Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 21 No. Oktober 2024 P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 MEMBANGUN KONSTRUKSI SOSIAL ANAK MELALUI PENDIDIKAN KELUARGA PERSPEKTIF AL-QURAoAN: ANALISIS PEMIKIRAN MUHAMMAD HAMKA DALAM TAFSIR AL-AZHAR BUILDING CHILDREN'S SOCIAL CONSTRUCTION THROUGH FAMILY EDUCATION FROM AN AL-QUR'AN PERSPECTIVE: AN ANALYSIS OF MUHAMMAD HAMKA'S THOUGHTS IN TAFSIR AL-AZHAR Robiatul Adawiyah1. Muhammad Nurfaizi Arya Rahardja 2. Ulfah Salwa Hasibuan3 Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Jl. Ir. Djuanda No. 95 Ciputat, 15412. Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia. Jl. Dr. Setiabudhi No. 229 Bandung 40154 Jawa Barat. Indonesia e-mail: rahardja1808@upi. ABSTRACT This research aims to reveal and know the role of family education in building social construction offered by Hamka in Tafsir al-Azhar as an effort to provide solutions to the community regarding the attitude that families need to take in implementing education. This research is qualitative by using library research to obtain research data and is descriptive-applicative. The main source in this research is Tafsir al-Azhar by Hamka and the secondary sources in this research are articles, scientific works, and documents relevant to this research. The results of this study are, first, according to Hamka to justify a society must justify its main joints, namely a person's soul, second, according to Hamka, fathers and mothers have an important role in the family to shape the soul of a child and parents must ensure that they provide good education to children so that children will be able to live social life in society well. Keyword: Family Education. Social Construction. Muhammad Hamka. Tafsir al-Azhar ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap dan mengetahui peran pendidikan keluarga dalam membangun konstruksi sosial yang ditawarkan Hamka dalam Tafsir al-Azhar sebagai upaya untuk memberikan solusi kepada masyarakat terkait sikap yang perlu diambil keluarga dalam melaksanakan pendidikan. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menggunakan library research untuk mendapatkan data penelitian dan bersifat deskriptif-aplikatif. Sumber utama dalam penelitian ini adalah Tafsir al-Azhar karya Hamka dan sumber sekunder dalam penelitian ini adalah artikel, karya ilmiah, dan dokumen yang relevan dengan penelitian ini. Hasil dari penelitian ini adalah, pertama menurut Hamka untuk membenarkan suatu masyarakat haruslah membenarkan sendi utamanya, yaitu jiwa seseorang, kedua, menurut hamka ayah dan ibu memiliki peran yang penting dalam keluarga guna membentuk jiwa seorang anak dan orang tua haruslah memastikan memberikan pendidikan yang baik kepada anak agar anak kelak mampu menjalani kehidupan sosial di masyarakat dengan baik. Kata Kunci: Pendidikan Keluarga. Konstruksi Sosial. Muhammad Hamka. Tafsir al-Azhar FIRST RECEIVED: 05 May 2024 REVISED: 16 October 2024 PENDAHULUAN Dalam dunia pendidikan anak, keluarga memegang peran yang sangat penting dalam upaya pembentukan kepribadian anak (Marlin & Rusdarti, 2016. Rahardja. Fahrudin, et al. Terlebih di era revolusi industri 4. ACCEPTED: 16 October 2024 PUBLISHED: 31 October 2024 kemajuan teknologi berkembang begitu Tidak bisa dipungkiri bahwa di era digital saat ini, masyarakat tampak tidak terlepas dari pengaruh berbagai jenis aplikasi media sosial, termasuk di kalangan anak-anak (Adawiyah et al. , 2. Tentu perkembangan Robiatul Adawiyah. Muhammad Nurfaizi Arya Rahardja. Ulfah Salwa Hasibuan: Membangun Konstruksi Sosial Anak Melalui Pendidikan Keluarga Perspektif Al-QurAoan: Analisis Pemikiran Muhammad Hamka dalam Tafsir Al-Azhar Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 21 No. Oktober 2024 teknologi selain memiliki dampak positif juga memiliki dampak negatif. Salah satu dampak negatif yang dapat dilihat yaitu berdasarkan pada survei dari Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan bahwa 97 persen dari 4. pelajar SMP dan SMA di 12 kota telah mengakses konten pornografi (Setyawan. Begitupula pada survei yang dilakukan oleh BKKBN yang dilansir KOMPAS. TV. Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menyoroti adanya perubahan dalam usia remaja saat pertama kali melakukan hubungan seksual. Menurut survei tahun 2008, 60 persen remaja melakukannya untuk pertama kali pada usia 21 tahun. Namun, survei tahun 2023 menunjukkan bahwa 60 persen remaja sekarang melaporkan pengalaman tersebut pada usia 16Ae17 tahun (Team, 2. Survei SDKI yang dilansir dalam lama website id juga menunjukkan bahwa pada tahun 2017 terdapat 55% remaja pria dan 1% remaja wanita diketahui merokok, 15% remaja pria dan 1% remaja wanita menggunakan narkoba, 5% remaja pria mengonsumsi alkohol, serta 8% remaja pria dan 1% remaja wanita pernah terlibat dalam (Superadmin, 2. Dari data-data tersebut, terlihat bahwa berbagai bentuk kemerosotan moral telah terjadi dikalangan remaja. Menyadari kenyataan kemerosotan moral yang banyak terjadi, maka pendidikan anak dalam keluarga menjadi peran yang sangat penting dalam membentuk dan mempengaruhi anak (Gunarsa & Gunarsa. Ningtias & Fahrudin, 2. Ketika orang tua memberikan pola asuh yang baik kepada anak baik secara kepribadian dan perilaku sosial, maka hal itu akan berpengaruh terhadap perkembangan sosial P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 anak (Firman & Anhusadar, 2022. Zen et al. Oleh sebab itu keluarga memiliki peran yang sangat penting bagi pertumbuhan anak, karena secara tidak langsung apa yang dicontohkan dan diajarkan orang tua akan membentuk karakter sosial seorang anak. Dalam konsep sosial, pola asuh yang diberikan orang tua kepada anaknya secara tidak langsung akan melahirkan proses pembudayaan . , hal itu karena tanpa disadari sudah ditanamkan dan mengakar kepada anak sejak kecil (Ayu et al. Gunarsa & Gunarsa, 2. Pada mempengaruhi enkulturasi budaya seorang anak, seperti keadaan lingkungan, kebiasaan masyarakat, dan budaya. Namun keluarga merupakan media enkulturasi pertama bagi seorang anak. Seorang anak sejak kecil menghabiskan waktunya bersama dengan keluarga dan mendapatkan pengaruh sosial dari keluarga, seperti norma sosial masyarakat (Azzahra, 2024. Rahardja et al. , 2. Namun kesadaran akan pentingnya pendidikan anak dalam keluarga masih belum dapat dipahami dan dilaksanakan dalam kehidupan sosial masyarakat. Adapun yang menjadi faktor penyebab konsep pendidikan anak dalam keluarga masih belum dapat dilaksanakan secara optimal adalah, pertama masih kurangnya pembinaan karakter anak secara berkesinambungan, kedua motivasi belajar yang masih belum sepenuhnya mendorong orang tua, ketiga minimnya budaya literasi, dan keempat belum memadainya persiapan kebutuhan belajar (Ilyasa et al. , 2024. Siswantara, 2. Terlebih di zaman di mana digitalisasi dan modernisasi sudah sangat cepat, pentingnya pendidikan anak guna membina karakter dan kepribadian anak menjadi sangat penting untuk diperhatikan. Hal ini Robiatul Adawiyah. Muhammad Nurfaizi Arya Rahardja. Ulfah Salwa Hasibuan: Membangun Konstruksi Sosial Anak Melalui Pendidikan Keluarga Perspektif Al-QurAoan: Analisis Pemikiran Muhammad Hamka dalam Tafsir Al-Azhar Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 21 No. Oktober 2024 dikarenakan seiring dengan semakin majunya peradaban, maka tantangan terbesar yang akan dihadapi adalah terjadinya degradasi akhlak dan moral. Faulinda Ely Nastiti . dalam penelitiannya menyatakan bahwa menurunnya akhlak manusia. Hal ini sebagaimana yang di dikatakan Pristian Hadi Putra . yang dalam penelitiannya merupakan tantangan terbesar di era 5. Terkait dengan pendidikan anak dalam