ISSN : 2085-6601 EISSN : 2502-4590 HUBUNGAN DUKUNGAN SOSIAL DENGAN PSYCHOLOGICAL WELL-BEING PADA REMAJA KORBAN SEXUAL ABUSE Suryani Hardjo1*). Eryanti Novita1 Program Studi Magister Psikologi. Program Pascasarjana. Universitas Medan Area E-mail :suryani_hardjo@yahoo. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan sosial dengan psychological well-being pada remaja korban kekerasan seksual. Penelitian dilakukan dengan menggunakan pendekatan kuantitatif korelasional. Populasi penelitian adalah remaja korban kekerasan seksual di kabupaten Langkat yang diketahui berjumlah 32 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling yaitu seluruh anggota populasi dijadikan sampel penelitian. Pengumpulan data penelitian dilakukan dengan menggunakan skala psikologi, yaitu skala psychological well-being dan skala dukungan sosial yang dikembangkan peneliti berdasarkan teori yang relevan. Analisa terhadap data penelitian yang terkumpul dilakukan dengan menggunakan teknik analisa korelasi pearson product Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara dukungan sosial dengan psychological well-being pada remaja korban kekerasan seksual. Semakin tinggi dukungan sosial yang diterima oleh remaja korban kekerasan seksual maka akan semakin tinggi psychological well-being yang mereka miliki. Sebaliknya, semakin rendah dukungan sosial yang diterima oleh remaja korban kekerasan seksual maka akan semakin rendah psychological well-being yang mereka miliki. Kata Kunci : dukungan sosial, psychological well-being, remaja korban kekerasan seksual Abstract This study aimed to determine the relationship between social support and psychological wellbeing in adolescent victims of sexual abuse. The study was conducted using a quantitative correlational approach. The population study was adolescent victims of sexual abuse in the district known Langkat amounted to 32 people. The sampling technique used was total sampling which all members of the population study sampled. The data was collected by using the scale of psychological well-being and social support which were developed based on the theory of relevant researchs. An analysis of the research data collected was done by using pearson product moment correlation analysis. The results showed that there was a significant positive relationship between social support and psychological well-being in adolescent victims of sexual violence. The higher the social support received by adolescent victims of sexual violence, the higher psychological well-being that they had. Conversely, the lower the social support received by adolescent victims of sexual violence, the lower psychological well-being that they had. Keywords : social support, psychological well-being, adolescent victims of sexual abuse ISSN : 2085-6601 EISSN : 2502-4590 Masalah kejahatan adalah problem manusia yang merupakan suatu kenyataan sosial dan produk dari masyarakat yang selalu mengalami perkembangan. Bahkan dapat dikatakan bahwa usia kejahatan seumur dengan manusia karena dimana terdapat masyarakat maka disitu terdapat Salah satu kejahatan yang terjadi dan sangat merugikan serta Akhir-akhir ini masyarakat sering dikejutkan oleh media dengan pemberitaan Daftar Indonesia bertambah dan berbagai macam cara dilakukan oleh para pelaku kejahatan ini. Menurut Direktur LRC KJHAM. Fatkhurozi, pada tahun 1999 hingga 2011 ditemukan perempuan yang dicatat oleh Komnas Perempuan Indonesia. Hampir mencapai seperempat total kasus tersebut adalah kekerasan seksual yaitu sebanyak 93. Jenis kekerasan seksual terbanyak adalah pemerkosaan yang diketahui mencapai 4845 kasus. Sementara itu, jumlah