ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 N0. 1 JANUARI 2022 ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN IKTERUS NEONATORUM DI RUMAH SAKIT BUDI KEMULIAAN Zulkarnain Edward1. Andi Ipaljri2. Irene Hafid Amalza3 Fakultas Kedokteran Universitas Batam, zulkarnainedward@univbatam. Fakultas Kedokteran Universitas Batam, andiipaljrii@univbatam. Fakultas Kedokteran Universitas Batam, irenehafidamalza@gmail. ABSTRACT Background Neonatal jaundice is a yellow discoloration of the baby's skin, conjunctiva, and sclera as a result of increased levels of toxic bilirubin in the blood. Neonatal jaundice is one of the causes of kernicterus and infant mortality. Factors that are thought in cases of neonatal jaundice which are between the baby and the mother. Infant factors consist of gender, low birth weight (LBW), and prematurity in infants. While the maternal factor is the type of delivery. The risk is increased in infants with LBW, prematurity, male sex, and type of cesarean delivery. The purpose of this study was to analyze the factors related to neonatal jaundice at RSBK Batam for the 2017-2020 period. Methods : This study used an observational analytical research design with a cross sectional approach which was carried out in the perinatology room of RSBK Batam in November 2021. The sampling technique was consecutive sampling with a total sample of 124. The results were analyzed by frequency distribution, then tested by chi-square. Results : From the results of this study, it was found that LBW, prematurity, gender, and type of delivery had a relationship with neonatal jaundice. the results of the chi-square statistical test showed p for LBW 0. 000, prematurity 0. 000, sex 0. and type of delivery 0. <0. Conclusion: Based on the results of data management, it can be concluded that there is a significant relationship between LBW, prematurity, gender, and type of delivery with neonatal jaundice at RSBK Batam for the 2017-2020 period. Keywords: Neonatal. Bilirubin. Jaundice ABSTRAK Latar Belakang: Ikterus neonatorum adalah perubahan warna kuning pada kulit, konjungtiva, dan sklera bayi akibat dari peningkatan kadar bilirubin dalam darah yang bersifat toksik. Ikterus Neonatorum merupakan salah satu penyebab kernikterus dan kematian pada bayi. Faktor-faktor yang berperan terhadap kejadian ikterus neonatorum dibagi menjadi dua faktor yaitu dari bayi dan ibu. Faktor bayi terdiri dari jenis kelamin, berat badan lahir rendah (BBLR), dan prematuritas pada bayi. Sedangkan faktor ibu yaitu jenis persalinan. Risiko ikterus meningkat pada bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), prematuritas, jenis kelamin laki-laki, dan jenis persalinan seksio sesarea. Tujuan penelitian ini untuk Menganalisis Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Ikterus Neonatorum di RSBK Batam Periode Tahun 2017 Ae 2020. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional yang dilakukan di ruang perinatologi RSBK Batam pada November tahun 2021. Teknik pengambilan sampel yaitu consecutive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 208. Hasil penelitian dianalisis dengan distribusi frekuensi, kemudian diuji dengan chi-square. Hasil: Dari hasil penelitian ini didapatkan bahwa berat badan lahir rendah (BBLR), prematuritas, jenis kelamin, dan jenis persalinan memiliki hubungan dengan ikterus hasil uji statistik chi-square didapatkan p untuk berat badan lahir rendah (BBLR) 0,000, prematuritas 0,000, jenis kelamin 0,003, dan jenis persalinan 0,000 . <0,. Kesimpulan: Berdasarkan hasil pengelolaan data dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara berat badan lahir rendah (BBLR), prematuritas, jenis kelamin, dan jenis persalinan dengan ikterus neonatorum di Rumah Sakit Budi Kemuliaan Kota Batam periode Tahun 2017-2020. Kata Kunci: Neonatorum. Ikterus. Bilirubin Universitas Batam Page 68 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 N0. 