Vol. 1 No. 2 (APRIL Ae 2. PEMBENTUKAN KARAKTER QURAoANI PADA ANAK DI ERA DIGITAL MELALUI PENDEKATAN EDUKASI PARTISIPATIF Wardatus Sholikha1* Universitas Sunan Giri Surabaya. Surabaya. Indonesia RIWAYAT ARTIKEL Diterima: 16-04-2026 Disetujui: 16-04-2026 Dipublikasi: 17-04-2026 Kata Kunci: Karakter QurAoani. Literasi Digital. Pendidikan Anak. Pengabdian Masyarakat ABSTRAK Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk membentuk karakter QurAoani pada anak di era digital melalui edukasi nilainilai Al-QurAoan yang dilakukan secara partisipatif. Latar belakang kegiatan didasarkan pada meningkatnya tantangan perkembangan teknologi digital yang berpotensi memengaruhi perilaku, moral, dan spiritual anak. Metode yang digunakan adalah Participatory Action Research (PAR) dengan tahapan identifikasi masalah, analisis akar masalah, perumusan solusi, pelaksanaan program, serta evaluasi secara kolaboratif. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk seminar interaktif yang melibatkan 13 anak usia sekolah dasar di lingkungan MWC NU Waru Sidoarjo. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta terhadap nilai-nilai Al-QurAoan sebagai pedoman hidup, serta meningkatnya kesadaran dalam menggunakan teknologi secara bijak. Perubahan juga terlihat pada aspek sikap dan perilaku, seperti meningkatnya kedisiplinan, tanggung jawab, serta kemampuan dalam menyaring informasi dari media digital. Selain itu, kegiatan ini turut memperkuat interaksi sosial dan kerja sama antar peserta dalam lingkungan belajar yang kondusif. Dengan demikian, kegiatan ini menunjukkan bahwa edukasi berbasis nilai-nilai AlQurAoan melalui pendekatan partisipatif dapat menjadi strategi efektif dalam membentuk karakter anak yang religius, adaptif, dan responsif terhadap tantangan era digital. PENDAHULUAN Perkembangan teknologi digital yang semakin pesat telah membawa perubahan signifikan dalam pola kehidupan masyarakat, termasuk dalam proses pengasuhan dan pembentukan karakter Akses yang luas terhadap informasi melalui perangkat digital tidak hanya memberikan manfaat edukatif, tetapi juga berpotensi memengaruhi perkembangan moral, perilaku, dan spiritual anak apabila tidak disertai dengan pendampingan yang tepat. Dalam konteks ini, penguatan nilai-nilai Al-QurAoan menjadi penting sebagai fondasi dalam membentuk karakter anak yang berakhlak dan bertanggung jawab. Sitorus et al. menyatakan bahwa pola asuh islami memiliki peran penting dalam menumbuhkan karakter anak yang beriman, berakhlak, serta mampu menggunakan teknologi secara bijak. Kondisi sosial ekonomi masyarakat yang menjadi sasaran kegiatan menunjukkan dinamika yang relatif stabil, namun menghadapi tantangan dalam aspek pengasuhan keluarga. Keterbatasan waktu orang tua akibat tuntutan pekerjaan seringkali berdampak pada kurang optimalnya pendampingan terhadap anak dalam penggunaan teknologi digital. Hal ini sejalan dengan Hidayanti dan Busyaeri . yang menyatakan bahwa kualitas akhlak anak sangat dipengaruhi LEMBAH e-ISSN: 3110 - 8555 *Korespondensi Wardatus Sholikha Universitas Sunan Giri Surabaya. Surabaya. Indonesia e-mail: wardatussholikha2407@mail. Vol. 1 No. 2 (APRIL Ae 2. oleh pola pendidikan yang diberikan dalam keluarga. Oleh karena itu, diperlukan strategi penguatan kapasitas keluarga dalam menerapkan pola asuh berbasis nilai-nilai QurAoani agar anak tetap memiliki karakter yang kuat di tengah perkembangan teknologi. Di sisi lain, perkembangan teknologi digital tanpa diimbangi dengan penanaman nilai religius berpotensi menimbulkan berbagai permasalahan sosial, seperti menurunnya etika, kedisiplinan, serta meningkatnya perilaku individualistik. Afifah . mengungkapkan bahwa generasi muda rentan terhadap pengaruh negatif teknologi yang dapat mengancam pembentukan karakter dan nilai-nilai keislaman. Kondisi ini menunjukkan bahwa edukasi nilai-nilai Al-QurAoan menjadi kebutuhan yang mendesak dalam membentuk ketahanan moral anak di era digital. Dalam konteks lokal, lingkungan masyarakat MWC NU Waru Sidoarjo memiliki