EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 3 No. 1 Februari 2023 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 PENINGKATAN HASIL BELAJAR SISWA DENGAN METODE INQURI MATERI KINEMATIKA ANALISA VEKTOR PADA KELAS XI IPA 1 SMAN 10 BOGOR SUMARTI SMA Negeri 10 Kota Bogor e-mail: sumarti50@guru. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa dengan menggunakan metode inquiry materi kinematika analisa vektor pada kelas XI IPS 1 SMAN 10 Bogor. Penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas. Penelitan ini dilaksanakan di SMA Negeri 10 Bogor kelas XI IPA 1 semester 1. Adapun subyek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri 10 Bogor yang berjumlah 38 orang terdiri dari laki-laki 18 orang dan perempuan 20 orang. Hasil belajar mata pelajaran fisika khususnya materi Kinematika Gerak dikelas XI IPA 1 SMA Negeri 10 Bogor sebelum menggunakan metode Inquiry mempunyai nilai rata-rata 43,86. Pada saat pembelajaran diubah menggunakan metode Inquiry, rata-rata hasil belajar siswa meningkat menjadi 80,21 pada siklus I dan 82,75 pada siklus II Kata Kunci: Hasil Belajar. Metode Inquri. Analisa Vektor ABSTRACT This study aims to improve student learning outcomes by using the inquiry method of vector analysis kinematics material in class XI IPS 1 SMAN 10 Bogor. This research is a classroom action research. This research was conducted at SMA Negeri 10 Bogor class XI IPA 1 semester The subjects of this study were students of class XI IPA 1 SMA Negeri 10 Bogor, totaling 38 people consisting of 18 men and 20 women. The results of studying physics subjects, especially the Kinematics of Motion material in class XI IPA 1 SMA Negeri 10 Bogor before using the Inquiry method, have an average value of 43. When learning is changed using the Inquiry method, the average student learning outcomes increase to 80. 21 in cycle I and 82. in cycle II Keywords: Learning Outcomes. Inquiry Method. Vector Analysis PENDAHULUAN Pembelajaran pada hakekatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik (Mulyasa, 2002:. Dalam pembelajaran, tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan tingkah laku. Djamarah, dkk . mengemukan : AyBelajar adalah proses perubahan perilaku berkat pengalaman dan latihanAy. Belajar merupakan kegiatan aktif peserta didik . ktivitas belajar peserta didi. dalam membangun makna atau pemahaman, maka guru perlu memberikan dorongan kepada peserta didik dengan menggunakan otoritasnya dalam membangun gagasan (Depdiknas : 2. Akan tetapi proses pembelajaran yang dilakukan oleh guru cenderung kurang memperhatikan aktivitas siswa dan lebih berorientasi pada pencapaian target materi kurikulum, artinya lebih mementingkan pada penghapalan konsep bukan pada pemahaman konsep. Hal ini dapat dilihat dari kegiatan pembelajaran di dalam kelas yang selalu didominasi oleh guru. Dalam penyampaian materi, biasanya guru menggunakan metode ceramah, dimana siswa hanya duduk, mencatat, dan mendengarkan apa yang disampaikannya dan sedikit peluang bagi siswa untuk bertanya. Mengingat pentingnya fisika, maka semua materi fisika harus dikuasai dengan baik. Hal ini ditinjau dari tujuan umum diberikannya fisika dijenjang pendidikan menengah adalah Copyright . 2023 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 3 No. 1 Februari 2023 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 mempersiapkan siswa agar sanggup menghadapi perubahan keadaan didalam kehidupan dan dapat menggunakan fisika dalam kehidupan sehari-hari dan dalam mempelajari berbagai ilmu Proses pembelajaran yang berlangsung di kelas XI SMAN 10 Bogor sedikit sekali yang memperoleh hasil belajar yang memenuhi kriteria ketuntasan minimal khususnya pada mata pelajaran fisika, pada pokok bahasan Kinematika Gerak yang diberikan di kelas XI IPA 1 semester 1 dengan materi kinematika dengan metode konvensional , nilai rata-ratanya 64,36 sedangkan KKM yang ditentukan 