1 JANUARI 2022 PENDAHULUAN Ikterus neonatorum adalah perubahan warna kuning pada kulit, konjungtiva, dan sklera bayi akibat dari peningkatan kadar bilirubin dalam darah yang bersifat toksik menyebabkan kernikterus dan kematian pada bPrevalensi kejadian ikterus neonatorum di dunia masih cukup tinggi di Amerika Serikat pada tahun 2017, 50% bayi cukup bulan dan 80% bayi prematur mengalami ikterus, terjadi di hari ke dua dan ke empat setelah kelahiran (AhmiN, 2. Hasil studi di Jerman diperoleh kejadian ikterus neonatorum bervariasi antara 84% dan 60%, data Riset Kesehatan Dasar di Indonesia ikterus neonatorum merupakan penyebab nomor lima morbiditas neonatus dengan prevalensi ikterus 7% (Kemenkes, 2. , di Rumah Sakit Santa Elisabeth Batam diperoleh dari 35 kelahiran terdapat 22,8% bayi yang menderita hyperbilirubinemia (Murdiana, 2. Dampak peningkatan kadar bilirubin didalam darah dapat menimbulkan gangguan neurologis sampai kerusakan otak. Tandatanda bahaya dari peningkatan kadar bilirubin dalam darah pada bayi berupa gejala letargis, hipotonik, reflek hisap yang buruk, kerusakan sel otak bayi, bayi menjadi kejang . ,12%) (Maimburg. Olsen, & Sun, 2. , kernikterus . ,3%) (Alkyn. Hyukansson. Ekyus. Gustafson, & Norman, 2. , sirosis hepatik dan paling banyak yaitu kematian pada neonatal . %) (Gurley et al. , 2. Faktor yang menyebabkan peningkatan kadar bilirubin didalam darah pada bayi dibagi menjadi dua faktor yaitu dari bayi dan ibu. Faktor bayi terdiri dari jenis kelamin, berat badan lahir rendah (BBLR), prematuritas pada bayi, pengeluaran mekonium yang tertunda, polisitemia, sefalhematoma, dan defisiensi enzim glucose-6-phosphate dehydrogenase (G6PD). Penelitian yang dilakukan oleh Murekete pada tahun 2020 tentang ikterus neonatorum pada 210 bayi yang baru lahir mayoritas didapatkan bayi berjenis kelamin laki-laki . ,5%), berdasarkan berat badan bayi didapatkan 29,5% BBLR, dan berat badan lahir normal 70,5%, berdasarkan usia kehamilan didapatkan 78,1% Prematur (Murekatete. Muteteli. Nsengiyumva, & Chironda, 2. Penelitian lain yang dilakukan oleh Namira, 2017 pada 2531 bayi Universitas Batam baru lahir didapatkan 230 bayi menderita hyperbilirubinemia dengan prevalensi laki-laki 56,9%, berat badan lahir rendah (BBLR) 51,7%, sedangkan berat badan lahir normal (BBLN) 48,3% (Namira Bening Nurani. Menurut penelitian lain dari 264 kelahiran bayi diperoleh 57 neonatus menderita ikterus, laki-laki 56,1%, perempuan 43,9%, dengan berat badan lahir rendah (BBLR) 63,2%, berat badan lahir normal (BBLN) 36,8% (Maulidya, 2. Sedangkan faktor ibu yaitu Air Susu Ibu (ASI), ras ibu, diabetes mellitus (DM) ibu, obat-obatan yang dikonsumsi oleh ibu, dan riwayat penyakit kuning dalam keluarga (Chan SC, 2016. Mojtahedi SY. Izadi A. Seirafi G. Khedmat L. Penelitian oleh Indah 2017 didapatkan mayoritas hiperbilirubinemia pada bayi dengan persalinan dengan seksio sesarea 64,9%. Didapatkan (Maulidya, 2. Kasus ikterus neonatorum di Rumah Sakit Budi Kemuliaan merupakan kasus terbanyak di Kota Batam berdasarkan data dari dinas Kesehatan kota Batam. Survei pendahuluan yang dilakukan peneliti di Rumah Sakit Budi Kemuliaan didapatkan data dari 450 bayi yang baru lahir 15% bayi mengalami ikterus neonatorum. Termasuk persentase yang tinggi. Berdasarkan latar belakang diatas maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai faktor-faktor yang berhubungan terhadap kejadian Ikterus Neonatorum di Rumah Sakit Budi Kemuliaan tahun 20172020. Dikarenakan banyaknya kasus ikterus. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik observasional dengan pendekatan cross sectional. Dalam penelitian ini yang dijadikan populasi yaitu bayi yang dirawat inap di ruang perinatologi berusia 0-28 hari di Rumah Sakit Budi Kemuliaan Kota Batam Periode tahun 2017-2020. Teknik sampel menggunakan Consecutive Sampling. Teknik pengambilan data menggunakan data sekunder dengan menggunakan rekam medis Alat ukur yaitu status pasien yang tercatat di rekam medis. Analisis data pada penelitian ini menggunakan Chi-Square. Page 69 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 N0. 