kasus tertinggi pada setiap tahunnya menurut data yang dilansir oleh Legal Resoucer Center untuk Keadilan Jender dan Hak Asasi Manusia (LRC KJHAM) Jawa Tengah adalah pemerkosaan. Pada tahun 2014, terjadi 140 kasus pemerkosaan dengan 172 korban, dan 4 orang di antaranya meninggal. Hal ini menunjukkan betapa banyaknya kasus pemerkosaan dan sexual abuse di Indonesia (Suara Merdeka, 5 Januari 2. Sexual abuse menjadi salah satu bahasan yang cukup menantang pada berbagai permasalahan kehidupan saat ini. Permasalahan sexual abuse semakin banyak ditemui dan dialami anak-anak dan permasalahan tersebut menimbulkan efek yang dapat dirasakan pula sampai usia Kajian klinis dengan dasar teroritis, didukung oleh kalangan praktisi yang menangani kasus sexual abuse, perlu menyajikan berbagai informasi yang mudah diakses tentang intervensi dan treatmen kasus-kasus Pedoman intervensi pelecehan seksual perlu diformat secara ringkas dan konsisten sehingga mudah digunakan oleh praktisi dan profesional yang tertarik menangani kasus sexual abuse. Saat ini penelitian yang mengeksplorasi anak-anak korban kekerasan seksual tergolong cukup Hunter (Gosita, 2. menyebutkan bahwa 80% korban sexual abuse pelakunya adalah pria dan 90% pengalaman seksual melibatkan korban yang masih anakanak. Penelitian beberapa kompleksitas yang terlibat dalam masalah sexual abuse yang dialami anakanak, sedangkan sebagian besar pelecehan seksual yang dialami oleh korban yang berusia dewasa tidak terlalu banyak dilaporkan dibandingkan kasus anak. Selanjutnya Hunter (Gosita, 2. menemukan adanya banyak bukti kualitatif yang berpotensi merugikan anak-anak. Hasilnya antara lain, teridentifikasi ada dampak pelecehan seksual dan tekanan psikologis pada anak-anak, sehingga memunculkan berbagai kecenderungan penyalahgunaan alkohol, perilaku antisosial, resiko bunuh diri, kecemasan tentang seks, dan ketertekanan kehidupan pribadinya. Pengalaman pelecehan seksual anak pun keparahan yang dideritanya. Kompleksitas masalah pelecehan seksual memiliki keterkaitan dengan faktor sosial budaya, frekuensi atau durasi penyalahgunaan yang berdampak pada minimnya dukungan sosial keluarga serta disfungsional perilaku yang Keadaan ini sering membuat khalayak mengalami kesulitan pula untuk membedakan efek dari pelecehan seksual orang-orang hambatan psikososial kronis atau bahkan kemalangan semata. Bentuk-bentuk sexual abuse yang terjadi pada anak adalah sodomi, perkosaan, pencabulan, incest, kekerasan fisik dan psikis, yang jumlahnya mencapai 020 kasus atau setara dengan 62,7 Dari data Komisi Perlindungan ISSN : 2085-6601 EISSN : 2502-4590 Anak Indonesia, kekerasan terhadap anak datanya terus meningkat dari tahun ke Sepanjang tahun 2014 tercatat 2. kasus kekerasan terhadap anak, terjadi peningkatan dari tahun sebelumnya 2010 413 kasus. Pelanggaran terhadap hak anak ini tidak semata-mata pada tingkat kuantitas/jumlah saja yang meningkat, namun terlihat pula semakin pelanggaran hak anak itu sendiri. Dampak kekerasan seksual amat berpengaruh terhadap harga diri anak yang termanifestasikan dalam sikap dan perilaku mereka di masyarakat. Bagi korban yang masih anak-anak akan terbentuk citra diri yang negatif, rasa tak berdaya, perilaku pasif, sulit mempercayai orang lain dan rasa ketidakadilan secara umum. Dibutuhkan penanganan yang serius dan segera dari semua pihak agar budaya kekerasan dapat diubah, dan bagi korban dibutuhkan penanganan secara intensif agar dapat hidup dan menghadapi masa depannya kesejahteraan psikologisnya . sychological well-bein. Menurut Corsini (Solihin, 2. , psychologicalwell-being keadaan subyektif yang baik, termasuk