Jurnal Wacana Kesehatan Vol 9 No. - Edisi Desember, pp 55-64 eISSN: 2541-6251 pISSN: 2088-5776 Hubungan Modal Sosial Dengan Kesiapsiagaan Masyarakat Dalam Menghadapi Bencana Tanah Longsor Nurul Halimah1*. Johan Budhiana1,2. Waqid Sanjaya1 1Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Sukabumi. Jawa Barat 2Lincoln University College. Malaysia * Corresponding author email: halimahnurul515@gmail. Received 11 Agustus 2024. Received in revised 13 November 2024. Accepted 24 November 2024 Abstrak: Indonesia merupakan negara rentan bencana, contohnya ialah bencana tanah longsor karena di sebabkan oleh keadaan geografis, dibutuhkan untuk mengetahui hubungan modal sosial atas kesiapan masyarakat untuk mengenali bencana tanah longsor pada diskusi jangka Kecamatan Nyalindung Kabupaten Sukabumi. Kesiapsiagaan kalau kita merupakan unsur penting dalam kegiatan pra pencegahan. Modal sosial yang mempunyai sifat organisasi sosial contohnya norma, jaringan peserta keyakinan sebagaimana fasilitasi perilaku serta kerjasama bagi keuntungan bersama. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan modal sosial terhadap kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana tanah longsor di Desa Cijangkar Kecamatan Nyalindung Kabupaten Sukabumi. Desain penelitian menerapkan korelasional yang mengimplementasikan cross sectional. Populasinya di sini merupakan seluruh masyarakat pada Desa Cijangkar Kecamatan Nyalindung Kabupaten Sukabumi dan sampelnya yakni 373 responden lewat teknik proporsional random sampling. Data dikumpulkan melalui teknik kuisioner dan analisa data yang diterapkan ialah somersAoD. Dominan responden mempunyai modal sosial dengan kategori tinggi serta kesiapsiagaan kategori ini hampir siap di mana nilai p valuenya yakni 0,000 artinya tidak lebih dari 0,05 di mana ada hubungan antara modal sosial dan kesiapsiagaan. Kesimpulannya yakni ada hubungan modal sosial dengan kesiapsiagaan untuk menangani bencana tanah longsor di Desa Cijangkar Kecamatan Nyalindung kabupaten Sukabumi. Kata kunci: Bencana. Modal Sosial. Tanah Longsor Abstract: Indonesia is a country prone to disasters, one of which is landslides which are caused by geographical conditions. It is necessary to know the relationship between social capital and community preparedness in facing landslides in Cijangkar Village. Nyalindung District. Sukabumi Regency. Preparedness is an important element in pre-prevention activities. Social capital is the characteristics of social organizations, such as networks, norms, and beliefs, that facilitate behavior and cooperation for mutual benefit. The aim of this research is to determine the relationship between social capital and community preparedness in facing landslides in Cijangkar Village. Nyalindung District. Sukabumi Regency. The research design uses correlational and cross sectional. The population in this study was the entire community in Cijangkar Village. Nyalindung District. Sukabumi Regency with a sample of 373 respondents through proportional random sampling. The data collection technique uses a questionnaire. The data analysis used is somers`D. Most of the respondents had high category social capital and almost ready category with a p-value of 0. 000 which means <0. 