KONSTRUKSI PENDIDIKAN KIRI ISLAM (Membumikan Pemikiran Hassan Hanaf. Achmad Reyadi Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya Abstrak: Tulisan ini berusaha menganalisis pemikiran Kiri Islam Hassan Hanafi dan implikasinya terhadap pendidikan Islam. Dalam pandangannya, pendidikan adalah dialektika tradisi-fenomenologissosialistik. kebudayaan-peradaban-kebudayaan, yang melibatkan sifat konservatif-progresif-perenialistik-esensialistik dialektika dekonstruksi-rekonstruksi-pencerahan, yang menghasilkan manusia unggul yang tahu, mau, dan mampu bebas, merdeka, mendobrak, mengkonstruk, dan mencerahkan. Pendidikan dalam dialektika tersebut melibatkan metode edukatif, emansipatoris, dan inventif dengan pola nomotetik, ideografik, dan transaksional. Kata kunci: Kiri Islam. Hassan Hanafi, pendidikan Islam Abstract: This article tries to analyze the left Islamic thought of Hassan Hanafi and its implications toward Islamic education. In his view, education is a social- dialectical phenomenon needs. civilization contstrain, involves concervative-progressive-perenialticesencialistic in the circle of dialectic dekons truction-reconstructionenlightenment, which generates superior man who comprehend, have willingness, and able to be free, independent, burst, constructive and Education in this dialectic involves educative, emansipatory, and inventive within nomotetic patterns, ideografik, and transactional. Keywords: Left Islam. Hassan Hanafi. Islamic education Pendahuluan Akar-akar kehidupan awal, sekarang, dan yang akan datang tidak lepas dari persoalan hadyts dan qadym, berubah dan menetap, antropologis dan teologis, kebudayaan dan peradaban, kata kerja dan kata benda, potensial dan aktual, proses dan produk, historisitas dan normativitas, dan seterusnya hingga muncul dinamika dan arah pergeseran filsafat pendidikan Islam, yang ujung pangkal serta prosesnya merujuk kepada persoalan metafisika. Metafisika adalah filsafat itu sendiri, mengingat metafisika menuntut dan menuntun ke arah serta dari persoalan dan pemecahan masalah ada dan tiada, berubah . ecoming, ongoingnes. atau menetap . , umum . dan khusus . , teologis-kosmologis-antropologis dan ontologis, epistemologis dan aksiologis, induksi dan deduksi, akal dan wahyu, filsafat dan agama, termasuk di dalamnya dinamika dan arah pergeseran itu sendiri. Pendidikan sebagai perbuatan khas manusia menyangkut persoalan tersebut. Kajian ini berusaha mengelaborasi pemikiran Hasan Hanafi tentang Pendidikan Kiri Islam yang membebaskan dengan pendekatan fenomenologis yang mengandung langkah reduksi fenomenologisreduksi eiditis-eidos, dan menggunakan metode paedagogis yang meliputi kisi-kisi antropologis-normatif-yang praktis. Alasan pembahasan pemikiran Hassan Hanafi ini, karena paradigma universalistik yang diinginkan Hassan Hanafi harus memulai dari pengembangan epistemologi ilmu baru. Orang Islam tidak butuh hanya sekedar menerima dan mengambil alih paradigma-paradigma ilmu modern yang dibawakan oleh orang Barat, melainkan juga harus mengikis habis penolakan mereka terhadap peradaban ilmu orang Arab. Karena ilmu dan peradaban Barat bertumpu pada materialisme, maka haruslah dikembangkan pengertian yang tepat bagi kaum muslimin tentang khazanah peradaban Barat itu sendiri. Hal-hal yang fitriah, yang memang ditolak oleh Islam yang perlu digunakan dalam melakukan seleksi atas partikel peradaban Barat yang masuk ke dunia Islam. Dari kebutuhan melakukan seleksi dan dialog konstruktif dengan peradaban Barat itu, yang memiliki kelemahan-kelemahan serius, lahirlah kebutuhan untuk mengenal dunia Barat dengan setepattepatnya. Tadrys Volume 8 Nomor 1 Juni 2013 Upaya pengenalan itu sebagai unit kajian ilmiah, berbentuk ajakan kepada ilmu-ilmu keBaratan . l-istighryb, oksidentalism. sebagai imbangan bagi ilmu-ilmu ketimuran . l-istisyryq, orientalism. Oksidentalisme bermaksud mengetahui peradaban orang Barat sebagaimana adanya, termasuk kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan yang dimilikinya. Dari pendekatan seperti inilah lalu akan muncul kemampuan mengembangkan kebijakan . olicy developmen. yang diperlukan kaum muslimin dalam jangka panjang. Sekilas tentang Hassan Hanafi Hassan Hanafi adalah seorang filosof hukum Islam, seorang pemikir Islam, dan guru besar pada Fakultas Filsafat Universitas Kairo. Ia memperoleh doktor dari Sorbonne University. Paris, pada tahun 1 Ia banyak menyerap pengetahuan Barat. Ia mengkonsentrasikan diri pada kajian pemikiran Barat pramodern dan modern. 2 Hanafi dikenal sebagai tokoh Kiri Islam . l-Yasar al-Islym. yang mengusung projek turast wa tajdyd. 