PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 Perceraian Ditinjau dari Perspektif Kitab Injil Matius 19:3-9 Nianda Sekolah Tinggi Teologi Berea Pontianak danielnianda801@gmail. Abstract: Divorce is a problem in a marriage. In general divorce often occurs in married couples who are classified as very young. There are several factors that make a divorce possible, including incompatibility in background, thounghts, actions and different opinions between husband and wife. addition, divorce is also common in married couples who are originally married and are not accompanied by all the requirements in the form of a marriage catechism and also applicable laws, both general and special, non-Christian and Christian. Therefore the author tries to explain the meaning and purpose of this divorce through library and descriptive methods, where the writer will research and give an overview in a theological review by digging out the roots . based on the perspective of the Gospel of Matthew 19:3-9 and comparing them with several other views. Sourced from literature or books related to divorce issues. So that the expected result is that married couples in Christian households understand what the meaning of divorce is meant by the Lord Jesus in the Gospel of Matthew 19:3-9. Then is it permissible for a married couple in a Christian household to divorce? It turns out that after examining these several methods, the result is that Christian married couples are not allowed to divorce. Because the Lord Jesus said: Therefore, what God has joined together, man cannot divorce (Matthew 19:. Keywords: Divorce. christian household. husband-wife. book of matthew 19:3-9. Abstrak: Perceraian merupakan suatu masalah dalam sebuah pernikahan. Pada umumnya perceraian sering terjadi pada pasangan suami- isteri yang tergolong masih sangat muda. Ada beberapa faktor yang membuat perceraian bisa terjadi, diantaranya adalah ketidakcocokan dalam latarbelakang, pikiran, tindakan dan pendapat yang berbeda antara suami-isteri. Selain itu perceraian juga biasa terjadi pada pasangan suami-isteri yang asal menikah dan tidak disertai dengan segala persyaratan dalam bentuk katekismus pernikahan dan juga perundang-undangan yang berlaku baik umum maupun khusus, non Kristen dan Kristen. Oleh sebab itu, penulis berusaha memaparkan pengertian dan maksud perceraian ini melalui metode kepustakaan dan metode deskriptif, dimana penulis akan meneliti dan memberi gambaran dalam suatu tinjauan teologis dengan menggali akar katanya . berdasarkan perspektif Injil Matius 19:3-9 dan memperbandingkannya dengan beberapa pandangan lain yang bersumber dari literatur atau buku-buku yang terkait dengan masalah Sehingga hasil yang diharapkan adalah pasangan suami-isteri dalam rumah tangga Kristen memahami apa arti perceraian yang dimaksud oleh Tuhan Yesus dalam Injil Matius 19:3-9. Temuan yang diperoleh bahwa pasangan suami-isteri Kristen tidak diperbolehkan bercerai. Karena Tuhan Yesus berkata: Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia (Mat. Kata kunci: Perceraian. Rumah tangga Kristen. Suami-Isteri. Kitab Matius 19:3-9. Pendahuluan Perceraian adalah masalah yang masih belum teratasi dengan baik sejak zaman Musa (Matius 19:. Berbicara mengenai perceraian tidak lepas dari kehidupan pernikahan pasangan suami-isteri. Sering dipertanyakan oleh berbagai kalangan. baik kalangan rohaniwan maupun awam. Ada apa dengan perceraian? Mengapa hal itu harus terjadi? PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 Bukankah perceraian itu dilarang oleh hukum agama? Lalu bagaimana menurut perspektif Kitab Injil Matius 19:3-9? Apakah dibenarkan pasangan suami-isteri bercerai? Zaman sekarang perceraianjuga bisa terjadi dikalangan Krsitenselain non-Krsiten. Perceraian itu sering