Jurnal JAPS Volume 6. Nomor 2 Agustus 2025 P-ISSN: 2722-161X E-ISSN: 2722-1601 DOI: 10. 46730/japs. Implementasi Program Mama Berta Joko Tingting dalam Penanganan Stunting di Kalurahan Sendangrejo Nabila Suswitika Nandago1. Muhammad Salisul Khakim2 Jurusan Administrasi Publik. Universitas AoAisyiyah Yogyakarta Email: muhammad. salis@unisayogya. Kata kunci Abstrak Implementasi. Stunting masih menjadi permasalahan dengan fokus perbaikan gizi Inovasi DASHAT. Indonesia adalah salah satu negara dengan prevalensi stunting Stunting cukup tinggi karena kondisi ekonomi masyarakat kurang mampu sehingga tidak dapat memenuhi kebutuhan gizi pada balita. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui implementasi Program Mama Berta Joko Tingting dalam penanganan stunting di Kalurahan Sendangrejo yang dihadiri oleh para ibu dan balita stunting Kalurahan Sendangrejo. Penelitian difokuskan pada Kalurahan Sendangrejo yang memiliki jumlah balita stunting terbanyak dalam 2 tahun terakhir di Kapanewon Minggir. Penelitian ini menggunakan deskriptif kualitatif dimana penelitian dilakukan di lapangan secara langsung dan dibuat dalam deskriptif naratif yang mendeskripsikan kejadian secara nyata dan apa adanya. Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa sebagian besar ibu balita sangat antusias mengikuti program tersebut dan program ini terbukti dapat meningkatkan tinggi dan berat badan Namun dalam kegiatan ini masih terdapat tantangan dan hambatan, meskipun sudah dilakukan motivasi dan edukasi oleh pihak-pihak terkait. Keywords Implementation. DASHAT inovation. Stunting Abstract Stunting is still a problem with the focus of improving world nutrition. Indonesia is one of the countries with a fairly high prevalence of stunting due to the economic conditions of the poor community so that they cannot meet the nutritional needs of toddlers. The purpose of this study was to determine the implementation of the Mama Berta Joko Tingting Program in handling stunting in Sendangrejo Village which was attended by mothers and stunted toddlers in Sendangrejo Village. The study focused on Sendangrejo Village which has the largest number of stunted toddlers in the last 2 years in Minggir District. This study uses qualitative descriptive where the research was conducted in the field directly and was made in narrative descriptive which describes events in real and as the are. The result of this study can be concluded that most mothers of toddlers are very enthusiastic about participating in the program and this program has been proven to increase the height and weight of toddlers. However, in this activity there are still challenges and obstacles, even though motivation and education have been cariied out by related parties. Pendahuluan Kasus stunting masih menjadi isu global yang sangat penting untuk diatasi di seluruh dunia dan menjadi salah satu permasalahan dengan fokus utama perbaikan gizi dunia tahun 2025. Indonesia adalah salah satu negara dengan prevalensi stunting cukup Stunting sangat berpengaruh dalam pendidikan karena dapat mengurangi kemampuan belajar pada anak sehingga perkembangan kognitifnya terhambat, selain itu dapat menyebabkan kurang konsentrasi dan kesulitan dalam memahami (Rosyada & Sudibyo, 2. Balita stunting akan mengalami gangguan pertumbuhannya hingga remaja dan akan berisiko terkena penyakit kronik seperti obesitas (Ayu Zizi et al. , 2. Beberapa faktor yang memicu stunting yaitu kondisi ekonomi keluarga, kondisi fisik orang tua, jumlah anggota keluarga, dan pemberian asi eksklusif pada anak di masa 1000 Hari Pertama Kelahiran (HPK) (Yuwanti, dkk, 2. Pada tahun 2022 angka stunting di Indonesia sebesar 21,6% dimana angka tersebut sudah melebihi batas yang ditetapkan oleh standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 20% (World Health Organization, 2. Oleh sebab itu. Kementerian Kesehatan menargetkan penurunan angka stunting ke 14% pada tahun 2024 (Kemenkes, 2. Upaya yang dilakukan pemerintah dalam menangani kasus stunting diantaranya