keluarga, banyak dari para peneliti yang sudah melakukan penelitian terkait hal ini, seperti Rahardja, dkk. (Rahardja. Fahrudin, et , 2. dalam penelitiannya menyatakan bahwa pendidikan anak dalam keluarga merupakan hal yang sangat penting bagi pertumbuhan dan penanaman akhlak mulia bagi anak. Arini Indah . dalam penelitiannya mengatakan keluarga berperan penting dalam penumbuhan suatu paham sosial kemasyarakatan dan keagamaan dalam sebuah keluarga. Uswatun Hasanah, dkk . menyatakan bahwa keluarga berperan membentuk kebiasaan dan karakter seorang anak sehingga kemudian akan mempengaruhi anak dalam kehidupan sosialnya. Heppy Hyma Puspytasari . menyatakan dalam melakukan pendidikan anak, banyak hal yang dapat dilakukan orang tua, seperti memberi contoh yang baik, memberi tanggung jawab, mengawasi, dan mengarahkan anak agar selektif dalam bersosial. Berdasarkan kajian terdahulu terkait dengan tema penelitian ini, penulis menemukan gap research yang dirasa perlu adanya penelitian lebih dalam, yaitu belum adanya penelitian yang melakukan penelitian terhadap peran keluarga dalam membentuk P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 konstruksi sosial perspektif Tafsir al-Azhar karya Hamka. Adapun novelty dalam penelitian ini adalah penelitian dan pendeskripsian yang mendalam terkait pandangan Hamka dalam Tafsir al-Azhar terkait pentingnya pendidikan keluarga dalam membentuk konstruksi sosial anak. Beranjak permasalahan di atas, maka penulis merasa penting untuk mengangkat tema terkait konstruksi sosial dari pendidikan keluarga perspektif Tafsir al-Azhar yang bercorak aladab al-ijtimAAo. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana membangun konstruksi sosial melalui pendidikan keluarga yang ditawarkan oleh Hamka di dalam Tafsir al-Azhar. Studi ini bertujuan untuk menemukan bentuk konstruksi sosial melalui pendidikan keluarga di dalam Tafsir Al-Azhar sebagai upaya untuk memberikan solusi berupa sikap yang perlu diambil ketika bermasyarakat dan dapat menjadi bahan untuk pengimplementasian di dalam Pendidikan Agama Islam METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan dan bersifat deskriptif-analisis. Sehingga penelitian ini bertujuan untuk memberikan data yang bersifat deskriptif atau penjelasan dari perspektif Hamka tentang konstruksi sosial melalui pendidikan keluarga di dalam Tafsir al-Azhar (Rahardja. Ilyasa, et , 2. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan pendekatan metode penelitian QurAan tahlili, yaitu melakukan penelitian dan penginterpretasian ayat al-QurAan secara menyeluruh (Rahardja. Fahrudin, et al. Data dalam penelitian ini dikumpulkan dengan menggunakan teknik pengumpulan data library research atau studi kepustakaan. Robiatul Adawiyah. Muhammad Nurfaizi Arya Rahardja. Ulfah Salwa Hasibuan: Membangun Konstruksi Sosial Anak Melalui Pendidikan Keluarga Perspektif Al-QurAoan: Analisis Pemikiran Muhammad Hamka dalam Tafsir Al-Azhar Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 21 No. Oktober 2024 Sumber data dalam penelitian terbagi menjadi dua, yaitu Tafsir al-Azhar menjadi sumber primer dan artikel, buku, dan dokumen yang relevan sebagai sumber sekunder. Miles dan Huberman mengemukakan bahwa tahapan dalam analisis data kualitatif terdiri dari tiga elemen utama, yaitu data reduction, data display, dan conclusion drawing/verification. Tahapan analisis dilaksanakan dengan cara interaktif melalui siklus pengumpulan data (Sugiyono, 2. Adapun berikut merupakan langkah yang digunakan dalam pengumpulan data penelitian, yaitu . memilih ayat yang relevan dengan penelitian, yaitu dengan menggunakan kata kunci AupendidikanAy, . ayat yang didapatkan dengan menggunakan kata kunci pendidikan kemudian dipilah kembali agar sesuai dengan tema penelitian, yaitu ayat yang terkait dengan pendidikan keluarga, . setelah