ISSN 2541-3252 Vol. No. Sep. BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia KONFLIK BATIN DALAM NOVEL BURUNG KAYU KARYA NIDUPARAS ERLANG: PSIKOANALISIS SIGMUND FREUD Olga Nophia Ramdini1. Imas Juidah2. Samsul Bahri3 Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Universitas Wiralodra Pos-el: olgaramdini3011@gmail. com1, imas. juidah@unwir. id2, sbahri03@gmail. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konflik batin yang dialami para tokoh dalam novel Burung Kayu karya Niduparas Erlang berdasarkan tinjauan psikoanalisis Sigmund Freud. Metode penelitian yang digunakan ialah deskriptif kualitatif. Sumber data penelitian ini ialah novel Burung Kayu karya Niduparas Erlang yang diterbitkan oleh Teroka Press pada Juni 2020 sebanyak 174 halaman. Teknik penelitian data dengan menggunakan metode bacacatat, dan kepustakaan. Selanjutnya, data yang didapatkan pada penelitian ini dikaitkan dengan teori psikoanalisis Sigmund Freud. Hasil penelitian ini adalah tokoh dalam novel Burung Kayu karya Niduparas Erlang dipengaruhi oleh tiga kepribadian, yaitu id, ego, dan Pada novel tersebut dapat disimpulkan bahwa terjadi aspek id yang dialami oleh tokoh Saengkerei yang merasa berahi kepada iparnyaAiTaksilitoni, yang kemudian ia peristri. Ego muncul ketika ia berpindah ke Barasi karena ingin sedikit melupakan rasa bersalah yang membuat Bagaiogok, kakaknya meninggal. Legeumanai berperan sebagai superego karena telah menyelesaikan kuliah dan bekerja di pemerintahan kota dan kembali ke Hulu untuk menjadi Sikerei, sebagai penyelesai konflik batin yang dialami oleh bajaknyaAiSaengkerei, yang sekarang menjadi ayahnya. Kata kunci: Konflik Batin. Teori Psikoanalisis Sigmund Freud. Novel Burung Kayu. ABSTRACT This study aims to describe the inner conflicts experienced by the characters in the novel Burung Kayu by Niduparas Erlang based on Sigmund Freud's psychoanalytic review. The research method used is descriptive qualitative. The data source for this research is the novel Burung Kayu by Niduparas Erlang published by Teroka Press in June 2020 with 174 pages. The data research technique uses the read-note method, and literature. Furthermore, the data obtained in this study is associated with the psychoanalytic theory of Sigmund Freud. The result of this research is that the character in the novel Burung Kayu by Niduparas Erlang is influenced by three personalities, namely id, ego, and superego. In the novel, it can be concluded that there is an id experienced by the character Saengkerei who feels lust for his brother-in-lawAiTaksilitoni, whom he then becomes a wife. Ego appeared when he moved to Barasi because he wanted to forget a little about the guilt that made Bagaiogok, his brother Legeumanai plays the role of the superego because he has finished college and works in the city government and returns to Hulu to become Sikerei, as the resolver of the inner conflict experienced by Saengkerei, who is now his father. Keywords: Inner Conflict. Psychoanalytic theory of Sigmund Freud. The Burung Kayu. How to Cite: Ramdini. Juidah. , & Bahri. KONFLIK BATIN DALAM NOVEL BURUNG KAYU KARYA NIDUPARAS ERLANG: PSIKOANALISIS SIGMUND FREUD. Bahtera Indonesia. Jurnal Penelitian Bahasa Dan Sastra Indonesia, 7. , 519Ae526. https://doi. org/10. 31943/bi. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ISSN 2541-3252 Vol. No. Sep. DOI: https://doi. org/10. 