Tahun . Vol. Nomor . Bulan (Novembe. Halaman . https://doi. org/10. 53544/sapa/v9i2. Perbandingan Pesan Ensiklik Fratelli Tutti dan Tradisi Lonto Leok Masyarakat Manggarai Antonius Mbukut1* Laurentius Florido Atu2 Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero. Maumere. Indonesia Abstrak Penulis koresponden Nama : Antonius Mbukut Surel : antonmbukut@gmail. ManuscriptAos History Submit : Agustus 2024 Revisi : September 2024 Diterima : Oktober 2024 Terbit : November 2024 Kata-kata kunci: Kata kunci 1 Fratelli Tutti Kata kunci 2 Hidup persaudaraan Kata kunci 3 Lonto leok Copyright A 2024 STP- IPI Malang Paus Fransiskus melalui Ensiklik Fratelli Tutti menyerukan pentingnya membangun hidup persaudaraan dan persahabatan sosial di antara Namun, nilai tentang hidup persaudaraan itu sebenarnya juga sudah terkandung dalam kearifan-kearifan lokal tertentu. Karena itu, menelaah pesan-pesan Ensiklik Fratelli Tutti dalam konteks lokal merupakan hal yang penting untuk dilakukan agar pesan-pesan tersebut dapat dengan mudah diselami dan diterapkan dalam kehidupan masyarakat sesuai dengan realitas kebudayaan mereka. Salah satu kearifan tradisional yang memiliki nilai tentang persaudaraan dan persahabatan sosial ialah tradisi lonto leok di Manggarai. Tujuan dari penulisan ini adalah mengkaji pesan-pesan Ensiklik Fratelli Tutti dalam perspektif tradisi lokal tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode komparasi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dan studi kepustakaan. Hasil yang ditemukan dalam penelitian ini adalah adanya seruan yang sama antara pesan yang digaungkan dalam Ensiklik Fratelli Tutti dengan nilai yang terkandung dalam lonto leok. Keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni menumbuhkan rasa persaudaraan dan persahabatan sosial dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian, kesadaran untuk membangun relasi yang harmonis di antara manusia dapat dihidupkan kembali dengan mengangkat nilai-nilai yang ada dalam tradisi lokal seperti lonto leok. Abstract Corresponding Author Name : Antonius Mbukut E-mail : antonmbukut@gmail. ManuscriptAos History Submit : August 2024 Revision : September 2024 Accepted : October 2024 Published : November 2024 Keywords: Keyword 1 Fratelli Tutti Keyword 2 Fraternal life Keyword 3 Lonto leok Copyright A 2024 STP- IPI Malang Pope Francis through the Encyclical Fratelli Tutti calls for the importance of building fraternal life and social friendship among However, the value of fraternal life is actually already contained in certain local wisdom. Therefore, it is important to examine the messages of the Fratelli Tutti Encyclical in the local context so that these messages can be easily explored and applied in people's lives according to their cultural realities. One of the traditional wisdom that has values about social brotherhood and friendship is the lonto leok tradition in Manggarai. The purpose of this paper is to examine the messages of the Encyclical Fratelli Tutti in the perspective of this local This research uses a qualitative approach with a comparative Data collection was done through interviews and literature The results found in this study are the same call between the message echoed in the Fratelli Tutti Encyclical and the values contained in lonto leok. Both have the same goal, which is to foster a sense of social brotherhood and friendship in people's lives. Thus, the awareness to build harmonious relations among people can be revived by promoting the values that already exist in local traditions such as lonto leok. https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Antonius Mbukut, dk. Fratelli Tutti dan Tradisi Lonto Leok Pendahuluan Krisis kemanusiaan merupakan persoalan yang terbilang krusial di abad ke-21. Situasi tersebut dapat dilihat dari maraknya bentuk pelecehan terhadap martabat manusia yang terjadi belakangan ini, seperti perang, kekerasan, perdagangan manusia, dan lain sebagainya. Berita yang masih hangat diperbincangkan ialah perang antara Rusia dan Ukraina yang masih belum usai hingga saat ini. Dari pihak Ukraina, perang tersebut telah merenggut nyawa lebih dari 30 ribu warga sipil dan 31 ribu personil militer, serta menyebabkan 3,7 juta jiwa mengungsi di dalam negeri dan 6,5 juta ke luar negeri. Dari pihak Rusia, diperkirakan sekitar 315 ribu jiwa yang mati dan terluka. Selain Rusia dan Ukraina, perang antara Israel dan Gaza pada Oktober 2023 lalu juga dapat menjadi contoh suramnya penghargaan terhadap Konflik kedua negara ini menyebabkan puluhan ribu jiwa meninggal dan terluka, termasuk anak-anak (Manan, 2. Di samping perang antar negara, praktik perdagangan orang pun menjadi isu global. Berdasarkan laporan Kementerian Luar Negeri Amerika Serikat, pada tahun 2022, ada 324 korban perdagangan manusia di dunia. Jumlah ini bertambah sekitar 27 persen jika dibandingkan dengan korban pada tahun 2021 yang tercatat sebanyak 90. 