1 JANUARI 2022 HASIL DAN PEMBAHASAN Analisis Univariat Distribusi Frekuensi Berdasarkan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) Tabel 1 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) Berat Badan Lahir Bayi Frekuensi . Presentase (%) BBLR BBLN Total Berdasarkan tabel 1 menunjukkan bahwa hasil penelitian dari 208 sampel kasus sebesar . ,8%) 89 bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) sedangkan kategori berat badan lahir normal (BBLN) terdapat . ,2%) 119 bayi. Didapatkan bayi dengan berat badan lahir normal (BBLN) lebih banyak daripada BBLR. Dari hasil penelitian ini terdapat pengaruh antara berat badan lahir rendah (BBLR) dengan ikterus neonatorum. Kondisi ini sesuai dengan teori bahwa bayi yang lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR) dan berat badan lahir normal (BBLN) memiliki faktor risiko terjadi ikterus. Dimana semakin rendahnya berat badan lahir bayi maka semakin tinggi kemungkinan terjadinya ikterus neonatorum disebabkan bayi berat badan lahir rendah memiliki fungsi organ yang belum matang termasuk hepar sehingga konjugasi bilirubin indirek menjadi direk belum Penyebab bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) yaitu lahir kurang bulan . , bayi yang prematur tidak memiliki waktu yang cukup untuk tumbuh dan bertambah berat badan didalam rahim ibu karena sebagian besar berat badan bertambah di akhir minggu kelahiran bayi (Rafie & Ambar, 2. Berat badan lahir rendah (BBLR) memiliki kaitan dengan berbagai faktor, yaitu faktor dari ibu dan janin. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Usia Gestasi Ibu Tabel 2 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Usia Gestasi Ibu Usia Gestasi Frekuensi . Presentase (%) Prematur Matur Total Berdasarkan tabel 2 menunjukkan bahwa hasil penelitian dari 208 sampel kasus sebesar . ,0%) 77 bayi dengan usia gestasi prematur dan terdapat matur . ,0%) 131 bayi. Didapatkan bayi dengan usia gestasi matur lebih banyak daripada usia gestasi prematur. Dari hasil penelitian ini terdapat pengaruh antara usia gestasi prematur dengan ikterus neonatorum. Kondisi ini sesuai dengan teori yaitu bayi yang lahir prematur memiliki risiko tinggi untuk terjadinya ikterus, dimana pada bayi prematur disebabkan oleh penghancuran sel darah merah yang berlebih karena umur sel darah merah yang pendek, menyebabkan hepar dan gastrointestinal yang belum matang, aktifitas enzim Uridine Diphosphate Glukoronil Transferase menurun, sehingga kadar bilirubin terkonjugasi juga menurun mengakibatkan konjugasi bilirubin indirek menjadi bilirubin direk tidak sempurna yang dapat menyebabkan ikterus neonatorum (Brodsky Gusni. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Jenis Kelamin Tabel 3 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Jenis Kelamin Jenis Kelamin Frekuensi . Presentase (%) Perempuan Laki-Laki Total Universitas Batam Page 70 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 N0. 1 JANUARI 2022 Berdasarkan tabel 3 menunjukkan bahwa dari 208 sampel kasus didapatkan . ,3%) 113 bayi berjenis kelamin laki-laki dan . ,7%) 95 bayi perempuan. Dari hasil penelitian ini terdapat pengaruh antara jenis kelamin laki-laki dengan ikterus neonatorum. Kondisi ini sesuai dengan teori dimana bayi laki-laki mempunyai risiko lebih tinggi untuk mengalami ikterus, dikarenakan defisiensi enzim glucose-6phosphate (G6PD) bermanifestasi pada laki-laki. Defisiensi glucose-6-phosphate dehydrogenase adalah kelainan genetik yang mempengaruhi sel darah merah, membawa oksigen dari paru-paru ke jaringan di seluruh tubuh. Pada individu yang padabenzimbglucose-6phosphatebdehydrogen menyebabkan sel darah merah rusak sebelum waktunya. Penghancuran sel darah merah ini disebut Penyebabnya terjadi karena mutasi pada gen G6PD yang diwariskan dalam kromosom X (Maillart et al. , 2. Jenis kelamin menunjukkan perbedaan seks yang didapat sejak lahir yang dibedakan antara lakilaki dan perempuan. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Jenis Persalinan Tabel 4 Distribusi Frekuensi Berdasarkan Jenis Persalinan Jenis Persalinan Frekuensi . Presentase (%) Seksio Sesarea Spontan Total Berdasarkan tabel 4 menunjukkan bahwa dari 208 sampel kasus didapatkan jenis persalinan sectio caesarea . ,9%) 137 bayi dan didapatkan Spontan . ,1%) 71 bayi. Dari hasil penelitian ini terdapat pengaruh antara jenis persalinan seksio sesarea terhadap ikterus neonatorum. Kondisi ini sesuai dengan teori dimana jika bayi lahir dengan seksio sesarea maka semakin tinggi kemungkinan terjadinya ikterus neonatorum karena pada proses persalinan secara seksio sesarea akan menunda ibu untuk menyusui bayinya yang dapat berdampak pada lambatnya pemecahan kadar bilirubin pada Ibu yang melahirkan dengan operasi seksio sesarea membutuhkan waktu yang lebih lama untuk pemulihan kesehatan pasca persalinan dan tingkat rasa sakit yang lebih tinggi dibanding dengan ibu yang melahirkan Hal ini berdampak pada risiko bayi mengalami ikterus neonatorum (NN, 2. Faktor yang dapat menyebabkan persalinan seksio sesarea yaitu umur ibu, yaitu dibawah 20 tahun dan diatas 35 tahun, paritas ibu. Cephalopelvic Disproporsional (CPD), tumor jalan lahir yang menimbulkan obstruksi. HAP (Haemorage Ante Partu. , ketuban pecah Pre-eklampsia Eklamsia. Distribusi Frekuensi Berdasarkan Ikterus Neonatorum Tabel 5 Distribusi Frekuensi Berdasarksn Ikterus Neonatorum Ikterus Neonatorum Frekuensi . Presentase (%) Ikterus Tidak Ikterus Total Berdasarkan tabel 5 terdapat 124 bayi . ,6%) yang mengalami ikterus neonatorum sedangkan 84 bayi . ,4%) tidak mengalami ikterus neonatorum, banyak mengalami Ikterus neonatorum adalah perubahan warna kuning pada kulit, konjungtiva, dan sklera bayi akibat dari peningkatan kadar bilirubin dalam darah yang bersifat toksik Universitas Batam menyebabkan kernikterus dan kematian pada Organ hepar berperan untuk menetralisir bilirubin tak terkonjugasi menjadi bilirubin konjugasi agar mudah untuk diserap oleh air. Akan tetapi, fungsi sebagian organ hepar pada neonatus belum dapat berfungsi optimal untuk mengeluarkan bilirubin tak terkonjugasi. Ikterus terdiri dari fisiologis dan patologis. Ikterus fisiologis terjadi pada usia Ou 24 jam Page 71 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 N0. 1 JANUARI 2022 kehidupan dan menghilang O 14 hari kehidupan dengan kadar bilirubin pada hari kedua sampai keempat yaitu 5 Ae 6mg/dL dan menurun menjadi <2mg/dL pada hari kelima sampai hari ketujuh, sedangkan ikterus patologis terjadi pada hari pertama kehidupan (<24 ja. atau lebih dari 14 hari kehidupan dengan adanya kadar bilirubin mencapai 5 Ae 10 mg/dL (Nimas dkk, 2. Penyebab ikterus neonatorum adalah kondisi lahir bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR), prematuritas, jenis kelamin laki-laki, dan jenis persalinan (Mojtahedi. Izadi. Seirafi. Khedmat, & Tavakolizadeh, 2. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian Murekate tahun 2020 dengan judul Faktor Risiko Penyakit Kuning Neonatus di Rumah Sakit Distrik di Rwanda Tahun 20162018. Menyatakan bahwa dari 210 bayi yang baru lahir 91 . ,3%) mengalami ikterus Faktor risiko utama yang mengakibatkan ikterus neonatorum yaitu pada bayi dengan berat badan lahir rendah, jenis kelamin laki-laki. Inkompatibilitas ABO, infeksi TORCH, dan metode persalinan (Murekatete et al. , 2. Analisis Bivariat Hubungan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dengan Kejadian Ikterus Neonatorum Tabel 6 Hubungan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) dengan Kejadian Ikterus Neonatorum Berat Badan Ikterus Neonatorum Total p Value Lahir Bayi Tidak Ikterus Ikterus Neonatorum Neonatorum BBLR 0,000 BBLN Total Berdasarkan table 6 menunjukan bahwa jumlah sampel pada penelitian ini sebanyak 208 bayi. Bayi yang memiliki berat badan lahir rendah (BBLR) terdapat 89 bayi dimana 9 . ,1%) bayi tidak mengalami kejadian ikterus neonatorum dan 80 lainnya . ,9%) mengalami ikterus neonatorum. Sementara bayi yang dengan berat badan lahir normal (BBLN) terdapat 119 bayi diantaranya 75 . ,0%) bayi tidak mengalami ikterus neonatorum dan 44 . ,0%) bayi mengalami kejadian ikterus neonatorum. Didapatkan banyak BBLR ikterus. Dari hasil perhitungan chi-square didapatkan nilai p value = 0,000. Angka tersebut menyatakan angka yang signifikan karena nilai p< = 5% . Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa H02 ditolak dan Ha2 diterima atau terdapat hubungan yang bermakna antara usia gestasi prematur dengan kejadian ikterus neonatorum di Rumah Sakit Budi Kemuliaan Kota Batam Bayi yang lahir dengan berat badan lahir rendah (BBLR) sangat berisiko terkena ikterus Hal ini disebabkan karena bayi Universitas Batam berat badan lahir rendah (BBLR) mempunyai fungsi hepar yang belum matang dan belum berfungsi dengan sempurna. Imaturitas hepar menyebabkan kurangnya enzim uridin diphosphate glukoronil transferase (UDPG-T) dan terganggunya transportasi bilirubin indirek dari jaringan ke hepar dikarenakan sedikitnya kadar albumin, albumin berfungsi untuk mengantarkannya ke hepar, berkurangnya albumin mengakibatkan terganganggunya bertumpuk dan mengakibatkan ikterus. Enzim uridin diphosphate glukoronil transferase (UDPG-T) memiliki fungsi untuk membantu proses konjugasi bilirubin indirek menjadi direk, ketika enzim ini berkurang maka akan terganggu proses konjugasi bilirubin di dalam hepar dan menyebabkan ikterus pada bayi (Melinda. Suryawan, & Sucipta, 2. (Arya. Selain berat badan lahir rendah (BBLR) faktor lain yang dapat menyebabkan ikterus neonatorum antara lain faktor maternal meliputi Ras, komplikasi kehamilan (DM, inkompatibilitas ABO dan R. , penggunaan Page 72 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 N0. 1 JANUARI 2022 infus oksitosin dalam larutan hipotonik dan ASI. Faktor perinatal meliputi trauma lahir . efalhematom, ekimosi. dan infeksi . akteri, virus, protozo. Faktor neonatal meliputi prematuritas, faktor genetik, polisitemia, obatobatan, rendahnya asupan ASI, hipoglikemia dan hipoalbuminemia serta faktor lain yaitu asfiksia (Ningsih. Winda. Setiawati EM. Mexitalia . Rini, 2. Maka Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) sangat sedikit kemungkinan untuk tidak terjadi ikterus, sehingga pada penelitian ini bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) tidak ikterus hanya 9 bayi. Ikterus dapat terjadi pada bayi dengan berat badan lahir normal (BBLN), pada penelitian ini didapatkan bayi dengan berat badan lahir normal ikterus sebanyak 44 bayi, ikterus pada bayi berat badan lahir normal (BBLN) biasanya disebut ikterus fisiologis, dapat terjadi karena bayi yang baru lahir memiliki masa hidup eritrosit yang lebih pendek . hari dibandingkan orang dewasa 120 har. Proses pemecahan sel darah merah akan menghasilkan bilirubin, ketika terjadi peningkatan hemolisis pada bayi yang baru lahir maka bilirubin juga akan meningkat sehingga bilirubin akan menumpuk dan terjadi ikterus neonatorum (Porter & Dennis, 2. Pada penelitian ini bayi dengan berat badan lahir normal (BBLN) tidak ikterus yaitu 75 bayi sedangkan bayi berat badan lahir rendah (BBLR) tidak ikterus terdapat 9. Faktor yang menyebabkan bayi berat badan lahir normal (BBLN) tidak ikterus dan bayi berat badan lahir rendah (BBLR) tidak ikterus karena antenatal care (ANC) yang baik dengan tujuan meningkatkan kesehatan fisik pada ibu hamil dan tumbuh kembang janin, mengetahui adanya komplikasi kehamilan sejak dini dan mempersiapkan proses persalinan sehingga dapat melahirkan bayi dengan selamat serta meminimalkan dan mencegah trauma yang dapat terjadi pada saat persalinan ibu. Hubungan Usia Gestasi dengan Kejadian Ikterus Neonatorum Tabel 7 Hubungan Usia Gestasi dengan Kejadian Ikterus Neonatorum Usia Gestasi Ikterus Neonatorum Total p Value Tidak Ikterus Ikterus Neonatorum Neonatorum Prematur 0,000 Matur Total Berdasarkan table 7 menunjukan bahwa banyak dengan usia gestasi premature icterus sebanyak 77 bayi dengan usia gestasi prematur, dimana 4 . ,2%) bayi tidak mengalami ikterus neonatorum dan 73 bayi . ,8%) mengalami ikterus neonatorum. Kemudian 131 bayi dengan usia gestasi matur, dimana terdapat 80 . ,1%) bayi tidak mengalami ikterus dan 124 . ,6%) bayi mengalami ikterus neonatorum. Dari hasil perhitungan chi-square didapatkan nilai p value = 0,000. Angka tersebut menyatakan angka yang signifikan karena nilai p< = 5% . Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa H02 ditolak dan Ha2 diterima atau terdapat hubungan yang bermakna antara usia gestasi prematur dengan kejadian ikterus neonatorum di Rumah Sakit Budi Kemuliaan Kota Batam tahun 2017-2020. Universitas Batam Kejadian ikterus terjadi 50% pada bayi cukup bulan dan 80% pada bayi kurang bulan atau prematur. Ikterus terjadi pada bayi prematur karena belum matangnya fungsi hepar bayi untuk memproses eritrosit dan terjadi peningkatan hemolisis karena umur sel darah merah yang pendek yaitu . hari pada bayi sedangkan orang dewasa 120 har. (AhmiN, 2. Sisa pemecahan eritrosit disebut bilirubin, bilirubin yang menumpuk ditubuh bayi menyebabkan perubahan warna kuning pada kulit dan sklera bayi atau disebut Imaturitas hepar pada bayi prematur mengakibatkan proses bilirubin uptake dan konjugasi menjadi lebih lambat karena kurangnya enzim glukoronil transferase, terganggunya proses konjugasi indirek menjadi direk menyebabkan ikterus pada bayi, selain itu dapat terjadi defisiensi protein yang berperan dalam transportasi bilirubin yaitu Page 73 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 N0. 1 JANUARI 2022 albumin dan protein Y atau ligandin (Chen et , 2. Menyebabkan terganggunya konjugasi sehingga terjadi ikterus neonatorum. Kategori bayi dengan usia gestasi matur ikterus didapatkan 51 bayi, faktor yang menyebabkan bayi matur ikterus yaitu terjadi peningkatan bilirubin dalam hepar sebagai akibat umur sel darah merah yang pendek, peningkatan volume eritrosit dan peningkatan sirkulasi enterohepatik. Peningkatan volume eritrosit menghasilkan bilirubin dan dapat menyebabkan kadar bilirubin tinggi, sehingga apabila kadar bilirubin tinggi menumpuk maka akan mengakibatkan ikterus neonatorum (Watchko & Maisels, 2. Kategori usia gestasi matur tidak ikterus didapatkan 80 bayi, faktor yang menyebabkan bayi lahir matur tidak ikterus yaitu pada bayi matur memiliki organ hepar yang sudah berfungsi normal dan antenatal care (ANC) yang baik dengan tujuan untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mental pada ibu hamil secara optimal, hingga mampu menghadapi masa persalinan, nifas, menghadapi persiapan ASI, komplikasi sejak dini termasuk adanya riwayat penyakit, tindak pembedahan dan proses (Kemenkes. Hubungan Jenis Kelamin dengan Kejadian Ikterus Neonatorum Tabel 8 Hubungan Jenis Kelamin dengan Kejadian Ikterus Neonatorum Jenis Kelamin Perempuan Laki-Laki Total Ikterus Neonatorum Tidak Ikterus Ikterus Neonatorum Neonatorum Berdasarkan tabel 8 menunjukkan bahwa sebanyak 113 bayi dengan jenis kelamin laki-laki, dimana 35 . ,0%) bayi tidak mengalami ikterus dan 78 bayi . ,0%) mengalami ikterus neonatorum. Kemudian 95 bayi jenis kelamin perempuan, dimana 49 . ,6%) bayi tidak mengalami ikterus neonatorum dan 46 bayi . ,4%) dengan jenis kelamin perempuan mengalami ikterus Didapatkan banyak bayi dengan jenis kelamin laki-laki ikterus neonatorum dibandingkan perempuan. Dimana ini sesuai dengan teori yang ada yaitu pada laki-laki terjadi defisiensi enzim G6PD. Dari hasil perhitungan chi-square didapatkan nilai p value = 0,003. Angka tersebut menyatakan angka yang signifikam nilai p< = 5% . Hubungan bermakna. Bayi dengan jenis kelamin laki-laki memiliki risiko terkena ikterus lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan, dikarenakan glucose-6-phosphate dehydrogenase (G6PD) yang merupakan suatu kelainan enzim tersering pada manusia dan diwariskan dengan kromosom sex . -linke. yang umumnya hanya bermanifestasi pada laki-laki. Suatu kondisi dianggap terkait-X jika Universitas Batam Total p Value 0,003 gen bermutasi yang menyebabkan kelainan tersebut terletak di Kromosom X, salah satu dari dua kromosom seks di setiap sel. Laki-laki hanya