E-ISSN: 2746-5926 P-ISSN: 2621-0479 Vol. No. 2, . Jurnal Ilmiah Akuntansi Ekonomi Bisnis. Manajemen Akuntansi https://jurnal. stie-lpi. id/index. php/neraca Analisis Dampak Pengembangan Wisata Terhadap Kesejahteraan Masyarakat (Studi Objek Taman Wisata Alam Hutan Pinus Bulu Tanah Di Kecamatan Lappariaja Kabupaten Bon. 1,2,3,4 Nabil. Citra Ayni Kamaruddi. Regin. Sri Astut. 4 Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Universitas Negeri Makassar 1salsabilaatikanabila@gmail. com 2 citraayni@unm. regina@unm. id 4 Sri. astuti@unm. ABSTRACT Tourism development on the welfare of the community around the Bulu Tanah Pine Forest tourist attraction in Lappariaja District. Bone Regency as measured by the type of work and education This type of research is The development of tourist attractions in an area certainly has an impact on the community around the tourist attraction area. With the development of tourism, a tourist attraction will certainly continue to be visited. The number of tourists visiting certainly presents a real influence for the community around the tourist attraction. The existence of tourist attractions in an area can also improve the welfare conditions of the community, namely by increasing the income received because of the tourist attraction. This study aims to determine how the impact of descriptive research using qualitative research methods. The data used is from primary and secondary data obtained through observation, interview and documentation Data were analyzed using qualitative analysis of interactive models. From the results of the study it can be concluded that tourism activities in this Bulu Tanah Pine Forest tourist attraction create work business opportunities for the surrounding community. Some people experience an increase in income through several costs incurred by tourists and increase public awareness about the importance of education for welfare. Keywords: Tourism Development. Public Welfare ABSTRAK Pengembangan objek wisata disuatu daerah tentunya membawa dampak bagi masyarakat disekitar kawasan objek wisata tersebut. Dengan adanya pengembangan wisata, suatu objek wisata pasti akan terus ramai dikunjungi. Banyaknya wisatawan yang berkunjung tentunya menghadirkan pengaruh nyata untuk masyaraka di sekitar objek wisata. Eksistensi objek wisata disuatu daerah juga dapat memperbaiki kondisi kesejahteraan masyarakat yaitu dengan meningkatkan penghasilan yang diterima karena adanya objek wisata tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana dampak pengembangan wisata terhadap kesejahteraan masyarakat sekitar objek wisata Hutan Pinus Bulu Tanah Di Kecamatan Lappariaja Kabupaten Bone yang diukur dari jenis pekerjaan dan tingkat pendidikan. Jenis penelitian ini merupakan penelitian deskripstif dengan menggunakan metode penelitian kualitatif. Data yang digunakan adalah dari data primer dan sekunder yang diperoleh melalui teknik observasi, wawancara dan Data dianalisis menggunakan analisis kualitatif model interaktif. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa aktivitas wisata di objek wisata Hutan Pinus Bulu Tanah ini menciptakan peluang usaha kerja bagi masyarakat sekitar. Sebagian masyarakat mengalami peningkatan penghasilan melalui beberapa biaya yang dikeluarkan oleh wisatawan serta meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan bagi kesejahteraan. Kata Kunci: Pengembangan Wisata. Kesejahteraan Masyarakat PENDAHULUAN Provinsi Sulawesi Selatan adalah salah satu daerah yang mempunyai berbagai keindahan alam yang tidak diketahui oleh banyak orang yang dapat dialokasikan sebagai suatu objek wisata. Salah satunya adalah daerah otonom, kabupaten Bone yang setelah ditelusuri ternyata memiliki banyak potensi yang dapat dijadikan sebagai sumber pendapatan