3 Projek ini mendasarkan diri pada dialektika yang dikategorisasikan atas kemarin . l-mydh. yang dipersonifikasikan dengan turast qadym . hazanah klasi. , esok . l-mustaqba. yang dipersonifikasikan dengan turats gharby . hazanah Bara. , dan sekarang . l-hyl. yang dipersonifikasikan dengan realitas kontemporer . Turats, dalam logika dialektika ini, memuat energi hidup dan daya dobrak kesadaran berpikir dan berperilaku yang dapat menjadi pijakan setiap generasi. Elemen kritis turats yang demikian ini, selama ini memang stagnan. Turats dijadikan topeng kebohongan bagi kaum 1Karel A. Steenbrink. Metodologi Penelitian Agama Islam di Indonesia Beberapa Petunjuk Mengenai Penelitian Naskah Melalui : SyaAoir Agama dalam Bahasa Melayu dari Abad 19, (Semarang: LP3M IAIN Walisongo, 1. , hlm. 2 Kazuo Shimogaki. Kiri Islam Antara Modernisme dan Posmodernisme. Telaah Kritis atas Pemikiran Hassan Hanafi, terj. Imam Aziz dan Jadul Maula (Yogjakarta: LKIS, 2. , 3Banyak pengamat mengatakan bahwa karya Hassan Hanafi, khususnya yang tercermin dalam gagasannya Al-Yasar Al-Islam, mengandung butir-butir besar, orisinal radikal dan kontroversial. Lihat: Jurnal Islamika. No. JuliAeSeptember 1993, 16. adalah seorang filosof hukum Islam. Selain menjadi pemikir, dia menjadi guru besar pada fakultas filsafat Universitas Kairo yang yang dikenal dengan gagasannya tentang Kiri Islam yang dicetuskan pada tahun 1981. Lihat hal ini dalam Departemen Agama. Ensiklopedi Islam (Jakarta: PT Ichtiar Baru, 1. , hlm. Tadrys Volume 8 Nomor 1 Juni 2013 kapitalis, kolonialis, dan feodalis untuk melanggengkan keangkuhan dan kekuasaan mereka. Turats harus dikembalikan pada posisinya yang terhormat, yakni penjaga elemen kritis sehingga selalu terbuka atas dialog secara jujur dan terbuka. 4 Misalnya anarkisme, yang selama ini dimitoskan dengan kenegatifan, justru dari rahim ideologi inilah semangat revolusioner, pembebasan, dan pemerdekaan lahir. Karena pada zamannya, anarkisme pernah menjadi pendorong perubahan sosial menuju masyarakat egaliter dan demokratis, terbebas dari belenggu otoritarianisme. Substansi Pemikiran Hassan Hanafi Corak atau watak pemikiran Hassan Hanafi yang hendak membawa dunia Islam bergerak menuju pencerahan yang menyeluruh. Hassan Hanafi adalah sosok pemikir yang unik, mengingat ia tidak dapat dikategorikan sebagai pemikir tradisional dikarenakan ia membongkar dan mengkritik pemikiran tradisonal. Ia dikenal sebagai modernis karena ia mengkritik modernitas dan menjadikan wacana tradisional sebagai landasan pemikiran yang diproyeksikan pada masa kini dan yang akan datang. Selain itu, ia termasuk dalam kategori fundamentalis dikarenakan ia memakai analisis intelektual dengan penekanan pada rasionalistik. Pemikiran Hassan Hanafi bersifat reformis Islam yang mengakumulasikan pemikiran fenomenologis dengan aplikasi metodologi dialektika yang dilandaskan pada kesadaran. Pemikiran yang memperhatikan urgensi historisitas, yakni senantiasa beranjak dari konteks sejarah dalam menapaki kehidupan kontemporer. Pemikiran yang senantiasa mengarah kepada upaya melakukan rekonstruksi terhadap 4Dalam buku al-Muqaddimah tersebut. Ibnu Khaldun menegaskan tentang fase-fase terbentuknya fisik dan mental manusia oleh faktor-faktor geografis dan cuaca manusia berada. Di samping cuaca, menurut Ibnu Khaldun, tradisi dan perilaku juga ikut mempengaruhi tingkat berpikir dan kecerdasan. Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa makanan dan minuman juga mempunyai pengaruh besar terhadap pembentukan watak, dan jiwa manusia yang pada saatnya akan ikut mewarnai orientasi dan perilaku sosial. Lihat Muqaddimah Ibnu Khaldun, hlm. 5Hasan Hanafi. Islamologi II: Dari Rasionalisme ke Empirisisme, terj. Miftah Faqih (Yogyakarta: Lkis Yogyakarta, 2. , hlm. 6Abad Badruzaman. Kiri Islam Hassan Hanafi : Menggugat Kemapanan Agama dan Politik (Yogyakarta : Tiara Wacana, 2. , hlm. Tadrys Volume 8 Nomor 1 Juni 2013 tradisi yang merupakan fakta sejarah dalam menjawab problema kontemporer. Pemikiran yang bercorak dinamis dan progresif yang dibingkai dalam proyek al-turats wa al-tajdyd . radisi dan pembaharua. Pemikiran post-tradisionalis yang berupaya melakukan dekonstruksi yang sekaligus rekonstruksi terhadap tradisi. Pemikiran yang mengarah kepada pencerahan . l-tanwy. , dengan menggunakan rasionalitas di samping tetap menghargai dan tidak mengabaikan aspek perasaan Rasionalitas yang digunakan bersama-sama dengan kekuatan perasaan selalu diwarnai pertimbangan sejauh mana pemikiran itu mampu lebih aktual, yakni di samping tuntutan relevansi dengan jalan pemikiran manusia, ia sekaligus memberi kemanfaatan dan kesejahteraan bagi manusia. Adapun material dari pemikiran Hassan Hanafi terdapat pada karyanya. Dirysat Islymiyyah, meliputi: . teologi yang mendesakkan kepada perlunya bahwa sudah saatnya kita bergeser dari teologi statis-irrasional menuju anarkis-rasional. filsafat dan mistik . yang mendesak akan perlunya bahwa rekonstruksi nalar klasik dalam pemikiran filsafat adalah prasyarat bagi terwujudnya peradaban masa dan . tentang manusia yang mendesak bahwa sebagai pemimpin di bumi . halyfah fy al-ard. , manusia sebenarnya memiliki otoritas yang besar untuk menentukan ke arah mana peradaban akan Akan tetapi, otoritas manusia ini sering terdistorsi karena dominannya peradaban yang berpusat pada Tuhan. Oleh karena itu, tugas utama manusia . mat Isla. sekarang ini adalah menggeser peradaban dari bingkai ketuhanan klasik ke bingkai neohumanisme, dari teosentrisme ke antroposentrisme. Hassan Hanafi mendiskusikan beberapa issu penting berkaitan dengan kebangkitan Islam. Secara singkat dapat dikatakan. Kiri Islam9 7Ibid. , hlm. 8Hasan Hanafi. Islamologi I: Dari Teologi Statis ke Anarkhis, terj. Miftah Faqih (Yogyakarta: LKiS, 2. , hlm. 9Wacana Islam Kiri/Kiri Islam mulai hadir pada tahun 1981 di Mesir, dibawa oleh Hasan Hanafi, seorang Doktor muda yang mengajar di Fakultas Sastra Universitas Kairo dengan Jurnal Madha YaAoni al-Yasar al-Islami. Jurnal yang beliau susun kemudian mulai mendunia, tapi terhambat oleh masalah dana. Pada tahun 1988. Kazuo Shimogaki, seorang pemerhati Timur Tengah dari