kebahagiaan, self-esteem,dan kepuasan dalam hidup. Psychological well-being adalah tingkat kemampuan individu dalam menerima dirinya apa adanya, membentuk hubungan yang hangat dengan orang lain, mengontrol lingkungan eksternal, memiliki arti dalam hidup, serta merealisasikan potensi dirinya secara kontinyu (Ryff & Keyes. Flannery. Psychological well-being dengan kepuasan pribadi, keterikatan, harapan, rasa syukur, stabilitas suasana hati, pemaknaan terhadap diri sendiri, harga diri, kegembiraan, kepuasan dan optimisme, termasuk juga mengenali kekuatan dan mengembangkan bakat dan minat yang dimiliki (Bartram & Boniwell, dalam Faturochman 2. Psychological well- being memimpin individu untuk menjadi kreatif dan memahami apa yang sedang dilakukannya (Bartram & Boniwell, dalam Faturochman, 2. Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa psychological well-being secara umum dapat diartikan sebagai suatu bentuk kepuasan terhadap aspek-aspek menimbulkan perasaan bahagia dan perasaan damai pada hidup seseorang, namun standar kepuasan pada setiap orang Psychological well-being sendiri dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya perbedaan jenis kelamin, usia, kepuasan kerja, kesehatan, agama, waktu luang, peristiwa dalam hidup, kemampuan atau kompetensi, dukungan sosial dan kepribadian (Eddington & Shuman, dalam Faturochman, 2. Psychological well-being mempengaruhi penyesuaian sosial anak anak/remaja lain yang tidak pernah Psychological well-being adalah konsep multidimensional mengenai sejauh apa fungsi-fungsi psikologisnya secara positif. Berdasarkan teori kesehatan mental, teori psikologi unsur-unsur Ryff (Moningka, well-being. Penerimaan Diri . elf-acceptanc. , yang mengacu kepada bagaimana individu menerima diri dan pengalamannya. Hubungan interpersonal . ositive relation with other. , yang mengacu pada bagaimana individu membina hubungan dekat dan saling percaya dengan orang . Otonomi . , yang mengacu pada kemampuan individu untuk lepas dari pengaruh orang Iain dalam menilai dan Penguasaan Lingkungan . nvironmental master. , yang mengacu pada bagaimana kemampuan individu menghadapi hal-hal di . Tujuan Hidup . urpose in ISSN : 2085-6601 EISSN : 2502-4590 , yang mengacu pada hal-hal yang dianggap penting dan ingin dicapai individu dalam kehidupan. Pertumbuhan Pribadi . ersonal growt. , yang mengacu pada bagaimana individu memandang dirinya berkaitan dengan harkat manusia untuk selalu tumbuh dan berkembang. Bagi korban sexual abuse,langkah awal yang dapat ditempuh untuk membantu mereka adalah dengan mendorong sikap terbuka dan melakukan prevensi intervensi pada pihak sekolah, orang tua dan Intervensi yang tepat diperlukan agar anak-anak tumbuh dan berkembang secara sehat dan bahagia. Sebuah studi yang dilakukan oleh Aizer (Saeroni, 2. terhadap anak berusia lima hingga empat belas tahun yang kurang mendapat dukungan dan perhatian secara sosial dari orang tua maupun memperlihatkan kenakalan, penggunaan obat dan alkohol, dan bermasalah di Peran dukungan sosial menjadi sangat penting ketika anak-anak berusia remaja, terutama ketika anak memasuki periode remaja awal. yang memberikan kesempatan mereka untuk tumbuh, tidak hanya dalam dimensi fisik, tetapi juga dalam kompetensi kognitif dan sosial, otonomi, harga diri, dan keintiman. Karena menghadapi berbagai perubahan yang membutuhkan bantuan dalam menjalani masa ini (Faturochman, 2. Lin. Woefel dan Light . mengemukakan bahwa dukungan sosial merupakan kebutuhan, seperti persetujuan, esteem, dan pertolongan yang diperoleh dari orang-orang yang mempunyai arti bagi House (Cohen dan Syme, 1. membagi dukungan sosial atas