ESTETIKA SUTARDJI DALAM PUISI-PUISI WIDI NUGRAHANI: TINJAUAN INTERTEKSTUAL Bakti Sutopo Dosen PBSI STKIP PGRI Pacitan E-mail: bakti080980@yahoo.co.id Abstract: This study aims to obtain a description of poetic influence from Sutardji Calzoum Bachri toward Widi Nugrahani poetry. It includes sound, typography, diction, and theme. It is a qualitative research using structural approach. This research uses textual theory as the main method. Intertextual theory assumes that a literature will have an existence if it gets the meaning, interpretation, and response from the readers. In the intertextual context , poet or writer is also as a reader, the expert reader. The results showed that Widi Nugrahani poetry consisting of Suratan Tangan, Paraf, Dua Tanda Kemenangan, Sendagu (Sendagurau) has intertextual relationship with Sutardji Calzoum Bachr poetry. From the poetic intertextual relations, it can be revealed that the poetry of Widi Nugrahani strengthen the aesthetics developed by Sutardji Calzoum Bachri. Keywords: aesthetics, poetry, intertextual, typography, and theme Penyelidikan, pengulasan, dan penelitian terhadap Sutardji Colzoum Bachri dan karyanya sudah sering dilakukan oleh beberapa ahli sastra Indonesia, di antaranya Teeuw, Rahmad Djoko Pradopo, Taufik Ikram Jamil, mahasiswa-mahasiswa jurusan sastra,dan lain-lain. Hal itu membuktikan bahwa puisi Sutardji, sebagai penyair telah diakui dalam rangkaian sastra Indonesia. Berkaitan dengan hal itu, Teeuw (1989: 153) menyatakan bahwa setidaknya ada tiga kekhasan puisi-puisi Sutardji. Pertama, penampilan tipografi yang pelik. Sajak-sajaknya dapat menarik perhatian secara visual pembaca. Kedua, terdapat kata-kata-kata kosong atau kumpulankumpulan bunyi yang tidak biasa ditemukan dalam bahasa Indonesia sehari-hari sebagai katakata yang mempunyai arti. Ketiga, penggunaan pengulangan kata yang luar biasa, bahkan juga pengulangan kelompok kata, baris, atau bahkan sajak utuh. Selain Teeuw, Pradopo (2010) juga mengkaji beberapa puisi Sutardji, antara lain rasa yang dalam, COLLONES SANS FIN, POT, O, Kakek-Kakek & Bocah-Bocah, Dapat Kau, Solitude, dan Tragedi Winka & Sikka. Pradopo (2010: 106) berkesimpulan bahwa karya-karya Sutardji penuh dengan pemyimpangan dari arti tata bahasa normatif dalam sajak-sajaknya untuk mendapatkan arti baru dan ekspresitas. Di samping itu, sajak-sajaknya terkesan aneh dan umumnya belum dicoba secara intensif oleh penyair lain. Tidak lain dengan kedua nama di atas,Taufik Ikram dalam buku Raja Mantra Presiden Penyair juga memandang karya-karya Sutardji mempunyai kekhasan tipografi dan bercirikan mantra. Kekhasan kepenyairan Sutardji mampu mempengaruhi penyair-penyair generasi sesudahnya. Salah satunya mempengaruhi Widi Nugrahani, yang terlihat dari puisi-puisinya. Sebagai penyair muda, yang relatif produktif, Nugrahani dimungkinkan telah membaca puisipuisi Sutardji. Pemaknaan Nugrahani terhadap puisi-puisi Sutardji diwujudkan dengan penciptaan puisi yang di dalamnya terdapat kekhasan karya-karya Sutardji. Adanya hubungan intertektualitas antara puisi-puisi Sutardji (penyair 70-an) dengan Nugrahani (Penyair muda, 2000-an) merupakan hal yang menarik untuk diteliti. Keterpengaruhan puisi sekarang oleh puisi terdahulu adalah suatu yang mungkin. Hal itu sebagaimana diungkapkan oleh Goldmann (1981: 18) bahwa a literary work is not born ex nihilo (sebuah karya sastra tidak lahir dalam kekosongan). Karya sastra mempunyai kaitan dengan karya sezamannya, yang terdahulu atau bahkan karya sastra yang akan datang. Dalam konteks ini, pemahaman dan penafsiran puisi akan lebih komprehensif jika mampu menghadirkan sekaligus mengaitkan antara satu puisi satu dengan puisi yang lain, yang antarpuisi tersebut dianggap ada kemiripan beberapa aspeknya. Untuk menjawab hubungan antarpuisi tersebut dapat menggunakan teori yang dikenal dengan teori intertekstual. Paling utama yang menjadi ciri teori intertekstual adalah membandingkan, mensejajarkan, dan mengkontraskan sebuah teks transformasi dengan hipogramnya (Pradopo, 2010:227). Teori intertektual dapat digunakan sebagai sarana untuk memaknai puisi karena seorang penyair pada dasarnya menanggapi puisipuisi yang lainnya. Mendapatkan makna yang utuh dan menyeluruh dalam memaknai karya sastra dapat ditempuh dengan menghubungkan karya sastra yang menjadi objek dengan konteks sejarah