Publish by: Yayasan Darussalam Bengkulu https://siducat. org/index. php/dawuh ISSN-ONLINE: 2722-7898 DAWUH: Vol. No. November 2023. Hal 102-107 This Work is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International DAWUH DaAowah & Education Journal Implementasi Pelayanan Bimbingan Konseling Islami terhadap Adaptasi Peserta didik SMA MTA Surakarta Berbasis Boarding School MuthiAoah Arifah1. Isnaini Nur Khotimah2. Putri Rahmawati3. Safira Widiana Nariswari4. Mahasri Shobabiya5 Universitas Muhammadiyah Surakarta12345 g000210005@student. id1, g000210027@student. id2, g000210021@student. g000210036@student. Ms635@ums. Abstract The adaptation of students in the boarding school environment is the ability to live independently and fairly, so that they feel satisfied with themselves and their environment. Adaptability in the dormitory environment can be possessed if students have lived a few days in the dormitory. Of course, not only academic knowledge is gained, but even more so learning about life sciences. Many factors affect the adaptation of students in school such as gender, regional background . and grade level. This study aims to determine the implementation of counseling guidance carried out to improve the adaptation of students living in dormitories, especially new grade 10 students. This research uses qualitative methods, where the data search process uses interview techniques. The results of this study show the role of counseling guidance on the adaptation of MTA Surakarta High School students in the form of counseling guidance stages that are applied by identifying problems and needs, making diagnoses, establishing prognosis, providing assistance, evaluating and following up. Keywords: Adaptation. boarding schools. counseling guidance. Abstrak Adaptasi peserta didik di lingkungan boarding school merupakan kemampuan untuk hidup mandiri dan berkeadilan, sehingga ia merasa puas terhadap dirinya sendiri dan juga lingkungannya. Kemampuan adaptasi di lingkungan asrama dapat dimiliki bila santri sudah menjalani hidup beberapa hari di asrama. Tentu bukan saja ilmu akademik yang didapat, tetapi terlebih lagi belajar tentang ilmu kehidupan. Banyak faktor yang mempengaruhi adaptasi peserta didik di sekolah seperti jenis kelamin, latar belakang daerah . dan jenjang kelas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui implementasi bimbingan konseling yang dilakukan untuk meningkatkan adaptasi santri yang hidup di asrama, terkhusus santri baru kelas 10. Penelitian ini mengunakan metode kualitatif, yang mana proses pencarian datanya menggunakan teknik wawancara. Hasil dari penelitian ini menunjukkan peran bimbingan konseling terhadap adaptasi santri SMA MTA Surakarta berupa tahap bimbingan konseling yang diterapkan dengan mengidentifikasi masalah dan kebutuhan, melakukan diagnosis, menetapkan pragnosis, pemberian bantuan, evaluasi dan tindak lanjut. Kata Kunci: Adaptasi. boarding school. bimbingan konseling. PENDAHULUAN Pesantren merupakan lembaga pendidikan yang bertujuan agar siswa dapat belajar lebih lama, lebih fokus, dan memiliki sikap mandiri dalam lingkungan sekolah. Mengenai mana yang lebih umum, pertanyaannya rumit. Secara umum, siswa di sekolah berasrama memiliki kesempatan belajar yang lebih baik, mendapat lebih banyak dukungan dari guru (Pfeiffer. Pinquart & Krick, 2. , dan jarak yang lebih pendek sehingga memungkinkan siswa menghabiskan lebih banyak waktu untuk belajar (Zachariah & Joshua, 2. Salah satu hal yang harus diwaspadai siswa ketika memasuki lingkungan sekolah baru, khususnya pondok pesantren, adalah beradaptasi dengan lingkungan tersebut. Penyesuaian ini DAWUH: Vol. No. November 2023. Hal 102-107 | 103 merupakan salah satu cara peserta didik beradaptasi dengan peraturan dan ketentuan di sekolah barunya, khususnya sekolah berasrama. Adaptasi diri merupakan proses dimana individu mencapai keseimbangan diri dengan memenuhi kebutuhannya sebagai respon terhadap tuntutan