Institute of Middle East Studies International University Jepang membuat buku yang mengkritisi jurnal ini yang kemudian dialihbahasakan ke Bahasa Indonesia pada tahun 1993. Di Indonesia sendiri Tadrys Volume 8 Nomor 1 Juni 2013 bertopang pada tiga pilar dalam rangka mewujudkan kebangkitan Islam, revolusi Islam . evolusi tauhi. , dan kesatuan umat. Pilar pertama adalah revitalisasi khazanah Islam klasik. Hassan Hanafi menekankan perlunya rasionalisme untuk revitalisasi khazanah Islam itu. Rasionalisme merupakan keniscayaan untuk kemajuan dan kesejahteraan Muslim serta untuk memecahkan situasi kekinian di dalam dunia Islam. Pilar kedua adalah perlunya menantang peradaban Barat. Ia memperingatkan akan bahaya imperialisme kultural Barat yang cenderung membasmi kebudayaan bangsa-bangsa yang secara kesejarahan kaya. Ia mengusulkan AooksidentalismeAo sebagai jawaban AoorientalismeAo dalam rangka mengakhiri mitos peradaban Barat. Pilar ketiga adalah analisis atas realitas dunia Islam. Untuk analisis ini, ia mengkritik metode tradisional yang bertumpu pada teks . , dan mengusulkan suatu metode tertentu, agar realitas dunia Islam dapat berbicara bagi dunianya sendiri. Mujamil Qomar11 sekaitan dengan problem Filsafat Pendidikan Islam yang bersangkut paut dengan gambaran pikiran Hassan Hanafi di atas, menyebutkan bahwa problem utama pendidikan Islam adalah problem epistemologi. Kelemahan-kelemahan pendidikan selama ini sesungguhnya bersumber dari kelemahan epistemologinya, tataran epistemologiAedalam konteks ini merupakan subsistem yang membicarakan seluk-beluk pengetahuan pendidikan Islam, termasuk metode untuk meraih dan mengembangkan pengetahuan tentang pendidikan Islam berposisi mempengaruhi komponen lainnya. Hal ini bisa diiBaratkan antara akar dan batang pohon. Pendidikan Islam Barat batang pohon sedang epistemologi adalah akarnya. Kesuburan batang pohon sangat bergantung pada kesuburan akarnya. Mapan tidaknya Ilmu Pendidikan Islam sangat bergantung pada kokohrapuhnya epistemologinya. Lantaran begitu luasnya cakupan epistemologi itu. Gallagher sampai menyimpulkan epistemologi sama luasnya dengan filsafat. ada Eko Prasetyo yang menyusun AuIslam Kiri Melawan Kapitalisme Modal dari Wacana Menuju GerakanAy pada tahun 2002. Lihat Shimogaki. Kiri Islam, hlm. 10Ibid. , 21-22. 11Mujamil Qomar. Epistemologi Pendidikan Islam, (Jakarta: Erlangga, 2. , 371. Tadrys Volume 8 Nomor 1 Juni 2013 Bila kita melibatkan diri secara sadar dan sekaligus mengalami hidup dan kehidupan kini di sini, termasuk dalam situasi pendidikan di mana pendidikan itu berlangsung, maka diduga sudah banyak perubahan yang terjadi di dunia ini, termasuk pemikiran dan praktik pendidikan Islam, lebih-lebih di Indonesia. Salah satu indikator adanya perubahan dan sekaligus adanya yang menetap sebagai arah pemikiran dan praktik pendidikan Islam, yang mengandung makna bahwa insan pendidikan yang bertanggungjawab menyadari dan mengalami bahwa dirinya berada di tengah-tengah lingkungan yang selalu berubah sekaligus menyadari dan mengalami bahwa dalam dan dari perubahan tersebut terdapat adanya yang menetap . ekekalan, keabadian. AuarahAy pergesera. Dengan pernyataan lain, bahwa dalam Pendidikan Islam yang dikembangkan, di samping menyangkut ada yang berubah, juga ada upaya mempertahankan hal-hal yang perlu diabadikan, selaras dengan napas ajaran Islam yang mengandung sisi mujahid . isi keabadia. , mujtahid . roses upaya penurunan keabadian ke tataran praksis hidup sungguh-realistis Islam. dan mujaddid . enyadaran dan pengalaman pembaharuan yang erat ketat dengan dinamika dan arah pergeseran hidup sungguh-reaslitis ini. Para filosof Islam berpendapat bahwa perubahan itu melekat . dengan manusia, secara individu dan secara kolektif, tetapi disamping perubahan ada hal-hal yang tidak perlu berubah dan perlu Ada hal-hal yang sifatnya relatif, sedang yang lain adalah Ada hal-hal yang sifatnya berkesinambungan . sedang yang lain beralih . Pandangan Hassan Hanafi tentang Pendidikan Kiri Islam dan Implikasinya terhadap Pendidikan Islam Kesadaran awal dalam menganalisis pendidikan Islam Kiri berwajah dua, namun satu sama lain bertalian bagaikan lingkaran . tesis-antitesis-sintetis, yang mengacu pada: pertama, suatu produk renungan filosofis tentang pendidikan Islam, yakni pendidikan Islam Kiri merupakan akumulasi hasil pemikiran . fi12Hasan Langgulung. Beberapa Pemikiran Tentang Pendidikan Islam. Jakarta: Gaya Media Pratama, 2002, hlm. Tadrys Volume 8 Nomor 1 Juni 2013 losof tentang pendidikan Islam, sehingga mengarah kepada telaah produk hasil pemikiran pendidikan Islam. kedua, suatu aktivitas, yaitu proses berpikir yang dilakukan secara radikal, sistematis, universal, kritis, dan metodis tentang pendidikan Islam, sehingga tulisan ini diarahkan pada melakukan telaah secara radikal, sistematis, universal, kritis, dan metodis tentang hakikat pendidikan Islam. namun tulisan ini tidak sekedar mengarah pada das sein . e fact. materi pendidikan Islam yang telah ada, akan tetapi mengarah juga kepada menggali makna-makna yang seharusnya . as sollen. de jur. Umar Muhammad al-Thumy al-Syaibani13 mendefinisikan bahwa filsafat pendidikan adalah aplikasi filsafat umum terhadap pendidikan. Kalau Filsafat Pendidikan Islam disebut sebagai aplikasi filsafat Islam, maka pemikiran Hassan Hanafi memungkinkan untuk ditarik aplikasinya terhadap pendidikan Islam tersebut, termasuk ke dalamnya adalah persoalan-persoalan yang muncul, seperti: persoalan pertama, menyangkut metafisika . pendidikan Islam. menyangkut masalah epistemologi pendidikan Islam. dan ketiga menyangkut masalah aksiologi pendidikan Islam. Metafisika . pendidikan Islam bersinggungan dengan masalah hakikat, struktur, dan potensi-potensi manusia. pendidikan bersinggungan dengan masalah sistem, upaya membangun, dan metode pendidikan Islam. sedangkan aksiologi pendidikan Islam mencakup kaidah-kaidah penerapan praktis dan strategi pembangunan pendidikan Islam. Qomar menyebutkan dalam sistematika filsafat terdapat tiga sub sistem yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. 