dan kondisi sosial-budaya, termasuk dinamika serta fenomena kesusastraan sebelumnya. Hal ini berkaitan dengan anggapan bahwa karya sastra tidak diciptakan dalam kosong kebudayaan (Teeuw, 1983: 11), yang termasuk di dalamnya situasi sastranya. Berdasar perspektif di atas dapat diketahui bahwa terdapat hubungan intertekstualitas antara karya sastra yang sezaman, yang mendahului atau yang kemudian. Hubungan intertekstual dapat berupa persamaan atau pertentangan. Adanya hubungan antarteks ini lah yang menjadi penting untuk medasarkan pemikiran pada prinsip-prinsip intertekstualitas. Mengkaji karya sastra dengan prinsip intertekstualitas telah disarankan dan dikembangkan oleh Riffaterre (1978). Prinsipnya, sajak baru bermakna penuh dalam hubungannya dengan sajak lain. Dalam proses analisis terhadap puisi, selain teks yang menjadi objek, Riffaterre juga menghadirkan teks yang menurunkan teks kemudian. Oleh Riffattere (1978: 11) teks yang lebih dulu ada disebut dengan hipogram-nya. Dapat dipahami karya sastra selalu dipengaruhi oleh karya sastra sebelumnya. Dalam rangkaian sastra Indonesia modern tercatat beberapa karya sastra, baik puisi maupun prosa yang mempunyai hubungan intertekstualitas. Khususnya puisi, dapat dilihat hubungan intertekstualitas antara sajak-sajak Amir Hamzah dengan sajak-sajak Chairil Anwar. Hubungan intertekstualitas antara sajak-sajak Amir Hamzah dengan Chairil Anwar pada umumnya menunjukkan hubungan pertentangan (Pradopo, 2008: 171). Penelitian ini mengambil objek material teks sastra berupa puisi-puisi Widi Nugrahani. Hal itu dilandasi beberapa alasan. Pertama, puisi-puisi Widi Nugrahani unik. Keunikkan itu dibuktikan dengan adanya hubungan dengan suatu konvensi atau azas puitika terdahulu. Dalam konteks ini, adalah puitika yang dikembangkan oleh Sutardji Calzoum Bachri. Kedua, Widi Nugrahani seorang penyair muda yang mempunyai karakter sehingga karya-karya patut untuk dianalisis. Ketiga, hubungan antara kepenyairan Widi Nugrahani dengan Sutardji Calzoum Bachri belum terungkap dalam penelitian atau sejenisnya. Padahal jika dipahami dari aspek eksistensi kedua penyair ini terpaut rentang waktu yang cukup panjang. Widi Nugrahani mulai muncul pada 2000-an, sedangkan Sutardji Calzoum Bachri dalam era 1970-an. Munculnya kekhasan estetika Sutardji Calzoum Bachri pada puisi-puisi Widi Nugrahani menjadi penting untuk dianalisis. Estetika mempunyai kaitan erat dengan sastra. Sastra sebagai karya seni yang bermediumkan bahasa mempunyai aspek-aspek keindahan, yang lazim disebut unsur estetis. Pada dasarnya estetika dalam karya sastra berkaitan dengan penggunaan gaya bahasa. Akan tetapi, jika berkaitan dengan genre puisi, unsur estetisnya meliputi berbagai komponen, diantaranya tipografi, bunyi, dan diksi itu sendiri. Adapun pada genre karya sastra yang lain apsek estetis dapat diungkap berdasar pada keseimbangan penyusunan paragraf, dialog, tokoh, improvisasi, dan lain-lain. Sebagai produk yang mempunyai unsur estetis, puisi mempunyai hubungan yang erat dengan estetika. Puisi dalam konteks tertentu dapat menyumbangkan wacana estetis pada waktu ke waktu, dari periode satu ke periode yang lain. Keindahan dalam puisi tdak hanya dapat dipahami secara dangkal, tetapi keindahan yang dapat dicermati secara analitik. Hal itu disebab karena keindahan dalam puisi adalah keindahan yang bermakna (meaningfull). Pada titik inti, estetika dalam puisi merupakan keindahan yang dapat mempengaruhi timbulnya nilai-nilai yang bermanfaat bagi masyarakat. Dari dimensi ini, puisi dapat mengabadikan keindahan-keindahan yang ada sehingga ada anggota masyarakat (sastrawan, penyair) menciptakan karya-karya baru dengan pengalaman estetis yang didapat dari karyakarya sebelumnya. Keindahan terus lahir. Hal itu menunjukkan hubungan erat antarteks tidak dapat dihindari Berkaitan dengan paparan di atas, ada beberapa yang akan dicari jawabannya dalam penelitian ini. Hal itu divisualisasikan dalam rumusan masalah. Adapun rumusan masalah penelitian ini adalah 1) bagaimana relasi antarteks yang ada dalam puisi-puisi Widi Nugrahani dan puisi Sutardji Calzoum Bachri?; 2)bagaimana unsur hipogram yang muncul pada puisi –puisi Widi Nugrahani dan puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri? METODE Penelitian yang berjudul Estetika Sutardji dalam Puisi-Puisi Widi Nugrahani: Tinjauan Intertekstual ini dilakukan dengan menggunakan teknik deskriptif analisis dengan berdasar pada teori intertekstual. Teknik deskriptif analisis ialah teknik yang bekerja dengan cara memaparkan sesuatu atau fakta-fakta yang terdapat dalam penelitian kemudian dilakukan analisis. Dari segi istilah, deskripsi tidak hanya diartikan memaparkan, tetapi lebih luas yakni ada unsur memahami dan analisis. Langkah-langkah dalam penelitian ini mengikuti metode kerja pendekatan intertekstual, yaitu dengan cara membandingkan, menjajarkan, dan mengkontraskan sebuah teks sastra dengan teks-teks lainnya. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah teknik non interaktif, yang meliputi content analysis (analisis isi) terhadap dokumen dan arsip. Langkah yang digunakan dalam teknik content analysis ditempuh dengan pertama, membaca berulang-ulang puisi yang menjadi objek penelitian.. Kedua, mengumpulkan dan mempelajari beberapa teori yang relevan dengan tema penelitian. Ketiga, mencacat dan menganalisis semua data, berupa kutipan penting yang sesuai dengan permasalahan. Adapun teknik analisis data yang digunakan adalah analisis model mengalir (flow model of analysis). Teknik analisis data dengan model mengalir dimulai dari pengumpulan data, reduksi data, display data dan terakhir penarikan kesimpulan. Teknik validitas data yang digunakan adalah teknik triangualasi. Secara khusus triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah trianggulasi data. Triangulasi data dilakukan dengan menggunakan data dari sumber utama, yakni antologi puisi milik Widi Nugrahani dan didukung oleh beberapa pendapat yang tertulis pada berbagai macam teks yang berkaitan dengan kajian mengenai unsur intertekstualitas. HASIL DAN PEMBAHASAN HASIL Intertekstual: Sebuah Teori Intertekstual merupakan salah satu teori yang muncul karena adanya dorongan dari konsep-konsep pascastrukturalisme, terutama yang dikembangkan oleh Julia Kristieva. Selain Julia Kristieva, tokoh yang terkenal pemikiran intertekstualnya adalah Rifaterre. Berkaitan dengan intertekstual, antara keduanya tidak mempunyai perbedaan yang mencolok. Hal yang paling pokok bahwa peneliti dan kritikus sastra akan mampu mendapatkan makna secara holistik jika menganalisis karya sastra dengan tidak memisahkan karya sastra dari sejarah dan fenomena sosial dan kebudayaan yang mengiringi karya sastra tersebut. Dalam konteks ini, intertektual mefokuskan diri pada aspek sejarah karya sastra bersangkutan. Hal itu dikarenakan intertekstual secara otomatis mengungkap keterkaitan karya satu dengan karya sastra yang lain. Terdapat berbagai macam pendapat berkaitan dengan intertekstual. Intertekstual menurut Frow (dalam Endraswara, 2011: 131) mempunyai beberapa asumsi kritis: (1)konsep interteks menuntut peneliti untuk memahami teks tak hanya sebagai isi, melainkan juga aspek perbedaan dan sejarah teks, (2) teks tak hanya struktur yang ada, tetapi satu sama lain juga saling memburu, sehingga terjadi pengulangan atau transformasi teks, (3) ketidakhadiran sruktur teks dalam teks yang lain namun hadir juga pada teks tertentu merupakan proses waktu yang menentukan, (4) bentuk kehadiran struktur merupakan rentangan dari yang eksplisit sampai yang implisit, (5) hubungan teks satu dengan yang lain boleh dalam rentang waktu yang lama. Hubungan tersebut dapat secara abstrak, hubungan interteks juga sering terjadi penghilangan-penghilangan bagian tertentu, (6) pengaruh mediasi dalam interteks sering mempengaruhi juga pada penghilangan gaya maupun norma-norma sastra, (7) dalam melakukan identifikasi intertekstula diperlukan interpretasi, (8) analisis interteks berbeda dengan melakukan kritik melainkan lebih terfokus pada konsep pengaruh. Dapat dipahami interteks seakan-akan selalu ada pada diri karya sastra, tetapi kemunculannya tergantung skill penulis dalam meramu karyanya tersebut. Pada bagian lain, Julia Kristieva via Culler (dalam Pradopo, 2008: 167) mengemukakan bahwa setiap teks sastra itu merupakan mosaik kutipan-kutipan, penyerapan dan tranformasi teks-teks lain. Artinya, dalam konteks ini interteks muncul karena karena pada dasarnya dalam teks sastra terdapat teks lain. Kemunculan teks lain dalam suatu teks sastra beraneka ragam. Ada yang kemunculannya dominan atau sebaliknya, yakni hanya terbatas dan sebagian kecil saja. Sastrawan atau penulis yang datang pada waktu berikutnya