Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 895-909 Available at: https://journal. id/index. php/jmdb EISSN: 2797-9555 Strategi manajemen dalam mempertahankan keberlanjutan BLKK pesantren di Jawa Timur Dede Nurohman. Risdiana Himmati* Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam. UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung. Indonesia *) Korespondensi . -mail: risdianahimmati@gmail. Abstract Indonesia's new economic current positions Islamic boarding schools . as the epicenter of national economic growth. Through the Islamic Boarding School Community Job Training Center (BLKK) program. Islamic boarding schools are expected to become economic drivers for lower-class communities. This paper examines the extent to which the BLKK Islamic boarding school programs, provided by the Ministry of Manpower, can contribute to and maintain the economic independence of Islamic boarding schools and communities. This study is a field study using a qualitative approach. The research was conducted at seven BLKK Islamic boarding schools in four regions: Kediri. Blitar. Jombang, and Trenggalek. The study identified three factors that play a significant role in determining the sustainability of the Islamic boarding school empowerment process through the BLKK. These three things are: the charisma of the Kiai (Islami. is well maintained and productive, the role of alumni is well managed, and there is external collaboration between the Islamic boarding school and external Keywords: Sustainability. Islamic Boarding School. Charisma. Alumni. External Collaboration. Abstrak Arus baru ekonomi Indonesia memposisikan pesantren sebagai titik episentrum pertumbuhan ekonomi nasional. Melalui program Balai Latihan Kerja Komunitas Pesantren (BLKK), pesantren diharapkan mampu menjadi aktor penggerak ekonomi pada lapisan masyarakat kelas bawah. Tulisan ini mengungkap sejauhmana BLKK pesantren yang diberikan Kementerian Ketenagakerjaan ini dapat dan dipertahankan kontribusinya dalam kemandirian ekonomi pesantren dan masyarakat. Penelitian ini merupakan field research dengan pendekatan kualitatif. Penelitian dilakukan pada tujuh BLKK pesantren yang ada di empat Kediri. Blitar. Jombang, dan Trenggalek. Penelitian ini menemukan tiga hal yang berperan besar dalam menentukan sustainabilitas proses pemberdayaan pesantren melalui BLKK. Ketiga hal tersebut adalah. karisma kiai yang terjaga dengan baik dan produktif, peran alumni yang dikelola dengan baik, dan adanya kolaborasi eksternal antara pesantren dan lembaga di luarnya. Kata kunci: Sustainabilitas. Pesantren. Karisma. Alumni. Kolaborasi Eksternal. Pemerintah How to cite: Nurohman. , & Himmati. Strategi manajemen dalam mempertahankan keberlanjutan BLKK pesantren di Jawa Timur. Journal of Management Digital Business, 5. , 895Ae909. https://doi. org/10. 53088/jmdb. Copyright A 2025 by Authors. this is an open-access article under the CC BY-SA License . ttps://creativecommons. org/licenses/by-sa/4. Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 896 Pendahuluan Munculnya Balai Latihan Kerja Komunitas Pesantren (BLKK-P) merupakan manifestasi dari visi besar pemerintah Indonesia dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pemberdayaan pesantren. Program BLKK-P diperkuat dengan disahkannya Undang-Undang tentang Pesantren yang memuat pengakuan pesantren sebagai lembaga pendidikan Islam dan perluasan orientasi pesantren yang tidak saja mengkaji ilmu agama tetapi juga melakukan pemberdayaan masyarakat (UU Nomor 18 tentang Pesantren. Melalui pesantren ini. MaAoruf Amin, akan tercipta arus baru ekonomi Indonesia yang bersandar pada empat prinsip, yakni. keadilan sosial bagi seluruh bangsa Indonesia, mengedepankan ekonomi keumatan atau kerakyatan, kemitraan antar sesama pengusaha, dan mendasarkan pada semangat juang yang tinggi (Pratama, 2. Menjadikan pesantren sebagai titik awal arus baru ekonomi Indonesia ini sangatlah Pesantren merupakan lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia dan memiliki akar yang kuat di masyarakat (Dhofier, 2. Secara kuantitas pesantren juga jumlahnya cukup signifikan. Data Kementerian Agama menyebutkan, per Januari 2022 terdapat 26,975 pesantren. Di Jawa Barat terdapat 8. 343 pesantren. Banten 579 pesantren. Jawa Timur 4. 452 pesantren. Jawa Tengah 3. 