disesuaikan dengan tema, maka didapatlah ayat berikut yang akan digunakan sebagai ayat objek penelitian, yaitu Qs. al-Baqarah/ 2: 221. Qs. al-Baqarah/ 2: Qs. Ali-Imran/ 3: 37. Qs. An-Nisa/ 4:148. Qs. al-AnAAm/ 6: 29. Qs. al-AnAAm/ 6: Qs. An-Nahl/ 16: 125. Qs. An-Nur/ 24: Qs. An-Nur/ 24: 58, dan Qs. Al-Ahqof/ 46: 15, . menganalisis dan menginterpretasi ayat dengan menggunakan pemikiran Hamka dalam Tafsir al-Azhar, . melakukan validasi data dengan menggunakan triangulasi sumber, . mendeskripsikan dan melaporkan hasil HASIL DAN PEMBAHASAN Biografi Muhammad Hamka dan Tafsir alAzhar Abdul Malik Karim Amrullah lahir pada 17 Februari 1908 dan wafat pada tahun 1981 dengan usia 73 tahun di Jakarta (I. Hamka. Hamka et al. , 2022. Munawaroh. P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 Begitu derasnya semangat Hamka dalam menciptakan karya, hingga akhir hayatnya Hamka terhitung menghasilkan sekitar 150 tulisan atau buku yang telah dihasilkannya (Husainin & Setiawan, 2. Pengalaman Hamka di dunia intelektual dan kebudayaan, menjadikan Hamka termasuk di antara tokoh besar bangsa Indonesia bahkan diakui oleh dunia Islam (Wanto, 2. Ditunjang dengan adanya sebuah karya besar yang ditulisnya yaitu sebuah kitab Tafsir lengkap 30 juz yang diberi nama Tafsir alAzhar. Tafsir al-Azhar merupakan karya Hamka pengetahuan dan wawasannya serta hampir mencakup semua disiplin ilmu yang penuh Semua itu karena keluasan pengetahuan dan wawasan Hamka yang komprehensif dari berbagai macam aspek ilmu pengetahuan. Mulai dari bentuk sastra, ilmu-ilmu keislaman, sejarah peradaban, politik, ekonomi, budaya, pengetahuan ilmiah dan perkembangan dunia kontemporer yang kemudian ia manfaatkan dalam menafsirkan ayat-ayat al-QurAan di dalam kitab Tafsir AlAzhar (Arifiah, 2021. Taufikurrahman, 2012. Umar, 2. Tafsir al-Azhar bermula dari sebuah serangkaian ceramah subuh yang dimulai tahun 1959 oleh Hamka di masjid Al-Azhar. Kebayoran Baru (Mujahidin, 2016. Mulyani. Asal usul penamaan Tafsir Al-Azhar tentu tidak pula terlepas dari tempat ceramah yang dilakukan oleh Hamka yaitu Masjid Agung Al-Azhar yang sebelumnya diberi nama Masjid Agung Kebayoran Baru. Kedatangan Mahmd Syaltt di bulan Desember 1960 yang kemudian merubah nama masjid tersebut dengan cita-cita agar masjid tersebut menjadi al-Azhar di Jakarta (M. Hamka, 2003a, p. Penyusunan penafsiran surah dalam Tafsir al-Azhar Robiatul Adawiyah. Muhammad Nurfaizi Arya Rahardja. Ulfah Salwa Hasibuan: Membangun Konstruksi Sosial Anak Melalui Pendidikan Keluarga Perspektif Al-QurAoan: Analisis Pemikiran Muhammad Hamka dalam Tafsir Al-Azhar Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 21 No. Oktober 2024 berdasarkan tartib utsmAn yakni diawali dari Surah al-FAtiuah hingga diakhiri dengan Surah al-NAs (Hidayati, 2018. Izzan, 2. dengan menggunakan metode tahll. dalam penafsirannya, dapat dengan mudah penafsiran-penafsiran berisikan persoalan ayat yang ditafsirkan dengan memberikan contoh ataupun realita yang memang terjadi di tengah masyarakat. Hamka juga menjelaskan kondisi sosial yang sedang berlangsung . emerintahan Orde Lam. dan bagaimana situasi politik pada zaman itu. Melihat kenyataan tersebut maka Tafsir al-Azhar kemasyarakatan . l-adab al-ijtimAA) (Faisal. Suharto, 2019, p. Menjawab permasalahan yang terjadi di masyarakat, maka penulis ingin meninjau karya fenomenal Hamka yaitu Tafsir al-Azhar yang bercorak sastra kemasyarakatan atau disebut al-adab al-ijtimAA. Mengungkap bagaimana membangun kontruksi sosial dalam hidup bermasyarakat yang ditawarkan Hamka di dalam tafsirnya, mengingat bahwa Tafsir al-Azhar ini adalah bercorak al-adab al-ijtimAA. Selanjutnya di dalam tafsirnya pada Qs. al-Baqarah . : 177 Hamka menuturkan bahwa di dalam Islam untuk memperbaiki masyarakat dan meratakan keadilan sosial, perlu diperbaiki sendi utama dari