Jurnal Ekonomi. Syariah dan Studi Islam Vol. 4 No. 1 April 2026 E-ISSN: 2986-2981 Perdagangan Sutra Dalam Peradaban Islam Abad ke-16 M: Rivalitas Ekonomi Kesultanan Ottoman dan Dinasti Safawiyah di Timur Tengah Rifqi Firmansyah Universitas Islam Negeri Prof. Saifuddin Zuhri Purwokerto. Indonesia Corresponding E-mail: rifqi9373@gmail. ABSTRACT The silk trade formed a vital pillar of the Islamic economy and politics during the 16th century, becoming the main arena of economic rivalry between the Ottoman Empire and the Safavid Dynasty. This study explores how Persian silk, primarily produced in Gilan and Shirvan, served as a strategic commodity influencing the financial power and geopolitical position of both empires. Employing historical research methods including heuristic, source criticism, interpretation, and historiography this study analyzes primary and secondary Results show that the Ottomans dominated overland routes via Bursa and Aleppo, gaining substantial tax revenue and using embargoes as weapons. The Safavids under Shah Abbas I responded with a state monopoly on silk, partnership with Armenian merchants, and alternative routes through the Persian Gulf and Russia. The rivalry drove trade innovation while intensifying political-religious tensions, highlighting silkAos crucial role in shaping power dynamics in the Middle East. Keywords: Silk Trade. Ottoman Empire. Safavid Dynasty. Economic Rivalry This work is licensed under Creative Commons Attribution License 4. 0 CC-BY International license. DOI: 10. 59548/je. JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM Pendahuluan Perdagangan sutra merupakan salah satu pilar utama ekonomi dan peradaban Islam pada abad ke-16, khususnya di wilayah Timur Tengah yang menjadi persimpangan Jalur Sutra. Sutra Persia, yang dihasilkan terutama di wilayah Gilan dan Shirvan di sepanjang Laut Kaspia, bukan hanya barang mewah yang diminati Eropa, melainkan juga sumber pendapatan negara yang Pada masa itu, perdagangan sutra menghubungkan produsen di Persia dengan pasar-pasar di Ottoman (Turk. Eropa, dan Rusia, sekaligus menjadi arena rivalitas ekonomi antar kekuasaan Islam terbesar saat itu: Kesultanan Ottoman dan Dinasti Safawiyah. Rivalitas ini tidak hanya bersifat politik dan agama (Sunni-Syia. , tetapi juga sangat kuat dimensi ekonominya, di mana kontrol atas produksi dan jalur perdagangan sutra menentukan kekuatan finansial serta posisi geopolitik kedua kekaisaran. (Ranjbar & Manesh, 2. Kesultanan Ottoman, yang berpusat di Istanbul, menguasai jalur darat utama dari Tabriz . usat sutra Safawiya. menuju Erzurum. Bursa. Aleppo, hingga ke Eropa. Melalui pengendalian rute ini. Ottoman memperoleh pajak tinggi dan menjadikan Bursa sebagai pusat pemrosesan sutra terbesar di wilayah Mediterania. Sementara Dinasti Safawiyah . idirikan Persi. mengandalkan sutra sebagai komoditas ekspor utama yang mendukung keuangan negara. Produksi sutra Safawiyah mencapai ribuan bal setiap tahun pada masa puncaknya, dan sebagian besar diekspor ke Eropa melalui wilayah Ottoman. Namun, hubungan kedua kekuasaan sering tegang akibat perang, sehingga Ottoman melemahkan ekonomi rivalnya seperti yang dilakukan Sultan Selim I pada awal abad ke-16. Embargo ini tidak hanya menghambat arus sutra, tetapi juga memengaruhi stabilitas kota-kota perdagangan di perbatasan. Untuk mengatasi ketergantungan pada rute Ottoman. Safawiyah terutama di bawah Shah Abbas I . emerintah 1588Ae1. mengembangkan strategi ekonomi yang cerdas. Mereka membangun monopoli negara atas perdagangan sutra, mendatangkan pedagang Armenia sebagai mitra utama, serta membuka jalur alternatif melalui Teluk Persia . ekerja sama dengan pedagang Inggris dan