dengan pemberian PMT, edukasi, penyuluhan terkait gizi dan kesehatan dengan tujuan merubah perilaku keluarga balita dalam pemberian dan penyiapan makanan sesuai dengan umur, pemilihan bahan makanan aman pangan serta dapat meningkatkan berat dan tinggi badan balita (Baskoro, 2. Prosentase stunting di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada tahun 2018 sebesar 12,35%, tahun 2019 sebesar 10,6%, tahun 2020 sebesar 11,08%, dan tahun 2021 sebesar 9,83%, angka tersebut cenderung menurun di tahun 2020-2021 (Dinkes DIY, 2. Menurut data dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman. Kapanewon Minggir mengalami kenaikan dimana pada tahun 2020 sebesar 13,31% kemudian menjadi 13,83% pada tahun 2021. Sehingga pada tahun 2022-2023 Kapanewon Minggir mengalami penurunan yang cukup signifikan dimana pada tahun 2022 sebesar 13,16% kemudian pada tahun 2023 menjadi 7,09% (Dinkes Sleman dalam Siswati, 2. Meskipun sudah mengalami penurunan. Kapanewon Minggir masih menjadi peringkat pertama dengan jumlah kasus stunting terbanyak di Kabupaten Sleman. Penyebab utamanya dikarenakan feeding rules yang keliru dimana balita lebih banyak mengkonsumsi makanan ringan daripada makanan utama dan jadwal makan balita tidak teratur sehingga balita kekurangan nutrisi dan menjadi stunting. Tabel 1. Prevalensi dan Jumlah Balita Stunting kalurahan di Kapanewon Minggir No. Kalurahan Sendangmulyo Sendangarum Sendangrejo Sendangsari Sendangagung Stunting 2023 6,98% - 22 balita 7,52% - 10 balita 7,04% - 30 balita 1,38% - 3 balita 6,40% - 24 balita Stunting 2024 8,58% - 26 balita 9,92% - 13 balita 8,50% - 34 balita 6,57% - 14 balita 9,07% - 33 balita Sumber : Data EPPGBM 2024 dalam DP3AP2KB Kabupaten Sleman Berdasarkan tabel 1. dapat dilihat bahwa terdapat lima kalurahan yang ada di Kapanewon Minggir. Kemudian pada tahun 2024 Kalurahan Sendangarum menduduki peringkat teratas sebesar 9,92% dan sebanyak 13 balita stunting. Namun, disisi lain pada tahun 2024 Kalurahan Sendangrejo dengan prevalensi 8,50% memiliki jumlah balita stunting sebanyak 34 balita. Angka tersebut diperoleh dari pembagian antara jumlah balita keseluruhan di kalurahan dengan jumlah balita stunting yang ada di kalurahan. Sehingga berdasarkan data diatas dapat disimpulkan bahwa Kalurahan Sendangrejo menjadi wilayah dengan kasus balita stunting terbanyak dua tahun terakhir ini di Kapanewon Minggir. Faktor penyebab stunting di Kalurahan Sendangrejo utamanya yaitu pola asuh dan pola hidup orang tua yang belum sesuai. Selain itu Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) kurang dari 2,5 kg dan kurangnya ketersediaan air bersih. Pemerintah pusat melakukan berbagai upaya dalam menangani kasus stunting ini diantaranya yaitu dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2020-2024. Salah satu bentuk implementasinya adalah pengesahan Rencana Aksi Nasional Percepatan Penurunan Stunting Indonesia (RAN-PASTI) sesuai Peraturan Presiden RI Nomor 72 Tahun 2021 (Peraturan Presiden, 2. Strategi Nasional yang tertuang dalam Perpres Nomor 72 Tahun 2021 Pasal 2 Ayat 2 adalah untuk menurunkan prevalensi stunting dengan mempersiapkan hidup berkeluarga, terjaminnya kecukupan gizi, serta meningkatkan pola asuh orang tua, melalui program Bangga Kencana yang merupakan salah satu bentuk program dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Program Bangga Kencana ini bertujuan untuk mewujudkan keluarga berkualitas dan mengatasi stunting di Indonesia. Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2022 tentang Optimalisasi Penyelenggaraan Kampung Keluarga Berkualitas di dalamnya terdapat beberapa program optimalisasi Kampung Keluarga Berkualitas (KKB) dalam rangka pemberdayaan keluarga salah satunya yaitu program pendampingan dan pelayanan pada keluarga risiko kejadian stunting. Kemudian dalam program tersebut terdapat variabel-variabel salah satunya yaitu program Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) (Nuranti dkk, 2. Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) merupakan bentuk nyata dari program Bangga Kencana yang berisikan kegiatan seperti penyuluhan, edukasi gizi, dan pembiasaan mengkonsumsi makanan bergizi untuk keluarga yang berisiko stunting (Ndadhosale, 2. Pemerintah mengeluarkan program Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) yang mengutamakan upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat. Namun, tetap memprioritaskan tujuan utama yaitu menyediakan makanan bergizi bagi masyarakat dan sebagai bentuk nyata upaya pencegahan stunting di tingkat masyarakat (Direktorat Kerjasama Pendidikan Kependudukan-BKKBN, 2. Harapannya dengan adanya program ini pertama masyarakat dapat terpenuhi gizi dan nutrisinya terutama pada keluarga yang berisiko stunting, kedua masyarakat mendapatkan pengetahuan serta keterampilan dalam rangka penyiapan makanan sehat dan bergizi berbasis sumber daya lokal serta dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga (BKKBN, 2021 dalam Yanti et , 2. Program diartikan sebagi suatu alat kebijakan yang mencakup kegiatankegiatan yang dilakukan oleh suatu lembaga pemerintah demi mencapai tujuan tertentu serta inisiatif masyarakat yang diselenggarakan oleh pemerintah daerah (Adri et al. Program ini dilakukan oleh pemerintah desa/kalurahan melalui Kampung Keluarga Berkualitas (KKB) dengan melibatkan tim percepatan penurunan stunting di tingkat nasional hingga tingkat desa (Wijayanti et al. , 2. Sebagaimana tertuang dalam Peraturan Bupati Sleman Nomor 40. 1 Tahun 2022 tentang Penyelenggaraan Kampung Keluarga Berkualitas, sehingga harapannya melalui Kampung Keluarga Berkualitas (KKB) seluruh program yang sudah direncanakan dapat terlaksana dengan baik. Salah satunya yaitu di Kalurahan Sendangrejo. Kapanewon Minggir yang telah melaksanakan inovasi program Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) yang dinamakan Mama Berta Joko Tingting (Masak Makan Bersama Balita Sendangrejo Kompak Tinggalkan Stuntin. Kegiatan ini dilakukan oleh kader penggerak DASHAT maupun Kelompok Kerja (Pokj. berkolaborasi dengan lintas sektor dan stakeholder yang terdapat di Kalurahan Sendangrejo dengan mengundang ibu dan balita stunting untuk memasak menu bergizi secara bersama-sama. Di Kabupaten Simeulue juga melaksanakan program DASHAT dengan nama sub-program Ayah Susi. Maninting, dan Ma Andong yang dikembangkan oleh DP3AKB pemerintah Kabupaten Simeulue dengan mengajarkan cara pengolahan makanan yang sehat untuk balita dan bertujuan untuk menurunkan prevalensi stunting (Zulkarnain, 2022 dalam Afriandi, 2. Kegiatan ini serupa dengan upaya optimalisasi pencegahan dan penanggulangan stunting melalui kader DASHAT membuat makanan bergizi serta memberikan pengetahuan kepada orang tua balita terkait proses pengelolaan makanan yang baik di Kelurahan Kauman Kidul Salatiga. Indikator balita dikategorikan stunting ditandai dengan pertumbuhan panjang atau tinggi badan yang tidak sesuai standar pada umumnya (Tim Medis Siloam Hospitals, 2. Berdasarkan indikator tersebut implementasi program Mama Berta Joko Tingting ini terbukti dapat mengentaskan balita stunting karena dengan adanya progam ini dapat meningkatkan tinggi dan berat badan pada balita, namun tidak bisa dipungkiri masih terdapat balita yang Maka dari itu, berdasarkan uraian-uraian diatas, perlu mengkaji lebih dalam terkait implementasi program Mama Berta Joko Tingting dalam penanganan stunting di Kalurahan Sendangrejo. Kapanewon Minggir. Metode Penelitian ini dilakukan di Kampung Keluarga Berkualitas (KKB) Kalurahan Sendangrejo dengan jumlah balita stunting terbanyak dalam 2 tahun terakhir di Kapanewon Minggir. Kabupaten Sleman. Sumber data yang diperoleh berasal dari literatur review, jurnal, dan artikel ilmiah menyangkut konsep yang akan diteliti. Penelitian ini menggunakan kualitatif deskriptif, dimana penelitian dilakukan dilapangan dengan melihat kejadian yang dialami secara nyata. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan pertama observasi yaitu melakukan pengamatan secara langsung proses implementasi program Mama Berta Joko Tingting di lokasi penelitian, kedua wawancara untuk mengidentifikasi masalah lebih mendalam dan terstruktur agar data yang diperoleh lengkap dan akurat, dan ketiga dokumentasi sebagai data sekunder dalam penelitian ini. Kemudian akan dilanjutkan dengan menganalisis jawaban dari narasumber ketika kegiatan wawancara berlangsung. Langkah-langkah analisis data setelah dilakukan pengumpulan data yaitu reduksi data, penyajian data, dan menarik kesimpulan. Hasil dan Pembahasan Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana implementasi program Mama Berta Joko Tingting dalam penanganan stunting di Kalurahan Sendangrejo. Kapanewon Minggir. Hasil dari penelitian ini mengacu pada teori implementasi yang diungkapkan oleh Van Metter dan Van Horn dengan 6 variabel yaitu sasaran kebijakan, sumber daya, komunikasi, karakteristik badan pelaksana, kondisi sosial dan politik, dan disposisi Berikut hasil penelitian yang dilakukan peneliti berdasarkan masingmasing variabel tersebut : Sasaran Kebijakan Sasaran kebijakan dalam sebuah implementasi menurut Van Metter dan Van Horn harus jelas agar dapat direalisasikan, apabila tidak maka dapat menimbulkan konflik diantara aktor yang terlibat (Aisyah, 2. Termasuk dalam pelaksanaan implementasi Mama Berta Joko Tingting ini melalui pendampingan, edukasi, dan motivasi dalam proses pemenuhan nutrisi pada balita stunting di bulan November-Desember 2024. Tabel 2. Data Balita Stunting Berkomitmen mengikuti Program Mama Berta Joko Tingting No. Nama Usia Berat Usia Tinggi Khadijah Mufidah Nur Husein A Hana Khoirunisa S Alesha Rafa F Fathin Khoirotul U Ega Al Fariz Charlie Dhafin R Kana Fahriza Bhumi Askara B Alifiya Farzana N Saga Dipa N Danesh Kenzie E Naura Azalea M Aksa Elvano Inara Rasyifa Alvarendra Arga B Shaqueena Zianka Adiva Arsyla S Miguel Alembah Ivana Arina P Zevano M Kasih Dwinda B 34 bulan 30 bulan 29 bulan 28 bulan 28 bulan 7 bulan 29 bulan 11 bulan 19 bulan 19 bulan 2 bulan 5 bulan 21 bulan 6 bulan 6 bulan 11 bulan 18 bulan 16 bulan 29 bulan 15 bulan 17 bulan 22 bulan 35 bulan 33 bulan 31 bulan 35 bulan 34 bulan 7 bulan 31 bulan 14 bulan 19 bulan 23 bulan 2 bulan 9 bulan 23 bulan 8 bulan 6 bulan 20 bulan 27 bulan 20 bulan 31 bulan 21 bulan 20 bulan 24 bulan Sumber : Puskesmas Minggir Usia Kronologis 54 bulan 48 bulan 46 bulan 52 bulan 50 bulan 12 bulan 44 bulan 21 bulan 29 bulan 35 bulan 5 bulan 13 bulan 38 bulan 15 bulan 12 bulan 33 bulan 41 bulan 37 bulan 50 bulan 34 bulan 36 bulan 37 bulan Berdasarkan tabel 2 tersebut terdapat 22 ibu dan balita stunting yang berkomitmen mengikuti Program Mama Berta Joko Tingting dari total 34 balita yang tergolong stunting. Kegiatan ini diketuai oleh Lurah Sendangrejo yang membawahi para kader dan tim penanganan stunting. Kegiatan ini dimulai dari penyuluhan, pelaksanaan program, hingga pemberian edukasi terkait pengolahan menu makanan bergizi dan pola asuh yang baik selama 8 minggu. Pemerintah Kalurahan Sendangrejo kemudian berkolaborasi dengan beberapa stakeholder seperti bidan desa dan ahli gizi Puskesmas Minggir. PLKB Kapanewon Minggir. TPPKK, dan para kader DASHAT di Kalurahan Sendangrejo untuk melaksanakan program Mama Berta Joko Tingting ini. Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu S salah satu orang tua balita stunting mengatakan bahwa program Mama Berta Joko Tingting ini sangat bagus dan sangat membantu terkait pemenuhan gizi anak. Selain untuk pemenuhan gizi pada balita, kegiatan ini juga bertujuan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat dengan penyediaan bahan-bahan pokok seperti lauk hewani yang dibutuhkan serta dapat merubah pola asuh orang tua. Kegiatan ini diawali dengan mengundang ibu dan juga balita stunting untuk memasak dan makan bersama kemudian diberikan edukasi pengolahan makanan bergizi anak, pola asuh dan pemberian makanan yang baik untuk balita di Kalurahan Sendangrejo. Meskipun belum sepenuhnya, namun partisipasi masyarakat dapat dikatakan cukup tinggi dan juga koorperatif yang menjadikan suatu keberhasilan