HUBUNGAN PERCEIVED STIGMA DENGAN KUALITAS HIDUP PASIEN GANGGUAN JIWA SKIZOFRENIA DI WILAYAH KECAMATAN GUCIALIT Linda Ferianti1. Nur Hamim2. Ainul Yaqin Salam 3 1,2,3 Universitas Hafshawaty Zainul Hasan Probolinggo ABSTRAK Kompleksitas skizofrenia membutuhkan pendekatan multifaset dalam pengobatannya, termasuk medikasi, psikoterapi, dan dukungan sosial. Namun, satu aspek penting yang sering diabaikan dalam manajemen skizofrenia adalah stigma yang terkait dengan gangguan ini. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki korelasi antara stigma yang dirasakan dan kualitas hidup pasien skizofrenia di Kecamatan Gucialit. Penelitian ini berfokus pada evaluasi bagaimana stigma yang dirasakan memengaruhi kualitas hidup pasien skizofrenia dalam komunitas ini. Penelitian ini adalah jenis penelitian analitik korelasional dengan desain crosectional yang menggunakan seluruh populasi pasien skizofrenia di wilayah Kecamatan Gucialit. Sampel dipilih menggunakan teknik purposive sampling sebanyak 35 responden, dan pengukuran stigma yang dirasakan serta kualitas hidup (Quality of Life Intervie. dilakukan dengan menggunakan lembar kuesioner serta analisis statistik SPSS dengan uji Spearman's rho. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas responden memiliki stigma positif yang dirasakan, yaitu sebanyak 21 responden . %), dan sebagian besar responden memiliki kualitas hidup yang tinggi, yaitu sebanyak 22 responden . ,9%). Analisis statistik menggunakan uji Spearman's rho menunjukkan nilai signifikansi < 0,05 . , yang menunjukkan adanya hubungan signifikan antara stigma yang dirasakan dan kualitas hidup pasien skizofrenia di Kecamatan Gucialit. Temuan ini menunjukkan bahwa stigma yang dirasakan memengaruhi kualitas hidup pasien skizofrenia, di mana stigma yang lebih rendah dikaitkan dengan kualitas hidup yang lebih baik. Oleh karena itu, intervensi yang bertujuan mengurangi stigma dan meningkatkan penerimaan sosial dapat berkontribusi positif terhadap kualitas hidup pasienpasien ini. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi untuk mengembangkan programprogram peningkatan kualitas hidup pasien skizofrenia melalui pengurangan stigma yang Kata kunci: Stigma yang dirasakan, kualitas hidup, skizofrenia ABSTRACT The complexity of schizophrenia requires a multifaceted approach to its treatment, including medication, psychotherapy, and social support. However, one important aspect that is often overlooked in the management of schizophrenia is the stigma associated with the This study aims to investigate the corelation perceived stigma and the quality of life of schizophrenia patients in Gucialit district. The research is focused on evaluating how Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc perceived stigma influences the quality of life for patients with schizophrenia in this This study is a type of correlational analytical research using a cross-sectional design with the entire population of schizophrenia patients in the Gucialit District area. The sample was selected using a purposive sampling technique of 35 respondents and the measurement of perceived stigma and quality of life (Quality of Life Intervie. using a questionnaire sheet with an SPSS statistical analysis test using Spearman's rho. The results research that the majority of respondents had a positive perceived stigma, with 21 respondents . %), and most respondents had a high quality of life, with 22 respondents . 