Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 06 No. 02 Desember 2024 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin Implementasi Pendidikan Agama Islam sebagai Muatan Lokal di SD Negeri 49 Gresik Rofiq Nur Rohman Email: rofiqnurrohman28@gmail. (Universitas Qomaruddin Gresi. Abstract: The local content curriculum is a set of plans and arrangements regarding the content and learning materials and methods used as guidelines for organizing teaching and learning activities determined by institutions according to the circumstances and needs of each institution. The phenomenon in the current millennial generation is that their religious character is decreasing due to the influence of free access to anything on the internet. A local content curriculum can strengthen children's religious character to increase their faith and devotion to Allah. And have noble morals in personal, social, national and state life. This study uses a qualitative approach with a case study method. Data were collected through direct observation, in-depth interviews with the principal. Islamic Religious Education teachers, and parents of students, as well as document analysis such as lesson plans and lesson schedules. The study results show that implementing the Islamic Religious Education curriculum at SD Negeri 49 Gresik is carried out with a schedule integrated into the school curriculum and adjusted to regular lesson The learning process includes lecture, discussion, and practice methods, with materials that refer to the established local content curriculum standards. This implementation has a positive impact with good integration in the lesson schedule. However, time adjustments, increased teacher training, and further support from schools and parents are needed to optimize learning. Continuous evaluation and improvement are required to ensure the effectiveness of the curriculum and the optimal achievement of religious education goals. Keywords: Implementation. Islamic Religious Education. Local Content Abstrak: Kurikulum muatan lokal adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar yang ditetapkan oleh lembaga sesuai dengan keadaan dan kebutuhan lembaga masing-masing. Fenomena yang terjadi pada generasi milineal sekarang karakter religiusnya menurun dikarenakan pengaruh bebasnya mengakses apapun di internet. Dengan adanya kurikulum muatan lokal dapat menguatkan karakter religius anak sehingga dapat meningkatkan keimanan, ketaqwaannya kepada Allah swt. serta berakhlak mulia dalam kehidupan pribadi, bermasyarakat, berbangsa dan Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara mendalam dengan kepala sekolah, guru PAI, dan orang tua siswa, serta analisis dokumen seperti RPP dan jadwal pelajaran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: Implementasi kurikulum PAI di SD Negeri 45 Gresik dilakukan dengan jadwal yang terintegrasi dalam kurikulum sekolah dan disesuaikan dengan jam pelajaran reguler. Proses pembelajaran mencakup metode ceramah, diskusi, dan praktek, dengan materi yang mengacu pada standar kurikulum muatan lokal yang telah ditetapkan. Impementasi ini berdampak positif dengan adanya integrasi yang baik dalam jadwal pelajaran. Namun, untuk mengoptimalkan pembelajaran, perlu adanya penyesuaian waktu, peningkatan pelatihan bagi guru, serta dukungan lebih lanjut dari pihak sekolah dan orang tua. Evaluasi dan 165 Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 06 No. 02 Desember 2024 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin perbaikan berkelanjutan diperlukan untuk memastikan efektivitas kurikulum dan pencapaian tujuan pendidikan agama secara optimal. Kata Kunci: Implementasi. Pendidikan Agama Islam. Muatan Lokal Pendahuluan Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai mata pelajaran dalam pendidikan formal memiliki peran penting dalam perkembangan pendidikan di Indonesia. Keberadaannya dalam program pendidikan nasional memiliki fungsi strategis untuk menghayati nilai-nilai agama Islam, selain berperan dalam pengembangan intelektual. Dalam merumuskan tujuan pendidikan. PAI berfungsi mencerdaskan intelektual, emosional, dan spiritual peserta didik secara bersamaan dan Dalam konteks Islam. Al-QurAoan dengan jelas menjelaskan bahwa segala tindakan manusia harus selalu dikaitkan dengan Allah. Sebagaimana dalam firman Allah surat Al AnAoam ayat 162 : ],A E aaEa aIO aI [O EIIA a AO aO aI aIaO a accEaEa aA a ACa E ua acIA a aEaO aOIaa aEO aO aI OA Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah. Tuhan semesta alam. [Al An'am. 1 Penanaman nilai-nilai Agama dalam diri manusia akan sangat membantu dalam pembentukan sikap dan kepribadian anak pada masa dewasa. Pendidikan Agama Islam dianggap sebagai usaha yang diarahkan kepada pembentukan kepribadian manusia yang sesuai ajaran Islam, atau suatu upaya dengan ajaran Islam, memikir, memutuskan, dan berbuat berdasarkan nilai- nilai serta bertanggung jawab sesuai dengan nilai-nilai Islam. Memahami agama melalui Pendidikan Agama Islam (PAI) memulai dengan membentuk keyakinan kepada Allah, yang didasari oleh sikap, perilaku, dan kepribadian yang baik. Pembentukan sikap dan kepribadian seorang muslim yang taat dan sepenuhnya berserah diri kepada Allah hanya dapat dicapai melalui PAI. Proses ini menekankan pentingnya mengembangkan keimanan yang kuat, diiringi dengan perilaku yang mencerminkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Melalui PAI, peserta didik diajarkan untuk memahami dan menginternalisasi ajaran Islam secara mendalam, yang mencakup aspek keimanan, ibadah, dan Pendidikan ini berperan penting dalam membentuk individu yang berkarakter Islami, memiliki moral yang baik, serta mampu mengaplikasikan nilai-nilai agama dalam interaksi sosial 1 Departemen Agama Republik Indonesia. Al-QurAoan Dan