Jayapangus Press Jurnal Penelitian Agama Hindu Volume 7 Nomor 2 (2023) ISSN : 2579-9843 (Media Online) Bentuk Integrasi Pemujaan Tri Murti Di Pura Dalem Taak Desa Batubulan Kecamatan Sukawati Kabupaten Gianyar I Nyoman Alit Supandi Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar alitsupandi85@gmail.com Abstract Pura Dalem Taak has its own uniqueness where there is the concept of Tri Murti in it. The concept of the Tri Murti is generally worshiped in certain temples, but in Dalem Taak Temple, the gods Brahma, Vishnu and Shiva become a worship unit that cannot be separated from one another. This happened because of an integration between Dalem Bantas Temple and Dalem Taak Temple. The purpose of this study was to analyze the existence of an integrated form of Tri Murti worship in the Dalem Taak Temple, Batubulan Village, Sukawati District, Gianyar Regency. The type of research used is qualitative using religious theory and structural-functional theory. The data sources in this research are primary data sources and secondary data sources. Primary data sources were obtained through observation and interviews while secondary data sources were obtained through document studies and literature studies. The results of this study are 1) The architecture of the Dalem Taak Temple building has the Tri Mandala, as a medium for developing harmony within the Tri Hita Karana territory. 2) The Pelinggih building ornament at Dalem Taak Temple has its aesthetic value and also has its own symbolic meaning. 3) Upakara or ceremonies are held at Dalem Taak Temple, which is on Kuningan day. The integration of Pura Dalem Taak was carried out thanks to community communication and the Bhujangga Waisnawa clan, previously at Pura Dalam Taak there was one shrine namely Padma Rong Lima, and there were no graves or other shrines yet, Pura Dalem Bantas was moved to Pura Dalem Taak so that it is now a single unit that intact. Keywords: Integration; Tri Murti Worship; Dalem Taak Temple Abstrak Pura Dalem Taak memiliki keunikan tersendiri dimana terdapat konsep Tri Murti di dalamnya. Konsep Tri Murti itu umumnya dipuja di pura tertentu, tetapi di Pura Dalem Taak, Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa menjadi satu kesatuan pemujaan yang tidak dapat dipisahkan, antara yang satu dengan yang lainnya. Hal ini terjadi karena suatu integrasi antara Pura Dalem Bantas dengan Pura Dalem Taak. Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis eksistensi bentuk integrasi pemujaan Tri Murti di Pura Dalem Taak Desa Batubulan Kecamatan Sukawati Kabupaten Gianyar. Jenis penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan menggunakan teori religi dan teori struktural fungsional. Sumber data dalam penelitian ini adalah sumber data primer dan sumber data skunder. Sumber data primer diperoleh melalui observasi dan wawancara sedangkan sumber data sekunder diperoleh melalui studi dokumen dan studi kepustakaan. Hasil penelitian ini adalah 1) Arsitektur bangunan Pura Dalem Taak memiliki Tri Mandala, sebagai media untuk mengembangkan kerukunan dalam teritorial Tri Hita Karana. 2) Ornamen Bangunan Pelinggih di Pura Dalem Taak memiliki nilai estetikanya juga memiliki makna simbolis tersendiri. 3) Upakara atau upacara di dilaksanakan di Pura Dalem Taak, yaitu pada saat hari raya Kuningan. Integrasi Pura Dalem Taak dilakukan berkat komunikasi masyarakat dan klen Bhujangga Waisnawa, dulunya di Pura Dalem https://jayapanguspress.penerbit.org/index.php/JPAH 135 Taak terdapat satu pelinggih yaitu Padma Rong Lima, dan belum terdapat kuburan maupun pelinggih yang lainnya, Pura Dalem Bantas dipindahkan ke Pura Dalem Taak sehingga sekarang menjadi satu kesatuan yang utuh. Kata Kunci: Integrasi; Pemujaan Tri Murti; Pura Dalem Taak Pendahuluan Keberadaan pulau Bali dimata dunia di kenal dengan banyak nama, seperti The Island Paradise of The World (Pulau Surga) atau The Island of Thousand Temples (Pulau Seribu Pura). Setiap pura memiliki fungsi masing-masing, dimana aktivitas umat Hindu dalam memahami ajarannya yaitu tattwa, susila, dan acara. Tattwa yang menitikberatkanpada filsafat atau inti ajaran Agama Hindu, susila menekankan pada pola prilaku yang berdasarkan etika, sedangkan upacara lebih difokuskan pada acara ritual keagamaan (Watra, 2007). Ajaran tattwa dalam Agama Hindu di Bali diimplementasikan ke dalam konsep keyakinan melalui ajaran panca sraddha. Dimana manusia tergolong