Beland. dan rute utara via Rusia. Tujuan utamanya adalah mengurangi ketergantungan pada Ottoman sekaligus meningkatkan pendapatan langsung Jurnal Ekonomi. Syariah dan Studi Islam Vol. 4 No. 1 April 2026 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM bagi kerajaan. Rivalitas ekonomi ini mencerminkan dinamika lebih luas dalam peradaban Islam abad ke-16: bagaimana dua kekuatan besar saling bersaing untuk menguasai sumber daya dan jalur perdagangan global, di tengah pengaruh penemuan-penemuan geografis Eropa yang mulai menggeser Jalur Sutra tradisional. (Heller 2. Penelitian tentang perdagangan sutra dalam konteks rivalitas Ottoman-Safawiyah ini penting karena menunjukkan bahwa ekonomi bukan sekadar latar belakang perang, melainkan pendorong utama strategi politik kedua dinasti. Melalui analisis ini, dapat dipahami bagaimana perdagangan sutra turut membentuk peta kekuasaan Islam di Timur Tengah, sekaligus memberikan pelajaran tentang hubungan antara perdagangan, kekuasaan, dan ketahanan ekonomi suatu peradaban. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode penelitian historis, yaitu metode yang digunakan untuk mengkaji peristiwa masa lampau secara sistematis dan kritis guna memperoleh rekonstruksi sejarah yang objektif. Metode ini dipilih karena penelitian berfokus pada dinamika perdagangan sutra dalam peradaban Islam abad ke-16, khususnya rivalitas ekonomi antara Kesultanan Ottoman dan Dinasti Safawiyah. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan sejarah ekonomi, yang menitikberatkan pada analisis aktivitas perdagangan, kebijakan ekonomi, dan pengaruhnya terhadap kekuatan politik kedua dinasti. Tahapan penelitian historis dalam penelitian ini meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Heuristik (Pengumpulan Sumbe. Pada tahap heuristik, peneliti mengumpulkan berbagai sumber yang berkaitan dengan perdagangan sutra abad ke-16. Sumber yang digunakan terdiri atas sumber primer dan sumber sekunder. Sumber primer diperoleh Eropa, perdagangan perusahaan dagang seperti East India Company dan VOC, serta arsip perdagangan Ottoman dan Safawiyah yang dikutip dalam kajian sejarah Selain itu, digunakan pula sumber sekunder berupa buku sejarah, jurnal ilmiah internasional, artikel akademik, dan penelitian terdahulu yang membahas Jalur Sutra, perdagangan Persia, serta rivalitas OttomanAeSafawiyah. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan beberapa karya sejarah ekonomi sebagai sumber utama, seperti karya Suraiya Faroqhi yang membahas jaringan perdagangan dan ekonomi Kesultanan Ottoman. Halil Inalcik mengenai sejarah Jurnal Ekonomi. Syariah dan Studi Islam Vol. 4 No. 1 April 2026 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM sosial-ekonomi Ottoman abad ke-16, serta Rudi Matthee yang menjelaskan perdagangan sutra Safawiyah pada masa Shah Abbas I. Sumber-sumber tersebut digunakan untuk memahami hubungan antara perdagangan sutra, penguasaan jalur perdagangan, serta rivalitas ekonomi antara Ottoman dan Safawiyah. Kritik Sumber (Verifikas. Tahap kritik sumber dilakukan untuk menguji keaslian dan kredibilitas data sejarah yang digunakan. Kritik eksternal dilakukan dengan memeriksa identitas penulis, tahun penerbitan, dan relevansi sumber terhadap tema Sementara itu, kritik internal dilakukan dengan membandingkan isi antar sumber, terutama terkait data perdagangan sutra, kebijakan embargo Ottoman, dan strategi ekonomi Safawiyah. Perbandingan sumber dilakukan agar data yang digunakan lebih objektif dan dapat dipertanggungjawabkan secara akademik. Interpretasi Pada tahap interpretasi, fakta-fakta sejarah yang telah diverifikasi dianalisis untuk memahami hubungan antara perdagangan sutra dan rivalitas ekonomi