terjadi sekalipun pasangan suami-isteri tersebut telah dinasehati melalui katekisasi dan didoakan oleh Autokoh-tokoh agamaAy. AuSedikit sekali pasangan yang beroleh pertolongan dari Alkitab sementara mereka bergumul melawan arus-arus yang kuat, yakni perasaan bersalah, depresi, cemoohan masyarakat dan penolakan oleh anggota-anggota jemaat gereja. Tubuh KristusAy(Charles 1. Malang sekali orang-orang Kristen sudah memperoleh reputasi yang menyedihkan karena dianggap sebagai anggota suatu organisasi yang AumenembakAy orang-orang yang sedang terluka oleh peristiwa perceraian. Meskipun demikian, perceraian masih saja terjadi walaupun tidak semua terjadi pada pasangan Kristen melainkan kebanyakan terjadi pada pasangan non-Kristen. Perceraianperceraian itu terjadi karena ada hal-hal yang bertentangan dengan salah seorang partner. Sering terjadi jugawalaupun suami-isteri itu sudah diberikan pertolongan oleh sahabatsahabatnya yang telah berusaha keras untuk membantunya dan sudah banyak mendoakannya. Dan perceraian sering terjadi antara kedua pasangan Krsiten, ya, memang sering. Perceraian itu selalu terjadi dimana prinsip-prinsip Alkitab tidak dikenal, atau diabaikan atau malah dilanggar secara terang-terangan. Memang, perceraian masih tetap terjadi. Barangkali hal itu adalah suatu kenyataan yangorang semua benci. Tetapi juga hal itu adalah suatu kenyataan yang tidak dapat disangkali. Karena itu melalui tulisan ini diharapkan dapat menolong pasangan suami-isteri Kristen agar tidak mengabaikan apa yang telah dikatakan Tuhan Yesus dalam Injil Matius 19:3-9 tentang boleh bercerai atau tidak. II. Metode Penelitian Metode yang penulis pakai dalam penelitian ini adalah menggunakan metode kepustakaan dan metode deskriptif. Metode kepustakaan adalah AuPenelitian kepustakaan . ibrary researc. sebuah penelitian dimana semua bahan yang digunakan dalam diskusi setiap bagian studi ini akan diambil dari literatur-literatur yang tersedia di Ay(A. M 2. Tinjauan literatur meliputi Aupengidentifikasian, penjelasan sumber, dan penguaraian secara sistimatis dari dokumen-dokumen yang mengandung informasi yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti. Ay(A. M 2. Metode deskriptif adalah Aupengumpulan data untuk memberikan gambaran atau penjelasan suatu konsep atau gejala, untuk menjawab suatu pertanyaan-pertanyaan subjek penelitian dan berusaha menjelaskan, menguraikan, atau menerangkan serta membandingkan gagasan. Ay(Sumanto 1. Dengan kata lain, penelitian deskriptif ini merupakan metode yang berusaha menggambarkan objek penelitian sesuai dengan apa yang terjadi di lapangan yang dipaparkan secara sistematika. Melalui kedua metode ini. Penulis akan fokus menjelaskan suatu tinjauan teologis mengenai perspektif Injil Matius 19:3-9 dan memperbandingkannya dengan beberapa pandangan lain yang bersumber dari literatur atau buku-buku yang terkait dengan masalah Selain itu penulis juga akan membahas sedikit ulasan mengenai pernikahan Kristen dan beberapa faktor penyebab perceraian menurut pendapat penulis dan akan PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 mengutip beberapa pendapat dari sumber lain untuk mendukung penelitian ini sehingga dapat memperluas penjelasan tentang kehidupan pasangan suami-isteri dalam pernikahan. Sebab dalam pernikahanlah percerian itu terjadi. Setelah semua metode dilakukan dalam penelitian ini, maka hasilnya akan bermanfaat bagi pasangan suami-isteri Kristen dalam kehidupan rumah tangga. Dan pada bagian akhir dari penelitian ini penulis akan membuat sebuah i. Hasil dan Pembahasan Secara literal, penulis akan menggali beberapa makna kata perceraian beranjak dari etimologi kata, berdasarkan Injil Matius 19:6 yang berbunyi. AuDemikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusiaAy. Dalam bahasa