makluk yang serba ingin mengetahui setiap sebab dari suatu akibat (Budaarsa, K., 2012). Dalam melaksanakan kegiatan ritual, sembah bhakti atau upacara umat Hindu di Bali di lakukan di pura atau tempat suci, di tempat suci umat Hindu pada umumnya mengadakan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan Yang Maha Esa. Padazaman pemerintahan Sri Udayana Warmadewa memerintahkan umat agar mendirikan tempat suci pada setiap desa masing-masing, tempat suci tersebut adalah Pura Kahyangan Tiga. Pura yang memiliki ciri kesatuan wilayah sebagai tempat pemujaan masyarakat (Kiriana, 2021). Kahyangan Tiga yang mencakup Pura Desa pemujaan terhadap Dewa Brahma sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai pencipta alam semesta beserta dengan isinya, Pura Puseh pemujaan terhadap Dewa Wisnu sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai pemelihara, dan Pura Dalem pemujaan terhadap Dewa Siwa sebagaimanifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa sebagai pelebur Alam semesta beserta dengan isinya. Pura Dalem Taak termasuk dalam kategori Pura teritorial yaitu pura yang memiliki ciri kesatuan wilayah sebagai pemujaan suatu desa adat yaitu pura kahyangan tiga. Di Pura Dalem Taak yang terdapat di Desa Batubulan terdapat suatu fenomena, dimana terdapat beberapa pelinggih yang berbeda di Pura Dalem Taak dengan Pura dalem yang lainnya. Contohnya seperti terdapat pelinggih Hyang Api dan pelinggih Dewa Wisnu di dalam Pura Dalem Taak. Selain itu juga terdapat keunikan dimana di dalam Pura Dalem Taak terdapat Pura Penangsaran atau Tegal Penangsaran, Titi UgalAgil, terdapatPelinggih Hyang Api perwujudan dari Dewa Brahma, Pelinggih Padma Rong Lima perwujudan dari Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa yang berstana di Pura Dalem Taak. Sehingga di dalam Pura Dalam Taak Desa Batubulan, terdapat konsep Tri Murti sebagai suatu integrasi atau penyatuan oleh masyarakat setempat. Integrasi terjadi karena adanya suatu kendala di sekitaran Pura Dalem Bantas, penambahan jumlah penduduk, perkembangan permukiman penduduk dan banyak faktor yang terjadi sehingga adanya suatu kesepakatan masyarakat setempat dan pengempon Pura Dalem Taak terkait pengintegrasian antara Pura Dalem Bantas dengan Pura Dalem Taak. Keunikan terdahulu sebelum terjadi integrasi bahwa di Pura Dalem Taak tidak terdapat kuburan sehingga setelah terjadinya integrasi Pura Dalem Taak memiliki kuburan akan tetapi Pura Dalem Bantas yang dulunya memiliki kuburan sekarang tanpa terdapat kuburan. Selain sebagai tempat bersembahyang Pura Dalem Taak juga dijadikan tempat kontak (komunikasi) antar sesama Desa Adat Jro Kuta dalam berbagai kegiatan keagamaan. https://jayapanguspress.penerbit.org/index.php/JPAH 136 Berdasarkan uraian di atas, konsep Tri Murti terdapat di Pura Dalem Taak. Dimana yangseharusnya konsep di Pura Dalem Taak dipuja pada pura tertentu, misalnya: Pura Desa bersetana Dewa Brahma, Pura Puseh bersetana Dewa Wisnu, Dewa Siwa bersetana di Pura Dalem. Tetapi di Pura Dalem Taak Dewa Brahma, Wisnu, Siwa menjadi satu kesatuan pemujaan dan sangat jarang menemukan konsep Tri Murti, seperti yang ada di dalam Pura Dalem Taak. Di Pura Dalem Taak yang melaksanakan sujud bhakti bukan dari lingkungan Desa Adat Jro Kuta saja, melainkan dari penduduk Singaraja juga melaksanakan sujud bhakti disana. Akan tetapi di luar Desa Adat Jro Kuta khusus hanya memuja pelinggih Padma Rong Lima, bahkan terdapat pelinggih khusus soroh Bhujangga. Di samping itu mangkunya juga berbeda antara Padma Rong Lima dengan Pura Dalam Taak, akan tetapi waktu piodalannya bersamaan. Pura Delam Taak dengan Padma RongLima sama-sama di puput oleh sulinggih. Metode Jenis penelitian adalah kualitatif. Sumber data terdapat dua jenis yaitu data primer dan data sekunder. Sumber data primer diperoleh melalui observasi dan wawancara sedangkan sumber data sekunder diperoleh melalui studi dokumen dan studi kepustakaan.Penentuan informan dalam penelitian ini dilakukan dengan cara purposive. Teknik pengumpulan data menggunakan reduksi data. Sedangkan teknik penyajian data dengan menggunakan metode informal dan dibantu dengan menggunakan teknik deduktif dan induktif. Lokasi penelitiannya adalah Pura Dalem Taak Desa Batubulan, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar. Hasil dan Pembahasan 1. Arsitektur Bangunan Pura Dalem Taak Dalam sebuah pura terdapat susunan berbagai pelinggih sesuai dengan kegunaan