memiliki satu kromosom X dan wanita memiliki dua salinan kromosom X. Karakteristik pewarisan terkait-X adalah bahwa ayah tidak dapat mewariskan sifterkaitX kepada putra mereka karena kromosom (Maillart et al. , 2020. Tazami. Mustarim, & Syah, 2. Defisiensi enzim glucose-6-phosphate dehydrogenase (G6PD) adalah kelainan genetik yang mempengaruhi sel darah merah, yang membawa oksigen dari paru-paru ke jaringan di seluruh tubuh, terjadi akibat mutase pada gen G6PD. Gen ini memberikan instruksi untuk membuat enzim yang disebut glukosa-6fosfat dehidrogenase. Enzim G6PD Berfungsi untuk menjaga keutuhan sel darah merah dan mencegah hemolitik serta membantu merubah NADP menjadi NADPH yang berguna untuk melawan stress oksidatif. Stress oksidatif merupakan senyawa yang berbahaya dalam tubuh yang dapat menyerang sel darah merah dan menyebabkan lisis, lisis sel darah merah ini yang mengakibatkan ikterus pada bayi (OG. , 2. Page 74 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 N0. 1 JANUARI 2022 Pada penelitian didapatkan bayi perempuan iketerus sebanyak 46, perempuan memiliki risiko rendah terkena ikterus diakrenakan bayi perempuan memiliki dua salinan kromosom X, gen XX tidak mudah untuk mutasi dan jika terjadi mutasi masih tersisa gen X lainnya, sehingga perempuan tetap memiliki risiko untuk terkena ikterus neonatorum (Tazami et al. , 2. Kategori jenis kelamin perempuan tidak ikterus didapatkan 49 bayi, sedangkan laki-laki tidak ikterus sebanyak 35 bayi. Faktor yang menyebabkan bayi perempuan dan laki-laki tidak ikterus merupakan antenatal care (ANC) yang baik dengan tujuan untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mental pada ibu hamil secara optimal, hingga mampu menghadapi masa persalinan, nifas, menghadapi persiapan pemberian ASI sehingga lebih maksimal (Kemenkes, 2. Hasil penelitian (Tazami dkk. , 2. neonatorum lebih sering terjadi pada laki-laki neonatus 30 . ,8%), neonatus prematur 22 . ,2%) dan neonatus berat lahir normal (BBLN) 30 . ,8%) yang berarti ikterus neonatorum lebih sering terjadi pada neonatus laki-laki, neonatus preterm, dan neonatus dengan normal berat badan lahir. Penelitian lain (Azfiani et al. , 2. menunjukkan bahwa kadar rata Ae rata bilirubin pada neonatus laki Ae laki lebih tinggi sebesar 14,3 mg/dL sedangkan kadar rata Ae rata bilirubin perempuan sebesar 12,6 mg/dL. Hal ini terjadi karena kromsom Y yang dimiliki oleh laki Ae laki berpengaruh terhadap lambatnya laju maturasi enzim yang membantu proses metabolisme bilirubin dalam tubuh serta kadar enzim Uridine Diphosphate Glukoronil Transferase (UDPGT) yang Dalam penelitian ini didapatkan nilai p<0,01 yang berarti bermakna secara statistik Hubungan Jenis Persalinan dengan Kejadian Ikterus Neonatorum Tabel 9 Hubungan Jenis Persalinan dengan Kejadian Ikterus Neonatorum Jenis Persalinan Ikterus Neonatorum Total p Value Tidak Ikterus Ikterus Neonatorum Neonatorum Seksio Sesarea 0,000 Spontan Total Berdasarkan tabel 9 menunjukkan bahwa sebanyak 137 bayi dengan jenis persalinan seksio sesarea, dimana 31 bayi . ,6%) tidak mengalami ikterus dan terdapat 106 bayi . ,4%) mengalami ikterus Kemudian 71 bayi dengan jenis persalinan spontan, dimana terdapat 53 bayi . ,6%) tidak mengalami ikterus neonatorum dan sisanya terdapat 18 bayi . ,4%) yang mengalami ikterus neonatorum. Dari hasil perhitungan chi-square didapatkan nilai p value = 0,000. Angka tersebut menyatakan angka yang signifikan karena nilai p< = 5% . Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa H04 ditolak dan Ha4 diterima atau terdapat hubungan yang bermakna antara jenis kelamin laki-laki dengan kejadian ikterus neonatorum Universitas Batam di Rumah Sakit Budi Kemuliaan Kota Batam periode tahun 2017-2020. Bayi yang dilahirkan dengan persalinan seksio sesarea memiliki risiko lebih tinggi terkena ikterus dikarenakan sebagian besar ibu yang melahirkan dengan seksio sesarea membutuhkan waktu yang lebih lama untuk pemulihan dan adanya tingkat rasa nyeri yang lebih tinggi dibandingkan dengan ibu yang melahirkan spontan sehingga ibu menyusui bayinya dengan posisi tidak tepat karena pengaruh nyeri setelah operasi, dimana ASI mengandung kolostrum yang berfungsi untuk membantu mengeluarkan tinja pertama pada bayi dan berperan untuk menghambat terjadinya siklus enterohepatic bilirubin pada neonates (Tazami et al. , 2. Apabila bayi terlambat mengeluarkan tinja pertamanya maka akan terjadi penumpukan kadar bilirubin Page 75 ZONA KEDOKTERAN VOL. 12 N0. 