9%). Statistical analysis using Spearman's rho test indicated a significance value of < 0. suggesting a significant relationship between perceived stigma and the quality of life of schizophrenia patients in the Gucialit District. These findings indicate that perceived stigma affects the quality of life of schizophrenia patients, where lower stigma is associated with a better quality of life. Therefore, interventions aimed at reducing stigma and increasing social acceptance may positively contribute to the quality of life of these patients. This study is expected to serve as a reference for developing programs to improve the quality of life of schizophrenia patients through the reduction of perceived stigma. Keywords: Perceived stigma, quality of life, schizophrenia PENDAHULUAN Gangguan jiwa, khususnya skizofrenia, merupakan salah satu tantangan kesehatan mental yang kompleks dan seringkali memerlukan perhatian khusus. Pasien skizofrenia tidak hanya harus menghadapi gejala psikotik, tetapi juga berjuang dengan berbagai dampak sosial dan psikologis, termasuk stigma sosial. Salah satu aspek kritis yang dapat memengaruhi kualitas hidup pasien skizofrenia adalah stigma yang dirasakan atau perceived stigma (Sari, 2. Kesehatan jiwa masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang signifikan di dunia, termasuk di Indonesia. Menurut data WHO . , terdapat sekitar 35 juta orang terkena depresi, 60 juta orang terkena bipolar, 21 juta terkena Skizofrenia, serta 47,5 juta terkena Di Indonesia dengan berbagai faktor biologis, psikologis dan sosial dengan keanekaragaman penduduk. maka jumlah kasus gangguan jiwa terus bertambah yang berdampak pada penambahan beban negara dan penurunan produktivitas manusia untuk jangka Data Riskesdas . menunjukkan prevalensi gangguan mental emosional yang ditunjukkan dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan untuk usia 15 tahun ke atas mencapai sekitar 14 juta orang atau 6% dari jumlah penduduk Indonesia, jumlah ini meningkat pada tahun 2018 menjadi 9,8 % penduduk indonesia ( Riskesdas 2. Sedangkan prevalensi gangguan jiwa berat, seperti Skizofreniamencapai sekitar 400. 000 orang atau sebanyak 1,7% dari jumlah penduduk Indonesia dan jumlah tersebut meningkat menjadi 7 % di tahun 2018. Data pasien Skizofrenia 15,1% sedangkan yang tidak minum obat ada 51,1 %,sedangkan pasien yang minum obat secara rutin ada 48,9%, pasien yang tidak minum obat secara rutin ada 51,1%. Dari data survei riskesdas 2018 didapatkan beberapa alasan yaitu 36 % karena sudah merasa sehat, 33% karena tidak rutin minum obat, 23% karena tidak mampu beli obat, 7 % karena tidak tahan terhadap efeksamping obat, 6,1% sering lupa , 6,1% karena sering lupa 3 % karena obat tidak tersedia , 32 % karena alasan dan lain lain . Menurut Riset Kesehatan Dasar tahun 2018 disebutkan bahwa estimasi angka gangguan jiwa berat di Jawa Timur mencapai 0,19% dari jumlah total penduduk Jawa Timur 39. 395 (Dinkes Jatim. Tingginya angka gangguan jiwa di Jawa Timur ini tidak boleh dipandang sebelah mata. Oleh karena itu, diperlukan upaya penanganan yang serius baik dari dinas kesehatan, organisasi perangkat daerah, masyarakat, dan keluarga terkait kasus gangguan jiwa. Kecamatan Gucialit Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc merupakan salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Lumajang. Provinsi Jawa Timur, menurut data UPT Pusat Kesehatan Masyarakat gucialit pada tahun 2023, jumlah ODGJ di Kecamatan Gucialit sebanyak 44 jiwa. Studi pendahuluan yang dilakukan