lingkungannya (Sunarto & Hartono, 2. Regulasi individu merupakan kemampuan peserta didik untuk hidup dan bersosialisasi alami di lingkungan sekolah agar merasa nyaman terhadap dirinya dan lingkungan sekitarnya (Willis, 2. Adaptasi juga dapat diartikan sebagai suatu proses yang alamiah, dinamis, suatu respon penerimaan diri, dan suatu pendekatan dengan tujuan untuk menyesuaikan dan mengembangkan hubungan yang lebih sesuai dengan kondisi lingkungan (Sukmadinata, 2. (Fatimah, 2. Soerjono Soekanto . mengatakan bahwasannya adaptasi adalah suatu proses individu, kelompok atau suatu kelompok sosial terhadap kondisi yang diciptakan berupa norma-norma dan proses perubahan. Bimo Walgito . menyatakan bahwa adaptasi sosial adalah suatu individu yang berbaur dengan lingkungan sekitar ataupun individu yang dapat mengubah suatu lingkungan sesuai dengan keingingin individu yang bersangkutan. Proses adaptasi setiap individu mungkin berbeda, ada kalangan remaja yang mudah beradaptasi dan mengatasi tekanan, tetapi masih kesulitan dalam mengendalikan diri sendiri. Dari ketiga proses tersebut ada yang mudah melakukannya ataupun kesulitan dalam melakukan 3 proses tersebut. Biasanya remaja yang sulit dalam beradaptasi lebih menyendiri, kurang bergaul dan rasa cemas yang dimiliki sangat tinggi, mereka juga kurang percaya pada dirinya sendiri. Dalam kehidupan Asrama tidak menutup kemungkinan banyak santri yang gagal dalam beradaptasi, tetapi disini bimbingan konseling hadir untuk peserta didik dalam memudahkan untuk memperoleh bantuan agar mereka dapat nyaman tinggal di lingkungan di asrama. Guru dan pengelola asrama juga ikut membantu peserta didik agar mereka berhasil beradaptasi di lingkungan asrama dengan baik. Agar remaja berhasil dalam menjalani proses adaptasi di lingkungan asrama, maka guru, pengasuh asrama, dan seluruh staff jajaran yang mendukung kegiatan peserta didik dapat memposisikan diri sebagai wali yang menggantikan posisi orang tua di rumah, kakak tingkat di posisikan sebagai seseorang yang lebih senior sekaligus kakak terlebih dahulu menjalani adaptasi diri dan memiliki sedikit pengalaman yang lebih dari peserta didik baru dan saat ini menjadi teladan dalam menjalani kehidupan di asrama. Semua itu merupakan faktor pendukung dapat membantu peserta didik menjalani kehidupan di asrama. Tidak ketinggalan juga nasihat, motivasi dari dalam diri maupun orang lain dapat membentuk diri yang mandiri, percaya diri, berjiwa pemimpin dan Berdasarkan uraian diatas peneliti ingin mengetahui bagaimana bimbingan konseling di SMA MTA Surakarta untuk meningkatkan adaptasi santri baru kelas 10. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Proses wawancara adalah teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data. Narasumber dalam wawancara ini adalah Guru bimbingan konseling Sma Mta Surakarta. Penelitian ini mengumpulkan dan mendeskripsikan implementasi bimbingan konseling islami menghadapi adaptasi di lingkungan asrama SMA MTA Surakarta. Maka dari itu peneliti kontak langsung dengan perwakilan santri dalam masing-masing angkatan yang diambil dari beberapa macam latar budaya, daerah, bahasa, dan juga dari alumni SMP Negeri dan alumni SMP MTA Gemolong maupun SMP IT Karanganyar. HASIL DAN PEMBAHASAN Boarding school atau yang kemudian dikenal dengan asrama menurut Utari Rahmadia dan Sutapa Mada . adalah suatu fasilitas yang menjadi penunjang pada proses atau kegiaan pembelajaran yang menjadi bagian dari suatu sekolah, yang diperlukan adanya waktu untuk beradaptasi bagi penghuni barunya. Asrama tentunya dihuni oleh peserta didik maupun peserta didik dengan latar belakang suku, budaya dan kebiasaan yang berbeda. Hal ini memunculkan pandangan atau perspektif yang berbeda dari masing-masing penghuninya. Bergabungnya peserta This Work is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International 104 | MuthiAoah Arifah1. Isnaini Nur Khotimah2. Putri Rahmawati3. Safira Widiana Nariswari4. Mahasri Shobabiya5 didik dengan