potensi sosial yang kuat dalam mendukung pembentukan karakter anak, seperti tradisi keagamaan dan budaya gotong royong yang masih terjaga. Integrasi antara nilai-nilai Al-QurAoan dan budaya lokal dapat menjadi strategi efektif dalam proses pendidikan karakter. NurAoaini et al. menjelaskan bahwa pendidikan berbasis budaya mampu memperkuat internalisasi nilai melalui praktik sosial yang telah hidup di masyarakat. Dengan demikian, pendekatan kontekstual menjadi penting agar proses pembentukan karakter dapat berlangsung secara lebih efektif dan Urgensi pembentukan karakter QurAoani semakin meningkat di tengah derasnya arus informasi digital yang memengaruhi berbagai aspek kehidupan anak, mulai dari moral hingga perilaku sosial. Muslimah et al. menegaskan bahwa pendidikan karakter menjadi kunci dalam membentuk individu yang mandiri, bertanggung jawab, dan berakhlak mulia di era modern. Oleh karena itu, diperlukan upaya edukatif yang tidak hanya berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi juga pada pembentukan sikap dan perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai AlQurAoan. Sejalan dengan hal tersebut, kegiatan pengabdian masyarakat ini dirancang sebagai bentuk pemberdayaan masyarakat melalui edukasi nilai-nilai Al-QurAoan yang dilakukan secara Kegiatan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan pemahaman anak terhadap nilainilai QurAoani, tetapi juga mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang berkelanjutan. Sjam . menyatakan bahwa partisipasi aktif dalam kegiatan pendidikan mampu meningkatkan kesadaran sosial dan keterampilan kolaboratif Selain itu, kegiatan ini juga berkontribusi dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui penguatan pendidikan karakter berbasis nilai keagamaan. Pendidikan yang terintegrasi dengan nilai moral dan spiritual diyakini mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta kesejahteraan sosial. Nurhalisa dan Nurcahya . menegaskan bahwa pendidikan merupakan investasi penting dalam membentuk karakter dan memperbaiki kualitas kehidupan Lebih lanjut, kegiatan ini bertujuan untuk mengedukasi anak-anak dalam mengimplementasikan nilai-nilai Al-QurAoan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam penggunaan teknologi digital secara bijak. Salisah et al. menyatakan bahwa pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam membentuk prinsip moral dan etika generasi muda di era Melalui pendekatan edukatif dan partisipatif, anak-anak diharapkan mampu mengembangkan kesadaran moral serta perilaku yang sesuai dengan nilai-nilai keislaman. Partisipasi aktif anak dalam kegiatan ini juga menjadi bagian penting dalam proses pembentukan karakter. Arisa dan Mujrimin . menyebutkan bahwa pendidikan karakter QurAoani bertujuan membentuk dan membimbing perilaku anak sesuai dengan nilai-nilai AlQurAoan sejak usia dini. Dengan demikian, kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana LEMBAH e-ISSN: 3110 - 8555 *Korespondensi Wardatus Sholikha Universitas Sunan Giri Surabaya. Surabaya. Indonesia e-mail: wardatussholikha2407@mail. Vol. 1 No. 2 (APRIL Ae 2. edukasi, tetapi juga sebagai upaya penguatan komunitas dalam membangun generasi yang berkarakter QurAoani. Selain memberikan manfaat bagi masyarakat, kegiatan ini juga memberikan pengalaman kontekstual bagi mahasiswa sebagai pelaksana pengabdian. Hidayah dan Ulfah . menjelaskan bahwa keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan pengabdian mampu meningkatkan kemampuan sosial, kepemimpinan, serta pemecahan masalah. Oleh karena itu, kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran yang integratif antara teori dan praktik dalam kehidupan nyata. Berdasarkan uraian tersebut, kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk membentuk karakter QurAoani pada anak di era digital melalui edukasi nilai-nilai Al-QurAoan berbasis pendekatan partisipatif, serta mendorong terciptanya lingkungan sosial yang mendukung pembentukan karakter secara berkelanjutan. METODE Kegiatan pengabdian