KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Mei 2026. Vol. 3 No. 1: 17-23 Pemberdayaan Santri melalui Pelatihan Kerajinan Limbah Kain Perca untuk Ekonomi Kreatif Pondok Pesantren Daril Ihsan Thailand Andani Asmara1. Iko Marsela2. Rudi Rinaldo3. Muhammad Afriusnaldi4. Khodijah Ishak5. Sukma Mehilda6. Abdulrosak Bakusan7 1,2,3,4,5,6Institut Syariah Negeri Junjungan Bengkalis. Riau. Indonesia 7Fatoni University. Thailand https://doi. org/10. 46367/khidmah. Info Artikel Riwayat: Dikirim: 30 Maret 2026 Direvisi: 28 April 2026 Diterima: 05 Mei 2026 Kata Kunci: Ekonomi kreatif. Limbah Kain Perca, pemberdayaan santri . Pesantren Abstrak Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan memberdayakan santri Pondok Pesantren Daril Ihsan. Yala. Thailand, melalui pelatihan pengolahan limbah kain perca menjadi kerajinan bernilai ekonomi untuk memajukan ekonomi kreatif berbasis komunitas. Metode yang digunakan adalah Asset-Based Community Development (ABCD) diterapkan melalui empat fase utama: discovery untuk menggali aset lokal berupa kemampuan santri dan stok limbah kain, dream untuk membentuk visi bersama, design untuk menyusun rencana pelatihan, serta destiny untuk eksekusi meliputi sosialisasi, demonstrasi proses, latihan mandiri, dan bimbingan berkelanjutan. Hasilnya mencakup peningkatan pengetahuan serta kemahiran santri mengubah limbah kain perca menjadi keset kaki dan aksesori manik-manik, disertai penguatan kesadaran ekologis, semangat berwirausaha, dan pemahaman strategi pemasaran daring guna ekspansi pasar. Program ini memperkuat aplikasi ABCD secara teoritis dalam ekonomi kreatif komunitas sekaligus menghasilkan prototipe pemberdayaan santri yang layak ditiru di pesantren lain, meskipun terkendala oleh jangka waktu yang singkat dan hambatan bahasa Korespondensi: Andani Asmara This work is licensed under a Creative Commons AttributionNonCommercialShareAlike 4. International License. E-ISSN: 3047-5155 https://ejournal. id/index. php/khidmah KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Mei 2026. Vol. 3 No. 1: 17-23 PENDAHULUAN Ekonomi kreatif saat ini merupakan pilar utama dalam memacu pertumbuhan ekonomi yang bergantung pada inovasi dan kreativitas masyarakat. Berbeda dari pendekatan konvensional yang mengandalkan sumber daya alam, sektor ini menekankan potensi sumber daya manusia untuk menghasilkan nilai tambah melalui ide-ide segar, keahlian, serta imajinasi (Irawan et al. , n. Di tengah upaya pembangunan berkelanjutan, mengolah limbah menjadi barang kreatif menjadi strategi efektif untuk mewujudkan ekonomi sirkularAiyaitu meminimalkan sampah sambil memaksimalkan nilai ekonomi Limbah kain perca, misalnya, sering terbuang sia-sia meski berasal dari sisa potongan produksi Padahal, dengan pengelolaan tepat, limbah ini bisa diubah menjadi aneka kerajinan bernilai jual (Prasetyawati et al. , 2025. Yuslin, 2. Fenomena meningkatnya volume limbah tekstil di berbagai wilayah menunjukkan bahwa pengelolaan limbah masih menjadi permasalahan yang memerlukan solusi inovatif. Di sisi lain, banyak komunitas masyarakat, termasuk lingkungan pesantren, yang memiliki potensi sumber daya manusia namun belum sepenuhnya memiliki keterampilan dalam mengolah limbah menjadi produk kreatif yang bernilai jual. Kondisi ini juga ditemukan di Pondok Pesantren Daril Ihsan. Yala. Thailand. Sebagai lembaga pendidikan berbasis keagamaan yang berkembang, pesantren ini memiliki sejumlah santri yang berpotensi untuk diberdayakan melalui pengembangan keterampilan kewirausahaan dan kreativitas. Namun, keterbatasan pengetahuan serta minimnya pelatihan terkait pemanfaatan limbah menjadi produk kreatif menyebabkan potensi tersebut belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Oleh karena itu, diperlukan suatu kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dapat memberikan pelatihan keterampilan praktis dalam mengolah limbah kain perca menjadi produk kerajinan yang bernilai ekonomis (Rabihat et al. , n. Sejumlah penelitian dan kegiatan pengabdian masyarakat sebelumnya menunjukkan bahwa pemanfaatan limbah kain perca dapat memberikan manfaat ekonomi sekaligus mengurangi dampak Arifa et al. , . menjelaskan bahwa limbah kain perca dapat diolah menjadi berbagai produk kerajinan seperti keset, aksesori, dan dekorasi rumah yang memiliki nilai jual di masyarakat. Selain itu, (Amri et al. , 2022. Yuslin, 2. menyatakan bahwa pengembangan ekonomi kreatif sangat bergantung pada kemampuan masyarakat dalam memanfaatkan potensi lokal melalui inovasi dan kreativitas. Beberapa program pengabdian juga telah menunjukkan bahwa pelatihan kerajinan berbasis limbah dapat meningkatkan keterampilan serta mendorong jiwa kewirausahaan masyarakat (Supriyanto Supriyanto, 2. Meskipun demikian, sebagian besar kegiatan pengabdian sebelumnya lebih banyak dilakukan pada masyarakat umum atau kelompok usaha kecil, sementara implementasi program pemberdayaan berbasis ekonomi kreatif di lingkungan pesantren, khususnya di luar negeri seperti Thailand, masih relatif terbatas. Selain itu, sebagian program yang ada masih berfokus pada aspek produksi kerajinan tanpa mengintegrasikan pendekatan pemberdayaan komunitas santri sebagai bagian dari penguatan keterampilan kewirausahaan berbasis lingkungan (Qamariyah & Abdullah, n. Dengan demikian, terdapat kesenjangan dalam praktik pengabdian masyarakat yang menggabungkan aspek pemberdayaan santri, pemanfaatan limbah tekstil, serta pengembangan keterampilan ekonomi kreatif dalam konteks lembaga pendidikan pesantren. Berdasarkan kesenjangan tersebut, kegiatan pengabdian ini menghadirkan kebaruan dalam bentuk pelatihan kerajinan berbasis limbah kain perca yang secara khusus ditujukan kepada santri di Pondok Pesantren Daril Ihsan Thailand. Program ini tidak hanya berfokus pada pembuatan produk kerajinan, tetapi juga pada upaya pemberdayaan santri melalui peningkatan keterampilan kreatif yang berpotensi menjadi peluang usaha di masa depan. Pendekatan ini diharapkan dapat memperkuat peran pesantren sebagai lembaga pendidikan yang tidak hanya memberikan pembelajaran keagamaan, tetapi juga membekali santri dengan keterampilan praktis yang relevan dengan perkembangan ekonomi kreatif. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan melatih santri memanfaatkan limbah kain perca untuk menciptakan kerajinan bernilai ekonomi, sekaligus memperdalam pemahaman mereka tentang peluang ekonomi kreatif dari pengolahan limbah (Khodijah Ishak, 2. Di samping itu, program ini juga mendorong pengembangan kreativitas, jiwa wirausaha, dan kesadaran lingkungan di kalangan santri melalui praktik langsung mengubah limbah menjadi produk fungsional. Suasana pembukaan kegiatan pengabdian masyarakat dapat dilihat pada gambar di bawah ini. E-ISSN: 3047-5155 https://ejournal. id/index. php/khidmah KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Mei 2026. Vol. 3 No. 1: 17-23 Gambar 1 Pembukaan di Aula Terbuka Kegiatan pengabdian ini membawa dampak penting bagi pemberdayaan masyarakat melalui pendekatan pendidikan dan pelestarian lingkungan. Dengan pelatihan tersebut, santri diharapkan menguasai keterampilan baru sekaligus sadar akan manfaat mengolah limbah secara produktif. Lebih jauh, program ini bisa menjadi contoh pemberdayaan di pesantren yang memadukan elemen pendidikan, inovasi kreatif, dan keberlanjutan alam. Secara keseluruhan, inisiatif