1 JANUARI 2022 yang mengakibatkan icterus (Kristianto, 2020. Tazami et al. , 2. Penelitian yang dilakukan oleh Zeinab, 2017 menyatakan jenis persalinan sesarea dengan menggunakan anestesi dapat mempengaruhi penyakit kuning pada bayi, anestesi yang digunakan akan mengalir kedalam plasenta dan menyebabkan kerja hepar pada bayi menjadi lebih berat. Kadar bilirubin total pada bayi yang baru lahir dalam 24 jam pertama dengan persalinan sesarea lebih tinggi daripada bayi yang lahir dengan persalinan spontan tanpa anestesi dan terdapat hubungan . <0,. (El-Kabbany. Toaima. Toaima, & Gamal EL-Din, 2. Kategori persalinan spontan ikterus pada penelitian ini didapatkan 18 bayi, faktor yang menyebabkan ikterus pada persalinan spontan adalah penggunaan infus oksitosin. Oksitosin merangsang dan mempercepat persalinan, oksitosin yaitu hormon antidiuretik yang menyebabkan hiposmolaritas pada ibu dan Hiposmolaritas adalah kelebihan tekanan osmotik pada plasma sel karena peningkatan konsentrasi zat menyebabkan pembengkakan sel darah merah sehingga menjadi rapuh dan serta rentan terhadap Infus oksitosin akan mengalir kedalam plasenta dan menyebabkan kerja hepar menjadi lebih berat,sehingga terjadi ikterus neonatorum (Robabe Seyedi1, * Mojgan Mirghafourvand2, 2. Pada penelitian didapatkan bayi yang lahir spontan tidak ikterus 53. Persalinan spontan tidak memiliki risiko terhadap ikterus karena faktor ibu dan janin yang baik, faktor ibu yaitu nutrisi dan gizi yang cukup selama kehamilan, kondisi kesehatan ibu yang baik tidak memiliki penyakit bawaan, tidak ada komplikasi kehamilan dan faktor janin yang baik yaitu tidak ada cacat bawaan atau infeksi selama kehamilan ibu (Sagawa, 2. Kategori jenis persalinan seksio sesarea tidak ikterus didapatkan 31 bayi, faktor yang menyebabkan bayi lahir dengan persalinan seksio sesarea tidak ikterus merupakan hepar bayi yang matur sehingga apabila anestesi mengalir ke plasenta bayi dapat diatasi oleh hepar yang sudah berfungsi dengan baik dan antenatal care (ANC) yang baik dengan tujuan untuk meningkatkan kesehatan fisik dan mental pada ibu hamil secara optimal, hingga mampu menghadapi masa persalinan, nifas. Universitas Batam menghadapi persiapan pemberian ASI selama masa persalinan (Kemenkes, 2. KESIMPULAN Lebih dari setengah 59,6% bayi yang mengalami ikterus neonatorum. Kurang dari setengah 57,2% bayi dengan berat badan lahir normal (BBLN). Kurang dari setengah 63,0% bayi dengan usia gestasi matur. Lebih dari setengah 54,3% bayi dengan jenis kelamin laki-laki. Lebih dari setengah 65,9% bayi dengan jenis persalinan seksio sesarea. Terdapat hubungan yang bermkna antara badan lahir rendah (BBLR) dengan kejadian ikterus neonatorum . =0,. Terdapat hubungan yang bermakna antara usia gestasi prematur dengan kejadian ikterus neonatorum . =0,. Terdapat hubungan yang bermakna antara jenis kelamin laki-laki dengan kejadian ikterus neonatorum . =0,. Terdapat hubungan yang bermakna antara jenis persalinan seksio sesarea dengan kejadian ikterus neonatorum . =0,. SARAN Untuk peneliti selanjutnya diharapkan dapat melakukan penelitian dengan motode yang lain, dan dapat menjelaskan dengan lebih rinci tentang faktor-faktor lain yang berhubungan dengan ikterus neonatorum selain berat badan lahir bayi, usia gestasi, jenis kelamin dan jenis persalinan. UCAPAN TERIMA KASIH Ucapan terimakasih juga penulis ucapkan kepada dr. Wennas. Sp. MARS dan Sukma Shareni. Gizi yang telah memberikan masukan dalam penelitian ini. Ucapan terimakasih juga penulis ucapkan kepada Rumah Sakit Budi Kemuliaan Batam. DAFTAR PUSTAKA