daerah. Selain dikenal sebagai salah satu kerajaan besar terdahulu di Nusantara pada masa lalu, ternyata kabupaten Bone juga memiliki keindahan alam yang menarik. Beberapa lokasi yang kerap kali dijadikan sebagai tujuan utama wisatawan berkunjung ke Kabupaten Bone adalah Puncak Lima Jari. Pantai Cappa Ujung. Air Terjun Ladenring. Pantai Tete Tonra dan Hutan Pinus Bulu Tanah. Kelima tempat tersebut dikenal sebagai objek wisata yang paling sering dikunjungi belakangan ini dan nyatanya berpartisipasi dalam pemajuan pariwisata di Kabupaten Bone. Jumlah kunjungan wisatawan terus mengalami peningkatan, hal ini disebabkan karena kerap adanya objek wisata baru yang ditawarkan oleh pemerintah Kabupaten Bone. Salah satu daerah di Kabupaten Bone yang paling banyak dikunjungi saat ini berada di Kecamatan Lappariaja. Lappariaja sendiri adalah kecamatan di Kabupaten Bone yang terletak lumayan jauh dari pusat kota yang setelah ditelusuri ternyata memiliki banyak potensi objek wisata, terutama pada alamnya. Beragam wisata di sekitar Lappariaja kini tengah riuh diperbincangkan para wisatawan dan menjadi tujuan wisata baik wisatawan lokal maupun Dari sebagai objek wisata yang terletak di Kecamatan Lappariaja. Salah satu objek wisata yang terletak di Kec Lappariaja yang paling banyak menarik wisatawan untuk berkunjung adalah objek wisata Hutan Pinus yang terletak di Desa Mattampawalie. Dusun Bulu Tanah. Objek wisata Hutan Pinus ini yang dikenal dengan Hutan Pinus Bulu Tanah menjadi primadona wisata baru di Kabupaten Bone sejak beberapa tahun yang lalu dan tambah berkembang hingga saat ini. Tabel 1. Jumlah Kunjungan Wisatawan Pada Objek Wisata Hutan Pinus Bulu Tanah di Kec. Lappariaja Kab. Bone Pada Tahun 2019-2023 Jumlah Kunjungan (Jiw. No. Tahun Sumber : Pengelola Hutan Pinus Bulu Tanah . Banyaknya wisatawan yang berkunjung di kawasan Hutan Pinus Bulu Tanah tentunya menghadirkan pengaruh nyata untuk masyarakat sekitar. Pengaruh positifnya dapat dinikmati dengan kondisi ekonomi masyarakat sekitar yang terbantu karena dengan adanya obyek wisata ini menciptakan pula lapangan pekerjaan yang luas, seperti pedagang makanan, penjaga loket, tukang parkir, penyewaan jasa dan lainnya. Eksistensi objek wisata di suatu daerah juga dapat memperbaiki kondisi kesejahteraan masyrakat yakni dengan meningkatkan penghasilan yang diterima karena adanya objek wisata Setiap pengurusan objek wisata tentu berharap agar objek tersebut dapat mendatangkan wisatawan domestik maupun mancanegara yang tetap mempertimbangkan kenyamanan masyarakat setempat dan mutu lingkungan. Berdasarkan dengan uraian diatas, maka permasalahan penelitian ini adalah bagaimana dampak pengembangan wisata terhadap kesejahteraan masyarakat disekitar objek wisata Hutan Pinus Bulu Tanah Di Kecamatan Lappariaja Kabupaten Bone, yang memiliki tujuan agar dapat diketahui adakah dampak yang ditimpulkan dari adanya objek wisata Hutan Pinus ini terhadap kesejahteraan masyarakat disekitarnya. KAJIAN TEORI Pengembangan Wisata Menurut Wahab . Pariwisata merupakan industri baru yang memiliki potensi besar untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dengan cepat. Hal ini dapat terlihat dari tiga unsur utama dalam pariwisata, yaitu manusia, tempat dan waktu. Manusia berperan sebagai pelaku kegiatan pariwisata, tempat merupakan unsur fisik yang terkait dengan kegiatan kegiatan pariwisata itu sendiri dan waktu yang merupakan faktor penting yang dihabiskan dalam perjalanan. Pengembangan merupakan upaya yang bertujuan untuk meningkatkan daya tarik pariwisata dengan tujuan agar jumlah wisatawan yang berkunjung mengalami peningkatan, sehingga masyarakat dan pemerintah dapat merasakan dampak positifnya (Paturusi, 2. Menurut Undang-Undang Republik Indonesia No. 10 Tahun 2009, wisata