Inggrisnya. AuSo they are no longer two, but one. Therefore what God has joined together, let man not separate. Ay (Kitab NIV). Kemudian kalimat dalam bahasa Yunaninya. AuuA a A A A . C n A AA CACA EAOAA NOAEO. Ay Jika dilihat dari bahasa asli dari ayat 6b tentang kata AudiceraikanAy adalah menggunakan kata Au NOAEOAy . e khsrizet. , dalam konteks ayat ini kata AudiceraikanAy ada empat pengertian yaitu: Aujanganlah memisahkan, bercerai, meninggalkan dan berbeda. Ay (Sutanto 2. Kata dasarnya adalah AuNOAOAy . ditulis sebanyak 13 kali dalam Kitab Perjanjian Baru, yang mengandung arti. Aumemisahkan, bercerai, meninggalkan dan berbeda. Ay(Sutanto 2. Kemudian jika dilihat dalam bentuk gramatikalnya, makna kata AuNOAEOAy . AudiceraikanAy adalah Aukata kerja orang pertama tunggal dalam bentuk Present Indikatif Aktif (PIA),Ay yang berarti: suatu peristiwa atau kejadian yang sedang berlangsung saat itu juga yang dilakukan oleh satu orang . ebagai subje. , artinya mengacu hanya kepada sepasang suami dan isteri. Jika dibandingkan dengan kata AuMenceraikanAy yang digunakan oleh orang-orang Farisi pada ayat 3 saat bertanya kepada Tuhan Yesus, memakai kata AuAAEAy . artinya: Aumenyuruh pergi, menceraikan dan membubarkan. Ay(Sutanto 2. Maka tidak ada perbedaan makna dari kedua kata tersebut, hanya pengucapan dan phrasenya yang berbeda dalam bahasa Indonesia. Kedua kata tersebut sama-sama menjurus pada kata kerja AumenceraikanAy terutama terhadap pasangan suami-isteri semata, artinya satu suami atau satu isteri tidak diperbolehkan bercerai. Dalam bahasa Inggrisnya kata cerai adalah divorce yang juga sama pengertiannya dalam bahasa Indonesia Aubercerai atau memisahkan. Ay(Echols and Shadily 1. Demikian juga dengan ayat 7, menggunakan kata AeI = apostasiou . engandung arti jama. yaitu: Perceraian. Bisa saja pengertian AuperceraianAy tersebut diperluas bukan saja perceraian antar suami-isteri, tetapi juga perceraian dengan tubuh Kristus yang adalah kepala Gereja. Kalimat yang digunakan Tuhan Yesus pada waktu itu sangat tegas. AuLet man not separateAy(Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusi. Mat. 19:6. Pada intinya bahwa semua makna kata yang dipaparkan ini hampir semua kata diceraikan atau menceraikan dalam konteks Injil Matius 19:3-9 mengandung arti tata bahasa PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 yang sama dalam bentuk kata kerja yaitu. AuMenceraikan, memisahkan, meninggalkan, menyuruh pergi dan membubarkanAy, yang walaupun ada beberapa kejamakan dalam kata kata AeI = apostasiou . engandung arti jama. pada ayat 7b, tetapi tidak mengubah makna kata. Secara historikal, kedua kata cerai jika dibandingkan dengan kata yang terdapat dalam injil Matius 1:19 tentang peristiwa Yusuf dan Maria tunangannya. Yusuf diam-diam ingin menceraikan Maria karena merasa malu diketahui keluarga dan masyarakat. Tetapi ini adalah peristiwa khusus, maka niat cerai yang keluar dari hati Yusuf gagal, karena Allah yang membuat semuanya ini terjadi dan pada akhirnya Yusuf menolak untuk tidak menceraikan Maria. Kata cerai yang digunakan di sini sama artinya dalam Injil Matius 19:3 menggunakan kata: AAE = apolsai, artinya : Aumenceraikan, menyuruh pergi, membubarkan. Ay(Sutanto Untuk melengkapi hasil penggalian makna kata cerai secara historikal, penulis ingin memberikan beberapa penjelasan mengenai seputar perceraian pasangan suami-isteri dalam rumah tangga Kristen. Ada sebuah artikel singkat yang ditulis dalam (Anon n. menjelaskan: AuPertama. Ada perdebatan diantara umat Kristen mengenai perceraian dan apakah pernah diperbolehkan. Sebagian umat Kristen akan mengizinkan perceraian terjadi jika terjadi penyelewengan yang tidak dipertobatkan (Berdasarkan Matius 19:. Ay(Anon n. Penyelewengan yang tidak dipertobatkan yang dimaksud