di Puskesmas Gucialit didapatkan hasil wawancara kepada 5 partisipan yang bertetangga dengan penderita gangguan jiwa menunjukkan bahwa 3 partisipan mengatakan takut saat bertemu penderita gangguan jiwa dikarenakan sikap dan tingkah laku mereka yang aneh seperti berbiacara sendiri, melempar barang dan berteriakteriak sehingga mereka sering menghindar dan tidak mau berurusan dengan penderita gangguan jiwa tersebut. Satu partisipan mengatakan bahwa mereka sering mondar-mandir di sekitar lingkungan, seharusnya penderita gangguan jiwa tersebut dikurung atau dibawa ke RSJ. Satu partisipan lain mengatakan biasa saja apabila penderita gangguan jiwa tersebut tidak menganggu orang-orang di lingkungannya. Gangguan jiwa, khususnya skizofrenia, merupakan salah satu tantangan kesehatan mental yang signifikan di seluruh dunia. Menurut World Health Organization (WHO), skizofrenia adalah gangguan mental yang memengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku individu, dan seringkali memiliki dampak yang merugikan pada kualitas hidup mereka. Meskipun penelitian dan pengembangan perawatan telah mencapai kemajuan, individu dengan skizofrenia masih sering menghadapi stigmatisasi sosial yang dapat memperburuk kondisi Salah satu aspek terpenting yang memerlukan penelitian lebih lanjut adalah perceived stigma, yaitu persepsi individu terhadap pandangan negatif dan diskriminasi terhadap mereka yang mengalami skizofrenia. Perceived stigma dapat menghambat pencarian bantuan, pengobatan, dan integrasi sosial, serta dapat mempengaruhi harga diri dan kualitas hidup Oleh karena itu, pemahaman mendalam tentang hubungan antara perceived stigma dan kualitas hidup menjadi esensial untuk merancang strategi intervensi yang lebih efektif ( Eni,2. Stigma dapat termanifestasi dalam berbagai bentuk, termasuk ketidakmengertian, ketakutan, dan diskriminasi terhadap individu dengan gangguan jiwa. Perceived stigma mengacu pada persepsi individu terhadap stereotip dan diskriminasi yang mungkin mereka hadapi dalam masyarakat sehubungan dengan kondisi kesehatan mental mereka. Hal ini dapat mempengaruhi persepsi diri, harga diri, dan interaksi sosial, dengan potensi dampak negatif pada kualitas hidup pasien (Widyawati, 2. Hasil penelitian Ice Yulia Wardani . tentang kualitas hidup pasien skizofrenia melalui stigma diri didapapatkan bahwa Hasil dari penelitian adalah ada hubungan antara stigma diri dengan kualitas hidup pasien Skizofrenia. Level stigma diri termasuk kedalam klasifikasi stigma tinggi dan klasifikasi kualitas hidup yang rendah. Penelitian ini merekomendasikan pelaksanaan intervensi keperawatan yang berorientasi pada pasien berupa pencegahan stigma negatif dan peningkatan kualitas hidup. Meskipun ada peningkatan kesadaran akan pentingnya kesehatan mental, stigma terhadap gangguan jiwa masih menjadi hambatan utama dalam upaya rehabilitasi dan reintegrasi sosial pasien skizofrenia. Oleh karena itu, penelitian yang mengkaji hubungan antara perceived stigma dan kualitas hidup pasien skizofrenia sangat penting untuk membantu mengidentifikasi faktor-faktor yang dapat memperbaiki intervensi dan dukungan sosial bagi mereka. Dari latar belakang diatas penelti ingin meneliti tentang Hubungan perceived stigma dengan kualitas hidup pasien gangguan jiwa skizofrenia di wilayah kecamatan Gucialit. METODE PENELITIAN Desain pada penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan pendekatan desain penelitian model Deskriptif Korelatif. Penelitian yang dilakukan ini bersifat deskriptif korelasional dengan rancangan penelitian cross-sectional. Penelitian deskiripsi korelasional adalah desain penelitian yang digunakan untuk menjelaskan hubungan. Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc memperkirakan dan menguji suatu teori yang ada antara 2 variabel atau lebih. Yaitu Hubungan perceived stigma dengan kualitas hidup pasien gangguan jiwa skizofrenia di wilayah kecamatan Gucialit. Adapun pendekatan yang digunakan adalah Cross Sectional yaitu data antara variabel independen dan dependen akan dikumpulkan dalam waktu yang bersamaan. Populasi pada penelitian ini adalah Seluruh pasien gangguan jiwa skizofrenia di wilayah kecamatan Gucialit. sebanyak 35 responden dengan sampel Sampel pasien gangguan jiwa skizofrenia di wilayah kecamatan Gucialit. sebanyak 35 responden peneliti menggunakan purposive sampling untuk mengambil sampel sesuai kriteria inklusi dan ekslusi yang sudah HASIL PENELITIAN Tabel 1 frekuensi identifikasi Perceived Stigma Pasien Gangguan Jiwa Skizofrenia Di Wilayah Kecamatan Gucialit Perceived Stigma Positif Negatif Total Frekuensi . Prosentase (%) Dari hasil Tabel 1 di dapatkan bahwa sebagian besar responden Di Wilayah Kecamatan Gucialit mendapatkan Perceived Stigma kategori positif sebanyak 21 responden . %). Tabel 2 frekuensi identifikasi Kualitas Hidup Pasien Gangguan Jiwa Skizofrenia Di Wilayah Kecamatan Gucialit Kualitas hidup Tinggi Sedang Rendah Total Frekuensi . Prosentase (%) Dari hasil Tabel 2 di dapatkan bahwa sebagian besar responden Di Wilayah Kecamatan Gucialit memiliki kualitas hidup kateori tinggi sebanyak 22 responden . ,9%). Tabel silang 3 antara Perceived Stigma Dengan Kualitas Hidup Pasien Gangguan Jiwa Skizofrenia Di Wilayah Kecamatan Gucialit Kualitas hidup Perceived Stigma Tinggi Sedang Positif Negatif 60,0% 2,9% Total 62,9% 31,4% 31,4% Rendah 0,0% 5,7% 5,7% Tot 60,0% 40,0% Dari hasil Tabel silang 5. 7 di dapatkan bahwa sebagian besar responden Di Wilayah Kecamatan Gucialit mendapatkan Perceived Stigma kategori positif memiliki kualitas hidup kategori tinggi sebanyak 21 responden . %). Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc Tabel 4 Hubungan Perceived Stigma Dengan Kualitas Hidup Pasien Gangguan Jiwa Skizofrenia Di Wilayah Kecamatan Gucialit Correlations Spearman's Stigma Kualitas Correlation Coefficient Sig. -taile. Correlation Coefficient Sig. -taile. Stigma 1,000 Kualitas hidup ,928** ,928** ,000 1,000 ,000 Hasil uji analisis Spearman's rho menunjukkan nilai <0,05, yaitu ( 0,. yang berarti bahwa adaHubungan Perceived Stigma Dengan Kualitas Hidup Pasien Gangguan Jiwa Skizofrenia Di Wilayah Kecamatan Gucialit. Nilai Correlation Coefficient menunjukkan angka ( 0. yang berarti bahwa Perceived Stigma memiliki pengaruh yang kuat terhadap Kualitas Hidup Pasien Gangguan Jiwa Skizofrenia. Nilai positif menunjukkan bahwa semakin positif Perceived Stigma maka semakin tinggi Kualitas Hidup Pasien Gangguan Jiwa Skizofrenia Di Wilayah Kecamatan Gucialit PEMBAHASAN Identifikasi Perceived Stigma Pasien Gangguan Jiwa Skizofrenia Di Wilayah Kecamatan Gucialit Gangguan jiwa, khususnya skizofrenia, merupakan salah satu tantangan kesehatan mental yang kompleks dan seringkali memerlukan perhatian khusus. Pasien skizofrenia tidak hanya harus menghadapi gejala psikotik, tetapi juga berjuang dengan berbagai dampak sosial dan psikologis, termasuk stigma sosial. Salah satu aspek kritis yang dapat memengaruhi kualitas hidup pasien skizofrenia adalah stigma