masyarakat itu sendiri yaitu adalah jiwa Hal ini sejalan dengan teori yang dikemukakan oleh Peter L. Berger di dalam bukunya The Sacred Canopy: Elements of a Sociological Theory of Religion . yang menyatakan bahwa individu merupakan produk dan sekaligus pencipta pranata sosial (Suharto, 2. Dari keduanya, dapat dilihat mempunyai kesamaan bahwa pada dasarnya sebelum membangun sebuah kontruksi sosial yang baik, perlunya individu yang baik pula. Yusuf Qardhawi mengutarakan faktor-faktor P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 yang dapat menyebabkan munculnya perilaku moral yang berakibat pada perpecahan, diantaranya adalah: perasaan bangga terhadap diri sendiri, prasangka buruk kepada orang lain, hawa nafsu, rasa ambisi, fanatik terhadap sesuatu(Shidiq, 2021, p. Dari faktor yang pendidikan diri dan jiwa seseorang sehingga dapat memberikan ataupun menghasilkan perilaku yang baik dalam masyarakat sebagai sendi atau dasar dari masyarakat itu Konstruksi Sosial Perspektif Muhammad Hamka Dalam Tafsir al-Azhar Qs. al-Baqarah/ 2: 177 ketika menafsirkan penggalan ayat a aOE ac aiO aEOeIAyang berarti Audan orang-orang yan memintaAy. Hamka menjelaskan bahwa salah satu nilai yang terkandung dalam Islam adalah jangan pernah meminta-minta kepada siapapun apabila hal tersebut bukan sesuatu yang mendesak. Lebih lanjut. Muhammad Hamka menjelaskan dalam penafsirannya terkait dengan kehidupan sosial. Hamka menjelaskan bahwasanya dalam upaya memperbaiki kehidupan masyarakat dan meratakan keadilan sosial harus memperbaiki sendi utama dalam kehidupan bermasyarakat, yaitu adalah jiwa seseorang (M. Hamka. Lebih lanjut, dalam menafsirkan Qs. AlBaqarah/ 2. Hamka menjelaskan bahwasanya dalam Qs. Al-Baqarah/ 2 mengandung nilainilai yang sangat penting dalam membangun jiwa seorang manusia, yaitu nilai keteguhan dalam beragama, menegakkan budi, dan menyebarkan ajaran dan nilai-nilai agama. Selain itu, dalam upaya meningkatkan jiwa seseorang dalam Hamka menyatakan bahwa keluarga menjadi poin yang sangat penting, seperti pendidikan anak dalam keluarga, kondisi dan situasi keluarga. Robiatul Adawiyah. Muhammad Nurfaizi Arya Rahardja. Ulfah Salwa Hasibuan: Membangun Konstruksi Sosial Anak Melalui Pendidikan Keluarga Perspektif Al-QurAoan: Analisis Pemikiran Muhammad Hamka dalam Tafsir Al-Azhar Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 21 No. Oktober 2024 dan mengajarkan anak untuk selalu memberikan cinta kasih kepada sesama manusia, keluarga, kerabat, anak yatim, dan fakir miskin (M. Hamka, 2003. Berdasarkan sebelumnya, dapat disimpulkan bahwa menurut hamka terdapat 2 poin penting sebagai upaya dalam memperbaiki kehidupan masyarakat, yaitu dengan cara membangun dan memperbaiki jiwa seseorang dan memberikan pendidikan sosial kepada anak sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Islam. Hamka berpendapat bahwa keluarga memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk jiwa individu seseorang sebagai upaya memperbaiki kehidupan Baiknya jiwa individu akan menjadikan masyarakat yang baik. Hal ini dikarenakan jiwa merupakan sendi utama dalam sebuah masyarakat. Adanya sebuah penekanan pada sebuah individu dalam konstruksi sosial di masyarakat, selaras dengan apa yang disampaikan oleh Peter L. Berger seorang tokoh yang memperkenalkan konstruksi sosial di dalam buku yang mempunyai judul The Social Construction of Reality: A treatise in the Sociological of Knowledge. Di mana di dalam bukunya, ia menjelaskan bahwa adanya proses sosial terjadi melalui tindakan dan Individu tersebut dengan sendirinya terus menerus membuat suatu realitas yang dimiliki dan dialami bersama secara subjektif (Yuliyani, 2. Pendidikan Anak dalam Keluarga Sebagai Upaya Merekonstruksi Sosial Dalam mengumpulkan data dengan melacak penafsiran Hamka di dalam Tafsir Al-Azhar menggunakan kata