05 that there is a relationship between social capital and preparedness. The conclusion is that there is a relationship between social capital and community preparedness in facing landslides in Cijangkar Village. Nyalindung District. Sukabumi Regency. It is recommended that the Cijangkar village. Nyalindung District. Sukabumi Regency carry out outreach and training so that the community is better prepared and understands how to deal with landslide disasters. Keyword: Disaster. Social Capital. Landslides PENDAHULUAN Indonesia secara geografis terletak pada wilayah yang rawan terhadap bencana alam seperti tanah longsor, gempa bumi, letusan gunung berapi, tsunami dan banjir. Selain bencana alam. This work is licensed under a Creative Commons Attribution 0 International License. Copyright A 2024 The Author. DOI: http://dx. org/10. 52822/jwk. Jurnal Wacana Kesehatan Vol 9 No. - Edisi Desember, pp 55-64 pembangunan Indonesia dan kehidupan sosial budaya yang beragam juga menjadikannya rentan terhadap bencana alam contohnya konflik antara masyarakat dan pihak pemerintah, kejadian lalu lintas, kejadian kerja dan kejadian ekstrim karena mewabahnya penyakit menular Menurut data Badan Nasional Penanggulangan Bencana, bencana yang belum dominan terjadi di negara Indonesia ialah bencana hidrogeologi seperti tanah longsor, angin putting beliung, banjir dan gempa bumi di mana faktor penyebab tingginya angka kematian akibat bencana ini adalah ketidaktahuan akan sikap bahaya serta tindakan yang berakibat terhadap menipisnya SDA, minimnya informasi terkait peringatan dini serta minimnya kesiapsiagaan dan ketidakberdayaan, perasaan tidak berdaya dan upaya penanggulangan seperti kegagalan dalam menangani bencana2. Penelitian yang mendukung menjelaskan lemahnya kemampuan masyarakat dalam mengorganisasikan dan mengintegrasikan informasi baru juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan tempat mereka tinggal3. Kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana adalah keadaan dimana masyarakat siap secara fisik dan mental menghadapi situasi bencana baik secara individu maupun kelompok4. Kesiapsiagaan terdiri dari 4 parameter yakni perencanaan darurat, pengetahuan dan sikap, sistem atau mekanisme penglihatan dini serta mobilisasi sumber daya5. Kesiapsiagaan masyarakat memberikan manfaat seperti kesiapsiagaan dini terhadap ancaman bencana, pengurangan angka kematian, cedera, dan kerusakan infrastruktur2. Memperkuat kesiapsiagaan bencana memberikan informasi kepada masyarakat tentang cara merespons keadaan darurat, mengurangi risiko kematian dan kerugian harta benda akibat bencana, dan mengubah gaya hidup masyarakat. Berdasarkan hasil survey Masyarakat sekitar didapatkan bahwa modal sosial di Desa Cijangkar Kecamatan Nyalindung Kabupaten Sukabumi terjalin dengan baik ketika masyarakat dapat saling percaya dan membantu. Hal ini menunjukkan bahwa modal sosial telah terbangun di Desa Cijangkar Kecamatan Nyalindung Kabupaten Sukabumi, karena mereka yakin dibalik bencana tanah longsor pasti tuhan menolong dan mereka selalu membantu dan bekerjasama apabila ketika terjadi bencana tanah longsor antar masyarakat. Dengan modal sosial yang baik, suatu masyarakat dapat membangun hubungan yang baik dengan masyarakat lainnya, termasuk dalam persiapan menghadapi bencana tanah Lonsgor. Dengan cara ini mereka dapat mencapai tujuan yang diinginkan, termasuk kesiapan menghadapi tanah longsor. Modal sosial merupakan bagian penting dalam penanggulangan bencana, khususnya kesiapsiagaan bencana. Modal sosial di tingkat masyarakat dan jaringan sosialnya merupakan bagian penting dalam upaya tanggap bencana. Modal sosial di tingkat masyarakat dan jaringan sosial yang ada sering kali diabaikan oleh para