adalah penyelewengan yang sangat fatal misalnya dalam kasus dimana seorang percaya ditinggalkan oleh pasangannya dengan alasan pasangan yang tidak percaya tidak bersedia menerima agamanya yang baru . Kor 7:. dalam kedua kondisi tersebut persatuan pernikahan telah diceraikan oleh ketidak setiaan atau karena ditinggalkan - pemutusan hubungan yang telah Allah persatukan dan kejadian seperti ini memang tragis. Kedua, ia mengatakan bahwa AuPerceraian bukan sekedarnya kedua pihak memutuskan untuk berpisah. nyatanya salah satu atau kedua-duanya memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang Allah maksudkan selamanya. Harus kita tekankan sekali lagi bahwa perceraian adalah hal yang sangat serius dan tidak boleh disepelekan. Ay(Anon n. Lebih baik dan menyenangkan bila berbicara mengenai pernikahan daripada perceraian, sungguh tidak menyenangkan. Perceraian masih saja terjadi, bahkan pada masa kini lebih banyak lagi daripada zaman dulu. Perceraian-perceraian itu terjadi meskipun acapkali hal itu bertentangan dengan kemauan salah seorang partner. Dan sering terjadi juga walaupun suamiisteri itu sudah diberikan pertolongan oleh sahabat-sahabatnya yang telah berusaha keras untuk membantunya dan sudah banyak mendoakannya. Dan perceraian juga sering terjadi antara dua pasangan Kristen. Perceraian selalu terjadi dimana prinsip-prinsip Alkitab tidak dikenal, atau diabaikan atau malah dilanggar secara terang-terangan. Menurut Injil Matius 19:6, seperti yang dijelaskan sebelumnya. bahwa di dalam pernikahan Kristen tidak boleh adanya perceraian, kecuali adanya perzinahan yang disengajakan atau maut yang memisahkan. (Witoro 2. Seharusnya tidak ada seorang pun yang akan merasa heran bahwa perceraian itu tidak pernah ada dalam rencana Allah yang semula bagi sebuah rumah tangga. Hal ini tidak hanya dinyatakan secara tidak langsung dalam kitab Kejadian, tetapi juga dikemukakan secara jelas oleh Tuhan Yesus: PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 AuKarena ketegaran hatimu Musa mengizinkan kamu menceraikan isterimu, tetapi sejak semula tidaklah demikian Au (Mat. Pernikahan yang Alkitabiah Pernikahan pertama adalah sederhana dan jelas sekali : seorang laki-laki (Ada. dengan seorang wanita (Haw. yang dipersatukan bersama-sama dalam suatu wadah persatuan yang tetap sifatnya. seumur hidup mereka betapa sempurnanya? Ya,dan betapa murninya? ingat,pada saat itu dosa belum ada, begitu pula tabiat berdosa dalam diri manusia. Pada permulaannya, rumah tangga itu . sunguh-sungguh sempurna. Tetapi sejak manusia pertama (Adam dan Haw. jatuh dalam dosa, maka seluruh hakikat pernikahan yang murni itu hilang seketika. Selanjutnya penulis akan membahas tentang pandangan Alkitab dan beberapa pendapat lain mengenai pernikahan. Pandangan Alkitab dimaksud adalah Kitab Perjanjian Lama dan beberapa Kitab Perjanjian baru yang pembahasannya terkait dengan pernikahan Kristen. Menurut Norman L. Geisler dalam bukunya yang berjudul: AuEtika KristenAy. Pernikahan adalah: Unit masyarakat yang paling dasar dan berpengaruh di dunia. Adalah sulit untuk menaksir terlalu tinggi pentingnya pernikahan, tetapi setiap tahun di Amerika Serikat terdapat kira-kira separo perceraian dari pernikahan yang ada. Mengingat hal ini, adalah perlu bagi kita untuk mempertimbangkan dasar alkitabiah untuk pernikahan dan perceraian. (Norman 2. Karena perceraian merupakan putusnya sebuah pernikahan, adalah perlu untuk mempertimbangkan pernikahan sebelum membahas perceraian. Apakah pernikahan Kristen itu dan haruskah pernikahan ini dibubarkan? Orang-orang Kristen lebih banyak memiliki kesepakatan mengenai natur pernikahan daripada perceraian. Berikut ini adalah unsur-unsur dasar dari suatu pandangan Kristen mengenai pernikahan menurut Norman L. Geisler, diantaranya: Pertama. Pernikahan adalah antara seorang pria dan seorang wanita. AuSejak awal manusia diciptakan Allah, tidak ada keganjilan pada pernikahan dalam arti tidak ada bentuk manusia yang lain kecuali seorang laki-laki dan seorang perempuan. Ay(Norman 2. Lebih lanjut lagi ia menjelaskan dalam bukunya bahwa AuPernikahan Alkitabiah adalah antara seorang pria biologis dan seorang wanita biologis. Hal ini jelas dari sejak mulanya. Allah menciptakan AuLaki-laki dan perempuanAy (Kej. dan memerintahkan mereka untuk Auberanak cucu dan bertambah banyakAy . Reproduksi alamiah itu hanya mungkin terjadi bila melalui kesatuan pria dan wanita. Ay(Norman 2. Artinya. Tuhan Allah menciptakan manusia itu teratur sebagai pribadi seorang laki-laki dan seorang perempuan, jadi tidak ada sorang laki-laki menjadi seorang perempuan dan atau sebaliknya. Menurut Kitab Suci. Allah Aumembentuk manusia dari debu tanahAy (Kej. Kemudian Audari rusuk yang diambil Tuhan Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuanAy . Allah menambahkan. AuSebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu dagingAy PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 Lebih lanjut lagi dalam penggunaan istilah AuSuami dan Isteri dalam konteks AuayahAy dan AuibuAy menjadikan jelas bahwa referensi ini ditujukan untuk seorang pria dan wanita secara biologis. Menunjuk pada penciptaan Adam dan Hawa dan kesatuan pernikahan mereka. Tuhan menyebut bagian dari Kitab Kejadian yang berkata: AuIa yang menciptakan manusia sejak semula menjadikan mereka laki-laki dan perempuanAy (Mat. Ay(Norman 2. Kemudian Yesus mengutip bagian tentang meninggalkan ayah dan ibu dan bersatu dengan isterinya . Aujadi menegaskan bahwa pernikahan itu antara seorang pria dan seorang wanita. Karena itu, apa yang disebut pernikahan homoseksual bukanlah pernikahan alkitabiah sama sekali. Malahan, mereka merupakan hubungan seksual yang Ay(Norman 2. Hal ini tidak direstui oleh Tuhan Allah dan tidak boleh dilakukan oleh manusia. AuKarena mereka tidak benar-benar menikah, maka perceraian dari hubungan yang berdosa seperti itu sebenarnya bukanlah perceraian. Ay(Norman 2. Melainkan hanya memutuskan hubungan mereka agar tidak lagi melakukan perbuatan yang haram itu. Sebaliknya karakteristik pertama dan paling mendasar dari pernikahan adalah bahwa ini merupakan satu kesatuan antara seorang pria dan seorang wanita. Kedua. Pernikahan melibatkan kesatuan seksual. AuKesatuan seksual merupakan sebuah rencana yang indah telah Allah tetapkan bagi pasangan suami-isteri setelah manusia jatuh dalam dosa. Dan tidak disangkal pula bahwa manusia seutuhnya membutuhkan Ay(Norman 2. Tidak ada seorang manusia di dunia ini yang tidak membutuhkan seksualitas, semua membutuhkannya karena merupakan natur manusia yang diciptakan Allah setelah manusia jatuh dalam dosa. Kemudian untuk memperkuat hal ini maka Norman L. Geisler mengungkapkan penjelasan mengenai kesatuan seksualitas sebagai berikut: AuJelaslah pula dari Kitab Suci bahwa pernikahan melibatkan kesatuan seksual. Hal ini demikian adanya karena beberapa alasan. Pernikahan disebut satu-kesatuan dari Ausatu dagingAy bahwa di dalam pernikahan terdapat seks adalah jelas dari penggunaannya oleh Paulus di dalam 1 Korintus 6:16 dimana Paulus menggunakan frase yang sama untuk mengutuk pelacuran. Allah memerintahkan bahwa Aulaki-laki dan perempuanAy yang Dia ciptakan akan memperbanyak anak (Kej. Ay(Norman 2. Hal ini mungkin hanya melalui kesatuan seksual antara laki-laki dan perempuan secara biologis. Setelah Allah menciptakan mereka dan mengusir mereka dari Taman Eden. Alkitab berkata. Aumanusia itu bersetubuh dengan Hawa isterinya dan mengandunglah perempuan itu, lalu melahirkan KainAy (Kej. Ketika berbicara mengenai masalah seks di dalam pernikahan. Rasul Paulus menulis