Terjemahan. Bandung: CV. Penerbit Diponegoro, 2006, 166 Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 06 No. 02 Desember 2024 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin PAI tidak hanya fokus pada aspek kognitif, tetapi juga pada aspek afektif dan psikomotorik, sehingga menghasilkan peserta didik yang tidak hanya cerdas secara intelektual tetapi juga emosional dan spiritual. Pendidikan ini menanamkan prinsip-prinsip Islam yang fundamental, membimbing siswa untuk menjadi pribadi yang berintegritas, beretika, dan memiliki komitmen yang kuat terhadap ajaran agama. Dengan demikian. PAI berfungsi sebagai fondasi dalam membangun kepribadian muslim yang utuh, mampu menghadapi tantangan zaman dengan tetap berpegang pada nilai-nilai Islami. Melalui PAI, siswa diharapkan tidak hanya mengenal dan memahami ajaran Islam, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, menciptakan individu yang berakhlak mulia, memiliki rasa tanggung jawab, dan berkontribusi positif dalam masyarakat. Pada praktiknya, pelaksanaan Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah menghadapi berbagai kendala. Salah satu kendala utama adalah terbatasnya waktu yang disediakan, hanya dua jam pelajaran, meskipun materi yang harus disampaikan sangat padat dan penting. Hal ini menciptakan ketidakseimbangan antara tuntutan untuk mengubah, membina watak, karakteristik, dan kepribadian peserta didik dengan alokasi waktu yang diberikan. Akibatnya, tujuan PAI yang mencakup pembentukan sikap dan karakter islami peserta didik seringkali sulit tercapai secara optimal dalam waktu yang terbatas. Agar tujuan pendidikan dapat tercapai secara maksimal maka harus ada peningkatan pada kurikulum pendidikan. Kurikulum sebagai rancangan pendidikan memiliki kedudukan yang sangat sentral dalam seluruh kegiatan pembelajaran, yang menentukan proses dan hasil belajar. Mengingat pentingnya peranan kurikulum dalam pembelajaran serta pembentukan kompetensi dan kepribadian peserta didik. Maka pengembangan kurikulum tidak dapat dilakukan secara sembarangan, tetapi memerlukan landasan yang kuat berdasarkan hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Selain kurikulum nasional yang diterapkan di seluruh sekolah di Indonesia, ada juga kurikulum muatan lokal yang diimplementasikan oleh masing-masing sekolah. Kurikulum muatan lokal ini dirancang agar sesuai dengan kondisi lingkungan alam, sosial, dan budaya setempat, serta kebutuhan khusus daerah tersebut. Peserta didik diwajibkan mempelajari muatan lokal ini untuk memahami dan menghargai lingkungan serta budaya tempat mereka tinggal. Kurikulum ini berperan penting dalam memberikan pendidikan yang relevan dan kontekstual, memungkinkan siswa untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan kehidupan sehari-hari di daerah mereka. Hal ini membantu mempersiapkan peserta didik menjadi 2 Mulyasa. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2007, h. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 06 No. 02 Desember 2024 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin individu yang lebih adaptif dan kontributif terhadap komunitas lokal mereka. Pembentukan kurikulum yang dilakukan pendidikan nasional pada umumnya hanya mengedepankan pada kecerdasan intelektual dan mengesampingkan kecerdasan emosional. Sehingga kurikulum belum bisa membuat pribadi yang bulat bagi peserta didik, dan tujuan pendidikan belum bisa tercapai. Berdasarkan wawancara peneliti dengan guru Pendidikan Agama Islam (PAI), pelaksanaan PAI di SD Negeri 49 Gresik masih menghadapi beberapa kendala. Salah satu masalah utama adalah alokasi waktu yang terbatas, hanya dua jam pelajaran per minggu, meskipun materi yang harus disampaikan sangat padat dan penting. Materi pembelajaran, seperti huruf hijaiyah, sering kali menjadi tantangan karena banyak peserta didik yang lupa dan kesulitan dalam melafalkannya. Hasan Ramadlan. Pd. I, guru PAI di SD Negeri 49 Gresik, mengungkapkan bahwa masalah ini timbul karena orang tua hanya mempercayakan pengajaran agama kepada guru di sekolah. rumah, anak-anak jarang mengulang materi yang telah diajarkan, sehingga ketika guru mengulang pelajaran di sekolah, peserta didik sering kali kebingungan. Hasan Ramadlan menekankan bahwa keterlibatan orang tua dalam proses belajar di rumah sangat penting untuk memperkuat pemahaman anak-anak terhadap materi PAI. Ketika anak-anak tidak mendapatkan dukungan dan bimbingan tambahan di rumah, mereka cenderung lupa apa yang telah diajarkan di sekolah. Ini mengakibatkan proses pembelajaran menjadi kurang efektif, karena waktu yang terbatas di sekolah tidak cukup untuk memastikan anak-anak benar-benar memahami dan menghafal materi yang diajarkan. Selain itu, tantangan lain yang dihadapi adalah kurangnya pengulangan dan latihan yang konsisten di rumah. Anak-anak yang tidak mendapatkan kesempatan untuk berlatih melafalkan huruf hijaiyah di rumah cenderung mengalami kesulitan dalam mengikuti pelajaran di Hal ini diperparah oleh fakta bahwa banyak orang tua merasa bahwa tanggung jawab pendidikan agama sepenuhnya berada di tangan guru, sehingga mereka kurang proaktif dalam mendukung proses belajar anak-anak mereka di rumah. Untuk mengatasi masalah ini, diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif dan kolaboratif antara sekolah dan orang tua. Sekolah dapat mengadakan pertemuan dan pelatihan untuk orang tua, memberikan panduan tentang cara mendukung pembelajaran PAI di rumah. Selain itu, guru dapat memberikan tugas-tugas sederhana yang dapat dilakukan bersama oleh anak-anak dan orang tua, sehingga mereka dapat berlatih dan mengulang materi secara konsisten. 3 Suparta. AoImplementasi Kurikulum Muatan Lokal PAI Tingkat SMP Di Kabupaten Bangka Tengah Kepulauan Bangka BelitungAo. Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam. Vol. No. April 2015, h. 4 Wawancara dengan Bapak M. Hasan Ramadlan. Pd. Selaku Guru Pendidikan Agama Islam Di SD Negeri 49 Gresik Pada Tanggal 2 Mei 2024. Pukul 10. 15 WIB. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 06 No. 02 Desember 2024 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin Guru juga bisa memanfaatkan teknologi dengan memberikan akses ke materi pembelajaran online atau aplikasi yang dapat membantu anak-anak berlatih huruf hijaiyah di rumah. Dengan demikian, anak-anak memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengulang dan memperkuat pemahaman mereka di luar jam pelajaran sekolah. Secara keseluruhan, kolaborasi antara sekolah, guru, dan orang tua sangat penting untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan PAI di SD Negeri 49 Gresik. Dengan mengatasi kendala waktu yang terbatas dan meningkatkan keterlibatan orang tua, diharapkan peserta didik dapat lebih memahami dan menguasai materi PAI, termasuk huruf hijaiyah, dengan lebih baik. Ini tidak hanya akan meningkatkan kemampuan akademik mereka dalam PAI, tetapi juga membantu membentuk karakter dan kepribadian yang sesuai dengan nilai-nilai agama yang diajarkan. Melihat kondisi yang demikian maka perlu diadakan materi atau bahan ajar tambahan yang berupa kurikulum muatan lokal pada Pendididkan Agama Islam. Dari hasil pra survey pada tanggal 2 Mei 2024 yang kami lakukan. SD Negeri 49 Gresik merupakan lembaga pendidikan formal yang menerapkan kurikulum muatan lokal yang disesuaikan dengan kondisi sekolah yang merupakan lembaga pendidikan berbasis keIslaman, lembaga ini menggunakan kurikulum keIslaman yang digunakan sebagai kurikulum muatan lokal. Selain itu. SD Negeri 49 Gresik merupakan Bilingual School pertama dan satu-satunya yang paling menonjol di Kabupaten Gresik. Diharapkan penerapan kurikulum berbasis Islam di lembaga tersebut dapat menghasilkan generasi yang berkarakter Islami. Nilai-nilai agama ditanamkan dalam kegiatan sehari-hari di sekolah sebagai bekal bagi peserta didik. Kegiatan-kegiatan ini diterapkan secara rutin di lingkungan sekolah agar menjadi kebiasaan positif bagi siswa. Harapannya, kebiasaan ini tidak hanya diterapkan di sekolah tetapi juga di lingkungan keluarga dan masyarakat. Melalui pendekatan ini, diharapkan siswa tidak hanya unggul secara akademis, tetapi juga memiliki moral dan etika yang baik sesuai dengan ajaran Islam. Berdasarkan uraian tersebut, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul AuImplementasi Pendidikan Agama Islam Sebagai Muatan Lokal di SD Negeri 49 GresikAy. Penelitian ini dipilih karena implementasi kurikulum muatan lokal di SD Negeri 49 Gresik menunjukkan keberagaman yang signifikan dalam upaya meningkatkan pemahaman agama di kalangan peserta Alasan utama yang menarik peneliti adalah karena kurikulum muatan lokal di sekolah ini dirancang untuk mendukung dan memperdalam pemahaman siswa terhadap ajaran agama Islam. Penerapan kurikulum ini tidak hanya berfokus pada aspek akademis, tetapi juga pada 169 Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 06 No. 02 Desember 2024 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin pengembangan karakter dan kepribadian peserta didik sesuai dengan nilai-nilai Islam. Di SD Negeri 49 Gresik, kurikulum muatan lokal diintegrasikan dengan kegiatan sehari-hari yang menanamkan nilai-nilai agama. Sekolah ini menerapkan berbagai kegiatan yang dirancang untuk menjadi kebiasaan baik bagi siswa. Dengan cara ini, diharapkan nilai-nilai agama yang diajarkan di sekolah dapat diterapkan oleh siswa dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan keluarga maupun Implementasi kurikulum muatan lokal ini mencakup berbagai aspek, termasuk pembelajaran huruf hijaiyah, praktik ibadah, dan pengenalan nilai-nilai etika dan moral Islami. Peneliti juga tertarik untuk meneliti bagaimana keterlibatan orang tua dalam mendukung pembelajaran agama di rumah, yang merupakan faktor penting dalam keberhasilan pendidikan agama di sekolah. Dalam wawancara sebelumnya, ditemukan bahwa kurangnya pengulangan dan latihan di rumah menjadi kendala utama dalam pembelajaran PAI. Oleh karena itu, penelitian ini juga akan mengeksplorasi bagaimana sekolah dapat bekerja sama dengan orang tua untuk meningkatkan pemahaman dan praktik agama siswa. Dengan melakukan penelitian ini, peneliti berharap dapat memberikan gambaran yang lebih komprehensif tentang Implementasi Pendidikan Agama Islam Sebagai Muatan Lokal di SD Negeri 45 Gresik. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi yang bermanfaat bagi sekolah-sekolah lain yang ingin mengembangkan kurikulum muatan lokal untuk meningkatkan pemahaman agama di kalangan siswa. Selain itu, penelitian ini juga bertujuan untuk mengidentifikasi tantangan dan solusi dalam pelaksanaan kurikulum muatan lokal, sehingga dapat diperoleh model yang lebih efektif dan aplikatif dalam konteks pendidikan agama Islam. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Proses penelitian akan meliputi pembentukan pertanyaan awal, pengumpulan data, analisis data, pengelompokan data menjadi tema, memberikan interpretasi terhadap makna data, dan akhirnya menyusun laporan dengan struktur yang fleksibel. 5 Pendekatan deskriptif digunakan untuk memahami Implementasi Pendidikan Agama Islam Sebagai Muatan Lokal di SD Negeri 49 Gresik. Pendekatan kualitatif dipilih bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain, secara holistis dengan cara deskriptif 5 Prof Sugiyono. AuMetode Penelitian Manajemen (Pendekatan Kuantitatif. Kualitatif. Kombinasi (Mixed Method. Penelitian Tindakan (Action Research. Dan Penelitian Evaluas. ,Ay Bandung: Alfabeta Cv, 2016, 223. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 06 No. 02 Desember 2024 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode ilmiah. Sedangkan, jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian lapangan. Penelitian lapangan digunakan peneliti untuk mengumpulkan data secara langsung dari subjek penelitian dalam konteks aslinya, yaitu di SD Negeri 49 Gresik. Hal ini penting untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam tentang Implementasi Pendidikan Agama Islam Sebagai Muatan Lokal di SD Negeri 49 Gresik. Teknik analisis data penelitian kualitatif merupakan salah satu kegiatan dalam upaya mengolah data kemudian memilah agar dapat dikelola dengan baik, dan dapat menemukan informasi yang penting sehingga dapat diuraikan dan dikemukakan kepada orang lain. Langkahlangkah dari teknik analisis data menurut Sugiyono inilah yang kemudian menjadi hasil penelitian, dan di dalam peneliti ini juga menyajikan data menjadi tiga alur, yaitu reduksi data, penyajian data, serta menarik kesimpulan. Hasil dan Pembahasan Telaah Konsep Kurikulum Pendidikan Agama Islam Kurikulum memiliki tiga dimensi pengertian, yakni kurikulum sebagai mata pelajaran, kurikulum sebagai pengalaman belajar dan kurikulum sebagai perencanaan program 7 Lazimnya kurikulum dipandang sebagai suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses belajar-mengajar di bawah bimbingan dan tanggung jawab sekolah atau lembaga pendidikan beserta staf pengajarnya. Kurikulum bukanlah suatu program pembelajaran yang bersifat statis, melainkan harus selalu dinamis, artinya dapat mengalami pengembangan, bahkan perubahan sesuai dengan tuntutan dan kebutuhan dunia pendidikan. Meskipun demikian, pengembangan kurikulum tidak dapat dilakukan secara sembarangan dan asal jadi. Pengembangan kurikulum membutuhkan landasan yang kuat, yang didasarkan pada berbagai hasil pemikiran dan penelitian yang mendalam. Pengembangan kurikulum yang tidak didasarkan pada landasan yang kuat dapat berakibat fatal terhadap kegagalan pendidikan itu sendiri. Kurikulum dan proses pembelajaran adalah dua sisi yang tidak dapat dipisahkan. Kurikulum tidak bermakna apapun jika tidak dilaksanakan dalam proses pembelajaran dan sebaliknya tidak akan terlaksana proses pembelajaran yang terencana tanpa adanya kurikulum. Sugiyono. AuMetode Penelitian Manajemen (Pendekatan Kuantitatif. Kualitatif. Kombinasi (Mixed Method. Penelitian Tindakan (Action Research. Dan Penelitian Evaluas. ,Ay 2016. 7 Wina Sanjaya. Kurikulum Dan Pembelajaran: Teori Dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkaat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana, 2008, h. 8 Walfajri. AoLandasan Pengembangan Kurikulum Bahasa ArabAo. An-Nabighoh. Vol. 20 No. 01, 2018, h. 9 Abdullah Idi. Pengembangan Kurikulum Teori & Praktik. Jakarta: Rajawali Pers, 2014,h. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 06 No. 02 Desember 2024 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin Pembelajaran adalah bentuk implementasi dari kurikulum. Kurikulum adalah pedoman untuk memberi arah dan tujuan pendidikan, berisi materi yang akan diberikan dan pembelajaran adalah bentuk tindakan untuk mewujudkan cita-cita kurikulum. Implementasi kurikulum merupakan suatu penerapan konsep, ide, program, atau tatanan kurikulum ke dalam praktik pembelajaran atau berbagai aktivitas baru, sehingga terjadi perubahan pada sekelompok orang yang diharapkan untuk berubah. Implementasi kurikulum adalah penerapan atau pelaksanaan program kurikulum yang telah dikembangkan dalam tahap sebelumnya, kemudian diujicobakan dengan pelaksanaan dan pengelolaan, sambil senatiasa dilalukan penyeseuaian terhadap situasi lapangan dan karakteristik peserta didik, baik perkembangan intelektual, emosional, serta fisiknya. Implementasi ini juga sekaligus merupakan penelitian lapangan . ield researc. untuk keperluan validasi sistem kurikulum itu sendiri. Implementasi kurikulum juga dapat diartikan sebagai aktualisasi kurikulum tertulis . ritten curriculu. dalam bentuk kurikulum. Implementasi kurikulum mencakup tiga kegiatan pokok, yaitu: Pengembangan program, mencakup program tahunan, semester, bulanan, mingguan dan Pelaksanaan pembelajaran, adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan. Keberadaan Pendidikan Agama Islam di sekolah merupakan bentuk implementasi kebijakan pendidikan yang secara legal formal tertuang dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang kemudian telah dilengkapi dengan turunan peraturan tentang pelaksanaan Pendidikan Agama Islam di sekolah. Dalam sistem kurikulum nasional. Pendidikan Agama Islam merupakan salah satu dari tiga mata pelajaran yang harus dimasukkan dalam kurikulum setiap lembaga pendidikan formal di Indonesia. 13 Definisi Pendidikan Agama Islam menurut Marimba dalam bukunya Heri Gunawan adalah sebagai jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam menuju kepada terbentuknya kepribadian utama menurut ukuran agama Islam. Senada dengan pendapatnya Zakiyah Darajat, bahwa Pendidikan Agama Islam adalah suatu usaha sadar untuk membina dan mengasuh peserta didik agar senantiasa dapat memahami ajaran Islam secara menyeluruh . Lalu menghayati 10 Nurdin Mansur. AuUrgensi Kurikulum Muatan Lokal Dalam Pendidikan,Ay Jurnal Ilmiah DIDAKTIKA 13, no. 11 Omar Hamalik. Kurikulum Dan Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara, 2008, h. 12 Omar Hamalik, h. 13 Aset Sugiana. AoPengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Dan Implementasinya Di MTs Nurul Ummah YogyakartaAo. Jurnal Pendidikan Agama Islam. Vol. XVI. No. Juni 2019, h. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 06 No. 02 Desember 2024 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin tujuan yang pada akhirnya dapat mengamalkan serta menjadikan Islam sebagai pandangan Pengembangan kurikulum Pendidikan Agama Islam yang dilakukan oleh guru dan sekolah pada setiap satuan pendidikan harus memperhatikan prinsip-prinsip pengembangan kurikulum sebagaimana tertuang dalam peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah, yaitu: Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya. Beragam dan terpadu. Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni. Relevan dengan kebutuhan kehidupan. Menyeluruh dan berkesinambungan. Belajar sepanjang hayat, dan Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah. Kurikulum Pendidikan Agama Islam (PAI) adalah suatu rancangan pendidikan yang sistematis dan terstruktur, bertujuan untuk mengembangkan pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai-nilai keagamaan yang sesuai dengan ajaran Islam pada peserta didik. Kurikulum ini dirancang untuk menciptakan individu yang tidak hanya memiliki pemahaman mendalam tentang agama Islam tetapi juga mampu mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Kurikulum PAI mencakup berbagai aspek yang meliputi tujuan, isi, metode, dan evaluasi pembelajaran yang semuanya disesuaikan dengan prinsip-prinsip Islam. Kurikulum Pendidikan Agama Islam bersumber dari tujuan Pendidikan Islam. Tujuan Pendidikan Islam memiliki perbedaan dengan tujuan pendidikan lain. Rumusan tujuan pendidikan Islam sangat relevan dengan rumusan tujuan pendidikan nasional. Arifin menyatakan bahwa rumusan tujuan Pendidikan Islam adalah merealisasikan manusia muslim yang beriman, bertakwa dan berilmu pengetahuan yang mampu mengabdikan dirinya kepada Sang Khalik dengan sikap dan kepribadian bulat menyerahkan diri kepada-Nya dalam segala aspek kehidupan dalam rangka mencari keridhaan-Nya. 17 Pendapat lain menyebutkan bahwa tujuan pendidikan Islam tidak hanya berorientasi pada aspek jasmaniah, tetapi juga intelektual serta emosional untuk menjadi manusia yang paripurna. Perilaku manusia hasil pendidikan Islam hakikatnya dijiwai iman dan taqwa kepada Allah. Sementara itu, tujuan Pendidikan Agama Islam di sekolah diarahkan untuk menanamkan nilai-nilai luhur yang diinternalisasikan ke dalam individu peserta didik melalui proses pendidikan. 14 Sutiah. Pengembangan Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, h. 15 Permendiknas Nomor 22 Tahun 2006 Tentang Standar Isi. 16 Aset Sugiana. AoPengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Dan Implementasinya Di MTs Nurul Ummah YogyakartaAo. Jurnal Pendidikan Agama Islam. Vol. XVI. No. Juni 2019, h. 17 Moch. SyaAoroni Hasan. AoPengembangan Kurikulum Pendidikan Agama Islam Terpadu Di SekolahAo. Al-Ibrah. Vol. No. Juni 2017, h. 18 Nasution. Kurikulum Dan Pengajaran. Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2012, h. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 06 No. 02 Desember 2024 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin Secara lebih rinci tujuan Pendidikan Agama Islam telah dirumuskan dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar yang disusun Badan Standar Nasional Pendidikan, sesuai mata pelajaran agama Islam yang diberikan. 19 Sedangkan tujuan yang akan dicapai dari kurikulum Pendidikan Agama Islam adalah membentuk peserta didik yang berakhlak mulia, dalam hubungannya dengan hakikat pencipta manusia. Pendidikan Agama Islam memiliki peran yang sangat penting dalam kurikulum Sekolah Dasar, baik dalam pembentukan karakter, penguatan identitas keislaman, pengembangan kebiasaan beribadah, pengenalan nilai-nilai moral dan etika Islam, pengembangan pengetahuan agama Islam, maupun pengembangan kemampuan berpikir kritis dan analitis. 21 Dengan demikian, integrasi pendidikan agama Islam dalam kurikulum SD merupakan langkah yang strategis dalam mempersiapkan generasi muda yang berkualitas dan memiliki landasan moral yang kuat. Telaah Muatan Lokal dalam Kurikulum Pendidikan Muatan lokal dalam konteks pendidikan merujuk pada bagian dari kurikulum yang disesuaikan dengan karakteristik, kebutuhan, dan potensi lokal suatu daerah atau wilayah tertentu. Ini mencakup berbagai aspek, seperti budaya, tradisi, sejarah, kearifan lokal, dan kekayaan alam yang ada di lingkungan tempat sekolah berada. 22 Muatan lokal bertujuan untuk memperkaya pengalaman belajar siswa, memberikan relevansi dengan kehidupan sehari-hari mereka, dan memperkuat identitas serta kebanggaan terhadap daerahnya. Penerapan muatan lokal di Indonesia sebenarnya sudah dirintis di Sekolah Dasar (SD) sejak tahun 1987 melalui Keputusan Mendikbud. No. 0412/U/1987 tanggal 11 Juli 1987 tentang penerapan muatan lokal kurikulum sekolah dasar. Berdasarkan keputusan ini. Dirjen Dikdasmen mengeluarkan keputusan No. 173/C/Kep/M/87 tanggal 07 Oktober 1987 tentang penjabaran penerapan muatan lokal kurikulum sekolah dasar. Selanjutnya, penerapan muatan lokal dipertegas oleh pemerintah melalui Peraturan Pemerintah Nomor 28 tahun 1990 dan Keputusan 19 Wina Sanjaya. Kurikulum Dan Pembelajaran: Teori Dan Praktik Pengembangan Kurikulum Tingkaat Satuan Pendidikan (KTSP). Jakarta: Kencana, 2008, h. 20 Sutiah. Pengembangan Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, h. 21 Achmad Muhlis. AoPengembangan Kurikulum Bahasa Arab Pada Kelas Mata Pelajaran Di MTsN Sumber Bungur PamekasanAo. Okara. Vol. Tahun X. Nopember 2015, h. 22 Muhammad Nasir. AoPengembangan Kurikulum Muatan Lokal Dalam Konteks Pendidikan Islam Di MadrasahAo,Hunafa: Jurnal Studia Islamika. Vol. No. Juni 2013,h. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 06 No. 02 Desember 2024 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin Mendikbud Nomor 060/U/1993. Sekarang muatan lokal telah disempurnakan dan diperkuat melalui UU No. 20 tahun 2003 dan PP No. 19 tahun 2005. Secara umum, pengertian muatan lokal adalah seperangkat rencana dan pengetahuan mengenai tujuan, isi, dan bahan pelajaran yang disusun oleh satuan pendidikan sesuai dengan keragaman potensi daerah, karakteristik daerah, keunggulan daerah, kebutuhan daerah, dan lingkungan masing-masing serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Secara khusus, muatan lokal adalah program pendidikan dalam bentuk mata pelajaran yang isi dan media penyampaiannya dikaitkan dengan lingkungan alam, lingkungan sosial, dan lingkungan budaya serta kebutuhan daerah yang wajib dipelajari oleh peserta didik di daerah itu. 24 Tirtarahardja dan La Sula mengungkapkan bahwa kurikulum muatan lokal adalah suatu program pendidikan yang isi, media dan strategi penyampaiannya dikaitkan dengan lingkungan alam, lingkungan sosial, dan lingkungan budaya serta kebutuhan daerah. Melalui muatan lokal, pendidikan dapat menjadi lebih beragam, inklusif, dan relevan dengan kehidupan nyata siswa. Ini membantu memperkaya pengalaman belajar mereka, memperkuat identitas lokal, dan membentuk karakter yang kuat dan bertanggung jawab. Dengan demikian, muatan lokal memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan generasi yang berdaya saing, berbudaya, dan memiliki rasa cinta terhadap tanah airnya. Regulasi dan kebijakan mengenai muatan lokal di Indonesia telah diatur dalam berbagai peraturan dan pedoman pendidikan. Salah satu regulasi utama adalah Permendikbud Nomor 20 Tahun 2016 tentang Standar Kompetensi Lulusan Pendidikan Dasar dan Menengah. Dalam peraturan ini, muatan lokal dijadikan sebagai bagian yang harus diterapkan dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah di seluruh Indonesia. 27 Selain itu, terdapat juga Permendikbud Nomor 21 Tahun 2016 tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah yang memberikan arahan lebih spesifik terkait muatan lokal. Kebijakan ini menegaskan pentingnya penyelarasan kurikulum dengan kebutuhan lokal, budaya, dan potensi daerah masing-masing. Pemerintah daerah juga memiliki peran penting dalam pengaturan muatan lokal melalui peraturan daerah . yang menyesuaikan kebijakan nasional dengan kondisi lokal. Hal ini memungkinkan setiap daerah memiliki kurikulum yang sesuai dengan kekhasan, budaya, dan 23 Zainal Arifin. Konsep Dan Model Pengembangan Kurikulum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2013, h. 24 Sutiah. Pengembangan Model Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, h. 25 Iim Wasliman. Modul Problematika Pendidikan Dasar. Bandung: Pps Pendidikan Dasar UPI, 2007, h. 26 Anas Sudiyono. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada,2009, h. 27 Achmad Muhlis. AoPengembangan Kurikulum Bahasa Arab Pada Kelas Mata Pelajaran Di MTsN Sumber Bungur PamekasanAo. Okara. Vol. Tahun X. Nopember 2016, h. 28 Permendiknas Nomor 21 Tahun 2016 Tentang Standar Isi. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 06 No. 02 Desember 2024 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin nilai-nilai lokal mereka. Dengan demikian, regulasi dan kebijakan ini memberikan landasan hukum yang kuat bagi implementasi muatan lokal di semua tingkatan pendidikan di Indonesia. Gambaran Umum SD Negeri 49 Gresik SD Negeri 49 Gresik, memiliki sejarah panjang yang mencerminkan semangat pendidikan di wilayah tersebut. Didirikan pada tahun 1981, sekolah ini telah menjadi tempat bagi banyak generasi untuk belajar dan berkembang. Awalnya. SDN Negeri 49 Gresik hanya memiliki 2 ruang kelas dan 1 guru. Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk di sekitar sekolah, kebutuhan akan pendidikan pun semakin meningkat. Hal ini mendorong pemerintah untuk menambah jumlah ruang kelas dan guru, sehingga pada tahun 1990, sekolah ini telah memiliki 6 ruang kelas dan 6 guru. Pada tahun 2001. SDN Negeri 49 Gresik mendapatkan akreditasi A, yang merupakan bukti nyata dari komitmen sekolah dalam memberikan pendidikan berkualitas bagi para siswanya. Sejak saat itu, sekolah ini terus berusaha untuk meningkatkan kualitas pendidikannya dengan berbagai cara, seperti mengikuti berbagai pelatihan dan seminar, serta meningkatkan sarana dan prasarana Dan pada tahun 2019. SDN Negeri 49 Gresik menjadi salah satu sekolah yang menerapkan Kurikulum Merdeka. Kurikulum ini memberikan keleluasaan bagi sekolah untuk berinovasi dan mengembangkan pembelajaran yang lebih berpusat pada siswa. Saat ini. SDN Negeri 49 Gresik memiliki 18 ruang kelas, 18 guru, dan 470 siswa. Sekolah ini terus berkembang dan berbenah diri untuk menjadi sekolah yang lebih baik dan bermanfaat bagi masyarakat. SD Negeri 49 Gresik menempatkan pendidikan agama Islam sebagai salah satu pilar penting dalam kurikulumnya melalui muatan lokal yang dirancang khusus. Kurikulum muatan lokal ini terdiri dari beberapa program yang bertujuan untuk membekali siswa dengan pemahaman mendalam tentang agama Islam serta kemampuan praktis yang relevan. Program muatan local tersebut di antaranya. program Tuntas Baca Tulis Al-Quran dirancang untuk memastikan bahwa setiap siswa memiliki kemampuan membaca dan menulis Al-Quran dengan kelas Tahfid adalah program yang bertujuan untuk menghafal Al-Quran. Fokus utama dari program ini adalah membantu siswa menghafal surat-surat pendek dan ayat-ayat pilihan dari AlQuran. Pendidikan Agama Islam di SD Negeri 49 Gresik mencakup tiga bidang utama: Al-Quran Hadist. Fikih, dan Sejarah Kebudayaan Islam. Program ini dirancang untuk memberikan 29 Dokumen SD Negeri 49 Gresik Tahun 2023-2024. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 06 No. 02 Desember 2024 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin pemahaman yang komprehensif mengenai ajaran Islam dan sejarahnya. Pembelajaran Bahasa Arab merupakan bagian integral dari kurikulum muatan lokal di SD Negeri 49 Gresik. Program ini bertujuan untuk mengenalkan siswa pada bahasa Arab sebagai bahasa Al-Quran dan sarana komunikasi dalam konteks keagamaan. Implementasi Kurikulum Muatan Lokal Pendidikan Agama Islam di SD Negeri 49 Gresik Sebelum pembahasan hasil impementasi Muatan Lokal perlu kiranya penulis paparkan hasil temuan data penelitian dengan tujuan untuk mengeksplorasi dan menganalisis implementasi Kurikulum Muatan Lokal Pendidikan Agama Islam di SD Negeri 49 Gresik, dengan fokus pada perspektif kepala sekolah, guru, siswa, dan orang tua. Metode penelitian yang digunakan adalah wawancara terstruktur dengan berbagai pihak yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran PAI. Konteks Sekolah dan Kurikulum Muatan Lokal PAI SD Negeri 49 Gresik adalah salah satu sekolah dasar di Gresik yang telah menerapkan Kurikulum Muatan Lokal Pendidikan Agama Islam. Kurikulum ini dikembangkan dengan memperhatikan konteks lokal siswa serta nilai-nilai agama Islam yang relevan dengan kehidupan mereka sehari-hari. Implementasi Kurikulum Muatan Lokal PAI bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam dan aplikatif terhadap ajaran Islam. Perspektif Kepala Sekolah Kepala Sekolah menyatakan bahwa implementasi Kurikulum Muatan Lokal PAI dilakukan dengan berbagai langkah konkret, seperti penyusunan materi pembelajaran yang sesuai dengan konteks lokal dan kebutuhan siswa. Tujuan utama penerapan kurikulum ini adalah untuk memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang nilai-nilai agama Islam yang relevan dengan lingkungan sosial dan budaya siswa. Proses pengembangan kurikulum melibatkan kolaborasi antara guru-guru PAI, pakar agama, dan pihak sekolah untuk memastikan kesesuaian dengan kebutuhan dan karakteristik siswa. Respons siswa dan orang tua terhadap implementasi Kurikulum Muatan Lokal PAI sangat positif. Perspektif Guru Guru-guru PAI menjelaskan bahwa mereka telah mengadopsi berbagai pendekatan dalam mengajar PAI dengan menggunakan Kurikulum Muatan Lokal. Mereka menggunakan cerita-cerita lokal, permainan edukatif, dan kegiatan lapangan yang relevan dengan nilai-nilai 30 Dokumen KOSP SD Negeri 49 Gresik Tahun Pelajaran 2023-2024. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 06 No. 02 Desember 2024 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin Islam untuk memperkuat pemahaman siswa. Guru-guru juga merasa bahwa Kurikulum Muatan Lokal PAI membantu meningkatkan partisipasi siswa dalam pembelajaran dan memperkuat keterhubungan antara pembelajaran formal dengan praktik sehari-hari. Perspektif Siswa Siswa-siswa menyatakan bahwa mereka merasa antusias dan terlibat dalam pembelajaran agama Islam dengan pendekatan Kurikulum Muatan Lokal. Mereka menikmati pembelajaran yang relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka, seperti mengenal kisah-kisah Nabi dan belajar doa-doa baru. Siswa juga melihat bahwa pelajaran agama Islam membantu mereka dalam berperilaku baik dan mengambil keputusan yang benar. Perspektif Orang Tua Para orang tua memberikan apresiasi terhadap pelajaran agama Islam yang diajarkan di Mereka melihat adanya perubahan positif dalam perilaku dan pemahaman anak-anak mereka setelah mengikuti pembelajaran dengan Kurikulum Muatan Lokal PAI. Orang tua juga merasa bahwa pembelajaran agama Islam di sekolah memberikan dampak positif pada perkembangan karakter dan moral anak-anak mereka, serta memberikan kesesuaian dengan nilai-nilai yang diajarkan di rumah. Implementasi kurikulum muatan lokal pendidikan agama Islam (PAI) di SD Negeri 49 Gresik melibatkan beberapa langkah penting yang disusun secara sistematis untuk memastikan Proses ini dimulai dengan kajian materi dan konsultasi dengan ahli, diikuti dengan penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan modul ajar. Langkah awal dalam implementasi kurikulum adalah melakukan kajian materi yang relevan dengan konteks lokal. Konsultasi dengan ahli agama dan pelatihan merupakan bagian integral dari proses ini. Pendekatan ini sesuai dengan prinsip-prinsip dalam teori pengembangan kurikulum, seperti yang dikemukakan oleh Tyler . , yang menekankan pentingnya penetapan tujuan pembelajaran yang jelas dan relevansi materi dengan kebutuhan siswa dan konteks lokal. Tyler berpendapat bahwa materi kurikulum harus dikembangkan berdasarkan analisis kebutuhan dan tujuan pendidikan. Setelah kajian materi, tim pengembang kurikulum menyusun RPP atau modul ajar. Langkah ini mencerminkan prinsip-prinsip yang dijelaskan oleh Dewey . dalam teori pembelajaran progresif, di mana materi pembelajaran harus disesuaikan dengan pengalaman 31 Tyler. Basic Principles of Curriculum and Instruction. Chicago: University of Chicago Press. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 06 No. 02 Desember 2024 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin siswa dan kontekstual. 32 Penyusunan RPP dan modul ajar yang sistematis dan terstruktur juga mendukung prinsip-prinsip yang diuraikan oleh Bloom . mengenai evaluasi formatif, di mana pengembangan kurikulum harus disertai dengan metode evaluasi yang jelas untuk memastikan pencapaian tujuan pendidikan. Sedangakn langkah selanjutnya adalah Proses evaluasi dan pemantauan dilakukan secara rutin untuk memastikan bahwa kurikulum yang diterapkan efektif dan relevan. Ini sesuai dengan teori evaluasi yang dikembangkan oleh Scriven . 34 dan Stake . ,35 yang menekankan pentingnya evaluasi berkelanjutan dalam penilaian kurikulum dan pembelajaran. Evaluasi ini melibatkan berbagai aspek, termasuk tes tertulis, lisan, dan observasi, serta umpan balik dari siswa dan orang tua. Dengan pendekatan yang terintegrasi ini, implementasi kurikulum muatan lokal PAI di SD Negeri 49 Gresik tidak hanya berupaya untuk memenuhi tujuan pendidikan yang telah ditetapkan, tetapi juga memastikan bahwa materi yang diajarkan relevan dan bermanfaat bagi siswa dalam konteks lokal mereka. Berikut adalah tabel yang merangkum pembahasan terkait Implementasi Kurikulum Muatan Lokal Pendidikan Agama Islam di SD Negeri 49 Gresik, disertai teori yang relevan dengan penelitian mengenai implementasi kurikulum: Tabel 5. 