adalah aktivitas perjalanan yang dilakukan oleh individu atau kelompok orang yang berkunjung ke suatu daerah tertentu dengan tujuan rekreasi atau mempelajari daya tarik khusus dari tempat wisata yang dikunjungi, dalam jangka waktu sementara. Menurut Bareto dan Gintari. Pengembangan wisata adalah upaya untuk meningkatkan atau memperbaiki objek wisata sehingga mejadi lebih menarik dan baik dari segi lokasi maupun konten didalamnya, yang akan menarik minat pengunjung dan wisatawan untuk datang Strategi pengembangan pariwisata merupakan usaha yang dilakukan dengan harapan agar destinasi wisata yang sudah ada dapat berkembang lebih baik dimasa depan. Menurut Suwantoro . , strategi dalam pengembangan pariwisata terdiri dari : Pemasaran/promosi, yang bertujuan untuk mengenalkan dan menyampaikan informasi kepada masyarakat tentang objek wisata yang ada di daerah tersebut. Aksebilitas atau keadaan sekitar yang akan dilalui oleh para wisatawan saat menuju pada objek wisata. Jika akses jalan yang disediakan baik, tentu hal tersebut dapat membuat banyak wisatawan tertarik untuk dapat ketempat tersebut. Pengembangan kawasan wisata oleh pemerintah daerah atau pengelola tempat wisata melibatkan penyediaan sarana dan prasarana yang dibutuhkan oleh wisatawan. Produk dari wisata mencakup semua hal yang ditawarkan oleh destinasi wisata tersebut, termasuk fasilitas yang disediakan serta sarana dan prasarana penunjang lainnya. Sumber daya manusia memainkan peran krusial dalam pengembangan pariwisata. Kelompok yang terbentuk dari sumber daya manusia dengan tujuan untuk mengembangan pariwisata dikenal sebagai kelompok sadar wisata. Tingkat Pendidikan Dalam teori pendidikan menurut pluto, pendidikan dianggap sebagai suatu yang dapat memfasilitasi perkembangan individu dari segi fisik dan intelektual menuju kesempurnaan. Plato dalam bukunya Politeia menegaskan bahwa pendidikan adalah urusan terpenting bagi negara. Dalam hal ini, mulai TK hingga ke atas pendidikan menjadi tanggung jawab bagi negara. Dari hasil pendidikan tersebutlah nantinya yang memicu untuk mengabdi terhadap negara. Menurut Aristoteles, pendidikan merupakan persiapan atau bekal untuk berbagai aktivitas atau pekerjaan yang baik. Agar orang dapat hidup baik, maka ia harus mendapatkan pendidikan. Pendidikan bukanlah soal akal semata-mata, akan tetapi soal memberi bimbingan kepada perasaan-perasaan yang lebih tinggi, supaya mengarah diri kepada akal. Berdasarkan teori pendidikan yang disampaikan oleh Aristoteles, pendidikan diartikan sebagai langkah awal dalam mempersiapkan murid yang berprestasi melalui proses pembelajaran serta perkembangan fisik dan mental yang baik (Tang, 2. Menurut pasal 3 Undang-Undang No. 20 Tahun 2003, tujuan pendidikan yaitu meningkatkan kreasi peserta didik agar menjadi seseorang yang taat kepada tuhan, mempunyai akhlak mulia, kesehatan, pengetahuan, kreativitas, keterampilan, kemandirian serta menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin tinggi juga kemampuan kerja atau Pendidikan formal memiliki peran teknis yang signifikan dalam mencapai kesempatan kerja. Selain itu, tingkat upah juga memainkan peran penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Semakin tinggi tingkat upah, semakin besar kemungkinan untuk meningkatkan kualitas seseorang. Peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan dan tingkat upah diharapkan dapat mengurangi tingkat pengangguran, terutama dalam konteks tersedianya lapangan kerja formal. Hal ini karena semakin tinggi kualifikasi seseorang, semakin luas pula kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan (Arifin & Firmansyah, 2. Jenis Pekerjaan Menurut etimologi, pekerjaan berasal dari kata dasar AukerjaAy. Kerja merupakan kata benda yang berarti aktifitas untuk melakukan