Volume 8 Nomor 1 . Journal of Midwifery Science: Basic and Applied Research e-ISSN: 2774-227X Pengaruh Edukasi Video Gizi Seimbang Dalam Pencegahan Anemia Terhadap Pengetahuan Remaja Putri SMK Angkasa II Kalijati Kiki Resqi Fitri Rosela1. Fatimah Sari2. Zesika Intan Navelia3 Bachelor of Midwifery Study Program. STIKES Guna Bangsa Yogyakarta. Indonesia Department of Midwifery. STIKES Guna Bangsa Yogyakarta Department of Midwifery. STIKES Guna Bangsa Yogyakarta Corresponding author: Kiki Resqi Fitri Rosela Email: kikirosela97589@gmail. ABSTRACT Anemia is a major health problem experienced by adolescent girls, with a high prevalence caused by various factors, particularly a lack of nutritional knowledge and low iron intake. Preventive efforts are crucial, especially health education delivered using engaging and accessible media. Video-based education, particularly animated formats, is considered effective in attracting attention, maintaining focus, and improving understanding among adolescents. This study aims to analyze the effect of balanced nutrition education using animated video media on adolescent girls' knowledge of anemia. This study used a quantitative quasi-experimental design with a pretest-posttest approach. A total of 42 female students at SMK II Angkasa Kalijati were selected using purposive sampling. Data collection was conducted through a structured questionnaire to assess knowledge levels before and after the intervention. Data analysis used the Shapiro-Wilk normality test, the Wilcoxon signed-rank test, and the Mann-Whitney test to evaluate differences in knowledge scores. The results showed a significant increase in knowledge after the The Mann-Whitney test showed a difference in pretest scores with a p-value of 0. 001 and a posttest score with a p-value of 0. The Wilcoxon test also showed a significant increase in the mean rank with a p-value <0. These findings indicate that animated video media is very effective in increasing adolescent girls' knowledge about anemia prevention. In conclusion, health education using animated videos serves as an innovative and practical method to increase awareness and knowledge among adolescents, thus supporting efforts to reduce the prevalence of anemia. Keywords: Adolescent girls. Anemia. Balanced nutrition. Knowledge. Video education. PENDAHULUAN Masa remaja merupakan fase perkembangan penting yang ditandai dengan perubahan fisik, hormonal, dan psikologis. Pada fase ini, remaja putri membutuhkan asupan gizi yang cukup untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan Namun, kenyataannya banyak remaja putri yang masih memiliki kebiasaan makan kurang sehat, seperti melewatkan sarapan, gemar mengonsumsi makanan cepat saji, dan melakukan diet ketat demi alasan estetika. Kondisi tersebut menyebabkan berkurangnya asupan zat gizi penting, salah satunya zat besi, yang berperan penting dalam pembentukan hemoglobin. Kekurangan zat besi dalam jangka panjang dapat menimbulkan anemia. Anemia pada remaja putri tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga dapat memengaruhi konsentrasi belajar, prestasi akademik, hingga kualitas hidup secara Oleh karena itu, masalah ini perlu mendapatkan perhatian serius sejak dini . Secara global, anemia masih menjadi salah satu beban kesehatan masyarakat yang tinggi. World Health Organization (WHO) mencatat bahwa terdapat lebih dari 224 juta remaja putri di Asia Tenggara dan 106 juta di Afrika yang menderita anemia . Di Indonesia sendiri, prevalensi anemia pada remaja putri mencapai 32% . Bahkan, di Provinsi Jawa Barat, angka ini lebih tinggi, yaitu sebesar 41,93% . Anemia yang tidak ditangani dengan baik dapat berdampak jangka panjang terhadap kesehatan reproduksi remaja putri. Kondisi ini meningkatkan risiko komplikasi saat hamil, seperti perdarahan, kelahiran prematur, bayi dengan berat