787 pesantren. Aceh 177 pesantren. Nusa Tenggara Barat 684 pesantren. Lampung 677 pesantren. DI Yogyakarta 319 pesantren. Sumatera Selatan 317 pesantren, dan Sulawesi Selatan 289 pesantren, dan Maluku 16 pesantren (Annur, 2. Jumlah itu belum menghitung jumlah alumni yang sudah menyebar dalam kurun satu abad lebih, termasuk keluarganya dan umatnya. Secara empiris, beberapa pesantren berhasil melakukan pemberdayaan ekonomi Beberapa pesantren di Indonesia mampu mengembangkan sistem kewirausahaan yang efektif dan berhasil meningkatkan kemandirian pesantren dan pemberdayaan ekonomi masyarakat. Pesantren Al-Ittifaq berhasil melakukan pemberdayaan melalui pengembangan sektor agrobisnis berupa sayuran dan buahbuahan (Arifin, 2018. Fauroni, 2. Pesantren Sidogiri melalukan pemberdayaan ekonomi di sektor keuangan (Busyairi, 2017. Kutsiyah, 2. Beberapa pesantren di Jawa Timur sukses melaksanakan program One Pesantren One Product (OPOP) dan berdampak pada peningkatan kesejahteraan pondok pesantren. Berkaitan dengan BLKK-P sendiri, hasil evaluasi program ini menunjukkan bahwa keberadaan BLKK memberikan manfaat besar bagi peningkatan kualitas dan kompetensi para santri, alumni dan masyarakat. (Maftuchan, 2. Melalui berbagai sumber yang ada, kajian yang berfokus pada BLKK-P ini terbagi menjadi dua kajian. Pertama, kajian yang bersifat penelitian pengabdian. Kajian ini menjadikan BLKK sebagai lokasi pengabdian. Penelitian berbentuk pengabdian ini dilakukan atas kerjasama pengelola BLKK dengan para akademisi. Wicaksono dalam pengabdiannya menjadi BLKK Al-Ittihad Malang sebagai subyek pengabdian. Dia memberikan pelatihan videografi kepada santri dan melaporkan bahwa dengan pengajaran model Project Based Learning (PBL) pelatihan berjalan efektif (Wicaksono Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 897 & Nugroho, 2. Demikian juga Azhari, dalam penelitian pengabdiannya di BLKK API Nailul Muna Magelang menunjukkan bahwa pelatihan desain grafis berjalan efektif dengan tingkat konsistensi kehadiran yang tinggi. Hal ini dikarenakan munculnya dorongan dari peserta akibat situasi pandemi yang tengah berlangsung (Azhari et al. Kedua, kajian yang melihat BLKK sebagai subyek evaluatif. Beberapa kajian seperti ini misalnya dilakukan Mardiyah. Dalam penelitiannya, dia menemukan bahwa implementasi program BLKK sudah cukup optimal. Namun terdapat beberapa faktor penghambat yang paling mendasar adalah kurangnya minat peserta (Mardiyah, 2. Melalui perspektif yang sama. Lutfi menyatakan model atau strategi belajar dan mengajar bahasa Inggris yang diajarkan di BLKK sudah sesuai dengan model pembelajaran yang ideal (Lutfi, 2. Kajian cukup serius yang bersifat evaluasi dilakukan oleh Tim Prakarsa. Tim ini secara resmi ditunjuk Kementerian Ketenagakerjaan untuk mengevaluasi secara komprehensif kinerja BLKK. Penelitian berbentuk laporan evaluasi terhadap BLKK Angkatan 2017 dan 2018 berhasil memetakan kinerja BLKK pesantren ke dalam empat tipe, yaitu. tipe A (Sangat Bai. B (Bai. C (Buru. , dan D (Sangat Buru. dengan berbagai indikatornya masingmasing. Dari 125 BLKK yang tersebar di Indoensia, terdapat BLKK yang masuk kategori C dan D. Sebagian besar BLKK masuk dalam Tipe B dan sebagian kecil Tipe Dari hasil ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan program BLKK ini bisa dianggap cukup berhasil (Maftuchan, 2. Penelitian lainnya dilakukan oleh Nurohman yang menemukan bahwa BLKK Pesantren yang bisa berjalan dalam mengelola program pemberdayaannya adalah BLKK yang megambil skema nonkomputer seperti pengelasan . , pengolahan makanan, konveksi, dan sebagainya (Nurohman et al. , 2024. Dari beberapa kajian di atas menunjukkan bahwa keberadaan BLKK-P memberikan banyak manfaat bagi pesantren. Pesantren dalam hal ini mampu beradaptasi dan memainkan peran strategisnya bukan saja sebagai tempat mendalami ilmu agama tetapi juga sebagai agen pemberdayaan masyarakat. oleh karena itu, penelitian ini berupaya melanjutkan dari penelitian-penelitian tersebut, khususnya pada BLKK-P yang mengambil jurusan non komputer seperti. pengelasan, pengolahan hasil pertanian, pengolahan hasil alam, tata boga, konveksi, otomotif, dan sebagainya, yan secara umum lebih dapat bertahan dibanding jurusan komputer. BLKK-P jurusan non komputer ini akan dilihat pada sejauhmana BLKK-P dengan jurusan ini bisa mempertahankan sustainabilitasnya sebagai agen pemberdayaan ekonomi pesantren dan masyarakat sekitar pesantrennya. Secara lebih khusus mengungkap apa yang mendasari BLKK-P mampu menjaga keberlangsungan operasionalnya. Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini diarahkan untuk mengkaji bagaimana praktik pemberdayaan ekonomi masyarakat dijalankan oleh Balai Latihan Kerja Komunitas Pesantren (BLKK-P) yang mengambil jurusan non-komputer. Selain itu, penelitian ini berupaya mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung keberlangsungan praktik pemberdayaan tersebut serta bentuk kontribusinya terhadap pesantren dan masyarakat sekitar. Lebih lanjut, penelitian ini juga menelaah strategi Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 898 yang diterapkan oleh BLKK-P jurusan non-komputer dalam menjaga keberlanjutan dan pengembangan program pemberdayaan ekonomi agar tetap berjalan dan adaptif terhadap dinamika sosial-ekonomi. Sejalan dengan rumusan masalah tersebut, tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis praktik pemberdayaan ekonomi masyarakat yang dilaksanakan oleh BLKK Pesantren jurusan non-komputer. Penelitian ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor pendukung serta bentuk kontribusi yang memengaruhi keberhasilan dan keberlanjutan pemberdayaan