sesuatu, atau sesuatu yang dilakukan dengan tujuan untuk mencari nafkah dan bisa juga berarti mata pencaharian. Sedangkan pekerjaan itu sendiri berarti sesuatu yang dikerjakan, kesibukan, mata pencahariaan, tugas dan kewajiban tentang bekerjanya . sesuatu (Yusri, 2. Menurut Prof. Dr. Soekanto, seorang ahli sosiologi terkemuka, pekerjaan adalah aktivitas yang dilakukan secara teratur dan berkelanjutan oleh individu untuk memperoleh penghasilan atau memenuhi kebutuhan hidup. Dalam pandangan Soekanto, pekerjaan memiliki peran penting dalam struktur sosial masyarakat. Selain itu, pekerjaan juga dapat membentuk identitas dan memengaruhi status sosial seseorang. Makna dan pentingnya pekerjaan bagi setiap individu tercermin dalam Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 27 ayat . , yang menegaskan bahwa setiap Warga Negara Indonesia memiliki hak atas pekerjaan dan kehidupan yang layak untuk Namun, karena keterbatasan lapangan kerja di dalam negeri, banyak warga negara Indonesia yang mencari pekerjaan di luar negeri. Hak asasi pekerja adalah hak untuk memperoleh pekerjaan yang memenuhi standar kemanusiaan, yang diakui keberadaannya dalam Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai hak konstitusional. Kesejahteraan Masyarakat Menurut Pigou . teori ekonomi kesejahteraan adalah bagian dari kesejahteraan sosial yang dapat dikaitkan secara langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan uang sebagai alat ukur. Pendekatan kesejahteraan dapat dilihat dari 2 hal yaitu kesejahteraan subjektif dan kesejahteraan objektif. Kesejahteraan diartikan bagi tingkat individu, keluarga dan masyarakat pada tingkat individu, perasaan bahagia atau sedih, kedamaian dan kecemasan jiwa dan kepuasan atau ketidakpuasan merupakan indikator subjektif dari kualitas hidup. Sedangkan contoh dari indikator objektif dapat dilihat dari kecukupan kondisi perumahan, seperti ada tidaknya air bersih. Indikator Kesejahteraan Masyarakat Kesejahteraan Masyarakat dapat diukur melalui beberapa indikator yang merupakan ukuran pencapaian masyarakat yang sejahtera atau Menurut Todaro Steen C. Smith, kesejahteraan masyarakat mencerminkan hasil pembangunan masyarakat dalam mencapai kehidupan yang lebih baik, seperti : - Peningkatan kemampuan dan distribusi yang lebih merata dari kebutuhan dasar seperti makanan, perumahan, kesehatan dan perlindungan. - Peningkatan tingkat kehidupan, penghasilan, pendidikan yang lebih tinggi, perhatian terhadap budaya dan nilai-nilai kemanusiaan. - Perluasan skala ekonomi dan ketersediaan pilihan sosial dari individu dan masyarakat. Penelitian Terdahulu Tavana Ramadanti . Dampak keberadaan objek wisata Hutan Pinus terhadap kondisi sosial ekonomi pelaku usaha di wisata Hutan Pinus Desa Sumberbulu, hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan objek wisata hutan pinus memiliki dampak signifikan terhadap kondisi sosial, termasuk perubahan dalam kegiatan ekonomi, jenis pekerjaan, dan tingkat Wisata hutan pinus memberikan kontribusi terhadap pendapatan masyarakat, membuka peluang pekerjaan baru di sektor pariwisata, dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan bagi kesejahteraan mereka. Agnesia Berlina Oktaviani. Eppy Yuliani . Dampak Pengembangan Pariwisata Terhadap Kondisi Ekonomi Masyarakat. Hasil Penelitian Menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata memiliki dampak positif yang signifikan, seperti peningkatan tingkat pendidikan masyarakat yang sebelumnya rendah, terciptanya lapangan kerja baru untuk masyarakat usia produktif, pertumbuhan industri dan usaha di sektor pariwisata, penurunan tingkat pengangguran, serta peningkatan kesadaran masyarakat dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam yang baik. Selain itu, infrastruktur juga mengalami perbaikan