14 Hal ini berdekatan dengan metode paedagogis yang berkisikisi antropologis-normatif-yang praktis. Hassan Hanafi mengenai hakikat cenderung kepada dialektika sintetis, hal ini terlihat pada pandangannya bahwa manusia berada dalam ketiga lingkaran, yaitu kemarin . l-mydl. yang dipersonifikasikan dengan turats qadym . hazanah klasi. , esok . l-mustaqba. yang dipersonifikasikan dengan turats gharby . hazanah Bara. , dan sekarang . l-hyl. yang dipersonifikasikan dengan realitas kontemporer . l13Umar Muhammad al-Thoumy al-Syaibani. Falsafah al-Tarbiyah al-Islamiyah . Tharabalis, 1. , hlm. 14 Qomar. Epistemologi Pendidikan Islam, hlm. Tadrys Volume 8 Nomor 1 Juni 2013 wyqiA. Karena turats dalam logika dialektika tersebut bukanlah sekedar peninggalan masa lampau yang tidak bermakna. Sebaliknya, dalam turats terdapat energi hidup dan daya dobrak tentang kesadaran berpikir dan bertindak yang harus menjadi pijakan setiap generasi penerusnya. Hal ini menunjukkan bahwa dalam pendidikan Islam hendaknya ada landasan ghirah dan ghairah, di mana ghirah menyangkut konservatif, sedangkan ghairah menyangkut inovatif dan Namun ghirah dan ghairah serta konservatif, inovatif, dan progresif baru merupakan bahan . esis dan antiteti. ke arah konstruksi yang baru, bermanfaat, dan kejahteraan hidup dan kehidupan yang kental bersangkut paut, terpaut, dan bertautan serta mempertautkan dalam aksi kini di sini yang berkesanaan dan saat berlangsung melangsungkan tema kepribadian, yaitu badan, dunia . qidah, pendapat, pandangan, philosophy of lif. , historisitas . l-mydly, al-mustaqbal, al-hyl, al-hydhi. , dan komunikasi . ertikal-horizonta. Pendidikan Kiri Islam memberi landasan pada pendidikan Islam baik pada tataran refleksi . teoritis, pemikira. maupun tataran aksi . berpikir praktis, perbuatan atau tindakan, treatmen. pendidikan Islam, berupa dialektika kaynunah-sayrurah-shayrurah . eing-process-becomin. atau dialektika aksi-visi-aksi. Pendidikan Kiri Islam15 menuntut dan menuntun pendidikan Islam, baik pemikiran maupun perbuatan pendidikan Islam tersebut, 15Islam Kiri lahir atas nama keadilan sosial dan keadilan ekonomi. Dia lahir untuk menentang Kapitalisme dan Globalisasi yang semakin menindas rakyat, baik yang dilakukan oleh pihak asing maupun saudara sebangsa sendiri. Hasan Hanafi dengan tegas berkata. AoKiri Islam berada dalam barisan orang-orang yang dikuasai, yang tertindas, kaum miskin, membela kepentingan seluruh umat manusia, mengambil hak-hak kaum miskin dari tangan orang-orang kaya, memperkuat orang-orang yang lemah dan menjadikan manusia sama-setara Auseperti gerigi sisirAy, tidak ada perbedaan kecuali atas dasar ketaqwaan dan amal salehAo. Sedangkan Eko Prasetyo mendefinisikan Kiri dalam agama sebagai Ao. agama yang meletakkan rakyat tertindas sebagai pihak utama yang patut dibela, dilindungi, dan diperjuangkanAo. AuKiriAy sendiri adalah sebuah istilah ilmu politik yang berarti resistensi dan kritisisme dan menjelaskan jarak antara realitas dan idealitas. Nama ini menjamin adanya gerakan, perlawanan, revolusi, dan bukan sekedar perbincangan tanpa hasil. Jalaluddin Rakhmat mencatat adanya kesamaan dan perbedaan antara Marxisme dengan Islam Kiri ini. Kesamaannya adalah, pertama, dua-duanya sangat concern pada nasib orang lemah, dan kedua, dua-duanya sama-sama berfikir bahwa kaum mustadhAoafin . aum Tadrys Volume 8 Nomor 1 Juni 2013 ke arah penyadaran . dan pengalaman . pendidikan yang di dalamnya secara inheren ada hal yang keabadian yang mengakibatkan kesemestian pendidikan itu merupakan pewarisan sebagai arah pergeseran gerak peralihan dari potensial ke aktual yang melibat kerja eksistensial, sehingga pendidikan tersebut juga kental erat pertautannya dengan inovasi dan progresif sebagai daya pendobrak yang diawali kebebasan16 dan kemerdekaan ke arah pencerahan, yang sama seperti halnya sisi konservatif yang tak terlepas dan tak dapat dilepaskan dari kerja eksistenial untuk sampai kepada tujuan yang berdimesi aksiologis yang biasanya bersifat universal yang bersifat being . sebagai arah pergeseran gerak keterarahan . , sehingga dinamika . novatif dan progresi. itu bermakna, bermaanfaat, dan mendukung terwujudnya kesejahteraan yang konstruktif, jauh bahkan mengikis habis hal-hal yang bersifat Pendidikan pembebasan akan dicapai dengan menumbangkan realitas penindasan, yaitu dengan mengisi konsep pedagogis yang memberikan kekuatan pembebasan yang baru. Di sinilah kita perlu memperbincangkan soal kurikulum pendidikan yang membebaskan. Tapi, terlebih dahulu kita perlu mengkritik konsep pengetahuan selama ini. Dan sebenarnya pengetahuan yang ingin didorong oleh pendidikan Islam Kiri adalah pengetahuan melalui