masyarakat ini menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR), yaitu metode yang menekankan kolaborasi aktif antara peneliti dan masyarakat dalam mengidentifikasi permasalahan, merancang solusi, melaksanakan tindakan, serta melakukan refleksi secara berkelanjutan. Pendekatan ini bertujuan untuk menghasilkan perubahan sosial yang partisipatif dan kontekstual. Menurut Muna et al. PAR berlandaskan pada tiga prinsip utama, yaitu partisipasi, riset, dan aksi yang terintegrasi dalam satu siklus kegiatan. Selain itu. Irayanti et al. menyatakan bahwa pendekatan ini melibatkan seluruh pihak terkait sebagai subjek aktif dalam proses pemberdayaan. Pelaksanaan kegiatan dilakukan melalui beberapa tahapan utama dalam siklus PAR, yaitu identifikasi masalah . , analisis akar masalah . oot of the proble. , perumusan solusi . , perancangan program . , dan implementasi . Pada tahap identifikasi masalah, dilakukan pengamatan terhadap kondisi anak-anak yang memiliki intensitas tinggi dalam penggunaan teknologi digital tanpa diimbangi dengan pemahaman nilai-nilai Tahap analisis akar masalah menunjukkan bahwa kurangnya integrasi antara literasi digital dan pendidikan nilai Al-QurAoan menjadi faktor utama dalam melemahnya pembentukan karakter anak (Aprida & Suyadi, 2. Selanjutnya, pada tahap perumusan solusi, dirancang kegiatan edukasi berbasis nilai-nilai Al-QurAoan yang dikemas secara kontekstual dan partisipatif. Program yang dikembangkan meliputi pembelajaran nilai-nilai QurAoani, pembiasaan perilaku Islami, serta edukasi penggunaan teknologi secara bijak. Program ini melibatkan sinergi antara mahasiswa, anak-anak, serta lingkungan masyarakat sebagai bagian dari proses pemberdayaan. Sari dan Syamzaimar . menyatakan bahwa pendidikan Al-QurAoan memiliki peran strategis dalam membentuk karakter Islami anak di era modern. Tahap implementasi dilakukan melalui kegiatan seminar interaktif yang melibatkan 13 anak usia sekolah dasar di lingkungan MWC NU Waru Sidoarjo. Kegiatan dilaksanakan pada bulan Ramadhan 1447 H/2026 M, tepatnya pada hari Minggu pukul 10. 00Ae12. 00 WIB. Pemilihan waktu dan tempat didasarkan pada pertimbangan aksesibilitas, ketersediaan peserta, serta relevansi lingkungan yang mendukung kegiatan keagamaan (Gorda et al. , 2. Materi disampaikan menggunakan media pembelajaran berbasis teknologi seperti presentasi PowerPoint dan proyektor untuk meningkatkan pemahaman peserta. Teknik pengumpulan data dalam kegiatan ini menggunakan observasi partisipatif, yaitu peneliti terlibat langsung dalam pelaksanaan kegiatan sekaligus melakukan pengamatan terhadap proses dan perubahan perilaku peserta. Menurut Nikmah et al. , observasi partisipatif memungkinkan peneliti memperoleh data yang lebih mendalam dan kontekstual. Data yang LEMBAH e-ISSN: 3110 - 8555 *Korespondensi Wardatus Sholikha Universitas Sunan Giri Surabaya. Surabaya. Indonesia e-mail: wardatussholikha2407@mail. Vol. 1 No. 2 (APRIL Ae 2. dikumpulkan meliputi tingkat partisipasi peserta, respon terhadap materi, serta perubahan pemahaman dan perilaku selama kegiatan berlangsung. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dengan menginterpretasikan hasil observasi selama kegiatan berlangsung. Analisis difokuskan pada perubahan aspek pengetahuan, sikap, dan perilaku peserta sebagai indikator keberhasilan program. Dengan demikian, pendekatan PAR yang digunakan dalam kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai metode penelitian, tetapi juga sebagai strategi pemberdayaan masyarakat dalam membentuk karakter QurAoani anak secara berkelanjutan. HASIL DAN PEMBAHASAN Pelaksanaan kegiatan pengabdian masyarakat dilakukan pada tanggal 8 Maret 2026 dan bertempat di Gedung MWC NU Waru Sidoarjo. Lokasi ini dipilih dengan mempertimbangkan aspek aksesibilitas serta kedekatannya dengan sasaran kegiatan. Kegiatan yang dilaksanakan berupa seminar yang bertujuan menanamkan pemahaman mengenai nilai-nilai Al-QurAoan sebagai dasar pembentukan karakter QurAoani pada anak di tengah perkembangan era