75. Siswa yang mendapatkan nilai di sama dengan atau di atas KKM hanya 17 orang . %) sedangkan siswa yang mendapat nilai di bawah KKM 16 orang . %). Sehingga hasil belajar sebagian besar tidak tuntas dalam pembelajaran fisika di Siswa kurang aktif bertanya, menanggapi dan menjawab pertanyaan. Gagasan peneliti, motode pembelajaran yang sesuai untuk memecahkan masalah ini adalah metode inquiry. Ada banyak macam metode yang dapat digunakan oleh guru diantaranya adalah Metode inquiry. Metode inquiry adalah metode yang mampu menggiring peserta didik untuk menyadari apa yang telah didapatkan selama belajar. Metode inquiry diambil dari nama Sokrates. Nama Sokrates diambil sebagai metode sebab metode itu berasal dari cara Sokrates mengajar murid-muridnya Inquiry berasal dari bahasa Inggris inquiry yang artinya penyelidikan. Definisi penyelidikan menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia . adalah usaha memperoleh informasi melalui pengumpulan data. proses, cara, perbuatan menyelidiki. Inquiry dapat diartikan sebagai proses bertanya dan mencari tahu jawaban terhadap pertanyaan ilmiah yang diajukannya. Pertanyaan ilmiah adalah pertanyaan yang dapat mengarahkan pada kegiatan penyelidikan terhadap objek pertanyaan. Dengan kata lain, inquiry adalah suatu proses untuk memperoleh dan mendapatkan informasi dengan melakukan observasi atau eksperimen untuk mencari jawaban atau memecahkan masalah terhadap pertanyaan atau rumusan masalah dengan menggunakan kemampuan berpikir kritis dan logis (Amri, 2. Peneliti cenderung menggunakan metode inquiry, untuk menciptakan siswa lebih aktif dan dapat meningkatkan hasil belajar. Maka dari itu penulis tertarik untuk menerapkan metode inquiry untuk mengatisipasi kendala yang timbul pada pelaksanaan pembelajaran fisika di kelas XI SMAN 10 Bogor, khususnya pada pokok bahasan kinematika gerak. Peneliti memperkirakan dengan penerapan metode inquiry ini dapat meningkatkan hasil belajar fisika pada pada materi kinematika analisa vektor kelas XI SMAN 10 Bogor dan menjadikan pelajaran fisika menjadi pelajaran yang menyenangkan bagi siswa serta dapat meningkatkan hasil belajarnya. METODE PENELITIAN Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode Inquiry melalui Penelitian Tindakan Kelas, yaitu suatu proses untuk memperoleh dan mendapatkan informasi dengan melakukan observasi atau penyelidikan untuk mencari jawaban atau memecahkan masalah terhadap pertanyaan atau rumusan masalah dengan menggunakan kemampuan berpikir kritis dan logis. Penelitan ini dilaksanakan di SMA Negeri 10 Bogor kelas XI IPA 1 semester 1. Adapun subyek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri 10 Bogor yang berjumlah 38 orang terdiri dari laki-laki 18 orang dan perempuan 20 orang. Prosedur tindakan kelas merupakan proses pengkajian melalui sistem yang berdaur ulang dari berbagai kegiatan pembelajaran yang terdiri atas empat tahap yang saling terkait dan Tahap-tahap tersebut yaitu . perencanaan, . pelaksanaan, . pengamatan, dan . Copyright . 2023 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 3 No. 1 Februari 2023 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Dari hasil pembelajaran menggunakan metode inquirydan jawaban soal-soal evaluasi yang diberikan, kemudian penulis menggunakan jawaban-jawaban tersebut untuk mengetahui apakah pembelajaran matematikamenggunakan metodeinquiry tersebut dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri 10 Bogor. Berikut ini adalah data yang diperoleh dari hasil pra siklus, siklus pertama, dan siklus kedua. Tabel 1. Rekapitulasi Nilai Pra Siklus. Siklus I, dan Siklus II Hasil Belajar Nama Siswa pra siklus siklus 1 Adinda Lailatus Sa'diyyah Adna Hanifia Ahmad Fauzan Rahman Anisa Luthfianti Anggia Adita Mawarsari Aringga Wicaksono Arsyaf Azwar Muchtar Audelia Thalita R Aulia Zahratun Nisa Balqis Rofiqoh Chasanah Bergita Gusti Lipu Elsa Widyastuti Fadzar Bagas Akbar Faiz Maulani Ilmawan Georgius Christohegar Z Ghaitsa Safirah Ghina Amalia Azzahra Ilham Pradana Iyang Aneka Wibowo Izza Adhima Tama Jati Yudha Prakasa Katili Jiwo Adi Wiyono Meutia Nur Shabrina Michael Febrian Muhammad Fikri Maulana Muhammad Insani Nabila Salsabila Septria Rahma Firsty Fitriyana Raisya Supriati Sholihat Copyright . 