pengambil keputusan penanggulangan bencana. Partisipasi masyarakat melalui penguatan modal sosial lingkungan menjadi faktor kunci keberhasilan konsep ketahanan. Modal sosial terjadi ketika terdapat interaksi sosial yang sangat kuat antar anggota masyarakat, yang secara tidak langsung menumbuhkan rasa saling percaya 6. Kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana adalah keadaan dimana masyarakat siap secara fisik dan mental menghadapi situasi bencana baik secara individu maupun kelompok4. Kesiapsiagaan terdiri dari 4 parameter yakni sikap dan pengetahuan, sistem peringatan dini, perencanaan darurat serta mobilisasi pada sumber daya5. Kesiapsiagaan masyarakat memberikan manfaat seperti kesiapsiagaan dini terhadap ancaman bencana, pengurangan angka kematian, cedera, dan kerusakan infrastruktur2. Alasan yang berpengaruh kesiapsiagaan Nurul Halimah et al (Hubungan Modal Sosial Dengan Kesiapsiagaan Masyarakat Dalam Menghadapi Bencana Tanah Longso. Jurnal Wacana Kesehatan Vol 9 No. - Edisi Desember, pp 55-64 adalah modal sosial. Modal sosial merupakan faktor kunci dalam kesiapsiagaan. Modal sosial merupakan bagian penting dalam penanggulangan bencana. Modal sosial seringkali diabaikan oleh para pengambil kebijakan. Kohesi sosial dicapai dengan meningkatkan modal sosial. Modal sosial terjadi ketika terdapat interaksi sosial yang baik dalam suatu masyarakat sehingga menimbulkan sikap saling percaya 6. Modal sosial adalah bagian dari kehidupan sosial seperti jaringan, norma, dan keyakinan yang mendorong para pesertanya untuk bekerja sama secara lebih efektif untuk mencapai tujuan bersama. John Field7. Modal sosial dapat diartikan sebagai seperangkat nilai dan norma informal yang dimiliki bersama antar anggota suatu kelompok masyarakat yang memungkinkan adanya kerjasama antar mereka8. Modal sosial adalah hubungan timbal balik, kepercayaan, institusi, nilai-nilai dan norma-norma sosial lainnya yang berperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat9. Contoh dari indikatornya sebagaimana berpengaruh terhadap kesiapaia sosial yakni modal sosial sebagai bagian kunci dalam kesiapsiagaan modal sosial, jaringan sosial, merupakan bagian utama dalam penanggulangan Modal sosial terjadi ketika terdapat interaksi sosial yang baik dalam suatu masyarakat sehingga menimbulkan sikap saling percaya6. Menurut Maryana Modal sosial terdiri dari tiga komponen utama: kepercayaan, timbal balik, dan interaksi sosial. Fokus modal sosial ada pada tingkat Masyarakat. Modal budaya serta ekonomi yang mana ketiga modal ini bekerja secara efisien apabila semuanya saling berhubungan dan modal sosial bisa diterapkan dalam tujuan apapun diikuti oleh motivasi sumber daya baik fisik maupun wawasan budaya dan menjamin kekuatannya hubungan sosial pada konteksnya baik modal sosial, finansial maupun budaya8. Modal sosial kuat tentunya berpengaruh atau berdampak kepada kesiapsiagaan bencana sebab hal tersebut sudah dijadikan tujuan secara bersamaan untuk masyarakat pada daerah rawan bencana dan dalam penerapannya modal sosial tidak terhindar dari beberapa indikator yang berpengaruh terhadapnya pada kaitan ini yakni, indikator umumnya berpengaruh terhadap terbentuknya modal sosial yakni kebiasaan, pendidikan, status, sifat individu atau pribadi serta kelas sosial ekonomi. Karakteristik pribadi merupakan karakteristik yang mencerminkan karakteristik demografi tertentu seperti keterampilan dan keahlian, faktor keluarga, latar belakang sosial, kejadian yang