dan fungsinya masing-masing. Dalam setiap pura di setiap desa sudah pasti memiliki pelinggih yang jumlah dan bentuknya tidak semuanya sama. Hal ini disebabkan kepercayaan yang diyakini pada sesuatu yang meraka sembah (Goris, 2012). Fenomena yang terjadi di masyarakat memang benar terdapat beberapa pelinggih yang berbeda di Pura Dalem Taak, dan sangat jarang terdapat di Pura Dalem yang lainnya. Pura Dalem Taak terdapat beberapa keunikan yaitu terdapat Pura Penangsaran atau Tegal Penangsaran, Titi Ugal-Agil, terdapat Pelinggih Hyang Api perwujudan dari Dewa Brahma, Pelinggih Padma Rong Lima perwujudan dari Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa yang berstana di Pura Dalam Taak. Di dalam Pura Dalem Taak DesaBatubulan, konsep Tri Murti itu memang ada, karena mengalami suatu integrasi atau penyatuan oleh masyarakat setempat. Pada awalnya Pura Dalem Taak terdapat pelinggih Padma Rong Lima saja, Pura Dalem Bantas berada di sebelah banjar Telabah Batubulan, kemudian dipindahkan oleh masyarakat setempat dan dipuja oleh masyarakat setempat. Berawal itu semua mulai terdapat suatu penyatuan di Pura Dalem Taak. Dibandingkan dengan Pura Dalem yang lainnya, biasanya konsep Tri Murti itu memang ada tetapi dipuja di pura tertentu, misalnya: Pura Desa bersetana Dewa Brahma, Pura Puseh bersetana Dewa Wisnu, Dewa Siwa bersetana di PuraDalem. Tetapi di Pura Dalem Taak Dewa Brahma, Wisnu, Siwa menjadi satu kesatuan pemujaan dan sangat jarang menemukan konsep Tri Murti, seperti yang ada di dalam Pura Dalem Taak. Di Pura Dalem Taak yang melaksanakan sujud bhakti bukan dari lingkungan Desa Adat Jro Kuta saja, melainkan dari Singaraja pun ada melaksanakan sujud bhakti disana. Akan tetapi di luar Desa Adat Jro Kuta mereka khusus memuja pelinggih Padma Rong Lima, bahkan di sini khusus soroh Bhujangga saja, di samping itu keunikannya mangkunya pun juga berbeda antara Padma https://jayapanguspress.penerbit.org/index.php/JPAH 137 Rong Lima dengan Pura Dalam Taak, akan tetapi waktu piodalannya bersamaan, Pura Dalam Taak dan Padma Rong Lima sama-sama di puput oleh sulinggih. Makna teologi Pura Dalem Taak meliputi: makna simbolis, makna penyucian, dan makna teologi, makna simbolis di Pura Dalem Taak sebagai simbul makrokosmos atau khyangan yang terbagi atas tiga halaman sebagai simbul dari bhur loka, bwah loka, dan swah loka. Makna penyucian guna memohon anugrah dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa dan roh suci leluhur (Koentjaraningrat, 2007). Makna teologi bahwa adanya pelinggih Padma Rong Lima dan Gedong Agung lainnya menggambarkan konsep Tuhan yang bersifat Saguna Brahman dan lukisan Acintya pada Ulon bangunan suci Padma Rong Lima melambangkan sifat Tuhan yang Nirguna Brahman. Struktur Padma Rong Lima di Pura Dalem Taak Desa Batubulan ditinjau dari segi pendidikan Agama Hindu Pada dasarnya bentuk Padma tersebut sama halnya, bahwa bentuk bangunan Padma tidak menggunakan atap. Pelinggih Padma Rong Lima sama halnya dengan pelinggih Padma yang lainnya (Putra, 1989). Memiliki bagian dasar, badan dan bagian kepala namun perbedaan yang paling jelas terlihat pada bagian kepala Padma terdapat Rong Lima terdapat ruang (rong) sebanyak lima buah, kemudian di bagian badannya (batur) terlihat perbedaan yang sangat jelas, biasanya pada pelinggih Padma patung Garuda terdapat di bagian belakang namun pada Padma Rong Lima ini patung Garuda terletak di bagian depan dan di bagian belakangnya terdapat Karang Boma, Karang Sae, dan patung Angsa, Selain hal tersebut di bagian badan pada padma umumnya terdapat patung dewa-dewa namun pada Padma Rong Lima terdapat dua patung pendeta (suami istri). Arsitektur bangunan di Pura Dalem Taak juga tidak lepas dari semua konsep arsitektur Bali dalam membangun sebuah Pura. Pura Dalem Taak sebagaimana pura pada umumnya di Bali memiliki tri mandala yakni: nista mandala, madya mandala dan utama mandala. sebelum memasuki madya mandala, umat Hindu atau masyarakat Jro Kuta yang datang di Pura Dalem Taak terlebih dahulu melalui nista mandala, Nista mandala dapat dilihat pada gambar di bawah ini: Gambar 1. Nista Mandala Pura Dalem Taak (Sumber: Dokumentasi Peneliti 2021) Sedangkan Madya mandala yaitu tempat yang berada di tengah setelah nista mandala dan sebelum utama mandala. Madya mandala atau tengah terdapat tembok penyengker yang mengelilingi madya mandala, yang di penuhi dengan ukiran, dan terdapat candi kurung menuju ke utama