Copyright@2026. JOMISBAR, http://ejournal. poltekkes_smg. id/ojs/index. php/JOMISBAR lahir rendah, hingga meningkatnya angka kematian ibu . Oleh karena itu, pencegahan anemia sejak masa remaja memiliki implikasi penting tidak hanya bagi kesehatan individu, tetapi juga bagi kualitas generasi mendatang. Pemerintah telah melakukan berbagai program pencegahan, seperti pemberian tablet tambah darah (TTD) dan kampanye kesehatan di Namun, kepatuhan konsumsi TTD masih Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa hanya 1,4% remaja putri yang mengonsumsi TTD sesuai anjuran minimal satu tablet per minggu dalam setahun . Hal ini menandakan adanya kesenjangan antara kebijakan pemerintah dengan perilaku remaja di lapangan. Sejumlah penelitian menemukan bahwa kurangnya pengetahuan dan kesadaran mengenai gizi seimbang menjadi faktor penting yang memperparah tingginya kasus anemia pada remaja , . Edukasi yang tepat dan berkesinambungan terbukti dapat meningkatkan kesadaran dan pencegahan anemia. Namun, metode edukasi tradisional, seperti ceramah atau leaflet, sering kali kurang efektif karena tidak menarik perhatian Sebaliknya, pendekatan berbasis teknologi seperti media video animasi dinilai lebih efektif. Video animasi mampu menyampaikan informasi dengan cara visual, sederhana, dan sesuai dengan gaya belajar remaja yang akrab dengan media digital . , . Media ini juga memiliki kelebihan dalam menyajikan konten edukatif dengan cara yang menarik, sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar serta retensi informasi dalam jangka panjang. Sejumlah penelitian mendukung efektivitas media video sebagai sarana edukasi kesehatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa intervensi melalui video mampu meningkatkan pengetahuan dan perilaku remaja dalam mencegah anemia . Namun, sebagian besar penelitian tersebut dilakukan di wilayah lain, sehingga masih terbatas kajian mengenai efektivitas video edukasi pada remaja di Kabupaten Subang. Berdasarkan survei pendahuluan di SMK Angkasa II Kalijati pada April 2025, diketahui bahwa sebagian besar siswi belum memahami secara mendalam mengenai anemia. Padahal, banyak di antara mereka yang sudah sering merasakan gejala seperti cepat lelah, pusing, dan kurang konsentrasi. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pengalaman gejala dengan pengetahuan pencegahannya. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh pemberian edukasi gizi seimbang melalui media video animasi terhadap pengetahuan remaja putri mengenai anemia di SMK Angkasa II Kalijati. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi strategi promosi kesehatan di sekolah, khususnya dengan memanfaatkan media edukasi yang lebih menarik dan efektif. METODE PENELITIAN Penelitian ini dirancang menggunakan metode pre-experimental dengan pendekatan one group pretest-posttest design. Desain ini dipilih karena sesuai untuk mengevaluasi pengaruh intervensi pada kelompok yang sama dengan membandingkan hasil sebelum dan sesudah Dalam penelitian ini, responden diberikan kuesioner pengetahuan mengenai anemia pada tahap awal . , kemudian memperoleh intervensi berupa edukasi melalui video gizi seimbang, dan selanjutnya dilakukan pengukuran kembali tingkat pengetahuan dengan instrumen yang sama . Dengan desain ini, peneliti dapat menilai perubahan skor pengetahuan yang terjadi akibat intervensi, meskipun tanpa kelompok Lokasi penelitian dipilih di SMK Angkasa II Kalijati. Pemilihan lokasi ini didasarkan pada pertimbangan praktis dan akademis. Pertama, di sekolah ini mayoritas siswinya adalah perempuan sehingga sesuai dengan fokus penelitian yang menargetkan remaja putri. Kedua, belum terdapat penelitian sebelumnya yang menelaah pengaruh edukasi video gizi seimbang terhadap pengetahuan pencegahan anemia di sekolah tersebut, sehingga diharapkan dapat memberikan kontribusi baru. Ketiga, lokasi sekolah relatif dekat dengan tempat peneliti