menimpa, umur, negara serta gender (Johansya. Kabupaten Sukabumi yang merupakan bagian dari Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu daerah yang sering terdampak bencana tanah longsor. Menurut penelitian didapatkan korelasi yaitu karakteristik demografis contohnya umur serta gender pada keterkaitannya pada modal sosial meliputi dalam kesiapsiagaan pada bencana tanah longsor10. Bencana tanah longsor paling sering terjadi di Kabupaten Sukabumi, yaitu Kecamatan Nagrak Desa Girijaya menempati urutan ke pertama dengan sembilan Meski bukan yang teratas, namun kawasan Nyalidung Desa Cijangkar memiliki struktur tanah yang tidak stabil dan gembur sehingga menyebabkan terjadinya longsor. Kecamatan Nyalidung terdiri dari lima desa namun tanah longsor paling sering terjadi di Desa Cijangkar sehingga menyebabkan kerusakan jalan dan penyumbatan jalan. Pada Februari 2024, hujan deras menyebabkan tanah longsor setinggi 17 meter dan lebar 15 meter di kawasan Nyalidung. Secara geografis Kecamatan Cijangkar merupakan wilayah kontur karena terletak di daerah Nurul Halimah et al (Hubungan Modal Sosial Dengan Kesiapsiagaan Masyarakat Dalam Menghadapi Bencana Tanah Longso. Jurnal Wacana Kesehatan Vol 9 No. - Edisi Desember, pp 55-64 Risiko terjadinya tanah longsor lebih tinggi pada lahan miring dibandingkan pada lahan datar. Air hujan yang terus menerus turun ke permukaan bumi tidak hanya menjadi tidak stabil karena faktor kemiringan lereng, namun juga meningkatkan kemungkinan terjadinya tanah longsor 11. Didukung dengan hasil survey pendahukuan bahwa di dea cijangkar ini belum ada penanganan bencana tanah longsor. Berdasarkan uraian diatas, penelitian ini bertujuan untuk menegtahui hubungan modal sosial dengan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana longsor di Desa Cijangkar Kecamatan Nyalindung Kabupaten Sukabumi. METODE Metode penelitian sebagaimana diimplementasikan disini yakni penelitian korelasional dan menggunakan cross sectional. Populasi yaitu seluruh masyarakat pada Desa Cijangkar Kecamatan Nyalindung Kabupaten Sukabumi yang berumur 17-70 tahun. Sampel memakai rumus slovin maka diperoleh sampel sebesar 373 orang. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini yaitu menggunakan proposional random sampling. Pengumpulan informasi dalam penelitian ini dengan memakai kuesioner. Adapun kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini yaitu untuk variabel kesiapsiagaan dan untuk variabel modal sosial menggunakan kuesioner modifikasi dengan skala likert dengan menilai sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang terhadap sesuatu atau suatu fenomena dengan perolehan uji validitas yang memiliki nilai p value yakni <0,005 serta uji reliabilitas 0,719 dengan kategori yang kuat, untuk kesiapsiagaan melihat dari skala guttman dengan perolehannya yakni <0,005 serta nilai 0,887 untuk uji reabilitas dengan kategori yang kuat. Analisis data univariat serta distribusi frekuensi maupun persentase seluruh karakteristik serta uji bivariat dengan metode Chi Square. Metode penelitian diimplementasikan dalam penelitian ini yakni memakai skala ordinal ialah pada kategori tinggi nilai ordinal. Analisis bivariat dalam penelitian ini menggunakan korelasi SomersAoD. Surat etik penelitian didapatkan dari Komisi Etik Penelitian STIKes Sukabumi pada nomor 000694/KEP STIKES SUKABUMI/2024. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian memperlihatkan pada bagian tabel yakni distribusi frekuensi yaitu analisa gambaran modal sosial, karakteristik responden, siap siagaan serta hubungan modal sosial dengan kesiapsiagaan bencana tanah longsor. Tabel 1 Gambaran Karakteristik Responden . = . Karakteristik Responden Usia (Tahu. Jenis Kelamin Laki-laki Perempuan Nurul Halimah et al (Hubungan Modal Sosial Dengan Kesiapsiagaan Masyarakat Dalam Menghadapi Bencana Tanah Longso. Jurnal Wacana Kesehatan Vol 9 No. - Edisi Desember, pp 55-64 Pendidikan Tidak Sekolah SMP SMA Perguruan Tinggi Lama Tinggal (Tahu. Sumber Informasi terkait Bencana Petugas Kesehatan Orangtua/saudara Internet Televisi BPBD Pernah Mengikuti Pelatihan Pernah Tidak Pernah Pernah Menngikuti Organisasi Pernah Tidak Pernah Pernah Mengalami Bencana Tanah Longsor Pernah Tidak Pernah Tabel 1 menunjukan sebagian besar responden berumur 36-50 tahun yaitu sebanyak 112 orang atau sebesar 30,0%, berjenis kelamin perempuan yaitu sebanyak 214 orang atau sebesar 57,4%. Pendidikan SD yaitu sebanyak 251 orang atau sebesar 67,3%, lama tinggal > 5 tahun sebanyak 356 orang atau sebesar 95,4%, sumber informasi yang didapat Sebagian besar dari BPBD sebanyak 196 orang atau sebesar 52,5%, pernah mengikuti pelatihan sebanyak 345 orang atau sebesar 92,5%, pernah mengikuti organisasi sebanyak 334 orang sebesar 89,5%, dan Sebagian besar responden tidak perah mengalami bencana tanah longsor sebanyak 263 orang atau sebesar 70,5%. Tabel 2 Analisis Deskriptif Variabel Persentase Variabel Frequensi (%) Modal Sosial Rendah Sedang Tinggi Jumlah Kesiapsiagaan Belum siap Kurang siap Hampir siap Siap Sangat siap Nurul Halimah et al (Hubungan Modal Sosial Dengan Kesiapsiagaan Masyarakat Dalam Menghadapi Bencana Tanah Longso. Jurnal Wacana Kesehatan Vol 9 No. - Edisi Desember, pp 55-64 Jumlah Berdasarkan tabel 2 menunjukan bahwa modal sosial di Desa Cijangkar sebagian banyak responden mempunyai modal sosial sedang dengan jumlah 219 responden . ,7%), dan sebagian kecil responden memiliki modal sosial rendah sebanyak 10 responden . ,7%). Dan kesiapsiagaan di Desa Cijangkar bahwa sebagian besar responden memiliki kesiapsiagaan hampir siap sebanyak 156 responden . ,8%), dan sebagian kecil responden memiliki modal sosial kesiapsiagaan kurang siap sebanyak 6 responden . ,6%). Tabel 1 Hubungan Modal Sosial dengan Kesiapsiagaan Bencana Tanah Longsor Modal Tinggi Sedan Renda Total Belu Kuran g siap Kesiapsiagaan Hamp ir siap Sia Sang Tot Pvalu 0,00 Berdasarkan tabel 3 menunjukan bahwa sebagian banyak responden mempunyai modal sosial sedang dan kesiapsiagaan hampir siap yaitu sebesar 105 respodnen atau sebesar . ,9%) dan sebagian kecil mempunyai modal tinggi dan rendah dan kesiapsiagaan kurang siap yaitu masing-masing sebesar 0 responden atau sebesar . 0%). Berdasarkan hasil analisis uji SomersAoD hubungan modal sosial dengan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana tanah longsor di Desa Cijangkar Kecamatan Nyalindung Kabupaten Sukabumi menunjukan bahwa ada hubungan modal sosial dengan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana tanah longsor di Desa Cijangkar Kecamatan Nyalindung Kabupaten Sukabumi dengan p-value 0,000 (O0,. sehingga tolak H0. Pembahasan Hasil penelitian menunjukkan bahwa sosial masyarakat untuk menghadapi bencana pada desa tersebut memiliki modal yang tinggi serta sebagian kecil modal sosialnya rendah. Putnam mengutarakan di mana modal sosial merupakan bagian kehidupan sosial misalnya keyakinan jaringan serta norma yang menopang para pesertanya dalam melakukan kerjasama dengan efisien