mandala yang begitu besar dan sangat megah atau mewah, disamping itu terdapat tempat bale pesantian di bagian selatan, yang sering di gunakan pada saat piodalan, di samping itu terdapat Pelinggih Hyang Api dan terdapat bangunan tempat bersthananya atau malinggihnya Sesuhunan apabila digelarnya upacara piodalan dapat dilihat pada gambar dibawah ini: https://jayapanguspress.penerbit.org/index.php/JPAH 138 Gambar 2. Madya Mandala Pura Dalem Taak (Sumber: Dokumentasi Peneliti 2021) Madya mandala yaitu tempat yang berada di tengah setelah nista mandala dan sebelum utama mandala (Kajeng, 1997). Madya mandala atau tengah terdapat tembok penyengker yang mengelilingi madya mandala, yang di penuhi dengan ukiran, dan terdapat candi kurung menuju ke utama mandala yang begitu besar dan sangat megah atau mewah, disamping itu terdapat tempat bale pesantian di bagian selatan, yang sering di gunakan pada saat piodalan, di samping itu terdapat Pelinggih Hyang Api dan terdapat bangunan tempat bersthananya atau malinggihnya Sesuhunan apabila digelarnya upacara piodalan. Piasan sangat panjang, piasan ini menghadap ke selatan, dan di madya mandala masyarakat juga melaksanakan sembah bhakti, memohon keselamatan kepada sesuhunan sehingga antara jasmani maupun rohani (Gunada, 2021). Dalam utama mandala terdapat beberapa pelinggih dan menjadi satu kesatuan, yang tak dapat di pisahkan antara satu dengan yang lainnya. Pelinggih pelinggih ini memiliki suatu yang menarik dan unik yang terdapat di utama mandala. Utama Mandala terdapat pelinggih pada dasarnya sama dengan pura dalem yang lain namun, terdapat perbedaan pelinggih pada umumnya yaitu Padma Rong Lima di bagian selatan utama Mandala Pura Dalem Taak. Arsitektur Pura Dalem Taak sama dengan arsitektur Pura- Pura di Bali pada umumnya, yang membuat perbedaan adalah bentuk arsitektur pelinggihRong Lima yang terdapat pada utama mandala. Arsitektur yang terdapat di Pura Dalem Taak, tujuannya tidak lain untuk menyeimbangkan dan mengharmoniskan dalam pemujaan di Pura Dalem Taak. Utama mandala dapat dilihat pada gambar dibawah ini: Gambar 3. Utama Mandala Pura Dalem Taak (Sumber: Dokumentasi Peneliti 2021) https://jayapanguspress.penerbit.org/index.php/JPAH 139 Utama Mandala terdapat pelinggih pada dasarnya sama dengan pura dalem yang lain namun, terdapat perbedaan pelinggih pada umumnya yaitu Padma Rong Lima di bagian selatan utama MandalaPura Dalem Taak. Arsitektur Pura Dalem Taak sama dengan arsitektur Pura-Pura di Bali pada umumnya, yang membuat perbedaan adalah bentuk arsitektur pelinggih Rong Lima yang terdapat pada utama mandala. Arsitektur yang terdapat di Pura Dalem Taak, tujuannya tidak lain untuk menyeimbangkan dan mengharmoniskan dalam pemujaan di Pura Dalem Taak. Seiring perkembangan jaman dan perkembangan pembangunan yangmodern (Kusmiati, 2004). Jika dipahami secara mendalam bahwa ornamen merupakan sebuah warisan budaya yang tidak terlepas dari makna dan filosofi yang kuat dari alam sehingga menginspirasi seniman dalam berkreatifitas. Pura Dalem Taak berawal dari karang suwung (tanah kosong), sebuah pura yang di sungsung oleh Kompyang masih kerabat dekat dari Rsi Bujangga Taak Batubulan. Pada awalnya pura Dalem yang sekarang dikenal dengan nama Dalem Taak, bernama pura Dalem Bantas. mengatakan letak pura Dalem Bantas dulu terletak di selatan lapangan Batubulan tepatnya di sebelah Banjar Telabah sekarang. Pura Dalem Bantas menurut sumber informan mengatakan bahwa pura dalem pertama di Batubulan. Seiring berkembangnya waktu Pura Dalem Bantas di pindahkan ke Taak. Taak merupakan tempat bersemedinya Maha Rsi Bujangga Tahak. Beliau merupakan klan Bujangga Waisnawa, akhirnya dipindahkan Pura Dalem Bantas ke pelinggih Padma Rong Lima atau ditempat Rsi Bujangga bersemedi di Pura Dalem Taak, sehingga bersinergilah menjadi satu antara Siwa, Brahma dan Wisnu. Secara pasti yang dikatakan oleh (asta raharja), Dalamkenyataannya setiap piodalannya pelaksanaan upacara antara Pura Dalem dan Padma Rong Lima juga bersamaan. Hal ini sangat positif sebagai integrasi kearifan lokal dengan Hinduisme dan pengintegrasian masyarakat pengempon Pura Dalem Taak khususnya. 