terkesan menyusun kembali teks-teks yang sudah ada sehingga karya sastra yang muncul dapat disebut sebagai transformasi karya sastra yang lain, terutama karya sastra yang muncul lebih dahulu. Hubungan teks satu dengan teks yang lain akan menghasilkan bentuk teks yang baru. Berkaitan dengan hal itu, Rifatttere (dalam Pradopo, 2008: 167) menyatakan bahwa karya sastra yang muncul lebih dulu dan menjadi model karya sastra yang muncul berikutnya disebut hipogram. Dalam intertekstual hadirnya teks lain dalam suatu teks bukan dipahami sebagai penjiplakan atau peniruan, melainkan dianggap sebagai proses kreasi karena di dalamnya terdapat upaya kreatif yang artistik. Hipogram dan transformasi akan selalu ditemukan dalam karya sastra selama proses penciptaan karya terus ada. Adapun selain pengkajian dari struktural ada pula pengkajian puisi dari segi hubungan intertekstualnya. Dilihat dari prinsip intertekstual itu sendiri merupakan salah satu sarana pemberian makna kepada sebuah teks sastra (sajak). Hal ini mengingat bahwa satrawan itu menanggapi teks-teks lain yang ditulis sebelumnya (Ratih,2001:126). Dalam menangggapi teks itu penyair mempunyai pikiran-pikiran, gagasan-gagasan dan konsep estetik sendiri yang ditentukan oleh horzon harapannya, yaitu pikiran-pikiran, konsep estetik dan pengetahuan sastra yang dimilikinya. Intertekstual pada dasarnya dapat dimasukkan ke dalam salah satu teori yang eksistensinya cukup mapan dalam ranah studi sastra. Akan tetapi, teori ini mempunyai beberapa kelemahan. Intertekstual mempunyai prinsip bahwa ada keterpengaruhan antarkarya sastra. Dalam konteks ini, intertekstual seakan-akan menepikan peran penulis. Padahal penulis dalam membuat karya sastra melibatkan daya kreativitasnya. Struktur Puisi Puisi sebagai salah satu genre karya sastra pasti tersusun atas berbagai unsur yang disebut dengan struktur. Hal itu sebagaimana pandangan kaum strukturalisme bahwa karya sastra, di dalamnya termasuk puisi merupakan sebuah struktur. Berkaitan dengan hal tersebut, unsur-unsur puisi tidak berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan dan unity. Setiap unsur tidak mempunyai makna dengan sendirinya, makna ditentukan oleh hubungan dengan unsur lainnya yang terkandung dalam struktur itu (Hawkes dalam Pradopo, 2010: 120). Dari segi struktur, puisi mempunyai dua struktur, yakni struktur fisik dan struktur batin. Struktur fisik merupakan struktur yang bersifat visual dan dapat diamati. Unsur-unsur tersebut meliputi (1) bunyi, (2) kata, (3) larik atau baris, (4) bait, dan (5) tipografi (Aminuddin, 2010: 136). Unsur fisik tersebut melekat pada puisi dan antara satu unsur dengan unsur yang lainnya saling terkait dalam mengemban makna puisi secara keseluruhan. Selain unsur yang bersifat visual, puisi juga mempunyai unsur yang tidak dapat diamati. Artinya, unsur tersebut hanya dapat dipahami dengan kepekaan dan pemikiran pembacanya. Unsur-unsur itu dikenal dengan istilah unsur batin atau lapis makna. Unsur batin puisi, sebagaimana yang dikemukakan I.A Richards (dalam Aminuddin, 2010: 149) meliputi (1)sense, (2) subject matter, (3) feeling, (4) tone, (5) total of meaning, dan theme, serta intention. Unsur batin puisi tersebut dapat dipahami setelah dapat mengungkap unsur fisik puisi. Hal itu dikarenakan unsur batin puisi melekat pada unsur fisik puisi. Tipografi Tipografi atau perwajahan terhadap puisi oleh seorang penyair berperan penting sebagai unsur penarik bagi pembaca, menambah unsur estetis, menunjukkan kekhasan penyair, dan menciptakan makna. Oleh karena pentingnya tipografi, penyair cenderung mengolah tipografi puisinya dengan sedemikian rupa sehingga mempunyai kesan berbeda dengan penyair-penyair lain atau mengikuti tipografi yang diyakininya bernilai estetis tinggi. Ada beberapa puisi Nugrahani yang menunjukkan tipografi khusus dibanding dengan puisi Indonesia secara umum. Puisi itu di antaranya Suratan Tangan, Paraf, Dua, dan Sendagu (Sendagurau). Suratan Tangan puisi yang mempunyai tipografi unik, yakni disusun sepertihalnya bentuk rajah pada tangan yang bergaris tak berarturan dan penuh dengan jalinan jaring-jaring. Tipografi ini membuat puisi ini menarik. Visualitas rajah di atas telapak tangan itu dibuat dengan menata kata-kata dengan sedemikian rupa, sehingga berbentuk rajah. Kata-kata yang terkumpul dalam puisi itu apabila dicermati