empat dukungan penilaian, dukungan informatif. Dukungan emosional merupakan bentuk dukungan sosial berupa empati, kepedulian, dan Dukungan ungkapan hormat secara positif kepada seseorang, dorongan untuk maju atau persetujuan dengan gagasan atau perasaan individu dan perbandingan positif seseorang dengan orang-orang lain. Dukungan informatif merupakan bentuk dukungan sosial berupa pemberian nasehat, saran, petunjuk-petunjuk. Terakhir, merupakan bentuk dukungan sosial yang bersifat langsung, misalnya bantuan peralatan, pekerjaan, dan keuangan. Anak/remaja yang sejahtera baik secara fisik maupun psikologis akan memiliki performa yang baik serta mampu beradaptasi dan melakukan penyesuaian sosial di lingkungannya secara baik. Menurut Maenapothi . , psychological well-being anak/remaja merupakan situasi dimana individu akan merasa senang dan tidak merasa seperti terpaksa, lebih efektif dan memiliki keyakinan dan kepercayaan terhadap orang lain secara baik untuk dirinya sendiri maupun untuk orang lain. Psychological well-being merupakan sebuah gagasan yang dianggap relatif kompleks yaitu keadaan psikologis yang memang sangat dipengaruhi oleh kualitas hubungan remaja tersebut dalam keluarga, orangtua, dan lingkungannya (Ryff, 2. Psychological well-being dapat dicirikan sebagai indikator fungsi mental yang baik dan merupakan suatu dorongan untuk menggali potensi diri individu secara Psychological well-being meningkatkan efektivitas dalam berbagai bidang kehidupan salah satunya adalah dalam penyesuaian sosial. Remaja yang mempunyai psychological well-being yang baik akan memiliki kemampuan dalam melakukan penyesuaian yang baik. Hasil penelitian Graham dan Jordan mengungkapkan adanya perbedaan kesejahteraan psikologis pada anak-anak korban sexual abuse dari keluarga dengan anak-anak yang memiliki perhatian dan dukungan dari orang tua, masyarakat. Anak-anak dari keluarga yang tidak peduli cenderung mengalami gejala ISSN : 2085-6601 EISSN : 2502-4590 depresif dan memiliki tingkat kesejahteraan psikologis yang lebih rendah. Mereka juga berperilaku destruktif seperti melakukan kekerasan di sekolah, putus sekolah, kebut-kebutan, mengkonsumsi minuman keras, seks bebas, hingga menarik diri dari lingkungan. Dari uraian tersebut di atas, peneliti tertarik untuk meneliti hubungan antara dukungan sosial dengan psychological well-being pada korban sexual abuse di Kabupaten Langkat. METODE PENELITIAN Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, yaitu penelitian yang datanya adalah berupa angka-angka yang akan dianalisis dengan metoda statistika tertentu untuk membuktikan hipotesis yang diajukan. Populasi penelitian adalah remaja korban sexual abuse di kabupaten Langkat yang diketahui berjumlah 32 orang berdasarkan data yang diperoleh dari P2TP2A Langkat. Sementara itu, teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah total sampling yaitu seluruh anggota populasi dijadikan sampel penelitian. Pengumpulan dilakukan dengan menggunakan skala Skala pengumpulan data yang menggunakan daftar pertanyaan yang menggunakan daftar pertanyaan yang diberikan kepada subjek agar dapat mengungkap aspekaspek psikologis yang ingin diketahui. Adapun skala psikologi yang digunakan sebagai instrumen pengumpulan data adalah sebagai berikut: Skala psychological well-being: disusun berdasarkan dimensi psychological well-being yang dikemukakan oleh Ryff (Moningka, 2. yaitu penerimaan diri . elf-acceptanc. , positif dengan orang lain . ositive relationship with other. , otonomi . , penguasaan lingkungan . nvironmental master. , tujuan hidup . urpose in lif. , dan pertumbuhan pribadi . ersonal growt. Setelah