2. Ornamen Bangunan Pelinggih di Pura Dalem Taak Ornamen merupakan dekorasi yang digunakan untuk memperindah bagian dari sebuah bangunan atau objek. Padma Rong Lima terlihat dari setiap aktivitas yang dilakukan oleh para warga terutama penyungsung pelinggih Padma Rong Lima di Pura Dalem Taak harus mengikuti tata krama atau tata prilaku yang sesuai dengan Tri Kaya Parisudha (Titib, 2003). Hal ini tampak sudah dilakukan oleh para warga terutama Terehan Bujangga Waisnawa yang menyungsung pelinggih Padma Rong Lima, di dalam kegiatan di Pura Dalem Taak khususnya di pelinggih Padma Rong Lima tampak mulai dari tata cara berbusana, tata cara berbicara dan tata cara berprilaku mengikuti aturan atau tata krama yang baik. Nilai estetika yang terdapat dalam Padma Rong Lima adalah sangat jelas bahwa Padma Rong Lima memiliki nilai seni. Integrasi Tri Murti di Pura Dalem Taak, bahkan direalisasikan dengan bentuk pelinggih, baik Dewa Brahma, Dewa Wisnu maupun Dewa Siwa. Pelinggih ini terletak di utama mandala dan madya mandala, di madya mandala terdapat pelinggih Hyang Api, sedangkan di utama mandala terdapat pelinggih Gedong bersthananya Dewa Siwa, dan di Padma Rong Lima bersthananya Dewa Wisnu, pemangkunya pun berbeda antara Pura Dalem Taak dengan Padma Rong Lima, akan tetapi pada saat piodalan dilakukan bersamaan dan di sungsung oleh warga Bhujangga Waisnawa terutama Padma Rong Lima, dan yang melaksanakan sembah bhakti. Pada bangunan Pelinggih di Pura Dalem Taak banyak terdapan ornamen- ornamen pada setiap sisi dan sudutnya. Ornamen yang digunakan disesuaikan, bukan semata untuk hiasan memperindah sebuah bangunan. Semua ornamen tersebut selain memiliki nilai estetikanya juga memiliki makna simbolis tersendiri (Pudja, 1999). Ornamen yang https://jayapanguspress.penerbit.org/index.php/JPAH 140 terdapat pada Gedong Pura Dalem Taak, bahwa ada patra welanda dan disana diterapkan teknik pepalihan dasar, pengawak, bunga. Biasanya ada dasar pepalihan palit tujuh, pengawak palit sebelas, bunga menyesuaikan ini dasar-dasar pembentukan gedong (Suamba, wawancara 10 Pebruari 2021). Karang sae merupakan pahatan dekoratif berbentuk dasar menyerupai karang bhoma. Ornamen karang sae berbentuk kedok wajah raksasa dengan sepasang tangan mengembang berkuku yang disatukan dengan pahatan tanaman menjalar. Karang sae memiliki perbedaan dengan karang bhoma yang terletak pada bentuk wajah keduanya. Karang sae biasanya di pahatkan dengan bentuk wajah menyerupai kelelawar, bergigi runcing, dan sepasang tanduk di kepalanya. Elemen dekoratif ini dapat ditemukan pada gerbang bangunan-bangunan rumah penduduk biasa atau gerbang bangunan perkantoran masa kini (Maharlika, 2011). Sedangkan Karang sae dianggap sebagai ragam hias hasil pengembangan dari karang bhoma. Jika dipahami secara mendalam bahwa ornament bangunan Pura Dalem Tak merupakan sebuah warisan budaya yang tidak terlepas dari makna dan filosofi yang kuat dari alam sehingga menginspirasi seniman dalam berkreatifitas seperti dibawah ini: Gambar 4. Ornamen Gedong Pura Dalem Taak (Sumber: Dokumentasi Peneliti 2021) Pada dasarnya bentuk Padma Rong Lima memiliki kesamaan dengan bangunan suci Padma yang lain, yang memiliki bagian dasar atau kaki (Tepas), bagian badan (Sari), dan bagian atas (Sari). Namun dalam Padmasana Rong Lima ini ada sedikit perbedaannya, hal tersebut dapat dilihat dari gambar Padma Rong Lima. Sudah jelas terlihat bahwa memiliki rong (ruang) sebanyak lima, memiliki atau berisi empat patung naga, dua naga mengikat Bedawang dan dua patung lagi berada di antara pada Rong (ruang) dari pada padma tersebut, selain hal tersebut dalam Padma pada umumnya memiliki Garuda di bagian belakang, namun di Padma Rong Lima burung Garuda tersebut berada dibagian depan, bagian belakang Padma Rong Lima berisi Angsa, karang Bhomo, dan karang Sae. Dalam Padma Rong Lima ini pun tidak terdapat patung dewa-dewa, namun terdapat patung lanang dan istri. Bagian bawah atau dasar dalam Padma Rong Lima (tepas), pada umumnya setiap Padma memiliki bagian dasar yang sama demikian juga dengan Padma Rong Lima memiliki bagian dasar yang sama dengan padma yang lainnya, dalam Padma Rong Lima berisi Bedawang Nala (Empas/ Kura-kura) yang di lilit oleh dua ekor naga yang dimana dua naga tersebut adalah Naga Basuki dan Naga Anantaboga, dan kemudian berisi ukiran karang Gajah (Asti) (Louis Leahy, 1993). https://jayapanguspress.penerbit.org/index.php/JPAH 141 Padma Rong Lima mengunakan Karang Sae, Karang Boma, dan patung angsa. Patung naga dalam Padma Rong Lima ini melambangkan atau menggambarkan sebagai kursi atau singgasana yang beristana di Pelinggih Padma Rong Lima, patung naga tersebut berada di sebelah kiri dan sebelah