354 orang. Jumlah tersebut juga meningkat dibandingkan pada tahun 2015 yang mencapai 77. 823 orang (Yuniarto, 2. Di Indonesia, perdagangan manusia masih menjadi masalah yang serius. Berdasarkan data Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian pA), terdapat sekitar 1. 581 orang yang diperdagangkan sepanjang tahun 2020 hingga 2022. Mayoritas korban berasal dari kelompok rentan, yakni perempuan dan anak-anak (Sartika & Burhanuddin, 2. Sementara selama periode 5 Juni-16 Juli 2023, ada 680 laporan kasus perdagangan orang dengan 2. 093 korban (Yuniarto, 2. Kenyataan di atas menunjukkan rusaknya hubungan di antara manusia. Manusia yang diharapkan menjadi saudara bagi yang lain justru menjadi serigala bagi sesamanya . omo homini lupu. Relasi yang terbangun di antara manusia bukan lagi relasi antara sesama manusia yang memiliki kesamaan nilai dan martabat, melainkan hubungan antara penguasa dan yang dikuasai. Manusia melihat orang lain sebagai instrumen yang bisa dieksploitasi untuk mendapatkan keuntungan. Martabat manusia yang seharusnya dihargai malah dilecehkan dan direduksi sebagai barang komersial. Berhadapan dengan situasi tersebut, penting untuk membangun kembali rasa persaudaraan dan persahabatan di antara manusia. Setiap pribadi mesti memandang orang lain sebagai bagian integral dari hidupnya. Hal ini dikarenakan manusia itu pada dasarnya bersifat sosial. Dalam keyakinan Gereja Katolik, manusia itu bersifat sosial karena diciptakan menurut gambar dan rupa Allah yang bersifat Tritunggal atau bersifat dialog cinta di dalam diri-Nya. Sebagai makhluk sosial, ia membutuhkan kehadiran yang lain agar bisa Ia dapat mengaktualisasikan diri sebagai pribadi dalam kontak dengan pribadi- https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Antonius Mbukut, dk. Fratelli Tutti dan Tradisi Lonto Leok pribadi lain. Dengan perkataan lain, manusia sungguh menjadi manusia ketika berada dalam kebersamaan sosial (Kirchberger, 2. Selain karena sifat sosial manusia, kesadaran bahwa setiap orang itu memiliki martabat yang sama dan sederajat mesti menjadi dasar dari hidup persaudaraan dan persahabatan di antara manusia. Tidak ada individu yang mengatasi individu lain. Karena diciptakan seturut gambar Allah (Immago De. , setiap orang memiliki kesamaan martabat yang patut dihargai dan dihormati (Tim Kepausan, 1. Hal ini kemudian dipertegas lagi dalam misteri inkarnasi, yakni peristiwa Allah menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus. Dengan menjadi manusia. Allah ingin menegaskan bahwa martabat manusia itu sungguh berharga (Jedwab, 2. Oleh karena itu, penghargaan terhadap martabat manusia merupakan sebuah keharusan. Salah satu orang yang menyuarakan hidup persaudaraan dan persahabatan sosial adalah Paus Fransiskus melalui Ensiklik Fratelli Tutti. Ensiklik ini merupakan sebuah anjuran apostolik yang terinspirasi dari spiritualitas St. Fransiskus Asisi. Fokus utamanya adalah mendorong setiap pribadi untuk membuka diri kepada kasih persaudaraan yang dipenuhi dengan sikap saling menghargai, mengakui dan mengasihi orang lain terlepas dari kedekatan fisiknya atau dari tempat mereka dilahirkan atau tinggal. Tidak ada seorang pun yang bisa hidup sendirian atau berada dalam keterasingan. Kita membutuhkan komunitas yang membantu dan mendukung kita untuk terus melihat ke depan (Paus Fransiskus, 2. Nilai tentang persaudaraan sebenarnya sudah terkandung juga dalam kearifankearifan lokal tertentu. Setiap kearifan lokal pada dasarnya memiliki nilai-nilai yang hendak dilestarikan dan diajarkan kepada para penganutnya. Karena itu, kebudayaan lokal dapat menjadi lahan subur untuk memperkaya nilai yang ada dalam Gereja Katolik. Dengan demikian, dialog di antara keduanya merupakan keniscayaan. Tulisan ini hendak membaca pesan-pesan Ensiklik Fratelli Tutti dalam kearifan Hal ini penting dilakukan karena dapat memperkuat sifat keterbukaan Gereja untuk selalu berakar dalam konteks budaya lokal. Gereja pada dasarnya mengakui pewahyuan Allah dalam setiap budaya lokal. Warisan kearifan tradisional dipandang sebagai langkah persiapan Roh Kudus kepada kekayaan rohani baru yang datang dari amanat Kristus untuk kepenuhan segala kerinduan umat manusia (Konsili Vatikan II, 2. Dengan demikian. Gereja harus berperan bukan sebagai lembaga asing yang AuditanamAy pada suatu tempat, melainkan Gereja lokal yang hadir, terlibat, dan berakar dalam konteks lokal (Dhogo, 2. Diharapkan agar pesan dalam Ensiklik Fratelli Tutti tidak dilihat sebagai sesuatu yang datang dari luar, tetapi dilihat sebagai nilai-nilai yang berakar kuat dalam kearifan lokal masyarakat Studi terdahulu terkait Ensiklik Fratelli Tutti dan kearifan lokal pernah dilakukan oleh Hendrik Ryan Puan Renna . dengan judul AuSatu Tungku Tiga Batu. Toleransi Hidup Beragama Masyarakat Fak-Fak: Tinjauan Ensiklik Fratelli TuttiAy. Penelitian ini menyandingkan filosofi Satu Tungku Tiga Batu dengan Ensiklik Fratelli Tutti. Filosofi tradisional dan Ensiklik tersebut sama-sama mengajarkan setiap individu untuk membangun https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Antonius Mbukut, dk. Fratelli Tutti dan Tradisi Lonto Leok toleransi beragama yang didasarkan pada kesadaran bahwa setiap manusia memiliki kesatuan dan kesamaan sebagai ciptaan Tuhan meskipun berasal dari latar belakang dan agama yang berbeda. Selain itu. Yohanes Nau . juga pernah meneliti tentang pesan-pesan Ensiklik Fratelli Tutti dalam perspektif peribahasa orang Ngadha. Flores. Nusa Tenggara Timur. Fokus dari penelitian ini adalah menemukan kesamaan antara seruan Paus Fransiskus dalam Ensiklik Fratelli Tutti dengan makna yang terkandung dalam kearifan lokal masyarakat Ngadha tersebut. Keduanya memiliki ide yang sama, yakni tentang hidup persaudaraan. Berbeda dari studi-studi di atas, tujuan dari tulisan ini adalah mengkaji pesan-pesan Paus Fransiskus dalam Ensiklik Fratelli Tutti dalam konteks warisan lokal masyarakat Manggarai, yakni lonto leok. Pertanyaan pokok dalam penelitian ini adalah apakah terdapat persamaan antara pesan endiklik Fratelli Tutti dengan makna tradisi lonoto leok masyarakat Manggarai? Lonto leok adalah tradisi yang dilakukan untuk menyelesaikan persoalan atau mencapai kesepakatan bersama tentang sesuatu hal. Ensiklik Fratelli Tutti dan lonto leok memiliki kesamaan nilai tentang hidup persaudaraan. Upaya menemukan hubungan di antara keduanya merupakan hal yang penting untuk dilakukan agar pesan-pesan luhur dalam Ensiklik Fratelli Tutti dapat dengan mudah diselami dan diterapkan dalam kehidupan masyarakat Manggarai sesuai dengan realitas kebudayaan mereka. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode penelitian komparasi. Pendekatan penelitian kualitatif bertujuan untuk mengumpulkan, menganalisis, dan menafsirkan data agar memperoleh pemahaman atas fenomena yang sedang diteliti dari perspektif yang lebih luas dan mendalam (Miles & Huberman, 2. Pengumpulan data tentang tradisi lonto leok dilakukan melalui wawancara dengan tokoh adat kampung Ker. Manggarai Barat. Selain itu, penulis juga melakukan studi kepustakaan terkait topik yang Setelah mengumpulkan data-data yang dibutuhkan, tahapan selanjutnya adalah menganalisis dan menafsir persamaan serta kesinambungan antara pesan-pesan dalam Ensiklik Fratelli Tutti dengan tradisi lonto leok. Hasil dan Pembahasan Sekilas tentang Lonto Leok Istilah lonto leok merupakan gabungan dari dua kata, yaitu lonto yang berarti duduk dan leok yang artinya melingkar. Secara harfiah, lonto leok berarti duduk membentuk Lonto leok merupakan bagian dari musyawarah adat yang dilakukan di rumah adat . baru gendan. sambil duduk melingkar. Arti lonto leok ini digambarkan dalam peribahasa . oAoe. bantang cama reje lele . uduk bersama untuk kebaikan bersam. Peribahasa lain yang juga menggambarkan arti lonto leok adalah padir wai rentu sai . enyatuan pikiran dan tindaka. Selain itu, terdapat juga ungkapan lain, yaitu neki weki https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Antonius Mbukut, dk. Fratelli Tutti dan Tradisi Lonto Leok ranga manga . rang hadir untuk berkumpul bersam. Semua peribahasa tersebut menegaskan pentingnya kehadiran banyak orang dalam lonto leok (Judin, 2. Posisi duduk melingkar dalam lonto leok disesuaikan dengan model rumah adat Manggarai . baru gendan. dan bentuk kampung yang bundar. Selain itu, posisi ini juga sepadan dengan lahan pertanian . yang berbentuk lingkaran seperti sarang laba-laba (Judin, 2. Bentuk lingkaran tersebut menggambarkan seluruh dimensi kehidupan masyarakat Manggarai yang dimulai dari tempat mereka bernaung . sampai kepada tempat mereka melanjutkan hidup . (Japa, 2. Peserta lonto leok terdiri dari orang-orang yang memiliki peran penting dan dianggap sebagai perwakilan dari seluruh warga kampung. Mereka adalah tuAoa golo . epala kampung dalam hal ada. , tuAoa panga . epala suk. , tuAoa kilo . rang yang dipercayakan sebagai pemimpin keluarga yang berasal dari satu garis keturunan aya. , serta pihak-pihak yang terlibat dalam konflik. TuAoa golo berperan sebagai pemandu acara yang merangkum semua pembicaraan dan menetapkan keputusan akhir. TuAoa panga memiliki peran untuk membicarakan semua urusan dalam suku. TuAoa kilo bertugas untuk memberikan masukan atau pandangan kepada tuAoa golo agar keputusan yang diambil adil bagi semua pihak (Silli et al. , 2. Lonto leok memiliki berbagai bentuk sesuai dengan tujuannya. Pertama, lonto leok yang berkaitan dengan manajemen dan tata kelola kampung, seperti pengaturan jadwal kegiatan bersama, pembagian kerja, pembangunan fasilitas