kedua dinasti. Peneliti menafsirkan bagaimana penguasaan jalur perdagangan oleh Ottoman memberikan keuntungan ekonomi melalui sistem pajak dan bagaimana Safawiyah merespons melalui monopoli negara serta pembukaan jalur alternatif perdagangan melalui Teluk Persia dan Rusia. Historiografi Tahap historiografi dilakukan dengan menyusun hasil penelitian ke dalam bentuk tulisan ilmiah secara sistematis dan kronologis. Seluruh data dan hasil analisis kemudian disajikan dalam bentuk karya ilmiah yang memuat pembahasan mengenai perdagangan sutra, dominasi jalur perdagangan Ottoman, strategi ekonomi Safawiyah, serta dampak rivalitas ekonomi terhadap kawasan Timur Tengah pada abad ke-16. Hasil dan Pembahasan Pembahasan dalam penelitian ini disusun berdasarkan hasil analisis sumber sejarah dan kajian sejarah ekonomi yang diperoleh melalui tahapan metode historis, meliputi heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Melalui tahapan tersebut, penelitian ini berupaya menjelaskan dinamika perdagangan sutra serta rivalitas ekonomi antara Kesultanan Ottoman dan Dinasti Safawiyah pada abad ke-16. Jurnal Ekonomi. Syariah dan Studi Islam Vol. 4 No. 1 April 2026 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM Perdagangan Sutra Dalam Peradaban Islam Abad Ke-16 Perdagangan sutra pada abad ke-16 merupakan bagian integral dari jaringan perdagangan global yang dikenal sebagai Jalur Sutra. Dalam konteks peradaban Islam, sutra tidak hanya berfungsi sebagai komoditas ekonomi semata, melainkan juga sebagai simbol status sosial dan kekuasaan politik. Produksi sutra utama berasal dari wilayah Persia di bawah Dinasti Safawiyah, khususnya di provinsi Gilan dan Shirvan yang memiliki kondisi geografis dan iklim ideal untuk budidaya ulat sutra (Bombyx mor. Wilayah ini menghasilkan sutra mentah berkualitas tinggi yang kemudian perekonomian SafawiyahPermintaan tinggi dari pasar Eropa menjadikan sutra sebagai komoditas ekspor bernilai tinggi. Sutra Persia tidak hanya diminati karena kehalusan dan kualitasnya, tetapi juga karena nilai simbolisnya sebagai barang mewah yang menandakan kekayaan dan prestise. Hal ini mendorong terbentuknya jaringan distribusi yang kompleks, melibatkan berbagai aktor perdagangan mulai dari pedagang Muslim lokal, komunitas Armenia . hususnya dari Julfa yang kemudian direlokasi ke Isfaha. , hingga pedagang Eropa seperti Inggris. Belanda, dan Venesia. Jaringan ini tidak terbatas pada jalur darat tradisional melalui wilayah Ottoman, melainkan juga mulai melibatkan jalur laut alternatif melalui Teluk Persia seiring dengan semakin intensifnya interaksi dengan perusahaanperusahaan dagang Eropa. (Ranjbar & Manesh, 2. Dalam kerangka metode historis, tahap heuristic yaitu pengumpulan dan penelusuran sumber menunjukkan bahwa data mengenai perdagangan sutra berasal dari berbagai macam dokumen primer yang kaya dan dapat Sumber-sumber tersebut meliputi catatan perjalanan . para pedagang dan duta besar Eropa, arsip perdagangan Ottoman dan Safawiyah, serta literatur ekonomi klasik seperti laporan perusahaan dagang Inggris (East India Compan. dan Belanda (VOC). Dokumen-dokumen ini menggambarkan dengan jelas intensitas aktivitas perdagangan sutra, termasuk volume ekspor tahunan, mekanisme pemajakan, serta fluktuasi harga akibat perang dan embargo. Selain itu, sumber arsip Persia dan laporan diplomatik juga memberikan perspektif internal tentang bagaimana negara Safawiyah mengelola produksi dan perdagangan sutra sebagai instrumen politik-ekonomi (Hamel 2. Jurnal Ekonomi. Syariah dan Studi Islam Vol. 4 No. 1 April 2026 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM Perdagangan sutra dalam peradaban Islam abad ke-16 tidak dapat dipisahkan