31943/bi. PENDAHULUAN Sastra merupakan kegiatan kreatif dan produktif yang dilakukan oleh sastrawan dalam menghasilkan sebuah karya yang memiliki nilai estetis. Sastra dengan segala ekspresi dan peristiwanya Karya sastra dapat tercipta dari imajinasi, renungan, atau bahkan pengalaman peristiwa seorang sastrawan yang ingin diungkapkannya dalam tulisan, sehingga penulis mengajak pembaca untuk merasakan dan seolaholah berada di dalam cerita yang dikemas dengan seelok mungkin, salah satu karya sastra berbentuk prosa ialah novel. Secara singkat, novel adalah sebuah kisah cerita yang diciptakan seorang permasalahan atau peristiwa, maupun konflik yang dialami oleh tokoh cerita, yang di dalamnya berisi kata-kata yang sistematis sehingga membentuk cerita. Isi novel juga menceritakan perubahan latar dan peristiwa yang dialami oleh tokoh-tokohnya secara terstruktur dan Salah satu kaya fiksi yang pergolakan batin yang dialami oleh beberapa tokoh serta tingkah laku maupun aktivitas kejiwaan adalah novel Burung Kayu karya Niduparas Erlang. Novel Burung Kayu Niduparas Erlang merupakan novel bertema permasalahan sosial yang menceritakan kehidupan masyarakat Mentawai yang mengalami berbagi antarkeluarga, dan konflik batin yang dialami para tokoh. Pada penelitian ini novel Burung Kayu karya Niduparas Erlang sebagai objek kajian yang mendeskripsikan kehidupan keluarga kecil tokoh Saengkerei yang menikahi iparnya. Taksilitoni yang menjanda karena ditinggal mati oleh suaminya, yang tak lain adalah kakak dari Saengkerei. Bagaiogok. Saengkerei berniat melupakan kematian kakaknya dengan pindah ke Barasi. Namun, perpindahannya justru memunculkan konflik baru, salah satunya konflik batin yang dialami oleh para tokoh. Niduparas Erlang menggambarkan konflik-konflik tersebut diperkirakan pada tahun 1950-an, karena bukti masuknya program pemerintah yang menawarkan pembangunan dengan konsep kesejahteraan-kemajuan untuk mengejar ketertinggalan dari kehidupan uma-uma dengan mengikuti kehidupan masyarakat yang lebih modern. Psikologi sastra merupakan sebuah kajian yang mempelajari cerminan psikologis dalam diri tokoh-tokoh yang disusun sedemikian rupa oleh pengarang, sehingga pembaca merasa tertarik karena permasalahan psikologis dalam sebuah kisahan dan merasa terlibat dalam cerita (Minderop, 2016: 54-. Sedangkan pendapat lainnya dikemukakan oleh Windasari mengenai definisi psikologi sastra ialah kajian dalam karya sastra yang memandang aktivitas kejiwaan . 7: . Peneliti menggunakan kajian psikologi sastra dalam penelitian ini. Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ISSN 2541-3252 Vol. No. Sep. BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Penelitian sastra dengan pendekatan psikologi dipusatkan pada pada teks atau karya sastra tersebut. Aspek psikologis/ kejiwaan para tokoh dapat dianalisis psikologi sastra dengan menilai gerakgerik jiwa para tokohnya. Salah satu kajian psikologi yaitu psikoanalisis. Psikoanalisis ialah teori yang menjelaskan perkembangan manusia dan Sigmund Freud membagi aspek struktur kepribadian menjadi tiga unsur. id, ego, dan Id . erdapat pada bagian tak sada. yang menjadi sumber energi psikisAiresevior pulsi. Ego . erada di bagian alam sadar dan alam tidak sada. bertugas memadamkan dan menengahi larangan superego dan tuntutan pulsi. Superego . erletak sebagian di bagian sadar dan sebagian lagi di bagian tak sada. berkaitan dengan hati nurani yang dapat menilai salah atau benar, bersedih dan bersalah (Minderop, 2016: 18-. Teori psikoanalisis terdiri dari id, ego, dan superego. Freud mengistilahkan ketiganya bagai gunung es. yang tamak di bawah ialah ego, prinsipnya realita kehidupan manusia. Tetapi hal tersebut nyatanya hanya sebagian kecil yang Hal terbesar yang tak terlihat ialah ketidaksadaran, yang dipaparkan oleh Freud yakni id dan superego (Wijaya, 2019: . Freud, kepribadian merupakan pencariannya dalam dunia tak sadar juga keyakinannya yang berpikir bahwa manusia dapat termotivasi karena dorongan utama yang tidak atau belum mereka sadari. Baginya, kehidupan mental terdapat tiga tingkat yang meliputi. alam bawah sadar, alam sadar, dan alat tidak sadar (Waslam, 2015: . Freud mengistilahkan id sebagai ratu dan raja yang berlaku bak penguasa yang selalu mementingkan diri sendiri, dan selalu dihormati, id berkaitan dengan mencari kenikmatan dan menjauhi