kampung, dan penentuan pestapesta adat. Kedua, lonto leok yang berhubungan dengan pertemuan panga . terkait urusan pembagian tanah atau kebun, dan pembuatan aturan-aturan. Ketiga, lonto leok untuk penyelesaian secara adat atas konflik internal warga atau konflik kampung dengan kampung lainnya (Lon & Widyawati, 2. Pelaksanaan lonto leok terdiri dari tiga tahap. Pertama, caca. Caca berarti membuka atau melepaskan tali yang terlilit pada suatu objek. Caca sering digunakan dalam beberapa terminologi adat. Salah satu contohnya adalah caca calek, yakni ritus penerimaan bagi orang yang baru menyelesaikan tarian caci, menamatkan pendidikan, atau pulang dari perantauan. Selain itu, istilah caca juga digunakan dalam ritual penyembuhan oleh orang yang memiliki kharisma khusus untuk orang yang sedang menderita penyakit yang sulit disembuhkan (Pandor, 2. Dalam konteks lonto leok, caca merupakan tahap penguraian masalah yang hendak dicarikan solusinya. TuAoa golo atau tuAoa adat akan mengundang orang-orang yang menjadi perwakilan semua warga kampung untuk berkumpul. Setelah semuanya berkumpul, tuAoa golo akan menyampaikan maksud atau alasan diadakan lonto leok. Berikut ini adalah contoh penyampaian dari tuAoa golo: Tara mangan peAoang agu nggewit weki, ai manga mbolot de ase kae dite one lonto golo hoAoo (Inilah alasan saya memanggil kalian semua untuk berkumpul di tempat ini, karena ada persoalan saudara-saudari kita yang mau diselesaikan secara bersam. (Pandor, 2. Kemudian, tuAoa adat menjelaskan persoalannya. Bila hal itu berkaitan dengan konflik antar warga kampung, pemimpin juga akan memberikan https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Antonius Mbukut, dk. Fratelli Tutti dan Tradisi Lonto Leok kesempatan kepada pihak-pihak yang bermasalah untuk memberikan penjelasan terkait persoalan yang dihadapi. Semua peserta harus mendengarkan dengan seksama. Bila masih mengalami kebingungan, pemimpin akan memberi kesempatan kepada para peserta lainnya untuk bertanya. Tujuannya adalah agar semua partisipan dapat mengetahui dan memahami akar masalahnya sehingga dapat memikirkan solusinya secara bersama (Baharu, 2. Kedua, cica . Cica adalah tahap untuk menanggapi permasalahan yang telah dijelaskan oleh pemimpin kampung dalam tahap caca. Dalam tahap ini, semua orang yang hadir dalam lonto leok diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat, tanggapan, atau solusi terkait masalah yang sedang dibahas. Setiap peserta wajib menghargai dan mendengarkan pendapat orang lain. TuAoa golo sebagai pemimpin akan memandu acara ini sehingga berjalan lancar dan teratur. Setiap orang mesti menyampaikan pandangannya secara sopan dan mengikuti arahan dari pemimpin. Waktu yang dibutuhkan dalam tahap cica bergantung dari jenis persoalan yang dihadapi. Bila masalahnya tergolong berat, acara ini akan berlangsung lama. Namun, jika masalanya ringan, proses dialog akan selesai lebih cepat (Baharu, 2. Ketiga, congko . Congko berarti mengangkat, membersihkan, dan Dalam bahasa sehari-hari, kata ini digunakan untuk kegiatan mengumpulkan atau mengangkat padi, cengkeh, kopi, dan lain sebagainya yang dijemur. Dengan demikian, congko dapat diartikan sebagai aktivitas membereskan sesuatu yang diyakini telah matang atau siap untuk diproses lebih lanjut (Pandor, 2. Dalam lonto leok, congko ialah tahap menyimpulkan dan menetapkan keputusan Setelah mendengarkan berbagai pendapat dari para peserta, tuAoa adat akan merangkum dan membuat kesimpulan akhir. Di sini, tuAoa adat atau tuAoa golo memiliki peran penting untuk menyatukan aneka pemikiran dan pandangan yang berbeda itu sehingga menjadi suatu keputusan yang berguna bagi kepentingan bersama. Perannya ini ditegaskan dalam ungkapan: eme manga doAoong, koe me mangan mbolot one mose dite bom toe manga tuAoa adat . alau ada kesulitan dan tantangan dalam hidup kita bersama ada tuAoa ada. (Pandor. Apapun keputusan yang diambil akan dipandang sebagai hasil kesepakatan dan untuk kebaikan bersama . onum commun. Keputusan tersebut bersifat mengikat sehingga tidak dapat diganggu gugat oleh siapapun (Baharu, 2. Gambaran umum tentang ensiklik Fratelli Tutti Fratelli tutti yang berarti saudara sekalian adalah istilah yang digunakan oleh St. Fransiskus Asisi untuk menyapa semua ciptaan sebagai saudara dan saudarinya. Dengan kata ini, ia mengundang semua orang kepada cinta kasih yang melampaui batas-batas geografis dan jarak jauh. Inilah yang kemudian menginspirasi Paus Fransiskus untuk menulis Ensiklik Fratelli Tutti tentang hidup persaudaraan dan persahabatan sosial. Basis historis dari Ensiklik Fratelli Tutti adalah periode Perang Salib Kelima pada tahun 1219 dan peristiwa perjumpaan antara kedua tokoh besar di Abu Dhabi pada 4 Februari 2019, yakni Sheikh Muhammad Ahmad al-Tayeb yang merupakan Imam Agung Al-Azher