yang dirasakan atau perceived stigma (Sari, 2. Gangguan jiwa, khususnya skizofrenia, merupakan salah satu tantangan kesehatan mental yang signifikan di seluruh dunia. Menurut World Health Organization (WHO), skizofrenia adalah gangguan mental yang memengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku individu, dan seringkali memiliki dampak yang merugikan pada kualitas hidup mereka. Perceived stigma dapat menghambat pencarian bantuan, pengobatan, dan integrasi sosial, serta dapat mempengaruhi harga diri dan kualitas hidup pasien. Oleh karena itu, pemahaman mendalam tentang hubungan antara perceived stigma dan kualitas hidup menjadi esensial untuk merancang strategi intervensi yang lebih efektif ( Eni,2018 ). Stigma dapat termanifestasi dalam berbagai bentuk, termasuk ketidakmengertian, ketakutan, dan diskriminasi terhadap individu dengan gangguan jiwa. Perceived stigma mengacu pada persepsi individu terhadap stereotip dan diskriminasi yang mungkin mereka hadapi dalam masyarakat sehubungan dengan kondisi kesehatan mental mereka. Hal ini dapat mempengaruhi persepsi diri, harga diri, dan interaksi sosial, dengan potensi dampak negatif pada kualitas hidup pasien (Widyawati, 2. Peneliti berpendapat bahwa sebagian besar pasien skizofrenia di Kecamatan Gucialit memiliki perceived stigma yang positif, menunjukkan adanya persepsi diri yang lebih baik dan tingkat penerimaan sosial yang cukup tinggi. Ini menandakan bahwa banyak pasien merasa didukung dan tidak terlalu mengalami stigma dari lingkungan sekitar mereka. amun, masih ada sejumlah pasien yang mengalami perceived stigma negatif, yang menunjukkan bahwa Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc beberapa pasien merasa distigmatisasi atau memandang diri mereka secara negatif karena kondisi kesehatan mental mereka. Oleh karena itu, peneliti menekankan pentingnya intervensi untuk mengurangi stigma negatif ini melalui edukasi masyarakat, peningkatan dukungan sosial, dan program pemberdayaan pasien, guna membantu mereka mengatasi perasaan negatif dan meningkatkan kualitas hidup mereka. Stigma positif, mengacu pada situasi di mana pandangan masyarakat terhadap individu dengan gangguan jiwa dapat memberikan dukungan atau manfaat tertentu. Dalam konteks ini, stigma positif berarti bahwa pasien mungkin mengalami perlakuan atau dukungan yang lebih baik dari masyarakat atau keluarga karena adanya persepsi tertentu mengenai gangguan jiwa Contohnya, jika masyarakat atau keluarga memberikan dukungan tambahan, perhatian khusus, atau bantuan karena pandangan positif mereka terhadap keberanian atau usaha pasien dalam mengatasi gangguan jiwa, hal ini bisa memberikan dampak yang baik bagi pasien. Dukungan ini dapat meningkatkan rasa percaya diri pasien, memperbaiki kesejahteraan emosional mereka, dan memfasilitasi proses pemulihan. Namun, penting untuk diingat bahwa meskipun stigma positif mungkin memberikan beberapa manfaat, idealnya, kita harus berfokus pada penghapusan stigma secara keseluruhan dan mengedukasi masyarakat untuk memahami gangguan jiwa dengan cara yang lebih menyeluruh dan non-stigmatizing. Ini akan menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan mendukung bagi semua pasien dengan gangguan jiwa. Identifikasi Kualitas Hidup Pasien Gangguan Jiwa Skizofrenia Di Wilayah Kecamatan Gucialit Secara keseluruhan, hasil ini menunjukkan bahwa sebagian besar pasien skizofrenia di Kecamatan Gucialit merasa memiliki kualitas hidup yang tinggi, namun ada juga sejumlah