dari dinamika rivalitas antara Kesultanan Ottoman dan Dinasti Safawiyah. Kontrol atas jalur distribusi sutra sering menjadi pemicu ketegangan ekonomi dan militer. Ottoman, yang menguasai rute darat utama menuju Eropa, memperoleh keuntungan besar dari cukai perdagangan sutra, sementara Safawiyah berupaya mengurangi ketergantungan tersebut dengan membuka jalur alternatif. Upaya ini mencerminkan bagaimana perdagangan sutra tidak hanya menjadi sumber pendapatan, melainkan juga alat diplomasi dan strategi ketahanan ekonomi di tengah persaingan kekuasaan Islam di Timur Tengah. Secara keseluruhan, perdagangan sutra memperlihatkan peran ganda Islam ke-16: menghubungkan Timur dan Barat, serta sebagai elemen yang memperkuat identitas dan kekuasaan politik. Melalui jaringan yang kompleks dan adaptasi terhadap tantangan geopolitik, perdagangan ini turut membentuk wajah peradaban Islam yang dinamis pada masa itu. Dominasi Jalur Perdagangan oleh Kesultanan Ottoman Kesultanan Ottoman memegang posisi strategis yang sangat kuat dalam mengendalikan jalur perdagangan sutra pada abad ke-16. Posisi geografisnya yang menghubungkan Asia dengan Eropa memungkinkan Ottoman untuk mendominasi rute darat utama yang membawa sutra mentah dari Persia menuju pasar-pasar Eropa. Jalur ini melewati kota-kota penting seperti Tabriz . i wilayah perbatasan Safawiya. Erzurum, dan kemudian menuju pusatpusat perdagangan Ottoman. Melalui penguasaan rute ini. Ottoman tidak hanya mengamankan pasokan bahan baku, tetapi juga mengendalikan alur distribusi komoditas mewah (Kar. Aykut 2. Kota-kota seperti Bursa dan Aleppo berkembang pesat menjadi pusat perdagangan sekaligus industri pengolahan sutra. Bursa, yang terletak di Anatolia barat laut, berfungsi sebagai pusat utama pemintalan, pewarnaan, dan penenunan sutra. Ribuan pengrajin bekerja di sini, mengubah sutra mentah Persia menjadi kain sutra berkualitas tinggi yang diekspor ke Eropa dan pasar internal Ottoman. Sementara itu. Aleppo di Suriah menjadi simpul penting bagi karavan yang datang dari timur, berfungsi sebagai gudang dan pasar redistribusi sutra menuju pelabuhan Mediterania. Kedua kota ini tidak hanya menjadi tempat transaksi, melainkan juga pusat kegiatan ekonomi Jurnal Ekonomi. Syariah dan Studi Islam Vol. 4 No. 1 April 2026 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM yang menarik pedagang dari berbagai bangsa, termasuk Armenia. Venesia, dan Prancis. Faroqhi . menjelaskan bahwa kesultanan Ottoman tidak hanya berperan sebagai kekuatan politik dan militer, tetapi juga sebagai pengendali jaringan perdagangan international yang menghubungkan Asia dan Eropa. Penguasaan kota-kota perdagangan seperti Bursa dan Aleppo memungkinkan Ottoman memperoleh keuntungan besar melalui sistem pajak perdagangan sutra serta aktivitas distribusi komoditas lainnya. Melalui penguasaan jalur distribusi ini. Ottoman mampu mengenakan pajak tinggi . terhadap komoditas sutra yang melintas wilayahnya. Pajak tersebut menjadi salah satu sumber pendapatan negara yang sangat signifikan, karena volume perdagangan sutra yang besar memberikan kontribusi besar bagi kas kerajaan. Kontrol atas jalur perdagangan ini jauh lebih menentukan dibandingkan sekadar menguasai wilayah produksi di Persia. Bahkan ketika produksi sutra berada di tangan Dinasti Safawiyah. Ottoman tetap mendominasi karena mereka mengendalikan Aupintu gerbangAy menuju pasar Eropa yang menguntungkan. Dalam tahap interpretasi historis, hal ini menunjukkan bahwa kekuatan ekonomi suatu kerajaan pada masa itu lebih banyak ditentukan oleh kemampuan mengendalikan rute dan memungut pajak daripada hanya memproduksi barang itu sendiri. (Nuraeni et al. Dominasi ini menjadikan Kesultanan