https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Antonius Mbukut, dk. Fratelli Tutti dan Tradisi Lonto Leok dan Paus Fransiskus sebagai pemimpin tertinggi Gereja Katolik Roma (Satrio & Viktorahadi. Ensiklik Fratelli Tutti ditandatangani pada 3 Oktober 2020 dan dipublikasikan satu hari berikutnya setelah penandatanganan tersebut. Ensiklik ini merupakan surat edaran Paus yang ketiga yang ditulis setelah dua ensiklik lainnya, yakni Lumen Fidei dan Laudato SiAo. Surat Paus tersebut terdiri dari delapan bab. Pada bagian ini, akan dijelaskan secara ringkas pokok-pokok pembahasan dari kedelapan bab tersebut. Bab pertama diberi judul AuBayang-bayang Gelap Dunia yang TertutupAy. Dalam bab ini. Paus menyoroti berbagai penyimpangan yang terjadi pada zaman sekarang ini. Penyimpangan-penyimpangan tersebut antara lain: bangkitnya nasionalisme yang tertutup dan agresif yang menyebabkan hilangnya rasa sosial dalam hidup berbangsa dan bernegara. pemaksaan model budaya tunggal yang menyebabkan keterpecahan di antara pribadi-pribadi dan bangsa-bangsa. hilangnya rasa kesejarahan. meningkatnya logika pasar yang didasarkan pada keuntungan semata. merebaknya budaya membuang yang mewujud dalam berbagai hak-hak asasi manusia yang tidak cukup universal dan seringkali diabaikan. globalisasi dan kemajuan yang tidak saja membawa kemudahan, tetapi juga menimbulkan kemerosotan moral. dan lain sebagainya. Pada bagian akhir dari bab ini. Paus Fransiskus mengajak kita untuk berjalan dalam pengharapan bahwa Allah terus menabur benih-benih kebaikan di antara umat manusia. Harapan tersebut berbicara kepada kita tentang kehausan, aspirasi, kerinduan akan kepenuhan dan kehidupan, serta keinginan untuk mencapai hal-hal besar. Ia memenuhi hati dan membawa kita kepada kebenaran, kebaikan, keindahan, keadilan, dan kasih (Paus Fransiskus, 2. Bab dua berbicara mengenai perumpamaan tentang Orang Samaria yang baik hati. Orang Samaria ini dijadikan contoh untuk menanggapi banyak bayang-bayang gelap yang telah disebutkan di atas. Saat ini, begitu banyak orang yang terluka. Dalam menghadapi situasi tersebut, kita dipanggil menjadi seperti orang Samaria yang murah hati untuk membangun kembali hidup persaudaraan dengan membantu masyarakat yang terluka. Kita mesti hadir dan bertanggung jawab terhadap semua orang yang membutuhkan bantuan, tanpa melihat perbedaan latar belakang sosialnya. Hal ini ditegaskan Yesus juga dalam perikop lain: AuKetika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpanganAy (Mat. Artinya adalah bahwa Kristus sendiri dapat dikenali dalam setiap saudara yang ditinggalkan, dikucilkan, atau membutuhkan pertolongan (Paus Fransiskus, 2. Panggilan ini mesti dilaksanakan dalam kebersamaan dengan yang lain. Dalam kebersamaan itu, kita akan menemukan semua kebaikan yang telah ditaburkan Allah dalam hati manusia. Seperti orang Samaria yang mencari pemilik penginapan untuk membantunya merawat orang yang terluka itu, kita pun dipanggil untuk mengajak orang lain dan bekerja bersama mereka. Dalam bab tiga. Paus mendorong kita untuk keluar dari diri sendiri dan membuka diri terhadap yang lain. Untuk mengarahkan tindakan keutamaan-keutamaan moral secara tepat, orang harus mempertimbangkan sejauh mana tindakan tersebut mencapai dinamisme https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Antonius Mbukut, dk. Fratelli Tutti dan Tradisi Lonto Leok keterbukaan dan persatuan terhadap orang lain. Dinamisme ini merupakan kasih yang ditaburkan Allah. Kasih itulah yang mendorong kita untuk berelasi dengan sesama (Paus Fransiskus, 2. Kasih menjadi dasar bagi semua keutamaan lain dalam membangun kehidupan bersama yang lain. Kasih tidak berarti memaksakan ideologi kepada orang lain, membela kebenaran dengan kekerasan, atau menunjukkan kekuatan yang besar. Namun, ia menuntut keterbukaan dan kemampuan untuk menerima semua orang tanpa batas-batas. Cinta kasih yang melampaui segala batas itu didasarkan pada Aupersahabatan sosialAy di setiap kota dan di setiap negara. Persahabatan sosial murni dalam suatu masyarakat memungkinkan keterbukaan universal sejati. Persaudaraan bukan hanya sekedar saling menghormati kebebasan dan kesetaraan yang ditetapkan. Persaudaraan membutuhkan upaya edukasi, dialog, dan penemuan relasi timbal balik yang saling memperkaya. Tanpa langkah-langkah ini, persaudaraan akan menjadi sebuah individualisme yang justru tidak membuat kita lebih bebas, lebih setara, atau lebih bersaudara (Nau, 2. Rasa solidaritas dan persaudaraan ini mesti dimulai dalam keluarga dan dunia pendidikan. Untuk berjalan menuju persahabatan sosial dan persaudaraan universal, diperlukan pengakuan akan martabat setiap pribadi tanpa terkecuali. Paus Fransiskus meminta kita untuk mempertimbangkan Auetika hubungan-hubungan internasionalAy. Menurutnya, setiap negara juga merupakan milik dari orang-orang