kunci AupendidikanAy. Dari kata kunci tersebut ditemukan sejumlah 159 P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 kata dengan rincian jilid 1 sebanyak 31, jilid 2 sebanyak 28, jilid 3 sebanyak 24, jilid 4 sebanyak 11, jilid 5 sebanyak 15, kemudian jilid 6 sejumlah 11, jilid 7 ada 12, jilid 8 ada 4, jilid 9 ada 6, dan jilid terakhir ada 17. Dari seluruh kata tersebut dipilih kembali kata pendidikan yang berkaitan dengan tema penelitian ini yaitu pendidikan keluarga. Hingga pada akhirnya ditemukan sejumlah ayat yang akan diteliti dalam penelitian ini yaitu Qs. al-Baqarah/ 2: 221. Qs. al-Baqarah/ 2: 238. Qs. Ali-Imran/ 3: 37. Qs. An-Nisa/ 4:148. Qs. al-AnAAm/ 6: 29. Qs. al-AnAAm/ 6: Qs. An-Nahl/ 16: 125. Qs. An-Nur/ 24: Qs. An-Nur/ 24: 58, dan Qs. Al-Ahqof/ 46: 15. Dari temuan tersebut dibagilah menjadi dua tema. Pertama membahas seputar tanggung jawab dan peran ayah dan ibu dalam mendidik anak di rumah. Ayat-ayat dalam tema ini yaitu Qs. al-Baqarah/ 2: 221. Qs. alBaqarah/ 2: 238. Qs. An-Nur/ 24: 4-5. Qs. An-Nur/ 24: 58, dan Qs. An-Nahl/ 16: 125. Tema kedua yaitu bentuk pendidikan yang diberikan dalam pendidikan keluarga. Adapun yang termasuk pada tema ini yaitu Qs. AliImran/ 3: 37. Qs. An-Nisa/ 4:148. Qs. alAnAAm/ 6:28. Qs. al-AnAAm/ 6:151, dan Qs. Al-Ahqof/ 46: 1. Mengenai tema pertama yaitu Hamka menafsirkan pada ujung ayat Qs. al-Baqarah/ 2: 221, ia menjelaskan bahwa laki-laki bukan hanya berkuasa dalam rumah tangga saja, tapi juga dalam menciptakan pendidikan untuk Begitupun dengan penafsiran Qs. An-Nur/ 24: 58. Hamka menjelaskan menurut perspektif ilmu jiwa sebagai pendidikan untuk anak bahwa sosok ayah adalah seseorang yang dijunjung tinggi dan dikagumi. Maka Hamka menjelaskan lebih lanjut agar jangan sampai karena hal kecil menyebabkan pengharapan anak kepada ayahnya akan Robiatul Adawiyah. Muhammad Nurfaizi Arya Rahardja. Ulfah Salwa Hasibuan: Membangun Konstruksi Sosial Anak Melalui Pendidikan Keluarga Perspektif Al-QurAoan: Analisis Pemikiran Muhammad Hamka dalam Tafsir Al-Azhar Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 21 No. Oktober 2024 Berlanjut pada penafsiran Qs. alBaqarah/ 2: 238, menjadi penegasan akan pentingnya peran suami istri dalam Hamka menyebutkan pendidikan anak setelah kata rumah tangga dan hubungan suami istri, perihal agar dilancarkan ketiga hubungan tersebut yaitu dengan berladandaskan nya pada takwa. Selain peran dari ayah sebagai kepala rumah tangga. Hamka juga mengutarakan peran penting istri yang menjadi peran ibu dalam proses pendidikan di dalam keluarga untuk anaknya pada permulaan penafsiran Qs. An-Nur/ 24: 4-5. Hamka menjelaskan terlebih dahulu term muhsanat yang memiliki arti yang terbentang, kasih setia suami istri, pengaruh yang santun kepada anak-anaknya, dan baik hubungannya dengan tetangga. sini dijelaskan pula bahwa tugas perempuan bukan hanya menjadi sosok istri yang menyediakan makan suami, namun juga seorang ibu yang melaksanakan pendidikan untuk anak-anaknya. Tafsiran di atas diperkuat dengan penafsiran Hamka ketika menafsirkan term Al-MuaAoizatul Hasanah dalam Qs. An-Nahl/ 16: 125 dengan pengajaran yang baik. Al-MuaAoizatul Hasanah termasuk juga kedalamnya terkait pendidikan ayah dan ibu kepada anakanaknya menunjukkan praktik beragama pada anakanaknya. Di pembahasan kedua, dapat dijumpai beberapa poin pendidikan keluarga yang dapat ditanamkan pada anak menurut prespektif Hamka di dalam Tafsir Al-Azhar. Pertama, pada penafsiran Qs. Ali-Imran/ 3: Hamka menjelaskan dua hal penting dalam pendidikan untuk anak. Pertama keturunan dari ayah dan ibunya yang baik dan Kedua perlu adanya perhatian P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 terhadap siapa yang mengasuh dan mendidik. Lebih lanjut Hamka menjelaskan bahwa guru yang mendidiknya adalah orang baik, maka pertumbuhan jiwa anak