dalam rangka meraih tujuan bersama. Modal sosial ini bisa dimaknai menjadi seperangkat norma serta nilai dengan sifat informal yang dimiliki antar anggota dalam sebuah kelompok masyarakat serta memberi kemungkinan adanya kerjasama di dalamnya7. Maryana juga mengutarakan di mana modal sosial ialah korelasi timbal balik dan juga keyakinan serta institusi dan norma maupun nilai sosial lain sebagaimana merupakan krusial pada peningkatan kemakmuran masyarakat9. Peran modal sosial sangat penting dalam proses penanggulangan bencana. Dalam satu dekade terakhir, modal sosial menjadi acuan teoritis yang sering digunakan dalam analisis Nurul Halimah et al (Hubungan Modal Sosial Dengan Kesiapsiagaan Masyarakat Dalam Menghadapi Bencana Tanah Longso. Jurnal Wacana Kesehatan Vol 9 No. - Edisi Desember, pp 55-64 berbagai permasalahan sosial pada berbagai negara salah satunya Indonesia, dimana pembicaraan semakin banyaknya tentang modal sosial, terutama ketika melihat kemampuan masyarakat dalam membangun kehidupan sosialnya. Modal sosial dapat mendorong kerjasama dan hubungan antar manusia yang saling mendukung dalam masyarakat, yang dalam hal ini dapat menjadi alat yang berharga dalam melawan berbagai gangguan sosial di masyarakat saat ini8. Contoh utama memberikan pengaruh ialah modal sosial yaitu umur. Berdasarkan perolehan penelitian Puspita terangkan di mana ada hubungan antara modal sosial dan karakteristik usia dan usia sangat krusial untuk mendefinisikan modal sosial di manusia produktif bisa mempunyai modal sosial tinggi dan secara mendasar usia menunjang kapabilitas individu untuk bersiap menghadapi bencana dan dalam usia tersebut terdapat kesempatan baik untuk meningkatkan serta membuat jaringan menjadi lebih luas terhadap masyarakat ataupun organisasi eksternal12. dengan mudah memahami norma atau aturan masyarakat dan pemerintah serta menyadari bahwa kesiapsiagaan dapat mengurangi risiko Apalagi usia mempengaruhi pikiran serta sistem pemikiran seseorang, dimana ketika usia bertambah artinya perkembangan pola pikir serta daya tangkap pun meningkat dan jaringan sosial pun meningkat, sehingga interaksi sosialnya tinggi pada masa-masa produktif. modal dan meningkatkan kemampuan masyarakat dalam merencanakan dan merespons Seringnya pertemuan di komunitas menjadi salah satu keuntungan dalam pada modal sosial Waktu yang cukup lama menjadikan modal sosial yang dimiliki masyarakat relatif Dalam perspektif sosiologi, unsur utama modal sosial adalah norma, timbal balik, kepercayaan, serta jaringan, agar modal sosial dapat berjalan dengan baik, khususnya dalam pembangunan, diperlukan keikutsertaan komunitas pada jaringan, timbal balik, keyakinan terhadap aturan-aturan sosial, karakter umum kepemilikan serta perilaku masyarakat dalam negara secara aktif. Kepemimpinan partisipatif diyakini dapat menumbuhkan rasa memiliki 14. Alasan lain yang berpengaruh modal sosial adalah sumber informasi yang didapat Informasi diperoleh melalui banyak sumber misalnya media digital, cetak, tenaga kesehatan, dan teman serta keluarga. Jika ada kenang memperoleh informasi dari banyak sumber, artinya ia cenderung memiliki wawasan modal sosial lebih besar13. Komunikasi yang baik antara masyarakat, petugas kesehatan dan BPBD akan meningkatkan jejaring sosial dan informasi yang komprehensif sehingga dapat meningkatkan kesiapsiagaan pengurangan risiko Penelitian Marlyono berpendapat lemahnya kemampuan komunitas dalam berorganisasi dan memiliki informasi baru juga sangat