asing. Kemakmuran suatu wilayah mesti juga diperuntukkan bagi mereka yang membutuhkan dan datang dari tempat lain (Tim Dokpen KWI, 2. Bab empat dengan judul AuHati yang Terbuka ke Seluruh DuniaAy membahas tentang Dalam bab ini. Paus menyerukan sikap etis yang mesti ditunjukkan kepada orang asing atau pendatang. Sikap etis itu adalah terbuka untuk menerima dan merawat mereka dengan hati yang ikhlas. Menurutnya, para imigran merupakan sebuah anugerah karena kita dimungkinkan untuk mengalami perjumpaan dengan pribadi lain dan budaya yang berbeda. Perjumpaan itu membuat kita bisa saling memperkaya satu sama lain. Sikap saling membantu antarnegara juga dapat menguntungkan semua. Namun, ini tidak berarti Paus membawa kita jatuh dalam utilitarianisme. Ini merupakan ajakan untuk saling menolong tanpa mengharapkan imbalan apapun. Prinsip yang perlu dipegang adalah menyadari situasi global sambil melakukan aksi nyata di lingkungan sekitar. Dialog antara budaya di tingkat lokal adalah sesuatu yang Kita perlu belajar membuka diri dan menerima perbedaan dalam komunitas kita. Dengan begitu, kita akan mudah menemukan kebaikan dari budaya dan bangsa lain (Atawolo, 2. Bab lima merupakan seruan Paus Fransiskus bagi para pemimpin untuk membangun politik yang sehat. Politik yang sehat adalah politik kasih yang berpihak kepada Paus Fransiskus menegaskan bahwa praktik persahabatan sosial mengundang https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Antonius Mbukut, dk. Fratelli Tutti dan Tradisi Lonto Leok suatu bentuk politik yang sungguh melayani kepentingan umum. Ia juga menekankan pentingnya kemampuan membaca tanda-tanda zaman, terutama tentang bahaya politik kekuasaan yang berbasiskan populisme dan dan neo-liberalisme. Untuk mewujudkan politik kemanusiaan, dibutuhkan tiga karakteristik. Pertama, politik harus berbasiskan belas kasih politik. Hal ini penting demi menumbuhkan belas kasih sosial dan keterbukaan kepada semua orang yang percaya pada kualitas benih-benih kebaikan tersembunyi yang dimiliki setiap manusia. Kedua, politik harus mengedepankan kasih politik yang mewujud dalam upaya konkret menyediakan makanan dan menciptakan lapangan pekerjaan bagi mereka yang membutuhkan. Ketiga, politik harus berbuah dan mencapai hasil, yakni runtuhnya tembok-tembok kepentingan diri dan semakin tumbuhnya kepedulian tulus terhadap sesama (Satrio & Viktorahadi, 2. Bab enam berbicara tentang dialog dan persahabatan sosial. Manusia pada dasarnya bersifat sosial. Sifat ini memungkinkan ia membangun dialog dengan orang atau budaya lain. Dengan dialog, ia dapat menjadi pribadi yang berkembang. Sebuah bangsa juga bisa bertumbuh karena dialog di antara pelbagai budaya. Melalui dialog, kita memiliki kesempatan untuk bekerja sama dan melahirkan kreativitas. Dialog adalah dasar dari Dalam dunia yang plural ini, dialog menjadi cara terbaik untuk sampai pada prinsip yang seharusnya terwujud, lebih dari sekedar kesepakatan sesaat. Dialog hanya mungkin tercipta kalau ada keberanian untuk berjumpa dengan orang yang berbeda. Tanpa keberanian ini, dialog menjadi sesuatu yang semu. Perjumpaan dengan perbedaan itu pada akhirnya akan melahirkan kedamaian. Yang dimaksudkan di sini ialah damai batiniah yang tidak bersifat superfisial yang hanya didorong oleh motif perang dan ekonomi semata. Dengan perkataan lain, damai otentik dapat terjadi karena proses perjumpaan sebagai kesempatan untuk belajar menerima perbedaan (Atawolo, 2. Pada bagian akhir dari bab ini. Paus Fransiskus juga memberi pesan penting tentang buah Roh Kudus yang mesti dipulihkan kembali, yakni kebaikan hati (Tim Dokpen KWI. Ini adalah cara memperlakukan orang lain secara baik. Kebaikan seperti ini dapat ditunjukkan dengan perkataan dan perbuatan yang tidak melukai hati dan usaha untuk meringankan beban orang lain, seperti mengucapkan kata-kata yang menyemangati, memotivasi, menghibur, dan menguatkan. Bab ketujuh merefleksikan tentang nilai dan promosi perdamaian. Untuk menciptakan perdamaian, diperlukan pengakuan yang jujur atas sesuatu yang sesungguhnya telah terjadi. Dengan begitu, perjumpaan baru dan rekonsiliasi bisa diupayakan lagi. Ada begitu banyak pertentangan dan peperangan yang terjadi di antara umat manusia. Karena itu, perjanjian damai di atas kertas saja tidak cukup, tetapi mesti dilengkapi dengan penyingkapan dan penegakkan kebenaran tentang apa yang sebenarnya terjadi pada para korban peperangan dan kekerasan. Perdamaian terkait juga dengan pengampunan. Kita dipanggil untuk mencintai semua orang tanpa terkecuali, termasuk mereka yang telah menindas kita. Namun, mengasihi https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Antonius Mbukut, dk. Fratelli Tutti dan Tradisi Lonto Leok penindas tidak berarti membiarkan dia lupa akan kesalahannya dan terus memperlakukan orang lain dengan