berdomisili, sehingga memudahkan koordinasi, pelaksanaan pengumpulan data, serta pemantauan proses penelitian. Populasi penelitian ini adalah seluruh siswi SMK Angkasa II Kalijati yang berjumlah 72 orang. Dari populasi tersebut, peneliti menetapkan 42 responden sebagai sampel dengan menggunakan teknik purposive sampling. Teknik ini dipilih karena peneliti menetapkan kriteria inklusi dan eksklusi tertentu agar sampel benar-benar sesuai dengan tujuan penelitian. Kriteria inklusi mencakup: . siswi berjenis kelamin perempuan, . telah mengalami menarche, . hadir saat pengambilan data, dan . bersedia berpartisipasi serta menandatangani informed consent. Sementara itu, kriteria eksklusi adalah siswi yang tidak hadir Copyright@2026. JOMISBAR, http://ejournal. poltekkes_smg. id/ojs/index. php/JOMISBAR pada saat pelaksanaan penelitian. Dengan demikian, sampel yang digunakan dianggap representatif untuk menggambarkan populasi sasaran. Instrumen penelitian terdiri dari dua bagian utama, yaitu media intervensi berupa video edukasi dan alat ukur berupa kuesioner pengetahuan. Media video yang digunakan berdurasi 4Ae6 menit dengan konten yang disusun secara menarik melalui animasi visual, audio, dan ilustrasi untuk menjelaskan pentingnya gizi seimbang serta kaitannya dengan pencegahan anemia pada remaja Pemilihan media video didasarkan pada pertimbangan efektivitasnya sebagai sarana edukasi yang lebih mudah diterima oleh remaja, karena bersifat audio-visual, interaktif, dan dapat meningkatkan daya ingat dibandingkan hanya teks atau ceramah. Sementara itu, instrumen pengukuran pengetahuan berupa kuesioner dengan 20 butir pertanyaan berbasis skala Guttman. Setiap pertanyaan memiliki pilihan jawaban benar atau Skoring diberikan dengan nilai 1 untuk jawaban benar dan 0 untuk jawaban salah. Rentang skor berkisar antara 0 hingga 20, yang kemudian dikonversikan dalam bentuk persentase. Kategori pengetahuan dibagi menjadi tiga, yaitu baik . Ae 100% atau skor 16Ae. , cukup . Ae75% atau skor 11Ae. , dan kurang (<56% atau skor <. Kuesioner ini mengukur aspek manfaat gizi, faktor penyebab anemia, tanda dan gejala anemia, pencegahan, serta pemahaman mengenai konsep gizi seimbang. Untuk memastikan validitas dan reliabilitas instrumen, peneliti melakukan uji validitas terhadap 20 item kuesioner. Hasilnya menunjukkan seluruh item memiliki nilai r hitung lebih besar dari r tabel, sehingga dinyatakan valid. Uji reliabilitas menggunakan CronbachAos Alpha menghasilkan nilai 0,812, lebih tinggi dari batas minimum 0,6, yang berarti instrumen reliabel. Selain itu, video edukasi yang digunakan juga divalidasi oleh tiga orang ahli, yaitu satu ahli media pendidikan kesehatan dan dua ahli materi gizi. Hasil uji validasi rata-rata 3,82 dikategorikan sangat valid, sehingga media layak digunakan dalam penelitian. Tahap pengumpulan data dibagi menjadi tiga Pertama adalah tahap persiapan, yang mencakup pengurusan perizinan ke institusi pendidikan dan sekolah, pengajuan ethical clearance ke Komite Etik Penelitian Kesehatan STIKES Guna Bangsa dengan nomor surat 059/KEPK/VII/2025, serta studi pendahuluan mengenai tingkat pengetahuan siswi terkait anemia. Kedua adalah tahap pelaksanaan, di mana peneliti membagikan kuesioner pretest kepada responden, memutar video edukasi selama 4Ae6 menit, kemudian memberikan kembali kuesioner posttest untuk diisi. Ketiga adalah tahap pelaporan, yaitu pengolahan data hasil penelitian dan penyusunan laporan secara sistematis. Proses pengolahan data dilakukan melalui beberapa langkah, yakni editing, coding, scoring, processing, dan cleaning. Editing dilakukan untuk memastikan kelengkapan dan konsistensi jawaban Coding dilakukan dengan memberikan kode numerik pada setiap jawaban. Scoring berarti pemberian skor sesuai ketentuan skala Guttman. Processing adalah tahap input data ke dalam perangkat lunak SPSS, dan cleaning adalah pemeriksaan ulang data