dengan jelas: Tetapi mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri. Hendaklah suami memenuhi kewajibannya terhadap isterinya, demikian pula isteri terhadap suaminya. Isteri tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi suaminya, demikian pula suami tidak berkuasa atas tubuhnya sendiri, tetapi isterinya . Kor. 7:2-. Singkatnya, pernikahan melibatkan hak untuk kesatuan seksual antara seorang laki-laki dan seorang perempuan. Ketiga. Pernikahan melibatkan satu perjanjian di hadapan Allah. Allah sudah menetapkan sebuah pernikahan dalam bentuk perjanjian antara pasangan suami-isteri dengan PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 diri-Nya dan merupakan satu kesatuan yang mendasar. Sekali lagi Norman L. Geisler menjelaskan keterlibatan Allah dalam satu perjanjian dengan diri-Nya adalah sebagai berikut: Pernikahan bukan hanya satu kesatuan antara pria dan wanita yang melibatkan hakhak perkawinan . , tetapi merupakan satu kesatuan yang dilahirkan dari satu perjanjian dari janji-janji yang timbal balik. Komitmen ini tersirat dari sejak mulanya di dalam konsep meninggalkan orangtua dan bersatu dengan isterinya. (Norman 2. Berikut ini penulis membahas beberapa penyebab atau latar belakang perceraian menurut pandangan Alkitab. Hanya ada dua alasan terjadinya perceraian, yaitu karena salah satu dari suami atau isteri terbukti berzinah (Mat 19:. dan perceraian oleh kematian. Perceraian tidak pernah menjadi keinginan Allah, dan selalu merupakan hasil dari dosa. Menurut sejarah Alkitab, dalam perkembangannya perceraian masih saja terjadi dan mungkin akan terus terjadi. Mengapa perceraian bisa terjadi? Ada tiga penyebabnya: Pertama. Akibat dosa yang bersifat menghancurkan pada pernikahan (Kej . Dosa merupakan sebuah pelanggaran yang dilakukan oleh manusia sejak manusia pertama (Adam dan Haw. Dosa menghancurkan seluruh kehidupan umat manusia, sehingga sampai saat ini tidak ada manusia satupun yang benar kecuali manusia Tuhan Yesus Kristus. Berdasarkan Kejadian 3 mengisahkan cerita yang suram itu, dan dengan masuknya dosa, datang pulalah semua akibatnya yang mengerikan. Salah satu dari akibat-akibat yang paling buruk adalah perselisihan, baik di dalam diri seseorang . kar dos. maupun secara luar . asil dos. Penyakit dosa ini mempengaruhi setiap hal dan setiap orang. Konflik menggantikan Perang menggantikan damai. Kesedihan menggantikan sukacita. Dan perkaraperkara seperti ketidaktaatan, pemberontakan, pertengkaran dan bahkan pembunuhan menjadi hal-hal biasa. Keadaan ini terjadi pada semua bangsa, negara dan pula dalam semua rumah Pernikahan pun tidak bebas dari hal-hal tersebut di atas. Tidak seperti pasangan yang semula, kini suami-isteri menjadi egoistis, saling menuntut, bertindak kasar dan kejam, tidak setia, merasa marah dan benci serta saling bersaing. Akibat dosa, nenek moyang bangsa Israel, umat pilihan Allah pada akhirnya mulai kehilangan kekhususan mereka. Mereka mengabaikan petunjuk-petunjuk Allah dan melakukan pernikahan dengan bangsa-bangsa asing yang tidak kenal ataupun mengaku Allah. Bangsa campuran Yahudi Ae non Yahudi sebenarnya tidak diijinkan oleh Allah, sebab Dia tahu bahwa pasangan yang tidak mempercayainya akan menarik partnernya kepada berhala. Jadi Musa kemudian menyediakan suatu kompromi. AuSurat ceraiAy (Ul 24:1-. diizinkan karena wabah merajalela yang mengancam keunikan bangsa Israel. Karena kekerasan kepala, kemauan yang bersifat memberontak dan melawan dari umat yang berdosa itu, (Yesus menyebutnya sebagai Auketegaran hatiA. , maka perceraian terjadi. Tetapi, ingatlah bahwa perceraian tidaklah diinginkan atau dimaksudkan dalam rencana Allah yang semula untuk Dosa telah mengotori rencana itu. Menurut Charles R. Swindoll: AuKarena kehadiran dosa dan akibat-akibatnya yang