ego sebagai para menteri yang mengemban tugas untuk menyelesaikan pekerjaan apapun yang berkaitan dengan kenyataan, seperti pengambilan keputusan, penalaran, dan penyelesaian masalah. dan superego sebagai pendeta tertinggi yang selalu disertai pemikiran serta pertimbangan terhadap nilai baik dan buruk, harus (Minderop, 2016: . Pada hakikatnya, setiap individu memiliki fitrah dan kepribadianya masing-masing makhluk sosial, sehingga diantara karakter tersebut sering terjadi interaksi, dan konflik/permasalahan. Konflik merupakan sesuatu yang dramatik (Juidah, 2018: . Konflik timbul miskomunikasi, kesalahpahaman, dan proses yang tidak disadari lainnya. Dalam karya sastra, konflik batin merupakan konflik yang terjadi antara dua kekuatan, konflik yang terdapat dalam diri seorang tokoh atau antara dua (Mujiyanto, 2012: . Konflik batin merupakan konflik yang terjadi pada jiwa tokoh, dalam hati tokoh yang terdapat dalam cerita (Nurgiyantoro, 2012: . Konflik batin bisa terjadi karena adanya perselisihan atau pertentangan antara dua Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia keyakinan yang berbeda, atau masalahmasalah lainnya. Penelitian dengan kajian konflik batin pernah diteliti oleh beberapa Seperti penelitian yang dilakukan oleh Imas Juidah dengan judul Konflik Batin Tokoh Utama dalam Novel Genduk Karya Sundari Mardjuki: Sebuah Tinjauan Psikoanalisis Sigmund Freud. Penelitian BAHTERA INDONESIA Volume 3 Nomor 1. Maret 2018 ini meneliti mengenai konflik batin tokoh utama dengan menggunakan teori psikoanalisis Sigmund Freud. Penelitian lain yang membahas mengenai konflik batin pernah juga dilakukan oleh Sultoni. Achmad dkk. dengan judul Konflik Batin Tokoh Utama dalam Novel Lelaki Harimau Karya Eka Kurniawan: Tinjauan Psikoanalisis Sigmund Freud. Penelitian dalam jurnal BAHTERA INDONESIA Volume 6 Nomor 1. Maret 2021 ini meneliti konflik batin tokoh utama dengan menggunakan teori psikoanalisis Sigmund Freud. Penelitian lain yang relevan, yang juga membahas kajian psikoanalisis Sigmund Freud ialah yang dilakukan oleh Waslam dengan judul Kepribadian dalam Teks Sastra: Suatu Tinjauan Teori Sigmund Freud. Penelitian dalam jurnal PUJANGGA Volume 1 Nomor 2. Desember 2015 ini meneliti mengenai kepribadian dalam teks sastra dan mengaitkannya dengan teori Sigmund Freud. Ketiga penelitian tersebut, jelas dengan penelitian yang dilakukan oleh peneliti, karena objek ISSN 2541-3252 Vol. No. Sep. kajiannya berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan konflik batin yang dialami para tokoh dalam novel Burung Kayu karya Niduparas Erlang berdasarkan kajian psikoanalisis Sigmund Freud. METODE PENELITIAN Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu deskriptif Metode deskriptif kualitatif ini mengkaji novel Burung Kayu karya Niduparas Erlang. Data dalam penelitian ini adalah kata-kata, frasa, kalimat, dan kutipan yang terdapat dalam novel Burung Kayu karya Niduparas Erlang. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data primer dan sekunder. Sumber data primer artinya data pokok yang dihasilkan tanpa perantara (Siswantoro, 2010: . Sumber data primer dalam penelitian ini yaitu novel Burung Kayu karya Niduparas Erlang yang diterbitkan oleh Teroka Press. Jakarta pada Juni 2020 sebanyak 174 Sedangkan, sumber data didapatkan untuk memperkuat penelitian (Siswantoro, 2010, . Sumber data sekunder penelitian ini yaitu artikel, jurnal, dan buku-buku lain yang relevan dengan penelitian ini. Teknik penelitian ialah salah satu yang terpenting dalam melaksanakan Teknik penelitian dapat memperoleh data yang dibutuhkan dalam Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ISSN 2541-3252 Vol. No. Sep. BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia menggunakan teknik baca catat dan dirasa telah dipilih oleh leluhur sebagai upaya penyembuhan untuk ibunya . HASIL PEMBAHASAN Analisis Konflik Batin