ekonomi yang dilakukan. Selain itu, penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan strategi keberlanjutan yang diterapkan BLKK Pesantren non-komputer mengembangkan perannya sebagai agen pemberdayaan ekonomi pesantren dan masyarakat sekitar. Tinjauan Pustaka Konsep Sustainabilitas Suistainabilitas atau sustainability dapat diartikan sebagai keberlanjutan. Istilah ini awalnya muncul dari kajian yang berhubungan dengan upaya pembaharuan sumber daya alam. (Meutia, 2019, pp. 6Ae. Dalam skup kajian bisnis, sustainabilitas dipahami sebagai usaha mencegah penipisan sumber daya alam maupun fisik agar dapat tersedia dalam jangka waktu yang panjang sejalan dengan tujuan yang diharapkan. Dalam kajian ini, sustainabilitas dimaknai sebagai ikhtiar pesantren mempertahankan proses pemberdayaan ekonominya yang tengah berlangsung di masyarakat melalui program BLKK dengan memaksimalkan sumber daya yang ada. Berkaitan dengan ini, beberapa faktor menjadi kunci dalam keberlanjutan tersebut, yakni. kiai, alumni, dan masyarakat sekitar sebagai mitra kolaborasi. Sustainabilitas BLKK Pesantren pada penelitian ini bukan hanya dipahami sebagai keberlanjutan program pelatihan administratif, namun juga sebagai proses sosial institusional yang di topang oleh kepemimpinan kiai, jejaring alumni dan kolaborasi dengan masyarakat sekitar. Interaksi dari tiga faktor tersebut, memiliki kolaborasi keberlanjutan yang memungkinkan BLKK Pesantren jurusan non-komputer mampu beradaptasi terhadap keterbatasan sumber daya, menjaga relevansi pelatihan dengan kebutuhan pasar, serta memperluas dampak pemberdayaan ekonomi secara BLKK-Pesantren Balai Latihan Kerja Komunitas (BLKK) adalah suatu unit fasilitas pelatihan vokasi yang didirikan oleh lembaga keagamaan seperti pondok pesantren, seminari, dhammasekha, pasraman, dan komunitas lainnya. BLKK Pesantren (BLKK-P) adalah unit pelatihan vokasi yang didirikan di lingkungan pesantren yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan para santri maupun santriwati sebagai persiapan untuk memasuki dunia kerja. BLKK-Pesantren merupakan entitas unik. Karena eksistensinya di lingkup lembaga ini tidak bisa disamakan dengan entitas lembaga pengembangan Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 899 bisnis umumnya. Bagaimana pun juga. BLKK-Pesantren masih kental dikelola secara tradisional . ntuk tidak mengatakan belum profesiona. Karena lembaga ini meletakkan pengasuh atau kiai sebagai satu-satunya penentu kebijakan utama. Pada sisi lain keterlibatan alumni menjadi penting dalam pengembangan Lembaga latihan kerja ini. Kolaborasi eksternal dengan lembaga-lembaga usaha dan pemerintahan juga menjadi kunci bagi bukan saja keberhasilan BLKK Pesantren tetapi juga tingkat keberlanjutan memastikan BLKK ini menjadi muara pemberdayaan masyarakat sebagaimana yang dicita-citakan pemerintah. Dalam penelitian ini. BLKK Pesantren memiliki pengertian sebagai kemampuan BLKK dalam mempertahankan serta mengembangkan proses pemberdayaan ekonomi masyarakat yang berkelanjutan melalui pelatihan non Ae komputer. Secara operasional, sustainabilitas tersebut ditunjukkan melalui beberapa indikator, yaitu keberlangsungan pelaksanaan pelatihan kerja, keberadaan dan penguatan jejaring pasar serta mitra usaha, kapasitas dan peran instruktur yang sebagian besar berasal dari alumni pesantren, keberlanjutan pembiayaan program, serta outcome pemberdayaan ekonomi yang tercermin dari peningkatan keterampilan, peluang kerja, dan aktivitas usaha peserta. Keberlanjutan BLKK ini dipengaruhi oleh peran kiai sebagai pemimpin institusional . nstitutional leadershi. yang memberikan legitimasi dan arah nilai, alumni sebagai modal sosial . ocial capita. yang memperkuat jejaring dan transfer pengetahuan, serta kolaborasi dengan masyarakat sekitar sebagai bentuk stakeholder collaboration yang membangun ekosistem pemberdayaan ekonomi pesantren secara berkelanjutan. Metode Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian lapangan . ield researc. dengan pendekatan Pendekatan kualitatif memiliki ciri-ciri, yaitu. dilakukan pada latar alamiah . atural settin. sebagai sumber data langsung dan peneliti sebagai instrumen kunci, . bersifat deskriptif, yaitu menggambarkan situasi tertentu, . lebih memperhatikan proses dari pada hasil atau produk, . analisis datanya cenderung induktif dan . desain bersifat sementara (Koencoro, 2. Penelitian ini mengambil lokasi di empat wilayah dengan tujuh BLKK, yaitu. BLKK APIS dan al-Muhsin di Blitar. BLKK Istishlahul Faroj dan BLKK Riyadhotus Syariah Bisyariah di Trenggalek. BLKK al-Zaytun dan BLKK Subulus Salam di Kediri, dan BLKK Fathul Ulum di Jombang. Teknik penggalian data dilakukan dengan wawancara kepada 12 orang yang terdiri atas pengelola BLKK, pengasuh pesantren, peserta pelatihan, alumni pelatihan, dan masyarakat sekitar. Penggalian data juga dilakukan dengan teknik observasi dan Analisis data merupakan suatu proses penafsiran data untuk memberikan makna, menjelaskan