Ottoman sebagai kekuatan ekonomi utama di kawasan Timur Tengah dan Mediterania timur pada abad ke-16. Namun, strategi ini juga memicu ketegangan dengan Safawiyah, yang berupaya mencari jalur alternatif untuk menghindari pajak tinggi dan embargo yang kerap diberlakukan Ottoman. Secara Ottoman memperlihatkan bagaimana perdagangan bukan hanya aktivitas ekonomi, melainkan juga instrumen kekuasaan politik yang memperkuat posisi sebuah imperium di tengah rivalitas regional. Ketergantungan dan Strategi Ekonomi Dinasti Safawiyah Berbeda dengan Kesultanan Ottoman yang mendominasi jalur distribusi sutra. Dinasti Safawiyah lebih berfokus pada produksi sutra sebagai sumber utama pendapatan negara. Wilayah produksi utama berada di provinsi Gilan dan Mazandaran di sepanjang Laut Kaspia, yang memiliki kondisi iklim dan tanah ideal untuk budidaya ulat sutra. Meskipun produksi ini menghasilkan volume besar sutra mentah berkualitas tinggi, ketergantungan pada jalur Jurnal Ekonomi. Syariah dan Studi Islam Vol. 4 No. 1 April 2026 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM perdagangan darat yang dikuasai Ottoman menjadi kelemahan struktural dalam sistem ekonomi Safawiyah. Rute utama melalui Tabriz menuju Erzurum dan Bursa sering kali menjadi alat tekanan politik, di mana Ottoman dapat memberlakukan pajak tinggi atau bahkan embargo untuk melemahkan (Peighambari & Badamchi 2. Sebagai Shah Abbas . emerintah 1588Ae1. melaksanakan reformasi ekonomi yang ambisius. menerapkan monopoli negara atas perdagangan sutra, sehingga ekspor sutra dikendalikan langsung oleh kerajaan untuk memaksimalkan pendapatan. Selain itu, ia memindahkan pusat perdagangan dan ibu kota ke Isfahan, yang kemudian menjadi pusat komersial yang ramai. Shah Abbas juga merekrut komunitas pedagang Armenia dari Julfa untuk mengelola sebagian besar perdagangan internasional sutra, karena mereka memiliki jaringan luas dan pengalaman dagang yang mapan. Reformasi ini tidak berhenti pada pengendalian internal. Safawiyah juga membuka jalur alternatif melalui Teluk Persia dengan mendirikan pelabuhan seperti Bandar Abbas, serta menjalin kerja sama dengan pedagang Eropa, khususnya Inggris dan Belanda, untuk memperluas akses pasar dan mengurangi ketergantungan pada rute Ottoman. Menurut Matthee . , perdagangan sutra pada masa Shah Abbas I menjadi fondasi utama keuangan negara Safawiyah. Melalui sistem monopoli negara, pemerintah Safawiyah mampu mengontrol distribusi sutra sekaligus meningkatkan pemasukan kerajaan dari perdagangan internasional. Kebijakan ini juga menjadi strategi politik untuk mengurangi ketergantungan terhadap jalur perdagangan yang dikuasai Ottoman. Dalam perspektif kritik historis, berbagai sumber menunjukkan bahwa kebijakan ini cukup efektif dalam meningkatkan pendapatan negara dan Safawiyah. Monopoli menyediakan dana bagi militer dan pembangunan infrastruktur, sekaligus menjadi alat diplomasi anti-Ottoman. Namun, kebijakan tersebut tidak sepenuhnya menghilangkan ketergantungan terhadap jaringan perdagangan Safawiyah tetap menghadapi tantangan seperti fluktuasi harga sutra di pasar Eropa, persaingan dengan perusahaan dagang Eropa, serta keterbatasan infrastruktur transportasi. Meskipun demikian, strategi ini menunjukkan adaptasi cerdas sebuah kekuasaan Islam dalam menghadapi rivalitas regional Jurnal Ekonomi. Syariah dan Studi Islam Vol. 4 No. 1 April 2026 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM dan perubahan dinamika perdagangan dunia pada abad ke-16 hingga awal abad ke-17. Secara keseluruhan, ketergantungan dan strategi ekonomi Dinasti Safawiyah dalam perdagangan sutra menggambarkan bagaimana produksi dan inovasi jalur alternatif dapat menjadi instrumen