keras, maka perceraian kemudian diizinkan dulu. Sebab kalau tidak, pernikahan dan kekhususan dari sebuah rumah tangga yang meneladani tabiat Allah pasti terhapus dan hancurAy(Charles Bila dipandang dari sudut itu, perceraian dapat menjadi jalan untuk menyelamatkan PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 kekhususan-kekhususan seorang beriman. Tapi ingatlah, perceraian tidak pernah ada dalam renacana atau keinginan Allah yang semula. Perceraian diizinkan karena kerusakan dosa telah sampai pada tingkat yang mengancam. Kedua. Partner yang menyeleweng secara moral. Partner yang dimaksud adalah pasangan suami-isteri dalam sebuah rumah tangga. Acapkali terjadi penyelewengan moral baik suami maupun isteri. Penyelewengan secara moral banyak dijumpai dalam pernikahan keluarga Kristen, terutama pernikahan keluarga yang notabene masih sangat muda. Charles R. Swindoll dalam bukunya mengatakan: Banyak bahan yang telah ditulis mengenai masalah ini. Saya ulangi, saya telah membaca segala tulisan yang dapat saya temui, jadi saya tidak menulis mengenai masalah ini dengan terburu-buru atau secara dangkal saja. Saya menyadari sepenuhnya kesulitan-kesulitan yang dihadapi pada saat seseorang harus menentukan siapa sebenarnya yang bersalah dalam penyelewengan hubungan seks itu. Saya juga mengakui adanya hal-hal yang subjektif yang bersangkutAepaut dalam menunjukkan. Aupenyelewengan seks. (Charles 1. Penyelewengan secara moral ini adalah penyelewengan hubungan seks antar sumaiisteri. Karena ketidakAepuasan seksualitas, maka timbul pemikiran dan keinginan untuk melampiaskannya ke tempat lain. Hal ini menjadi masalah besar bagi pernikahan Kristen. Suami kurang puas terhadap isterinya, demikian sebaliknya, sehingga terjadi kevakuman hubungan keharmonisan antar suami-isteri. Dan hal ini juga yang menjadi latar-belakang (Harisantoso 2. Ketiga. Putusnya komunikasi antara suami-isteri. Kemunikasi merupakan bagian yang sangat penting dalam kehidupan rumah tangga. Melalui komunikasi hubungan antar keluarga atau suami isteri akan terjalin dengan baik apabila komunikasi positif dilakukan, demikian Untuk menjalin komunikasi yang baik harus menjaga etika berbicara baik dalam situasi apapun. Jika dalam sebuah rumah tangga tidak membina hubungan komunikasi dengan baik secara terus-menerus, maka kehidupan komunikasi dalam rumah tangga dalam pengertian ektika komunikasi akan mati. Ada beberapa istilah komunikasi yang penulis tarik dari literatur, salah satunya adalah menurut pendapat Norman Wright yang dikutip dalam buku yang berjudul: AuKomunikasi KeluargaAy. Norman Wright memberikan satu definisi yang sangat baik dan sederhana yaitu bahwa Aukomunikasi adalah proses membagikan informasi baik secara tertulis maupun lisan dengan orang lainAy. (H, et al 2. Proses tersebut harus dijalankan sedemikian rupa sehingga orang tersebut mengerti apa yang sedang dikatakan. Berbicara, mendengarkan dan mengerti semuanya terlibat dalam proses berkomunikasi. Roman Wright juga mencatat enam berita yang dapat disampaikan: Apa yang ingin dikatakan, yang sebenarnya dikatakan, yang didengar kawan bicara, pendapat kawan bicara mengenai hal yang didengarnya itu, yang dikatakan kawan bicara mengenai apa yang baru dikatakan, pendapat mengenai apa yang dikatakan kawan bicara menanggapi apa yang telah dikatakan itu. (H, et al 2. PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 Kadang kala informasi yang disampaikan sering tidak dimengerti oleh lawan bicara, karena cara penyampaiannya kurang jelas dan tidak tepat sasaran. Hal ini menyebabkan pasangan suami-isteri tidak akur dalam berkomunikasi. Sering terjadi salah pemahaman pada yang memberi dan yang menerima informasi. Karena itu diharapkan setiap informasi yang diterima baik dari dalam maupun dari luar diri kita