yang sudah dientri untuk menghindari adanya kesalahan. Metode analisis data dilakukan dalam dua Pertama, analisis univariat digunakan untuk karakteristik responden, baik untuk variabel independen maupun dependen. Kedua, analisis bivariat digunakan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan tingkat pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi video edukasi. Uji statistik yang digunakan adalah uji t berpasangan . aired t-tes. bila data berdistribusi normal, dan uji Wilcoxon signed rank test bila data tidak normal. Kedua uji ini dipilih karena sesuai untuk membandingkan dua pengukuran berpasangan dari kelompok yang sama. Selain aspek teknis, penelitian ini juga Sebelum penjelasan mengenai tujuan, prosedur, manfaat, dan potensi risiko penelitian. Mereka diberi kebebasan untuk menolak atau menarik diri kapan saja tanpa Responden yang bersedia diminta menandatangani informed consent. Peneliti menjamin kerahasiaan data dengan cara mengkode identitas responden tanpa mencantumkan nama asli. Prinsip nonmaleficence dan beneficence dijunjung tinggi, artinya penelitian ini tidak menimbulkan kerugian, melainkan diharapkan memberikan manfaat berupa peningkatan pengetahuan remaja Proses pemilihan partisipan dilakukan secara adil tanpa diskriminasi terhadap latar belakang sosial, budaya, atau ekonomi. Penelitian juga baru dilaksanakan setelah memperoleh persetujuan etik tertulis dari komite etik terkait. Dengan rancangan penelitian ini, diharapkan hasil yang diperoleh dapat memberikan gambaran empiris mengenai efektivitas media video edukasi gizi seimbang dalam meningkatkan pengetahuan remaja putri tentang pencegahan anemia. Meskipun desain pre-experimental memiliki keterbatasan. Copyright@2026. JOMISBAR, http://ejournal. poltekkes_smg. id/ojs/index. php/JOMISBAR seperti tidak adanya kelompok kontrol yang membuat sulit membedakan pengaruh intervensi dari faktor luar, namun hasil penelitian tetap penting sebagai dasar pengembangan program intervensi pendidikan kesehatan di sekolah-sekolah. Tabel 3. Distribusi Kategori Pengetahuan Sebelum dan Sesudah Intervensi HASIL DAN PEMBAHASAN Tabel 1. Karakteristik Responden Karakteristik Kategori Usia Menarche <11 12Ae13 >14 Tidak Tidak Pernah Belum Pernah Konsumsi TTD Kebiasaan Sarapan Informasi Anemia Frekuensi . Persentase (%) Tabel 1. menunjukkan mayoritas responden mengalami menarche pada usia <11 tahun . ,5%). Usia menarche yang lebih dini dapat meningkatkan risiko anemia karena kebutuhan zat besi lebih tinggi pada masa pubertas. Sebagian besar responden . ,3%) tidak mengonsumsi tablet tambah darah (TTD), yang menunjukkan rendahnya kepatuhan terhadap program suplementasi. Kebiasaan sarapan cukup baik . ,5%), namun masih ada 40,5% responden yang melewatkannya, sehingga asupan zat gizi harian berpotensi tidak tercukupi. Selain itu, 64,3% responden belum pernah mendapat informasi mengenai anemia, memperlihatkan perlunya edukasi yang efektif. Tabel 2. Rata-rata Skor Pengetahuan Sebelum Intervensi Nilai Mean Pre-test Post-test 73,45 84,05 Minimum Maximum menjadi lebih homogen setelah intervensi. Hal ini menunjukkan efektivitas media video dalam pengetahuan secara lebih merata. Std. Deviasi 13,366 9,451 Tabel 2. menunjukkan rata-rata skor pengetahuan remaja putri sebelum intervensi adalah 73,45 dengan nilai terendah 45 dan tertinggi 90. Standar deviasi yang cukup tinggi . menunjukkan adanya variasi pengetahuan yang lebar di antara responden. Setelah diberikan edukasi video, rata-rata meningkat menjadi 84,05, dengan rentang nilai 55Ae100 dan standar deviasi menurun menjadi 9,451. Penurunan standar deviasi ini memperlihatkan bahwa pemahaman responden Kategori Baik Cukup Kurang Total Pre-test n (%) 7 . ,7%) 14 . ,3%) 21 . ,0%) 42 . %) Post-test n (%) 34 . ,0%) 8 . ,0%) 0 . %) 42 . %) Tabel 3. menunjukkan distribusi kategori adanya pergeseran besar setelah edukasi video Pada