berefek pada kawasan tempat mereka Jika lingkungan hidup mendukung atau memberikan pengaruh positif maka kemampuan mengorganisasikan informasi dan mengintegrasikannya ke dalam pemahaman yang ada kurang lebih lebih baik. Sebaliknya jika lingkungan kurang mendukung, maka sebagian besar orang disekitarnya tidak akan memahami informasi baru tersebut, sehingga hasilnya akan berbanding terbalik13. Hasil penelitian tersebut membuktikan dimana banyak kesiapsiagaan dari masyarakat pada Desa Cijangkar Kecamatan Nyalindung Kabupaten Sukabumi memiliki kesiapsiagaan yaitu hampir siap dan sebagian kecil memiliki kesiapsiaagaan yaitu kurang siap15. Alasan lain yang berpengaruh kesiapsiagaan ialah usia. Usia produktif memiliki peranan krusial pada banyak aktivitas, salah satunya keikutsertaan dalam kesiapsiagaan bencana serta Nurul Halimah et al (Hubungan Modal Sosial Dengan Kesiapsiagaan Masyarakat Dalam Menghadapi Bencana Tanah Longso. Jurnal Wacana Kesehatan Vol 9 No. - Edisi Desember, pp 55-64 aktivitas lain, dan mempunyai kapabilitas kognitif baik. Sehingga dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang kesiapsiagaan bencana. Usia yakni suatu sifat yang berkaitan dan termasuk indikator sebagaimana berdampak pada perilaku manusia. Hal tersebut Hal ini dikarenakan perkembangan fisik dan psikis berkembang seiring bertambahnya usia, dan perkembangan mental menumbuhkan kematangan dan kematangan dalam penalaran, sehingga dapat menumbuhkan kesiapsiagaan bencana 16. Usia berdampak pada kapabilitas individu untuk berpikir serta menangkap. Selama usia bertambah maka cara pikir dan pemahaman pun berkembang dan usia ialah suatu indikator yang berdampak pada kesiapan dimana13. seseorang memiliki waktu lebih banyak untuk membaca dan pemahaman serta cara berpikir seseorang masih baik sehingga mempengaruhi pengetahuan seseorang. Faktor lain yang mempengaruhi persiapan adalah sumber informasi. Informasi juga dapat mempengaruhi kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana17. Informasi merupakan sumber informasi yang dapat diperoleh melalui banyak sumber misalnya media digital, cetak, tenaga kesehatan dan teman atau keluarga. Saat seseorang menerima informasi dari banyak sumber artinya ia mempunyai wawasan luas. Dengan demikian kesimpulannya apabila informasi yang dikumpulkannya banyak maka kesiapan masyarakat untuk menghadapi bencana pun lebih baik13. Menurut Sanusi, pengetahuan adalah segala informasi yang tersimpan menurut temuan penelitian18. Artinya, informasi bisa dijumpai pada banyak media digital maupun cetak Dengan demikian, semakin banyak informasi yang dikumpulkan, maka masyarakat semakin siap menghadapi bencana. Menurut Sanusi, salah satu faktor kesiapan adalah pengetahuan. Sesuai dengan Surat Perintah Kepala BNPB No. 4 Tahun 2008, langkahlangkah kesiapsiagaan dikomunikasikan kepada pejabat siaga bencana untuk mempersiapkan mekanisme informasi serta komunikasi terpadu dan gesit dalam menopang misi bencana, kemudian mendukung institusi medis. Alasan lain yang berpengaruh kesiapsiagaan ialah kejadian bencana tanah longsor. Sebagaimana dikatakan Fatih, nilai korelasi yang positif menunjukkan bahwa orang yang berpengalaman memiliki kemauan yang lebih besar dibandingkan orang yang kurang Sebuah hal dimana mampu berdampak pada kesiapsiagaan individu yakni pengalaman bencana pada masa lalu secara tidak langsung maupun langsung yang didapat dari bencana ini contohnya dapat dijadikan pembelajaran yang penting dan berguna untuk