ini berkontribusi nyata terhadap kemajuan ekonomi kreatif serta peningkatan kemampuan sumber daya manusia di komunitas pesantren. METODE Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan di Pondok Pesantren Daril Ihsan yang berlokasi di Provinsi Yala. Thailand. Pelaksanaan kegiatan berlangsung selama enam hari, yaitu pada tanggal 03 Agustus 2024 hingga 08 Agustus 2024. Program pengabdian ini melibatkan sekitar 50 orang santri dan peserta didik Pondok Pesantren Daril Ihsan sebagai peserta pelatihan. Selain itu, kegiatan ini juga didampingi oleh 10 orang mahasiswa ISNJ Bengkalis yang berperan sebagai tim pelaksana dalam proses penyuluhan, pelatihan, serta pendampingan kepada para peserta. Pendekatan yang diterapkan dalam kegiatan ini adalah Asset Based Community Development (ABCD). Metode ABCD fokus pada penggalian serta optimalisasi aset dan potensi yang sudah ada di komunitas sebagai fondasi utama pengembangan masyarakat. Dengan cara ini, anggota masyarakat bukan sekadar penerima bantuan, melainkan mitra aktif yang kekuatannya dimanfaatkan secara partisipatif. Pelaksanaan kegiatan pengabdian dilakukan melalui beberapa tahapan yang mengacu pada konsep dasar pendekatan sebagai berikut: Tahap Discovery Tahap discovery merupakan tahap awal yang bertujuan untuk mengidentifikasi berbagai potensi dan aset yang dimiliki oleh komunitas sasaran (Bela et al. , 2. Pada tahap ini, tim pengabdian melakukan observasi lapangan, komunikasi awal, serta diskusi dengan pihak pengelola pesantren untuk memperoleh gambaran mengenai kondisi lingkungan pesantren, potensi sumber daya manusia, serta peluang pengembangan keterampilan bagi para santri. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa para santri memiliki ketertarikan terhadap kegiatan kreatif dan keterampilan kerajinan tangan. Selain itu, terdapat potensi bahan limbah seperti kain perca dan manikmanik yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan dasar pembuatan produk kerajinan. Dukungan dari pihak pesantren juga menjadi salah satu aset sosial yang penting dalam menunjang keberhasilan pelaksanaan kegiatan pengabdian ini. Tahap Dream Tahap dream merupakan proses untuk menggali harapan, gagasan, dan aspirasi komunitas terkait pengembangan potensi yang telah diidentifikasi sebelumnya (Maulana et al. , 2. Pada tahap ini, tim pengabdian bersama pihak pesantren dan para santri melakukan diskusi mengenai peluang pemanfaatan limbah kain perca sebagai bahan dasar produk kerajinan yang memiliki nilai estetika dan nilai ekonomi. Melalui proses ini, diharapkan muncul kesadaran serta motivasi dari para santri untuk mengembangkan kreativitas dan keterampilan dalam memanfaatkan bahan limbah yang tersedia di lingkungan sekitar. Tahap ini juga bertujuan untuk membangun visi bersama mengenai pentingnya pengembangan ekonomi kreatif berbasis keterampilan sebagai salah satu peluang pemberdayaan santri. Tahap Design E-ISSN: 3047-5155 https://ejournal. id/index. php/khidmah KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Mei 2026. Vol. 3 No. 1: 17-23 Tahap design merupakan tahap penyusunan rencana kegiatan yang akan dilaksanakan berdasarkan potensi dan aspirasi yang telah diidentifikasi pada tahap sebelumnya (Ubaidillah et al. , 2. Pada tahap ini, tim pengabdian merancang program pelatihan keterampilan yang meliputi penyampaian materi mengenai konsep ekonomi kreatif, pemanfaatan limbah sebagai produk bernilai ekonomis, serta pengenalan alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan kerajinan. Selain penyampaian materi, kegiatan juga mencakup demonstrasi dan praktik langsung pembuatan produk kerajinan seperti keset kaki dari kain perca serta aksesori dari