pola atau kategori dan mencari hubungan antar berbagai konsep. Analisis data dilakukan mengikuti alur yang diusulkan Miles dan Huberman, yaitu reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan atau verifikasi (Miles & Huberman, 1. Untuk menguji keabsahan data, penelitian ini menggunakan model triangulasi dengan mencari data bandingan di luar data yang ada (Usman & Akbar, 2. Triangulasi dilakukan dengan cara saling mengkroscek antar Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 900 sumber data dan juga teknis penggalian data dengan membanfingkan keterangan keterangan pengelola BLKK, kiai, dan alumni mengenai keberlangsungan pelatihan, serta mengonfirmasikannya melalui observasi langsung dan dokumen program BLKK. Hasil dan Pembahasan Deskripsi Kasus dan Variasi Program Pelatihan BLKK Pesantren Sebagai sebuah program unggulan pemerintah dalam pemberdayaan ekonomi pesantren. BLKK pesantren yang diteliti ini secara profil mempunyai kesamaan. BLKK pesantren berdiri karena pengasuh pesantren dan timnya mengusulkan kepada pemerintah agar dibuatkan BLKK di pesantren mereka. Setelah seleksi administrasi terpenuhi dan survei lapangan dianggap layak, maka berdiri BLKK-BLKK tersebut. yang membedakan dari BLKK tersebut adalah waktu pendirian dan jurusan yang Dua BLKK di Trenggalek, al-Zaytun dan Subulus Salam berdiri tahun 2022 dan Keduanya baru satu kali melaksanakan pelatihan dengan alumni sebanyak 16 Al-Zaytun mengambil jurusan menjahit atau tata busana, sedangkan Subulus Salam mengambil jurusan pengolahan hasil alam. Dua BLKK di Blitar. APIS dan alMuhsin berdiri tahun 2021 dan 2018. BLKK APIS baru melaksanakan pelatihan sebanyak 1 kali dengan alumni 16 orang. Sedangkan BLKK al-Muhsin melaksanakan pelatihan sebanyak 13 kali dengan alumni 208 orang. BLKK APIS mengambil jurusan teknik otomotif dan BLKK al-Muhsin mengambil jurusan pengelasan . Dua BLKK di Kediri. Istishlahul Faroj dan Riyadhatus Syariah Bisyariah, berdiri tahun 2020 Istishkahul Faroj telah melakukan pelatihan sebanyak 4 kali dengan alumni 64 orang. Riyadhatus Syariah Bisyariah baru melaksanakan pelatihan sebanyak 1 kali dengan alumni 16 orang. BLKK Istishlahul Faroj mengambil jurusan pengolahan hasil pertanian, sedangkan BLKK Riyadhatus Syariah Bisyariah memilih jurusan tata BLKK Fathul Ulum di Jombang berdiri tahun 2019, telah melaksanakan pelatihan sebanyak 7 kali dengan alumni 112 orang. Jurusan yang diambil adalah Hasil perbandingan lintas kasus menunjukkan bahwa BLKK dengan intensitas pelatihan tinggi . eperti Al-Muhsin dan Fathul Ulu. memiliki pola pengelolaan yang berbeda secara signifikan dibanding BLKK yang baru melaksanakan satu kali BLKK dengan pelatihan berulang cenderung memiliki perencanaan program yang lebih matang, tata kelola SDM berbasis alumni, kemitraan yang stabil, serta mekanisme monitoring dan evaluasi informal namun berkelanjutan. Sebaliknya. BLKK dengan intensitas pelatihan rendah masih berada pada fase konsolidasi awal, dengan ketergantungan tinggi pada dukungan eksternal dan keterbatasan jejaring pasar. Pemberdayaan dan Upaya Sustainabilitas Pemberdayaan ekonomi melalui program BLKK ini memposisikan pemerintah sebagai agen perubahan dan pesantren sebagai subyek perubahan. Proses berikutnya memposisikan pesantren sebagai agen perubahan dan masyarakat sekitar sebagai subyek perubahan. Pemberdayaan yang dilakukan ketujuh BLKK Pesantren tersebut, berdasarkan konsep Kurt Lewin berada pada posisi refreezing. Karena ketujuh BLKK Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 901 Pesantren tersebut sedang berupaya menjaga transformasi sosial yang sudah Masyarakat sudah berubah sesuai dengan tujuan pemberdayaan (Lewin, 1. Karena itu ketujuh BLKK Pesantren ini dituntut untuk mempertahankan sustainabilitas dari perubahan sosial yang tengah dialaminya dengan melakukan monitoring, kontrol, dan evaluasi secara kontinyu (Nurohman et al. , 2024. Pemerintah sebagai agen perubahan ini tidak memikul tanggung jawab secara kontinyu dan menjadi pihak satu-satunya penentu keberhasil proses pemberdayaan. Pemerintah sudah cukup kontributif dalam menginisiasi dan melaksanakan program pemberdayaan tersebut. Oleh karena itu, pesantren sendirilah yang menjadi aktor utama dalam menjalankan program pemberdayaan sekaligus mengendalikan proses pemberdayaan tersebut agak berdampak lebih luas bagi pesantren sendiri secara kelembagaan, para santri, para ustadz, dan juga masyarakat luas. Oleh karena itu penting menelusuri lebih jauh beberapa BLKK pesantren yang berhasil dalam melakukan pemberdayaan dan melihat bagaimana BLKK tersebut menjaga sustainabilitasnya agar pemberdayaan tetap mengarah perubahan pada kemandirian ekonomi pesantren dan masyarakat. Dalam tulisan ini terdapat tiga faktor yang mendorong upaya mempertahankan sustainabilitas BLKK pesantren yaitu Karisma Kiai. Keterlibatan Alumni, dan Kolaborasi Eksternal Karisma Kiai Karisma kiai merupakan faktor penting dalam mempertahankan sustainabilitas program yang