tersebut akan sejalan dalam keadaan baik juga. Sehingga dua poin penting dalam pendidikan menurut Hamka yaitu orang tua dan pendidik yang baik. Selanjutnya yaitu penafsiran Qs. An-Nisa/ 4:148 yang menurut Hamka ayat ini merupakan teguran halus dalam hak pendidikan yang memuat pesan untuk seorang ibu agar ketika marah tidak mengatakan katakata yang tidak baik. Poin berikutnya yaitu terdapat pada ujung penafsiran Qs. al-AnAAm/ 6:28. Hamka menjelaskan bahwa ayat ini menjelaskan akan pentingnya pengajaran membentuk sikap Menurutnya, agar tauhid menjadi sikap jiwa, perlu adanya didikan dan latihan sedari dini, pergaulan yang baik, serta guru yang jujur lahir dalam kalangan keluarga yang Hamka pentingnya pendidikan keluarga bahwa pendidikan dalam keluarga dan suasana di rumah mempunyai pengaruh yang besar dalam membentuk sikap jiwa. Mulai dari kebiasaan yang dilakukan dalam kegiatan sehari-hari di rumah (M. Hamka, 2003b, pp. 1998Ae1. Dari sini terlihat secara jelas dimana Hamka menekankan peran besar dan penting keluarga dalam menciptakan pribadi atau jiwa individu. Berlanjut kepada penafsiran berikutnya yaitu Qs. al-AnAAm/ 6: 151 yang menjadi penegasan dari penafsiran sebelumnya. Saat menjelaskan AuDan dengan kedua Ibu-Bapak hendaklah berbuat baikAy Hamka menyebutkan bahwa yang benar ialah ayah ibu memberikan didikan kepada anak-anaknya dengan cara sikap hidupnya sendiri. Sebuah perilaku dan memunculkan rasa hormat dan cinta. Sosok Robiatul Adawiyah. Muhammad Nurfaizi Arya Rahardja. Ulfah Salwa Hasibuan: Membangun Konstruksi Sosial Anak Melalui Pendidikan Keluarga Perspektif Al-QurAoan: Analisis Pemikiran Muhammad Hamka dalam Tafsir Al-Azhar Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 21 No. Oktober 2024 ibu dan ayah atau peran orangtua dalam rumahtangga dalam ilmu jiwa pendidikan ialah lingkungan pertama yang didapat oleh seorang anak ketika dia lahir ke dunia. Ditambah lagi Hamka menjelaskan bahwa sosok ayah dalam sebuah keluarga adalah sebagai seorang pahlawan. Hamka kemudian mengkorelasikan kejadian yang terjadi pada anak-anak di zaman modern yang tidak mempunyai harapan atau hubungan yang erat kepada kedua orangtua karena kedua orangtuanya tidak memberikan harapan dan contoh dalam bentuk pembiasaan yang baik. Misalnya sang ayah jarang pulang atau larut malam, begitupun dengan ibu. Maka dari itu, menurut Hamka lantas siapa yang akan melarang jikalau anak pada akhirnya keluar pula dari rumah untuk menghilangkan kesepiannya (M. Hamka, 2003. Maka dari poin-poin yang telah dipaparkan di atas, terlihat jelas bahwa Hamka sangat menekankan peran sosok ayah dan ibu dalam proses pendidikan keluarga bagi anaknya, bukan hanya salah satu pihak Melainkan keduanya berhubungan dengan baik terlebih dahulu yang kemudian bersinergi bersama menciptakan pendidikan keluarga untuk anak-anaknya. Hamk juga menjelaskan poin-poin penting yang perlu ditanamkan dalam pendidikan keluarga yakni bagaimana pengajaran tentang sikap jiwa, pemilihan pasangan yang baik, pemilihan guru atau tenaga pendidik yang baik, dan menjadi contoh yang baik dan benar untuk anak-anaknya dari cara hidup mereka sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini menjadi menarik setelah Hamka menjelaskan bahwa Individu merupakan sendi utama dari masyarakat dalam penafsiran pada Qs. al-Baqarah/ 2: 177, penulis menemukan kembali penegasan terkait pembentukan pendidikan keluarga atau sebuah individu P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 merekonstruksi sosial yaitu pada penafsiran Qs. Al-Ahqof/ 46: 1. Hamka menjelaskan bahwa Islam menjadikan Aurumah tanggaAy menjadi sebuah sendi pertama dari berdirinya suatu bangsa ataupun agama. Lebih lanjut ia menjelaskan tentang pendidikan keluarga tersebut bahwasanya pergaulan dengan ayah dan ibu diwaktu kecil menjadi lingkungan pertama di dalam