manik-manik. Perancangan kegiatan dilakukan dengan pendekatan partisipatif sehingga para peserta dapat terlibat secara aktif dalam setiap tahapan proses pembelajaran. Tahap Destiny Tahap destiny merupakan tahap implementasi dari program yang telah dirancang pada tahap sebelumnya (Fahma, 2. Pada tahap ini, kegiatan pengabdian dilaksanakan melalui beberapa metode, yaitu penyuluhan, demonstrasi, praktik langsung, serta pendampingan kepada peserta pelatihan. Santri terlibat penuh dalam pembuatan kerajinan, mencakup tahap persiapan bahan, produksi utama, hingga finishing akhir. Tim pengabdian mendampingi secara intensif agar setiap peserta menguasai teknik dasar dan bisa menghasilkan produk secara independen. Selain itu, kegiatan ini juga bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran para santri mengenai pentingnya pemanfaatan limbah sebagai bagian dari upaya pengembangan ekonomi kreatif yang berkelanjutan dan ramah lingkungan. Dengan adanya pelatihan dan pendampingan ini, diharapkan para santri tidak hanya memperoleh keterampilan baru, tetapi juga memiliki motivasi untuk mengembangkan kreativitas serta memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan sekitar. HASIL DAN PEMBAHASAN Kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang dilaksanakan di Pondok Pesantren Daril Ihsan Thailand melalui pelatihan kerajinan limbah kain perca menunjukkan capaian yang signifikan jika dianalisis menggunakan pendekatan Asset-Based Community Development. Pendekatan ini berorientasi pada pemanfaatan potensi dan aset yang telah dimiliki oleh komunitas, sehingga program yang dijalankan bersifat partisipatif dan berkelanjutan. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa santri memiliki potensi berupa kreativitas, semangat belajar, serta kemampuan dasar yang dapat dikembangkan menjadi keterampilan Pada tahap identifikasi aset, ditemukan bahwa lingkungan pesantren memiliki sumber daya yang belum dimanfaatkan secara optimal, yaitu limbah kain perca serta bahan sederhana seperti manik-manik. Selain itu, terdapat aset sosial berupa dukungan dari pihak pesantren dan antusiasme santri dalam mengikuti kegiatan. Aset-aset tersebut menjadi landasan dalam merancang program pelatihan yang relevan dengan kebutuhan dan kondisi lokal. Kegiatan ini berhasil mengubah limbah kain perca menjadi kerajinan bernilai ekonomi, seperti keset kaki dan gelang manik-manik. Produk-produk tersebut tidak hanya praktis, tetapi juga menarik secara visual sehingga potensial untuk dipasarkan. Ini membuktikan bahwa limbah tidak berguna bisa bertransformasi menjadi barang kreatif berkat inovasi dan keahlian. Praktek pembuatan kain perca dan manik-manik dapat dilihat pada gambar 2. Gambar 2 Penyuluhan dan Identifikasi Potensi Lokal Selain peningkatan keterampilan, kegiatan ini juga memberikan dampak pada perubahan pola pikir Limbah kain perca yang sebelumnya dianggap tidak berguna kini dipandang sebagai peluang usaha yang potensial. Perubahan perspektif ini merupakan bagian penting dalam pendekatan ABCD, yang menekankan pada penguatan kesadaran terhadap potensi lokal sebagai modal pengembangan ekonomi. E-ISSN: 3047-5155 https://ejournal. id/index. php/khidmah KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Mei 2026. Vol. 3 No. 1: 17-23 Di ranah ekonomi kreatif, kegiatan ini membuktikan bahwa usaha bisa dikembangkan tanpa modal besar, cukup memanfaatkan aset sederhana di sekitar. Kreativitas mengubah limbah menjadi barang bernilai tambah justru jadi pendorong utama peluang ekonomi baru. Ini selaras dengan esensi ekonomi kreatif yang mengutamakan inovasi dari sumber daya lokal. Hasil Pembuatan kain Perca dan manik-manik dapat dilihat