2023 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 3 No. 1 Februari 2023 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Ratna Fathma Sari Rifky Rafidena Ashadi Rifqy Pratama Nugraha Rizki Imanuel Shafira Budiasih Sheila Syahdania Yulianti Shinta Maharani Soraya Zulfa Supriana Syahid Yazid Al-Haq Jumlah Nilai Rata-rata Nilai Tertinggi Nilai Terendah Prosentase ketuntasan 63,16 82,76 Dan bila disajikan dalam gambar adalah sebagai berikut: Pra Siklus Gambar 1. Peningkatan Prosentase Ketuntasan Pembelajaran Tiap Siklus Berdasarkan hasil penelitian selama dua siklus yang bertujuan untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada Bunga. Peluruhan dan Pertumbuhan, terlihat pada pelaksanaan siklus pertama dan kedua telah menunjukkan peningkatan pada proses pembelajaran Guru mengarahkan dan menjelaskan bagaimana siswa belajar dengan baik. Saat proses pembelajaran berlangsung, guru mengelola kelas secara interaktif, membimbing siswa, dan memotivasi siswa untuk aktif berperan dalam kegiatan pembelajaran. Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa telah ada peningkatan aktivitas siswa dalam pembelajaran Hal ini dapat dilihat dari peningkatan rata-rata nilai hasil belajar dari pra siklus, siklus I, dan siklus II yang tersaji pada gambar 2 berikut. Copyright . 2023 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 3 No. 1 Februari 2023 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 100,000 80,000 60,000 40,000 79,21 Pra Siklus 20,000 Nilai Rata-rata ,000 Gambar 2. Peningkatan Rata-Rata Nilai Siswa Tiap Siklus Dari tabel dan gambar tersebut terlihat pada pra siklus, rata-rata hasil belajar siswa adalah 63,16 dan menjadi 79,2 pada siklus 1 dan akhirnya meningkat menjadi 82,76. Peningkatan hasil belajar siswa juga ditunjang oleh peningkatan nilai terendah dan nilai tertinggi siswa setiap siklus seperti yang tergambar pada gambar 4 berikut. 60 orang Nilai Tertinggi Nilai Terendah Pra siklus Siklus 1 Siklus 2 Gambar 3. Peningkatan Nilai Tertendah dan Tertinggi Tiap Siklus Dari gambar 3 di atas diperoleh bahwa nilai terendah pada pra siklus adalah 40 kemudian meningkat menjadi 60 pada siklus I dan pada siklus II nilai terndahnya tetap 70. Selanjutnya nilai tertinggi pada pra siklus adalah 85 kemudian meningkat menjadi 100 pada siklus I dan tetapi 100 pada siklus II. Terlihat pula peningkatan kerjasama dalam kelompok yang disajikan dalam gambar 32 orang 20 orang SIKLUS 1 SIKLUS 2 2 orang BAIK CUKUP KURANG Gambar 4. Peningkatan Keaktifan Siswa Dalam Kerjasama Kelompok Copyright . 2023 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 3 No. 1 Februari 2023 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 Dari gambar terlihat peningkatan keaktifan siswa dalam kerjasama kelompoknya. Pada siklus 1 ada 20 orang . %) yang bernilai baik, 12 orang . %) bernilai cukup dan 6 orang . %) yang masih kurang, dan pada siklus II menjadi 32 orang . %) bernilai baik, 4 orang . %) bernilai cukup dan hanya 2 orang . %) yang masih kurang antusias dalam kerjasama Dan peningkatan keaktifan siswa dalam kerjasama antar siswa dalam kelas disajikan dalam gambar 5 berikut : Siklus 1 Siklus 2 BAIK CUKUP KURANG Gambar 5. Peningkatan Keaktifan Siswa Dalam Kerjasama Antar Siswa Dalam Kelas Dari gambar terlihat peningkatan keaktifan siswa dalam kerjasama antarsiswa dalam Pada siklus 1 ada 17 orang . %) yang bernilai baik, 15 orang . %) bernilai cukup dan 6 orang . %) yang masih kurang, dan pada siklus II menjadi 31 orang . %) bernilai baik, 5 orang . %) bernilai cukup dan hanya 2 orang . %) yang masih kurang antusias dalam kerjasama antarsiswa dalam kelasnya. Peningkatan keaktifan siswa dalam bekerjasama antar teman dalam kelasnya menunjukkan siswa makin antusias menikmati pembelajaran dengan menggunakan metode Inquiry. Adapun peningkatan keaktifan siswa dalam bertanya disajikan dalam gambar 6 berikut: SIKLUS 1 SIKLUS 2 BAIK CUKUP KURANG Gambar 6. Peningkatan keaktifan siswa Data keaktifan siswa pada gambar 6 menunjukkan bahwa pada siklus I 14 siswa . %) yang tingkat keaktifannya baik, 15 siswa . %) cukup aktif dan 9 siswa . %) kurang aktif Copyright . 