ilmu pendidikan atau albaitul ula dalam bahasa Arab. Lingkungan pertama inilah yang mempunyai kesan dan peran penting untuk menentukan hidup saat dewasa kelak, sebelum pada akhirnya memasuki dua lingkungan lagi yaitu lingkungan bersekolah dan lingkungan teman Disini dapat dilihat bahwa Hamka menekankan pendidikan keluarga pada diri sebuah individu menjadi sendi utama dalam melahirkan individu yang baik sampai akhirnya individu tersebut bersosialisasi dan terjun ke dalam masyarakat. Dikarenakan pada dasarnya manusia sebagai makhluk sosial adalah sebuah individu yang akan selalu berproses menciptakan kenyataan sosial yang bersifat objektif melalui proses dialektis tersebut secara simultan. Melalui proses yang simultan itu pada akhirnya memudahkan terbentuknya konstruksi perilaku (Sari et al. dan kenyataan sosial adalah hasil dari internalisasi dan objektifikasi manusia terhadap pengetahuan dalam kehidupan sehari-hari (Rahardja. Rambe, et al. , 2. Sehingga dapat ditarik bahwasanya Hamka merekonstruksi sosial yaitu melalui sebuah pendidikan keluarga dalam upaya membentuk jiwa seseorang dengan upaya internalisasi pada diri anak. Dimana maksudnya adalah peran orang tua dalam memberikan pendidikan dan keteladan kepada anak di Robiatul Adawiyah. Muhammad Nurfaizi Arya Rahardja. Ulfah Salwa Hasibuan: Membangun Konstruksi Sosial Anak Melalui Pendidikan Keluarga Perspektif Al-QurAoan: Analisis Pemikiran Muhammad Hamka dalam Tafsir Al-Azhar Al-Hikmah: Jurnal Agama dan Ilmu Pengetahuan Vol. 21 No. Oktober 2024 dalam keluarga sangat berperan besar dalam upaya internalisasi sampai akhirnya terbentuk jiwa dan bersikap yang baik di masyarakat. Hingga terlihat sebuah korelasi bagaimana peran penting pembentukan jiwa dan sikap individu dalam pendidikan keluarga sebelum pada akhirnya individu tersebut yang menjadi dasar sendi pertama sebuah masyarakat, terjun ke dalam. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian saya terkait dengan pendidikan anak dalam keluarga guna membangun konstruksi sosial perspektif tafsir al-Azhar dapat disimpulkan bahwa, pertama ibu dan ayah memiliki tanggung jawab yang sama dalam mendidik anak di rumah. Dalam Qs. al-Baqarah/ 2: 221 Hamka menjelaskan bahwa dalam keluarga ayah bukanlah hanya seorang kepala keluarga, melainkan juga memiliki tanggung jawab yang sama seperti ibu dalam mendidik anaknya. Dalam Qs. anNur/ 24: 58 Hamka menjelaskan bahwa anak sangat menaruh kekaguman kepada ayahnya, maka dari itu seorang ayah haruslah menjadi teladan yang baik bagi anaknya dan jangan menghilangkan rasa kagum anak kepadanya. Selain ayah, ibu juga memiliki tanggung jawab yang penting dalam mendidik anak, dalam Qs. al-Nahl/ 16: 125 seorang ibu dituntut harus selalu memberikan pendidikan yang baik atau al-mauAoieat al-uasanah kepada Kedua ibu dan ayah haruslah memberikan pendidikan yang baik kepada Dalam Qs. al-NisAA/ 4: 148 Hamka menjelaskan seorang ibu tidak boleh memberikan pendidikan kepada anaknya dengan marah dan dengan menggunakan katakata yang tidak baik karena itu akan memberikan teladan yang tidak baik kepada P-ISSN 1412-5382 E-ISSN 2598-2168 Selain itu, dalam Qs. al-AnAAm/ 6: 28 Hamka menjelaskan akan pentingnya pendidikan yang bertujuan utnuk membentuk jiwa seorang anak yang dimulai sejak usia Hal ini dilakukan agar dapat terciptanya suasana hangat di dalam keluarga dan diharapkan anak mampu dengan baik menghadapi kehidupan sosialnya. Berdasarkan kedua poin tersebut dapat Hamka menekankan akan pentingnya pendidikan anak yang dilakukan oleh keluarga dengan tujuan untuk menjadikan anak sebagai individu yang baik dan mampu bersosialisasi yang baik pula di masyarakat. Maka dengan itu seorang anak akan mampu secara individu menghadapi kehidupan sosialnya dengan baik karena telah mendapatkan pendidikan sosial yang baik di keluarga. DAFTAR PUSTAKA