dalam Novel Burung Kayu karya Niduparas Erlang Berdasarkan Psikoanalisis Sigmund Freud Konflik batin yang dialami para tokoh dalam novel Burung Kayu dianalisis yang berdasar pada teori konflik batin yang menilai kejiwaan dari segi psikologi yang dikemukakan oleh Dirgagunasa. Berikut analisis konflik batin dalam novel Burung Kayu sebagai berikut. Konflik Mendekat-mendekat . pproach approach conflic. Konflik ini akan muncul ketika terjadi dua motif yang keduanya samasama bersifat positif . enguntungkan dan menyenangka. sehingga akan timbul rasa bimbang untuk memilih salah satu dari dua motif tersebut. Konflik Legeumanai mengambil keputusan untuk bekerja di kantor pemerintahan di Tanah Tepi. Legeumanai ingin membalaskan kematian Bagaiogok, ayahnya yang kalah dalam pakoAo karena perbuatan yang dilakukan oleh Saengkerei, adik dari ayahnya yang kemudian menjadi ayah Hal tersebut ia lakukan untuk mengukuhkan kembali marwahwibawa sukunya di mata suku-suku lain di sepanjang aliran sungai dan sekujur lembah umanya . Namun, ibunyaAiTaksilitoni demam hingga tak sadarkan diri hingga mau tak mau Legeumanai harus kembali ke Barasi. Saengkerei Legeumanai untuk menjadi sikerei yang Konflik Menjauh-menjauh . voidanceavoidance conflic. Konflik ini akan terjadi pada saat yang bersamaan, motif yang muncul bersifat negatif . erugikan atau tak kebimbangan untuk menjauhi salah satu motif diantaranya, namun dengan ini berarti harus memenuhi salah satu motif negatif yang lainnya. Konflik ini muncul ketika bayinya Bai Sanang dan Aman Sanang yang masih berusia dua bulan sedang demam yang menyebabkan napasnya tersengalsengal, sekarat dalam pangkuan ibunya. Bai Legeumanai beusaha membujuk Bai Sanang agar segera membawanya ke Puskesmas, namun Bai Sanang menolak karena masyarakat Barasi masih percaya bahwa di Puskesmas hanya tempat bagi orang sakit menjemput maut, sehingga terlalu banyak roh orang mati yang bersemayam di Puskesmas. Tetapi Bai Sanang tak mau anaknya mati. Bai Sanang takut disalahkan keluarga persetujuan suaminya. Hal ini karena segala keputusan mesti dirundingkan oleh para lelaki. Sementara perempuan harus mengikuti segala keputusan keluarga suami . Konflik Mendekat-menjauh . pproachavoidance conflic. Konflik ini akan muncul dalam waktu yang bersamaan, timbulnya dua motif yang berlawanan mengenai satu objek, salah satu motif bersifat positif . , dan motif lainya bersifat negatif . ak menyenangka. Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Karena itu, bisanya tokoh cerita memiliki pertimbangan apakah akan mendekati atau malah menjauhi objek Konflik Taksilitoni berpikir untuk bersijingkat menuju uma si lelaki bujangAilelaki bujang yang amat dicintainya. Hanya saja ia tersadar bahaya yang mengancam. Sebab, ia mesti melewati sungai yang mungkin sedang meluap, melintasi rawarawa hutan sagu, melewati ladang gette, melewati semak belukar yang dialiri air, meniti sebatang kayu untuk melewati rawa-rawa, menyusuri tepi sungai roh kunang-kunang, dan menerobos semak popoupou yang lebat-rapat-lembab dan gelap . Pengaruh Id. Ego, dan Superego terhadap Konflik Batin Tokoh dalam Novel Burung Kayu karya Niduparas Erlang berdasarkan Tinjauan Psikoanalisis Sigmund Freud Novel Burung Kayu karya Niduparas Erlang memiliki banyak konflik batin yang dirasakan oleh para tokoh yang diceritakan. Salah satunya ialah yang dirasakan oleh tokoh utama yaitu Saengekerei yang selalu merasa bersalah karena perbuatan yang telah ia lakukan dimasa lalu yang mengakibatkan kakaknya meninggal dunia, sehingga ia selalu merasa bersalah kepada ipar dan . Pengaruh Id Rasa berahi Saengkerei kepada eiranya merupakan dorongan yang sangat mendasar, betapa jiwanya terpikat dan melekat pada senyuman Taksilitoni yang amat begitu jelita di matanya. Dorongan dalam diri ini berdasarkan psikoanalisis merupakan aspek biologis ISSN 2541-3252 Vol. No. Sep. kepribadian