transformasi dan subversi terhadap pengetahuan itu sendiri, yaitu pengetahuan yang AudidepositokanAy dalam buku-buku teks sehingga apa yang dihasilkan dari pola pendidikan dan pengetahuan ini akan terpisah dengan realitas kontekstual. Watak pemikiran Hassan Hanafi secara teoritis-filosofis adalah kiri revolusioner. Sebagai seorang yang memiliki sense of reality yang tertinda. tidak boleh diam, melainkan mereka harus bangkit dan merubah sistem yang tidak berpihak pada mereka. Tetapi juga ada perbedaan jauh diantara keduanya, diantaranya posisi agama sebagai motivator bagi Islam Kiri, posisi Allah yang berada pada tempat tertinggi, dan moralitas yang cenderung diabaikan dalam Marxisme. Ibid. , hlm. 16Untuk makna pembebasan dalam kajian ke-Islam-an-pendidikan lebih lanjut baca. Asghar Ali Angineer. Islam dan Pembebasan (Yogyakarta: LKiS, 1. , hlm. 17Listiyono Santoso. Epistimologi Kiri. Seri Pemikiran Tokoh (Yogyakarta: Ar-Ruzz Media, 2. , hlm. Tadrys Volume 8 Nomor 1 Juni 2013 kuat. Hassan Hanafi memiliki pandangan sangat empiris atau Sebagai muslim yang reformer, ia bertindak sebagai pengusung kebudayaan kritis terhadap Islam dan pemikir peradaban Islam. Strategi kebudayaan sebagai upaya sadar manusia mentransendensikan kesulitan, rintangan, bahkan persoalan-persoalan kekinian dan kedisinian. Hassan Hanafi dalam strategi kebudayaan yang bersifat komprehensif yang dikenal dengan proyek tradisi dan modernisasi, dengan tiga agenda utama, yaitu: . sikap kita terhadap tradisi. sikap kita terhadap tradisi Barat. sikap kita terhadap realitas. Ketiga agenda tersebut merupakan dialektika ego dengan dirinya, yakni warisan masa lalu, dan dialektika dengan orang lain, dalam sebuah medium waktu tertentu, yaitu dialektika dengan kekinian. Ketiga agenda itu sebagai tindakan yang bukan sekedar intellectual exercise, tetapi memang ditujukan sebagai perubahan nyata dalam dunia Islam. Ada dinamika dan arah pergeseran pendidikan Islam terbuktikan dari pandangan Hassan Hanafi dalam karyanya Min AoAqydah ily alTsaurah . ari teologi statis ke anarki. , yaitu pergolakan hidup menuju eksistensi yang berintensionalitas ke arah pencerahan yang diawali dengan kebebasan dan kemerdekaan diri baik secara individual maupun kesatuan sosial, lepas dan melapaskan imperalistik, feodalistik, dan kekuasaan yang bersifat idol. Di dalam karya tersebut. Hassan Hanafi mendesak perlunya tuntutan dan tuntunan waktu sebagai jiwa zaman umat muslim sekarang dan ke depan sudah saatnya umat Islam bergeser dari teologi statis-irrasional menuju anarkis-rasional. Sementara itu dalam pendidikan Islam terdapat praktik-praktik pendidikan yang kurang mencerminkan pendidikan pembebasan, yaitu: Pertama, arah pendidikan yang kurang integral/komprehensif. Dalam artian bahwa pendidikan Islam sering tidak menekankan ranah afeksi . ilai dan sika. dan psikomotorik . erilaku dan penerapa. namun lebih menekankan ranah kognisi . afalan dan pengetahua. Kedua, tiadanya kebebasan akademis dan kurang mencerminkan pendidikan yang demokratis. Pendidikan dijadikan ajang indoktrinasi 18Hasan Hanafi. Dari Akidah Ke Revulusi : Sikap Kita Terhadap Tradisi Lama ( Jakarta: Paramadina, 2. , hlm. Tadrys Volume 8 Nomor 1 Juni 2013 dan pemaksaan-pemaksaan paham. Guru sering berperilaku otoriter dan doktriner. Ketiga, kurang adanya kemandirian dan tidak dibebaskan untuk menghasilkan berbagai produk kreatif dan inovatif, sebab dipenuhi oleh intervensi kekuasaan. Keempat, budaya dialog yang sejak masa Nabi hingga masa tybiAoyn melalui tradisi mujydalah, telah lama redup akibat umat Islam dirundung kejumudan yang berkepanjangan. Hal ini dipicu dengan anggapan pintu ijtihad telah tertutup19, sehingga menjadikan tradisi keilmuan Islam mandul. Kelima, sering terjadi praktik kekerasan dalam dunia pendidikan kita. Kekerasan telah menjadi budaya masyarakat. Sebagai contoh masih dominannya antara hukuman daripada ganjaran, apalagi hukuman fisik yang sama sekali jauh dari nilai-nilai humanisme. Kenyataan ini memperjelas adanya dinamika dan arah pergeseran pendidikan Islam, sehingga pendidikan Kiri Islam harus memberi inspirasi kepada pemikiran dan perbuatan pendidikan Islam, bahwa pendidikan sebagai pemanusiaan manusia perlu upaya sadar ke arah pemberian bantuan kepada generasi untuk menjadi manusia yang tahu, mau, dan mampu menggugah dan mengubah serta menggubah diri menjadi manusia unggul, manusia yang lepas dan melepaskan penjajahan, ia bebas dari distorsi dan bebas untuk hidup sebagaimana harus dan dapat hidup sebagai manusia sebagai wakil Allah, yang jujur, adil, dan damai, sehingga melahirkan manusia yang tahu, mau, dan mampu meneliti alam . , mengerjakan alam . , dan bekerjasama dengan alam . sebagai khalifah Allah SWT di bumi yang memungkinkan beribadah kepada-Nya. Ia bukan sekedar umgebung . di bumi, tetapi berada sekaligus mengada di bumi dalam rangka mengekspresikan diri yang menghadirkan Allah SWT secara real, rasionalistik empirik yang berintensionalitas kepada pertautan mesra yang dialogis transaksionalistis diri dengan diri . ku kecil dan Aku besar. Khyda dan Khyd. di bumi ini. Siswa bukanlah manusia jajahan dan guru bukanlah penjajah, tetapi interaksi dialogis yang transaksional dan Masyarakat yang termarjinalkan tidak akan pernah bisa lepas dari terkaman kemiskinan struktural yang terus 19Untuk lebih jelasnya lihat Fazlur Rahman. Membuka Pintu Ijtihad (Bandung: Pustaka, 1. , hlm. Tadrys Volume 8 Nomor 1 Juni 2013 dipertahankan. Sementara sistem pendidikan20 yang ada juga ikut menyuburkan kesenjangan itu sendiri. Institusi-institusi pendidikan telah menjadi agen modernisasi justru menjadi biang kerok bagi munculnya kemiskinan struktural. Berbicara Aoaqidah cukup mewakili adanya, harus, dapat . arah yang bersifat intensionalitas yang bersifat eksistensial, bukan yang statis, kemandegan dan al-tsaurah cukup mewakili adanya . dinamis yang bersifat intensionalitas eksistensial juga. Sedangkan penujuan menujukkan perlunya pergeseran dialektika kaynunah-sayrurah-shayrurah. Oksidentalisme karya Hassan Hanafi yang mengarahkan sikap kita terhadap tradisi Islam, yang di dalamnya mencakup tentang pentingnya kesadaran wahyu tentang manusia dan sejarah. Kesadaran ini mengental dan menguat pada teologi Islam klasik, namun kesadaran tersebut, baik sengaja atau tidak, sering tersembunyi atau disembunyikan di balik citraan Allah SWT. Teologi Islam lebih menjelaskan keserbasempurnaan Allah SWT ketimbang makna manusia yang menyangkut tentang tema-tema dalam sejarah. Hassan Hanafi membumikannya dengan mentransformasikan dogma-dogma revolusioner dalam Islam. Pendidikan Kiri Islam mengarahkan pusat perhatiannya dan memusatkan kegiatannya pada fungsi tugas normatif ilmiah, yaitu: . kegiatan merumuskan dasar-dasar, dan tujuan-tujuan pendidikan, 20Penindasan melalui sistem pendidikan adalah penindasan yang sangat sistematis dan sulit untuk dibendung. Penindasan yang demikian, mengakibatkan rakyat kehilangan kesadaran, baik terhadap diri sendiri maupun terhadap ralitas yang telah menindas dengan ganas tersebut. Akhirnya rakyat miskin harus pasrah dan mengakui kekalahan telak yang harus dialaminya dengan mengembangkan budaya bisu . ulture of silenc. hal ini disebabkan oleh rasa putus asa yang luar biasa dan mustahil untuk menghilangkannya, karena dalam aspek kehidupan apapun mereka kalah segalanya. 21Kemiskinan struktural artinya. masyarakat yang miskin dengan kualitas yang sangat rendah harus bersaing dengan orang-orang kaya, berpendidikan tinggi, memiliki akses ke segala bidang dalam merebutkan kue kehidupan. Akhirnya yang terjadi adalah pembunuhan secara perlahan terhadap masyarakat yang termarginakan dnegan tetap mempertahankan modernisasi. 22Hasan Hanafi. Bongkar Tafsir: Liberasi. Revolusi. Hermeneutika, terj. Jajat Hidayat Firdaus, et. (Yogyakarta: Prisma Sophie Pustaka Utama, 2. , hlm. 23Hasan Hanafi. Dirasat Falsafiyat (Kairo: Maktabah Anglo Misriyyah, 1. , hlm. Tadrys Volume 8 Nomor 1 Juni 2013 konsep tentang sifat hakekat manusia, serta konsep hakekat dan segisegi pendidikan serta isi moral pendidikannya. kegiatan merumuskan sistem atau teori pendidikan yang meliputi politik pendidikan, kepemimpinan pendidikan atau organisasi pendidikan, metodologi pendidikan dan pengajaran, termasuk pola-pola akulturasi dan peranan pendidikan dalam pembangunan masyarakat dan negara dengan demikian kiri dalam praktik terbangun melalui para filosof yang membicarakan implikasi sistem pemikirannya untuk pendidikan dan para ahli pendidikan yang berfilsafat tentang pendidikan. Pendidikan Kiri Islam harus memperjuangkan pemusnahan penindasan bagi orang-orang miskin dan tertindas, ia juga memperjuangkan persamaan hak dan kewajiban diantara seluruh masyarakat. Singkat kata. Kiri adalah kecenderungan sosialistik dalam Islam. Kiri Islam, merupakan salah satu upaya mengatasi-problemproblem yang muncul sebagai akibat dari modernisasi, tak terkecuali modernisasi dunia pendidikan yang menumbuhkan kesenjangan sosial sebagai akibat akulturasi dari budaya kapitalis. Kiri Islam, sangat berkait erat dengan transformasi bentuk-bentuk pengetahuan dari modernisme ke postmodernisme. Dalam konteks keindonesiaan. Kiri Islam mempunyai peran mengembalikan budaya-budaya dominasi kepada batas-batas alamiahnya dan menepis upaya yang akan merenggut kemerdekaan dan kepribadian orang lain. Kiri Islam bertumpu pada analisis ilmiah akademis yang canggih, dengan mendiagnosa culture dalam rangka Kapitalisme, yang disinyalir Kiri Islam sebagai salah satu ancaman eksternal dunia Islam, yang ditanamkan dunia Barat telah banyak merenggut masa depan generasi muda. Kapitalisme telah mendatangkan dampak penindasan yang berujung pada penciptaan kelas-kelas sosial dan kesenjangan akses, yang mengakibatkan pemusatan otoritas ditangan pemilik modal. Kiri Islam mempunyai tujuan untuk melakukan redistribusi kekayaan diantara muslimin seadil-adilnya sebagaimana disyariatkan 24Ismail Thoib. Wacana Baru Pendidikan (Alam Tara: Yogyakarta, 2. , hlm. Gabbas Salih, al-Yamyn wa al-Yasar fy al-Islym (Beirut: al-Muassasah alArabiyah li Dirasat wa al-Nasyr, 1. , hlm. 25Ahmad Tadrys Volume 8 Nomor 1 Juni 2013 oleh Islam, menurut tingkat jerih payah masing-masing. Kebebasan dengan segala dimensinya, menegakkan pemerintahan demokrasi, dan mengajarkan bahwa semua manusia mempunyai hak untuk berperan didalam menentukan corak kehidupannya. Oleh Freire, realitas tersebut disebut sebagai conscientizacao,26 yaitu proses penyadaran yang mengarah sekaligus memproduksi suatu konsep pembebasan yang dinamis27 agar tercipta iklim kemanusiaan yang lebih utuh. Masyarakat yang temarjinalkan diharapkan mampu mempunyai sense of development. Conscientizacao maupun pembebasan Kiri Islam adalah upaya untuk menciptakan kedamaian dan harmoni antara