dijalankan persantren. Karisma secara umum dipahami sebagai kekuatan spiritual atau kualitas pribadi yang memberikan seseorang pengaruh atau wewenang atas banyak orang. Kualitas pribadi atau kekuatan khusus dari seorang individu yang membuatnya mampu mempengaruhi atau menginspirasi banyak orang. Potensi keistimewaan ini menjadi sangat kuat ketika kiai terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan pesantren. Kuatnya pengaruh karisma dalam bentuk partisipatif ini dapat menjaga kelangsungan kegiatan yang ada di pesantren. Di BLKK-Pesantren Fathul Ulum Diwek Jombang. Kiai Amin terjun langsung dalam mengembangkan BLKK-Pesantren. Beliau yang memiliki jiwa enterpreneur membuka forum konsultasi sekali dalam seminggu bagi pengelola BLKK-Pesantren. Beliau juga membuka pengajian dengan tema kewirausahaan. Para santrinya bukan saja yang masih aktif tetapi juga mereka yang sudah menjadi alumni. AuForum konsultasi diadakan setiap 1 minggu sekali kepada Romo Kyai Gus Amin, setiap malam rabu ada ngaji ekonomi dan kewirausahaan, jadi para alumni terutama yang merintis usaha itu biasanya ikut ngaji itu dan bisa konsultasi ke Kyai Gus Amin langsungAy (Hasil wawancara dengan Pengelola BLKK-P Fathul Ulum. Jiwa pengorbanan kiai dalam bentuk menyediakan harta benda untuk kemajuan BLKK juga memperkuat dimensi karisma ini. Pengelola BLKK Pesantren Subulus Salam menjelaskan tentang alasan pemilihan jurusan pengolahan hasil alam. AyRomo kyai memiliki lahan 3 HA yang ditanam hasil alam seperti jagung. Dari lahan ini diharapkan mampu menghasilkan produk hasil olahan yang memiliki nilai jual Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 902 yang lebih tinggi. Dari situlah tercetus ide untuk memilih jurusan pengolahan hasil alamAy (Hasil wawancara dengan Pengelola BLKK-P Subulus Salam, 2. Kekuatan karisma kiai juga memberikan motivasi besar bagi pengelolaan BLKK Pesantren Raudhatus Syariah Bisyariah. Karisma ini ditunjukkan langsung dalam bentuk fisik hadir memberikan pengarahan setiap ada pelatihan. AuYa selama ini mendukung bahkan setiap ada pelatihan beliau hadir untuk memberikan wawasan terkait program pelatihan, bagaimana kita bisa mengembangkan diri dan lain lainAy (Hasil wawancara dengan Pengelola BLKK-P Raudhatus Syariah Bisyariah, 2. Pada aspek lain, secara organisasi karisma Kiai ini bisa dilihat dalam bentuk ditetapkannya sebagai pembina dalam struktur organisasi pada hampir semua BLKKPesantren. Hal ini menjadikan dimensi karisma bisa mengendalikan proses berjalannya organisasi. AuSebagaimana umumnya BLKK Pesantren lain, di sini Pembinanya adalah Romo Kiai. Beliau biasanya hanya melakukan pengawasan dan pengecekan atas kegiatan yang dilakukan pengelola. Khususnya ketika ada pelatihanAy (Hasil wawancara dengan Pengelola BLKK-P Fathul Ulum, 2. Karisma seorang pemimpin dalam banyak penelitian memberikan pengaruh besar bagi pengembangan sebuah organisasi. Karisma tidak saja bersifat given, karisma juga dapat dibangun dari kerelaan dan pengorbannya atas waktu, tenaga dan harta benda untuk berpartisipasi langsung dalam kegiatan pesantren. Hal yang paling dasar dari sebuah karisma adalah tatapan mata. Dalam banyak penelitian tatapan mata seorang pemimpin memberikan magnet kuat bagi penguikutnya. Kekuatan ini dapat menggerakkan sebuah organisasi secara efektif. Masyarakat Jawa, atau secara khusus para santri, menatap mata kiainya adalah sebuah tradisi yang tidak diajarkan Tradisi mengajarkan ketika berhadapan dengan pemimpinnya harus menundukkan kepala, bukan menatap matanya. Karisma seorang pemimpin dalam masyarakat Jawa berbentuk jiwa keprihatian, perhatian yang besar, ketokohan, dan keterlibatan aktif seorang pemimpin dalam kegiatan. Oleh karena itu, jika seorang pemimpin dengan kekuatan tatapan matanya saja sudah memberikan pengaruh besar apalagi secara fisik pemimpin tersebat hadir menjadi pembina organisasi, memberikan pengarahan, mengorbankan jiwa, raga, tenaga, waktu, dan hartanya membuat dimensi ketundukkan ini semakin kuat. Keadaan ini membuat dimensi karisma muncul secara produktif dalam pengembangan BLKK ke depannya. Tatapan mata yang dibarengi dengan aksi nyata dapat memberikan pengaruh besar bagi kelangsungan BLKK Pesantren. Karisma juga terbentuk karena terstrukturnya konsep diri dalam diri seseorang. Karisma seorang kiai muncul karena lingkungan pesantren telah membentuk konsep diri seorang santri bagaimana bersikap kepada pemimpinnya. Konsep diri ini membawa santri untuk selalu menaruh hormat pada apa yang diucapkan kiai dan mencontoh apa yang dilakukannya. Pelajaran terkait adab atau akhlak yang diajarkan Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 903 di pesantren dan lingkungan sosial pesantren yang ketat, dan kultur masyarakat yang kuat menjadikan konsep diri ini melandasi setiap perilaku santri. Adanya dimensi nilai yang konkruen antara pemimpin dan pengikut dapat menimbulkan efek karismatik dari seorang pemimpin. Pemimpin yang memahami kebutuhan dan kepentingan santri