melalui uji coba, skala terdiri dari 18 aitem dengan koefisien korelasi rbt = 0,315 sampairbt = 0,865. Skala dukungan sosial: berdasarkan aspek-aspek dukungan sosial menurut House (Cohen dan Syme. Setelah melalui uji coba, skala terdiri dari 45 aitem dengan koefisien korelasi rbt = 0,303 sampai rbt = 0,607. Aitem-aitem dalam dua skala di atas favourable dan unfavourable dalam format Likert. Setiap aitem terdiri dari empat pilihan jawaban, yaitu: Sangat Setuju (SS). Setuju (S). Tidak Setuju (TS), dan Sangat Tidak Setuju (STS). Penilaian yang diberikan kepada masing-masing jawaban subjek pada setiap pernyataan favourable adalah : jawaban Sangat Setuju (SS) mendapat nilai 4, jawaban Setuju (S) mendapat nilai 3, jawaban Tidak Setuju (TS) mendapat nilai 2, dan jawaban Sangat Tidak Setuju (STS) mendapat nilai 1. Untuk pernyataan yang bersifat unfavourable, penilaian yang diberikan adalah : jawaban Sangat Setuju (SS) mendapat nilai 1, jawaban Setuju (S) mendapat nilai 2, jawaban Tidak Setuju (TS) mendapat nilai 3, dan jawaban Sangat Tidak Setuju (STS) mendapat nilai 4. Penyusunan skala ini akan disusun sendiri oleh peneliti. Analisa terhadap data penelitian yang terkumpul dilakukan dengan menggunakan teknik analisa korelasi Pearson product moment, dengan tujuan utama yakni ingin melihat hubungan antara dukungan sosial dengan psychological-well being. Sebelum menggunakan teknik analisa Pearson product moment, maka terlebih dahulu dilakukan uji asumsi normalitas dan HASIL PENELITIAN Berdasarkan Pearson moment,dapat diketahui bahwa terdapat hubungan positif yang signifikan antara dukungan sosial dan psychological well16 ISSN : 2085-6601 EISSN : 2502-4590 xy = 0,679 . p < 0,. Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin tinggi dukungan sosial maka akan semakin tinggipsychological well-being, sebaliknya semakin rendah dukungan sosial maka akan semakin rendah psychological wellbeing. Dengan demikian maka hipotesis yang telah diajukan dalam penelitian ini dinyatakan diterima. Koefisien determinan . dari hubungan di atas adalah sebesar r2 = 0,461. Dengan demikian dapat ditarik kesimpulan bahwa kontribusi dukungan wellbeingadalah sebesar sebesar 46,1% sementara sisanya . ,9%) dipengaruhi oleh variabel lain yang diteliti dalam penelitian ini. Tabel berikut merupakan rangkuman hasil perhitungan r product Tabel 1. Rangkuman Hasil Analisis Korelasi Product Moment Statistik Koefisien Koef. p BE% Ket Det . XAeY 0,679 0,461 0,017 59,5 S Keterangan : = Dukungan Sosial = Psychological Well Being = Koefisien korelasi antara variabel X = Koefisien determinan X terhadap Y = Peluang terjadinya kesalahan BE% = Bobot sumbangan efektif X terhadap Y dalam persen = Signifikan Kriteria menentukan tinggi rendahnya dukungan sosial dan psychological-well being yang dimiliki para remaja korban kekerasan seksual adalah prinsip kurva normal yang bidang/daerah menggunakan mean hipotetik sebagai titik tengah dalam kurve normal. Selanjutnya besar satu bidang ditentukan oleh besarnya satu standar deviasi (SD). Nilai yang berada di bawah batas nilai -2SD dinyatakan sangat rendah, nilai yang berada di antara batas nilai -2SD sampai batas nilai -1SD dinyatakan rendah, nilai yang berada di antara batas nilai -1SD sampai 1SD dinyatakan normal/sedang, nilai yang berada di antara batas nilai 1SD sampai nilai 2SD dinyatakan tinggi, dan nilai yang berada di atas 2SD dinyatakan sangat Berdasarkan hasil perhitungan diketahui bahwa variabel dukungan sosial memiliki standar deviasi sebesar 121,49 dan variabel psychological well-being memiliki standar deviasi sebesar 5,804. Selanjutnya, perbandingan antara mean