digital. Peserta yang terlibat berjumlah 13 anak dengan rentang usia 10Ae12 tahun, didominasi oleh peserta perempuan, serta memiliki latar belakang pendidikan yang relatif homogen, yaitu siswa sekolah dasar. Oleh karena itu, metode penyampaian materi disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta. Dalam pelaksanaannya, kegiatan didukung oleh berbagai sumber daya pembelajaran seperti laptop, presentasi PowerPoint (PPT), serta proyektor yang digunakan sebagai media visual untuk memudahkan peserta dalam memahami materi yang disampaikan. Pemanfaatan media teknologi tersebut menjadi penting karena generasi anak saat ini hidup dalam lingkungan digital yang menuntut pendekatan pembelajaran yang lebih adaptif. Era digital menuntut penguatan pendidikan karakter agar peserta didik mampu memanfaatkan teknologi secara bijak dan tidak terpengaruh oleh dampak negatifnya (Lubis & Hasanah, 2. Oleh karena itu, pelaksanaan kegiatan ini berfungsi sebagai upaya strategis dalam pembentukan karakter QurAoani pada anak agar mampu menyikapi perkembangan teknologi secara positif di era digital. Gambar 1. Registrasi Peserta Sebelum Acara Dimulai Hasil dari program ini menunjukkan bahwa peserta lebih memahami pentingnya nilai-nilai Al-QurAoan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari, terutama di tengah perkembangan teknologi digital. Kegiatan pendidikan interaktif ini membantu anak-anak memahami bahwa penggunaan ponsel dan internet harus disertai dengan perilaku moral. Perubahan yang terlihat meliputi peningkatan kesadaran peserta tentang bagaimana memanfaatkan teknologi digital secara bijak (Annisa et al. , 2. Namun, masih ditemukan LEMBAH e-ISSN: 3110 - 8555 *Korespondensi Wardatus Sholikha Universitas Sunan Giri Surabaya. Surabaya. Indonesia e-mail: wardatussholikha2407@mail. Vol. 1 No. 2 (APRIL Ae 2. kecenderungan peserta menggunakan gawai untuk hal-hal yang kurang bermanfaat. Selain itu, kegiatan ini juga meningkatkan hubungan sosial antara anak-anak dengan lingkungan sekitarnya, sehingga terbentuk lingkungan yang mendukung penguatan karakter religius. Baik dampak positif maupun negatif dari perkembangan teknologi dapat memengaruhi proses pembentukan karakter anak. Dengan demikian, kegiatan ini membantu anak-anak dalam memahami nilai-nilai keagamaan serta memperkuat karakter QurAoani mereka dalam menghadapi tantangan teknologi. Gambar 2. Proses Penyampaian Materi Gambar 3. Peserta Aktif Dalam Bertanya Analisis dan interpretasi hasil dalam kegiatan pengabdian masyarakat pada program ini dilakukan dengan mengevaluasi data yang diperoleh selama pelaksanaan kegiatan seminar. Analisis dilakukan terhadap berbagai indikator yang muncul selama kegiatan berlangsung, seperti respons peserta, keterlibatan anak dalam proses pembelajaran, serta perubahan pemahaman mereka terhadap nilai-nilai Al-QurAoan sebagai pedoman kehidupan di tengah perkembangan teknologi digital. Berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan, metode penyampaian materi yang memanfaatkan media digital terbukti mampu meningkatkan perhatian serta partisipasi peserta selama kegiatan Selain itu, kegiatan edukasi yang dilakukan melalui penyampaian materi, diskusi, serta pembiasaan perilaku Islami menunjukkan adanya peningkatan pemahaman peserta mengenai pentingnya nilai-nilai Al-QurAoan sebagai dasar pembentukan karakter dalam menghadapi penggunaan gawai dan internet. Perubahan yang terlihat antara lain meningkatnya kesadaran peserta dalam memanfaatkan teknologi secara lebih bijak. Kegiatan ini juga memberikan dampak positif dengan memperkuat interaksi antar peserta, sehingga tercipta lingkungan yang mendukung pembentukan karakter religius pada anak. Temuan tersebut sejalan dengan kajian pendidikan Islam yang menekankan LEMBAH e-ISSN: 3110 - 8555 *Korespondensi Wardatus Sholikha Universitas Sunan Giri Surabaya. Surabaya. Indonesia e-mail: wardatussholikha2407@mail. Vol. 1 No. 2 (APRIL Ae 2. pentingnya internalisasi nilai-nilai Al-QurAoan dalam menghadapi perkembangan