untuk menjadi lebih layak. Namun, pengembangan pariwisata juga membawa dampak negatif, seperti peningkatan harga jual tanah di sekitar kawasan pariwisata dan kenaikan harga kebutuhan pokok masyarakat. Meskipun demikian, secara keseluruhan, pengembangan pariwisata memiliki peran penting dalam meningkatkan perekonomian masyarakat lokal secara signifikan. Adhiyaksa. Annisa MuAoawanah Sukmawati . Dampak Wisata Bahari Bagi Kondisi Ekonomi Masyarakat Desa Kolorai. Kecamatan Morotai Selatan. Kabupaten Pulau Morotai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberadaan wisata bahari di Desa Kolorai memberikan dampak yang cukup signifikan bagi perekonomian masyarakat setempat. Ini terlihat dari adanya peluang pekerjaan baru bagi warga lokal, yang tidak hanya terbatas pada profesi nelayan, tetapi juga mencakup pelaku usaha wisata terkait dengan kegiatan kelautan dan penyedia jasa akomodasi Selain itu, kemudahan akses dan variasi daya tarik wisata juga berpengaruh terhadap pendapatan masyarakat di sektor wisata bahari. Kerangka Konseptual Kerangka Konseptual merupakan suatu bentuk kerangka berpikir yang dapat digunakan sebagai pendekatan dalam memecahkan masalah. Dalam penelitian ini akan diteliti dampak pengembangan wisata terhadap kesejahteraan masyarakat (Studi Objek Taman Wisata Alam Hutan Pinus Bulu Tanah Di Kecamatan Lappariaja Kabupaten Bon. Perkembangan Sektor Pariwisata Objek Wisata Hutan Pinus Bulu Tanah di Kecamatan Lappariaja Kab. Bone Jumlah Kunjungan Wisatawan Tingkat Pendidikan Jenis Pekerjaan Kesejahteraan Masyarakat di Sekitar Objek Wisata Gambar 2. 1 Kerangka Konseptual METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Dengan menggunakan pendekatan ini diharapkan nantinya peneliti dapat mengetahui secara langsung informasi dan dapat mengolah data sehingga nantinya dapat menemukan suatu fakta yang menggambarkan Dampak pengembangan wisata terhadap kesejahteraan masyarakat disekitar objek wisata Hutan Pinus Bulu Tanah di Kecamatan Lappariaja Kabupaten Bone. Penelitian ini dilaksanakan di Dusun Bulu Tanah. Desa Mattampawalie. Kecamatan Lappariaja. Kabupaten Bone. Adapun data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer yang diperoleh dari hasil wawancara selama melakukan penelitian. Teknik Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Reduksi data. Penyajian data dan Penarikan kesimpulan. Adapun definisi operasional variabel penelitian yaitu : - Jumlah kunjungan wisatawan adalah banyaknya pengunjung yang datang pada objek wisata Hutan Pinus Bulu Tanah di Desa Mattampawalie. Kecamatan Lappariaja. Kabupaten Bone dengan satuan jiwa. - Pendidikan adalah lama waktu yang ditempuh dalam proses pendidikan oleh masyarakat di sekitar objek wisata Hutan Pinus Bulu Tanah yang berlokasikan di Desa Mattampawalie. Kecamatan Lappariaja. Kabupaten Bone dengan satuan tahun. - Jenis pekerjaan adalah jenis aktivitas yang dilakukan sebagai sumber pendapatan oleh masyarakat di sekitar objek wisata Hutan Pinus Bulu Tanah yang berlokasikan di Desa Mattampawalie. Kecamatan Lappariaja. Kabupaten Bone. - Kesejahteraan masyarakat diukur dari terpenuhinya kebutuhan dasar, seperti memiliki rumah yang layak, sandang dan pangan yang cukup, serta akses pendidikan dan layanan kesehatan yang memadai. Hal ini tercermin dari kondisi masyarakat di sekitar objek wisata Hutan Pinus Bulu Tanah yang berlokasikan di Desa Mattampawalie. Kecamatan Lappariaja. Kabupaten Bone dengan satuan rupiah. HASIL DAN PEMBAHASAN Dalam penelitian kualitatif, informan merupakan suatu pilar utama sebagai sumber memperoleh data . Dalam penelitian ini Subjek yang dijadikan informan tentu berdasarkan dengan pertimbangan yang cukup rasional berdasarkan kebutuhan penelitian. Pengembangan objek wisata hutan pinus bulu tanah membawa dampak nyata