berupa kalimat yang berbunyi Cinta X misteri kehidupan anak manusia terdengar kun fayakun. Aku Hidup!!!. Puisi itu menggambarkan kehidupan manusia yang pada hakikatnya tergantung yang disabdakan oleh Tuhan. Apabila Allah sudah berkata kun fayakun maka semua yang berkaitan dengan esensi kehidupan manusia akan semakin jelas. Dalam konteks Islam firman Allah kun fakun mempunyai kekuatan pada suatu keyakinan bahwa Allah menciptakan sesuatu dalam seketika, tak bermasa, dan tak bertempo. Hal itu didasarkan pada kun fayakun yang berarti jadi lalu terjadilah. Kata kun fayakun dalam Al-Quran dapat ditemukan di enam surat, yakni Surat Al-Baqarah, Al-Anaam, An-Nahl, Maryam, Yassin, dan Al-Mukmin. Dalam surat-surat itu pada umumnya kun fayakun dihubungkan dengan kisah penciptaan dunia (langit, bumi dan seisinya) oleh Allah. Puisi Suratan Tangan seperti di bawah ini. PEMBAHASAN Suratan Tangan xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx n xx xx u xx xx k n i xx xx a t c xx xx y a xxx M I u a s r r a xx xx I r K dp nk ui ed a. f xx xx s e el aA Mn aT e g k n xx xx t h n a . n u xx xx A xx xx ku xx xx Hidup!!! xx xx xx xx xx xx Dalam konteks puisi Suratan Tangan kata kun fayakun dihubungkan dengan kata cinta, sesuatu yang esensi dalam kehidupan manusia. Cinta dapat mengakibatkan manusia bahagia dan menderita. Cinta juga membuat manusia menjadi merasa berharga. Akan tetapi, manusia tidak dapat memastikan cinta pada siapa dan dicintai oleh siapa, karena cinta tergolong subjektif dan absurd. Cinta akan semakin mudah, tidak lagi menjadi misteri apabila sudah tersibak melalui kehendak Allah, kun fayakun. Kejelasan cinta akan membuat manusia merasa hidup. Dengan kata lain, legitimasi pengakuan keberadaan manusia dalam kehidupan salah satunya dengan jalan mendapatkan cinta. Apabila dikaitkan dengan pemaknaan di atas, tipografi puisi Suratan Tangan yang menyerupai rajah atau guratan tangan itu berfungsi untuk memperkuat anggapan bahwa manusia dalam kehidupannya selalu diliputi misteri, absurd, dan hanya Tuhan yang mengetahuinya. Penataan tipografi pada puisi Suratan Tangan mirip dengan tipografi pelik pada puisi-puisi Sutardji, salah satunya Tragedi Winka & Sihka, yang disusun menyerupai secara berundag. Selain puisi Suratan Tangan, tipografi pelik ala Sutardji juga dapat dilihat pada puisi Nugrahani yang berjudul Paraf, Dua, dan Sendagu (Sendagurau). Puisi Paraf bertipografi seperti paraf yang terbiasa digunakan oleh guru atau dosen untuk menandai tugas murid atau mahasiswanya. Sesuai dengan judulnya, puisi ini hanya terdiri atas dua bunyi konsonan, /w/ dan /n/. Dua huruf tersebut disusun sedemikian rupa sehingga membentuk sebuah paraf. Dalam bahasa Indonesia paraf dapat berarti kependekan tanda tangan. Paraf n n n n w w w n w w n w w n w w n w w w wnw ww n w w n w w n w n n n n n n n Penggunaan /w/ dan /n/ mempunyai makna bahwa yang membubuhi paraf tersebut adalah orang yang mempunyai nama dengan di dalamnya terdapat unsur huruf w dan n, yakni Wini Nugrahani,yang tidak lain penulis puisi tersebut. Selain itu, dalam fonologi huruf w dan n termasuk bunyi berat, sehingga puisi Paraf tersebut untuk menggambarkan psikis yang ada dalam tekanan. Terlepas dari makna yang sulit diperoleh secara utuh, puisi Paraf menunjukkan persamaan pada puisi Sutardji yang terkesan membebaskan kata dari makna. Selanjutnya puisi Dua. Puisi ini hampir sama dengan puisi Paraf, baik penonjolan tipografi maupun bunyi yang digunakan. Bunyi yang digunakan bukan ditandai dengan huruf, melainkan angka. Angka yang digunakan adalah angka 1 dan 2, yang keduanya dikombinasikan sehingga membentuk sebuah gentong (tempat air menyerupai tempayan besar, pada umumnya terbuat dari tanah liat). Keunikan puisi ini oleh penyairnya sudah diberi keterangan yang diterakan di bawah puisi tersebut. Keterangan tersebut bertuliskan Parafase: Gambar gentong berarti kehidupan,. Dua artinya dalam kehidupan banyak hal yang berkaitan dengan dua. Misal: manusia ada dua jenis laki-laki dan perempuan, pilihan ada ya dan tidak, ada dunia dan akhirat, ada cinta dan benci, ada pulang dan pergi, ada pertemuan dan perpisahan dan lainlain (Nugrahani, 2011: 12). Secara jelas, puisi tersebut seperti di baawah ini. Dua 1111111111111111111111111111 11111111111111111111111 11111111111111111111111111111111111111 111111111111111111111111111111111111111111 