kanan Pelinggih. Patung naga di Pelinggih Padma Rong Lima berisi empat ekor, berada di bagian dasar (Tepas) dan di bagian kepala (Sari). Bagian dasar naga tersebut melilit Bedawangnala, namun dalam bagian kepala naga ini membentuk seperti kursi atau singgasana (Hinzler, 1986). Rong (ruang) yang berjumlah lima inilah yang menyebabkan pelinggih ini terlihat berbeda dengan Padma yang lainnya, dimana orang-orang hanya mengenal Rong (ruang) dari pada Padma hanya terdiri dari satu sampai tiga. 3. Upakara dan Upacara di Pura Dalem Taak Semua aktivitas keagamaan yang dilakukan oleh masyarakat, tidak terlepas dari bhaktinya kepada Tuhan, yang diwujudkan dengan membangun tempat pemujaan seperti Pura Dalem Taak dan bangunan suci lainnya, dan ini dibuat berdasarkan kerjasama secara gotong royong oleh masyarakat desa Adat Jro Kuta. Dengan banyaknya pura-pura sehingga di kenal dengan pulau seribu pura, karena di setiap rumah masyarakat maupun desa terdapat bangunan suci. Berbagai upacara keagamaan dilaksanakan sebagai persembahan kepada-Nya, mulai dari yang sangat sederhana dan sangat sedikit memerlukan biaya, sampai persembahan yang sangat besar (Ngoerah, 1975). Implikasi dalam kehidupan supaya warisan leluhur tetap diwarisi kepada generasi muda, agar generasi muda bisa melestarikan, maka dari itu diajak membuatan caru, membuat katik sate, nganyah bersih-bersih, menabuh dan memasak pada saat piodalan di Pura Dalem Taak. Ketika sarana upacara dipahami dengan makna yang terkandung didalamnya, sesuai rujukan sastra. Keberadaan Pura Dalem Taak juga bisa sebagai simbol penyatuan dalam perbedaan dengan konsep Tri Murti, dimana di Pura Dalem Taak juga bersthana pelinggih Dewa Brahma, Dewa Wisnu dan Dewa Siwa meski tidak di pelinggih yang sama, namun dalam satu areal Pura Dalem Taak. Komposisi seperti ini dapat dijadikan contoh dalam kehidupan masyarakat dalam sehari-hari, dimana perbedaan dapat menjadi satu. Selain itu saat-saat diselenggarakan upacara di Pura Dalem Taak menjadi momen untuk saling bersosialisasi, karena masyarakat yang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing akan meluangkan waktunya untuk datang ke pura menyiapkan sarana upacara dari awal sampai akhir (Sumada, wawancara 17 Pebruari 2021). Sosiologis integrasi semakin dekat atau berkembang, lintas wilayah, lintas generasi, lintas profesi, lintas kemampuan yang beragam atau memperkuat sinergisitas kerabat kemampuan dalam sosiologis bermasyarakat, makin dekat makin akrab makin integratif atau bersatu, sraddha dan bhakti saling mengunjungi dalam pelaksanaan acara ataupun yang lainnya ini terwujud dalam kehidupan (Soebandi, 1983). Berdasarkan beberapa pernyataan informan diatas bahwa, selain manusia sebagai mahluk individu juga disebut mahluk sosial, dalam pernyataan sosial perlu adanya interaksi antar manusia yang lainnya, sehingga membentuk suatu masyarakat yang adil dan makmur, akan tetapi tetap mengacu kepada Tri Kaya Parisudha, didasari dengan ajaran tat twam asi. Sehingga menjalin suatu hubungan yang harmonis dalam suatu masyarakat lebih mengkhusus yang melaksanakan sembah bhakti di Pura Dalem Taak Desa Adat Jro Kuta. Hubungan masyarakat ini terlihat dalam upacara piodalan di Pura Dalem Taak, dan ini sangat penting untuk kerabat, akrab dan saling mengunjungi, untuk mempersatukan masyarakat dalam kegiatan kehidupan. Upacara dan upakara sangat penting dalam mendekatkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa, dasar dari upacara dan upakara tidak ada lain tulus ikhlas, disamping https://jayapanguspress.penerbit.org/index.php/JPAH 142 itu melaksanakan upacara yadnya hurus ada yang di perhatikan. Adanya kebersihan sarana upacara, ketertiban, bahan-bahan, adapun upacara adalah bentuk pelanyaan yang diwujudkan dari hasil kegiatan dan upakara adalah gerak menghubungkan diri dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Budihardjo, 2013). Pada saat piodalan di Pura Dalem Taak, yang pertama dilakukan pecaruan di pemuunan, nataran Prajapati, nataran Pura Dalem Taak, nataran Hyang Api. Kemudian baru dilanjutkan ke upacara, upacara pada saat unen-unen rauh ke Pura Dalem Taak diaturkan segehan agung ring nista mandala dan unen-unen ditaruh ring bale unen-unen, kemudian dilanjutkan dengan ngaturan piodalan eedan pertama ngayab ke surya, sor surya, pertiwi, panggung di jabasisi, ring Padma, ratu dalem, ratu mayun, prajapati, ibu bhujangga, khyangan api,unen- unen sami, pelinggih