secara mendalam pada satu sisi, dan pengikut yang memahami kebutuhan dan kepentingan pemimpin, pada sisi lain, dapat menciptakan efek balik dari santri untuk menghormati pemimpinnya secara karismatik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa faktor karisma kiai, keterlibatan alumni, dan kolaborasi eksternal tidak hanya berfungsi sebagai modal sosial, tetapi dapat diterjemahkan ke dalam strategi manajemen BLKK. Pertama, peran kiai berfungsi sebagai bentuk institutional leadership yang memengaruhi arah strategis BLKK. Dalam praktik manajerial, hal ini tercermin pada legitimasi kelembagaan, penentuan visi program, pengambilan keputusan strategis, serta penyediaan sumber daya . set, jaringan, dan dukungan mora. BLKK dengan keterlibatan kiai yang aktif menunjukkan stabilitas organisasi yang lebih tinggi. Kedua, keterlibatan alumni merepresentasikan strategi pengelolaan SDM dan penguatan jaringan pasar. Alumni tidak hanya berperan sebagai instruktur dan mentor, tetapi juga sebagai penghubung pasar, mitra produksi, dan agen inovasi. Praktik ini memperkuat keberlanjutan BLKK melalui transfer pengetahuan, pengurangan biaya operasional, dan penciptaan nilai tambah ekonomi. Ketiga, kolaborasi eksternal menjadi strategi manajemen kemitraan . takeholder collaboratio. yang mencakup kerja sama dengan pemerintah desa. UMKM, dunia industri, lembaga sertifikasi, dan perguruan tinggi. Kolaborasi ini berkontribusi pada aspek pembiayaan, peningkatan kapasitas SDM, legalitas usaha, serta perluasan Jurusan non-komputer seperti pengelasan, konveksi, otomotif, dan pengolahan hasil alam terbukti lebih adaptif dalam membangun kemitraan berbasis kebutuhan ekonomi lokal. Keterlibatan Alumni Peran alumni termasuk faktor penting dalam mempertahankan kelangsungan BLLK. Alumni adalah seseorang yang telat tamat menempuh pendidikan baik sekolah maupun perguruan tinggi. Meskipun secara formal eksistensinya sudah tidak lagi berada di lembaga namun keberadaannya potensi besar bagi pengembangan Alumni BLKK adalah mereka yang telah lulus pelatihan yang diadakan lembaga ini. Karena pentingnya alumni ini. BLKK mempunyai cara agar alumni ini bisa berkontribusi pada masyarakat, pada sisi lain mereka menjadi jaringan bagi Para alumni yang sukses dalam usahanya menjadi semacam Aulaboratorium hidupAy, tempat magang bagi alumni yang baru lulus pelatihan. Di tempat itu para alumni baru bisa langsung mempraktikkan hasil pelatihannya (Hasil observasi di BLKK-P Subulus Salam, 2. Para alumni yang sudah sukses juga menjadi pendamping . bagi alumni yang sedang merintis usaha. Demikian disampaikan salah satu alumni: AuPara alumni itu sudah mandiri usahanya membantu dan mendampingi yang belum bisa, sering mereka menghubungi menanyakan perkembangan usahanya. Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 904 apa ada masalah, dan lain-lainAy (Hasil wawancara dengan Alumni BLKK-P Fathul Ulum, 2. Alumni juga masih sering terlibat dalam kegiatan BLKK-Pesantren. Setiap ada pelatihan BLKK mengajak para alumni menjadi Tutor. Mereka ini bisa menyampaikan materi baik secara teoritis maupun praksis. Para alumni juga sering diminta untuk meramaikan workshop yang diadakan BLKK di luar daerah (Hasil wawancara dengan Alumni BLKK-P ISFAR, 2. Di samping itu, para alumni juga memiliki peran sebagai agen pemasaran dari produk-produk yang dibuat BLKK. Bahkan bisa juga sebaliknya produk alumni dijual di pesantren. Kerjasama antara alumni dan BLKK/Pesantren juga sering dalam bentuk pemenuhan pesanan masyarakat yang sangat banyak yang tidak memungkinkan dikerjakan sendiri karena keterbatasan tenaga atau alat (Hasil observasi di Tempat Usaha Alumni BLKK-P Fathul Ulum, 2. BLKK juga selalu memberikan kesempatan kepada alumni untuk selalu berkembang meningkatkan kapasitas dengan mengikutkan mereka pada acara-acara pelatihan yang bersifat nasional, sebagaimana disampaikan salah satu alumni BLKK: AuInsyaAllah dari pengurus BLKK tahun depan saya akan diikutsertakan dalam progam inkubator, sama pengelolanya mau diberikan modal produksi perkiraan per orang 1 sampai 2 JutaAy (Hasil wawancara dengan Alumni BLKK-P Subulus Salam, 2. Bagi alumni pesantren kegiatan yang melibatkan mereka untuk membantu pesantren merupakan kebanggaan. Hal ini menunjukkan bahwa mereka mempunyai kelebihan dari alumni lainnya. Oleh karena itu ketika mereka diminta untuk membantu menjadi tutor dalam pelatihan BLKK, diminta untuk mendampingi usaha adik angkatan dalam usaha, ikut menjadi agen pemasaran produk-produk pesantren, dan ikut meramaikan workshop yang diadakah pesantren, mereka akan menerimanya dengan senang hati. Mereka meyakini bahwa yang membutuhkan bukan sekedar BLKK ataupun pesantren secara kelembagaan, tetapi kiai dan para ustadz yang dulu Keterlibatan alumni dalam kegiatan almamaternya bukan sekedar menjalin kembali ikatan sosial yang pernah ada dan juga tergalinya kembali kenangankenangan dalam sebuah lembaga. Lebih dari itu, hubungan antara guru dan murid, kiai dan