111111111111111111112,21111111111111111111111 1111111111111111111111111111111111111111111111111 1111111111111111111111111111111111111111111111 111111111111111111111111111111111111111111111 111111111111111111111111111111111111111111 1111111111111111111111111111111111111111 11111111111111111111111111111111111111 1111111111111111111111111111111111 111111111111111111111111111111 1 11111111111111111111111111 Dilihat dari aspek tipografinya, puisi di atas benar-benar berbeda dengan puisi pada umumnya. Puisi tersebut termasuk puisi yang tipografis, yakni puisi yang lebih mementingkan gambaran visual dari puisi tersebut. Dalam puisi tipografi seorang penyair berusaha mengekspresikan gejolak hatinya dengan lebih menonjolkan lukisan bentuk dari puisinya di samping melalui kata-kata tentunya. Kaitan dengan hal tersebut, Sutardji termasuk salah satu penyair yang menonjolkan aspek tipografi, bahkan kata dibebaskan dari makna. Puisi Dua karya Nugrahani unsur-unsur gaya tipografinya mengandung estetika khas Sutardji, khususnya puisi Q yang ditulis olehnya pada tahun 1970-an. Antara keduanya ada perbedaan, yakni lambang yang digunakan. Puisi Dua menggunakan angka, yakni 1 dan 2, sedangkan puisi Q menggunakan tanda baca dan huruf, ! a,l, i, f, m,i,n. Apabila dirangkai secara berurutan (diparafrasekan) anak tersusun lafal Alif Lammiim. Q ! ! ! ! ! ! !! !! ! ! ! l l l a lif ! ! a a m !! mmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm iiiiiiiiiiii mmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmmm Puisi berikutnya yang bertipografi unik adalah Sendagu (Sendagurau). Ketika membaca puisi Sendagu (Sendagurau) benar-benar tidak dapat dipisahkan dengan keberadaan Tragedi Winka & Sihka tulisan Sutardji. Hal itu dapat dilihat baik tipografi maupun cara memainkan kata-kata yang ada dalam puisi tersebut. Puisi Senda (Sendagurau) hanya terdiri atas dua kata, senda dan gurau, yang dimainkan dengan cara diinversi, dipotong. Dijumpai pada puisi itu kata Sendagurau, Rausendagu, Gurausenda, Dagurausan,dan yang berupa potongan menjadi sen, da, gu,rau. Hubungan antara puisi Sendagu (Sendagurau) tulisan Nugrahani dengan Tragedi Winka& Sihka dapat dilihat sebagai hubungan intertekstualitas. Sebagai hipogram, puisi Sihka & Winka dikekalkan tipografinya oleh puisi Sendagu (Sendagurau). Dengan kata lain, puisi Sendagu (Sendagurau) memuat karakteristik yang dipenggaruhi oleh puisi Sihka & Winka. Berikut kedua puisi tersebut. Sendagu (Sendagurau) Sendagurau Rausendagu Gurausenda Dagurausen Sendagurau Usendagura Ausendagur Rausendagu ……….. Tragedi Winka & Sihka kawin kawin kawin kawin kawin kawin Ka win ka win ka win ………. Tema/Subject Matter Puisi Widi Nugrahani Subject Matter merupakan salah satu struktur batin puisi. Subject matter merupakan pokok pikiran yang dikemukakan penyair lewat puisi yang diciptakannya (Aminuddin, 2010: 150). Subject matter berhubungan dengan satuan-satuan pokok pikiran tertentu yang secara khusus membangun sesuatu yang diungkapkan penyair. Oleh sebab itu, dalam rangka mengidentifikasi subject matter, dalam benak pembaca akan timbul pertanyaan tentang berbagai pokok pikiran apa saja yang diungkapkan penyair, sejalan dengan sesuatu yang secara umum dikemukakan penyairnya. Subject matter yang dimaksud adalah seperti pengulasan pada setiap baitnya yang kemudian dibentuk paragraf atas pokok-pokok pikiran sehingga dapat disimpulkan bahwa dalam puisi tersebut pokok pikiran antara yang satu dengan yang lainnya begitu erat berkaitan. Tema ketuhanan tampak pada puisi-puisi Sutardji Calzoum Bachri. Salah satu puisi tersebut adalah Hyang? HYANG? yang mana ke atau dari mana meski pun lalu se bab antara Kau dan aku Puisi Hyang mendeskripsikan hubungan antara manusia dengan Tuhan. Kata ke, dari, dan lalu menunjukkan hakikat manusia. Keberadaan manusia itu tidak ada dengan sendirinya, melainkan diadakan oleh Tuhan sebagaimana yang diungkap dari puisi di atas dalam rangkaian kata yang mana ke atau darimana meskipun lalu sebab antara Kau dan aku. Selain itu, kata Hyang? pada judul puisi tersebut secara eksplisit mereferensi pada Tuhan karena kata Hyang dapat diartikan sebagai suatu keberadaan spiritual tak dapat ditangkap oleh mata serta yang memiliki kekuatan supranatural. Hyang bersifat ilahiah atau roh leluhur. Dalam konteks tertentu kata Hyang bersinonim dengan kata Dewa, Dewata, atau