pasien yang memerlukan perhatian lebih lanjut untuk meningkatkan kesejahteraan mereka, terutama mereka yang melaporkan kualitas hidup yang sedang dan rendah. Kualitas hidup pasien dengan skizofrenia dipengaruhi oleh berbagai faktor yang saling terkait. Gejala utama skizofrenia, seperti halusinasi, delusi, dan gangguan pemikiran, dapat secara signifikan memengaruhi kesejahteraan psikologis dan kemampuan mereka untuk berfungsi sehari-hari. Selain itu, stabilitas emosional dan efektivitas pengobatan serta terapi berperan penting dalam mengelola gejala dan meningkatkan kualitas hidup. Dukungan sosial dari keluarga, teman, dan komunitas juga sangat krusial, karena keterlibatan sosial dapat membantu mengurangi isolasi dan meningkatkan rasa keterhubungan. Kesehatan fisik yang baik turut mempengaruhi kualitas hidup, karena masalah kesehatan fisik dapat memperburuk gejala psikiatrik. (Syaharia, 2. Dukungan dari keluarga terdekat dan masyarakat memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap kualitas hidup pasien dengan gangguan jiwa. Keluarga terdekat berperan sebagai sumber utama dukungan emosional dan praktis, membantu pasien dalam menjalani perawatan dan menghadapi tantangan sehari-hari. Dukungan ini dapat mencakup penyediaan perawatan sehari-hari, keterlibatan dalam terapi, serta menciptakan lingkungan yang stabil dan aman. Selain itu, keluarga dapat membantu pasien mengelola gejala, mematuhi pengobatan, dan mengatasi masalah yang mungkin timbul. Dukungan sosial yang kuat dari kedua sumber ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan emosional pasien tetapi juga dapat mempengaruhi keberhasilan pengobatan dan proses rehabilitasi mereka (Oztasan. Ozyrek, & Kilic, 2. Peneliti berpendapat bahwa mayoritas pasien melaporkan memiliki kualitas hidup yang Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar pasien merasa cukup puas dengan keadaan hidup mereka, mungkin karena adanya dukungan sosial, akses ke perawatan kesehatan, atau strategi koping yang efektif. Sebagian lainnya memiliki kualitas hidup pada tingkat sedang, yang menunjukkan bahwa mereka mengalami beberapa kesulitan, namun masih dapat mengelola kondisi mereka dengan cukup baik. Sementara itu, hanya sedikit pasien yang Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc melaporkan kualitas hidup yang rendah, yang mengindikasikan adanya tantangan yang signifikan dalam kesejahteraan mereka, mungkin terkait dengan keterbatasan akses ke perawatan, dukungan sosial yang kurang, atau dampak negatif dari stigma sosial. Secara keseluruhan, temuan ini menunjukkan adanya variasi dalam persepsi kualitas hidup di antara pasien skizofrenia di Kecamatan Gucialit. Meskipun mayoritas merasa memiliki kualitas hidup yang baik, masih ada kebutuhan untuk memberikan perhatian khusus kepada mereka yang melaporkan kualitas hidup sedang dan rendah untuk meningkatkan kesejahteraan mereka secara keseluruhan. tingginya persentase responden yang menunjukkan kualitas hidup yang baik ini mungkin disebabkan oleh beberapa faktor positif yang mendukung kesejahteraan Faktor-faktor tersebut bisa mencakup adanya dukungan sosial yang kuat dari keluarga dan masyarakat, akses yang memadai ke layanan kesehatan dan perawatan, serta adanya intervensi atau program yang efektif dalam meningkatkan kualitas hidup. Peneliti juga mungkin mencatat bahwa faktor-faktor seperti dukungan emosional, keterlibatan dalam kegiatan sosial, dan pemahaman yang lebih baik tentang gangguan jiwa di komunitas dapat