sami, dan yang terakhir ngayab aturan sodan karma, ini di iringi dengan wali-walian topeng, rejang. Setelah ini ngaturan wali meecan-ecan pertama dilaksanakan mendak, dan dipentaskan tari gabor, disamping itu meileh para pemangku di barengi dengan ngaturan wangi (air cendana) ring Ida Bhatara. Kemudian lagi dilaksanakan meileh dan ngaturan sajeng (arak brem) dilanjutkan dengan sesolahan baris mangku masesolah, dan mangku mesesolah sajeng tunas, dan terakhir dilaksanakan rare anom, yaitu sesolahan meminta kalau ada kekirangan mangde mebaosan, dilanjutkan dengan kincang-kincung ngaturang parama sukseme diberi kelancaran dalam pelaksanaan upakara dan upacara. Masyarakat Desa Adat Jro Kuta pada umumnya sama memiliki prinsip dari beberapa sudut pandang terkait dengan upakara atau upacara, bahwa dalam melaksanakan persiapan ritual harus dilandasi dengan rasa tulus ikhlas dalam melaksanakan persiapan-persiapan ritual pada saat prosesi upacara yang akan dilaksanakan di Pura Dalem Taak. Prosesi yadnya yang dilaksanakan pada saat piodalan di Pura Dalem Taak yaitu pada saat hari raya Kuningan Saniscara (sabtu), Kliwon, wuku Kuningan. Sebelum pelaksanaan piodalan di Pura Dalem Taak, masyarakat Desa Adat Jro Kuta mempersiapkan sarana. Setiap Banjar dalam melaksanakan persiapan ritual mendapatkan ririgan untuk melaksanakan ayah-ayahan. Setelah dilakukannya pengarah ke masing-masing Banjar, masing-masing kelian Banjar melakukan pengarah kepada warga Banjar kapan mendapatkan ririgan dalam prosesi ayah-ayahan pada saat persiapan ritual. Setiap banjar dibagi menjadi dua kelompok, yaitu pengayah luh (wanita) dan pengayah muani (laki-laki). Pembagian dua kelompok tersebut dilakukan karena masing-masing kegiatan dalam persiapan ritual memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Organisasi seka truna (pemuda) di masing-masing banjar juga ikut melaksanakan persiapan ritual yang dilaksanakan, agar terjadinya sebuah keseimbangan. Pemuda di masing-masing banjar biasanya diarahkan untuk melakukan persiapan latihanmegambel karena pada saat prosesi piodalan memerlukan iring-iringan gamelan (Suardana, 2010). Tukang ayah luh (wanita) dominan melakukan kegiatan di dapur untuk mempersiapkan konsumsi pada saat prosesi persiapan ritual yang dilaksanakan, dan melakukan kegiatan membuat banten-banten upakara yang akan digunakan dalam melaksanakan prosesi ritual pada saat piodalan, banten yang digunakan pada saat saat piodalan menggunakan suci saji dan apabila karya agung menggunakan bangkit. Sedangkan pengayah muani (laki-laki) yang pertama-tama membersihkan lingkungan seluruh pura, berdasarkan pengertian yadnya juga harus terdapat sebuah kebersihan agar terciptanya suasana lingkungan yang indah, nyaman dan harmonis. Sistem pada saat melakukan persiapan ritual, keyakinan semuanya bekerja dengan tulus iklhas, setelah berakhirnya proses mereresik atau membersihkan lingkunagn pura, dilanjutkan dengan dibaginya menjadi beberapa kelompok, yaitu bertujuan untuk mempersingkat waktu persiapan ritual (Susanto, 2016). Kelompok yang pertama mempersiapkan panggung di https://jayapanguspress.penerbit.org/index.php/JPAH 143 area nista mandala tepatnya di wantilan pura, kelompok yang kedua mempersiapkan penjor untuk diletakkan di jaba pura dan di sekitarnya, dan kelompok yang ketiga ditugaskan untuk memasang wastra (kain) pada setiap pelinggih yang berada di Pura Dalem Taak, sebelum proses persiapan ritual dilaksanakan, Prajuru Desa sudah mempersiapkan bahan-bahan yang digunakan, seperti daun kelapa, bunga, dan lain sebaginya. Demikianlah persiapan ritual yang dilaksanakan pada saat piodalan di Pura Dalem Taak. Prosesi upacara integrasi pemujaan Tri Murti dilaksanakan pada hari yang sama pada saat piodalan di Pura Dalem Taak, yaitu pada saat hari raya Kuningan tepatnya dilaksanakan oleh umat Hindu pada saat hari Saniscara (sabtu), Kliwon, wuku Kuningan. Menurut sumber informan Jro Mangku Arnawa piodalan antara Pura Dalem Taak, pelinggih Hyang Apidan pelinggih Padma Rong Lima dilaksanakan bersamaan. Pelaksanaan ritual pada umumnya memiliki komponen-komponen dalam melaksanakannnya, komponen-komponen tersebut berlaku sama pada pelinggih Padma Rong Lima di Pura Dalem Taak Desa Adat Jro Kuta Desa Batubulan. Komponenkomponen pada saat pelaksanaan proses ritual pada saat hari raya Kuningan tersebut yang mengakibatkan berlangsungnya sebuah ritual. Komponen-komponen pada pelaksanaan ritual