2023 EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan dan Pengajaran Vol. 3 No. 1 Februari 2023 E-ISSN : 2775-2593 P-ISSN : 2775-2585 pada saat pembelajaran. Setelah guru memperbaiki hasil refleksi pada siklus I maka pada siklus II terlihat 29 orang . %) siswa yang aktif pada saat pembelajaran dan 7 orang siswa yang cukup aktif pada saat pembelajaran serta hanya 2 . %) siswa yang tidak aktif pada saat Pembahasan Adanya peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa pada materi kinematika analisa vector di kelas XI IPA 1 SMA Negeri 10 Bogor. Metode Inquiry dalam pembelajaran membuat siswa tidak bosan dan jenuh sebaliknya merasa senang sehingga aktivitas bertanyar mereka Hal ini terbukti pada siklus I terlihat peningkatan keaktifan siswa dalam kerjasama Pada siklus 1 ada 20 orang . %) yang bernilai baik, 12 orang . %) bernilai cukup dan 6 orang . %) yang masih kurang, dan pada siklus II menjadi 32 orang . %) bernilai baik, 4 orang . %) bernilai cukup dan hanya 2 orang . %) yang masih kurang antusias dalam kerjasama kelompoknya. Juga terlihat peningkatan keaktifan siswa bekerjasama antarsiswa dalam kelasnya ada 17 orang . %) yang bernilai baik, 15 orang . %) bernilai cukup dan 6 orang . %) yang masih kurang, dan pada siklus II menjadi 31 orang . %) bernilai baik, 5 orang . %) bernilai cukup dan hanya 2 orang . %) yang masih kurang antusias dalam kerjasama antarsiswa dalam kelasnya. Dan terjadi juga peningkatan keaktifan siswa dalam bertanya. Pada siklus I 14 siswa yang tingkat keaktifannya baik, 15 cukup aktif dan 9 siswa kurang aktif pada saat pembelajaran. Setelah guru memperbaiki hasil refleksi pada siklus I maka pada siklus II 29 orang siswa yang aktif pada saat pembelajaran dan 7 orang siswa yang cukup aktif pada saat pembelajaran serta 2 siswa yang tidak aktif pada saat pembelajaran. Dengan banyaknya siswa yang aktif pada saat pembelajaran menunjukkan bahwa guru saat menerapkan materi dengan metode inquiry sudah berhasil melibatkan siswa dalam Hal tersebut berpengaruh terhadap hasil belajar yang dicapai siswa. Dengan banyaknya siswa yang aktif pada saat pembelajaran menunjukkan bahwa guru saat menerapkan materi dengan metode inquiry sudah berhasil melibatkan siswa dalam pembelajaran. Pembelajaran metode inquiryini dapat meningkatkan hasil belajar siswa karena pembelajaran dengan menggunakan metode inquirydalam pembelajaran menjadi lebih aktif, kreatif, dan menyenangkan bagi siswa. Selain itu pula pembelajaran dengan metode inquiry menjadi lebih efektif. Akibatnya informasi yang diterima siswa akan diingat lebih lama. Peningkatan hasil belajar yang signifikan antara sebelum dan sesudah belajar dengan menggunakan metode inquiry karena dalam pembelajaran dengan menggunakan metode inquiry, siswa merasa tidak membosankan karena pembelajarannya menyenangkan bagi Hal tersebut membuat pelajaran menjadi melekat lebih lama dan baik secara langsung maupun tidak langsung, membuat siswa menjadi paham materi Kinematika Gerak. KESIMPULAN Hasil belajar mata pelajaran fisika khususnya materi Kinematika Gerak dikelas XI IPA 1 SMA Negeri 10 Bogor sebelum menggunakan metode Inquiry mempunyai nilai rata-rata 43,86. Pada saat pembelajaran diubah menggunakan metode Inquiry, rata-rata hasil belajar siswa meningkat menjadi 80,21 pada siklus I dan 82,75 pada siklus II DAFTAR PUSTAKA