pada gambar 3. Gambar 3 Hasil Pembuatan kain perca dan manik-manik Pengenalan platform digital dalam kegiatan ini juga menjadi bagian dari penguatan aset non-fisik, yaitu pengetahuan dan keterampilan teknologi. Santri diperkenalkan pada konsep pemasaran digital sebagai sarana untuk memperluas jangkauan pasar. Meskipun masih dalam tahap awal, pemahaman ini menjadi bekal penting dalam menghadapi perkembangan ekonomi digital yang semakin pesat. Secara keseluruhan, kegiatan pengabdian ini menunjukkan bahwa pendekatan ABCD mampu meningkatkan efektivitas program pemberdayaan masyarakat. Keberhasilan kegiatan didukung oleh optimalisasi aset lokal, partisipasi aktif santri, serta dukungan dari pihak pesantren. Meskipun terdapat kendala seperti perbedaan bahasa dan keterbatasan waktu, kegiatan ini tetap memberikan dampak positif yang berkelanjutan dalam meningkatkan keterampilan, kesadaran, dan potensi ekonomi santri. KESIMPULAN Pelatihan kerajinan dari limbah kain perca di Pondok Pesantren Daril Ihsan Thailand menghasilkan dampak positif bagi peningkatan kemampuan santri. Poin kunci dari program ini adalah kemajuan pengetahuan serta keterampilan santri dalam mengubah limbah kain perca menjadi barang bernilai jual, seperti keset dan aksesori. Pendekatan Asset-Based Community Development (ABCD) berhasil menggali serta memaksimalkan potensi lokalAitermasuk tenaga santri dan bahan bekasAisehingga memicu keterlibatan aktif mereka dalam pemberdayaan. Penutupan acara ditandai dengan foto bersama tim pengabdi, santri, dan penyerahan cenderamata. Penutupan kegiatan pengabdian dengan foto bersama tim pengabdi dan santri beserta penyerahan cenderamata dapat dilihat pada Gambar 4. Gambar 4 Foto Bersama Tim dan Penyerahan Cenderamata Implikasi dari kegiatan ini menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi kreatif berbasis komunitas dapat menjadi strategi yang efektif dalam meningkatkan kemandirian dan keterampilan kewirausahaan Program ini juga memberikan kontribusi dalam menumbuhkan kesadaran lingkungan melalui pemanfaatan limbah secara produktif. Namun demikian, kegiatan ini memiliki keterbatasan, antara lain keterbatasan waktu pelaksanaan yang relatif singkat serta kendala komunikasi akibat perbedaan bahasa, sehingga proses pendampingan belum dapat dilakukan secara maksimal dan berkelanjutan. Dari hasil dan keterbatasan yang ada, disarankan melanjutkan kegiatan serupa secara berkala dengan durasi lebih panjang, ditambah pendampingan berkelanjutan guna memaksimalkan pencapaian. E-ISSN: 3047-5155 https://ejournal. id/index. php/khidmah KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Mei 2026. Vol. 3 No. 1: 17-23 Selain itu, perkuat aspek pemasaran digital serta inovasi produk agar lebih kompetitif. Penelitian mendatang sebaiknya mengeksplorasi dampak jangka panjang program pemberdayaan ekonomi kreatif di UCAPAN TERIMAKASIH Penulis menyampaikan terima kasih mendalam kepada Rektor. Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis. Dekan Fakultas Syariah dan Hukum. Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) ISNJ Bengkalis atas penyediaan dana, arahan kebijakan, dan dukungan institusional yang komprehensif. Apresiasi khusus disampaikan kepada Universitas Fatoni Thailand dan pimpinan Pondok Pesantren Daril Ihsan atas kolaborasi serta fasilitas optimal. Partisipasi aktif santri dan kontribusi tim pelaksana serta dosen pembimbing menjadi kunci keberhasilan program. Semoga inisiatif ini memperkuat ekonomi kreatif komunitas dan jejaring lintas. E-ISSN: 3047-5155 https://ejournal. id/index. php/khidmah KHIDMAH: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Mei 2026. Vol. 3 No. 1: 17-23 DAFTAR PUSTAKA