berkontribusi pada hasil ini. Namun, penting untuk terus memantau dan mengevaluasi berbagai aspek yang mempengaruhi kualitas hidup, termasuk potensi perbedaan individu dan dampak dari faktor-faktor lingkungan serta sosial. Peneliti mungkin menyarankan adanya upaya berkelanjutan untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidup, dengan tetap memperhatikan setiap perubahan atau tantangan yang mungkin muncul di masa depan. Hubungan Perceived Stigma Dengan Kualitas Hidup Pasien Gangguan Jiwa Skizofrenia Di Wilayah Kecamatan Gucialit Hasil uji analisis Spearman's rho menunjukkan nilai <0,05, yaitu ( 0,. yang berarti bahwa adaHubungan Perceived Stigma Dengan Kualitas Hidup Pasien Gangguan Jiwa Skizofrenia Di Wilayah Kecamatan Gucialit. Nilai Correlation Coefficient menunjukkan angka ( 0. yang berarti bahwa Perceived Stigma memiliki pengaruh yang kuat terhadap Kualitas Hidup Pasien Gangguan Jiwa Skizofrenia. Nilai positif menunjukkan bahwa semakin positif Perceived Stigma maka semakin tinggi Kualitas Hidup Pasien Gangguan Jiwa Skizofrenia Di Wilayah Kecamatan Gucialit. Dari Tabel 5. 7 menunjukkan hubungan antara perceived stigma dan kualitas hidup pasien gangguan jiwa skizofrenia di wilayah Kecamatan Gucialit. Data menunjukkan bahwa semua pasien dengan perceived stigma positif . pasien, 60,0%) memiliki kualitas hidup yang tinggi. Tidak ada pasien dengan perceived stigma positif yang mengalami kualitas hidup sedang atau rendah. Sebaliknya, dari 14 pasien dengan perceived stigma negatif, hanya 1 pasien . ,9%) yang melaporkan kualitas hidup tinggi, sementara 11 pasien . ,4%) memiliki kualitas hidup sedang, dan 2 pasien . ,7%) mengalami kualitas hidup Temuan ini mengindikasikan bahwa pasien dengan perceived stigma positif cenderung memiliki kualitas hidup yang lebih baik, sementara pasien dengan perceived stigma negatif cenderung mengalami kualitas hidup yang lebih rendah. Ini menunjukkan bahwa persepsi stigma terhadap diri sendiri berperan penting dalam menentukan kualitas hidup pasien. Oleh karena itu, upaya untuk mengurangi perceived stigma negatif dapat membantu meningkatkan kualitas hidup pasien gangguan jiwa skizofrenia. Hasil penelitian Ice Yulia Wardani . tentang kualitas hidup pasien skizofrenia melalui stigma diri didapapatkan bahwa Hasil dari penelitian adalah ada hubungan antara stigma diri dengan kualitas hidup pasien Skizofrenia. Level stigma diri termasuk kedalam klasifikasi stigma tinggi dan klasifikasi kualitas hidup yang rendah. Penelitian ini merekomendasikan pelaksanaan intervensi keperawatan yang berorientasi pada pasien berupa pencegahan stigma negatif dan peningkatan kualitas hidup. Stigma positif dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien dengan gangguan jiwa secara positif, tetapi efeknya bisa bervariasi tergantung pada konteksnya. Stigma positif merujuk pada situasi di mana pandangan atau sikap Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc masyarakat terhadap gangguan jiwa memberikan keuntungan atau dukungan bagi pasien (Daryanto, 2. Stigma positif dapat mempengaruhi kualitas hidup pasien dengan gangguan jiwa secara Stigma positif merujuk pada situasi di mana pandangan masyarakat terhadap gangguan jiwa memberikan keuntungan atau dukungan yang bermanfaat bagi pasien. Ketika masyarakat atau keluarga memberikan dukungan tambahan karena pandangan positif terhadap usaha atau keberanian pasien dalam menghadapi gangguan jiwa, hal ini dapat meningkatkan rasa percaya diri dan kesejahteraan