dari program ini. Para kader juga memotivasi orang tua balita terutama ibu-ibu balita yang kurang paham terhadap kebutuhan nutrisi pada Selain itu, para balita juga diedukasi terkait kebersihan dan kesehatan seperti tata cara cuci tangan, tidak makan makanan sembarangan, dan Sumber Daya Sumber daya sangat mempengaruhi keberhasilan suatu implementasi. Setiap proses implementasi membutuhkan sumber daya yang berkualitas, baik sumber daya manusia maupun sumber daya finansial dan waktu yang sangat diperhitungkan dalam keberhasilan suatu implementasi (Gemiharto & Juningsih, 2. Menurut Ibu D, pelaksana program Mama Berta Joko Tingting di Kalurahan Sendangrejo didukung oleh berbagai sumber daya baik dari segi pendanaan, kelembagaan, maupun tenaga pelaksana. Dari sisi pendanaan, program ini memperoleh dukungan dana dari kalurahan untuk kesehatan salah satunya penanganan stunting. Program Mama Berta Joko Tingting dilaksanakan secara gratis kepada ibu dan balita stunting di Kalurahan Sendangrejo. Dari aspek kelembagaan, pelaksanaan program ini didukung oleh lintas sektor baik dari Babinsa dan Babinkamtibmas, pihak kalurahan, maupun dari Puskesmas Minggir melalui bidan desa dan ahli gizi serta PLKB Kapanewon Minggir. TPPKK, ibu-ibu Kader DASHAT, serta masyarakat Kalurahan Sendangrejo. Pemerintah Kalurahan Sendangrejo juga menyiapkan sarana dan prasarananya mulai dari tempat untuk pelaksanaan kegiatan, peralatan yang dibutuhkan untuk memasak, bahan-bahan yang dibutuhkan, hingga panduan ragam menu bergizi yang diberikan kepada orang tua balita. Ibu D juga mengatakan ketika pelaksanaan program Mama Berta Joko Tingting terdapat hambatan-hambatan yang terjadi seperti hanya 13-14 ibu balita yang hadir dari 22 ibu balita yang berkomitmen untuk mengikuti program. Hal tersebut terjadi karena kegiatan Mama Berta Joko Tingting dilaksanakan pada bulan November-Desember sehingga cuacanya cukup ekstrim, hal ini dapat dijadikan alasan untuk tidak hadir dalam kegiatan tersebut. Maka dari itu, dapat dijadikan pertimbangan kedepannya kepada pihak pelaksana program untuk pemilihan jadwal kegiatan Mama Berta Joko Tingting yang salah satunya mengacu pada kondisi cuaca di lingkungan sekitar. Berikut merupakan dokumentasi dari pelaksanaan program Mama Berta Joko Tingting di Kalurahan Sendangrejo : Gambar 1. Pelaksanaan Program Mama Berta Joko Tingting di Kalurahan Sendangrejo Sumber : Hasil Penelitian Berdasarkan gambar tersebut dapat dilihat bahwa ibu balita sangat antusias dalam program ini mulai dari proses pengolahan makanan hingga memasak serta saat pemberian edukasi terkait pemenuhan nutrisi pada balita yang disampaikan oleh ahli gizi dari Puskesmas Minggir. Komunikasi Komunikasi merupakan kegiatan penyampaian pesan, suatu program, serta gagasan dari pemerintah kepada masyarakat untuk mencapai tujuan negara (Nani, 2. Wibowo mengungkapkan bahwa komunikasi merupakan suatu aktifitas menyampaikan suatu pikiran dan konsep serta keinginan yang kita miliki dan akan kita sampaikan kepada orang lain, atau dapat dikatakan sebagai seni mempengaruhi orang lain untuk memperoleh apa yang kita ingin (Wibowo dalam Pohan & Fitria, 2. Implementasi sebuah program perlu adanya dukungan, koordinasi, dan kerjasama dengan pihak lain untuk mencapai suatu Hal utama yang para kader lakukan adalah berkoordinasi dengan PLKB dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman. Puskesmas Minggir, dan TPPKK untuk menyusun rencana percepatan penurunan stunting di Kalurahan Sendangrejo mulai dari penyusunan program kerja selama 2 bulan, kegiatan dimulai tanggal berapa, hingga siapa yang akan mensuplay bahan-bahan yang Kemudian para pihak terkait dan ibu balita juga membuat whatsapp grup untuk berkoordinasi di setiap minggunya seperti pemberian informasi terkait pemenuhan gizi yang baik oleh ahli gizi Puskesmas Minggir, follow up siapa saja yang dapat hadir, jadwal tim dan kader yang dapat membantu kegiatan selama pelaksanaan program Mama Berta Joko Tingting. Kalurahan Sendangrejo kegiatan penyampaian informasi mengenai Mama Berta Joko Tingting dilakukan dengan berbagai metode, termasuk motivasi dan edukasi yang disampaikan langsung oleh para stakeholder. Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu D bahwa, pendekatan ini dilakukan untuk memastikan balita yang tergolong stunting 80% dapat mengikuti kegiatan Mama Berta Joko Tingting. Pihak Dinas P3AP2KB Kabupaten Sleman juga melakukan pembinaan kepada Penyuluh KB dan PLKB terkait sosialisasi inovasi Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT) kepada masyarakat. Gambar 2. Pemberian Buku Pemantauan Nutrisi pada Anak oleh Kader Sumber : Hasil Penelitian Berdasarkan gambar 2 tersebut dapat dijelaskan bahwa para ibu balita diberikan buku pemantauan nutrisi pada anak oleh para kader. Buku tersebut berisikan diantaranya resep menu bergizi anak hingga jadwal pemberian makan pada anak. Hal tersebut tentunya sangat membantu orang tua untuk mengubah pola hidup dan pola makan yang sehat bagi anak. Sehingga dengan adanya program ini tidak sedikit dari para ibu balita menginginkan agar kegiatan Mama Berta Joko Tingting dapat terus berjalan untuk pemenuhan nutrisi pada anak. Namun, meskipun komunikasi telah dilakukan dengan berbagai cara, masih terdapat beberapa tantangan dalam penerimaan informasi oleh masyarakat. Salah satunya yaitu stigma masyarakat terhadap program Mama Berta Joko Tingting, dimana balita diasuh oleh pengasuh, nenek atau kakek, saudara, dan sebagainya sehingga tidak sedikit dari mereka beranggapan jika balita hanya diberi makanan ringan sudah cukup asalkan balita tidak rewel. Hal ini menyatakan bahwa dalam komunikasi di Kalurahan Sendangrejo cukup baik, namun persepsi masyarakat terhadap partisipasi program Mama Berta Joko Tingting masih rendah. Karakteristik Badan Pelaksana Karakteristik badan pelaksana seperti struktur birokrasi, norma-norma, dan pola hubungan yang terjadi dalam birokrasi (Nurmayana, 2. Tentunya dalam suatu kegiatan jika tidak terdapat susunan kepengurusan dan program kerja yang jelas maka hal tersebut tidak dapat berjalan dan mencapai tujuan seperti yang sudah ditetapkan. Di Kalurahan Sendangrejo, pemerintah mendukung sepenuhnya untuk program ini seperti anggaran 10% yang dikhususkan untuk penanganan stunting yang digunakan mulai dari motivasi masyarakat, implementasi kegiatan, edukasi, hingga PMT kepada balita. Selain itu pemerintah juga berkoordinasi dengan stakeholder karena selama 3 tahun terakhir ini Kapanewon Minggir selalu menduduki peringkat pertama di Kabupaten Sleman dimana stuntingnya paling tinggi. Hal tersebut menjadikan program ini harus menjadi prioritas bagaimana caranya melalui Kalurahan Sendangrejo nantinya bisa menurunkan level stunting Kapanewon Minggir. Gambar 3. Struktur Tim Pelaksana Kampung Keluarga Berkualitas Sumber : BKKBN, 2025 Berdasarkan gambar diatas, dapat dijelaskan bahwa kegiatan Mama Berta Joko Tingting dilakukan melalui tim dari Kampung Keluarga Berkualitas dan dibawahi oleh Lurah Kalurahan Sendangrejo secara langsung. Berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu E yang merupakan salah satu ibu balita yang mengikuti kegiatan Mama Berta Joko Tingting, mengungkapkan bahwa para stakeholder sudah berjuang luar biasa dengan berbagai cara demi mencapai berat dan tinggi badan balita yang ideal. Selain itu para ibu balita juga diperbolehkan untuk ikut andil secara langsung proses kegiatan tersebut dan diperbolehkan untuk ikut mengolah makanan secara langsung. Kemudian berdasarkan hasil wawancara dengan Ibu W selaku Kepala Subbag P2KB Dinas P3AP2KB Kabupaten Sleman mengatakan bahwa Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Kabupaten Sleman dan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman juga ikut andil dalam kegiatan ini mulai dari sosialisasi melalui Kampung Keluarga Berkualitas (KKB), pembinaan, monitoring di masingmasing kalurahan, dan juga evaluasi kegiatan salah satunya melalui kegiatan festival DASHAT. Hal tersebut menunjukkan bahwa pemerintah dan stakeholder memang mendukung