identitas yang berbeda-beda dalam suatu daerah bukanlah hal baru, terutama jika hal ini terjadi di wilayah negara Indonesia. Hal ini disebabkan oleh tingginya pergerakan sosial geografis oleh seorang individu atau kelompok di atas kemajemukan budaya, suku bangsa, agama, bahasa, adat istiadat dan sebagainya yang terdapat di Indonesia yang sangat memungkinkan terjadinya kontak antar budaya di antara penduduk di Indonesia, inilah hal-hal yang mampu menyebabkan adanya kesulitan adaptasi oleh peserta didik maupun peserta didik baru (Devinta, , 2. Dengan indikasi yang terlihat pada culture shock juga kesulitan adaptasi, yang menyebabkan kemunculan problematika yang dimiliki siswa maupun peserta didik di sekolah dengan basis asrama. Kehidupan di suatu asrama akan sangat berbeda dengan kehidupan sekolah pada umumnya dan berarti siswa dapat beradaptasi dengan baik dengan tinggal di asrama hingga mereka menyelesaikan pendidikannya. Salah satu lembaga pendidikan yang menggunakan sistem asrama atau boarding school adalah SMA MTA Surakarta. Siswa harus tinggal di asrama, yang memiliki peraturan dan persyaratan berbeda dari sekolah biasa. Siswa harus menghadapi perubahan yang terjadi dalam dirinya maupun di luar orang tuanya. Siswa yang kemampuan adaptasinya rendah akan berdampak buruk terhadap kehidupan sosialnya di asrama. Contoh konkrit nyata problematika yang terjadi pada peserta didik SMA MTA adalah adaptasi sosial antar peserta didik. Peserta didik yang berasal dari luar daerah biasanya sulit beradaptasi, sedangkan peserta didik yang berada dalam daerah dan lebih khususnya peserta didik alumni SMP MTA cenderung lebih mudah beradaptasi karena suda memiliki lingkungan sosial yang dikenalnya. Perbedaan kepribadian daerah juga menjadi faktor utama yang mempengaruhi proses penyesuaian diri siswa. Latar belakang budaya yang berbeda mempengaruhi perkembangan proses berfikir dan berperilaku, oleh karena itu menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi perbedaan individu siswa dalam menghadapi perubahan sosial, termasuk adaptasi diri. Selain itu, seiring bertambahnya usia, perubahan dan evolusi respons menentukan pola adaptasi. Menurut hukum perkembangan, tingkat kematangan yang dicapai individu berbeda-beda, sehingga proses adaptasinya juga berbeda. Peningkatan penyesuaian diri siswa yang bersekolah memerlukan layanan bimbingan dan konseling serta penelitian untuk menjelaskan faktor-faktor yang mempengaruhi penyesuaian diri tersebut. Adaptasi diri atau juga merupakan sebuah proses yang dimiliki seorang individu untuk mencapai keseimbangan atas dirinya dalam memenuhi kebutuhannya sesuai dengan lingkungan tempatnya berada. Proses yang bersifat psikologis ini akan terjadi sepanjang hidup seorang individu secara terus menerus dengan berupaya menemukan dan mengatasi tekanan dan tantangan hidup untuk mencapai pribadi yang lebih baik (Muhammad Ali dan Muhammad Asori, h. 222, 2. Adaptasi diri atau adaptasi ini sendiri juga yang akan menjadi mekanisme untuk mencapai hubungan harmonis antara internal dirinya serta tuntutan eksternal kehidupannya. Sejalan dengan sebuah adaptasi diri bagi peserta didik di sekolah asrama yang menjadi lingkungan hidup barunya, yang akan memberikan tuntutan eksternal bagi kehidupan yang dimiliki peserta Berdasarkan wawancara yang telah dilakukan dengan guru bimbingan konseling, sekaligus pengasuh asrama, didapati bahwasanya asrama yang dihuni oleh peserta didik baru yang terletak pada Asrama Putri 1 SMA MTA Surakarta, paling banyak mendapati permasalahan mengenai adaptasi peserta didik. Karena jumlah pesrta didiknya paling banyak. Asrama ini dihuni oleh peserta didik kelas X dan XII SMA MTA Surakarta, yang rata-rata anak perantauan, dengan latar belakang yang berbeda, meski kebanyakan adaptasi yang dirasakan adalah kesulitan dalam pertemanan dan bersosialisasi, yang menimbulkan rasa terkucilkan. Kesulitan beradaptasi ini pun didapati dengan alasan-alasan yang beragam, dari peserta