bagi masyarakat disekitar objek wisata, dengan adanya objek wisata ini ternyata memberikan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat disekitarnya. Objek wisata hutan pinus Bulu Tanah memiliki potensi alam dan atraksi wisata yang dapat dinikmati wisatawan diantaranya keindahan panorama pohon pinusnya dan juga terdapat camping around. Objek wisata ini sangat penting untuk dikembangkan untuk melestarikan potensi Selain itu, dengan berkembangnya objek wisata ini dapat memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sehingga secara tidak langsung juga akan melestarikan potensi yang ada. Hadirnya objek wisata hutan pinus Bulu Tanah ini diakui oleh informan memiliki banyak manfaat, antara lain membuka lapangan pekerjaan baru dan membantu perekonomian masyarakat sekitar objek wisata. Sebelum adanya objek wisata Hutan Pinus Bulu Tanah ini, masyarakat mengatakan bahwa cara untuk mendapatkan penghasilan itu hanya dengan bertani/berkebun dan berdagang, akan tetapi seiring dengan berkembangnya objek wisata ini, masyarakat lebih mudah untuk mendapatkan penghasilan, dengan berjualan disekitar objek wisata atau menjadi bagian dari pengelola objek wisata, hal ini tentu saja memberikan manfaat dari pengembangan wisata seperti mensejahterakan masyarakat, meningkatkan pendapatan daerah, menambah kesempatan berusaha, dan juga memperkenalkan daerah tersebut pada khalayak banyak. Berdasarkan hasil wawancara ditemukan fakta bahwa pengembangan objek wisata ini ternyata menjadi salah satu harapan masyarakat untuk mencari penghasilan. Sebelum adanya pengembangan objek wisata hutan pinus Bulu Tanah ini, sebagian masyarakat hanya bekerja sebagai petani, pedagang dan beberapa tidak memiliki pekerjaan sama sekali. Namun setelah dilakukan pengembangan objek wisata Hutan Pinus Bulu Tanah ini terjadi perubahan pada jenis pekerjaan masyarakat sekitar. Sebagian masyarakat yang awalnya tidak mempunya pekerjaan, bisa membuka usaha jualan dan sebagian ada yang bekerja bersama dengan pihak pengelola, seperti karyawan pengelolaan wisata, juru parkir, penyedia jasa sewa alat kebutuhan camping maupun sebagai pengurusan villa. Dengan adanya pengembangan objek wisata ini, masyarakat dapat meningkatkan taraf pendidikan putra/putrinya karena memiliki biaya untuk menyekolahkan anak-anaknya. Berdasarkan hasil penelitian juga ditemukan bahwa pihak pengelola objek wisata Hutan Pinus Bulu Tanah memiliki rencana strategi untuk memaksimalkan minat wisatawan untuk berkunjung, yaitu dengan cara memodifikasi pelayanan tambahan yang diperlukan oleh para pengunjung, dalam hal ini adalah menjaga kebersihan wilayah yang secara tidak langsung pengelola akan memperhatikan kebersihan dari para pengunjung termasuk dalam pelayanan yang juga akan memberikan kesan terbaik bagi pengunjung, koordinasi yang lebih dalam kepada tokoh masyarakat untuk pengelolaan pada pelayanan, hingga menciptakan area camp yang nyaman sebagai bentuk pengelolaan dan pelayanan yang dimaksimalkan oleh pengelola objek wisata Hutan Pinus Bulu Tanah, selain itu pengelola juga konsisten untuk menambahkan area spot foto setiap tiga bulan sekali untuk menarik pengunjung untuk datang kembali. Hal ini sesuai dengan teori pengembangan wisata menurut Bareto dan Gintari . bahwa pengembangan wisata adalah upaya untuk meningkatkan atau memperbaiki objek wisata sehingga menjadi lebih menarik dan baik dari segi lokasi maupun hal lain yang akan menarik minat pengunjung dan wisatawan untuk datang berkunjung. Pihak pengelola juga sering kali mengupayakan koordinasi dengan tokoh masyarakat setempat hal ini diadakan dengan adanya beberapa pengurusan surat yang mungkin diperlukan untuk memperoleh anggaran dana yang dibutuhkan dalam keadaan mendesak, contohnya adalah jaringan yang kurang mendukung