perlu disaring terlebih dahulu sebelum kita menyampaikannya kepada pasangan. Suami harus memahami dengan jelas informasi dari isteri sebelum berbicara atau menjawabnya, demikian sebaliknya, sehingga tidak terjadi kesalah pahaman dan pada akhirnya masalah yang kecil ini bisa menjadi penyebab perceraian. Padahal sebelum pernikahan dilaksanakan pasangan suami-isteri sudah dibekali dengan berbagai pesan dan nasihat dari dalam Alkitab oleh seorang Pendeta. Ditambah ada janji nikah yang diucapkan saat pemberkatan pernikahan di Gereja. Jika pasangan pernikahan ini menyadarinya maka tidak akan ada perceraian walaupun terjadi gesekan-gesekan dalam rumah tangga. Keempat. Kesibukan dalam rumah tangga. Perceraian dalam rumah tangga Kristen bisa saja terjadi oleh karena masing-masing suami dan isteri sibuk bekerja. Masing-masing sibuk mengurus pekerjaannya sendiri, sehingga hubungan suami isteri dan anak-anak tidak terjalin Isteri merasa kurang perhatian dari suaminya, dan suami merasa kurang perhatian dari isterinya, demikian pula dengan anak-anak. Hal ini sering terjadi dalam rumah tangga, sehingga pada akhirnya terjadi perselisihan mulai dari yang kecil sampai kepada yang besar, kemudian terjadilah perkelahian atau keluarga menjadi tidak akur satu sama lain dan pada akhirnya munculah kata-kata yang tidak patas diucapkan oleh suami atau isteri yaitu Aubercerai. Ay Lalu bagaimana supaya keadaan rumah tangga Kristen akur dan terjalin hubungan dengan baik antara pasangan suami-isteri dan anak-anak? Jawabannya adalah suami-isteri harus ada waktu untuk saling memperhatikan, mengasihi satu sama lain, memelihara hubungan dengan baik dan tidak mementingkan diri sendiri. (Lodewyck 2. Jika hal ini dilakukan, maka tidak ada kata cerai dalam rumah tangga Kristen. IV. Kesimpulan Perceraian merupakan hal yang sangat tidak disetujui oleh Allah, karena melanggar dan merusak citra dunia pernikahan. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa perceraian bagi pasangan suami-isteri Kristen tidak boleh dilakukan, karena dari hasil penggalian, kata AumenceraikanAy adalah sangat tidak pantas bagi kehidupan rumah tangga Kristen, karena mengandung arti: ingkar janji, memisahkan diri jauh dari pasangan, pergi meninggalkan pasangan dan putus hubungan dengan pasangan. Perceraian dapat disetujui jika diantara kedua pasangan melakukan zinah dan jika maut yang memisahkannya. Selanjutnya, penyebab perceraian juga adalah dosa, karena manusia berdosa maka akan lebih mudah melakukan banyak pelanggaran terutama pada dunia pernikahan. Selain itu, komunikasi dalam keluarga juga sangat menentukan keharmonisan terhadap pasangan suami-isteri. Oleh sebab itu, komunikasi sangat penting dilakukan dalam rumah tangga Kristen-komunikasi yang positif. Sering terjadi percekcokan antara pasangan suami-isteri karena tidak menjalin PROSIDING SEMINAR NASIONAL STT SUMATERA UTARA Gereja yang Sehat e-ISSN: 2798-8244 Vol. No. 1, 2021 komunikasi yang baik sehingga perceraian bisa saja terjadi. Hubungan suami-isteri terputus dan menyebabkan hancurnya sebuah keluarga. Pernikahan adalah satu kesatuan yang utuh dan telah ditetapkan Allah sebelumnya sehingga tidak dapat dipisahkan. Ada satu masalah lagi yang dihadapi pasangan suami-isteri dalam sebuah rumah tangga, yaitu: masing-masing sibuk dalam bekerja. Hal ini menyebabkan hubungan suami-isteri renggang dan tidak harmonis, sehingga terjadilah perceraian. Agar tidak terjadi perceraian antara suami-isteri, maka harus melakukan beberapa hal yang pertama. Suami-isteri harus ada waktu untuk saling memperhatikan, kedua. mengasihi satu sama lain dan yang ketiga. memelihara hubungan dengan baik dan tidak mementingkan diri sendiri. Yesus berkata. AuKarena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusiaAy (Matius 19:. Referensi