santri, dalam tradisi pesantren merupakan hubungan abadi yang membentangkan horizon kehidupan dunia hingga akhirat. Adanya forum konsultasi bagi alumni yang mempertemukan alumni yang sudah mandiri dan alumni yang sedang merintis memiliki kekuatan bagi kesuksean alumni. Melalui forum ini, peserta yang masih aktif sebagai santri dan juga para alumni yang sedang merintis usaha mendapatkan pengetahuan dan pengalaman dari para alumni Forum ini juga akan menjadi pertemuan awal yang memungkinkan mereka berkomunikasi secara intens di luar forum. Forum ini dapat menjadi awal bagi masa depan yang lebih baik. Keterlibatan alumni dalam pengembangan BLKK juga merupakan bagian dari proses pemberdayaan. (Nadzir, 2. Kerjasama dalam bentuk pembuatan produk secara bersama dan pemasarannya, juga mengirimkan delegasi pada kegiatan-kegiatan berskala nasional yang bersifat pengembangan Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 905 kapasitas sumber daya manusia, usaha, dan permodalan sebagaimana yang terjadi di BLKK merupakan hal strategis dalam mempertahankan kelangsungan BLKK. Sumber daya manusia yang semakin meningkat kualitasnya menjadi faktor produksi yang dapat menciptakan nilai tambah (Fauzia, 2. Keterlibatan alumni dengan almamaternya meliputi tiga hal, yaitu. instrumental, keterlibatan komunikasi, dan keterlibatan afektif. Keterlibatan instrumental mencerminkan bahwa kegiatan alumni menjadi bagian dari struktur dan tugas bagi sebuah organisasi. Keterlibatan komunikasi menjelaskan bahwa antara alumni dan alumni terus menjaga hubungan . dan saling bertukar informasi. Sementara keterlibatan afektif, almamater menyerahkan pengembangan kelembagaan kepada alumni dan lembaga alumni dapat menjadi tempat magang bagi calon alumni . ahasiswa akti. Komunikasi menjadi satu stretagi penting yang mampu menjadikan keterlibatan lebih banyak dipilih dan lebih kuat. Dalam konteks pesantren, ketiga model keterlibatan alumni tersebut kalau di pesantren, keterlibatan insrumental lebih kuat karena hubungan alumni bukan semata hubungan formal, tapi hubungan guru dan murid, hubungan kiai dan santri, hubungan kiai sebagai pewaris nabi dan santri sebagai umat. Keterlibatan komunikasi juga lebih menancap karena bersifat satu arah . Sementara keterlibatan afektif terwujud dalam bentuk sikap para santri dan alumni yang senantiasa bisa diajak kerjasama satu sama lain untuk saling mengembangkan diri dan membesarkan pesantren termasuk BLKK-nya. Keterlibatan alumni menciptakan sebuah jaringan bagi yang berpotensi mengembangkan kelembagaan BLKK itu sendiri (Kutsiyah, 2020. Semakin banyak alumni dikeluarkan oleh pesantren, semakin banyak alumni yang sukses dalam berkarir, semakin luas jaringan BLKK. Semakin luas jaringan memungkinkan BLKK dalam mempertahankan Kolaborasi Eksternal Kolaborasi eksternal merupakan upaya yang dilakukan BLKK-Pesantren dalam menjalin kerjasama dengan pihak luar pesantren. Kolaborasi ini dapat mencakup interaksi dan pertukaran informasi, sumber daya, atau keahlian dengan pihak eksternal dalam rangka memenuhi kebutuhan dan tujuan yang disepakati bersama. Kolaborasi eksternal dapat menjadi penentu keberlangsungan BLKK. Dalam hal ini. BLKK-Pesantren telah melakukan jalinan kerjasama dengan Pemerintah Desa. Kerjasama ini berbentuk pengingkatan kapasitas sumber daya manusia. Masyarakat desa diberikan kesempatan untuk mengikuti program pelatihan yang diadakan BLKK. BLKK-P RSBS selalu terbuka untuk masyarakat yang ingin mengikuti pelatihan terkait tata busana (Hasil wawancara dengan Perangkat Desa, 2. Kolaborasi eksternal juga dilakukan BLKK dengan Home Industry konveksi. Kerjasama ini berbentuk penyediaan tenaga kerja yang dibutuhkan oleh Home Industry tersebut. Dalam hal ini, para alumni pelatihan BLKK ditampung oleh dunia industri sebagai tenaga yang siap kerja . eady for us. Di rumah industri tersebut mereka bisa bekerja sebagai tukang potong bahan . , tukang bordir, tukang pasang kancing dan resleting, dan sebagainya (Hasil wawancara dengan Pengusaha Konveksi, 2. Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 906 Kolaborasi eksternal juga dilakukan BLKK dengan Dinas Koperasi dan UMKM Pemerintah Kabupaten. Seperti yang terjadi pada BLKK ISFAR di Kediri (Hasil wawancara dengan Pegawai Dinas Koperasi, 2. BLKK ini menjalin kerjasama dengan Dinas Koperasi dan UMKM dalam bentuk permodalan, peningkatan kapasitas SDM, pengurusan NIB, dan pemasaran. Kolaborasi juga dilakukan dalam pembuatan sertifikasi halal untuk produk hasil pengolahan pertanian. Kolaborasi ini dilakukan dengan Lembaga Penjamin Halal UIN SATU Tulungagung (Hasil wawancara dengan Pegawai LPH, 2. BLKK Al-Muhsin Blitar melakukan kerja sama dengan Lembaga Pemasyarakatan Blitar dalam peningkatan keterampilan dan skil bidang pengelasan bagi para penghuni lembaga tersebut. Kolaborsasi bersama pengusaha mandiri juga dilakukan BLKK dalam bentuk peminjaman alat-alat yang ada di ruang laboratorium BLKK kepada masyarakat. Seperti BLKK Subulus Salam Trenggalek