pre-test, sebagian besar responden . ,0%) berada pada kategori pengetahuan kurang, sedangkan hanya 16,7% berada pada kategori baik. Namun setelah intervensi, responden dengan kategori kurang menurun menjadi 0%, dan mayoritas . ,0%) masuk kategori baik. Temuan ini menegaskan bahwa video edukasi tidak hanya meningkatkan rata-rata nilai, tetapi juga berhasil mengangkat hampir semua responden ke tingkat pengetahuan yang lebih tinggi. Tabel 4. Uji Normalitas (Shapiro-Wil. Variabel Pre-test Post-test Statistik 0,877 0,844 p-value 0,001 0,000 Tabel 4. menunjukkan hasil uji Shapiro-Wilk bahwa nilai p untuk pre-test . dan post-test . keduanya lebih kecil dari 0,05. Artinya, data tidak berdistribusi normal. Oleh karena itu, analisis perbedaan pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi tidak dapat menggunakan uji parametrik (Paired t-Tes. , melainkan harus menggunakan uji non-parametrik yaitu Wilcoxon Signed Rank Test. Keputusan ini penting agar hasil analisis tetap valid sesuai kaidah statistik. Tabel 5. Pengaruh Edukasi Video Gizi Seimbang Dalam Pencegahan Anemia Tingkat Mean Mean Sum Of Pengetahuan Rank Rank Remaja Putri Pre Test Post Test 73,45 84,05 Uji Statistik Asymp. Sig. 19,84 734,00 -5,325 Berdasarkan Wilcoxon memperlihatkan ada kenaikan nilai mean pre test dan post test, untuk nilai mean rank sebesar 19,84, nilai Sum Of Rank 734,00 dengan nilai z pengetahuan pre test-post test sebesar -5. sedangkan nilai p-value Asymp. Sig sebesar 0,000 Copyright@2026. JOMISBAR, http://ejournal. poltekkes_smg. id/ojs/index. php/JOMISBAR < 0,05 maka dapat di ketahui bahwa Ho di tolak dan Ha di terima dan dapat disimpulkan bahwa terdapat AuPengaruh Edukasi Video Gizi Seimbang Dalam Pencegahan Anemia Terhadap Pengetahuan Remaja Putri SMK Angkasa II KalijatiAy. Dari penjelasan tabel diatas Karakteristik responden menunjukkan bahwa mayoritas remaja putri mengalami menarche pada usia <11 tahun, dengan sebagian kecil pada usia 12Ae13 tahun dan >14 tahun. Kondisi menarche dini ini dipengaruhi oleh faktor gizi, gaya hidup, dan status sosial Selain itu, sebagian besar responden tidak mengonsumsi suplemen zat besi dan sering melewatkan sarapan, yang keduanya berisiko meningkatkan kejadian anemia. Informasi terkait anemia juga terbatas, di mana sebagian besar responden tidak pernah mendapatkan edukasi Hal menggambarkan masih rendahnya akses remaja terhadap informasi kesehatan yang benar. Sebelum intervensi, tingkat pengetahuan responden mengenai gizi seimbang dan pencegahan anemia masih tergolong rendah hingga sedang. Setengah dari responden memiliki pengetahuan kurang, sementara hanya sebagian kecil yang sudah berada pada kategori baik. Rendahnya pengetahuan awal ini menunjukkan adanya kebutuhan informasi yang lebih terarah dan mudah dipahami oleh remaja putri, mengingat anemia banyak dialami kelompok usia tersebut. Setelah diberikan intervensi berupa edukasi melalui video gizi seimbang, terjadi peningkatan pengetahuan yang signifikan. Sebagian besar responden berada pada kategori pengetahuan baik, sementara kategori kurang sudah tidak ditemukan Hal ini memperlihatkan bahwa media video efektif karena menggabungkan visual dan audio sehingga materi lebih mudah dipahami, diingat, dan memberikan pengaruh positif terhadap sikap dalam pencegahan anemia. Hasil uji statistik juga menunjukkan adanya perbedaan yang bermakna antara skor pengetahuan sebelum dan sesudah intervensi, dengan rata-rata skor meningkat dari 73,45 menjadi 84,05. Temuan ini menegaskan bahwa video edukasi gizi seimbang pengetahuan remaja putri mengenai pencegahan Implikasi praktis dari penelitian ini adalah bahwa media video dapat digunakan sebagai alternatif edukasi kesehatan di sekolah maupun puskesmas, karena efektif, mudah diakses, serta dapat diulang sesuai kebutuhan remaja (A. Ariani, 2. SIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden mengalami menarche