sewenang-wenang, tetapi membantu dia untuk berubah dan membawanya kepada pertobatan. Pada bagian ini. Paus juga membahas tentang perang dan hukuman mati. Banyak orang berpikir bahwa perang dan hukum mati bisa menyelesaikan masalah dan menciptakan Akan tetapi. Paus menegaskan bahwa itu tidak pernah akan menjadi solusi. Keduanya justru bertentangan dengan hak asasi manusia. Tidak ada perdamaian yang dapat dicapai melalui perang. Justru hal itu hanya menambah penderitaan manusia. Begitupun dengan hukuman mati. Itu tidak dapat dibenarkan dan harus dihapuskan di seluruh dunia (Paus Fransiskus, 2. Bab terakhir membahas tentang agama dan persaudaraan. Di sini, ditekankan bahwa agama-agama dipanggil untuk melayani dan mendorong hidup persaudaraan di dunia. Upaya mewujudkan perdamaian di antara agama-agama bukanlah sesuatu yang tidak mungkin. Namun, seringkali agama dimanipulasi untuk tujuan politik. Selain itu, kesalahan penafsiran atas teks-teks kitab suci suatu agama menyebabkan terorisme. Peperangan, permusuhan, dan kekerasan dilakukan atas nama membela Allah. Padahal. Allah itu Mahakuasa. Karena itu. Ia tidak perlu dibela oleh siapa pun (Paus Fransiskus, 2. Paus juga menegaskan bahwa Gereja tidak harus membatasi misinya pada ranah Meskipun tidak mengikatkan diri dalam ranah politik. Gereja mesti tetap menghidupkan dimensi politik, yakni perhatian kepada kesejahteraan umum dan kepedulian terhadap perkembangan manusiawi yang integral sesuai dengan prinsip-prinsip Injil (Tim Dokpen KWI, 2. Pesan-pesan ensiklik Fratelli Tutti dalam perspektif Lonto Leok Setelah membahas mengenai lonto leok dan Ensiklik Fratelli Tutti, pada bagian ini, pesan-pesan dalam surat Paus itu akan dilihat dan dibaca dalam tradisi lokal masyarakat Manggarai tersebut. Ada beberapa kesamaan nilai di antara keduanya. Pertama, kebersamaan Ensiklik Fratelli Tutti merupakan seruan untuk membangun hidup persaudaraan. Dengan bertolak dari spiritualitas St. Fransiskus Asisi. Paus Fransiskus menekankan agar setiap orang dapat saling menerima dan menyapa satu sama lain sebagai saudara dan saudari. Menjadi saudara dan saudari bagi yang lain berarti keluar dari diri sendiri dan membangun relasi dengan orang lain tanpa disekati oleh batas-batas sosial. Allah telah menaburkan kasih dalam diri manusia yang memampukan ia untuk berelasi dengan orang lain. Dalam kebersamaan dengan yang lain itu, kita akan menemukan kepenuhan diri sebagai pribadi (Paus Fransiskus, 2. Lonto leok juga mengandung nilai kebersamaan sosial yang tinggi. Tradisi lokal tersebut bertujuan untuk merundingkan sesuatu secara bersama. Pelaksanaannya selalu dilakukan dalam posisi duduk bersama sambil membentuk lingkaran. Bentuk lingkaran ini tidak hanya sekedar mengikuti bentuk rumah adat yang bundar, tetapi juga menegaskan makna kekeluargaan dalam kampung, meskipun berasal dari suku atau agama yang berbeda. https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Antonius Mbukut, dk. Fratelli Tutti dan Tradisi Lonto Leok Masyarakat Manggarai percaya bahwa untuk mencapai kebaikan bersama, mereka tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Tujuan ini kemudian dirangkum dalam ungkapan: Muku ca puAou neka woleng curup (Pisang satu pohon jangan berbeda tutu. dan teu ca ambo neka woleng lako . ebu serumpun jangan berbeda jala. (Pandor, 2. Lonto leok menunjukkan suatu hubungan sosial di antara anggota masyarakat yang saling membutuhkan satu sama lain dalam hidup sehari-hari. Ini menggambarkan bahwa orang Manggarai selalu mementingkan kebersamaan dalam kehidupan mereka. Hal ini dikarenakan dalam kebersamaan itu, mereka bisa saling membantu dan peduli satu sama lain (Rahmat & Simangunsong, 2. Mereka yakin bahwa Allah yang disebut dengan Mori Kraeng telah menunjukkan kasih-Nya lewat kehadiran sesama. Karena itu, setiap persoalan atau kesusahan yang dialami selalu diselesaikan dan dicarikan solusinya dalam kebersamaan. Kebaikan bersama juga akan terwujud apabila dilaksanakan atau dilakukan secara bersama Kedua, solidaritas. Poin penting lain yang disinggung Paus Fransiskus terkait hidup persaudaraan adalah nilai solidaritas. Solidaritas berarti peduli terhadap mereka yang rentan atau yang sedang berada dalam kesusahan. Paus mengatakan bahwa kita bertanggung jawab atas kerapuhan orang lain. Solidaritas ditunjukkan secara konkret dalam pelayanan yang bisa mewujud dalam sikap tanggung jawab terhadap orang lain, seperti merawat mereka yang lemah, baik itu di dalam keluarga, masyarakat, maupun bangsa kita. Setiap orang mesti bertanggung jawab terhadap persoalan-persoalan sosial yang terjadi karena merupakan konsekuensi yang harus diterima sebagai bagian dari eksistensinya yang selalu berada dalam kebersamaan dengan yang lain (Paus Fransiskus, 2. Lonto leok pun memiliki nilai solidaritas. Hal ini dapat dilihat dalam tahap cica. Pada