hipotetik dan mean empirik berdasarkan data yang terkumpul adalah sebagai Tabel 2. Hasil Perhitungan Nilai Rata-rata Hipotetik dan Nilai Rata-rata Empirik VARIABEL Dukungan Psychological well-being NILAI RATARATA KETERANGAN Hipotetik Empirik Sedang 112,5 121,49 41,65 Sedang Berdasarkan perbandingan kedua nilai rata-rata di atas . ean hipotetik dan mean empiri. , maka dapat dinyatakan bahwa subjek penelitian ini memiliki derajat dukungan sosialdan psychological wellbeing yang berada di kategori sedang. DISKUSI Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yangsignifikan antara dukungan sosial dengan psychological wellbeingpada remaja korban sexual abuse di kabupaten Langkat. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh TusyaAoni . yang bahwa ada hubungan positif antara dukungan sosial dengan kesejahteraan Penelitian ini lebih difokuskan pada terhadap psychological well-being pada remaja korban sexual abuse di kabupaten Langkat. Bila korban kekerasan seksual mendapatkan dukungan sosial dari keluarga orang-orang kemungkinan besar korban tidak merasa terkucil dan terpisah dari kelompok. Perasaan terkucil atau terpisah yang ISSN : 2085-6601 EISSN : 2502-4590 dialami para korban kekerasan sekssual rentan memunculkan rasa kecewa, bingung, kesepian, ragu-ragu, khawatir, takut, putus asa, ketergantungan, kekosongan, dan Korban yang merasa diterima oleh lingkungan akan merasa seperti remaja lain yang tidak terlihat cacat cela oleh masyarakat sehingga ia akan memiliki psychological well-being dalam derajat yang lebih besar. Seperti sebelumnya, salah satu faktor yang mempengaruhi psychological well-being adalah dukungan sosial (Ryff &Keyes. Dukungan sosial adalah kehadiran orang lain yang dapat membuat individu diperhatikan, dan merupakan bagian dari kelompok sosial (Taylor, 2. Dukungan ini dapat berasal dari berbagai sumber diantaranya orang yang dicintai seperti orang tua, pasangan, anak, teman, dan (Rietschlin, dalam Taylor, 2. Individu membangun dan memelihara hubungan sosial sehingga mendorong mereka untuk memilih dukungan sosial yang berbeda untuk fungsi yang berbeda, misalnya orang-orang diandalkan untuk dukungan emosional, sementara yang lain untuk dukungan Melihat dukungan sosial terhadap psychological well-being yang ditemukan dalam penelitian ini adalah sebesar 46. 1%, berarti masih 9% pengaruh dari faktor lain namun tidak diteliti dalam penelitian ini, yaitu perbedaan jenis kelamin, usia, kepuasan kerja, kesehatan, agama, waktu luang, peristiwa dalam hidup, kemampuan atau kompetensi, dan kepribadian. KESIMPULAN Temuan penelitian menunjukkan adanya hubungan positif yang signifikan psychological well-being pada remaja korban sexual abuse di kabupaten Langkat. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi dukungan sosial yang diterima remaja korban sexual abuse, maka akan semakin tinggi psychological wellbeing yang dimilikinya. Sebaliknya, semakin rendah dukungan sosial yang diterima remaja korban sexual abuse, maka akan semakin rendah pula psychological wellbeing yang dimilikinya. Penelitian ini menemukan pula bahwa kontribusi dukungan sosial terhadap psychological well-being remaja korban kekerasan seksual adalah sebesar 46,1% masih terdapat sebesar 53,9% psychological well-being tersebut. Faktor perbedaan jenis kelamin, usia, pendidikan, pendapatan, pernikahan, kepuasan kerja, kesehatan, agama, waktu luang, peristiwa dalam hidup, kemampuan atau kompetensi, dan kepribadian. DAFTAR PUSTAKA Adiputra. Moningka, . Gambaran Psychological Wellbeing pada Perempuan Dewasa Awal. Jurnal Psikologi. Vol 05. Jakarta: Universitas Bunda Mulia Anonimous. LRC KJHAM.