kaum yang tertindas dan yang menindas melalui saling pengertian. Ketika keduanya sudah mempraktikkan proses penyadaran . maupun konsep yang ditawarkan Kiri Islam, maka tidak akan ada lagi penindas maupun tertindas, karena mereka saling mencintai seperti saudara, dan perbedaan dapat di selesaikan melalui diskusi yang hangat atau dalam suasana santai. Dalam proses keduanya harus sama-sama menghubungkan refleksi kritis tentang aksi-aksi masa lampau dengan usaha-usaha yang sedang dan terus dilakukan. Kesadaran kritis itu harus mampu melihat sistem yang menyebabkan mereka terpinggirkan. Pendidikan dalam ranah kritis adalah melatih setiap mereka untuk mampu mengidentifikasi kinerja dari sistem dan struktur yang ada untuk ditransformasikan. Sehingga mampu menciptakan ruang kesempatan agar mereka bisa terlibat dalam pembuatan struktur baru yang baik secara fundamental. Dengan aktif bertindak dan berfikir sebagai pelaku dengan terlibat langsung dalam permasalahan yang nyata, dan dalam suasana dalam rumusan Freire adalah belajar memahami pertentanganpertententangan sosial ekonomi serta mengambil tindakan untuk melawan unsurunsur yang menindas dari situasi pertentangan itu. 27Diharapkan dapat melahirkan tingkat kesadaran dimana setiap individu mampu melihat sistem sosial secara kritis, dan dapat memahami akibat-akibat yang saling kontradiksi tersebut dalam lingkungan lain di sekelilingnya sekaligus dapat mentransformasikan masyarakat secara kreatif dan bersama-sama melalui kesadaran Lihat Ali Maksum dan Luluk Yunan Ruhendi. Paradigma Pendidikan Universal, di Era Modern dan Post Modern (Jogyakarta: IRCiSoD, 2. , hlm. 28Maksum dan Ruhendi. Paradigma Pendidikan Universal, hlm. 26Conscientizacau Tadrys Volume 8 Nomor 1 Juni 2013 yang dialogis, maka kaum tertindas dengan segera bisa bangkit dari kesadaran yang menjauhkan seseorang dari "rasa takut akan kemerdekaan" . ear of freedo. Di sinilah letak peran penting proses penyadaran . Dalam filsafat kritisisme Immanuel Kant, 29 sikap kritis sebagai pengetahuan merupakan hasil terakhir yang diperoleh dengan adanya kerjasama diantara dua komponen, yaitu berupa bahan-bahan yang bersifat pengalaman inderawi, dan cara mengolah kesan-kesan yang bersangkutan sedemikian rupa sehingga terdapat suatu hubungan antara sebab dan akibat. 30 Karena pembebasan hanya terjadi dalam sejarahnya masing-masing, ketika ia melibatkan sebuah kesadaran kritis atas hubungan intuisi antara kesadaran itu sendiri dan dunia. Pembebasan dan pemanusiaan manusia hanya bisa dilakukan dalam artian sesunguhnya jika seseorang benar-benar telah menyadari realitas dirinya sendiri. Selanjutnya pandangan Hassan Hanafi tentang oksidentalisme berimplikasi kepada pendidikan Kiri Islam bahwa pendidikan merupakan suatu proses membumikan sistem nilai ilahiah-insaniahalamiah yang dogmatif yang menjadi suatu arah pergeseran atau peralihan secara intensionalitas dalam pengalaman secara dinamis terus menerus dan tetap terarah kepada yang universalitas. Pendidik harus siap sedia untuk mengubah metode dan kebijakan perencanaannya dalam mengikuti perkembangan zaman yang berkaitan erat dengan kemajuan ilmu dan perubahan lingkungan, namun tetap tidak floating, tetap mengakar pada sistem keuniversalitasan nilai ilahiah sekaligus insaniah dan alamiah. Dengan demikian, pendidikan merupakan sistem peralihan ke arah yang ideal dan unggul sebagai yang diharapkan manusia itu sendiri, yang mengarahkan dan mengerahkan bakat, emansipasi, dan lingkungan baik melalui jalur 29Filsafat Kritisisme Kant adalah teori pengetahuan yang berusaha untuk mempersatukan kedua macam unsur dalam filsafat rasionalisme dalam hubungan yang seimbang, yang satu tidak terpisahkan dari yang lain. Baca Nuchelmans "Filsafat pengetahuan" dalam Soejono Sumargono dan Nur Cahaya. Berfikir Secara Kefilsafatan (Yogyakarta: t. , 1. , hlm. 30Nuchelmans. AuFilsafat PengetahuanAy, hlm. 31Freire. Politik Pendidikan, hlm. Tadrys Volume 8 Nomor 1 Juni 2013 humanisasi-religius-moralis ataupun humanisasi-saintis-sarat nilai dengan dialektika spesialitas, alternativitas, dan universalitas. Oksidentalisme menjadi suatu disiplin keilmuan yang sama sekali baru di dalam pemikiran Islam. Ia merupakan suatu kajian kritik terhadap gambar dan bentuk struktur kesadaran Barat. Barat dengan menggunakan kacamata Islam, dengan tujuan mengakhiri invasi kebudayaan Barat terhadap umat Islam dengan mengembalikan mereka ke batas-batas kulturnya, sebagaimana dalam kultur umat Islam yang memiliki ketergantungan terhadap Barat, yang menyebabkan mengabaikan terhadap tradisinya yang sangat Oksidentalisme merupakan suatu strategi kultural bagi kehidupan Umat Islam, dengan melakukan dekonstruksi sekaligus rekonstruksi juga sekaligus melibatkan kritik terhadap realitas Islam melalui teologi pembebasan yang berwatak transformatif, yang pada ujung pangkal serta proses bertumpu pada kesadaran akan realitas yang berisi penafsiran dengan berbasis keterkaitan teks dengan realitas . 