Tuhan. Pada umumnya Hyang dipahami sebagai entitas yang lebih luhur dan mulia daripada makhluknya, termasuk manusia di dalamnya. Terdapat hubungan intertekstual antara puisi Hyang karya Sutardji dengan puisi Paraf karya Nugrahani. Hubungan itu dapat dibuktikan dari segi tema. seperti halnya puisi Hyang, puisi Suratan Tangan juga mempunyai tema ketuhanan. Pada Suratan Tangan kata-kata disusun sedemikian rupa menyerupai guratan yang ada pada tangan manusia sehingga memberi kesan artistik dan identik dengan estetika Sutardji. Dalam puisi Suratan Tangann terdapat rangkaian kata ………kun fayakun. Aku Hidup!!!. Penggalan kata tersebut dapat menunjukkan bahwa segenap aspek yang melingkupi manusia itu atas kehendak Tuhan. Ha itu ditunjukkan dengan adanya kata kun fayakun merupakan firman Tuhan ketika menghendaki sesuatu. Tuhan mempunyai kemampuan Yang Mahakuasa, hanya berfirman kun yang berarti ada, fayakun, maka ada.kehidupan manusia termasuk yang ada di dalam kekuasaan Tuhan. Hal itu seperti tampak pada kutipan di bawah ini. Suratan Tangan xx xx xx xx xx xx xx xx xx xx n xx xx u xx xx k n i xx xx a t c xx xx y a xxx M I u a s r r a xx xx I r K dp nk ui ed a. f xx xx s e el aA Mn aT e g k n xx xx t h n a . n u xx xx A xx xx ku xx xx Hidup!!! xx xx xx xx xx xx Selain puisi Suratan Tangan yang mempunyai hubungan intertektual dengan puisi Hyang? karya Sutardji Calzoum Bachri, puisi Nugrahani yang berjudul Polusi Hati juga mempunyai hubungan intertekstual dengan puisi Walau karya Sutardji Calzoum Bachri, terutama dilihat dari segi tema. Polusi Hati Mengucap dengan hati akan terasa indah Bertingkah dengan norma akan terasa nyaman Berpikir dengan akal sehat akan terasa kuat Berjalan dengan Nur Illahi akan terasa benderang Ucapan demi ucapan terluncur sangat deras Tanpa henti sedetikpun Mengolok sana mengolok sini Mengejek sana mengejek sini Mengapa kutak kuasa menghentikan Polusi hati yang sudah menjadi virus masyarakat Ingin bertanya Apa obatnya? Mengapa demikian? Mengapa justru bangga menjadi penyebab virus? Janganlah polusi hati menyerang sendi kehidupan ini Janganlah polusi hati dijadikan suatu kebanggaan Jadikan hidup ini indah menarik hati Jadikan hidup ini suatu anugerah yang patut disyukuri Jadikan Allah sebagai cahaya Hakiki Niscaya kan terwujud damai hati Bersujudlah hingga akhir nafas terakhir Hingga mata hilang pandangan Tersenyum dalam ketenangan illahi Puisi Polusi Hati bertemakan ketuhanan. Selain itu, secara spesifik puisi ini mendeskripsikan tingkah laku manusia yang tidak sesuai dengan norma sehingga perilaku tersebut dapat merusak mental masyarakat Kata-kata nur ilahi,Allah, hakiki, dan lain-lain merupakan kata-kata kunci tema ketuhanan tersebut. Hal itu tampak pada Berjalan dengan Nur Illahi akan terasa benderang (baris ke-4), Jadikan Allah sebagai cahaya Hakiki (baris ke-18), dan Tersenyum dalam ketenangan illahii (Baris ke-22). Selain itu, kata-kata yang terkumpul dalam barisan kalimat dalam puisi Polusi Hati tersebut mengisahkan pencarian manusia tehadap Tuhan. Dalam konteks puisi tersebut, apabila manusia dapat menempatkan Tuhan sebagai sesuatu yang hakiki dalam hatinya, maka manusia tesebut akan mampu membersihkan sesuatu yang keji dalam diri manusia. Hal itu terungkap dalam rangkaian baris-baris kalimat di bawah ini. Janganlah polusi hati menyerang sendi kehidupan ini Janganlah polusi hati dijadikan suatu kebanggaan Jadikan hidup ini indah menarik hati Jadikan hidup ini suatu anugerah yang patut disyukuri Jadikan Allah sebagai cahaya Hakiki Niscaya kan terwujud damai hati Sementara itu, puisi Walau karya Sutardji dapat dikatakan sebagai hipogram puisi Polusi Hati karya Nugrahani, terutama dari segi tema. Puisi Walau juga bertemakan ketuhanan. Apabila dipahami secara menyeluruh, puisi Walau lebih menungkapkan perbandingan antara Tuhan deengan manusia. Dalam konteks tersebut manusia terungkap mempuyai berbagai keterbatasan. Oleh karena itu, manusia selalu memerlukan keberadaan Tuhan. Berikut puisi Walau karya Sutardji Calzoum Bachri. Walau Walau penyair besar takkan sampai sebatas allah dulu pernah kuminta tuhan dalam diri sekarang tak kalau mati mungkin matiku bagai batu tamat bagai pasir tamat tujuh puncak membilang-bilang nyeri hari mengucap-ucap di butir pasir kutulis rindu rindu walau huruf habislah sudah alif bataku belum sebatas allah Manusia dalam puisi