teknologi Perkembangan teknologi digital menuntut adanya penguatan pendidikan karakter berbasis nilai-nilai Al-QurAoan agar generasi muda mampu memanfaatkan teknologi secara bijak dan tidak terpengaruh oleh dampak negatifnya (Fariati & Anwar, 2. Dengan demikian, hasil analisis kegiatan pengabdian masyarakat ini menunjukkan bahwa edukasi nilai-nilai Al-QurAoan melalui pendekatan pembelajaran adaptif berbasis teknologi mampu meningkatkan pemahaman keagamaan, memperkuat karakter generasi QurAoani, serta membantu mereka menyikapi era digital secara positif. Gambar 4. Pemberian Reward Untuk Peserta Aktif Dampak kegiatan pengabdian ini terlihat pada perubahan positif dalam aspek pengetahuan, sikap, dan perilaku anak-anak. Melalui integrasi nilai-nilai Al-QurAoan dan pemahaman penggunaan teknologi secara bijak, peserta memperoleh kesadaran yang lebih baik tentang pentingnya akhlak QurAoani dalam menghadapi tantangan era digital. Selain itu, kegiatan ini juga meningkatkan interaksi sosial dan kerja sama antar peserta melalui pembelajaran yang bersifat partisipatif. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital yang memengaruhi karakter anak, diperlukan upaya edukatif yang terarah untuk membimbing mereka dalam menyikapi pengaruh tersebut (Arfandi et al. , 2. Dengan demikian, edukasi ini tidak hanya berfungsi sebagai transfer pengetahuan keagamaan, tetapi juga sebagai strategi penguatan karakter QurAoani yang relevan dengan dinamika kehidupan anak di era digital. Gambar 5. Foto Bersama Tim Dan Peserta Tantangan dalam kegiatan ini berasal dari faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi tingkat konsentrasi dan keterlibatan anak-anak yang masih dipengaruhi oleh penggunaan LEMBAH e-ISSN: 3110 - 8555 *Korespondensi Wardatus Sholikha Universitas Sunan Giri Surabaya. Surabaya. Indonesia e-mail: wardatussholikha2407@mail. Vol. 1 No. 2 (APRIL Ae 2. gawai, serta keterbatasan waktu dan perbedaan pemahaman keagamaan peserta yang memengaruhi efektivitas penyampaian materi. Sementara itu, faktor eksternal berkaitan dengan kuatnya pengaruh lingkungan digital terhadap pola pikir dan perilaku anak, termasuk paparan konten yang tidak selalu selaras dengan nilai moral dan religius. Dalam konteks ini, diperlukan strategi pembelajaran yang mampu mengintegrasikan nilai-nilai Al-QurAoan dengan literasi digital agar anak dapat menggunakan teknologi secara bijak. Perkembangan teknologi digital juga menghadirkan tantangan baru dalam pendidikan karakter Islam, seperti distraksi teknologi dan paparan konten negatif di dunia maya (Hasniati et , 2. Oleh karena itu, identifikasi tantangan menjadi langkah penting dalam merumuskan strategi pembelajaran yang lebih efektif untuk menanamkan nilai-nilai Al-QurAoan serta membimbing anak menghadapi era digital secara bijaksana. KESIMPULAN Kegiatan pengabdian masyarakat ini menunjukkan bahwa edukasi nilai-nilai Al-QurAoan melalui pendekatan partisipatif mampu meningkatkan pemahaman, sikap, dan perilaku anak dalam menghadapi tantangan era digital. Anak-anak tidak hanya memperoleh pengetahuan keagamaan, tetapi juga mengalami penguatan karakter QurAoani yang tercermin dalam sikap lebih disiplin, bertanggung jawab, serta bijak dalam menggunakan teknologi. Implikasi dari kegiatan ini menunjukkan pentingnya integrasi antara pendidikan nilai keagamaan dan literasi digital sebagai upaya membentuk generasi yang religius dan adaptif. Selain itu, keterlibatan masyarakat dalam kegiatan edukatif turut memperkuat lingkungan sosial yang mendukung pembentukan karakter anak secara berkelanjutan. Berdasarkan hasil pelaksanaan kegiatan, disarankan agar program serupa dikembangkan secara lebih sistematis dan berkelanjutan dengan melibatkan lebih banyak unsur masyarakat, seperti orang tua dan lembaga keagamaan. Penguatan metode pembelajaran yang interaktif serta pengembangan program lanjutan berbasis literasi digital dan nilai-nilai Al-QurAoan juga perlu dilakukan untuk meningkatkan efektivitas pembinaan karakter anak di era digital. REFERENSI