32 Dengan menyimak pandangan Hassan Hanafi tentang oksidentalisme berimplikasi bahwa pendidikan itu harus bersifat transformasi kulturul Islam yang mengedepankan proses progresif-perenialistik-esensialistikdekonstruksi-rekonstruksi. Pendidikan adalah dialektika pembudayaan-peradaban-pembudayaan. Pemikiran Hassan Hanafi terkenal dengan al-Yasar al-Islami sebagai agenda kebangkitan Islam. Kiri Islam ini bertopang pada tiga pilar dalam rangka mewujudkan kebangkitan Islam, revolusi Islam, revolusi Tawhid, dan kesatuan Umat. Pilar pertama adalah revitalisasi khazanah Islam klasik, yang menekankan perlunya rasionalisme untuk merevitalisasi khazanah Islam. rasionalisme merupakan keniscayaan bagi kemajuan dan kesejahteraan muslim, di samping untuk memecahkan situasi kekinian di dunia Islam. Pilar kedua adalah perlunya menentang dan menantang peradaban Barat. Oksidentalisme sebagai jawaban orientalisme dalam rangka mengakhiri mitos peradaban Barat. Pilar ketiga adalah analisis atas realitas dunia Islam, mengkritik metode tradisional yang bertumpu pada teks . 32Hassan Hanafi. Aku Bagian dari Fundamentalisme Islam, terj. Kamran AsAoad Irsyadi (Yogyakarta: Penerbit Islamika, 2. , hlm. Tadrys Volume 8 Nomor 1 Juni 2013 Pemikiran Hassan Hanafi tertumpu pada tiga landasan metodologi, yaitu: pertama, tradisi atau sejarah Islam. kedua, metode fenomenologi. dan ketiga, analisis sosial Marxian. Karena itu ia membagi tiga tahap peran agama, yaitu: tahap pertama, agama dan revolusi, tahap kedua, agama dan pembangunan. tahap ketiga, kembali ke iman. menggunakan dialektika untuk mengupas teologi sebagai antropologis yang merupakan cara ilmiah untuk mengatasi keterasingan teologi itu sendiri. yang juga memunculkan provokatif, yaitu: dari Allah ke bumi, dari keabadian ke waktu, dari takdir ke kehendak bebas, dari otoritas ke akal, dari teori ke tindakan, dari kharisma ke partisipasi massa, dari jiwa ke tubuh, dari ruhani ke jasmani, dari etika individual ke politik sosial, dari meditasi menyendiri ke tindakan terbuka, dari organisasi sufi ke gerakan sosial, dari nilai pasif ke nilai aktif, dari kondisi psikologis ke perjuangan sosial, dari vertikal ke horizontal, dari langkah moral ke periode sejarah, dari dunia lain ke dunia ini, dari kesatuan khayal ke penyatuan nyata, dan dari eskatologi ke futurologi. Realitas adalah masyarakat, politik, ekonomi, khazanah Islam, dan tantangan Barat. Pandangan Hassan Hanafi tersebut berimplikasi untuk pendidikan bahwa, pendidikan adalah dekonstruksi sekaligus rekonstruksi diri, lingkungan menuju pribadi manusia yang bernalar sangat tinggi, berevolusi transendensi, berstruktur yang dinamis untuk kesadaran individu, tataran sosial, dan kemajuan dalam sejarah. Lalu pendidikan harus mejadi suatu sistem sosial yang manusia sebagai subjek pendidikan tersebut, dipertimbangkan sebagai makhluk Allah SWT. yang telah dilengkapi oleh-Nya dengan daya serap indera . , rasio, dan intuisi dalam kadar yang sangat tinggi, oleh karena dapat merebut masa dan ruang, mengusai dunia. Pendidikan memberi bantuan secara terbuka yang mendekonstruksi sekaligus mengrekonstruksi potensi manusia tersebut. Karena itu, pendidikan harus menghasilkan pribadi yang tak terkendalikan qadaAo dan qadar, melain pribadi yang mampu mengarahkan ke mana harus terjadi dan menjadi. Untuk itu. Hassan Hanafi mengusulkan 33Hassan Hanafi. AuFrom Orientalism to OcidentalismAy, dalam Islam in the Modern World. Tradition. Revolution and Culture, vol. II. (Egypt: Dar Kebaa Bookshop, 2. Tadrys Volume 8 Nomor 1 Juni 2013 diterapkannya metode edukatif . , emansipatoris . nalisis sosial Marxia. , dan inventif . , dengan pola paedagogis nomotetik . , ideografi . nalisis sosial Marxia. , dan transaksional . Penutup Pendidikan Kiri Islam tidak sekedar mengarah kepada materi yang telah ada . , akan tetapi mengarah juga kepada menggali makna-makna yang seharusnya terwujud. Pemikiran Hassan Hanafi dijadikan pandangan umum Islam untuk ditarik kepada pendidikan Islam sekaitan dengan persoalan dinamika yang memenjarakan kreatifitas dan mengebiri potensi kecerdasan siswa. Dialektika sintesis menjadi karakter pendidikan Kiri Islam yang menuntun dan menuntut pendidikan Islam itu konservatif, inovatif, dan progresif, yang turunannya adalah perenialis, esensialis dalam dialektika dekonstruksi, rekonstruksi menuju kepada pencerahan. Aplikasi pendidikan Islam Kiri dalam pendidikan Islam selaras dengan dialektika dekonstruksi-rekonstruksi-pencerahan merupakan pemberibantuan kepada terdidik untuk menjadi pribadi yang mampu meneliti, mengerjakan, dan bekerja sama dengan alam dengan prinsip kebebasan, mendobrak, mengkonstruk, dan pencerahan. Pendidikan yang merupakan proses membumikan sistem nilai ilahiah-insaniahalamiah, mengakibatkan pelaksanaan pendidikan harus merupakan peralihan ke arah yang ideal dan unggul sebagai manusia yang diharapkan, yang mengarahkan dan mengerahkan bakat, emansipasi, dan lingkungan baik melalui jalur etis atau sains dengan tahap dialektika spesialitas, alternativitas, dan universalitas. Pendidikan yang tak lepas dari dinamika, arah, dan pergeseran sebagai nafas Pendidikan Islam Kiri itu sendiri, maka ia harus bersifat transformatif kultural Islam yang melibatkan dialektika progresifperenialis-esensialis-dekonstruksi-rekonstruksi. Pendidikan adalah dialektika kebudayaan-peradaban-kebudayaan. Penghujung-pangkal tolak dan proses pendidikan adalah penghadiran manusia-Tuhan yang secara intensionalitas mengekspresikan ketuhanan dalam tema-tema sejarah manusia itu sendiri dengan bingkai tradisi-fenomenologis-sosialistik, yang melahirkan metode dialek- Tadrys Volume 8 Nomor 1 Juni 2013 tika edukatif-inventif-emasipatoris dengan pola nomotetik-ideografiktransaksionalistik. Wa Allyh aAolam bi al-Shawyb. Daftar Pustaka