meminjamkan alat-alatnya kepada masyarakat untuk membuat produk jamu (Hasil wawancara dengan Warga, 2. BLKK APIS meminjamkan alat-alatnya untuk pengusaha bengkel otomotif (Hasil wawancara dengan Warga, 2. Tentu saja peminjaman itu diberikan pada saat alat-alat sedang tidak digunakan. Kolaborasi eksternal yang dilakukan BLKK dalam bentuk kerjasama dengan pihak luar baik perseorangan maupun lembaga, seperti. home industry, pemerintah desa. Lembaga Pemasyarakatan. Dinas Koperasi dan UMKM, dan juga UIN SATU Tulungagung merupakan cara yang tepat dalam mengembangkan dan mempertahankan keberlangsungan BLKK. Kolaborasi eksternal merupakan konsep analitis yang menyatu secara praktik dalam membicarakan peran dan pentingnya pengembangan sebuah lembaga (Anderson & Jack, 2. Adanya kolaborasi eksternal ini memberikan manfaat bagi lembaga dalam bentuk pengetahuan baru, pengurangan biaya operasional, pengurangan risiko, dan munculnya inovasi baru yang diperoleh dari mitra kerjasama. Kolaborasi eksternal juga memberikan keuntungan dalam peningkatan proses produksi dan perluasan pemasarannya. Kolaborasi eksternal sebagai sebuah strategi dilandasi oleh tingkat reputasi kelembagaan atau pemimpinnya. Pesantren sebagai lembaga pendidikan yang berakar dari masyarakat dan figur pengasuh yang memiliki pengaruh kuat di masyarakat menjadikan kolaborasi eksternal tersebut dapat dilakukan secara tepat oleh BLKK. Karena lembaga yang mempunyai akar masyarakat yang kuat berkontribusi terhadap kolaborasi eksternal yang efektif. Beberapa jurusan yang menjadi konsentrasi BLKK yakni. pengelasan, otomotif, pengolahan hasil alam dan pertanian, tata busana, dan konveksi, menjadi media yang support dalam menjaring mitra kolaborasi eksternal. Tingkat kolaborasi eksternal yang tinggi dalam sebuah perusahaan membuka peluang untuk berkembang lebih jauh dan Jurusan tersebut membuka peluang untuk terjadi kolaborasi dengan pemangku kepentingan, khususnya kolaborasi dalam membuka aspek pasar. Kesimpulan Program BLKK yang diberikan pemerintah kepada pesantren merupakan wujud nyata dari niat besar pemerintah untuk memberdayakan pesantren. Pesantren yang Journal of Management and Digital Business, 5. , 2025, 907 mempunyai akar sejarah kuat dalam masyarakat menjadi sangat beralasan menerima mandat sebagai agen pemberdayaan ekonomi masyarakat dalam menyongsong semangat yang digelorakan Wakil Presiden MaAoruf Amin sebagai Arus Baru Ekonomi Indonesia. Namun demikian, program BLKK Pesantren tidak semuanya berjalan dengan sesuai harapan. Hanya beberapa persen saja yang bisa bertahan, khususnya BLKK yang mengelola jurusan non komputer seperti. pengelasan, otomotif, pengolahan hasil alam dan pertanian, tata busana, dan konveksi, yang dapat meningkatkan kemandirian ekonomi pesantren dan dan mampu memberdayakan masyarakat sekitar. Bahkan BLKK ini mampu mempertahankan sustainabilitasnya dalam memeberdayakan masyarakat. Terdapat tiga hal mendasar yang membuat BLKK-P ini dapat menjaga Pertama, karisma kiai yang terjaga dengan baik dan produktif. Karisma seorang pemimpin, apalagi kiai, memberikan pengaruh besar bagi pengembangan sebuah organisasi. Karisma kiai terbangun bukan saja karena faktor turunan . , tapi ketika kiai ikut juga terlibat dalam BLKK dengan mewakafkan waktu, tenaga, dan harta bendanya membuat karisma itu muncul semakin menguat. Demikian yang terjadi di BLKK-P yang sukses program pemberdayaannya. Kedua, keterlibatan alumni. Relasi Alumni dengan almamaternya meliputi tiga hal, yaitu. keterlibatan instrumental, keterlibatan komunikasi, dan keterlibatan afektif. Ketiga model teterlibatan tersebut telah mengikat alumni dengan almamaternya secara Keterlibatan ini dalam konteks pesantren sebagai tempat mengaji, patronase kiai dan santri, orientasi pada keberkahan, dan horizon hidup yang menjangkau dunia dan akhirat, telah memperkuat posisi alumni sebagai bagian penting dalam pengembangan pesantren termasuk dalam kemandirian dan pemberdayaan ekonomi pesantren. Ketiga, kolaborasi eksternal. Kolaborasi dalam hal ini menjadi strategi untuk mengerahkan segala modal yang dimiliki. modal otorisasi agama, modal sosial, modal ekonomi, dan modal politik, yang ada di pesantren sebagai kekuatan untuk merangkul mitra kerja sama. Berkaitan dengan BLKK-P tidak sulit BLKK ini menggandeng mitra dari berbagai elemen. masyarakat, pemerintah, sektor swasta, maupun perguruan tinggi. Hasil penelitian ini memberikan rekomendasi kepada seluruh elemen yang terlibat dalam pengelolaan BLKK di pesantren bahwa BLKK yang sudah ada bisa digerakkan kembali agar pesantren semakin terlihat tidak saja lembaga pendidikan yang mengkaji ilmu agama tetapi juga sekaligus lembaga yang berfungsi pembedayaan bagi Setidaknya dengan mencoba memperhatikan ketiga temuan di atas. samping itu, hasil penelitian ini juga membuka peluang untuk penelitian lebih lanjut seperti kajian tentang jiwa dasar kewirausahaan pesantren atau kerjasama antara BLKK pesantren, dan sebagainya. Referensi