tidak terlepas dari konsep Tri Kerangka Agama Hindu yaitu tattwa, susila, dan acara (Wiana, 2009). Kesimpulan Bentuk integrasi pemujaan Tri Murti di Pura Dalem Taak Desa Batubulan Kecamatan Sukawati Kabupaten Gianyar adalah (1) Arsitektur Bangunan Pura Dalem Taak, memiliki konsep tri mandala yang terdiri dari nista, madya dan utama mandala. Pura Dalem Taak terdapat beberapa keunikan yaitu terdapat Pura Penangsaran atau Tegal Penangsaran, Titi Ugal-Agil, terdapat Pelinggih Hyang Api perwujudan dari Dewa Brahma, Pelinggih Padma Rong Lima perwujudan dari Dewa Wisnu, dan Dewa Siwa yang berstana di Pura Dalam Taak. Di dalam Pura Dalam Taak DesaBatubulan, konsep Tri Murti itu memang. (2) Ornamen Bangunan Pelinggih di Pura Dalem Taak merupakan integrasi Tri Murti di Pura Dalem Taak, bahkan direalisasikan dengan bentuk pelinggih, baik Dewa Brahma, Dewa Wisnu maupun Dewa Siwa. Pelinggih ini terletak di utama mandala dan madya mandala, di madya mandala terdapat pelinggih Hyang Api, sedangkan di utama mandala terdapat pelinggih Gedong bersthananya Dewa Siwa, dan di Padma Rong Lima bersthananya Dewa Wisnu, pemangkunya pun berbeda antara Pura Dalem Taak dengan Padma Rong Lima, akan tetapi pada saat piodalan dilakukan bersamaan dan disungsung oleh warga Bhujangga Waisnawa terutama Padma Rong Lima, dan yang melaksanakan sembah bhakti. Pada bangunan Pelinggih di Pura Dalem Taak banyak terdapat ornamen- ornamen pada setiap sisi dan sudutnya. Ornamen yang digunakan disesuaikan, bukan semata untuk hiasan memperindah sebuah bangunan. Semua ornamen tersebut selain memiliki nilai estetikanya juga memiliki makna simbolis tersendiri. (3) Upakara dan Upacara di Pura Dalem Taak persiapan ritual pada saat prosesi upacara yang akan dilaksanakan di Pura Dalem Taak. Prosesi yadnya yang dilaksanakan pada saat piodalan di Pura Dalem Taak yaitu pada saat hari raya Kuningan Saniscara (sabtu), Kliwon, wuku Kuningan. Sebelum pelaksanaan piodalan di Pura Dalem Taak, masyarakat Desa Adat Jro Kuta mempersiapkan sarana. Setiap Banjar dalam melaksanakan persiapan ritual mendapatkan ririgan untuk melaksanakan ayahayahan. Setelah dilakukannya pengarah ke masing-masing Banjar, masing-masing kelian Banjar melakukan pengarah kepada warga Banjar kapan mendapatkan ririgan dalam prosesi ayah-ayahan pada saat persiapan ritual. https://jayapanguspress.penerbit.org/index.php/JPAH 144 Daftar Pustaka Budaarsa, K., D. (2012). Profil Pura Kahyangan Jagat di Bali. Surabaya: Paramitha. Budihardjo, R. (2013). Konsep Arsitektur Bali Aplikasinya pada Bangunan Puri. NALARs, 12(1), 17-42. Goris, R. (2012). Sifat Religius Masyarakat Pedesaan di Bali. Badung: Udayana University Press. Gunada, I. W. A. (2021). Konsepsi Agama dan Seni Rupa dalam Rurub Kajang Tutuan (Kajian Estetika Hindu). Mudra Jurnal Seni Budaya, 36(2). Hinzler, H. I. R. (1986). Catalogue of Balinese Manuscripts in the Library of the University of Leiden and Other Collections in the Netherlands. 22–23. Leiden: Brill Archive Kajeng, I. N. (1997). Sarasamuscaya. Surabaya: Paramita. Kiriana, I. N. (2021). Increase student learning interest in covid-19 with digital teaching materials. Journal of Education Technology, 5(2), 322-330. Koentjaraningrat, R. M. (1970). Manusia dan kebudajaan di Indonesia. Jakarta: Djambatan. Kusmiati, A. (2004). Dimensi Estetika Pada Karya Arsitektur Dan Desain. Jakarta: Djambatan. Louis Leahy. (1993). Filsafat Ketuhanan Kontemporer. Yogyakarta: Kanasius dan Gunung Mulia. Maharlika, F. (2010). Tinjauan Bangunan Pura di Indonesia. Jurnal Waca Cipta Ruang, 2(2), 1-32. Ngoerah, I. G. (1975). Laporan Penelitian Inventarisasi Pola-Pola Dasar Arsitektur Tradisional Bali. Makasar: Universitas Hassanudin. Pudja. (1999). Bhagavagita. Surabaya: Paramitha. Putra, M. (1989). Upakara-Yajna. Denpasar: Pemerintah Provinsi Bali. Soebandi, K. (1983). Sejara Pembangunan Pura-Pura di Bali. Denpasar: CV. Kayu Mas Agung. Suardana, K. . (2010). Wrhaspati Tattwa Sebaga Filsafat Agama Hindu. Surabaya: Paramita Susanto, I. N. (2016). Konsep Dan Makna Arsitektur Tradisional Bali Dan Aplikasinya Dalam Arsitektur. Badung: Fakultas Teknik, Universitas Udayana. Titib, I. M. (2003). Theologi dan Simbol simbol dalam Agama Hindu. Surabaya: Paramita. Watra, I. W. (2007). Pengantar Filsafat Hindu (Tattwa I). Surabaya: Paramita. Wiana, I. K. (2009). Pura Besakih Hulunya Pulau Bali. Surabaya: Paramita https://jayapanguspress.penerbit.org/index.php/JPAH 145