01 Implementasi Kurikulum Muatan Lokal Pendidikan Agama Islam di SD Negeri 49 Gresik Langkah Deskripsi Teori dan Pendapat Implementasi Kajian Materi Melakukan kajian materi yang Tyler . : Penetapan tujuan dan Konsultasi relevan dengan konteks lokal dan pembelajaran yang jelas dan relevansi Ahli berkonsultasi dengan ahli agama materi dengan kebutuhan siswa serta serta pelatihan. konteks lokal. Dewey . : Materi harus disesuaikan dengan pengalaman siswa dan kontekstual. Penyusunan Menyusun Rencana Pelaksanaan Dewey . : Pembelajaran harus RPP dan Modul Pembelajaran (RPP) dan modul relevan dengan pengalaman siswa. 32 Dewey. Experience and Education. New York: Macmillan. 33 Bloom. Handbook on Formative and Summative Evaluation of Student Learning. New York: McGraw-Hill. 34 Scriven. The Methodology of Evaluation. In Evaluation Comment, 1. , 1-13. 35 Stake. The Countenance of Educational Evaluation. In Teachers College Record, 68. , 523-540. Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 06 No. 02 Desember 2024 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin Ajar ajar yang mencakup tujuan, materi. Bloom . : Pengembangan metode, media, dan evaluasi kurikulum harus disertai dengan pembelajaran secara sistematis. metode evaluasi yang jelas untuk memastikan pencapaian tujuan Pelaksanaan Menggunakan metode ceramah. Vygotsky . : Pendekatan Pembelajaran diskusi, hafalan, dan praktik konstruktivis yang menekankan Memulai kelas dengan interaksi dan kolaborasi dalam doa, motivasi, dan pengenalan materi pembelajaran. Evaluasi dan Evaluasi dilakukan melalui tes Scriven . dan Stake . Pemantauan tertulis, lisan, dan observasi. Evaluasi berkelanjutan dalam penilaian Pemantauan berkala untuk kurikulum dan pembelajaran penting memastikan kurikulum efektif dan untuk menentukan efektivitas dan relevan, dengan umpan balik dari siswa dan orang tua. Dokumentasi Mencatat aktivitas dan Tidak langsung dikaitkan dengan teori Pembelajaran perkembangan siswa dalam jurnal tertentu, tetapi mendukung prinsip- pembelajaran, termasuk tujuan, prinsip evaluasi formatif dan reflektif metode, media, dan evaluasi. dalam proses pembelajaran untuk Dokumentasi digunakan untuk perbaikan berkelanjutan. refleksi dan perbaikan kurikulum. Tabel ini memberikan penjelasan yang ringkas namun menyeluruh tentang langkah-langkah yang diambil dalam implementasi kurikulum muatan lokal PAI di SD Negeri 49 Gresik, serta teori-teori pendidikan yang mendasari setiap langkah tersebut. Proses Pembelajaran Kurikulum Muatan Lokal Pendidikan Agama Islam di SD Negeri 49 Gresik Sebelum pembahasan lebih jauh, perlu kami paparkan temuan data penelitian yang kami peroleh melalui wawancara dengan berbagai pihak terkait, termasuk kepala sekolah, guru, siswa, dan wali murid yang keseluruhannya menggambarkan berbagai aspek dalam pembelajaran agama Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 06 No. 02 Desember 2024 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin Islam di sekolah tersebut, mulai dari pendekatan pengajaran, persepsi terhadap keberhasilan pembelajaran, hingga saran dan masukan untuk perbaikan. Pendekatan Pengajaran: Hasil wawancara dengan guru-guru PAI menunjukkan variasi dalam pendekatan pengajaran. Ada penggunaan metode pembelajaran yang interaktif, seperti ceritacerita, gambar, diskusi, dan permainan. Guru-guru juga berusaha mengintegrasikan nilai-nilai agama Islam dalam kehidupan sehari-hari siswa. Namun, ada juga beberapa tantangan dalam hal menyesuaikan pendekatan pengajaran dengan kebutuhan belajar individu siswa. Persepsi terhadap Keberhasilan Pembelajaran: Siswa umumnya merasa mendapatkan manfaat yang cukup dari pembelajaran Pendidikan Agama Islam, tetapi ada perbedaan dalam persepsi antara siswa dan beberapa wali murid. Sebagian besar siswa merasa memahami konsepkonsep agama Islam dan nilai-nilai moral yang diajarkan, tetapi ada keinginan untuk lebih banyak menerapkan nilai-nilai tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa wali murid juga merasa masih ada ruang untuk peningkatan, khususnya dalam hal penerapan ajaran agama Islam di kehidupan sehari-hari siswa. Saran dan Masukan untuk Perbaikan: Wawancara dengan wali murid menghasilkan berbagai saran dan masukan untuk meningkatkan pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Salah satunya adalah melibatkan orangtua lebih aktif dalam pembelajaran, seperti dengan mengadakan sesi diskusi atau workshop. Selain itu, ada harapan untuk lebih banyak kegiatan di luar kelas yang terkait dengan pembelajaran agama Islam, seperti kunjungan ke masjid atau kegiatan amal bersama. Para wali murid juga menyoroti pentingnya fokus pada penerapan nilai-nilai agama Islam dalam kehidupan sehari-hari siswa. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa pembelajaran Pendidikan Agama Islam di SD Negeri 49 Gresik telah mengalami perkembangan yang positif namun masih memiliki potensi untuk ditingkatkan. Melibatkan semua pihak terkait, seperti guru, kepala sekolah, siswa, dan wali murid, dalam proses perbaikan akan membantu menciptakan lingkungan pembelajaran yang lebih bermakna, relevan, dan efektif dalam memahami dan menghayati ajaran agama Islam. Dengan demikian, penelitian ini memberikan wawasan yang berharga bagi pengembangan kurikulum dan praktik pembelajaran agama Islam di sekolah-sekolah di masa mendatang. Berikut adalah tabel yang menggambarkan Proses Pembelajaran Kurikulum Muatan Lokal Pendidikan Agama Islam di SD Negeri 49 Gresik: Tabel 4. 08 Proses Pembelajaran Kurikulum Muatan Lokal Pendidikan Agama Islam Tahap Pembelajaran Perencanaan Deskripsi Guru menyusun RPP dan modul ajar yang mencakup 181 Tabyin: Jurnal Pendidikan Islam E-ISSN: 2686-0465 Vol. 06 No. 02 Desember 2024 http://e-journal. stai-iu. id/index. php/tabyin Pembelajaran tujuan pembelajaran, materi, metode, media, dan Persiapan Sarana