atau Id mengenai kebutuhan dasar seksualitas. Keprihatinan Saengkerei kepada Legeumanai kecil membuat Saengekerei harus menanggung kebutuhan ponakan, iparnya yang baru saja menjanda dan juga pakan untuk ternaknya. Ucapan terima kasih Taksilitoni kepada Saengkerei yang diikuti senyuman paling menawan membuat Saengkerei terpesona dan merasa berahi, sekujur tubuhnya terasa menggigil dan jiwanya awang-awang menyaksikan senyuman janda yang begitu jelita di lihatnya . Pengaruh Ego Aspek Id kemudian dilanjutkan dengan keegoisan atau pengaruh Ego yang dialami oleh tokoh untuk mendapatkan kepuasan. Ego merupakan manajer kepribadian untuk mengambil keputusan (Juidah, 2018: . Hal tersebut berarti Ego sebagai kekuatan yang paduh pada prinsip realitas. Keegoisan Saengkerei yang saat itu sedang menjabat sebagai kepala disa di Barasi, ketika itu sedang terjadi keributan antara perusahaan kayu dengan warganya yang mana tiga alat berat yang dikirim perusahaan kayu dibakar oleh warga setempat agar tidak menggunduli hutan untuk dibangun sebuah perusahaan. Namun. Saengkerei anaknya. Legeumanai untuk memeroleh Beasiswa di sebuah univerisitas Padang, yang tak lain adalah pemilik perusahaan yang mengirim tiga alat berat tersebut . Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan ISSN 2541-3252 Vol. No. Sep. BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia . Pengaruh Superego Keegoisan yang dilakukan oleh Saengkerei hingga membuat kakaknya meninggal membuat Taksilitoni harus menanggung akibatnya yakni menjadi seorang janda anak satu. Superego, menurut Minderop . 6: . dimaknai dengan Auhati nuraniAy yang menilai perbuatan baik dan buruk. Taksilitoni Legeumanai untuk mewarisi dendam dan membalaskan dendam uma seberang dengan tetap hidup di uma suku-SuraAo-Sabbeu dengan syarat harus menikah dengan adik ipar yang masih membujang yang ada di uma tersebut. Segalanya demi menjaga dendam turunan atas kematian suaminya. Bagaiogok . SIMPULAN Setelah melakukan analisis konflik batin dalam novel Burung Kayu karya Niduparas Erlang berdasarkan tinjauan psikoanalisis Sigmund Freud, peneliti dapat menyimpulkan sebagai berikut. Konflik batin yang terdapat dalam novel Burung Kayu karya Niduparas Erlang dialami oleh tokoh Legeumanai. Bai Sanang, dan Taksilitoni. Legeumanai dituntut orang tuanya untuk menjadi seorang yang modern agar tidak tertinggal dan bisa uma-nya membalaskan dendam atas kematian Bai Sanang yang mengharapkan anaknya segera pulih dari demam dengan memeriksakannya ke Puskesmas, namun tidak bisa mengambil keputusan karena dalam uma-nya yang berhak mengambil keputusan adalah lelaki dan keluarganya, sementara perempuan harus menuruti keputusan yang dibuat oleh suami dan keluarga suaminya. Selanjutnya. Taksilitoni seorang siokkok yang sedang merasa jatuh cinta kepada silainge bernama Bagaiogok, yang mana pada malam hari ingin bertemu kekasih yang amat dikaguminya, namun memikirkan bahaya yang menghadangnya untuk menuju uma kekasihnya itu. Penelitian ini dilakukan analisis dengan teori Psikoanalisis Sigmund Freud, yang mencakup tiga struktur kepribadian, yaitu id, ego, dan superego. Tokoh yang mengalami pengaruh id ialah Saengkerei yang merasa berahi kepada iparnya. dalam masalah ini membahas mengenai aspek biologis untuk memenuhi kepuasan seksualitas seseorang. Pengaruh ego juga dialami oleh Saengkerei yang tidak terlalu memperdulikan warganya karena lebih mementingkan pendidikan anaknya agar kelak bisa menjadi orang sukses yang bisa membanggakan uma di sukunya yang ada di Hulu. Selanjutnya. Superego dialami oleh tokoh Taksilitoni yang menginginkan kanaknyaAiLegeumanai mewarisi dendam turunan yang mengakibatkan ayahnya meninggal dunia atas kekalahan pakoAo dari uma seberang Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia BAHTERA INDONESIA: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia DAFTAR PUSTAKA