didik yang terkenal dengan sikap yang pendiam . sehingga sulit bergabung dengan rekan-rekannya, merasa terbuang karena anak perantauan yang belum memiliki kenalan, juga peserta didik yang masih merasa belum benar-benar betah dengan lingkungan baru yang sedang dihadapinya. Publish by: Yayasan Darussalam Bengkulu DAWUH: Vol. No. November 2023. Hal 102-107 | 105 Sejalan dengan hal tersebut, adanya proses adaptasi diri tidaklah mungkin berjalan dengan mudah, tentunya akan memunculkan konflik, tekanan, maupun rasa frustasi yang dimiliki oleh seorang individu untuk dapat beradaptasi hal yang baru (Jane Aristya Sayu, et al. , 2. Terlebih jika lingkungan yang dialaminya sekarang ini cukup berbeda jauh dari apa yang dialami sebelumnya ditambah tanpa memiliki kemampuan bersosial yang tinggi. Maka, dalam hal ini, seorang individu untuk mampu sukses dalam adaptasi dirinya memerlukan dorongan bahkan bantuan dari orang lain untuk mampu menjalani kehidupannya agar mampu memenuhi kebutuhannya dan menyamankan diri dengan keadaan baru yang dimilikinya. Dengan hal tersebut, maka fungsi orang terdekatlah yang pada akhirnya mampu membantu memberikan dorongan, serta memberikan rasa nyaman bagi peserta didik di sekolah dengan basis asrama. Maka dari itu, ada faktor-faktor yang dapat mempengaruhi adaptasi diri peserta didik. Yakni faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang mempengaruhi adaptasi biasanya muncul dari individu peserta didik yaitu kelainan, fisik, mental, psikologi, dan masalah pribadi peserta didik (Jane Aristya Sayu, et al. , 2. Motivasi terbesar dalam membangkitkan semangat peserta didik dalam menangani masalah internal adalah diri sendiri. Hal ini akan menjadikan bertambahnya pola berfikir dewasa dan mandiri pada peserta didik. Sedangkan faktor eksternal adaptasi diri antara lain tempat tinggal, bahasa, budaya, dukungan dari keluarga, lingkungan, dan teman senasib Di usia remaja, teman seperjuangan menjadi faktor terbesar dalam mempengaruhi Tetapi dalam kehidupan di asrama faktor besar lainnya adalah motivasi dan nasihat dari pengasuh asrama, mereka memberi arahan peserta didik dalam bergaul dengan teman. Pada saat inilah peran dari bimbingan konseling sangat diperlukan, sebab tanggung jawab dari guru BK bukan hanya membantu peserta didik mampu mengembangkan potensinya saja atau dari sisi kecerdasannya, akan tetapi juga pada aspek kepribadiannya. Sehingga, dibutuhkan adanya suatu konselor sebagaimana fungsi bimbingan konseling yang nantinya mampu berfungsi sebagai fasilitator atas perkembangan peserta didik baik secara emosional, sosial, mental, bahkan spiritualitas dari peserta didik itu sendiri (Jaenab Salamun, 2. Sebagai seorang guru bimbingan konseling sekaligus pengasuh asrama, nara sumber dari wawancara yang telah dilakukan, memberikan program-program khusus bagi peserta didik SMA MTA Surakarta yang masih merasa kesulitan dalam melakukan adaptasi diri, diantaranya: . Melakukan pendekatan. Pendekatan tersebut dilakukan dengan menjadi pendengar bagi peserta Sebagai seorang pengasuh, maka juga memiliki peran pengganti sebagai orang tua bagis peserta didik yang tinggal di asrama. Dengan menjadi pendengar, maka pengasuh dan guru BK mampu memberikan motivasi dan ucapan pendorong yang nantinya dapat menyamankan peserta didik di asrama. Terlebih, bagi peserta didik yang merasa dikucilkan, maka akan memiliki perasaan bahwa dirinya masih didengar dan mempunyai pendukung. Memberikan Waktu dan Tempat. Pemberian waktu yang diberikan oleh guru BK di sini, adalah bentuk pendorong adaptasi bagi peserta didik yang masih merasa asing dengan lingkungannya. Terutama bagi peserta didik yang merasa lingkungan barunya terasa riuh dan cukup mengganggu. Maka, guru BK memberikan waktu bagi peserta didik untuk duduk dan menikmati waktunya pad atempat tertentu yang menurutnya lebih tenang dengan aktivitas yang disukainya, seperti membaca buku. Sehingga, peserta didik tetap akan memiliki kenyamanan dengan