emosional pasien. Dalam beberapa kasus, stigma positif juga dapat memperbaiki akses pasien ke layanan dan sumber daya, karena masyarakat mungkin lebih bersedia memberikan bantuan ketika mereka memiliki pandangan yang lebih baik tentang gangguan jiwa. Pandangan positif dari orang lain dapat memotivasi pasien untuk terus berusaha dalam proses pemulihan dan mengelola gejala dengan lebih baik. Meskipun stigma positif dapat memiliki efek menguntungkan, penting untuk berfokus pada penghapusan semua bentuk stigma dan mempromosikan pemahaman yang lebih inklusif dan adil tentang gangguan jiwa untuk menciptakan lingkungan yang lebih mendukung bagi semua individu (Purnama. Indra & Sutini 2. Stigma terhadap gangguan jiwa harus dihapus karena dampaknya yang signifikan terhadap proses kesembuhan pasien. Stigma, baik dalam bentuk negatif maupun positif, dapat mempengaruhi kualitas hidup dan efektivitas perawatan pasien dengan gangguan jiwa. Stigma negatif sering kali menyebabkan isolasi sosial, diskriminasi, dan kurangnya dukungan, yang dapat memperburuk gejala dan menghambat akses pasien ke layanan perawatan yang mereka Hal ini juga dapat mengurangi motivasi pasien untuk mencari bantuan atau mematuhi pengobatan yang direkomendasikan (Elfirda, 2. Di sisi lain, meskipun stigma positif dapat memberikan beberapa keuntungan, seperti dukungan tambahan dari keluarga atau masyarakat, idealnya kita harus berfokus pada penghapusan semua bentuk stigma untuk menciptakan lingkungan yang lebih inklusif dan Menghapus stigma akan membantu pasien merasa diterima dan dihargai, mempermudah akses mereka ke perawatan yang efektif, dan meningkatkan kualitas hidup mereka secara keseluruhan. Dengan meningkatkan pemahaman dan empati di masyarakat, kita dapat menciptakan kondisi yang lebih baik untuk kesembuhan dan pemulihan pasien gangguan jiwa (Gunawan, 2. Peneliti berpendapat bahwa temuan ini menunjukkan bahwa persepsi stigma yang positif dapat memberikan dampak yang bermanfaat bagi pasien, seperti meningkatkan dukungan sosial, rasa percaya diri, dan integrasi sosial. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh pandangan masyarakat yang lebih mendukung dan pemahaman yang lebih baik terhadap gangguan jiwa, yang pada akhirnya berkontribusi pada peningkatan kualitas hidup pasien. Peneliti juga mengamati bahwa dukungan sosial yang kuat dan penerimaan dari komunitas dapat mengurangi isolasi sosial dan meningkatkan keterlibatan pasien dalam aktivitas sosial, yang berperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan mereka. Oleh karena itu, peneliti menyarankan agar upaya-upaya untuk meningkatkan pemahaman dan sikap positif terhadap gangguan jiwa perlu terus dilanjutkan. Kampanye kesadaran dan pendidikan yang menyeluruh di masyarakat diharapkan dapat memperkuat dukungan sosial dan mengoptimalkan kualitas hidup pasien gangguan jiwa skizofrenia di masa depan. SIMPULAN SARAN Sebagian besar responden memiliki Perceived Stigma kategori positif sebanyak 21 responden . %). Sebagian besar respondenmemiliki kualitas hidup kateori tinggi sebanyak 22 responden . ,9%) Hasil uji analisis Spearman's rho menunjukkan nilai <0,05, yaitu ( 0,. yang berarti bahwa ada Hubungan Perceived Stigma Dengan Kualitas Hidup Pasien Jurnal Ilmu Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 11 November 2024 https://journal-mandiracendikia. com/jikmc Gangguan Jiwa Skizofrenia Di Wilayah Kecamatan Gucialit. Pasien Gangguan Jiwa Skizofrenia Di Wilayah Kecamatan Gucialit. DAFTAR PUSTAKA