tahap ini, setiap peserta menyampaikan pendapat atau pandangan untuk mencari solusi atas masalah atau persoalan yang sedang terjadi. Persoalan itu bisa berupa konflik atau kesusahan yang sedang dialami warga kampung. Sikap seperti itu menunjukkan rasa solidaritas di antara masyarakat Manggarai. Setiap orang yang hadir dalam lonto leok merasa bertanggung jawab untuk mengatasi kesulitan yang dialami oleh anggota masyarakat. Solidaritas dan tanggung jawab ini lahir dari kesadaran bahwa semuanya adalah saudara dan saudari sekalipun tidak memiliki hubungan darah. Ketiga, dialog dan persahabatan sosial. Dialog berarti mendengarkan, mengungkapkan, memahami satu sama lain, dan menemukan kesepakatan. Hal inilah yang memungkinkan kesatuan dalam komunitas karena di dalamnya terdapat kerja sama demi kepentingan umum. Paus mengatakan adanya dialog menunjukkan kepedulian terhadap kebaikan bersama. Namun, dialog yang benar dan otentik itu mesti dibangun di atas kesadaran bahwa setiap manusia memiliki martabat yang sama sebagai ciptaan Tuhan. Dengan kesadaran ini, kita mampu menerima dan menghormati sudut pandang orang lain. Pandangan-pandangan dari orang lain harus dianggap sebagai sesuatu yang memiliki kontribusi signifikan untuk kepentingan bersama. Setiap orang boleh konsisten dengan pandangannya, tetapi juga mesti terbuka terhadap pemikiran orang lain. Perbedaan adalah https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Antonius Mbukut, dk. Fratelli Tutti dan Tradisi Lonto Leok sesuatu yang tidak dapat disangkal. Namun, dengan menerima perbedaan, kita dimungkinkan untuk saling bekerja sama (Paus Fransiskus, 2. Dalam lonto leok juga terdapat dialog. Setelah mendapat penjelasan dari tuAoa golo terkait alasan diadakan pertemuan, orang yang terlibat atau hadir dalam musyawarah itu menyampaikan tanggapan dan pandangannya masing-masing. Setiap orang diberi kesempatan untuk berbicara. Saat yang lain menyampaikan pendapat, semua wajib mendengarkan dengan seksama. Hal ini menunjukkan sikap saling menghargai dan menghormati di antara sesama. Sikap tersebut dilandasi oleh pemahaman bahwa semua manusia memiliki martabat yang sama dan setara sebagai ciptaan Tuhan (Mori Kraen. Berbagai pendapat tadi kemudian dirangkum dan diputuskan untuk kepentingan dan kebaikan bersama. Selain mengungkapkan hubungan kekeluargaan, posisi duduk melingkar dalam lonto leok juga merupakan simbol kesetaraan. Dalam bentuk lingkaran, tidak ada yang berkuasa atau mengatasi yang lain. Semuanya sama dan setara. Hal ini pun menegaskan makna lonto leok yang menjunjung tinggi kesetaraan dalam menyampaikan pendapat. Keempat, perdamaian. Dalam bab enam. Paus menggarisbawahi bahwa perdamaian berkaitan dengan kebenaran, keadilan, dan cinta kasih (Nau, 2. Jika seseorang mengalami kesulitan, yang lain mesti datang membantu dan mendukungnya. Kesusahannya harus menjadi milik semua orang. Suka dan duka seseorang ikut dirasakan oleh yang lain. Itulah arti dari sebuah keluarga. Semua mesti bekerja sama untuk mengupayakan Hal ini penting karena permasalahan-permasalahan yang tidak segera diselesaikan bisa melahirkan persoalan yang lebih besar, seperti peperangan atau pertikaian yang menyebabkan pertumpahan darah. Untuk mencapai rekonsiliasi, perlu ada dialog terusmenerus dan bukan dominasi satu pihak (Atawolo, 2. Bagi masyarakat Manggarai, rasa kekeluargaan dan persaudaraan mesti dipelihara dan dijunjung tinggi. Karena itu, bila terjadi konflik, harus ada upaya untuk membangun kembali perdamaian. Mereka yakin bahwa hanya dengan jalan perdamaian atau rekonsiliasi, keharmonisan di antara manusia dapat terwujud. Upaya ini ditunjukkan lewat tradisi lonto Salah satu tujuan lonto leok ialah untuk menyelesaikan persoalan-persoalan, baik itu konflik di antara warga kampung sendiri maupun konflik dengan anggota kampung lain. Dengan demikian, lonto leok merupakan salah satu cara untuk menata kembali hubungan yang telah rusak dengan sesama. Simpulan Lonto leok sebagai kearifan lokal masyarakat Manggarai mengandung nilai-nilai tentang hidup persaudaraan dan persahabatan sosial. Nilai-nilai yang ada dalam Lonto Leok digaungkan juga dalam Ensiklik Fratelli Tutti. Setiap orang mesti saling menyapa sebagai saudara dan saudari. Hidup persaudaraan ini hanya mungkin terwujud bila kita mau menjalin relasi yang terbuka dan menunjukkan sikap kepedulian terhadap orang lain. Dengan demikian, lonto leok dan Fratelli Tutti memiliki kesamaan nilai. Keduanya sama-sama https://doi. org/10. 12568/sapa/v9i1. Antonius Mbukut, dk. Fratelli Tutti dan Tradisi Lonto Leok menyerukan hidup persaudaraan dan persahabatan sosial. Oleh karena itu, kesadaran untuk membangun relasi yang harmonis di antara manusia dapat dihidupkan kembali dengan mengangkat nilai-nilai yang sudah ada dalam tradisi lokal seperti lonto leok. Ucapan Terima Kasih