masa Ramadhan. , & Adnan dimana modal sosial berhubungan signfikan kepada kesiapsiagaan bencana pada area pesisir pantai Air Manis Kota Padang dan nilai signfikansinya <0,05 serta tingginya hubungan modal sosial kepada kesiapsiagaan bencana yakni senilai 59,3%. Menurut penelitian lain yang dilakukan Maryana, peran modal sosial dalam kesiapsiagaan dapat dijelaskan dengan adanya pola interaksi yang menciptakan kepercayaan pada warga desa, interaksi sosial antar anggota masyarakat. Maka dari itu, disimpulkan bahwa modal sosial komunitas berperan pada kesiapsiagaan menghadapi erupsi Gunung Raung8. Modal sosial di tingkat masyarakat dan jaringan sosialnya merupakan bagian penting dalam upaya tanggap bencana. Modal sosial di tingkat masyarakat dan jaringan sosial yang ada sering kali diabaikan oleh para pengambil keputusan penanggulangan bencana. Partisipasi masyarakat melalui penguatan modal sosial lingkungan menjadi faktor kunci keberhasilan Nurul Halimah et al (Hubungan Modal Sosial Dengan Kesiapsiagaan Masyarakat Dalam Menghadapi Bencana Tanah Longso. Jurnal Wacana Kesehatan Vol 9 No. - Edisi Desember, pp 55-64 konsep ketahanan. Modal sosial terjadi ketika terdapat interaksi sosial yang sangat kuat antar anggota masyarakat, yang secara tidak langsung menumbuhkan rasa saling percaya 6. Modal sosial yang kuat tentunya mempengaruhi kesiapsiagaan bencana. Sebab, kesiapsiagaan bencana sudah menjadi tujuan bersama bagi masyarakat di daerah rawan Dalam penerapannya, modal sosial tidak lepas dari berbagai faktor yang Dalam kaitan ini, faktor umum yang mempengaruhi terbentuknya modal sosial adalah kebiasaan, status . elaku pera. , pendidikan, kelas sosial ekonomi, dan karakteristik pribadi/individu. Karakteristik pribadi merupakan karakteristik yang mencerminkan karakteristik demografi tertentu seperti keterampilan dan kemampuan, latar belakang keluarga, latar belakang sosial, pengalaman, usia, negara dan jenis kelamin 10. Penelitian ini menunjukan bahwa responden yang memiliki modal sosial tinggi sebagian besar memiliki kesiapsiagaan siap. Sedangkan responden yang memiliki modal sosial rendah sebagian besar memiliki kesiapsiagaan belum siap. Peneliti berasumsi bahwa terdapat hubungan antara modal sosial dengan kesiapsiagaan masyarakat terhadap bencana tanah longsor di Desa Cijangkar Kecamatan Nyalindung Kabupaten Sukabumi. Terlihat bahwa masyarakat Desa Cijangkar Kecamatan Nyalindung Kabupaten Sukabumi terjalin dengan baik jika masyarakat dapat saling percaya dan saling membantu serta bekerjasama ketika masyarakat terdampak bencana tanah longsor. Masyarakat sudah memahami kesiapsiagaan, mereka belajar dari pengalamannya jika terjadi bencana tanah longsor. Dengan cara ini mereka dapat mencapai tujuan yang diinginkan, termasuk mempersiapkan diri menghadapi tanah Hasil penelitian ini menunjukan bahwa ada hubungan modal sosial dengan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana tanah longsor di Desa Cijangkar Kecamatan Nyalindung Kabupaten Sukabumi. KESIMPULAN Berdasarkan penelitian disimpulkan bahwa ada hubungan modal sosial dengan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana tanah longsor di Desa Cijangkar Kecamatan Nyalindung Kabupaten Sukabumi. Dari hasil penelitian terkait kesiapsiaagaan masyarakat di Desa Cijangkar Kecamatan Nyalindung Kabupaten Sukabumi. Maka perlu adanya program pelatihan berbasis masyarakat mengenai kesiapsiagaan terkait rencana tanggap darurat bencana tanah longsor oleh pihak BPDB. DAFTAR PUSTAKA