lingkungan barunya dengan perlahan. Membimbing peserta didik yang sudah memiliki teman dalam asrama dan pendatang baru dengan cara memanggil keduanya untuk meditasi di ruang bk supaya tidak timbul percirclean atau perkelompokan antar teman dalam asrama. Mengevaluasi dan menindaklanjuti peserta didik dalam menghadapi permasalahan yang dialami peserta didik. Bentuk dari evaluasi dan tindak lanjut peserta didik ini dapat berupa pemberian teguran dan sanksi. Sanksi ringan dapat berupa scorsing dan sanksi berat dapat berupa dikembalikan kepada orang tua. Semaksimalnya sanksi yang dibuat bukan untuk mempermalukan peserta didik tetapi lebih kepada efek jera dan pendekatan spiritual kepada Allah SWT. This Work is licensed under Creative Commons Attribution-ShareAlike 4. 0 International 106 | MuthiAoah Arifah1. Isnaini Nur Khotimah2. Putri Rahmawati3. Safira Widiana Nariswari4. Mahasri Shobabiya5 Keempat hal di atas menjadi bentuk konseling yang dilakukan narasumber dalam membantu siswa dalam beradaptasi dengan lingkungan di asrama. Meski tidak semua siswa pada akhirnya benar-benar mampu direngkuh sebagaimana disebutkan bahwa ada tiga siswa yang keluar karena merasa tidak betah, setidaknya berhasil membantu mempertahankan siswa lainnya dan membuat siswa nyaman dalam melakukan aktivitas di asrama maupun pembelajaran sebagaimana niat tulus mereka dalam belajar atau menuntut ilmu. Peneliti mencari data melalui wawancara dengan peserta didik dengan keheterogenan yang ada, dengan mengambil beberapa sample peserta didik yang bertempat tinggal di luar Jawa, yang bertempat tinggal dekat dengan asrama, peserta didik alumni SMP MTA Gemolong dan Karanganyar dengan berbagai jenjang kelas. Dari hasil wawancara tersebut menunjukkan bahwa peserta didik yang alumni SMP MTA merasa sudah terbiasa dengan kehidupan sosial di asrama, peserta didik yang bertempat tinggal di luar Jawa masih merasa kurang betah karena faktor budaya dan bahasa yang berbeda. Sedangkan peserta didik yang bertempat tinggal dekat dari asrama merasa biasa saja dengan kehidupan di asrama. Jikalau dilihat dari jenjang kelas, kelas X masih ada beberapa peserta didik yang belum betah, kelas XI rata-rata sudah mulai betah dan mulai menemukan teman dekat, sedangkan kelas XII, adaptasi merupakan hal yang bukan menjadi masalah berarti bagi mereka, karena mereka sudah mulai fokus untuk mencapai target persiapan ke perguruan tinggi. Tentu semua faktor pendukung adaptasi juga dari guru bimbingan konseling yang selalu memberi arahan. KESIMPULAN Dalam penelitian ini dapat disimpulkan bahwasannya implementasi bimbingan konseling bagi peserta didik SMA MTA Surakarta berbasis boarding school dapat memudahkan peserta didik dalam mencari ketenangan, ketika mereka jauh dengan rumah kegiatan tersebut dapat membantu peserta didik dalam beradaptasi di lingkungan yang baru. Tidak hanya itu. Peserta didik yang merasa memiliki masalah terhadap lingkungan baru yang ditinggali dapat meminta penyelesaian masalah dan saran dari guru bimbingan konseling. Bimbingan konseling di SMA MTA Surakarta sangat membantu para peserta didik. Mereka merasa mendapat tempat curhat baru, dan mendapat rasa nyaman setelah melakukan konseling kepada guru bimbingan konseling, khususnya peserta didik kelas 10 yang basic sekolahnya dari SMP Negeri. Guru bimbingan konseling SMA MTA Surakarta dapat menjadi pendengar yang baik dalam membantu peserta didik menghadapi masalah dalam beradaptasi dan mencari solusi agar peserta didik tersebut dapat nyaman tinggal di lingkungan baru. Tahapan bimbingan konseling yang diterapkan di SMA MTA Surakarta dinilai berhasil dalam membantu proses adaptasi peserta didik. Yakni dengan tahapan mengidentifikasi masalah dan kebutuhan, melakukan diagnosis, menetapkan pragnosis, pemberian bantuan, evaluasi dan tindak lanjut dengan implementasi berupa pendekatan, pemerian waktu dan tempat, meditasi antar siswa, dan mengevaluasi keberjalanan peserta didik dalam beradaptasi. DAFTAR PUSTAKA