ketahanan ekonomi, meskipun dalam batas-batas persaingan geopolitik yang ketat dengan Ottoman. Rivalitas Ekonomi Ottoman dan Safawiyah Rivalitas antara Kesultanan Ottoman dan Dinasti Safawiyah pada abad ke-16 tidak terbatas pada dimensi militer dan ideologis (Sunni-Syia. , melainkan juga sangat kental dengan kepentingan ekonomi, khususnya dalam perdagangan Ottoman sering menggunakan strategi embargo perdagangan sebagai senjata untuk melemahkan ekonomi Safawiyah. Dengan menguasai rute darat Persia Eropa. Ottoman menghentikan aliran sutra Persia, sehingga mengurangi pendapatan rivalnya dan memperkuat posisi mereka sebagai pengendali jalur distribusi. Embargo ini tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga menjadi alat politik untuk menekan Safawiyah di tengah konflik perbatasan yang berulang. (Heller 2. Sebaliknya. Dinasti Safawiyah ekonominya dengan mencari jalur alternatif. Di bawah kepemimpinan Shah Abbas I. Safawiyah mengembangkan strategi cerdas berupa pembukaan rute melalui Teluk Persia . ekerja sama dengan pedagang Inggris dan Beland. serta jalur utara menuju Rusia. Tujuan utamanya adalah mengurangi ketergantungan pada rute Ottoman, sekaligus memaksimalkan pendapatan langsung dari monopoli negara atas sutra. Persaingan ini menciptakan dinamika ekonomi yang kompleks, di mana perdagangan sutra bukan lagi sekadar aktivitas komersial, melainkan juga alat politik dan instrumen Kontrol atas produksi, distribusi, serta pajak sutra menjadi faktor penentu dalam perebutan pengaruh di Timur Tengah Dalam perspektif historiografi, konflik ekonomi ini dapat dipahami sebagai bagian dari perebutan kontrol atas sumber daya dan jalur perdagangan global yang sangat menentukan keseimbangan kekuatan di dunia Islam abad ke-16. Rivalitas ini menunjukkan bahwa faktor ekonomi sering kali saling terkait dengan motif politik dan agama, di mana sutra menjadi komoditas strategis yang memengaruhi diplomasi, militer, dan keuangan negara. (Ranjbar & Manesh 2. Meskipun embargo Ottoman kerap menimbulkan tekanan, adaptasi Safawiyah melalui jalur baru membuktikan ketahanan ekonomi suatu Jurnal Ekonomi. Syariah dan Studi Islam Vol. 4 No. 1 April 2026 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM peradaban Islam di tengah persaingan regional yang ketat. Secara keseluruhan, dinamika ini memperkaya pemahaman kita tentang bagaimana perdagangan turut membentuk peta kekuasaan di kawasan tersebut. Inalcik internasional merupakan salah satu sumber utama kekuatan ekonomi Ottoman. Oleh karena itu, kebijakan embargo terhadap Safawiyah bukan hanya mempertahankan dominasi Ottoman dalam perdagangan Eurasia. Dampak Rivalitas terhadap Perdagangan dan Kawasan Timur Tengah Rivalitas ekonomi antara Kesultanan Ottoman dan Dinasti Safawiyah memberikan dampak luas terhadap stabilitas perdagangan di kawasan Timur Tengah pada abad ke-16. Embargo perdagangan yang kerap diberlakukan Ottoman, serta konflik politik dan militer yang berulang, menyebabkan terganggunya arus sutra Persia menuju pasar Eropa. Hal ini berdampak langsung pada kota-kota perdagangan utama seperti Tabriz. Aleppo, dan Bursa, di mana aktivitas karavan melambat, harga komoditas fluktuatif, dan pendapatan pedagang lokal menurun. Pelaku ekonomi di sepanjang jalur sutra baik pedagang Muslim. Armenia, maupun komunitas lokal sering mengalami kerugian akibat ketidakpastian pasokan dan peningkatan biaya proteksi. (Miri Di sisi lain, dinamika rivalitas ini tidak hanya bersifat destruktif, melainkan juga mendorong munculnya inovasi dalam sistem perdagangan. Safawiyah, di bawah Shah Abbas I, merespons dengan membuka jalur alternatif melalui Teluk Persia . engan pelabuhan seperti Bandar Abba. dan jalur utara menuju