secara penuh kegiatan Mama Berta Joko Tingting ini. Kondisi Sosial dan Politik Kondisi sosial masyarakat merupakan suatu kondisi seseorang di dalam suatu masyarakat di suatu wilayah. Kondisi sosial masyarakat tersebut ditandai dengan danya interaksi antara satu dengan yang lainnya (M. Sastropradja . dalam Anggraini & Lisdiana, 2. Selain itu, kondisi sosial biasanya juga berkaitan dengan kondisi di lingkungan yang dapat mempengaruhi gaya hidup dan juga pekerjaan seseorang. Menurut Ibu D, kondisi sosial ekonomi di Kalurahan Sendangrejo dapat dikatakan ekonomi menengah bahkan menengah kebawah karena mayoritas masyarakat mata pencahariannya sebagai petani. Sehingga memungkinkan untuk pemenuhan nutrisi balita menjadi kurang. Berbeda dengan wilayah-wilayah di perkotaan yang pendapatan keluarganya tergolong tinggi sehingga nutrisinya dapat terpenuhi dengan baik. Selain itu kondisi sosial di Kalurahan Sendangrejo dapat dilihat dari faktor pola asuh. Kebanyakan yang mengasuh balita bukan orang tua secara langsung, melainkan nenek atau kakek, pengasuh, maupun saudara lainnya. Sehingga pola asuhnya belum sepaham dengan apa yang diharapkan oleh pemerintah, dalam hal ini Puskesmas Minggir sebagai kepanjangan tangan dari Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman. Pengasuh balita beranggapan bahwa yang penting balita tidak rewel bagaimanapun caranya seperti hanya dikasih makanan ringanyang ternyata tidak sesuai dengan protap nya. Karena balita sejatinya harus diberi makan besar dulu sesuai jamnya sebelum cemilan atau makanan ringan. Karena jika tidak dilakukan hal tersebut dapat menyebabkan balita menjadi kenyang dan berkurang nafsu makannya pada saat seharusnya balita makan besar. Kemudian beberapa dari orang tua balita yang menganggap bahwa apabila tubuh anaknya kecil itu merupakan genetik dari orang tuanya, jadi bukan suatu hal yang urgent. Namun pada dasarnya stunting bukan semata-mata karena genetik meskipun mungkin ada beberapa persen kontribusi dari genetik, tetapi stunting dapat terjadi salah satunya karena faktor gizi pada anak. Selain itu pola hidup yang belum sesuai seperti kebiasaan merokok. Berdasarkan pengamatan dari pemerintah setempat, pihak keluarga balita seperti ayah maupun kakeknya mayoritas masih merokok di sekitar rumah bahkan di dalam rumah. Maka dari itu, berdasarkan beberapa uraian diatas, pemerintah Kalurahan Sendangrejo beserta lintas sektor dan para stakeholder berkoordinasi bagaimana caranya dengan adanya program Mama Berta Joko Tingting ini dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan meningkatkan kesadaran masyarakat terkait pola hidup sehat serta pola asuh yang sesuai. Gambar 4. Pemberian Bahan Pokok Makanan Bergizi untuk Balita Sumber : Hasil Penelitian Gambar 4 diatas merupakan bahan pokok makanan yang diberikan setiap pertemuan kepada balita yang mengikuti kegiatan Mama Berta Joko Tingting di Kalurahan Sendangrejo. Di mana bahan-bahan tersebut dihasilkan dari petani dan peternak lokal. Selain dapat digunakan untuk pemenuhan nutrisi pada anak juga harapannya dapat meningkatkan perekonomian masyakarat sekitar. Disposisi Implementor Intensitas disposisi implementor merupakan nilai yang dimiliki implementor (Subarsono, 2010 dalam Tabuk & Banjar, 2. Ketaatan dan tanggapan dari pihak pelaksana merupakan hal yang cukup penting dalam proses implementasi, sehingga perlu diperhatikan sejauh mana ketaatan dan tanggapan para pihak pelaksana dalam suatu kebijakan maupun program. Program Mama Berta Joko Tingting dikatakan berhasil karena dapat meningkatkan tinggi dan berat badan balita meskipun waktunya sangat terbatas yaitu hanya 2 bulan. Tabel 3. PMT Mama Berta Joko Tingting Status Gizi Kurang BB/U Sangat Kurang Berat Badan Normal Pendek TB/U Sangat Pendek Normal Before After Sumber : Puskesmas Minggir Berdasarkan tabel diatas dapat diartikan bahwa dengan adanya program Mama Berta Joko Tingting setidaknya pada 22 ibu dan balita yang berkomitmen mengikuti program Mama Berta Joko Tingting telah mengalami kenaikan berat