pada usia <11 tahun, sebagian besar tidak mengonsumsi suplemen zat besi, namun lebih dari setengah responden memiliki kebiasaan sarapan. Selain itu, sebagian besar responden belum pernah memperoleh informasi terkait anemia. Kondisi ini memperlihatkan bahwa remaja putri masih berada pada situasi yang rentan terhadap kekurangan zat gizi, khususnya zat besi, sehingga berisiko mengalami anemia. Tingkat pengetahuan sebelum diberikan intervensi edukasi gizi seimbang menunjukkan bahwa hanya separuh responden yang berada pada kategori baik, sedangkan sisanya masih berada pada kategori cukup dan kurang. Setelah diberikan edukasi melalui media video, terjadi peningkatan signifikan pada tingkat pengetahuan, di mana mayoritas responden mencapai kategori baik . %) dengan p-value 0,000 . <0,. Hasil ini membuktikan bahwa video edukasi gizi seimbang efektif dalam meningkatkan pemahaman remaja putri tentang pencegahan anemia. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa edukasi berbasis video merupakan salah satu strategi promosi kesehatan yang tepat, efektif, dan mudah diakses oleh remaja putri. Media audiovisual ini mampu memperkuat daya ingat dan pemahaman sehingga dapat menjadi sarana edukasi alternatif dalam upaya menekan angka kejadian anemia pada remaja (Anggraeni, 2023. Berdasarkan direkomendasikan agar remaja putri meningkatkan kesadaran akan pentingnya pemenuhan gizi seimbang dalam kehidupan sehari-hari serta lebih memahami risiko anemia. Bagi tenaga kesehatan, khususnya profesi bidan, diperlukan perhatian berkesinambungan kepada remaja. Bagi pihak sekolah, khususnya SMK Angkasa II Kalijati, hasil penelitian ini dapat dijadikan dasar untuk menyusun program sekolah yang mendukung pencegahan Sementara itu, bagi institusi pendidikan tinggi, khususnya STIKES Guna Bangsa Yogyakarta, penelitian ini dapat menjadi bahan referensi ilmiah serta menambah literatur pendidikan gizi bagi mahasiswa. UCAPAN TERIMAKASIH Penulis menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dalam Copyright@2026. JOMISBAR, http://ejournal. poltekkes_smg. id/ojs/index. php/JOMISBAR pelaksanaan penelitian ini. Terima kasih khusus ditujukan kepada para siswi SMK Angkasa II Kalijati yang telah bersedia meluangkan waktu serta berpartisipasi secara sukarela sebagai responden sehingga penelitian ini dapat terlaksana dengan Ucapan terima kasih juga ditujukan kepada Kepala Sekolah SMK Angkasa II Kalijati beserta para guru yang telah memberikan izin, menyediakan fasilitas, serta membantu kelancaran proses pengumpulan data di lapangan. Dukungan dari pihak akademik, terutama dosen pembimbing, serta rekan-rekan sejawat, sangat berarti karena telah memberikan arahan, motivasi, dan masukan berharga sejak tahap persiapan hingga penyusunan laporan penelitian ini. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa keberhasilan penelitian ini tidak akan mungkin tercapai tanpa kontribusi, kerja sama, dan dukungan dari berbagai pihak yang telah disebutkan. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang tulus atas segala bantuan, perhatian, dan kesempatan yang telah diberikan. dan Keluarga. Jakarta: Direktorat Gizi Masyarakat. Kementerian Kesehatan RI, 2020. Lestari and R. Suryani. AuFaktor yang mempengaruhi ibu dalam melakukan pijat bayi di masyarakat pedesaan,Ay Jurnal Ilmu Kesehatan, vol. 9, no. 2, pp. 134Ae142, 2021. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Strategi Percepatan Penurunan Stunting melalui Edukasi dan Peningkatan Kapasitas Ibu dan Keluarga. Jakarta: Direktorat Gizi Masyarakat. Kementerian Kesehatan RI, 2023. Farokah. Amira, and E. Dewi. AuEfektifitas penggunaan media video dan poster terhadap peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai protokol kesehatan pencegahan Covid-19,Ay Jurnal Klinik, vol. 1, pp. 43Ae49, 2022. Suiraoka and I. Supariasa. Promosi Kesehatan: Teori dan Aplikasi. Jakarta: EGC. DAFTAR PUSTAKA