di objek wisata ini sehingga perlu adanya koordinasi khusus untuk mengambil langkah pengembangan selanjutnya. Dengan adanya dukungan dari masyarakat lokal dan pelestarian lingkungan yang baik, objek wisata ini dapat tetap menarik dan lestari dalam jangka panjang dan memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat serta memperkuat potensi pariwisata di Kabupaten Bone. Pengembangan objek wisata Hutan Pinus Bulu Tanah diharapkan mampu memperbaiki kondisi masyarakat disekitar objek wisata, terutama pada masalah perekonomian. Hal ini sesuai dengan teori kesejahteraan yang dikemukakan oleh Pigou . teori ekonomi kesejahteraan adalah bagian dari kesejahteraan sosial yang dapat dikaitkan secara langsung maupun tidak langsung dengan menggunakan uang sebagai alat ukur. Todaro Steen C. Smith . juga mengumukakan bahwa kesejahteraan masyarakat dapat diukur dari . peningkatan kemampuan dan distribusi yang lebih merata dari kebutuhan dasar seperti makanan, perumahan, kesehatan dan perlindungan, . peningkatan tingkat kehidupan, penghasilan, pendidikan yang lebih tinggi, perhatian terhadap budaya dan nilai-nilai kemanusiaan, serta . perluasan skala ekonomi dan ketersediaan pilihan sosial dari individu dan masyarakat. Hal ini juga sesuai dengan hasil penelitian 53 (Tavana Ramadanti, 2. bahwa keberadaan objek wisata hutan pinus memiliki dampak signifikan terhadap kondisi sosial, termasuk perubahan dalam kegiatan ekonomi, jenis pekerjaan dan tingkat pendidikan. Wisata hutan pinus memberikan kontribusi terhadap pendapatan masyarakat, membuka peluang pekerjaan baru di sektor pariwisata dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan bagi kesejahteraan mereka. Dengan demikian berdasarkan hasil penelitian, dapat dinyatakan bahwa pengembangan objek wisata hutan pinus Bulu Tanah ini secara umum berdampak positif dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dampak positifnya dapat dilihat dari terbukanya lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat yang semulanya tidak memiliki pekerjaan atau hanya sebagai petani/pedagang, seperti menjadi bagian dari pengelola objek wisata dalam hal ini penjaga loket, petugas kebersihan, operator hingga juru parkir, pedagang dan penyewa jasa layanan yang tentunya dengan pekerjaan ini, berpengaruh terhadap perekonomian keluarga mereka. Berdasarkan hasil pengamatan juga, nampak bahwa terjadi peningkatan kemampuan masyarakat dalam peningkatan taraf pendidikan putra/putri mereka karena memiliki biaya lebih untuk menyekolahkan anak- anaknya dimana kedepannya dapat memperbaiki kondisi sosial sehingga mencapai tingkat kesejahteraan yang diinginkan. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Merujuk pada rumusan masalah dan hasil penelitian maka dapat disimpulkan bahwa pengembangan objek wisata hutan pinus Bulu Tanah berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan, khususnya pada indikator peningkatan tingkat kehidupan, penghasilan, pendidikan dan perluasan skala ekonomi dari masyarakat. Hadirnya objek wisata hutan pinus Bulu Tanah ini menjadi salah satu harapan masyarakat yang kedepannya dapat memperbaiki kondisi sosial ekonomi mereka. Saran Berdasarkan dengan hasil penelitian, saran yang bisa diberikan adalah sebagai berikut: Bagi pihak pengelola objek wisata, seiring dengan banyaknya persaingan di sektor pariwisata alangkah baiknya tetap mempertahankan dan terus meningkatkan inovasi baru terkait dengan pengembangan wisata, serta menerima segala masukan dari pengunjung demi meningkatkan wisatawan yang berkunjung. Bagi pemerintah daerah, alangkah lebih baik jika ikut berkontribusi dan mendukung penuh terhadap pengembangan objek wisata karena mengingat bahwa dampak dari pengembangan pariwisata tentunya juga menyumbang pendapatan daerah. DAFTAR PUSTAKA