dan juga tinggi badan balita di awal tahun 2025. Terdapat 4 balita yang mengalami kenaikan berat badan dan 6 balita yang mengalami kenaikan tinggi badan setelah mengikuti kegiatan Mama Berta Joko Tingting. Artinya kegiatan ini dikatakan berhasil berdasarkan indikator tersebut karena dapat meningkatkan berat dan tinggi badan pada balita. Kemudian pemerintah setempat berharap dengan adanya program Mama Berta Joko Tingting ini seluruh orang tua balita khususnya para ibu dapat melanjutkan secara mandiri dirumah, karena orang tua balita sudah diberikan edukasi mulai dari pengolahan makanan serta diberikan panduan ragam menu makanan bergizi bahkan hanya dengan bahan yang sederhana dan dapat dijangkau. Berdasarkan hasil wawancana dengan Ibu D, evaluasi dari pemerintah setempat untuk program Mama Berta Joko Tingting ini adalah akan mempersiapkan jauh-jauh hari, seperti memberikan informasi dan edukasi lebih awal bahwa kegiatan ini sangat penting dan akan sangat bermanfaat. Selain itu pendataan ibu-ibu balita dilakukan jauh-jauh hari agar terkesan tidak mendadak. Kemudian dari segi kedinasan Ibu W mengatakan bahwa evaluasi kegiatan ini dapat dilakukan melalui festival kampung DASHAT pada bulan April 2025. Berdasarkan uraian diatas, maka hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Implementasi Program Mama Berta Joko Tingting dalam penanganan stunting di Kalurahan Sendangrejo dapat dikatakan berhasil. Melalui kegiatan edukasi dan motivasi serta pendampingan oleh Kader DASHAT dan stakeholder lainnya. Hal ini sejalan dengan penelitian (Purnomo et al. , 2. yang berjudul Strategi Percepatan Penurunan Stunting melalui Pendampingan Kader DASHAT dan Forum Suara Keluarga Berisiko Stunting Kelurahan Kauman Kidul Salatiga, bahwa upaya optimalisasi penanganan stunting terlaksana dengan baik melalui pendampingan Kader DASHAT dalam pembuatan makanan bergizi dan peningkatan pengetahuan orang tua dalam mengelola makanan bergizi. Simpulan Kasus stunting di Kalurahan Sendangrejo cukup tinggi sebanyak 34 balita di tahun Hal tersebut terjadi karena pola asuh dalam pemberian makan kepada balita masih salah dan kebiasaan hidup merokok di keluarga balita stunting. Sehingga berdasarkan Inpres Nomor 3 Tahun 2022 tentang Optimalisasi Penyelenggaraan Kampung Keluarga Berkualitas (KKB) melalui salah satu variabelnya yaitu program Dapur Sehat Atasi Stunting (DASHAT), pemerintah Kalurahan Sendangrejo membuat inovasi Mama Berta Joko Tingting dalam rangka upaya penanganan stunting di Kalurahan Sendangrejo. Secara umum, program Mama Berta Joko Tingting bisa dikatakan berhasil karena terbukti dapat meningkatkan tinggi dan juga berat badan balita. Ibu balita juga sebagian besar sangat antusias untuk mengikuti program Mama Berta Joko Tingting ini. Namun dibalik itu semua masih terdapat tantangan-tantangan yang dihadapi. Faktor utama yang menjadi tantangan dalam implementasi program Mama Berta Joko Tingting ini terletak pada pola asuh yang salah. Meskipun sudah dilakukan motivasi dan edukasi oleh para stakeholder seperti Puskesmas Minggir melalui bidan desa dan gizi. TPPKK, serta ibu-ibu kader, masih terdapat orang tua yang belum berminat mengikuti program tersebut, dikarena kurang kesadaran diri dan juga kurangnya waktu untuk bisa mengikuti program ini. Kemudian tidak sedikit dari mereka yang mengasuh balita juga beranggapan bahwa balita bisa diberi makanan apapun yang penting balita tidak rewel tanpa memperhatikan kebutuhan gizi dan nutrisi pada balita. Dari segi sumber daya, program ini sangat didukung oleh pemerintah setempat melalui anggaran yang sudah difokuskan untuk penanganan stunting di Kalurahan Sendangrejo. Selain itu, berhubung kegiatan Mama Berta Joko Tingting ini menghadirkan ibu dan juga balita, tentunya dalam pemenuhan sumber daya manusia setidaknya perlu adanya tambahan tim yang bertanggung jawab mengkondisikan balita ketika proses kegiatan berlangsung, agar para ibu bisa lebih fokus untuk belajar mengolah makanan dan memahami ketika diberi penjelasan. Referensi