Rusia. Kerja sama dengan pedagang Eropa, terutama Inggris dan Belanda, semakin intensif, sehingga jaringan perdagangan Islam semakin terintegrasi dengan kekuatan maritim Eropa. Inovasi ini mencakup monopoli negara atas sutra, relokasi komunitas pedagang Armenia ke Isfahan, serta diversifikasi rute Ottoman. Akibatnya, perdagangan sutra mengalami transformasi dari jalur darat tradisional menjadi kombinasi rute darat dan laut yang lebih beragam. Dalam perspektif historis, dampak rivalitas ini menunjukkan bahwa konflik ekonomi tidak selalu menghancurkan, tetapi dapat menjadi katalisator perubahan sistem perdagangan global. Meskipun embargo dan perang menyebabkan gangguan sementara, upaya adaptasi Safawiyah memperkaya dinamika perdagangan di Timur Tengah dan membuka peluang baru bagi Jurnal Ekonomi. Syariah dan Studi Islam Vol. 4 No. 1 April 2026 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM partisipasi Eropa. Hal ini mencerminkan bagaimana perebutan kontrol atas komoditas strategis seperti sutra turut membentuk keseimbangan kekuatan di dunia Islam abad ke-16, sekaligus mempercepat transisi menuju pola perdagangan yang lebih global. (Tilly 2. Secara keseluruhan, rivalitas Ottoman-Safawiyah dalam perdagangan sutra menghambat stabilitas jangka pendek, namun sekaligus mendorong inovasi dan adaptasi yang memperkaya jaringan ekonomi kawasan. Simpulan Berdasarkan hasil penelitian yang menggunakan metode historis melalui tahapan heuristik, kritik historis, interpretasi, dan historiografi, dapat disimpulkan bahwa perdagangan sutra memiliki peran yang sangat signifikan dalam membentuk dinamika ekonomi dan politik peradaban Islam pada abad Sutra tidak hanya berfungsi sebagai komoditas perdagangan bernilai tinggi, tetapi juga menjadi instrumen strategis dalam memperkuat kekuasaan Dinasti Safawiyah memanfaatkan produksi sutra sebagai sumber utama pendapatan negara, sementara Kesultanan Ottoman mengoptimalkan posisinya dalam menguasai jalur distribusi perdagangan internasional. Rivalitas antara Ottoman dan Safawiyah menunjukkan bahwa konflik antar kekuasaan tidak semata-mata dilatarbelakangi oleh perbedaan ideologi atau agama, tetapi juga sangat dipengaruhi oleh kepentingan ekonomi. Penguasaan jalur perdagangan, penerapan kebijakan embargo, serta upaya monopoli perdagangan menjadi strategi utama dalam persaingan tersebut. Selain itu, dinamika rivalitas ini memberikan dampak luas terhadap stabilitas ekonomi kawasan Timur Tengah. Meskipun konflik menghambat arus perdagangan, kondisi ini juga mendorong inovasi ekonomi, seperti pembukaan jalur perdagangan alternatif dan kerja sama dengan pedagang asing. Dengan demikian, perdagangan sutra dapat dipahami sebagai faktor kunci dalam menentukan keseimbangan kekuatan dan perkembangan ekonomi di dunia Islam pada masa tersebut. Berdasarkan hasil penelitian ini, terdapat beberapa saran yang dapat disampaikan: Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan dapat mengembangkan kajian ini dengan menggunakan pendekatan interdisipliner, seperti menggabungkan analisis sejarah dengan ekonomi politik global, agar memperoleh pemahaman Jurnal Ekonomi. Syariah dan Studi Islam Vol. 4 No. 1 April 2026 JOURNAL YAYASAN HAIAH NUSRATUL ISLAM yang lebih komprehensif. Penelitian selanjutnya juga dapat memperluas fokus kajian, tidak hanya pada Ottoman dan Safawiyah, tetapi juga melibatkan peran kekuatan lain seperti pedagang Eropa dalam memengaruhi jalur perdagangan Bagi pembaca dan akademisi, penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam memahami bahwa perdagangan memiliki peran penting dalam membentuk dinamika kekuasaan dan peradaban, sehingga kajian ekonomi historis perlu terus dikembangkan. Referensi