanya dapat diwujudkan jika program dan proses pendidikan itu tidak terlepas dari faktor lingkungan yang syarat dengan nilai sosial, budaya dan kemanusiaan, dalam pembentukan karakter banyak yang memiliki andil untuk dapat mewujudkan hal tersebut. Nilai tidak dapat hanya diajarkan dan di dapatkan secara instan tetapi harus dilakukan dengan bentuk pembiasaan melalui ekstrakurikuler sekolah dan proses kegiatan belajar mengajar di kelas maupun di lingkungan. Adapaun hasil wawancara dengan Kepala Sekolah SD Negeri Kentungan menyatakan bahwa: Permasalahan hal sekecil apapun itu selalu saya perhatikan langsung dan saat itu juga diselesaikan tanpa harus menunggu agar tidak berkelanjutan dan menjadi virus buat sekolah itu tersendiri. Saya dan dewan guru selalu mengadakan briving pagi sebelum jam KBM dimulai dan itu sudah menjadi rutinas buat sekolah sehingga mampu meminimalisirkan permasalahan-permasalahan yang ada di sekolah dan mampu untuk diatasi dan selalu dievaluasi agar tidak terjadi buat kedepannya demi ketercapaian bersama. Serta sekolah pun bekarja sama dengan pihak komite sekolah yang mana komite sekolah ini memiliki kontribusi besar terhadap sekolah yang mana tidak hanya mensejahterakan fasilitas- Problematika Pendidikan Dasar Islam Abad 21 di SD Negeri Kentungan Yogyakarta - 78 Dewi / Jurnal Ilmiah Global Education 2 (1) (2021) faslitias yang di sekolah untuk menunjang keberhasilan kegiatan proses belajar akan tetapi juga buat para dewan ibu bapak guru terkaita finansial itu sendiri dan penggunaan dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) sehingga kelancaa dalam berbagai aspek pun menjadi keberhasilan buat menjadia sekolah yang unggulan dengan prestasi akademik maupun nonakademik. Pihak sekolah pun bekerjasama dengan pemerintah dalam menangani permasalahan yang ada di sekolah, misalnya sekolah mengadakan kegiatan sekolah siaga dengan tujuan agar anak-anak mengetahui bagaimana jika terjadi bencana alam sikap dan tindakan yang harus dilkaukan bagaimana sehingga membuat anak-anak lebih aktif dan membuat snak-anak menjadi kreatif. Sedangkan peran orangtua disinipun menunjang dalam permasalahan ini, salah satunya orangtua sering berkonsultasi dengan perkembangan anak-anaknya dan orangtua pun selalu mensupport kemampuan anak-anaknya. Misalnya, sering mengikuti event lomba yang diadakan oleh pemerintah baik dari tingkat Kecamatan/Kabupaten/Provinsi seperti footsall, tari, pencak silat, dan lain sebagainya. Disini pun tak lupa juga bekerjasama dengan tokoh masyarakat terakait permasalahan yang dialami sekolah, misalnya ketika jam PJOK membutuhkan lapangan footsall dan akhirnya pinjam fasilitas masyarakat yang tak jauh dari sekolah juga meminjam gedung serba guna yang dekat juga dengan lokasi sekolah ketika mau mengadakan event kegiatan serta ketika sekolah mengalami keamanan dan kenyamanan seperti para penjual yang kadang mengganggu aktivitas jam belajar anak-anak, maka dengan insiatif berkonultasi dengan pihak RT/RW setempat (Interview, Tanggal 07 Desember 2019. Pukul 09.45). Upaya yang dilakukan kepala sekolah tak luput dari dukungan support teams dalam mewujudkan visi misi sekolah dan mampu berkontribusi baik dengan anak-anak sesuai dengan perkembangan yang dimiliki anak-anak tanpa mengkengkang masa usia tumbuh kembangnya, karna sekolah ini menerapkan GSM (Gerakan Sekolah Menyenangkan) serta menerapkan budi pekerti yang baik kepada anak-anak dan mampu mengimplementasikan ke dalam kehidupan sehari-hari. Serta peran orangtua sangat menunjang bagi perkembangan anak-anaknya sehingga sekolah selalu berkomunikasi baik dengan para orangtua wali murid. Walaupun perkembanga teknologi tidak menjadi momok yang menakutkan buat sekolah justru membuat sekolah lebih berkreatif dalam menggunakan teknologi tersebut dalam kegiatan proses pembelajaran. Misalanya, anak-anak ketka diberikan tugas maka dilibatkanya anak-anak dengan menggunakan alat canggih teknologi untuk mencari informasi apa yang diketahui tentang tugas yang diberikan oleh gurunya. Sehingga membuat anak-anak tidak jenuh dan bosan akan tetapi antusias diri menjadi lebih bagus lagi setiap mengikuti proses kegiatan pembelajaran baik di kelas maupun di luar kelas. KESIMPULAN Problematika Pendidikan Dasar Islam Abad 21 di SD Negeri kentungan, sangat serius dan penting yang mana mengenai; kurangnya pendidikan karakter dan kurangnya fasiltas yang menunjang untuk kegiatan proses pembelajaran. Namun kepalas sekolah SD Negeri Kentungan berkolaborasi baik dari pihak pemerintah, ketua komite sekolah, bapak/ibu dewan guru, orangtua wali murid, serta tokoh masyarakat. Sehingga mampu meminimalisirkan permasalahan-permasalahan yang terjadai di sekolah demi ketercapaiannya tumbuh kembang siswa menjadi lebih aktif dan berekspresi sesuai dengan bidang-bidangnya serta menanamkan nilai-nilai karakter dengan memiliki kepribadian budi pekerti. Dan tidak membuat anak-ana Problematika Pendidikan Dasar Islam Abad 21 di SD Negeri Kentungan Yogyakarta - 79 Dewi / Jurnal Ilmiah Global Education 2 (1) (2021) terkengkang karna sekolah menerapkan GSM (Gerakan Sekolah Menyenangkan) dan bisa menggunakan alat canggih di dalam kegiatan pembelajaran dengan catatan di jam sekolah. Sehingga anak-anak tidak merasa jenuh dan bosan dengan kegiatan pembelajaran yang di sekolah. Guru pun selalu memberi reward kepada anak-anak yang berprestasi baik di bidang akademik maupun non-akademik. DAFTAR PUSTAKA Daradjat, Z. (1996). Pendidikan Islam dalam Keluarga dan Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta. Darmadi, Hamid. (2019). Pengantar Pendidikan Era Globalisasi: Konsep Dasar, Teori, Strategi dan Implementasi dalam Pendidikan Globalisasi. Jakarta: An Image. Ismail, S.M. (2008). Strategi Pembelajaran Islam Berbasis PAIKEM: Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, efektif, dan Menyenangkan. Semarang: Rasail. Kurniawan, & Mahrus, E. (2011). Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media. Patton, M. (1990). Qualitative Evaluation and Research Methods. Beverly Hills, CA: Sage. Rembangy, M. (2010). Pendidikan Transformatif: Pergaulan Kritis Merumuskan Pendidikan di Tengah Pusaran Arus Globalisasi. Yogyakarta: Teras. Rosdakarya, Robbins, Stephen P. (2002). Prinsip-prinsip Perilaku Organisasi. Jakarta: Erlangga. Suryadi, Ace. (2014). Pendidikan Indonesia Menuju 2025. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Tantowi, A. (2009). Pendidikan Islam di Era Tranformatif. Semarang: Pustaka Rizki Putra. Problematika Pendidikan Dasar Islam Abad 21 di SD Negeri Kentungan Yogyakarta - 80