tersebut direpresentasikan dengan adanya kalimat penyair besar (baris ke-1). Penyair dapat dipahami sebagai manusia yang mempunyai kelebihan dibanding manusia lainnya. Penyair juga disebut sebagai pujangga. Perbedaan penyair dengan manusia lain adalah terletak pada tingkat kepekaan terhadap fenomena di sekitarnya. Selai itu, penyair juga dipandang mampu mengaktualisasikan kesan-kesan yang dialaminya dan rangsangan-rangsangan yang diterimanya dan diekspresikannya sebagai karya sastra. Dengan kata lain, penyair dapat dianggap sebagai manusia yang dianugrahi oleh Tuhan kelebihan-kelebihan daripada manusia lain, yakni dalam hal memandang dan memberi makna alam serta kehidupan ini. Akan tetapi, dalam puisi tersebut dinyatakan bahwa walaupun penyair mempunyai berbagai kelebihan, tetapi kelebihan tersebut tidak bisa melebihi Tuhan, bahkan penyair tetap membutuhkan Tuhan. Paparan di atas dapat membuktikan terdapat hubungan intertekstual antara puisi Polusi Hati karya Nugrahani dengan puisi Walau karya Sutardji. Dalam konteks ini, puisi Polusi Hati dengan wacana yang ada di dalamnya menguatkan tema puisi Walau, yakni tema ketuhanan. Namun terdapat perbedaan dalam penyampaiannya. Dalam menyampaikan tema puisi Polusi Hati, Nugrahani menggunakan bahasa yang terkesan taat dengan aturan tata tulis. Hal itu ditunjukkan adanya kalimat yang memenuhi unsur lengkap sebagai kalimat. Adapun Sutardji dalam menyusun kalimat yang ada dalam puisi Walau tidak mempertimbangkan kelengkapan unsur kalimat, misalnya sekarang tak (baris ke-5). KESIMPULAN DAN SARAN KESIMPULAN Dari uraian di atas dapat diungkapkan bahwa pengaruh estetika Sutardji Calzoum Bahri, yakni pembebasan kata dari makna masih mempengaruhi kepenyairan penyair Indonesia masa kini, salah satunnya Widi Nugrahani. Hubungan intertekstualitas antara puisi Nugrahani dengan puisi milik Sutardji dapat terungkap dari tipogarfi, permainan kata,dan tema (Subject matter). Hubungan intertekstualitias antar keduanya bersifat persamaan. Artinya, puisi-puisi Nugrahani menguatkan estetika dan konvensi puisi yang dicetuskan oleh Sutardji Calzoum Bachri. Beberapa puisi Widi Nugrahani yang mempunyai hubungan intertekstual dengan puisi Sutardji Calzoum Bachri itu adalah Suratan Tangan, Paraf, Dua, Tanda Kemenangan, Sendagu (Sendagurau), dan Polusi Hati. SARAN Berdasarkan analisis di atas dapat dikemukan beberapa hal-hal, antara lain (1) untuk menganalisis hubungan teks sastra satu dengan yang lainnya dapat menggunakan teori intertekstual sekaligus sebagai usaha untuk mengakumulasi ilmu sastra, khususnya penelitian terhadap puisi, (2) peneliti sastra dapat meneliti puisi-puisi Indonesia pada tahun 2000-an dari berbagai perspektif agar informasi berkaitan dengan perkembangan puisi masa kini sastra Indonesia semakin kaya, (3) karya sastra, termasuk puisi memerlukan pembaca yang mampu mengaktuaslisasikan hasil bacaannya agar karya sastra tersebut tidak hanya menjadi artefak, melainkan menjadi sesuatu yang mempunyai eksistensi, (4) penelitian atau mendiskusikan karya sastra penting dilakukan dengan tujuan agar karya sastra Indonesia lebih berkembang dan ada kebaharuan ide kreatif dari sastrawan. DAFTAR PUSTAKA Aminuddin.2010. Pengantar Apresiasi Karya Sastra. Bandung: Sinar Baru Algensindo. Bachri, Sutardji Calzoum. 1981. O Amuk Kapak. Jakarta: Sinar Harapan. Endraswara,Suwardi. 2011. Metodologi Penelitian Sastra-Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi, Yogyakarta: CAPS. Indrastuti, Novi Sitti Kussuji. 2011. Lingkungan Hidup dan Alam dalam Puisi Indonesia: Tinjauan Ekosemiotik dalam Jejak Sastra & Budaya (Aprinus Salam, Ed). Yogyakarta: Elmatera. Ratih, Rina. 2001. Metodologi Penelitian Sastra Jabrohim (Ed). Yogyakarta: Hanindita Graha Widya. Javissyarqi, Nurel.2011. Menggugat Tanggung Jawab Kepenyairan Sutardji Calzoum Bachri. Lamongan: Sastranesia & Pustaka Pujangga. Nugrahani, Widi & Ida Ernawati. 2011. Dua & Ranai Mara: Antologi Dua Penyair. Yogyakarta: Gress Publising. Pradopo, Rahmat Djoko. 2010. Pengkajian Puisi. Yogyakarta. Gadjah Mada Press. Pradopo, Rahmat Djoko. 2008. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Rifatterre, Machael. 1978. Semiotics of Poetry. Bloomington and London: Indiana University Press. Teeuw, A. 1983. Tergantung Pada Kata. Jakarta: Pustaka Jaya. Teeuw, A. 1989. Sastra Indonesia Modern. Jakarta: Pustaka Jaya.